Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Borneo Community Health Sevice Journal

Edukasi Masyarakat Siaga (Emas) 1.000 Hari Pertama Kehidupan Gusriani, Gusriani; Wahida, Wahida; Noviyanti, Nur Indah
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 3 NOMOR 2 TAHUN 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v3i2.4216

Abstract

Stunting is a condition of failure to thrive in children under five years old due to chronic malnutrition, especially during the first 1000 Days of Life (1000 HPK). Stunting affects brain growth and development. Stunted children also have a higher risk of suffering from chronic diseases in adulthood. Based on the results of the 2021 SSGI, the prevalence of stunting in Nunukan Regency is the highest in North Kalimantan, reaching 30%. Among the 17 primary healthcare service areas under the Nunukan district health office, the Sedadap primary healthcare service area has one of the highest incidence rates of stunting. Out of 1,817 measured toddlers, 267 (14.7%) were found to be stunted. This is suspected to be due to the lack of knowledge among the cadres and the community about the 1000 HPK concept, insufficient knowledge among cadres and pregnant women about meeting the nutritional needs of toddlers, and partners not knowing about the use of the Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) as an early detection and screening tool for toddlers' status and development. The proposed solutions to these issues are the provision of education and assistance in filling out the KPSP. The training method employed includes interactive lectures and direct demonstration practices, while the mentoring process involves periodic monitoring to ensure the successful and sustainable implementation of the program. Overall, this community partnership program is a positive step towards preventing stunting. Education, child development monitoring, and mentoring are essential components that have effectively increased the knowledge and awareness of the community. Through understanding and appropriate actions, stunting issues in toddlers can be minimized, enabling future generations to grow and develop optimally.
TRANSFORMASI MENUJU DESA KELAPIS UNGGUL (UPAYA CEGAH STUNTING DAN WUJUDKAN KELAPIS RAMAH LINGKUNGAN) Gusriani, Gusriani; Umami, Nurrahmi; Wahida, Wahida; Dominggus, Dominggus; Nafsiah, Nur
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v5i2.6688

Abstract

Desa Kelapis, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menghadapi dua tantangan utama yang berdampak pada kesehatan masyarakat, yaitu tingginya angka stunting dan rendahnya kesadaran serta keterampilan pengelolaan sampah rumah tangga. Kondisi lingkungan yang buruk berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi dan memperburuk status gizi anak. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita terkait pola asuh dan gizi, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat, serta membekali warga dengan keterampilan pengolahan sampah organik skala rumah tangga. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan edukatif, melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, mahasiswa KKN, serta masyarakat Desa Kelapis. Program ini terdiri dari tiga strategi utama: edukasi pola asuh dan gizi seimbang, kampanye PHBS, dan pelatihan pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu balita sebesar 35% serta 85% peserta pelatihan berhasil mempraktikkan pengolahan sampah organik secara mandiri di rumah. Peningkatan ini menunjukkan ketercapaian yang melampaui target awal yang ditetapkan. Kesimpulannya, pendekatan intervensi yang terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis komunitas terbukti efektif dalam pencegahan stunting dan perbaikan kualitas lingkungan. Program ini dapat menjadi model pemberdayaan desa yang layak direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa