Claim Missing Document
Check
Articles

Pengukuran Rasio C/N pada Campuran Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dan Feses Sapi (Bos taurus L.) dalam Fermentasi Biogas Nurdin, Immega Adelia; Syauqi, Ahmad; Laili, Saimul
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.6918

Abstract

The palm Leaf (Elaeis guineensis Jacq)and cow manure (Bos taurus L.) are waste that can be synergized as a basic ingredient in biogas production. Agricultural waste is generally rich in component C, but less N. Instead of livestock waste is generally rich in N but lack of C. This study aims to determine the content of C / N ratio feces of cow and palm leaves from each treatment has a value ≤ 30 as well as to determine the ratio between the feces of cow and palm leaves that produce the biggest difference of value between C/N ratio before and after fermentation in the process of biogas fermentation. The research method are used completely randomized design with 6 treatments based variation ratio from the number of cow feces and  palm  leaves were calculated  based on the ratio of  C/N range between 25-30, control (10: 0), PI (10: 9.03), PII (10: 12.19), PIII ( 10: 17.5), PIV (10: 23.8) and PV (10: 28.6). The main parameters measured were C/N ratio with a Spectrophotometer Technique. Supporting parameters are the measurement of pH and dry weight. The result of this study found the optimal C/N ratio at PIII is equal to 28.65. PIII has the largest difference between C/N ratio beginning and at the end of the fermentation process of biogas that is equal to 240.89.The result of T-Test show the significant difference between C/N ratio before fermentation and after fermentation. From these results it is known that a process of decomposition of organic matter carried by anaerobic bacteria and potential as a biogas formation.Keywords: biogas, anaerobic fermentation and C / N ratioABSTRAKDaun pelepah sawit dan feses sapi merupakan limbah yang dapat disinergiskan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Limbah pertanian  kaya akan komponen C, tetapi kekurangan N sebaliknya, limbah peternakan  kaya komponen N dan kekurangan C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengukuran rasio C/N pada feses sapi dan daun kelapa sawit dari setiap perlakuan yang memiliki nilai ≤ 30 serta untuk mengetahui perbandingan antara feses sapi dan daun kelapa sawit yang menghasilkan selisih terbesar antara rasio C/N awal dan akhir setelah fermentasi anaerob. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan berdasarkan variasi perbandingan jumlah feses sapi dan  daun kelapa sawit  yaitu kontrol (10:0), PI (10: 9,03), PII (10: 12,19), PIII (10: 17,5), PIV (10:23,8) dan PV (10:28,6). Parameter utama dalam penelitian ini adalah  rasio C/N dengan teknik Spektrofotometer. Parameter pendukung adalah pengukuran pH dan berat kering. Hasil dari penelitian ini didapatkan rasio C/N optimal pada  PIII yaitu sebesar 28,65. Selain itu, PIII memiliki jumlah selisih  terbesar antara rasio C/N awal dan akhir proses fermentasi biogas yaitu sebesar 240,89. Perbedaan yang signifikan ditunjukkan dari hasil uji T-Test antara rasio C/N sebelum dan sesudah fermentasi. Dari hasil tersebut diketahui bahwa terjadi proses dekomposisi bahan organik yang dilakukan oleh bakteri anaerob dan adanya potensi pembentukan biogas. Kata kunci: Biogas, fermentasi anaerob dan rasio C/N
Pengaruh Herbal Temu Ireng (Curcuma aerugenosa) Dan Beras Ketan (Oryza sativa glutinosa) Sebagai Lulur Kulit Pada Wanita Zuliyana, Devy; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.8449

Abstract

Lulur is a traditional cosmetic preparation that has been prescribed from generation to generation to remove dead skin cells and dirt so that it can exchange air freely and make the skin brighter and whiter. Therefore this study aims to determine the results of temu ireng powder and glutinous rice powder from organoleptic test of women's skin. The research used the survey-quantitative descriptive method, ‘Temu Ireng’ variable and glutinous rice powder. The independent variables in this study were the amount of temu ireng powder and glutinous rice powder used in the ratio (14 g: 6 g), (10 g: 10 g), (8 g: 12 g). The dependent variable in this study is the finished result of the scrub which includes texture, color, stickiness of the aroma and after using the scrub and is followed by a sign test. From the results of descriptive analysis with the Sign Test X3 with comparison is the best proportion. Whereas in X1 the results of the Sign Test analysis showed that the X2 was 0.45 indicating that there was a change after use. Whereas in the X2 sample from the results of the Sign Test analysis, the X2 value was 2.45, this indicates that there were changes that occurred in the panelist's skin after use. And the sample X3 from the Sign Test analysis shows X2 of 4.05, this also indicates that there is a change.Keywords:Skin Scrub, Temu Ireng Powder, Sticky Rice Powder.ABSTRAKLulur adalah sediaan kosmetik tradisional yang diresepkan dari turun-temurun digunakan untuk mengangkat sel kulit mati,dan  kotoran sehingga pertukaran udara bebas serta membuat  kulit menjadi lebih cerah dan putih.Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil powder temu ireng dan powder beras ketan dari uji organoleptik terhadap kulit wanita. Penelitian menggunakanmetode survey-deskriptif kuantitatif, variabel temu hitam dan powder beras ketan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah powder temu ireng dan powder beras ketan yang di gunakan dengan perbandingan (14 g : 6 g ), (10 g : 10 g), (8 g : 12 g ).Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil jadi dari lulur yang meliputi tekstur, warna, daya lekat aroma dan setelah penggunaan lulur dan di lanjutkan dengan uji sign test (uji tanda). Dari hasil analisis deskriptif dengan uji Sign Test X3 dengan perbandingan adalah proporsi terbaik. Sedangkan pada X1 dengan hasil analisa Sign Test menunjukkan X2nya sebesar 0,45menunjukan bahwa terdapat perubahan setelah pemakaian. Sedangkan pada sampel X2 dari hasil analisa Sign Test  nilai X2 sebesar 2,45, hal ini menunjukan terdapat perubahan yang terjadi pada kulit panelis setelah pemakaian. Dan pada sampel X3 dari analisis Sign Test menunjukan X2 sebesar 4,05 hal ini juga menandakan bahwa terjadi pula perubahan.Kata kunci: Lulur Kulit, Powder Temu Ireng, Powder Beras Ketan.
Uji Ekstrak Buah Maja (Aegle marmelos) Sebagai Antibakteri Pada Bakteri Escherichia coli Apriliani, Susi; Syauqi, Ahmad; Lisminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9907

Abstract

Maja fruit (Aegle marmelos) is a fruit that contains substances such as balm oil, 2-furocoumarins-psoralen and marmelosin (C13H12O). Maja fruit, roots and leaves have antibiotic properties. Plants that contain chemicals in the maja fruit can potentially act as antibacterials that inhibit bacterial growth. The bacteria that cause diarrhea are Coliform, Escherichia coli, Salmonella enterica and Shigella which are bacteria that cause food poisoning or gastrointestinal disorders. Chemical content of maja fruit (Aegle marmelos), namely alkaloids, terpenoids, coumarin, phenylpropanoids, tannins, polysaccharides and flavonoids. This study aims to determine the maja fruit extract has an anti-bacterial effect on minimum bacterial inhibitory growth and to determine the concentration of maja fruit extract on the minimum inhibitory growth of Escherechia coli bacteria. In this study, using the experimental method completely randomized design (CRD). Using 4 treatments and 6 repetitions. By using EMB and BGLB media. The mean of observations on the inhibitory growth test of Escherichia coli bacteria at a concentration of 19.2 was 0.43, a concentration of 35.7 was 0.48, at a concentration of 37.5 was 1.703 and a control was 0.33. Anova test results showed that there was a significant difference, after being treated with a concentration of 0%, 19.2%, 35.7% and 37.5%, the most effective results were with a solution concentration of 37.5% with an average of 1.703 mm.Keywords: Antibacterial, Maja Frutt, Escherechia coli ABSTRAK Buah maja (Aegle marmelos) adalah buah yang mengandung substansi seperti minyak balsem, 2-furocoumarins-psoralen dan marmelosin (C13H12O). Buah, akar dan daun maja mempunyai sifat antibiotik. Tumbuhan yang memiliki kandungan kimia pada buah maja dapat berpotensi sebagai antibakteri yang menghambat pertumbuhan bakteri. Bakteri yang menimbulkan diare adalah Coliform, Escherichia coli, Salmonella enterica, Shigella yang merupakan bakteri penyebab keracunan makanan atau gangguan saluran cerna. Kandungan kimia dari ekstrak buah maja yaitu alkaloid, terpenoid, kumarin, pherilpropanoid, tannin, polisakarida dan flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekstrak buah maja memiliki pengsruh antibakteri terhadap pertumbuhan hambat minimal bakteri Escherichia coli dan menentukan konsentrasi ekstrak buah maja terhadap pertumbuhan hambat minimal bakteri Escherichia coli. Dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan. Dengan menggunakan media EMB dan BGLB. Rerata pengamatan pada pertumbuhan uji daya hambat bakteri pada konsentrasi 19,2 % yaitu 0,43 mm, konsentrasi 35,7% yaitu 0,48 mm, konsentrasi 37,5% yaitu I,70 mm dan pada kontrol 0,33 mm. Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan, setelah diberi perlakuan konsentrasi 0%,19,2%,35,7% dan 37,5% hasil yang paling efektif yaitu dengan konsentrasi larutan 37,5% dengan rata-rata 1,703 mm. Kata kunci : Antibakteri, Buah Maja, Escherechia coli
Uji Antibakteri Ekstrak Eucheuma cottonii Terhadap Bakteri Escherichia coli Umaroh, Sofiyatul; Syauqi, Ahmad; Lisminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9909

Abstract

Seaweed is a plant as a source of bioactive compounds which produces various kinds of secondary metabolites characterized by a wide spectrum of biological activity. Various benefits of seaweed, namely as a food ingredient, as an ingredient in the pharmaceutical industry and food industry. The content of bioactive compounds in seaweed as secondary metabolites is antibacteria, antioxide, and anticoagulant. Quite a few people know about Escherichia coli, which causes gastrointestinal infections, one of Eucheuma cottonii extract concentration in ethanol as an antibacterial against the growth of Escherichia coli bacteria and to study the maximum inhibition area of Eucheuma cottonii extract against Escherichia coli bacteria. In this study, an experimntal method was used completely randomized design (CRD). It used 4 treatments and 6 replications. By using EMB and BGLB media for antibacterial test. ANOVA test results showed that there was a significant of o%, 19,2%, 35,7%, and 37,5% the results with an average of 3 mm, at a concentration of 37,5% as highest concentration but still in a weak category.Keywords: Eucheuma cottonii, Antibacteria, Escherichia coli ABSTRAK Eucheuma cottonii adalah  salah satu tanaman sebagai sumber senyawa bioaktif yang menghasilkan berbagai macam metabolit sekunder yang dicirikan oleh spektum aktivitas biologis yang luas. Berbagai manfaat rumput laut yaitu sebagai bahan pangan, sebagai bahan industri farmasi dan industri makanan. Kandungan senyawa bioaktif pada Eucheuma cottonii sebagai metabolit sekunder adalah sebagai antibakteri, antioksida, antikoagulan. Beberapa masyarakat yang mengetahui tentang bakteri Escherichia coli sebagai  penyebab penyakit infeksi saluran pencernaan, bakteri Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kosentrasi ektrak Eucheuma cottonii dalam etanol sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. dan mempelajari daerah hambat maksimum ektrak Eucheuma cottonii sebagai antibakteri pada bakteri Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan. Dengan menggunakan media EMB dan BGLB untuk uji antibakteri. Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan, setelah diberi perlakuan konsentrasi 0%,19,2%,35,7% dan 37,5% hasil dengan konsentrasi larutan 37,5% dengan rata-rata 3 mm, pada kosentrasi 37,5% sebagagai kosentrasi tertinggi tetapi masih katagori lemah. Kata kunci : Eucheuma cottonii, Antibakteri, Escherichia coli
Penambahan Kultur Mikroba Jamur Mikroskopis pada Produk Delignifikasi Material Organik Choiroh, Durrotul; Syauqi, Ahmad; Lisminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9912

Abstract

Agricultural waste is also known as a berlignocellulosic material composed of three polymers. These polymers can produce valuable products such as fermented sugar. This study aims to study the changes that occur in delignified organic material products added with microscopic fungal cultures and different concentrations. This study used an experimental method with a mean comparison of two populations. Consisting of 2 treatments, the first A: 2.5% (11 replications) and the second B: 7.5% (11 replications), so that the total number of repetitions was 22 times. Using a consortium of Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, and Candida sp. The media used in the study were Potato Dextrose Borth (PDB) media, Wang media, and papaya fruit extract. Papaya fruit extract also functions as a nutrient source for mushrooms. The pH used is pH 5. The fermentation process of the media added by delignification products of organic material with consortium fungi for 3 days (72 hours). Determination of glucose levels using the sulfuric-phenolic acid method with an ultra violet (UV) and visible light spectrophotometer. The data analysis used was the T-test. Changes that occur in delignification products of organic material when added with microscopic fungal cultures are the addition of glucose and there is a comparison of glucose levels at different concentrations. In treatment A the average glucose level obtained was 15.72375 mg / ml, while in treatment B the average glucose level obtained was 42.475 mg / ml. This proves that the two treatments were significantly different aimed at P>0.05.Keywords: Delignification, Organic Materia, Microbial Fungi (Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp., and Candida sp.), GlucoseABSTRAKLimbah pertanian disebut juga sebagai bahan berlignoselulosa tersusun oleh tiga polimer. Polimer tersebut dapat menghasilkan produk yang bernilai seperti gula hasil fermentasi. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada produk delignifikasi material organik yang ditambahkan kultur jamur mikroskopis dan konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini memakai metode eksperimental dengan desain perbandingan rerata dua populasi. Terdiri dari 2 perlakuan, yang pertama A: 2,5% (11 kali ulangan) dan yang kedua B: 7,5% (11 kali ulangan), sehingga jumlah total ulangan ada 22 kali ulangan. Memakai konsorsium jamur Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, dan Candida sp. Media yang digunakan pada penelitian yaitu media Potato Dextrose Borth (PDB), media Wang, dan extrak buah pepaya. Ekstrak buah pepaya juga berfungsi sebagai sumber nutrien untuk jamur. pH yang digunakan yaitu pH 5. Proses fermentasi media yang ditambahkan produk delignifikasi material organik dengan jamur konsorsium selama 3 hari (72 jam). Penentuan kadar glukosa memakai metode asam sulfat-fenol dengan alat spektrofotometer sinar ultra violet (UV) dan tampak. Analisis data yang digunakan yaitu Uji-T. Perubahan yang terjadi pada produk delignifikasi material organik ketika ditambahkan dengan kultur jamur mikroskopis yaitu ada penambahan glukosa dan terdapat perbandingan kadar glukosa pada konsentrasi yang berbeda. Pada perlakuan A rata-rata kadar glukosa yang didapatkan yaitu 15,72375 mg/ml, sedangkan pada perlakuan B rata-rata kadar glukosa yang didapat yaitu 42,475 mg/ml. Hal ini  membuktikan bahwa dari dua perlakuan berbeda nyata ditujukan pada P>0,05.Kata kunci : Delignifikasi, Material Organik, Jamur Mikroba (Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp., dan Candida sp.), Glukosa
Uji Efektivitas Sediaan Gel Antiseptik Dari Ekstrak Buah Maja (Aegle marmelos Linn.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Darizal, Adjeng Amelia Lucky; Syauqi, Ahmad; Lisminingsih, Ratna Djuniwati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.10334

Abstract

Antiseptic gel has been widely used as a way to maintain health and hand hygiene which is practical and easy to carry in order to kill bacteria in a relatively short period of time. Hands are one of the transmission routes for various infectious diseases. Plants that contain antibacterial properties that exist in nature, such as the maja plant (Aegle marmelos Linn.) are extracted to reduce the use of chemicals contained in antiseptics in general so that an antiseptic innovation is carried out in maja fruit which is formulated into an antiseptic gel preparation with several types of formulations. This study aims to study an antiseptic gel preparation to effectively inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The results of this study indicated that the most effective formulation was found in the third treatment, namely the gel with 0.50 g of maja fruit extract. The results of the data tested statistically showed the correlation value of treatment F count was 9.08 greater than the results of F table of 3.29. In the test, it is found that F count is 3.32 greater than F table (2.90) so it is stated as effective in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria.Keywords: Antiseptic Gel, Maja Fruit (Aegle marmelos Linn), Staphylococcus aureus Bacteria ABSTRAKGel antiseptik telah banyak digunakan sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan dan kebersihan tangan yang praktis dan mudah dibawa guna membunuh bakteri dalam kurun waktu yang relatif lebih cepat. Tangan merupakan salah satu jalur penularan berbagai penyakit menular. Tanaman yang mengandung sifat antibakteri yang berada di alam, seperti tanaman maja (Aegle marmelos Linn.) diekstrak guna mengurangi pemakaian bahan kimia yang terkandung dalam antiseptik pada umumnya sehingga dilakukan inovasi antiseptik buah maja yang diformulasi menjadi sediaan gel antiseptik dengan beberapa jenis formulasi. Penelitian ini mempunyai tujuan mempelajari suatu sediaan gel antiseptik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara efektif. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian rancangan acak kelompok (RAK) menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali pengulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi yang paling efektif terdapat pada perlakuan ke 3 yaitu gel dengan 0,50 g ekstrak buah maja. Hasil data diuji secara statistik menunjukkan korelasi nilai perlakuan F hitung yaitu 9.08 lebih besar daripada hasil F tabel sebanyak 3.29. Pada ulangan didapatkan bahwa F hitung yaitu 3.32 lebih besar daripada F tabel (2.90) maka dinyatakan sebagai efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci : Gel Antiseptik, Buah Maja (Aegle marmelos Linn), bakteri Staphylococcus aureus
Kadar Albumin Ikan Glodok Segar Boleophthalmus boddarti dengan Metode Biuret Belqis, Farah Nabila; Santosa, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.10373

Abstract

one of which is mudskipper. The species Boleophthalmus boddarti is able to survive outside the water for long periods, spending time outside the surface of the water walking, wallowing in mud, and entering burrows it creates. The purpose of this study was to analyze the albumin levels in fresh mudskipper meat of Boleophthalmus boddarti species using the biuret method. The research method is descriptive and is repeated three times. Using the biuret method with the spectrophotometer technique the standard curve equation y = 0.0482x + 0.0036. The highest albumin yield was found in the head meat, weighing 0.085 g with the absorbance in the spectrophotometer was 92.80 nm. Compared with the tail meat, the weight of albumin is 0.080 g and the absorbance is 70.08 nm. The greater the absorbance effect on albumin levels, the average measurement of albumin content of mudskipper species Boleophthalmus boddarti, the highest was found in the head meat, namely 93.667% and the albumin content in the meat of the tail was lower, namely 65.97%.Keywords: Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti ABSTRAK Albumin merupakan komponen protein dalam  plasma yang dapat larut dalam air. Albumin dapat di jumpai dalam sebagian besar protein dalam ikan, salah satunya yaitu ikan glodok. Spesies Boleophthalmus boddarti mampu bertahan hidup di luar perairan dalam waktu yang lama, menghabiskan waktunya di luar permukaan air dengan berjalan, berkubang di lumpur, dan memasuki liang yang dibuatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kadar albumin pada daging ikan glodok segar spesies Boleophthalmus boddarti dengan metode biuret. Metode penelitian adalah deskriptif dan pengulangan tiga kali. Menggunakan metode biuret dengan teknik spektrofotometer persamaan kurva standart y = 0,0482x + 0,0036. Hasil albumin tertinggi di dapatkan pada bagian daging kepala yaitu seberat 0,085 gr dengan absorbansi dalam spektofotometer adalah 92,80 nm. Dibandingkan dengan bagian daging ekornya  berat albumin yang di dapatkan seberat 0,080 gr dan absorbansi  70,08 nm. Semakin besar absorbansi berpengaruh terhadap kadar albumin, rata – rata pengukuran kadar albumin ikan glodok spesies Boleophthalmus boddarti paling tinggi terdapat pada daging bagian kepala yaitu 93,667 % dan kadar albumin pada daging bagian ekornya lebih rendah yaitu 65,97 %. Kata kunci : Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti
Analisis Kerusakan Jaringan Insang Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Setelah Terpapar Pestisida Klorpirifos Amaliyah, Viki; Santoso, Hari; Syauqi, Ahmad
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11255

Abstract

The use of chlorpyrifos pesticide as an agricultural pest exterminator if excessive and carried out continuously can have a large negative impact on biotic and abiotic life. Fish as one of the environmental bioindicators of pesticide contamination, because the gill organs will receive chemical effects in taking oxygen in pesticide-contaminated water ponds. The purpose of this study was to analyze the level of damage to the gill tissue of carp (Cyprinus carpio) exposed to the pesticide chlorpyrifos at various concentration levels. This research was carried out at the Punten Freshwater Cultivation Installation, Batu City, East Java. Using the experimental method with concentrations of acute toxicity treatment (LC50) namely K1 0.25 ppm, K2 0.30 ppm, K3 0.35 ppm, K4 0.40 ppm, K5 0.45 ppm. The research data were analyzed descriptively in the form of tables and graphs. The results of the preliminary acute toxicity test (LC50) were in the range of K1 0.25 ppm and K2 0.30 ppm. Furthermore, Alizarin Red staining was performed to give color to the gills. The results of acute toxicity test (LC50) Total percentage of damage at a concentration of 0.25 ppm 22.28% and a concentration of 0.30 ppm 77.54%. Damage to gill tissue exposed to the pesticide chlorpyrifos showed an acute level occurred at a concentration of 0.30ppm, where the higher the concentration, the higher the gill damage.Keywords: Chorphyrifos Pesticide, Cyprinus carpio,  Precentage of DamageABSTRAKPenggunaan pestisida klorpirifos sebagai pembasmi hama pertanian bila berlebihan dan dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi kehidupan biotik dan abiotik. Ikan sebagai salah satu bioindikator lingkungan tercemar pestisida, karena organ insang akan menerima efek kimiawi dalam mengambil oksigen pada kolam perairan yang tercemar pestisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kerusakan jaringan insang ikan mas (Cyprinus carpio) yang terpapar pestisida klorpirifos pada berbagai level konsentrasi. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Budidaya Air Tawar Punten, Kota Batu, Jawa Timur. Menggunakan metode eksperimen dengankonsentrasi perlakuan toksisitas akut (LC50) yaitu K1 0,25 ppm, K2 0,30 ppm, K3 0,35 ppm, K4 0,40 ppm, K5 0,45 ppm. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk Tabel dan Grafik. Hasil uji pendahuluan toksisitas akut (LC50) berada pada kisaran K1 0,25 ppm dan K2 0,30 ppm. Selanjutnya dilakukan pewarnaan Alizarin Red untuk memberi warna pada insang. Hasil uji toksisitas akut (LC50) Total presentase kerusakan pada konsentrasi 0,25 ppm 22,28% dan konsentrasi 0,30 ppm 77,54%. Kerusakan jaringan insang yang terpapar pestisida klorpirifos memperlihatkan tingkat akut terjadi pada perlakuan konsentrasi 0,30ppm, dimana semakin tinggi konsentrasi akan semakin tinggi kerusakan insang.Kata kunci : Pestisida Klorpirifos, Cyprinus carpio, Kerusakan Insang.
Kandungan Hemiselulosa Pada Serat Kasar Eceng Gondok (Eichhornia crassipes): Hemicellulose Content in The Crude Fiber of Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) Fatmawati; Syauqi, Ahmad; Ramadhan, Majida
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v5i2.17443

Abstract

Water hyacinths can proliferate, so efforts are needed to deal with them so as not to disturb and damage the environment. The cell wall of hyacinth plants contains lignocellulose. This study aims to determine the number of hemicellulose molecules from the hydrolysis results of the presence of a component of the crude fibre of hyacinth (Eichhornia crassipes). The methods used in this study were the Wendee crude fibre analysis method and the Chesson-Datta method of hemicellulose hydrolysis. The study used quantitative descriptive methods. The analysis results of hyacinth crude fibre in every 1 gram of dried hyacinth powder contain an average crude fibre weight containing minerals in the leaves of 30.9% and 48.6% in the roots. Hydrolysis of hemicellulose obtained the average hemicellulose contained in hyacinth leaves at 11.2% and roots at 19.7%.  Keywords: Hyacinth, Crude fiber, Hemicellulose ABSTRAK Eceng gondok dapat tumbuh dengan cepat, sehingga diperlukan upaya untuk menanganinya agar tidak mengganggu dan merusak lingkungan. Dinding sel tanaman eceng gondok mengandung lignoselulosa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kuantitas molekul hemiselulosa dari hasil hidrolisis pada keberadaan komponen serat kasar eceng gondok (Eichhornia crassipes). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis serat kasar Wendee dan hidrolisis hemiselulosa metode Chesson-Datta. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil analisis serat kasar eceng gondok dalam tiap 1gram serbuk eceng gondok kering mengandung rata-rata berat serat kasar terkandung mineral pada daun 30.9% dan 48,6% pada akar. Hidrolisis hemiselulosa didapatkan rata-rata hemiselulosa yang terkandung dalam daun eceng gondok 11,2% dan akar 19,7%. Kata kunci: Eceng gondok, Serak Kasar, Hemiselulosa
Analisis Glukosa Serat Kasar pada Akar dan Daun Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes): Glucose Analysis of Crude Fiber on Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) roots and leaves Yuana, Hera; Syauqi, Ahmad; Ramadhan, Majida
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v6i1.17451

Abstract

Water hyacinth (Eichhornia crassipes) is a plant that contains natural fibers in which there is lignocellulose consisting of lignin, hemicellulose and cellulose. The hydrolysis process can break cellulose and hemicellulose polymers into their constituent sugar monomers. Glucose can be used as an energy source for ruminants. This study aims to determine the crude fiber content in water hyacinth plants and to study the concentration of glucose hydrolyzate in the crude fiber component of water hyacinth. The research method is descriptive quantitative, namely the analysis of substances with the Weende method procedure and glucose test with acid hydrolysis (HCl). It was repeated 6 times consisting of roots and leaves. The results showed that the content of crude fiber and minerals in the roots was 43.8% and in the leaves was 29.4%. at the root of 12.05 mol/kg glucose. The presence of glucose content in water hyacinth crude fiber has the potential as a source of ruminant feed with proper hydrolysis application for feed. Keywords: Water hyacinth (Eichhornia crassipes), Crude Fiber, Glucose, proximate test and acid hydrolysis ABSTRAK Tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang dianggap sebagai gulma perairan, dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga dapat mengganggu ekosistem perairan jika jumlahnya tidak terkendali. Perlu adanya upaya pengedalian salah satunya dengan memanfaatkannya menjadi bahan pakan ternak ruminansia. Tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes)merupakan tumbuhan yang mengandung serat alam yang didalamnya terdapat lignoselulosa yang terdiri dari lignin, hemiselulosa dan selulosa. Dengan proses hidrolisis dapat memecahkan polimer selulosa dan hemiselulosa menjadi monomer gulapenyusunnya. Glukosa dapat dijadikan sumber energi bagi ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui kandungan serat kasar pada tumbuhan eceng gondok dan untuk mempelajari konsentrasi hidrolisat glukosa pada komponen serat kasar eceng gondok. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif yaitu analisis zat dengan prosedur metode weende dan uji glukosa dengan hidrolisis asam. Analisis data yaitu statistik deskriptif Dilakukan 6 kali ulangan terdiri atas bagian akar dan daun tanpa pengambilan mineralnya.Data hasil uji menunjukan adanya kandungan  serat kasar dan mineral pada akar yaitu sebesar 43,8 % dan pada daun sebesar 29,4 %. data hasil uji glukosa menunjukan adanya glukosa dalam serat kasar eceng gondok pada daun sebesar 14,70 mol/kg glukosa dan pada akar 12,05 mol/kg glukosa. Hasil penelitian menunjukan adanya kandungan glukosa dari serat kasar eceng gondok yang berpotensi sebagai sumber pakan ruminansia dengan penerapan hidrolisis yang layak untuk pakan. Kata kunci: Eceng gondok (Eichhornia crassipes), Serat Kasar,  Glukosa, uji proksimat dan hidrolisis asam
Co-Authors Abdul Khalik Agustin, Sekar Sari Aisyah Wardani, Aisyah Ali Djamhuri Allinha Yusfin Innaya Amaliyah, Viki Andaru Dahesihdewi Andrianto, Fathinah Ulfah Anggraeni, Agintha Silvya Anshori, Syaiful Apriliani, Susi Arhabi, Abuddafi Arifin Fauzi Lubis Armaidi Darmawan Atika Atika Awan, Edi Aziz, Achmad Qomarul Baskara, Vanza Aulia Belqis, Farah Nabila Choiroh, Durrotul Darizal, Adjeng Amelia Lucky Delfira, Annisa Erny Kusdiyah Fairuz Quzwain Faisal Fatmawati Fatmawati Fuadi, Muhammad Chaniful Fuadi, Mukhlisul Guntur Trimulyono Hamdy, M. Kholis hani septiana, hani Haq, Fafa Maulal Hari Santosa, Hari Hari Santoso Hartanti Sandi Wijayanti Hasan Zayadi Hasmita, Debby Hidayati, Arini Hotimah, Sitti Norul Iskandar Yusuf Istiqfaroh, Laila Iwan Permadi Juliyanti, Afifah Koto, Rinta Febrina Kusmawati, Eka Kusumawardhany, Intan Ratna Lailah, Rukhil Lathifah, Iffah Maghfirah, Inayatul MAHALINA, WEDA Majida Ramadhan Maulidiyah, Ni'matul Melinda, Fatihatul Mubarok, Imam Anas Mufidah, Ana Liatul MUHAMMAD BAKRI MUKAMTO MUKAMTO, MUKAMTO Muryanah, Siti Muzayyanah, Nana Ningrum, Mei Ninda Nisa, Siti Rofiatun Nur Fazat Arinal Haq, Nur Fazat Arinal NUR KHOLIFAH Nurdin, Immega Adelia Nurmala, Aulia Putri Pakiding, Mainar Daud Puspithasari, Agustina Dwi Rachmawati, Rachmawati Suprayoto Ramadhan, Majida Ranitadewi, Ika Nindyas Ratna Djuniwati Lisminingsih Refiandinova, Fatur Rini Oktari Batubara Riyadi, Tomi Rodiyanto Rohimah, Ririn Alfiatu Rohmatillahil Jamilah, Favi Rustandi, Helmi Saada, Iqlimatus Saifudin Asrori Saimul Laili Samsirun Halim Setyawan, Febrianto Sholehuddin, Mohammad Siti Fatimah Siti Fatonah Sonny, Sonny Sotianingsih, Sotianingsih Sri Wahyuni Suhartini, Venita Sukiran, Nufan Muwafiq Syifa, Carla Amadea Tintrim Rahayu, Tintrim Tresna, Adira Tatus Trisna, Adira Tatus Ulfa, Syazwani Umaroh, Sofiyatul Umma, Firda Firdausi Utami, Ade Ratna Varadibbah, Hasina Wahyu Indah Dewi Aurora Wakik, Wakik Widodo, Laurentius Urip Wijaya, Kusuma Lestari Wulandari, Rossa Martha Yuana, Hera Zaki, Siti Muzakiyah Zuliyana, Devy Zulkarnain, Rahmat