Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KERAGAMAN PERTUMBUHAN ITIK KAMANG DI PETERNAKAN UNGGUL JAYA FARM Rafian, Teguh; Arlina, Firda
Jurnal Peternakan Borneo Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Peternakan Borneo
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jpb.v2i2.19

Abstract

Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat. Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat.
Review: Pontesi Ayam Hutan Merah sebagai Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Rafian, Teguh; Lase, Jonathan Anugrah; Bilyaro, Woki
Jurnal Peternakan Borneo Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Peternakan Borneo
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jpb.v2i2.22

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik, pola tingkah laku, dan kondisi pemburuan ayam hutan merah di habitatnya sebagai informasi dasar dalam mengambil keputusan dalam proses pelestarian ayam hutan merah secara eks-situ maupun in-situ. Ayam hutan merah warna bulu berwarna, corak bulu polos, pola bulu liar, kerlip bulu emas, warna shank hitam, tipe jengger tunggal, warna cuping putih, dan warna mata jingga. Ayam hutan merah secara umumnya memakan serangga, cacing, dan buah. Sarang telur ayam hutan berada di tanah dan terbuat dari ranting pohon, daun kering, pohon hidup, dan rumput. Ayam hutan merah diburu dengan menggunakan peralatan berupa ayam pikat, jaring, racik, dan kombinasi kedua alat tersebut. Dapat disimpulkan bahwa program pemuliaan yang dapat diterapkan pada ayam hutan merah adalah program pemurnian (inbreeding) dan persilangan (cross-breeding).
REVIEW: PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK TERHADAP PERFORMA AYAM Rafian, Teguh; Fajri, Fadhli; Bilyaro, Woki; Lase, Jonathan A; Adam, M. Fahri
Jurnal Peternakan Borneo Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Peternakan Borneo
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jpb.v3i1.31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat penggunaan probiotik dalam pakan unggas baik dalam bentuk tambahan pakan atau ditambahkan dalam air konsumsi ayam. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dapat dikonsumsi ternak untuk meningkatkan kesehatan, mengoptimalkan produktivitas, dan mengefisien konsumsi pakan dengan cara menyeimbangkan mikro-flora dalam saluran pencernaan, yaitu dengan cara menghasilkan senyawa anti-mikroba yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang ada di saluran pencernaan ternak. Pengaruh pemberian probiotik pada ternak adalah memperbaiki komposisi dan ekosistem dari pencernaan sehingga pengaruh dari penambahan probiotik dalam pakan lebih ditekankan pada proses penyerapan nutrisi ataupun kecernaan, dan bukan pada jumlah konsumsi pakan ternak. Probiotik pada pakan menurunkan nilai konversi pakan ayam, meningkatkan persentase karkas, meningkatkan waktu simpan telur, dan pakan air minum meningkatkan persentase karkas dan menurunkan persentase lemak perut, tetapi tidak berpengaruh terhadap persentase albumin dan yolk telur. Selain itu, pemberian probiotik kurang efektif diberikan pada ayam sudah tua dan melalui air minum. Sehingga Penggunaan probiotik dapat meningkatkan proses penyerapan nutrisi dan kecernaan, menurunkan nilai konversi pakan, meningkatkan persentase karkas, meningkatkan waktu simpan telur, meningkatkan persentase karkas, menurunkan persentase lemak perut, tetapi tidak berpengaruh terhadap persentase albumin dan yolk telur ayam.
KERAGAMAN PERTUMBUHAN ITIK BAYANG PERIODE PERTUMBUHAN: GROWTH DIVERSITY OF DUCKS BAYANG ON THE GROWTH PERIOD Rafian, Teguh; Arlina, Firda; Zulkarnain, Zulkarnain; Yurnalis, Adytia
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 4 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v4i2.30549

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Bayang sebagai itik pedaging lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan 205 ekor Itik Bayang yang terdiri dari 106 jantan dan 99 betina yang dipelihara dari umur 1 hari hingga 10 minggu. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode observasi dengan hasil pengamatan berupa pertumbuhan dan bobot hidup setiap minggunya. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Bayang sangat tinggi (koefisien keragaman di atas15%). Sehingga dapat disimpulkan perlunya dilakukan seleksi untuk meningkatkan potensi itik lokal unggul di Sumatera Barat.
SUMBER DAYA GENETIK MALEO (Macrocephalon maleo): POPULASI, ANCAMAN KEPUNAHAN, SERTA UPAYA PELESTARIAN: Maleo Genetic Resources (Macrocephalon maleo): Populations, Extinction Threats, and Conservation Efforts Lase, Jonathan Anugrah; Rafian, Teguh; Bilyaro, Woki
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 1 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i1.1297

Abstract

Burung maleo (Macrocephalon maleo) adalah endemik Sulawesi yang berasal dari famili Megapodiidae, dan sebagai maskot provinsi Sulawesi Tengah. Maleo saat ini digolongkan dalam satwa langka, sehingga perlu dilindungi agar terhindar dari kepunahan. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.106/Men LHK/Setjen/Kum.1/12/2018 turut memperkuat posisi maleo sebagai satwa yang dilindungi. Maleo memiliki keunikan dari ciri morfologi, habitat tempat tinggal hingga cara perkembangbiakannya. Maleo tersebar di beberapa tipe habitat mulai dari tempat datar yang panas hingga hutan pegunungan yang lebat. Pada habitat alaminya, burung maleo memanfaatkan pohon untuk bertengger, berteduh, dan beristirahat. Burung maleo mempunya keunikan sebagai spesies burrow nester, yakni pembuat sarang dalam liang atau lubang. Pada aspek perkembangbiakannya, maleo melakukan penetasan telur secara alami, dengan menggunakan panas bumi (geothermal) atau panas matahari. Konservasi burung maleo perlu diupayakan untuk menjamin keberlangsungan hewan endemik ini. Terdapat beberapa program konservasi terhadap burung maleo, contohnya Taman Bogani Nani Wartabone, dan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah yang programnya berfokus pada pelestarian dan membangun perkembangbiakan maleo. Upaya konservasi maleo sebagai satwa langka di Indonesia memiliki tujuan utama yang mencerminkan kepentingan pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem alam Indonesia.   Kata kunci: Konservasi, Maleo, Macrocephalon maleo, Sumber daya genetik, Sulawesi
PERFORMA KUANTITATIF SAPI KRUI DI PETERNAKAN RAKYAT KECAMATAN PESISIR SELATAN KABUPATEN PESISIR BARAT PROVINSI LAMPUNG INDONESIA: Quantitative Performance of Krui Cattle in Traditional Farmers in Pesisir Selatan District, Pesisir Barat Regency, Lampung Province, Indonesia Kurniawati, Dian; Dakhlan, Akhmad; Adhianto, Kusuma; Rafian, Teguh
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 1 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i1.1419

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tampilan kuantitatif 24 ekor sapi Krui betina berusia 18 hingga 24 bulan di peternakan rakyat Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pengamatan dilakukan menggunakan metode survei dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Peubah yang diamati meliputi ukuran-ukuran tubuh, seperti berat badan (BB), panjang badan (PB), tinggi pundak (TP), tinggi pinggul (TPing), lebar dada (LebD), lingkar dada (LD), dalam dada (DD), lingkar pinggul (LP), lebar kepala (LK), dan panjang kepala (PK). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BB, PB, TP, TPing, LebD, LD, DD, LP, LK, dan PK sapi Krui betina berturut-turut adalah 154,23±65,70 kg, 110,64±9,36 cm, 103,72±24,28 cm, 103,43±5,57 cm, 24,86±5,15 cm, 120,80±11,2 cm, 47,67±5,33 cm, 132,73±17,27 cm, 41,00±5,00 cm, dan 17,64±1,36 cm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa performa kuantitatif sapi Krui di Peternakan Rakyat Kecamatan Krui Selatan lebih kecil dibandingkan dengan performa kuantitatif sapi lokal lainnya (sapi Bali dan sapi Madura) di Indonesia   Kata kunci: Performa Kuantitatif, Kabupaten Pesisir Barat, Peternakan Rakyat, Sapi Krui
Effect of Using Fermented Moringa Leaf Flour (Moringa oleifera) in Diets on Broiler Fat Deposition Fenita, Yosi; Warnoto, Warnoto; Santoso, Urip; Nurmeiliasari, Nurmeiliasari; Hindrianti, Hindrianti; Rafian, Teguh
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 18 No 4 (2023)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.18.4.228-234

Abstract

This study aims to evaluate the effect of using fermented Moringa oleifera leaf flour in the diet on broiler fat deposition (percentage of neck fat, heart fat, proventriculus fat, gizzard fat, abdominal fat, and sartorial fat). The research was conducted from 20 August to 25 September 2021 at the Commercial Zone and Animal Laboratory (CZAL) of the Animal Husbandry Department and the Animal Husbandry Laboratory, Faculty of Agriculture, Bengkulu University. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, five replications, and each replication consisting of 8 chickens. The variables observed were the percentage of abdominal fat, sartorial fat, gizzard fat, heart fat, proventriculus fat, and neck fat. The results showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on gizzard fat, heart fat, and neck fat but had a significant effect (P<0.05) on abdominal fat, sartorial fat, and proventriculus fat. The percentage of gizzard fat ranges from 0.263% - 0.320%, heart fat ranges from 0.026% - 0.036%, neck fat ranges from 0.020% - 0.031%, abdominal fat ranges from 0.334% - 0.441%, sartorial fat ranges from 0.163% - 0.217%, and proventriculus fat ranges from 0.024%. % - 0.038%. It was concluded that using fermented Moringa oleifera leaf flour up to a level of 15% could not reduce gizzard fat, heart fat, and neck fat in broilers. Still, it improved abdominal fat, sartorial fat, and proventriculus fat.
Single Nucleotide Polymorphism (SNP) Exon 4 Proclatine Gene on Local Duck Rafian, Teguh; Yurnalis, Yurnalis; Husmaini, Husmaini; Arlina, Firda
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 19 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.19.2.68-77

Abstract

This study uses the sequencing method to determine the genetic diversity of the prolactin gene (PRL) in the exon four region in Bayang ducks. This study used 118 blood samples of Bayang ducks. Blood samples were isolated and then sequenced using a pair of primers L: 5'- GCA CAG TTG TTC TTA CTA GTT CG -3' and R: 5'- TCT GAG AAC TTT GCA GCT ATC T -3', which produced a 586 bp fragment in the Prolactin (PRL) gene exon 4. The amplification product was sequenced using First Base Singapore's services. The results showed that there were 16 polymorphisms in the exon four region and parts of introns 3 and 4 in the Bayang duck sample, namely two deletions at position -223C>del and -218A>del and 14 mutations at position -136G>A, 157G>A, +9T>G, +11G>A, +16T>C, +20A>C, +25T>C, +29A>C, +35T>A, +38A>G, +43C>A, +71G>A, +84G>A, +91T>A. Based on the study results, it can be concluded that the diversity of the prolactin gene (PRL) of Bayang ducks in the exon four region is polymorphic and can be used as a candidate for marker-assisted selection in Bayang ducks.
REVIEW: POTENSI HORMON DAN GEN GH SEBAGAI METODE SELEKSI PERFORMA PRODUKSI TELUR ITIK LOKAL: REVIEW: POTENTIAL GROWTH HORMONES AND GH GENES AS A SELECTION METHOD FOR LOCAL DUCK EGG PRODUCTION PERFORMANCE Rafian, Teguh; Bilyaro, Woki; Lase, Jonathan Anugrah
Journal of Animal Research and Applied Science Vol. 5 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/aras.v5i1.34184

Abstract

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan dasar seleksi menggunakan penanda genetik terhadap performa produksi telur itik lokal melalui gen GH. GH dalam tubuh terlibat dalam menentukan waktu awal pubertas atau kematangan organ reproduksi. Selain itu, GH dalam tubuh secara tidak langsung dan secara langsung mempengaruhi produksi telur, dan secara tidak langsung GH mempengaruhi bobot telur. Berdasarkan hal tersebut, gen GH diduga dapat dijadikan kandidat penanda genetik untuk performa reproduksi telur itik.
Upaya Meningkatkan Produksi Sapi Potong melalui Penerapan Genetika Bilyaro, Woki; Rafian, Teguh; Azis, Arif Rahman; Dani, Muhammad
AgriMalS Vol 4 No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/agrimals.v4i2.1425

Abstract

Di Indonesia, sapi potong tidak hanya sebagai salah satu sumber protein asal hewan, tetapi juga berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Peningkatan produksi sapi potong dalam memenuhi kebutuhan protein hewani akan terus meningkat. Salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi produktivitas sapi adalah genetika. Genetika merupakan fondasi dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas ternak sapi potong. Penerapan genetika dalam peternakan sapi potong yang dapat dilakukan diantaranya adalah seleksi, perkawinan silang, bioteknologi produksi, pemanfaatan marker molekuler dan rekayasa genetika. Penerapan genetika dalam upaya meningkatkan produksi sapi potong menunjukkan potensi yang sangat besar. Teknik-teknik seperti seleksi genetik, inseminasi buatan, dan transfer embrio telah terbukti efektif dalam memperbaiki sifat-sifat produksi seperti pertumbuhan dan kualitas daging. Namun, keberhasilan penerapan teknologi genetika sangat bergantung pada kualitas data genetik, pengelolaan data yang baik, serta dukungan infrastruktur yang memadai. Peningkatan produksi sapi potong melalui penerapan genetika merupakan upaya yang kompleks dan memerlukan pendekatan multidisiplin. Selain aspek genetik, faktor lingkungan, nutrisi, kesehatan, dan manajemen pemeliharaan juga berperan penting. Oleh karena itu, integrasi antara ilmu genetika dan peternakan sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal. Pengembangan program pemuliaan yang berkelanjutan, pemanfaatan teknologi informasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan upaya ini.