Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Mahasiswa Sarjana Fakultas Kedokteran Sabrina, Denafa Dienia; Rahma, Sitti; Otto, Suliyanti; Karim, Cecy Rahma
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 2 (2026): Mar-Apr
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i2.649

Abstract

Parameter untuk mengetahui komposisi tubuh menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), obesitas termasuk kelompok dengan IMT tertinggi. Mahasiswa kedokteran memiliki risiko obesitas. Mahasiswa kedokteran mengalami stres berlebih dikarenakan jangka waktu studi yang lebih panjang dan dipenuhi kegiatan perkuliahan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa kedokteran berisiko obesitas. Ketika obesitas, kadar reseptor merespons hormon insulin dengan menerima glukosa yang lokasinya di jaringan tubuh yang akhirnya kadar glukosa akan meningkat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan IMT terhadap kadar Glukosa Darah Puasa (GDP). Jika hasil didapatkan pengaruh, maka dilakukan intervensi untuk mengatasi kadar GDP yang tinggi, termasuk pencegahan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bersifat kuantitatif memakai metode observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan mahasiswa Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo sebagai sampel. Pemilihan sampel dilakukan dengan memenuhi syarat inklusi dan eksklusi, menggunakan metode total sampling. Metode analisis bivariat ini bertujuan memperoleh informasi apakah ada keterkaitan antar variabel dependen dan independen, diolahnya data memakai uji Spearman Rho. Distribusi responden berdasarkan IMT mayoritas termasuk IMT kategori normal. Selanjutnya, ditempati kategori obesitas, kurus, dan berat badan berlebih. Namun, IMT kategori obesitas ini menjadi cerminan ketidakseimbangan antara asupan kalori dan pengeluaran energi. Berdasarkan penelitian, sebagian besar mahasiswa kedokteran FK UNG memiliki kadar GDP dalam rentang prediabetes, pihak institusi pendidikan disarankan mengembangkan program promotif dan preventif yang terstruktur, seperti edukasi, pemantauan rutin IMT dan GDP, serta kegiatan fisik terjadwal di lingkungan kampus. Institusi perlu mempertimbangkan kebijakan kesehatan mahasiswa yang lebih komprehensif menuju diabetes dapat diminimalkan.
Relationship between C-Reactive Protein Levels and D-Dimer in Patients with Sepsis in the ICU of RSUD (Regional General Hospital) Prof. Dr. H. Aloei Saboe Yuniasari, Putri Nabila; Purwanto, Romdon; Yusuf, Zuhriana K; Rahma, Sitti; Hasanuddin, Abdi Dzul Ikram
Biomedical Journal of Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Vol 12, No 1, 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v12i1.313

Abstract

Introduction. Sepsis remains a major global health problem with high incidence and mortality, including in Indonesia. One of the key factors contributing to sepsis-related mortality is the uncontrolled activation of inflammatory and coagulation pathways. C-reactive protein (CRP) serves as a marker of inflammation, while D-dimer reflects coagulation activation. Both biomarkers are commonly elevated in sepsis and are thought to be closely associated. This study aimed to evaluate the relationship between CRP and D-dimer levels in sepsis patients treated in the Intensive Care Unit (ICU) of RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Methods. This analytic observational study employed a cross-sectional design and was conducted in the ICU of RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe from July to November 2025. A total of 48 sepsis patients were included using total sampling based on medical record data from January to December 2024. The relationship between CRP and D-dimer levels was analyzed using the Pearson correlation test. Results. All patients showed elevated CRP levels (100%), and most had increased D-dimer levels (97.9%). Bivariate analysis demonstrated a statistically significant positive correlation between CRP and D-dimer levels, with a correlation coefficient of +0.333, indicating a weak to moderate association. Conclusion. There is a significant positive correlation between CRP and D-dimer levels in sepsis patients in the ICU of RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Higher CRP levels tend to be accompanied by increased D-dimer levels, reflecting the interplay between inflammation and coagulation activation in sepsis.
PERAN UREUM DAN EGFR DALAM MENENTUKAN KADAR HEMOGLOBIN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK NON-DIALISIS Budiono, Ariel Adyatma; Antu, Yuniarty; Rahma, Sitti; Amu, Ivan Virnanda; Monoarfa, Richard Arie
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 8, No 2 (2026): APRIL: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v8i2.37005

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan global yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR) dan sering disertai anemia sebagai komplikasi utama. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar ureum dan eGFR dengan kadar hemoglobin pada pasien PGK non-dialisis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan potong lintang retrospektif berdasarkan data rekam medis tahun 2024. Sampel sebanyak 52 pasien diperoleh melalui teknik purposive sampling. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji normalitas Kolmogorov–Smirnov serta uji korelasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis simultan ureum dan eGFR berbasis formula CKD-EPI 2021 dalam hubungannya dengan hemoglobin pada populasi PGK non-dialisis di tingkat rumah sakit daerah yang masih terbatas diteliti. Hasil menunjukkan seluruh pasien memiliki ureum tinggi, eGFR rendah, dan hemoglobin di bawah normal. Terdapat hubungan bermakna antara ureum dan hemoglobin (arah negatif) serta eGFR dan hemoglobin (arah positif). Disimpulkan bahwa peningkatan ureum dan penurunan eGFR berhubungan dengan rendahnya kadar hemoglobin. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan anemia bersamaan dengan fungsi ginjal dalam pengelolaan PGK non-dialisis.