Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Hubungan Suhu dan Kelembaban Udara dan Intensitas Pencahayaan Dengan Sick Building Syndrome di SMA Negeri 3 Surakarta Izharulhaq, Rifat Abhinaya; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Mulyani, Sri
Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology Vol. 3 No. 1 (2024): June
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jaht.v3i1.1011

Abstract

Sick Building Syndrome is a health symptom that is related to how long room occupants spent their time doing activities in a room. Several sick building syndrome symptoms were found among students of State Senior High School 3 of Surakarta like headache and sleepiness. The aim of this study was to analyze the relationship between the temperature, air humidity and light intensity of the classrooms with sick building syndrome symptoms on the students. The population were the students of grade XI and XII with the total of 840 students and the sample of 90 students taken using the random cluster sampling method. The measuring devices used were room thermometer, hygrometer, lux meter and SBS questionnaire. Termometer to measure temperature, a hygrometer to detect humidity, a luxmeter to measure illumination, and an SBS questionnaire to assess SBS symptoms. Rank Spearman correlation test was used to measure the correlation between room temperature, air humidity and light intensity with sick building syndrome symptoms found on students. The result of correlation test between room temperature with sick building syndrome showed a significant correlation with p value = 0,004 and r value = 0,402. The result of correlation test between air humidity with sick building syndrome showed a significant correlation with p value = 0,003 and r value = 0,440. The result of correlation test between light intensity with sick building syndrome showed a significant correlation with p value = 0,001 and r value = -0,683. This study concluded that there was a significant correlation between room temperature, air humidity, and light intensity with with sick building syndrome symptoms on the students of Senior High School State of 3 Surakarta.
Pengaruh Penerapan Program Behavioural Safety (B-Safety) untuk Penurunan Unsafe Action Operator Sewing PT X Ulhaq, Muhammad Dhiya; Wardani, Tyas Lilia; Fauzi, Rachmawati Prihantina
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 3 No. 7 (2025): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v3i7.374

Abstract

Kecelakaan kerja adalah penyebab utama kerugian yang signifikan. Menurut data ILO, 430 juta insiden terjadi setiap tahun, dengan kerugian ekonomi mencapai hingga 4% dari PDB suatu negara. Di Indonesia, meskipun jumlah perusahaan yang mencapai nol kecelakaan telah meningkat, banyak yang masih menghadapi tantangan dalam mengendalikan kecelakaan kerja. Diketahui bahwa 88% kecelakaan kerja disebabkan oleh tindakan yang tidak aman. Penelitian ini mengkaji implementasi program B-Safety di PT X Sragen. Berdasarkan data K3 perusahaan, kecelakaan terus sering terjadi di unit jahit, yang telah diselidiki karena tindakan yang tidak aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dan efektivitas program dalam mengurangi tindakan tidak aman sebagai bagian dari upaya peningkatan manajemen keselamatan kerja. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan pra-eksperimental dengan desain pasca tes pra-uji satu kelompok. Intervensi penelitian adalah implementasi program B-Safety, dengan total pengambilan sampel populasi yang melibatkan 55 operator jahit di PT X Sragen. Studi ini mengukur tindakan tidak aman responden dan efektivitas implementasi B-Safety melalui kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji-T berpasangan dan d Cohen. Penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tindakan tidak aman (p-value = 0,000; p ? 0,05) sebelum dan sesudah implementasi program B-Safety. Efektivitas program B-Safety termasuk dalam kategori tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh nilai ukuran efek d = 0,8 (d > 0,8). Implementasi program B-Safety secara signifikan mengurangi tindakan tidak aman di PT X Sragen, menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi.
PENYULUHAN KESEHATAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN DETEKSI DINI TUBERKULOSIS (TB) PADA PEKERJA TEKSTIL DI SRAGEN Fauzi, Rachmawati Prihantina; Wardani, Tyas Lilia; Qadrijati, Isna; Wijayanti, Reni; Faradisha, Jihan; Harjono, Afrian Eskartya; Sari, Rizqi Kartika; Riansyah, Rici; Kinasih , Eka Ayu Putri
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 8 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i8.2716

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular yang berdampak pada produktivitas pekerja, terutama di sektor industri tekstil yang memiliki tingkat paparan terhadap debu kapas yang tinggi. Paparan debu jangka panjang akan menyebabkan kerusakan saluran pernapasan dan penurunan fungsi pertahanan paru. Penurunan  fungsi paru ini akan meningkatkan risiko pekerja terhadap berbagai penyakit infeksi paru, termasuk Tuberkulosis. Pada tahun 2021 tercatat sebanyak 969.000 kasus angka kejadian TBC di Indonesia, dan 54.800 diantaranya adalah kasus pada pekerja. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai penyakit TBC, termasuk gejala, penularan, dan pencegahannya melalui program penyuluhan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan deteksi dini TBC agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan penularan di tempat kerja dapat dicegah. Kegiatan ini dilaksanakan melalui penyuluhan menggunakan media audio-visual, presentasi materi dan interaksi diskusi. Sasaran kegiatan ini adalah 40 pekerja bagian Spinning. Evaluasi dilakukan dengan mengukur perubahan pengetahuan sebelum (Pre-test) dan sesudah intervensi (post-test) menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis menunjukkan terdapat peningkatan signifikan pengetahuan pekerja mengenai TBC setelah mengikuti penyuluhan. Nilai median pengetahuan meningkat dari 70 menjadi 80, dengan uji wilcoxon yang menunjukkan p-value 0,001 (<0,005) yang menandakan perbedaan tersebut bermakna signifikan. Peningkatan terutama terjadi pada lima aspek utama, yaitu deteksi dini TBC, pemahaman program P2TB, sikap preventif terhadap rekan kerja yang terdiagnosis TBC, tindakan saat mengalami batuk lebih dari dua minggu, dan pengetahuan tentang cara penularan penyakit. Program penyuluhan penyakit TBC terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan pekerja industri tekstil secara signifikan. Pengetahuan yang meningkat diharapkan dapat mendorong perilaku pencegahan yang lebih baik, sehingga berkontribusi pada upaya pengendalian TBC di tempat kerja secara berkelanjutan.
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS PARU PADA PEKERJA TEKSTIL DI PT X SRAGEN Harjono, Afrian Eskartya; Qadrijat, Isna; Wardani, Tyas Lilia; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Wijayanti, Reni; Faradisha, Jihan; Sari, Rizqy Kartika; Riansyah, Rici
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49070

Abstract

Industri tekstil merupakan sektor vital yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan kerja, khususnya gangguan pernapasan, akibat paparan debu dan serat. Selain paparan lingkungan, faktor individu seperti status gizi dan masa kerja juga diduga berperan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi (IMT) dan masa kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja tekstil. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 51 pekerja tekstil di PT. X Sragen yang diambil secara purposive sampling. Data status gizi (IMT) diperoleh melalui pengukuran antropometri, sedangkan gangguan fungsi paru diukur dengan spirometry. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS. Penelitian ini telah disetujui secara etik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan gangguan fungsi paru (p-value= 0,000). Nilai korelasi positif moderat (r=0,602) menunjukkan bahwa semakin buruk status gizi (baik obesitas maupun malnutrisi), semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan fungsi paru. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru (p-value = 0,168), meskipun sebagian besar pekerja dengan masa kerja lebih singkat menunjukkan gangguan paru sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa status gizi menjadi faktor risiko dominan dibandingkan masa kerja dalam memengaruhi fungsi paru pada populasi ini.
The Effect Of Educational Video On Knowledge Of Personal Protective Equipment For Road Barrier Workers Of Pt X Klaten Widyawati, Estiningtyas; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Ismayenti, Lusi
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 11 No 2 (2025): August 2025
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v11i2.1470

Abstract

PT X Klaten is a subcontractor in the road construction project, responsible for manufacturing road barriers that function as safety signs and lane dividers. This type of work involves multiple occupational hazards, such as injuries from sharp materials, falling objects, and accidents involving project vehicles, particularly during night shifts. An initial survey revealed that 70% of workers had limited knowledge of Personal Protective Equipment (PPE), contributing to low compliance and an increased risk of workplace accidents. This study aims to examine the effect of educational videos on improving PPE knowledge among road barrier workers at PT X Klaten. A quasi-experimental design was employed using a pre-test and post-test control group. Total sampling was applied to recruit 50 respondents, who were equally divided into experimental and control groups. The intervention consisted of a two-week educational video program incorporating animations and real-life demonstrations that explained the types, functions, and proper use of PPE in construction settings. Data were collected using structured questionnaires and analyzed through Paired Sample T-tests and Independent Sample T-tests. The results have shown a significant increase in PPE knowledge in the experimental group, p-value = 0.001 (p ≤ 0.05), while the control group exhibited no significant change, p-value = 0.422 (p> 0.05). The comparison between groups has revealed a statistically significant difference in post-test scores, Sig (2-tailed) value = 0.017 (p ≤ 0.05). These findings demonstrate that educational videos are an effective medium for enhancing PPE-related knowledge among construction workers. This approach can be applied more broadly in other high-risk industries as a practical strategy to improve occupational safety, increase PPE compliance, and reduce the incidence of work-related accidents.
PELATIHAN MEMBATIK TRADISIONAL BAGI SISWA SEKOLAH DASAR UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA BANGSA Sumardiyono, Sumardiyono; Widjanarti, Maria Paskanita; Chahyadhi, Bachtiar; Suratna, Farhana Syahrotun Nisa; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Wijayanti, Reni; Ada', Yeremia Rante; Puspitasari, Yunita Dwi; Agathara, Reidiatama Aviano
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 3 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i3.1726

Abstract

Batik, warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO, saat ini menghadapi tantangan pelestarian di era globalisasi. Memudarnya minat generasi muda terhadap batik, termasuk anak sekolah dasar, mengancam keberlanjutannya sebagai simbol identitas nasional. Upaya menumbuhkan kecintaan dan penghargaan terhadap batik di kalangan generasi muda sangat penting untuk memastikan kelestarian warisan budaya batik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan dan pemahaman siswa terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa, meningkatkan keterampilan dan kreativitas siswa dalam membatik, mendukung pengembangan desa wisata batik di Desa Kliwonan 1 Masaran Sragen, dan melestarikan budaya batik sebagai bagian dari identitas bangsa. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui tahapan, pertama identifikasi dan analisis permasalahan melalui survei. Kedua, penentuan solusi berdasarkan hasil identifikasi dan analisis. Ketiga, pelaksanaan teknis pelatihan meliputi pre-test, penyampaian materi, praktik membatik, dan post-test. Keempat, menganalisis hasil dan mengevaluasi kegiatan. Kelima, merencanakan tindak lanjut. Pelatihan membatik bagi siswa menunjukkan hasil positif dan signifikan. Pengetahuan meningkat 80,0% (12 dari 15 siswa). Sikap meningkat 86,7% (13 dari 15 siswa), dan praktik meningkat 60,0% (9 dari 15 siswa). Analisis statistik menggunakan uji Paired T-Test dan Cohen's menunjukkan perbedaan rerata nilai pre-test dan post-test pada ketiga aspek (pengetahuan, sikap, dan praktik) secara signifikan. Efek pelatihan terhadap pengetahuan dan sikap tergolong besar, sedangkan pada praktik tergolong sedang. Analisis statistik Repeated Measure ANCOVA menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam pengetahuan, sikap, dan praktik, dan tidak dipengaruji kelas dan jenis kelamin. Kesimpulan, pelatihan membatik efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik serta menunjukkan keadilan dan kesetaraan, sehingga siswa memiliki kesempatan sama dalam pengembangan membatik.
Hubungan Beban Kerja Mental dan Masa Kerja dengan Stres Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta Utami, Ria Hesti; Lusi Ismayenti; Fauzi, Rachmawati Prihantina
Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology Vol. 4 No. 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jaht.v4i1.1073

Abstract

Psychiatric inpatient nurses interact directly with psychiatric patients. Nurses need patience and high vigilance. High workload can cause work stress. This study aims to determine the relationship between mental workload and working period with work stress in inpatient nurses at the RSJD Surakarta. The type of research used was analytic observational with cross sectional design. The population amounted to 211 people and after experiencing inclusion and exclusion, the target population was 83 nurses. Sampling using proportionate stratified random sampling technique so that a sample of 75 people. The instruments used were the NASA-TLX questionnaire for the mental workload variable, the questionnaire for the work period variable and the HSE questionnaire for the work stress variable. The analysis technique used Somers'D test and ordinal logistic regression. Somers'D test results show that there is a significant relationship between mental workload and job stress (p=0.001), positive correlation direction, and moderate correlation coefficient (r=0.422). Somers'D correlation test results show that there is a significant relationship between tenure and job stress (p=0.000), negative correlation direction, and moderate correlation coefficient (r=-0.392). Multivariate test results showed that the variable that most influenced the work stress variable was the tenure variable (wald value=14.078). There is a significant correlation between mental workload and working period with work stress in RSJD Surakarta.
Hubungan Lingkar Pinggang, Frekuensi Nadi, dan Usia dengan Kolesterol Total Pekerja Tambang Sumardiyono; Chahyadhi, Bachtiar; Widjanarti, Maria Paskanita; Suratna, Farhana Syahrotun Nisa; Wijayanti, Reni; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Ada', Yeremia Rante; Kurdiman, Ade; Bharata, Ardian Yoga
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 01 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v15i01.4142

Abstract

Pekerja tambang berisiko tinggi mengalami gangguan metabolik dan kardiovaskular akibat lingkungan kerja ekstrem dan beban kerja berat. Penelitian bertujuan menganalisis asosiasi usia, lingkar pinggang, dan frekuensi nadi dengan kadar kolesterol total pada pekerja tambang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional, berdasarkan data sekunder hasil rekapitulasi Medical Check Up (MCU) pekerja laki-laki PT. Hasta Panca Mandiri Utama periode Juni–Desember 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hubungan antara usia, lingkar pinggang, dan frekuensi denyut nadi istirahat dengan kadar kolesterol total dianalisis menggunakan regresi logistik biner berganda pada taraf signifikansi 0,05. Dari total 463 rekaman hasil MCU, sebanyak 430 data memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta digunakan dalam analisis akhir. Hasil regresi logistik biner berganda menunjukkan bahwa usia ≥40 tahun (nilai p = 0,022) dan lingkar pinggang ≥90 cm (nilai p = 0,044) berpengaruh signifikan terhadap hiperkolesterolemia, sedangkan denyut nadi istirahat tidak berpengaruh (nilai p = 0,309). Lingkar pinggang dan usia terbukti sebagai prediktor independen hiperkolesterolemia pada pekerja tambang.
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani melalui Edukasi Ergonomi dan Latihan Peregangan untuk Pencegahan Low Back Pain Nisa Suratna, Farhana Syahrotun; Paskanita, Maria; Chahyadhi, Bachtiar; Sumardiyono, Sumardiyono; Wijayanti, Reni; Fauzi, Rachmawati Prihantina; Ada’, Yeremia Rante
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - April
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.8667

Abstract

Petani merupakan kelompok pekerja sektor informal yang memiliki risiko tinggi mengalami keluhan Low Back Pain (LBP) akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas fisik berulang. Kondisi ini juga dialami oleh anggota Kelompok Wanita Tani Sekar Arum di Desa Genengan, Kabupaten Karanganyar terutama pada kegiatan pascapanen yang dilakukan dalam posisi duduk membungkuk dalam waktu lama. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan penerapan prinsip ergonomi melalui penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), pelatihan peregangan, serta perancangan stasiun kerja yang lebih ergonomis. Metode yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan kerja, demonstrasi latihan peregangan, serta pendampingan praktik peregangan yang dapat dilakukan secara mandiri. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi, serta penilaian risiko postur menggunakan metode REBA dan keluhan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai faktor risiko Low Back Pain serta kemampuan melakukan latihan peregangan dengan benar. Kegiatan ini diharapkan daat membantu petani mengurangi risiko gangguan musculoskeletal dan meningkatkan kenyaman kerja.
Body Mass Index, Blood Glucose, and Physical Activity as Determinants of Lactic Acid Levels among Textile Workers Fauzi, Rachmawati Prihantina; Sumardiyono, Sumardiyono; Maria Paskanita Widjanarti; Suratna, Farhana Syahrotun Nisa; Chahyadhi, Bachtiar; Wijayanti, Reni; Ada, Yeremia Rante
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 24 No 1 (2026): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol24.Iss1.2432

Abstract

Textile industry is a labour-intensive industry with repetitive activities and heavy physical workload, thereby likely to cause metabolic fatigue as reflected by high levels of lactic acid. This study aims to examine the independent and combined associations of Body Mass Index (BMI), blood glucose levels, and physical activity with elevated lactic acid levels among textile workers. A cross-sectional analytical study was conducted among 80 textile workers selected using at a textile company in Surakarta between January and March 2023. A series of binary logistic regression analysis were conducted, adjusting for age and sex, with statistical significance set to p < 0.05. The overall statistical significance of the model was found to be significant (p < 0.001) and the explanatory power of the model was very high (Nagelkerke R² = 55.2%). The most dominant factor associated with high levels of lactic acid was found to be the level of blood glucose above 180 mg/dL (aOR = 15.525; 95% CI: 3.003–80.263), followed by BMI over 25 kg/m² (aOR = 9.695; 95% CI: 2.155–43.617). Physical activity was found to be protective (aOR = 0.182; 95% CI: 0.037–0.891), but age and sex were not significant. These results suggest that metabolic behavioural factors are significantly associated with elevated lactic acid levels, which may indicate metabolic fatigue among textile employees. These findings highlight the importance of strengthening metabolic screening and promoting physical activity within occupational health programmes.