Articles
ANALISIS LEARNING OBSTACLE SISWA PADA MATERI PECAHAN SENILAI DI KELAS IV SEKOLAH DASAR
Nurani, Luthfi Ainun;
Nur'aeni, Epon;
Apriani, Ika Fitri;
Muharram, Muhammad Rijal Wahid
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol 4, No 5 (2021)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian dilatarbelakangi dengan masalah siswa kelas IV yang belum sepenuhnya menguasai konsep pecahan senilai pada salah satu sekolah dasar di Tasikmalaya. Masalah ini berpengaruh sampai siswa naik ke kelas V yang dibuktikan dengan kurangnya penguasaan konsep menyederhanakan pecahan. Artinya, dalam mempelajari pecahan senilai, siswa mengalami hambatan belajar (learning obstacle). Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui faktor hambatan belajar siswa yang kemudian dijadikan perhatian bagi guru agar mengantisipasi jika masalah yang sama terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor ontogenical obstacle dan didactical obstacle. Metode yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian diantaranya guru, siswa kelas V yang telah mempelajari pecahan senilai di kelas IV, dan dokumen yang relevan berkaitan dengan materi pecahan senilai. Hasil penelitian terdiri dari faktor ontogenical obstacle seperti pemahaman siswa tentang pecahan belum sampai pada konsep bagi adil sebagai materi prasyarat yang seharusnya dipahami siswa sebelumnya. Adapun faktor didactical obstacle diidentifikasi dari 1) guru yang tidak menggunakan RPP sebagai acuan dalam mengajar sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan seadanya mengikuti materi dalam buku yang sudah tersedia; 2) strategi pembelajaran dimasa pandemi, guru hanya memberikan tugas tanpa menjelaskan materi pecahan senilai kepada siswa.
Pola Asuh Orang Tua Militer dalam Meningkatkan Kemandirian Anak
Alfina Bakti P;
Ika Fitri Apriani
Jurnal Ilmiah KONTEKSTUAL Vol. 3 No. 01 (2021): Agustus
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhadi Setiabudi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46772/kontekstual.v3i01.488
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya asumsi mengenai orang tua siswa yang bertugas di bagian militer selalu menerapkan pola asuh otoriter kepada anak-anaknya dalam upaya membentuk karakter anak, khususnya dalam aspek kemandirian. Tujuan penelitian ini hadir untuk mengetahui pola asuh orang tua militer dalam upaya meningkatkan kemandirian anak. Penelitian ini menggunakan studi deskripstif dan subjek terdiri dari dua keluarga militer di Batalyon Artileri Medan 10. Hasil menunjukkan bahwa keluarga militer menerapkan pola asuh demokratis semi otoriter dalam upaya meningkatkan kemandirian anak. Pemodifikasian pola asuh otoriter dan demokratis yang diterapkan oleh kedua orang tua responden, dipengaruhi oleh latar belakang historis dan habits yang dimiliki berbeda. Terdapat beberapa hambatan penanaman pola asuh yang dialami kedua orang tua responden dalam upaya meningkatkan kemandirian anak, diantaranya sikap manja dan malas dalam diri anak, intensitas waktu yang dimiliki kedua serta miskomunikasi antara orang tua dan anak. Melalui pola asuh demokratis semi otoriter yang diterapkan kedua orang tua responden, memberikan dampak terhadap perkembangan kemandirian anak. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kemandirian anak pada beberapa indikator, seperti percaya diri, mampu bekerja sendiri, menghargai waktu, bertanggung jawab, memiliki hasrat untuk maju, dan mampu mengambil keputusan sendiri, berada pada ranah yang baik.
Learning Obstacle Siswa Kelas IV Sekolah Dasar pada Materi Keliling Persegi
Revina Putri Hermawan;
Epon Nur'aeni;
Dindin Abdul Muiz Lidinillah;
Ika Fitri Apriani
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 5, No 1 (2021): DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (431.724 KB)
|
DOI: 10.20961/jdc.v5i1.52359
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan learning obstacle yang dialami siswa pada materi keliling persegi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara, observasi, serta instrumen soal tes sebanyak 5 soal yang telah divalidasi oleh ahli. Subjek penelitian yaitu 7 orang siswa dan 1 guru kelas IV di SDN 1 Sindangrasa. Menciptakan proses pembelajaran yang optimal tidak hanya berfokus pada penguasaan materi yang dimiliki guru. Namun, harus juga dapat memperhatikan learning obstacle yang dialami siswa, sehingga siswa mampu memahami materi secara utuh. Berdasarkan hasil penelitian, siswa mengalami 4 tipe learning obstacle pada materi keliling persegi yakni learning obstacle tipe 1 terkait dengan kesulitan siswa dalam memahami konsep bangun datar persegi, learning obstacle tipe 2 terkait ketidakpahaman siswa dalam konsep rumus keliling persegi, learning obstacle tipe 3 terkait kesulitan siswa dalam menghitung keliling persegi dan learning obstacle tipe 4 ketidakpahaman siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan keliling persegi. Terdapat 3 faktor penyebab siswa mengalami learning obstcale diantaranya ontogenic obstacle (kesiapan siswa dalam belajar), didactical obstacle (aspek didaktik guru) dan epsitimologic obstacle (pengetahuan siswa yang memiliki konteks terbatas).
Persepsi Guru terhadap Penggunaan Media Pop Up Book pada Pembelajaran Geometri di Sekolah Dasar
Ika Fitri Apriani;
Epon Nur'aeni;
Fitri Nurzakiah Fuadi
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 5, No 2 (2021): DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik
Publisher : Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (261.027 KB)
|
DOI: 10.20961/jdc.v5i2.54179
Keberadaan media pada pembelajaran geometri dapat membantu peserta didik dalam memahami suatu konsep. Salah satu media yang digunakan dalam pembelajaran geometri, misalnya bangun datar dan bangun ruang adalah pop up book. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi guru Sekolah Dasar (SD) terhadap media pop up book pada pembelajaran geometri SD. Metode penelitian deskriptif digunakan pada penelitian ini. Instrumen penelitian yang dipakai yaitu kuesioner yang terdiri dari 11 pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka bertujuan untuk mengungkapkan pandangan guru mengenai media pembelajaran geometri di SD khususnya media pop-up book. Sebanyak 108 guru SD yang mengajar di berbagai kelas berpartisipasi sebagai responden. Kuesioner ini diberikan kepada guru sekolah dasar yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sebagian besar guru berpendapat bahwa konsep geometri yang sulit dipelajari oleh siswa yaitu konsep tentang volume gabungan dengan persentase sebanyak 77,8%; (2) guru yang sudah mengetahui istilah pop-up book sebanyak 67,6%; (3) guru yang setuju bahwa pop-up book cocok digunakan sebagai media pembelajaran untuk konsep geometri di SD mencapai 96,3%; dan (4) guru yang menggunakan media pop up book pada pembelajaran geometri hanya mencapai 13%.
Tinjauan Soal Penilaian Tengah Semester Pada Materi Matematika Berdasarkan Tingkat Kognitif Peserta Didik Di Sekolah Dasar
Jamaludin Jamaludin;
Epon Nur’aeni;
Yusuf Suryana;
Ika Fitri Apriani
DIKDAS MATAPPA: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Vol 5, No 3 (2022): September
Publisher : STKIP Andi Matappa Pangkep
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31100/dikdas.v5i3.2171
The purpose is to reveal the assessment questions to review the percentage and suitability of that. The method used is a descriptive method of document analysis. The object is the mid-semester assessment of math class VI in one of the elementary schools in Cibeureum District, Tasikmalaya City. Data collection techniques through interviews and documentation studies. The instrument used is guidelines analysis sheets, a rubric / matrix based on Bloom's taxonomy and interview guidelines. Data analysis includes the stages of data collection, reduction, presentation and drawing conclusions. The results revealed that 80% questions were in accordance with the operational verb indicators at the cognitive level of C2 (understanding). The percentage of questions obtained is 100% of the total questions at the cognitive level C2 (understanding). From the responses of educators, it was obtained: (1) not paying attention to the preparation of learning assessments based on cognitive levels and tending to refer to operational verbs at the level of basic competence, (2) teacher tend to be have difficulty solving problems based on Higher Order Thinking Skills in mid -semester assessments.
Desain pembelajaran berbasis assure model pada materi pecahan di Kelas V Sekolah Dasar
Muhammad Rijal Wahid Muharram;
Ika Fitri Apriani;
Erwin Rahayu Saputra;
Widani Widani;
Ginna Islamiati;
Aviva Ayuningtias;
Irni Rachmawati Putri;
Sekar Ayu Utami
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v1i1.14004
Penelitian ini dilatarbelakangi atas pentingnya adaptasi pembelajaran pada masa pandemi covid-19 dan perlunya integrasi teknologi serta penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Salah satu desain model pembelajaran yang relevan adalah model ASSURE berbasis pendekatan multi-dimensional SPUR. Pengembangan model ASSURE diharapkan dapat menjadi solusi dan perspektif baru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan melibatkan penggunaan teknologi yang semakin berkembang. Selain itu, pendekatan multi-dimensional SPUR dapat mendorong atmosfer pelaksanaan maupun evaluasi pembelajaran yang berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan desain pembelajaran ASSURE Model; (2) mendeskripsikan implementasi desain pembelajaran ASSURE Model; (3) mengetahui respon siswa terhadap desain pembelajaran model ASSURE berbasis pendekatan multi-dimensional SPUR; dan (4) mengetahui respon guru terhadap desain pembelajaran model ASSURE berbasis pendekatan multi-dimensional SPUR. Jenis penelitian ini adalah design based research dengan model Mc Kenney & Reeves. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas V di salah satu sekolah dasar yang berlokasi di Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian yaitu waw ancara, kuesioner, dan studi dokumentasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu pedoman wawancara, lembar kuesioner, dokumentasi, dan lembar catatan lapangan. Penelitian ini melibatkan dosen, mahasiswa, guru, dan siswa sekolah dasar. Penelitian menghasilkan produk berupa bahan ajar berbasis ASSURE Model pada pembelajaran pecahan di kelas V Sekolah Dasar.
Penggunaan model RASCH untuk soal perkalian bilangan cacah Siswa Sekolah Dasar
Ika Fitri Apriani;
Ginna Islamiati;
Irni Rachmawati Putri;
Lilis Susilawati;
Muhammad Rijal Wahid Muharram;
Epon Nur'aeni
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : IKIP Siliwangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22460/collase.v1i1.14018
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemampuan operasi hitung siswa pada konsep perkalian bilangan cacah dengan menggunakan pemodelan RASCH. Melalui pemodelan RASCH ini dapat memberikan gambaran kepada guru tentang kemampuan siswa dalam menjawab soal. Dengan menggunakan model RASCH dapat mengetahui siswa yang menjawab soal dengan cara teknik menebak jawaban. Jika siswa yang memiliki kemampuan kompetensi rendah tetapi tebakannya benar pada soal pilihan ganda ini dapat menyulitkan guru dalam mengukur kemampuan siswa dalam operasi hitung perkalian bilangan cacah. Dengan menggunakan RASCH model ini guru dapat meninjau kembali jawaban siswa sehingga penggunaan model RASCH ini dapat memberikan gambaran kemampuan siswa dengan tepat. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman konsep perkalian bilangan cacah pada pembelajaran matematika di sekolah dasar. Subjek pada penelitian ini yakni 24 siswa kelas II SD di salah satu SD swasta di Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yakni melalui instrumen lembar tes berisikan soal yang berkaitan dengan materi konsep perkalian bilangan cacah. Hasil data yang diperoleh ditabulasikan melalui pemodelan RASCH mencakup (a) analisis peta WRIGHT (b) analisis kesesuaian butir soal (c) analisis abilitas siswa (d) analisis scalogram dan (e) analisis reliabilitas. Sistem penilaian menggunakan skala Guttman. Hasil penelitian menunjukan bahwasannya terdapat sebagian siswa masih mengalami miskonsepsi terhadap konsep perkalian bilangan cacah. Indikasi ini terlihat dari tingkat respon siswa terhadap soal kurang ideal. Hal ini menandakan bahwasannya masih banyaknya miskonsepsi siswa terhadap materi konsep perkalian bilangan cacah pada pembelajaran matematika.Kata Kunci: pembelajaran matematika, konsep perkalian, bilangan cacah.
Profil Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar dalam Menyelesaikan Soal Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Ika Fitri Apriani;
Turmudi Turmudi;
Al Jupri;
Ernawulan Syaodih
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4493
Beberapa riset menunjukan bahwasannya banyak pebelajar di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam kemampuan pemecahan masalah. Riset ini memiliki tujuan dalam menganalisis serta menggambarkan keahlian pemecahan masalah dari mahasiswa calon guru dasar ditinjau dari kemampuan mahasiswa. Dalam riset ini, sampel penelitian yaitu tiga orang mahasiswa dengan terkualifikasi memiliki tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Pendekatan yang dilakukan peneliti yakni pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes dan wawancara dengan tiga subjek yang terdiri dari kategori tinggi, sedang, rendah yang diberi soal kemampuan pemecahan masalah yang diisi dalam waktu maksimal 60 menit. Hasil riset menghasilkan gambaran mengenai profil mahasiswa dengan kategori kemampuan yang tinggi ia mampu menyelesaikan soal melalui tahapan pemecahan masalah yang sistematis dan mampu memformulasikan situasi soal ke dalam kalimat matematika. Dengan demikian, profil mahasiswa yang memiliki kualifikasi pada kategori kemampuan sedang mampu menafsirkan masalah dengan menuliskan informasi yang diperoleh dan sedikit keliru dalam membuat formula dan profil mahasiswa pada kategori kemampuan rendah ia hanya dapat mengenali informasi penting pada soal dan kesulitan mengubah pemodelan soal ke dalam kalimat matematika.
Profil Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar dalam Menyelesaikan Soal Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Ika Fitri Apriani;
Turmudi Turmudi;
Al Jupri;
Ernawulan Syaodih
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4493
Beberapa riset menunjukan bahwasannya banyak pebelajar di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam kemampuan pemecahan masalah. Riset ini memiliki tujuan dalam menganalisis serta menggambarkan keahlian pemecahan masalah dari mahasiswa calon guru dasar ditinjau dari kemampuan mahasiswa. Dalam riset ini, sampel penelitian yaitu tiga orang mahasiswa dengan terkualifikasi memiliki tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Pendekatan yang dilakukan peneliti yakni pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes dan wawancara dengan tiga subjek yang terdiri dari kategori tinggi, sedang, rendah yang diberi soal kemampuan pemecahan masalah yang diisi dalam waktu maksimal 60 menit. Hasil riset menghasilkan gambaran mengenai profil mahasiswa dengan kategori kemampuan yang tinggi ia mampu menyelesaikan soal melalui tahapan pemecahan masalah yang sistematis dan mampu memformulasikan situasi soal ke dalam kalimat matematika. Dengan demikian, profil mahasiswa yang memiliki kualifikasi pada kategori kemampuan sedang mampu menafsirkan masalah dengan menuliskan informasi yang diperoleh dan sedikit keliru dalam membuat formula dan profil mahasiswa pada kategori kemampuan rendah ia hanya dapat mengenali informasi penting pada soal dan kesulitan mengubah pemodelan soal ke dalam kalimat matematika.