Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KERAGAMAN FENOTIPE SIFAT KUANTITATIF AYAM BURGO, AYAM HUTAN MERAH, DAN AYAM KAMPUNG DI PROVINSI BENGKULU: DIVERSITY OF PHENOTYPES OF QUANTITATIVE PROPERTIES OF BURGO CHICKEN, RED FOREST CHICKEN, AND NATIVE CHICKEN IN BENGKULU PROVINCE Teguh Rafian; Jakaria Jakaria; Niken Ulupi
Journal Animal Research and Applied Science Vol. 4 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Study Program of Animal Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v4i1.28507

Abstract

Pentingnya pemahaman yang baik tentang karakteristik SDGT sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai referensi pengambilan keputusan dalam pengembangan dan program pemuliaan ternak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman fenotipe sifat kuantitatif ayam burgo, ayam hutan merah, dan ayam kampung dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan SDG ayam lokal khususnya di Bengkulu, dan menganalisis faktor-faktor peubah penentu ukuran dan bentuk ayam burgo, ayam hutan merah, dan ayam kampung. Bahan penelitian yang digunakan adalah 47 ekor ayam burgo, 9 ekor ayam hutan merah (Gallus gallus spadiceus), dan 18 ekor ayam kampung (Gallus gallus domesticus). Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dan ayam yang diambil merupakan ayam yang sudah dewasa di Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu, dan Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Data-data sifat kuantitatif berupa berat badan, panjang tubuh, panjang dada, lingkar dada, rentang sayap, panjang paha atas, panjang paha bawah, panjang shank, panjang jari ketiga, dan lingkar shank ayam burgo, ayam hutan merah, dan ayam kampung. Hasil uji-t menunjukkan bahwa karakteristik sifat kuantitatif ayam burgo jantan lebih mendekati karakteristik sifat kuantitatif ayam kampung jantan, sedangkan karakteristik sifat kuantitatif ayam burgo betina lebih mendekati karakteristik sifat kuantitatif ayam hutan merah betina. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) ayam burgo dan ayam hutan merah memiliki sifat kuantitatif dengan tingkat keragaman yang rendah (monomorfik), sebaliknya dengan ayam kampung memiliki sifat kuantitatif dengan tingkat keragaman yang tinggi (polimorfik), dan (2) peubah penentu ukuran ayam burgo adalah panjang paha bawah (jantan) dan panjang jari kaki ketiga (betina), ayam hutan merah adalah panjang paha bawah (jantan) dan panjang paha atas (betina), dan ayam kampung adalah panjang shank, sedangkan peubah penentu bentuk ayam burgo adalah panjang paha bawah, ayam hutan merah adalah panjang jari kaki ketiga, dan ayam kampung adalah panjang shank.
Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan Teguh Rafian
Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan (Journal of Research and Innovation of Animals) Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan: Agustus 2023
Publisher : Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jrip.2023.7.3.000

Abstract

Chief Editor Kusuma Adhianto Associate Editor Dian Septinova Ratna Ermawati Fitria Tsani Farda Etha ‘Azizah Hasiib Editorial Board Rudy Sutrisna Farida Fathul Ali Husni Erwanto Rr. Riyanti Syahrio Tantalo Khaira Nova Sri Suharyati Purnama Edy Santosa Siswanto Liman Teguh Rafian
KORELASI GENETIKA SIFAT PRODUKSI SEBAGAI DASAR KRITERIA SELEKSI DOMBA LOKAL DI PROVINSI LAMPUNG: GENETIC CORRELATION OF PRODUCTION TRAITS AS A BASIS OF LOCAL SHEEP SELECTION CRITERIA IN LAMPUNG PROVINCE Dian Kurniawati; Kusuma Adhianto; Akhmad Dakhlan; Teguh Rafian
Journal Animal Research and Applied Science Vol. 4 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Study Program of Animal Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v4i1.28223

Abstract

Usaha pening-katan produksi melalui peningkatan mutu genetika memerlukan seperangkat pengetahuan tentang parameter genetika sifat yang dapat diukur, yang salah satunya adalah korelasi genetika antar-sifat yang berbeda. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi nilai korelasi genetik antara berat lahir dengan berat sapih pada domba lokal di kandang percobaan Jurusan Peternakan, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan catatan data yang berupa data berat lahir dan berat sapih domba lokal yang telah dipelihara selama 5 bulan dengan jumlah 31 ekor domba (umur 150 hari) Data penunjang lainnya adalah data penimbangan berat badan selama pemeliharaan. Metode statistik yang digunakan untuk mengestimasi korelasi genetik adalah metode One Way Analysis of Variance. Penelitian menunjukkan bahwa nilai estimasi korelasi genetik antara berat awal dengan berat akhir sebesar 0,72±0,38. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai korelasi genetik antara berat lahir dengan sapi akhir temasuk positif tinggi.
SOSIALISASI PENGOLAHAN TELUR ASIN AYAM RAS DI DESA MARGO LESTARI, KECAMATAN JATI AGUNG KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Teguh Rafian; Miki Suhadi; Yuli Wahyu Tri Mulyani; Elia Agustiana; Kusuma Adhianto; Dian Kurniawati
Jurnal Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): JM-PKM
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jmpkm.v2i1.922

Abstract

Margo Lestari Village is a village with potential as a laying hen farming center. This can be seen from the people who raise laying hens. However, the high egg production in the village is not matched by egg sales or marketing. This results in the production of eggs that can rot before being utilized or consumed because eggs have a fairly short shelf life. Thus, it is hoped that this service activity can increase the income of farmers through improving the quality of salted egg products from laying hen eggs in Margo Lestari Village. This counseling activity uses the lecture method and question and answer section. Extension activities were carried out on Wednesday, October 26, 2022 at 09.00 to 12.30 WIB at the Margo Lestari Village Hall, Jati Agung District, South Lampung Regency. The socialization was attended by 20 people, most of whom were breeders. After carrying out community service activities, it can be concluded that there are several things obtained by farmers as participants, namely increasing knowledge related to processing poultry farm products into salted eggs to increase the selling price and shelf life of production eggs in an effort to increase the economic value of farmers. Keywords: Processed Livestock Products, Economic Value, Egg Storability
PEMANFAATAN LIMBAH JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK ALTERNATIF DI DESA FAJAR BARU Teguh Rafian; Ali Husni; Muhtarudin Muhtarudin; Akhmad Dakhlan; Dian Kurniawati
Jurnal Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): JM-PKM
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jmpkm.v2i2.1132

Abstract

Fajar Baru Farmer Group is also faced with the problem of less effective and efficient maintenance management, namely feeding that does not meet the needs and nutritional balance. It is necessary to carry out feeding management that suits the needs and nutritional balance of livestock. This is to create an independent and sustainable Fajar Baru Farmer Group in the cultivation of superior seeds in South Lampung. This community service activity uses two methods, namely presentation and demonstration. The community service was held on Saturday, August 5, 2023, at the Fajar Baru Village Livestock Group Chairman's house at 10.00 WIB until completion which was attended by 33 Fajar Baru Village farmers. First, the speaker gave a presentation on the nutritional needs of goats and sheep, what substances and nutrients are needed by goats and sheep during life and breeding, what feeds can be used, and what alternative feeds can be developed at the service location. Furthermore, a demonstration of making ammoniation of rice straw waste which is widely available at the service location was carried out. The service activity went smoothly and received a good response with a request to return to conduct counseling there.  Keywords: Ammoniation, Goat, Lampung, Sheep, Urea.
PERFORMA KUALITATIF DAN KUANTITATIF AYAM KAMPUNG (Gallus Gallus Domesticus) DI PETERNAKAN PEMBIBITAN THE MOTHER Riyanti Riyanti; Khaira Nova; Teguh Rafian; Sulastri Sulastri; Adityo Suhadi; Mentari Mentari
Wahana Peternakan Vol. 7 No. 1 (2023): Wahana Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v7i1.829

Abstract

This study aims to identify the quantitative and qualitative performance of native chickens in The Mother breeding farm. This study used 50 male native chickens and 50 female native chickens aged 7 months. Variables observed included body hair pattern color, comb shape, comb color, shank color, eye color, beak color, body weight, chest circumference, shank length, shank circumference, body length, pubic bone length to chest, pubic bone distance and length wing span. Data were analyzed using descriptive analysis. The results of this study indicate that the body color of the male is Columbian (100%), while the female is solid black (62%), columbian (22%) and speckled or dotted (16%). The male cockscomb is pea (86%) and single (14%), while the female is pea (70%), walnut (20%) and single (10%). The color of the male comb is red (100%), while the female is red (98%) and black (2%). The shank color of males is yellow (74%), black (14%) and white (12%), females are black (74%), white (16%) and yellow (10%). Male eye color is orange (76%) and yellow (24%), while females are orange (66%), yellow (20%) and brown (14%). The color of the male's beak is yellow (54%), black and yellow (38%) and white (8%), while the female's beak is black and yellow (82%), yellow (10%) and white (8%). The results of the quantitative characteristics of the study showed that the male body weight was 2.22 ± 2.02 kg and the female was 1.71 ± 0.25 kg, the male chest circumference was 33.9 ± 3.68 cm and the female was 30.67 ± 2.08 cm, the length male shank 9.61 ± 0.89 cm and female 27 ± 0.59 cm, male shank circumference 5.52 ± 0.65 cm and female 4.4 ± 0.5 cm, male body length 20.27 ± 1.17 cm and female 20.40 ± 2.27 cm, the length of the pubic bone to the chest of the female is 7.87 ± 1.06 cm, the distance between the pubic bones is 2.8 ± 0.49 cm, the length of the male wing span is 23.28 ±2.18 cm and females 16.61±2.44 cm. The conclusion of this study is that the quantitative and qualitative characteristics of free-range chickens on The Mother farm are diverse and selection can be made. Keywords: Domestication chicken, Selection, Quality breeds, Lampung Province
KERAGAMAN GEN FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH|TasI) EXON 2 PADA SAPI PESISIR: Diversity of the Follicle Stimulating Hormone (FSH|TasI) Exon 2 Gene in Coastal Cattle Yurnalis Yurnalis; Mangku Mundana; Teguh Rafian
Wahana Peternakan Vol. 7 No. 3 (2023): Wahana Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v7i3.1136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman Gen Follicle Stimulating Hormone (FSH|TasI) exon 2 pada sapi Pesisir. Penelitian ini dilakukan pada bulan 2 Juli sampai 21 September 2020 di Laboratorium Bioteknologi Ternak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 78 sampel darah Sapi Pesisir (13 jantan dan 65 betina) yang diambil di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sampel darah diisolasi menggunakan protokol genomic DNA Purification Kit dari Promega. DNA hasil isolasi kemudian di amplifikasi menggunakan sepasang primer Forward: 5-’TCTCAGTTTTCTACAAGCCTT-3’ dan Reverse 5’-GGGAATCAATGAAGCCTGCC-3’ yang menghasilkan fragmen gen FSH ekson 2 sepanjang 271 bp. Produk amplifikasi direstriksi menggunakan enzim TasI yang mengenali situs pemotongan (AA↓TT). Hasil Penggenotipan gen FSH menggunakan enzim TasI pada sapi Pesisir ditemukan dua macam genotip yaitu 44 individu (8 jantan dan 36 betina) bergenotip homozigot tidak terpotong (-/-) dan 32 individu (5 jantan dan 27 betina) bergenotip heterezigot (+/-). Berdasarkan dari hasil analisis data, diperoleh dua macam genotip yaitu heterozigot (+/-) sebesar 0,38 dan homozigot tidak terpotong (-/-) sebesar 0,62 dengan frekuensi alel (+) sebesar 0,19 dan alel (-) sebesar 0,81 untuk sapi jantan dan heterozigot (+/-) sebesar 0,43 dan homozigot tidak terpotong (-/-) sebesar 0,57 dengan frekuensi alel (+) sebesar 0,21 dan alel (-) sebesar 0,79 untuk sapi betina. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa gen FSH pada populasi Sapi Pesisir yang diteliti bersifat polimorfik dan berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg. Kata kunci: Gen FSH, Sapi Pesisir, Enzim TasI
Sosialisasi Manajemen Pemeliharaan Sapi Krui dan Pelayanan Kesehatan Ternak di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung Dian Kurniawati; Kusuma Adhianto; Akhmad Dakhlan; Teguh Rafian
Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol 2, No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol 2 No 1, Maret 2023
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpfp.v2i1.6809

Abstract

Kabupaten Pesisir Barat merupakan kabupaten yang berada di ujung barat Provinsi Lampung. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, peternak, dan nelayan. Jenis ternak yang dibudidayakan adalah Sapi Krui. Sebagian besar peternak mengeluhkan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam budidaya Sapi Krui, diantaranya banyak sapi yang pertumbuhannya kurang maksimal (lambat), sapi terserang penyakit, serta produktivitasnya rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan dari program Pemerintah  Daerah Kabupaten Pesisir Barat yaitu memberikan sosialisasi tentang manajemen pemeliharaan ternak dan pelayanan kesehatan ternak di Kabupaten Pesisir Barat. Metode kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi, sosialisasi, dan pelayanan kesehatan ternak dan evaluasi pelaksanaan. Peserta kegiatan ini adalah para peternak yang ada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung yang berasal dari empat wilayah di Kabupaten Pesisir Barat, yaitu Krui Selatan, Pesisir Selatan, Pesisir Utara, dan Pulau Pisang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi Peternak di wilayah Kabupaten Pesisir Barat. Peternak lebih memahami sistem pemeliharaan ternak sapi Krui yang tepat serta perawatan kesehatan ternak secara mandiri, dan diharapkan dari kegiatan ini peternak dapat meningkatkan produktivitas sapi Krui sehingga mengalami peningkatan dan berdampak terhadap perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pesisir Barat.
PENERAPAN GENETIKA PADA USAHA PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKSI PANGAN ASAL HEWAN woki bilyaro; Teguh Rafian; Jonathan Anugrah Lase
AgriMalS Vol 3 No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/agrimals.v3i2.924

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang penerapan teknologi bioteknologi rekayasa genetika pada sektor peternakan dengan tujuan memperbaiki tingkat produktivitas dan kualitas genetik ternak. Pembahasan tulisan ini dilakukan dengan pendekatan metode deskriptif, dimana penulisan yang menitikberatkan pada penyelesaian masalah-masalah aktual, data-data yang diperoleh, dikumpulkan, kemudian disusun, diuraikan dan kemudian dilakukan analisis. Pembahasan permasalahan dengan melakukan studi kepustakaan sebagai referensi. Penelitian ini merupakan kajian desk study dengan melakukan review terhadap beberapa litertur yaitu dari jurnal, proseding nasional/international dan dari informasi/website, pada >5-10 tahun terakhir dari mesin pencari google scholar atau sience direct yang terkait dengan judul dan penulisan. Faktor genetik memegang andil yang cukup besar terhadap kesuksesan budidaya peternakan. Pemanfaatan ilmu genetika seperti recording, purebreeding, crossbrreding, seleksi, penanda gen, genetika molekuler dan lainnya dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan industri peternakan. Genetika dapat diterapkan pada setiap bidang kehidupan. Pada bidang peternakan genetika dapat berperan dalam meningkatkan kapasitas produksi ternak baik secara kuantitas maupun kualitas. Gentika juga mempermudah para peternak dalam menseleksi atau memilih jenis bibit ternak yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan sesuai sumber daya lahan yang tersedia dilokasi pemeliharaan.
Pendugaan Jarak Genetik Pada Ternak Sapi Potong woki bilyaro; Arif Rahman Aziz; Teguh Rafian; Jonathan Anugrah Lase; Muhammad Dani
AgriMalS Vol 4 No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/agrimals.v4i1.1202

Abstract

Sapi potong ialah ternak yang dipelihara khusus dengan tujuan untuk dilakukan penggemukkan. Sapi ini memiliki penciri tertentu, seperti laju pertumbuhan badannya yang cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi ini komoditas penting yang memeberikan kontribusi dalam upaya menyediakan sumber protein asal hewan dalam bentuk daging. Jarak genetik merujuk pada tingkat perbedaan gen dalam suatu populasi atau spesies, diukur dengan metrik numerik. Ini mencerminkan kedekatan atau jarak antara individu-gen dalam kelompok. tujuan penelitian ini adalah untuk merangkum beberapa studi yang melakukan pendugaan terhadap jarak genetik pada populasi sapi potong diberbagai daerah. Pendugaan jarak gentik pada ternak sudah sering digunakan untuk mengetahui besaran jarak genetik antar populasi ternak pada suatu tertentu yang dibandingkan dengan populasi ternak diwilayah itu sendiri maupun dibandingkan dengan populasi ternak yang dibandingkan dengan wilayah lainnya. Metode ini dinilai lebih murah dan efisien. Pada ternak sapi, bagian tubuh yang umum dilakukan Pengukuran untuk keperluan pengujian jarak gentik adalah Bobot Badan, Pertambahan Bobot Badan Harian, Panjang Badan, Tinggi Pundak, Lingkar Dada, Dalam Dada, Lebar Dada, Lingkar Kanon, dan Tinggi Pinggul. Data morfologi yaang diperoleh dari pengukuran tubuh ternak diolah dengan menggunakan analisis diskrimanan dan kemudian data tersebut ditampilakn dalam bentuk diagram dan gambar filogeni. Pendugaan jarak dengan metode morfometrik dapat dijadikan salah satu cara untuk membedakan secera genetik antara populasi ternak sapi yang ingin kita ketahui. Morfometrik pada ternak sapi diukur sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pendugaan perbedaan yang diketahui seperti Performa sifat kuantitatif meliputi bobot badan, pertambahan bobot badan harian dan Penciri bentuk tubuh