Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : Prosiding Semnastek

Pemanfaatan Karbon Aktif Dari Biji Pala (Myristica fragrans Houtt.) Untuk Pemurnian Minyak Jelantah Ilham Kurniawan; Susanty Susanty; Tri Yuni Hendrawati; Wenny Diah Rusanti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji tanaman pala (Myristica fragrans Houtt.) yang terdiri dari bagian tempurung memiliki kandungan hemiselulosa, selulosa dan lignin, serta bagian biji mengandung fixed oil atau mentega pala dimana mayoritas penyusun senyawa tersebut adalah atom karbon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu terbaik proses pemurnian minyak jelantah menggunakan karbon yang berasal dari biji pala. Penelitian ini menggunakan metode karbonisasi dengan suhu tinggi untuk mendapatkan karbon aktif sebagai adsorban. Rendemen karbon aktif yang diperoleh sebesar 24.40%. Hasil karakterisasi karbon berupa bagian yang hilang dari pemanasan sebesar 7.14%, kadar air sebesar 2.00%, kadar abu sebesar 1.00%, dan daya serap terhadap I2 sebesar 847.64 mg/g. Variabel penelitian yang digunakan yakni lama waktu perendaman karbon aktif dalam minyak jelantah selama 8,16,24,32,40, dan 48 jam. Karakteristik hasil pemurnian minyak jelantah yang diamati antara lain warna kuning, berbau normal, bilangan asam sebesar 0.7713 mgKOH/g dan bilangan peroksida sebesar 3.8168 mgO2/g. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh waktu terbaik perendaman karbon aktif dari biji pala dalam minyak jelantah yakni pada 32 jam.
PENGARUH WAKTU MASERASI ZAT ANTOSIANIN SEBAGAI PEWARNA ALAMI DARI UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatasL) Raynaldi Syarief Armanzah; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi   jalar   ungu   (Ipomoea   batatas   L.   Poir)  berpotensi   sebagai   salah   satu   sumber  antosianin yang     dapat   berfungsi    sebagai   pewarna     alami,   antioksidan,    antimutagenik     dan   antikarsinogen. Antosianin adalah pigmen yang larut dalam air bertanggung jawab terhadap warna biru, ungu, violet, magenta, merah dan orange. Antosianin itu sendiri aman untuk dikonsumsi, tidak beracun dan tidak menimbulkan mutasi genetika. Hal tersebut membuktikan bahwa pewarna alami khususnya antosianin  aman digunakan. Antosianin dapat rusak pada suhu tinggi (pemanasan) yang biasa digunakan dalam pembuatan sejumlah produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pewarna alami dari ubi jalar ungu, mencari pengaruh rasio pelarut terhadap rendemen dan mendapatkan rasio pelarut terbaik untuk mendapatkan rendemen yang maksimal. Penelitian dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi  (yaitu penyaringan sederhana yang dilakukan dengan perendaman ubi ungu dalam etanol 96 % dan air pada temperatur  kamar dan terlindung dari sinar matahari) dengan menggunakan waktu  maserasi   (4 jam, 8jam, 18 jam, 24 jam, 30 jam). Hasil ekstraksi  kemudian disaring dan dipekatkan dengan rotary vakum evaporator dan selanjutnya dianalisis  dengan menggunakan spektrofotometer UV- Vis. Hasil  ekstraksi antosianin pada ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Poir) dibandingkan dengan pembanding billberry   ekstrak   dimana   dalam   standar   tersebut   telah   diketahui   pasti   kandungan   antosianin.   Hasil                                                             0 rendemen yang terbaik didapat 4.87% pada suhu 50 C dengan tekanan 2 atm dan pada waktu maserasi  30 jam. Dengan persamaan y= 0.063x + 2.904 dengan R2               = 0.972 Dan kadar antosianin terbaik yang                                                   0  didapat adalah 11.01 mg/mL pada suhu 30 C dengan tekanan 1 atm dan pada waktu maserasi 30 jam,  dengan persamaan Y= 0.189x + 5.489 dengan R2  = 0.974 Kata Kunci: Ubi Jalar Ungu, Antosianin, Waktu Maserasi, Pewarna Alami
PENGARUH SUHU LIQUEFACTION TERHADAP KANDUNGAN GLISEROL PADA POLIOL DARI TISU DENGAN GLISEROL Furqon Cipta Ismaya; Indra Budi Susetyo; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selulosa merupakan Polimer alam berupa zat karbohidrat dengan rumus molekul (C6H10O5)n. Metode yang digunakan untuk menghasilkan poliol diantaranya hidrolisis, liquefaction, degradasi panas. Metode dalam penelitian ini adalah liquefaction. Selulosa direaksikan dengan gliserol dan katalis asam sulfat. Proses pemanasan menggunakan hot plate. Produk diencerkan dengan air untuk memisahkan residu dan poliol. Kemudian dipisahkan dengan alat sentrifuge. Lapisan atas berupa poliol diencerkan 1 ppm lalu diuji kandungan gliserolnya dengan alat GC-MS. Variabel dalam penelitian ini menggunakan variasi rasio selulosa/gliserol 1:3 (w/w) dan 1:4 (w/w) dengan suhu 140oC, 150 oC, 160 oC, 170 oC, dan 180 oC. Hasil analisis GCMS menunjukan kandungan gliserol yang diperoleh melalui proses liquefaction memberikan nilai tertinggi untuk rasio 1:3 pada suhu  140oC dengan tinggi peak, yaitu 802135 dan nilai terendah pada suhu 180 oC dengan tinggi peak, yaitu 485635 dengan persamaan y =-10,97x3+5536 x2–93226x +5E+07 dengan R²=0,838. Untuk rasio 1:4 kandungan gliserol tertinggi pada suhu 140oC dengan tinggi peak, yaitu 610249 dan nilai terendah pada suhu 180 oC dengan tinggi peak, yaitu 552589. Dengan persamaan y= -10108x4-11,94x3 -5576x2+86057x-4E+07  dengan R²=0,958 dengan x adalah suhu dan y adalah tinggi peak. 
Pemilihan Bagian Tanaman Jeruk Purut (CITRUS HYSTRIX D.C) Potensial Sebagai Minyak Essensial Aromaterapi Hasil Proses Maserasi Dengan Metode Analytical Hierarkhi Process (AHP) Rusnia Junita Hakim; Yully Mulyani; Tri Yuni Hendrawati; Ismiyati Ismiyati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aromaterapi merupakan istilah generik bagi salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap, banyak dikenal dalam bentuk minyak essensial yang berguna untuk mengatur fungsi kognitif dan kesehatan. Citrus hystrix salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan minyak essensial. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemilihan bagian tanaman citrus hystrix (daun, kulit, ranting) sebagai sumber minyak essensial aroma terapi hasil proses ekstraksi macerasi dan menggunakan software analytical hierarkhi process dengan mempertimbangkan kriteria berupa ketersediaan bahan baku, hasil rendemen, harga jual minyak, pemasaran (packing), aroma serta warna minyak essensial. Daun, kulit dan ranting jeruk di jemur kering, dirajang direndam dalam pelarut di dalam toples kaca tertutup, kemudian didiamkan selama beberapa hari sambil dilakukan pengadukan agar kelarutan minyak atsiri merata, menyaring dan mengepres larutan hingga diperoleh cairan pelarut. Penjernihan dilakukan dengan cara pengendapan atau penyaringan. Citronellal dalam citrus hystrix merupakan bahan baku utama penghasil minyak atsiri. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa dari hasil pemilihan prioritas bagian daun merupakan bagian prioritas sebagai bahan untuk pembuatan minyak essensial dengan bobot 0,88 diikuti dengan kulit dengan bobot 0,77 dan ranting dengan bobot 0,575.
PEMANFAATAN MINYAK BIJI KAPUK (Ceiba Pentandra) MENJADI METHIL ESTER DENGAN PROSES ESTERIFIKASI TRANSESTERIFIKASI Shela Niken Wijayanti; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapuk randu atau kapuk (Ceiba Pentandra) adalah pohon tropis yang tergolong ordo Malvales dan famili Malvaceae (sebelumnya dikelompokkan ke dalam famili terpisah Bombacaceae), berasal dari bagian utara dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Kata "kapuk" atau "kapok" juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya. Pohon ini juga dikenal sebagai kapas Jawa atau kapok Jawa, atau pohon kapas-sutra. Daerah penghasil kapuk di Indonesia meliputi daerah DI.Aceh, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai salah satu bahan baku oleokimia dan bahan bakar alternatif yang dikenal sebagai biodiesel. Pemanfaatan minyak biji kapuk sebagai bahan baku untuk memproduksi methil ester sebagai topik dari penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karakteristik metil ester dari minyak biji kapuk dan mendapatkan proses terbaik. Metode yang digunakan adalah penelitian di Laboratorium Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UMJ.  Penelitian ini meliputi dua tahapan dimana Tahapan satu yang dilakukan mereaksikan minyak biji kapuk dengan katalis H2SO4  (esterifikasi) kemudian tahapan kedua yang dilakukan untuk mendapatkan methil ester yaitu dengan mereaksikan minyak biji kapuk dan metanol (transesterifikasi)  dengan katalis KOH (1% dari volume methil ester hasil esterifikasi) dengan variabel jumlah metanol sebesar  10%, 20%, dan 30% dari volume hasil esterifikasi dengan waktu reaksi 1 Jam, 1.5 jam , dan 2 jam pada suhu 70°C. Berdasarkan hasil yang didapat dari penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut yaitu (1)Bahan baku minyak biji kapuk mengandung zat pengotor  dan  asam lemak bebas tinggi sebesar 8,63%  maka diperlukan proses degumming dan esterifikasi. (2)Pengolahan minyak biji kapuk menjadi methil ester sebagai salah satu bahan bakar alternatif biodiesel dan bahan oleochemical. (3)Kondisi proses terbaik adalah pada katalis 1%  dan waktu 1.5 jam dengan jumlah metanol 30% yakni dengan rendemen 96,69 % ; angka asam 0,2998 ; bilangan penyabunan 203,93.
PENGARUH KECEPATAN SENTRIFUGASI TERHADAP KARAKTERISTIK EKSTRAK ALOE CHINENSIS BAKER Agus Priyanto; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aloe vera jenis Aloe Chinensis Baker dapat dimanfaatkan untuk kosmetik dan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan sentrifugasi dan evaporasi terhadap karakteristik ekstrak Aloe vera dan melakukan analisis terhadap formulasi ekstrak aloe vera yang dihasilkan. Metode yang dilakukan adalah sentrifugasi, yaitu memisahkan air dan ekstrak gel lidah buaya. Metode sentrifugasi ini dilakukan dengan variasi kecepatan, yaitu pada kecepatan 4000 rpm (Speed 4), kecepatan 6000 rpm (Speed 6), kecepatan 8000 rpm (Speed 8) dan kecepatan 10000 rpm (Speed 10) selama 30 menit. Evaporasi vakum dengan menggunakan alat Vacuum Rotary Evaporator untuk memekatkan ekstrak gel Aloe vera yang didapatkan. Setelah itu, dilakukan analisis terhadap karakteristik ekstrak gel Aloe vera yang telah dibuat meliputi pH, densitas, viskositas, saponin, indeks bias, vitamin C, dan protein. Hasil rendemen sentrifugasi ekstrak gel Aloe Vera terbaik adalah 99,22% pada kecepatan sentrifugasi 10000 rpm (Speed 10) dengan durasi waktu 30 menit dengan karakteristik nilai indeks bias 1,567, densitas 1,01 gram/ml, viskositas 21,24 cP, pH 5,00, tinggi saponin 0,5 cm, protein 0,09%, dan vitamin C 0,5 ml (0,44 mg). Dengan pemilihan kecepatan sentrifugasi pada 10000 rpm (Speed 10) maka hasil gel ekstrak Aloe vera yang didapatkan akan lebih baik.
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PENGOLAHAN HIDROTHERMAL AMPAS KOPI TERHADAP YIELD ENERGI UNTUK BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOBRIKET Muhammad Reza Huseini; Ericha Indriani Marjuki; Deri Iryawan; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas kopi adalah limbah biomassa padat yang dihasilkan dari minuman kopi. Limbah yang dihasilkan dapat bersifat racun terhadap lingkungan karena mengandung kafein, tanin, dan polifenol. Serta proses degradasinya pun membutuhkan oksigen dalam jumlah yang besar. Namun ternyata berpotensi untuk konversi pembuatan biobriket ataupun biopelet. Hidrotermal merupakan teknologi yang menjanjikan untuk mengubah limbah biomassa menjadi biochar (biofuel, biobriket, bioadsorben dan lainnya) dikarenakan dapat meningkatkan produk menjadi homogen, serta kalor tinggi dan brittel. Perlakuan ampas kopi dicampur dengan aquades di dalam reaktor hidrotermal dengan variasi suhu 150 °C hingga 225 °C (AK150; AK175; AK200; AK225). Secara keseluruhan setelah hidrotermal, ampas kopi mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap (AK150 – AK225) menunjukkan adanya modifikasi komponen sampel. AK200 memiliki peningkatan kalor yang tinggi yakni 50%, dengan rendemen sebesar 68%. Pada kenaikan suhu di atas 200 °C (AK225) terjadi dekomposisi sampel serta pengurangan yield massa yang menyebabkan sedikit penurunan hasil energi yield.
KOAGULASI MIKROALGA NANOCHLOROPSIS Sp. MENGGUNAKAN NANOMAGNETIT KITOSAN Alvika Meta Sari; Tri Yuni Hendrawati; Erdawati Erdawati; Heryanti Heryanti
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMikroalga Nanochloropsis Sp. merupakan salah satu mikroalga yang bermanfaat bagi manusia. Proses kultivasi dan pemanenan merupakan salah satu proses yang penting untuk mendapatkan mikroalga ini. Salah satu yang berpengaruh adalah cara pemanenan.  Dalam penelitian ini proses pemanenan mikroalga yang umumnya memakan biaya paling besar, dilakukan dengan metode koagulasi menggunakan nanomagnetit kitosan sebagai koagulan dengan variasi dosis koagulan (0,05; 0,08; dan 0.1 g) dan kondisi pH (8, 9, 10, 11, 12). Tujuan penelitian ini adalah menggunakan nanomagnetit kitosan pada proses koagulasi mirkoalga, mencari pengaruh dosis dan pH larutan terhadap kepadatan sel. Nano magnetite kitosan disintesa menggunakan reaksi tautan silang dan pengadukan cepat, lalu digunakan sebagai koagulan pada proses koagulasi mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar dosis koagulan maka kepadatan sel akan menurun disertai dengan adanya Lysis dan penggumpalan dengan dosis optimum adalah 0,1 g per 100 ml mikroalga dengan kepadatan sel 3,705 x 104 cel/m2. Dan semakin tinggi pH maka kepadatan sel akan menurun, dengan pH optimum pada 10 dengan kepadatan sel 21,85 x 104 cel/m2.
Co-Authors Ade Nurul Hidayat Agdila, Alivia Fernanda Agung Siswahyu Agung Siswahyu Agus Priyanto Aini, Latifah Nur Alvika Meta Sari Andriyani Andriyani Anggaraini, Nisrina Harum Anwar Ilmar Ramadhan Arinda, Yosi Duwita Arthur Setyawan Fajar Athiek Sri Redjeki Athiek Sri Redjeki Ayu Candraningsih Azmairit Aziz Azmi, Wan Hamzah Azqia, Khalisya Nasywa Budiyanto Budiyanto Cakrawala, Orion Nawandie Cardosh, Syafira R Darto Darto Darto Darto, D Dedek Rahayu Deri Iryawan Desy Hijriyah Dewi, Wika Prasetia Dimas Adhitya Rahman Dimas Yoga Pradipta Pratama Efrizon Umar Efrizon Umar Elvia Desiana Erdawati Erdawati Erdawati Erdawati Ericha Indriani Marjuki Erna Astuti Ery Diniardi Fachry Abda El Rahman Faisal Ismail Febri Yani Fiqih Azis Pangestu Firgi Adha Listanto Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Furqon Cipta Ismaya Furqon Cipta Ismaya Gusrinisa, Ghaida Hakim, Rusnia Junita Hamza Mursandi Hana Ambarwati Hana Ambarwati Hardiman, Bayu Haryanto, Lorenta In Helfi Gustia Heri Setiono Heryanti Heryanti Hidayat, Sri hidayat, untung Ika Kurniaty, Ika Ilham Kurniawan Indra Budi Susetyo Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati, Ismiyati Istianto Budhi Rahardja kadarisman, muhammad Kiki Rizky Ananda Kushendarsyah Saptaji Lemsoh, Jarunee Lusida, Nurmalia Miftah Andriansyah, Miftah Muh. Kadarisman Muhammad Kosasih Muhammad Reza Huseini Mutiara Salsabila Nasta Ina Robayasa Ninin Asminah Noni Noni Nurul Hidayati Fithriyah OKTA MAHENDRA, OKTA Oktariawan, Reddy Rahardja, Istianto Budhi Rahmawati Suryani Ramadhani, Annisyah Ratri Ariatmi Nugrahani Ratri Ariatmi Nugrahani Raynaldi Syarief Armanzah Renty Anugerah Mahaji Puteri Ribath Faruqi Rizalman Mamat Rohmat Mufti Ali Rosmi, Fitria Rusnia Junita Hakim Rusnia Junita Hakim Safira, Ajeng Listiani Semendo, Rifqi Putra Setiawan, Hanif Rama Yuda Shela Niken Wijayanti Siska Ayu Anggraini Suffah, Nurullia Sulis Yulianto Suratmin Utomo Suratmin Utomo Suratmin Utomo Susanty Susanty Susanty Susanty Susanty, Susanty Syamsudin AB Tria Astika Endah Permatasari Ummul Habibah Hasyim Ummul Habibah Hasyim Viki Febrianoca Wan Hamzah Azmi Wenny Diah Rusanti Wenny Diah Rusanti Wenny Diah Rusanti Winarni Wiwik Handayani Wiwik Handayani Wulan Wibisono Is Tunggal Wulan Wibisono Is Tunggal, Wulan Wibisono Wusono, Ciska Nabila wusono, ciska nabilah Wusono, Ciska Nabilla Yukarie Ayu Wulandari Yully Mulyani Yusril, Ariadi Yustinah Yustinah Zidni, Irfan Azka Zihan, Nurul