Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK SELF TALK UNTUK MENINGKATKAN REGULASI EMOSI PESERTA DIDIK SMP NEGERI 3 PALU Hasanah, Dina Nurfadillah; Syahran, Ridwan; Sastrawati, Desak Putu
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 2 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - FEBRUARI 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i2.182-194

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konseling kelompok dengan teknik self talk untuk meningkatkan regulasi emosi siswa di SMP Negeri 3 Palu. Jenis Penelitian ini adalah PTBK menggunakan model Kemmis dan MC Taggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri dari 8 siswa kelas IX K dengan teknik purposive sampling, dengan kriteria 5 siswa dengan regulasi emosi rendah dan 3 siswa kategori baik. Pengumpulan data dilakukan melalui angket regulasi emosi yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menggunakan Uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan dalam regulasi emosi setelah intervensi konseling. Sebelum intervensi, rata-rata regulasi emosi siswa berada pada skor 23,5 atau 58,75% (kategori "cukup"), meningkat menjadi 27,5 atau 68,7% pada siklus pertama, dan kembali meningkat menjadi 31,5 atau 78,75% pada siklus kedua (kategori "baik"). Nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,011 0,05 menunjukkan peningkatan signifikan, membuktikan bahwa teknik self talk dalam konseling kelompok efektif untuk meningkatkan regulasi emosi siswa.
Konseling Kelompok Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) Untuk Meningkatkan Regulasi Emosi Pada Pelaku Bullying Aprianti, Aprianti; Hasan, Hasan; Ridwan Syahran; Munifah, Munifah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.11154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melaksanakan layanan konseling kelompok Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) dalam meningkatkan regulasi emosi pada siswa. Subjek penelitian ini berjumlah 12 orang siswa yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen yang terdiri dari 6 orang sampel dan kelompok kontrol terdiri dari 6 orang sampel. Jenis analisis data menggunakan analisis kuantitatif menggunakan uji Mann Whiney hasil analisis data sebelum diberikan konseling kelompok Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) menunjukkan 5 orang siswa berada pada klasifikasi rendah sedangkan 1 orang siswa berada pada klasifikasi sangat rendah dan Sesudah diberikan konseling kelompok Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) menunjukkan 6 orang siswa berada pada klasifikasi tinggi. Hasil analisis menggunakan uji Mann Whiney menunjukkan bahwa nilai signifikansi atau Sig. (2-tailed) sebesar 0,004 yang berarti bahwa nilai signifikansi < 0,005. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat dibuktikan bahwa konseling kelompok Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) efektif untuk meningkatkan regulasi emosi siswa.
Bimbingan Kelompok Teknik Role Playing untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Sausu Safwan, Moh.; Syahran, Ridwan; Bauratu, Bauratu; Munifah, Munifah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4207

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya peningkatan komunikasi interpersonal pada siswa SMP Negeri 2 Sausu setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. Penelitian ini menggunakan sampel berjumlah 8 siswa yang dipilih berdasarkan tingkat komunikasi interpersonal yang tergolong rendah. Instrumen penelitian berupa angket komunikasi interpersonal yang telah divalidasi, kemudian data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji statistik nonparametrik Wilcoxon Sign Rank Test dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) untuk mengetahui perbedaan kemampuan komunikasi interpersonal sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebelum mengikuti layanan, sebanyak 6 siswa (VR, VT, WI, IP, DA, NR) berada pada klasifikasi komunikasi interpersonal rendah, 1 siswa berinisial NS berada pada klasifikasi sangat rendah, dan 1 siswa berinisial YS berada pada klasifikasi sedang. Setelah diberikan layanan bimbingan kelompok teknik role playing, terjadi peningkatan pada 5 siswa (NS, WI, VR, IP, VT) yang menunjukkan kategori meningkat, sedangkan 3 siswa lainnya (DA, NR, YS) berada pada kategori tetap. Hasil uji inferensial juga mendukung temuan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara skor sebelum dan sesudah layanan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sausu. Temuan ini memperkuat bahwa model layanan tersebut dapat menjadi alternatif strategi bimbingan yang aplikatif dan relevan dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi sosial mereka.
Peranguruh Bimbingan dan Konseling Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Membolos Di SMP Agrice Moa’e; Ridwan Syahran; Nurwahyuni Nurwahyuni; Mardi Lestari
Jurnal Ilmiah Dikdaya Vol 16, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/dikdaya.v16i1.859

Abstract

This research addresses two key research questions: What role do guidance and counseling teachers play in reducing student truancy, and what factors contribute to students' truancy behavior? The research aims to examine the role of guidance and counseling teachers in addressing truancy among students at SMP Negeri 9 Palu and to identify the underlying factors that lead to truancy behavior. This descriptive qualitative research involved guidance andcounseling teachersandsevenstudentsfromgrades VIIandVIIIasresearchparticipants. Datawerecollectedthroughobservation,interviews,anddocumentationanalysis.Theresearch revealedthatstudenttruancyisaprevalentissueattheschool,withthreeprimarycontributing factors:personalproblems,hostileschoolenvironment,andfamily-relatedissues,particularly broken homes. The study found that guidance and counseling teachers play a crucial role in addressing truancy through various interventions, including individual counseling sessions, group counseling, home visits, and providing ongoing guidance, support, advice, and motivationtohelpstudentsdeveloppositivebehavioralchanges.Thefindingsdemonstratethat guidance and counseling teachers are essential in addressing student truancy problems within theschoolenvironment.Theirmultifacetedapproachtointerventionshowspromiseinhelping students overcome truancy behaviors.
Meningkatkan Literasi Digital untuk Mengurangi Dampak Negatif Teknologi Digital pada Kualitas Pembelajaran Siswa SMA di Kota Palu Nurwahyuni Nurwahyuni; Bau Ratu; Mardi Lestari; Ridwan Syahran; Azam Arifyadi; Micha Felayanti Silalahi; Diab Fitriani
Jurnal Ilmiah Dikdaya Vol 16, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/dikdaya.v16i1.872

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital untuk mengurangi dampak negatif teknoligi digital pada kualitas pembelajaran siswa khusunya di kota Palu Sulawesi Tengah. Adapun permasalah pokok penelitian ini adalah 1) Bagaimana tingkat pemahaman literasi digital siswa SMAN di Kota Palu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan didgital. 2) Bagaimana dampak negatif teknologi digital pada pembelajaran siswa SMA di kota Palu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan literasi digital. 3) Apakah pelatihan literasi digital dapat meningkatkan pemahaman literasi digital pada siswa SMAN 1 Palu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitaf kuasi-eksperimental dengan desain pre-test dan post-test. Partisipan penelitian adalah siswa SMA yang terlibat dalam sebuah program pelatihan literasi digital selama dua hari yaitu SMAN 1 Palu, SMAN 4 Palu dan SMAN 5 yang berjumlah 58 orang di pilih secara random sebagai perwakilan dari sekolah SMA yang ada di kota yang dipilih secara purporsif berdasarkan letak geografis. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan angket literasi digital dan angket dampak negatif teknologi digital pada kualitas pembelajaran. Analisis data menggunakan uji-t Paired Samples Test dan Regresi Linier Sederhana dengan bantuan statistik SPS versi 26. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 1) Tidak ada perbedaan literasi digital siswa sebelum dan sesuadah diberikan pelatihan digital. 2) Berdasarkan Tabel Model Summary ditemukan bahwa ada pengaruh pelatihan literasi digital terhadap dampak negatif teknologi digital pada siswa SMA di kota Palu dengan nilai R sebesar 0, 025 < 0,05. 3). Pelatihan literasi digital tidak meningkatkan pemahaman literasi digital pada siswa SMA di kota Palu.
EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK (TEKNIK ROLE PLAYING) DALAM MENINGKATKAN SELF-ESTEEM PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 12 PALU Iffah Nur Fathiyah; Ridwan Syahran; Mardi Lestari; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11767

Abstract

  Low self-esteem among adolescents has a direct impact on self-confidence, the quality of social interactions, and students’ learning motivation. This condition was identified among eighth-grade students at SMP Negeri 12 Palu, as indicated by tendencies to feel inferior, frequently compare themselves to others, avoid social interactions, and easily give up when facing difficulties. This study aimed to examine the effectiveness of group guidance services using the role-playing technique in improving the self-esteem of eighth-grade students at SMP Negeri 12 Palu. This research employed a quantitative approach with a pre-experimental method using a one-group pretest-posttest design. The research participants consisted of eighth-grade students who were identified as having low levels of self-esteem. Data were collected through a closed-ended Likert-scale questionnaire administered before and after the intervention, while data analysis was conducted using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed Rank Test. The findings revealed that prior to the intervention, all participants were categorized as having low or very low self-esteem. After participating in the group guidance sessions, all students demonstrated significant improvement, reaching high and very high self-esteem categories. The Wilcoxon test confirmed that the improvement was statistically significant, leading to the rejection of the null hypothesis and indicating that group guidance services utilizing the role-playing technique were effective. Based on these findings, school counselors are encouraged to implement this service as a routine preventive program. Future research is expected to broaden the scope of participants and incorporate additional relevant variables to further investigate factors associated with students’ self-esteem. ABSTRAK Rendahnya self-esteem pada remaja memberikan dampak langsung terhadap kepercayaan diri, kualitas interaksi sosial, serta motivasi belajar siswa. Kondisi ini teridentifikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Palu, yang ditandai dengan kecenderungan mudah minder, sering membandingkan diri dengan orang lain, menghindari pergaulan, serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan self-esteem siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Palu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan metode pre-eksperimen melalui desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII yang teridentifikasi memiliki tingkat self-esteem rendah. Pengumpulan data dilakukan melalui angket tertutup berskala Likert yang diberikan baik sebelum maupun sesudah pemberian layanan, sementara analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif serta uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perlakuan diberikan, seluruh siswa berada pada kategori self-esteem rendah dan sangat rendah, sedangkan setelah mengikuti layanan, seluruh siswa mengalami peningkatan yang signifikan menuju kategori tinggi dan sangat tinggi. Uji Wilcoxon membuktikan bahwa peningkatan tersebut bermakna secara statistik, sehingga hipotesis nol dinyatakan ditolak dan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing terbukti efektif. Berdasarkan temuan tersebut, guru BK disarankan untuk menjadikan layanan ini sebagai program preventif yang dilaksanakan secara rutin, sementara penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan subjek penelitian serta menambahkan variabel-variabel relevan lainnya.
GROUP COUNSELING BASED ON MOSINTUWU VALUES TO REDUCE INTER-STUDENT CONFLICT Kristanti Sateki; Ridwan Syahran; Mardi Lestari; Nurwahyuni
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 2 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18858873

Abstract

This research develops a group counseling service based on Mosintuwu values, a local wisdom of Poso community in Central Sulawesi, to reduce inter-student conflicts in multicultural schools. Mosintuwu values including togetherness, tolerance, peace-loving, and mutual cooperation were chosen as the intervention foundation because they have proven effective as conflict resolution mechanisms in post-conflict Poso. The research problem focuses on how to integrate Mosintuwu values into a contextual and relevant group counseling format for adolescent students.The research employs the ADDIE model to produce a group counseling module consisting of four structured sessions. This module integrates group dynamics with Mosintuwu values through interactive lectures, experience sharing, case analysis, role-playing, and peer support formation. The research results are expected to provide theoretical contributions to the development of guidance and counseling based on Indonesian local culture, as well as practical benefits for school counselors and multicultural schools in creating a harmonious and tolerant learning environment.
KONSELING KELOMPOK TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING TERHADAP PERILAKU PHUBBING PADA SISWA DI SMP NEGERI 1 PALU Moh. Syahdila Darma; Ridwan Syahran; Hasan Hasan; Dian Fitriani
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.13775

Abstract

This study set out to examine how effective group counseling based on the Cognitive Restructuring technique is at lowering phubbing behavior among junior high school students at SMP Negeri 1 Palu. A quantitative, quasi-experimental design specifically a non-equivalent control group design was applied. Sixteen students took part, split evenly into an experimental group and a control group of eight each. Phubbing behavior was measured through a questionnaire administered both prior to (pre-test) and following (post-test) the intervention, and the resulting data were tested using the Mann–Whitney U test in SPSS version 26. Analysis confirmed a statistically significant gap between the two groups, reflected in an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.001, below the 0.05 threshold. In descriptive terms, the experimental group's mean phubbing score fell from 53.63 to 43.50, while the control group's mean rose from 52.50 to 54.63. These outcomes suggest that group counseling through Cognitive Restructuring succeeded in curbing students' phubbing tendencies, even though the resulting classification still sits within the moderate range. Accordingly, this counseling approach may be adopted as a viable option for helping students reduce phubbing and strengthen the quality of their social interactions. The study's scope was constrained by a fairly small sample and a brief intervention window, pointing to a need for future work with larger samples and longer intervention periods. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas konseling kelompok berteknik Cognitive Restructuring dalam menekan perilaku phubbing pada siswa SMP Negeri 1 Palu. Pendekatan yang digunakan bersifat kuantitatif melalui metode quasi eksperimen dengan desain Non-equivalent Control Group Design. Sebanyak 16 siswa dilibatkan sebagai sampel, terbagi rata ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing 8 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui angket perilaku phubbing yang diisi pada dua tahap, yakni sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pemberian perlakuan. Pengujian hipotesis menggunakan Mann-Whitney U Test yang diolah dengan SPSS versi 26. Temuan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, ditunjukkan oleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05. Ditinjau secara deskriptif, rata-rata skor kelompok eksperimen turun dari 53,63 menjadi 43,50, sementara kelompok kontrol justru mengalami kenaikan dari 52,50 menjadi 54,63. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa konseling kelompok dengan teknik Cognitive Restructuring berhasil menurunkan perilaku phubbing siswa, kendati klasifikasinya masih berada pada kategori sedang. Oleh sebab itu, layanan ini layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi intervensi bagi guru BK dalam mengatasi phubbing sekaligus memperbaiki kualitas interaksi sosial siswa. Keterbatasan penelitian terletak pada ukuran sampel yang tergolong kecil serta durasi intervensi yang relatif singkat, sehingga kajian berikutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih besar dan rentang waktu intervensi yang lebih panjang.
THE VALUE OF THE NOTANGARA TRADITION AS A FORM OF SOCIAL CONTROL IN ADDRESSING JUVENILE DELINQUENCY Annisa Kaili Biana; Azam Arifyadi; Ridwan Syahran; Hasan Hasan
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.7984

Abstract

The current phenomenon of juvenile delinquency in Palu City requires a restorative approach rooted in local values to complement formal legal mechanisms. This study aims to explore the values of the Notangara tradition within the Kaili ethnic group’s culture as a mechanism of social control. The primary focus of this study is to analyze how this tradition plays a role in reconstructing the character of adolescents through the principles of deliberation and kinship. This study employs a qualitative approach. Data were collected through participant observation and in-depth interviews with informants comprising traditional leaders, parents, and involved adolescents. Data analysis was conducted by referring to Travis Hirschi’s theory of social control, which encompasses four elements of social bonds: attachment, commitment, involvement, and belief. The research findings indicate that the Notangara tradition is effective in restoring social relationships fractured by adolescent delinquency. The traditional mediation process is able to rebuild adolescents’ attachment to their families and the community without resorting to stigmatization. The existence of traditional sanctions and a written statement reinforces adolescents’ commitment to adhering to social norms. Furthermore, this tradition integrates local moral values that reinforce individuals’ beliefs in behavior standards accepted by the community. The Notangara tradition is not merely a process of conflict resolution, but rather a form of preventive and curative social control rooted in local wisdom. The integration of Notangara values into guidance and counseling practices offers alternative intervention strategies for addressing deviant behavior. This study concludes that strengthening cultural identity through local traditions has a significant impact on the behavioral stability of adolescents amid the challenges of modernity.
EFEKTIVITAS ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA Adisty Sefanny; Ridwan Syahran; Munifah Munifah; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13224

Abstract

Suboptimal self-esteem among students may be reflected in feelings of inferiority, reluctance to express opinions, social withdrawal, and a tendency to compare themselves with peers. These conditions were identified among several students at SMK Negeri 8 Palu, indicating the need for an appropriate intervention through guidance and counseling services. This study aimed to determine students' levels of self-esteem before and after receiving group guidance using the role-playing technique and to examine the effectiveness of the technique in improving students' self-esteem. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The participants were 10 students selected through purposive sampling based on identification by the school's Guidance and Counseling teacher. Data were collected using a Likert-scale self-esteem questionnaire with a Cronbach's Alpha reliability coefficient of 0.946. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, and a paired sample t-test. The results showed that at the pretest stage, all students (100%) were in the moderate category. After three sessions of group guidance using the role-playing technique, 8 students (80%) reached the high category, while 2 students (20%) remained in the moderate category. The paired sample t-test yielded a t-value of 14.029 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in students' self-esteem scores before and after the intervention. Therefore, group guidance using the role-playing technique was effective in improving students' self-esteem at SMK Negeri 8 Palu and can serve as an alternative intervention in school guidance and counseling services. ABSTRAK Self-esteem yang belum optimal dapat ditunjukkan melalui sikap minder, kurang berani mengemukakan pendapat, menutup diri, dan mudah membandingkan diri dengan teman sebaya. Kondisi tersebut ditemukan pada sebagian siswa SMK Negeri 8 Palu sehingga diperlukan intervensi melalui layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat self-esteem siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing serta menguji efektivitas teknik tersebut dalam meningkatkan self-esteem siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil identifikasi guru Bimbingan dan Konseling. Data dikumpulkan menggunakan angket self-esteem skala Likert dengan reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,946. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, dan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pretest seluruh siswa (100%) berada pada kategori sedang. Setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing selama tiga pertemuan, sebanyak 8 siswa (80%) berada pada kategori tinggi dan 2 siswa (20%) tetap berada pada kategori sedang. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai t = 14,029 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor self-esteem sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan self-esteem siswa SMK Negeri 8 Palu dan dapat menjadi salah satu alternatif intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling.