Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

STANDARISASI EKSTRAK MANGROVE Sonneratia ovata Backer. DARI DESA TONGKAINA, BUNAKEN, SULAWESI UTARA SEBAGAI BAHAN BAKU OBAT TOPIKAL Jaya Edy, Hosea; Parwanto, edy; Sudewi, Sri; Hariyanto, Yuanita Amalia
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.v7i2.59468

Abstract

Mangrove merupakan tanaman yang tumbuh pada area pantai atau daerah pesisir, hingga membentuk ekosistem hutan mangrove. Mangrove memiliki kandungan metabolit sekunder yang sangat beragam dan sangat berpotensi sebagai bahan baku obat-obatan. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi dan standarisasi ekstrak daun mangrove Sonneratia ovata Backer. yang dikoleksi dari desa Tongkaina, Sulawesi Utara. Metode standarisasi ekstrak dengan melakukan pengujian parameter spesifik dan parameter non-spesifik ekstrak serta pengujian sterilitas ekstrak etanol daun mangrove Sonneratia ovata Backer. dari desa Tongkaina. Nilai kadar sari ekstrak etanol terlarut air adalah 18,78 % dan nilai kadar sari ekstrak larut etanol adalah 25,44%. Nilai susut pengeringan dari ekstrak etanol daun S. ovata adalah 0,187 % dan nilai kadar air dalam ekstrak adalah 7,254 %. Nilai kadar abu ekstrak daun S. ovata adalah 3,940 % dan nilai kadar abu tidak larut asam adalah 0,410 %. Ekstrak etanol daun S. ovata bebas kontaminan mikroorganisme dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku zat aktif sediaan topikal berbasis bahan alami.
PENGENALAN PANGAN LOKAL SEBAGAI EDUKASI GIZI DAN PENCEGAHAN STUNTING DI MIN 1 MINAHASA Sudewi, Sri; Sarwan, Sarwan; Edy, Hosea Jaya
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 10 No. 2 (2025): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 10 NO. 2 JANUARI 2025
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v10i2.41144

Abstract

Stunting menjadi isu kesehatan nasional yang membutuhkan perhatian serius, terutama di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, yang masih berada di bawah standar aman. Untuk mengatasinya, MIN 1 Minahasa bekerja sama dengan Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) melaksanakan Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) terkait edukasi gizi anak (ega) melalui program pencegahan stunting berbasis produk pangan lokal. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, keterampilan memasak, dan konsumsi pangan lokal yang bergizi di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan meliputi edukasi gizi terkait pencegahan stunting, pelatihan memasak berbahan pangan lokal, distribusi paket makanan sehat, serta pengenalan menu berbasis pangan lokal di kantin sekolah. Kegiatan ini melibatkan 79 siswa dan 30 guru serta komite, dimulai dengan pengukuran kesehatan siswa melalui berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan. Guru dan komite sekolah mengikuti pelatihan memasak berbahan lokal seperti kripik daun gedi, es krim alpukat, dan minuman berbasis labu kuning (sambiki), sementara siswa diperkenalkan pada menu-menu tersebut. Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan kesadaran akan stunting dan gizi seimbang, dari 50% sebelum program menjadi 90% setelah program. Keterampilan memasak guru dan komite juga meningkat dari 50% menjadi 90%, sedangkan konsumsi pangan lokal di kalangan siswa menunjukkan peningkatan signifikan dengan tingkat kepuasan mencapai 90%. Pengukuran status gizi siswa yang menerima paket makanan sehat menunjukkan perbaikan yang signifikan. Program ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran dan konsumsi pangan lokal di lingkungan sekolah. Langkah ini diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Minahasa serta meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak melalui asupan gizi yang lebih baik. Kata kunci: Edukasi gizi, stunting, pangan lokal, pangan fungsional, MIN 1 Minahasa. ABSTRACT Stunting is one of the national health issues that requires serious attention, especially in Minahasa Regency, North Sulawesi, which is still below safe standards. To overcome this problem, MIN 1 Minahasa in collaboration with the Pharmacy Study Program of FMIPA Sam Ratulangi University (Unsrat) implemented a Community-Based Empowerment Program (CEP) related to child nutrition education (ega) through a stunting prevention program based on local food products. The program aims to increase awareness, cooking skills, and consumption of nutritious local food in the school’s elements. The methods used include nutrition education related to stunting prevention, cooking training with local ingredients, distribution of healthy food packages, and the introduction of local food-based menus in school canteens. This activity involved 79 students and 30 teachers as well as a committee, starting with measuring the health of students through weight, height, and arm circumference. Teachers and school committees participated in cooking training with local ingredients such as gedi leaf chips, avocado ice cream, and yellow pumpkin-based drinks (sambiki), while students were introduced to the menus. The results of this program show an increase in awareness of stunting and the importance of balanced nutrition, from 50% before the program to 90% after the program. The cooking skills of teachers and committees also increased from 50% to 90%, while the consumption of local food among students showed a significant increase with a satisfaction rate of 90%. Measurement of nutritional status of students who received healthy food packages showed significant improvements. Overall, this program has a positive impact in increasing awareness and consumption of local food in the school environment. This step is expected to contribute to reducing the stunting rate in Minahasa Regency and improving the quality of children's health through better nutritional intake. Keywords: Nutrition education, stunting, local food, MIN 1 Minahasa
Metagenomic Bioprospecting for Lignocellulosic Enzymes from Bacterial Communities of Humus Obtained from Natural and Man-Made Forests in Tomohon, North Sulawesi, Indonesia Mantiri, Feky Recky; Kairupan, Carla Felly; Sudewi, Sri; Mantiri, Vic Axel Daniel
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 9 No. 2 (2025): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/jaast.v9i2.421

Abstract

Lignocellulosic biomass degradation is crucial for various industrial applications. Traditional enzyme discovery methods, limited by culturing constraints, fail to capture the vast enzymatic potential of uncultured microorganisms. Metagenomic bioprospecting provides a culture-independent avenue to explore this untapped genetic diversity. This research characterizes the microbial communities and their functional capabilities in a natural forest (Mahawu Mountain Forest, MMF) and a man-made forest (Tomohon City Forest, TCF) located in North Sulawesi, Indonesia, aiming to assess the influence of forest type on microbial ecological dynamics and lignocellulose degradation mechanisms. Comparative soil analysis revealed MMF had slightly alkaline pH (7.1), cooler temperature (21°C), and dark grayish-brown Andosol, while TCF exhibited a neutral pH (6.9), warmer temperature (23°C), and brown Andosol. High-throughput 16S rRNA sequencing demonstrated that TCF harbors greater bacterial richness (125 vs. 91 observed OTUs) and diversity (Shannon index 4.44 vs. 4.11), likely influenced by anthropogenic activities. Taxonomic profiling showed that Proteobacteria dominate both sites (MMF: 42.37%; TCF: 56.08%), with Actinobacteria significantly more abundant in MMF (34.08% vs. 5.84%). Functional prediction via PICRUSt analysis highlighted TCF’s enrichment in stress-responsive genes and ABC transporters, whereas MMF exhibited elevated lipid metabolism and specialized lignin-degradation pathways (e.g., 3-hydroxyphenylacetate degradation). These findings suggest that TCF's heterogeneous environment supports microbial versatility, while MMF's stable conditions promote specialization in decomposition. Both forests represent promising reservoirs for lignocellulolytic enzyme discovery, with implications for sustainable biotechnological applications. This study underscores the importance of forest management in shaping soil microbial communities and highlights the value of preserving natural ecosystems for future bioresource exploration.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGINDENTIFIKASI UNSUR CERPEN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN VAK (VISUAL, AUDITORY, KINESTETIC) PADA KELAS IX SMP NEGERI 20 MERANGIN Sudewi, Sri
Linggau Journal Science Education (LJSE) Vol. 3 No. 2 (2023): Linggau Journal Science Education
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55526/ljse.v3i2.569

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas IX SMP Negeri 20 Merangin melalui model pembelajaran VAK. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dari pratindakan sampai dengan Siklus II. Pengumpulan data dengan teknik tes. Pada hasil pratindakan diketahui hasil rata-rata nilai adalah 68 dengan ketuntasan klasikal 60%. Pada kegiatan siklus I diketahui rata-rata nilai adalah 69,33 dengan ketuntasan klasikal 66,66%. Pada siklus II diketahui rata-rata nilai adalah 75,33 dengan ketuntasan klasikal 86,66%. Berdasarkan hasil rata-rata dikatahui peningkatan dari pratindakan ke siklus I adalah 1,33 sedangkan peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I adalah 6,66%. Pada Siklus I ke siklus II diketahui peningkatan rata-rata nilai adalah 6 sedangkan ketuntasan mengalami peningkatan 20%. Selanjutnya peningkatan rata-rata nilai pratindakan ke siklus II adalah 7,33 dengan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus II adalah 26,66%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran VAK kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas siswa kelas IX SMP Negeri 20 Merangin dapat meningkat.
EDUKASI DAN INOVASI PANGAN FUNGSIONAL DALAM MENGENDALIKAN STUNTING DI SEKOLAH-SEKOLAH KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA Sudewi, Sri; Sutrisna, Agung; Nugraha, Mahendra Kusuma; Jayanto, Imam; Antasionasti, Irma
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 4 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i4.1997

Abstract

Stunting is a growth and development disorder in children caused by chronic malnutrition and recurrent infections characterized by substandard height. School children generally neglect breakfast because they are busy in the morning, easily bored with food consumed daily which is traditionally processed by boiling, stir-frying, frying, steaming. The majority of children and teachers in this school do not know clearly about stunting, its causes, impacts, and how to overcome it. This service aims to provide counseling on education about stunting and introduce local foods that can function as stunting prevention by making functional food innovations. The method was carried out by measuring the child's weight, height, and arm circumference as early indicators of stunting. Providing counseling to children and teachers about stunting, its causes, impacts, and how to overcome it and providing functional food innovation products processed from surrounding plants. The results of this service activity showed that the results of monitoring the measurement of weight, height, and arm circumference were 4 students whose body condition was below the ideal standard of children at MIN 1 Minahasa school. No body condition was found below normal standards at Ra Nurut Takwa Kindergarten school. Children's knowledge about stunting and the benefits of local plants in Sea Village that can be used as functional food has increased. Nutritious gifts containing high protein were also distributed to children in the form of milk, vitamin C, cheese, milk candy, jelly candy as a result of the Team's functional food product innovation whose material was sourced from comedy shows. This service can be concluded that education about stunting in children in schools has had a positive impact on improving health, increasing knowledge, monitoring potential and further prevention of stunting.
In Silico Analysis of the Antigastritis Activity of Gedi (Abelmoschus manihot) Flower Flavonoids on H2 Receptor Adikila, Gregorius Giani; Hariyanto, Yuanita Amalia; Tallei, Trina Ekawati; Suoth, Elly Juliana; Sudewi, Sri; Fatimawali, Fatimawali
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 8 No. 3 (2025): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v8i3.7586

Abstract

Gastritis remains a highly prevalent health concern in Indonesia, underscoring a continuous demand for innovative therapeutic interventions. The flower of Abelmoschus manihot, commonly known as Gedi, has garnered interest for its potential antigastritis properties, specifically as an H2 antagonist, attributed to its rich flavonoid content. This study aimed to rigorously evaluate the H2 antagonist potential of A. manihot flowers using an in silico approach. Our research methodology involved assessing the physicochemical and pharmacokinetic profiles, alongside molecular docking simulations, of ten prominent flavonoid ligands identified in A. manihot flowers: quercetin, myricetin, myricetin-3-O-glucoside, myricetin-3'-O-glucoside, quercetin-3'-O-glucoside, hibifolin, isoquercetin, hyperoside, quercetin-3-O-robinobioside, and rutin. The analysis of physicochemical and pharmacokinetic properties encompassed Lipinski's Rule of Five and comprehensive ADMET predictions. Molecular docking simulations focused on evaluating binding energies and interactions with crucial H2 receptor residues: Asp98, Asp186, Val99, and Phe254. Among the ligands being assessed, quercetin demonstrated the most favorable physicochemical-pharmacokinetic characteristics and exhibited superior binding affinities and interactions in the molecular docking analysis. These findings collectively suggest that A. manihot flower holds significant promise as a natural source for antigastritis agents, specifically through its potential H2 antagonist activity, with quercetin emerging as a key contributing compound.
Montong Durian Farmers' Behavior in Control of Bangkalan Disease in Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi Jaya, Kasman; Ratnawati, Ratnawati; Sudewi, Sri; Spetriani, Spetriani
Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 3 No. 7 (2025): Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/enrichment.v3i7.495

Abstract

The presence of bangkalan disease has proven detrimental to Montong durian farmers in Parigi Moutong. Various control efforts have been made but have yielded no significant results. This study aims to determine the behavior of Montong durian farmers in controlling the attack of bangkalan disease. The study was conducted in Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi, specifically in Tolai Village (Torue District), Buranga Village (Ampibabo District), and Sumber Sari Village (South Parigi District), using quantitative methods and survey techniques with structured questionnaires and in-depth interviews involving 10 farmers from each village, totaling 30 respondents. The findings indicate that farmers’ knowledge about the causes of bangkalan disease falls into the low category. Adequate levels of education and years of farming experience have not provided effective solutions to overcome the problem. Farmers generally expressed dissatisfaction with pesticide-based control methods, even though they have had to increase both the frequency and dosage of application. Because the causative agent of bangkalan disease has not yet been identified, many Montong durian farmers have chosen to cease treatment and harvesting, as the risk of loss is too great. This phenomenon reflects a strong relationship between uncontrollable biotic factors and the social as well as psychological dynamics of the farmers. Plant diseases not only threaten productivity but also erode farmers’ hopes for successful harvests. Consequently, their impacts extend to the behavioral and mental well-being of Montong durian farmers, which may eventually endanger the sustainability of the agricultural production system in affected regions—in this case, the future potential of Montong durian cultivation in Parigi Moutong Regency.
Physicochemical Profile of Red Ginger (Zingiber officinale) SNEDDS as Potential Antidiabetic Sumantri Abdullah, Surya; Sudewi, Sri; Antasionasti, Irma; Rezky Putri Indarwati Abdullah
Jurnal Farmasi Medica/Pharmacy Medical Journal (PMJ) Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Farmasi Medica
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pmj.v8i2.64731

Abstract

This study developed a Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) of red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) to enhance its stability and bioavailability. 8 formulations (F1–F8) were tested with varying Tween 80 : PEG 400 ratios (Smix 4.5 mL). Formula F7 (2.8 : 1.8 mL) produced a water-clear emulsion with pH 5.20 ± 0.02 and excellent stability for 28 days. PSA results showed droplet size 20.33 ± 0.57 nm, PDI 0.430 ± 0.053, and zeta potential −19.58 ± 1.50 mV. These findings indicated that F7 is the optimum, physicochemically stable SNEDDS formulation, potentially improving solubility and oral bioavailability of red ginger’s active compounds as a phytopharmaceutical antidiabetic candidate Keywords: red ginger, SNEDDS, nanoemulsion, physicochemical stability
Pelatihan Meracik Minuman Berbahan Dasar Herbal yang Tumbuh di Sulawesi Utara dalam Meningkatkan Sistem Imun Tubuh dan Mencegah Stunting Sudewi, Sri; Hariyanto, Yuanita Amalia; Sutrisno, Agung
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/b9tmr809

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak diakibatkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan tinggi badan yang di bawah standar. Stunting pada balita dapat berakibat pada kesehatan dan kecerdasan anak di masa yang akan datang seperti kerentanan terhadap infeksi dan menurunnya prestasi di sekolah. Program pemberdayaan masyarakat ini melibatkan 50 perwakilan dari majelis taklim korowil dua dan majelis taklim korpri, di Desa Talawaan, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara sebagai mitra pada program pemberdayaan kepada Masyarakat (PKM). Pengetahuan secara umum pada mitra PKM tentang bahan alam yang dibuat sebagai minuman fungsional sangat terbatas. Rimpang jahe merupakan bahan yang paling sering digunakan untuk meracik minuman herbal ‘saraba’ asli Sulawesi Utara. Mayoritas anggota majelis taklim ini belum mengetahui jenis tanaman, rimpang, daun, biji yangb dapat dimanfaatkan sebagia peningkat imun sekaligu pencegah stunting. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasi permasalahan dari mitra PKM dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan tentang minuman berbahan dasar herbal yang asli tumbuh di Sulawesi Utara sehingga mudah dijangkau dan murah. Penyuluhan serta pelatihan pada program PKM ini dengan mengenalkan berbagai jenis tanaman herbal dan kombinasinya yang dapat diolah menjadi minuman yang berkhasiat untuk penambah imun tubuh dan dapat digunakan untuk mencegah stunting. Program ini bertujuan untuk menyebarluaskan keterampilan meracik minuman herbal yang tumbuh di Sulawesi Utara sebagai peningkat imunitas tubuh dan pencegah stunting. Program pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mengadakan pelatihan mengenai keterampilan pembuatan minuman fungsional dari tanaman herbal. Selain itu, perwakilan anggota majelis taklim mendapatkan stimulus sarana dalam menyebarluaskan keterampilan pembuatan minuman fungsional dari tanaman herbal. Hasil program pemberdayaan masyarakat ini adalah perwakilan mejelis taklim telah menyebarluaskan keterampilan pembuatan minuman fungsional dari tanaman herbal kepada warga yang lain. Selain itu, warga telah dapat membuat minuman fungsional dari tanaman herbal. Temuan ini mengindikasikan bahwa program pemberdayaan masyarakat dapat menyebarluaskan keterampilan pembuatan minuman fungsional dari tanaman herbal kepada masyarakat yang lebih luas. Luaran yng dapat dihasilkan dari PKM ini berupa publikasi artikel di jurnal nasional.