Claim Missing Document
Check
Articles

Nonverbal Communication in the Minangkabau Marosok Tradition: An Analysis of Symbols and Ethical Values from an Islamic Economic Perspective Putri, Siska; Fahlefi, Rizal; Hidayati, Azifah; Lutfi, Ahmad
ITQAN: Journal of Islamic Economics, Management, and Finance Vol. 5 No. 1 (2026): ITQAN: Journal of Islamic Economics, Management, and Finance
Publisher : Yayasan Mitra Peduli Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57053/itqan.v5i1.144

Abstract

This study aims to explore the meaning of nonverbal communication in the Minangkabau marosok tradition and examine how Islamic economic values are embodied within it. Marosok is a traditional livestock trading practice conducted discreetly through hand symbols hidden beneath a sarong, functioning as a silent transactional language. The research employs a phenomenological qualitative approach with ethnographic nuances, utilising field observation, in-depth interviews, and documentation in the livestock markets of Cubadak, Sungai Sariak, and Payakumbuh. The findings reveal that the hand symbols and sarong serve not only as tools of economic communication but also as representations of the moral and spiritual values of Minangkabau society. Each transaction is guided by the principles of honesty (ṣidq), trustworthiness (amānah), and mutual consent (tarāḍin) that shape social relationships among market actors. This tradition reflects the practical implementation of Islamic economic values such as ‘adl (justice), ta‘āwun (mutual support), and hifz al-māl (protection of wealth) within a local cultural context rooted in the philosophy adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. The findings affirm that marosok represents a community-based, trust-driven economic model capable of maintaining efficiency, fairness, and ethical integrity without reliance on formal systems. Thus, the marosok tradition offers valuable insights for strengthening contemporary Islamic economic practices grounded in local wisdom.
Preferensi Driver Terhadap Pelaksanaan Pesta Pernikahan Di Jalan Umum Dan Tinjaunnya Dalam Perspektif Ekonomi Islam Witri, Witri; Fahlefi, Rizal; Lutfi, Ahmad
Economics and Digital Business Review Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena baralek di jalan sebagai bentuk transformasi sosial dan budaya masyarakat Minangkabau dalam perspektif ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan memusatkan perhatian pada pengalaman subjektif para driver transportasi daring dan konvensional yang terdampak oleh praktik pesta di jalan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini lahir dari perubahan struktur ruang hidup dan modernisasi sosial, yang menggeser makna pesta dari ruang domestik menuju ruang publik. Dalam konteks adat Minangkabau, praktik tersebut merefleksikan dinamika nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang beradaptasi terhadap keterbatasan lahan dan tuntutan zaman. Dari perspektif Islam, fenomena ini mengandung persoalan moral tentang keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab sosial. Konsep milkiyyah ‘ammah (kepemilikan publik), ‘adl (keadilan), dan maslahah ‘ammah (kemaslahatan umum) menjadi landasan etis untuk menilai penggunaan jalan sebagai ruang sosial. Sementara dalam perspektif ekonomi syariah, praktik baralek di jalan menunjukkan adanya dialektika antara kepentingan individu dan kemaslahatan kolektif yang harus diatur melalui prinsip maqasid al-syari‘ah, terutama ḥifẓ al-māl, ḥifẓ an-nafs, dan ḥifẓ al-‘ird. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi lokal seperti baralek di jalan dapat dipertahankan sebagai warisan budaya, sepanjang tetap selaras dengan nilai syariat Islam dan menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan tanggung jawab sosial-ekonomi masyarakat.
Dinamika Ekonomi Pagang Gadai Dalam Perspektif Ekonomi Syariah: Analisis Manfaat, Kerugian, Dan Keadilan Bagi Pihak Penggadai Dan Penerima Gadai lutfi, ahmad; Fahlefi, Rizal
Economics and Digital Business Review Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the economic dynamics of the pagang gadai practice in Minangkabau through an Islamic economic perspective, focusing on its benefits, disadvantages, and fairness for both the mortgagor and the mortgagee. The pagang gadai phenomenon, which has been practiced across generations, demonstrates a gradual shift from a mutual-help mechanism to an economic instrument that often generates unequal distribution of benefits. This research employs a Systematic Literature Review (SLR) approach based on 15 selected articles relevant to fiqh muamalah, customary economic systems, and the governance of mortgage contracts. The review process follows the PRISMA 2020 method with thematic analysis conducted using NVivo 12 software, resulting in four major themes: benefit imbalance, social commercial disparity, weak customary governance, and the potential application of a rahn ijarah contract model based on maqasid principles. The findings reveal that the economic benefit imbalance between mortgagors and mortgagees arises due to ambiguous contract structures, the absence of a clear redemption period, and disproportionate benefit extraction. From the maqasid al-shariah perspective, these conditions violate the principles of hifz al-māl (protection of wealth) and ʿadl (justice). This study proposes a gradual resolution concept through taswiyah of the existing contracts as a phase of restoring economic rights, followed by a renewal process utilizing a fair and productive rahn ijarah contract model. These findings emphasize that reconstructing economic justice in pagang gadai practices must begin with restoring proportional benefits and clarifying contractual structures, rather than focusing solely on legal adjustments. This research contributes to the development of community-based Islamic economics by bridging customary values and maqasid principles within the framework of socio-economic equilibrium in local societies.
Praktik Filantropi Jalanan Sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Umat: (Studi Kasus Sistem Bagi Hasil di Masjid Baitul Hamdi Nagari Tabek dalam Perspektif Ekonomi Islam) Diana Putri, Meli; Fahlefi, Rizal; Lutfi, Ahmad
Jurnal Ekonomi, Manajemen Pariwisata dan Perhotelan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ekonomi, Manajemen Pariwisata dan Perhotelan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jempper.v5i1.5973

Abstract

This study aims to analyze the practice of street-based philanthropy carried out by the community of Baitul Hamdi Mosque in Nagari Tabek, Pariangan District, Tanah Datar Regency, from the perspective of Islamic economics and Minangkabau customary values. The research employs a qualitative approach with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings reveal that the fundraising activities conducted on public roads are voluntary and transparent, based on mutual agreement between mosque administrators and community members. The revenue-sharing schemes of 60:40 and 50:50 reflect principles of fairness and mutual consent, in line with Islamic muamalah values. Theologically, this practice embodies the spirit of ta‘awun (mutual assistance), ihsan (beneficence), and amanah (trustworthiness). Socioeconomically, it functions as a grassroots mechanism for community empowerment. Minangkabau cultural values such as bulek kato dek mufakat (consensus-based decision-making) and barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang (shared responsibility) further strengthen collective solidarity and accountability in managing communal funds. Thus, the street-philanthropy model practiced at Baitul Hamdi Mosque represents a community-based Islamic socio-economic system rooted in local wisdom, fully aligned with the principles of maqasid al-shariah in promoting justice, public welfare, and communal well-being.
Perilaku Palapau sebagai Tradisi Ekonomi Lokal: Kualitatif Berbasis Nilai-Nilai Ekonomi Islam di Minangkabau Saputra, Ega; Fahlefi, Rizal; Hidayati, Azifah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4362

Abstract

Penelitian ini mengkaji perilaku palapau masyarakat Minangkabau dalam perspektif ekonomi Islam, dengan menyoroti bagaimana nilai-nilai perdagangan tradisional mencerminkan prinsip syariah seperti keadilan (al-‘adl), kemaslahatan (maslahah), dan larangan praktik yang merugikan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui literatur review, dengan menganalisis literatur ekonomi Islam klasik dan kontemporer serta kajian budaya terkait praktik ekonomi masyarakat Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palapau, sebagai etika berdagang yang berakar pada hubungan kekerabatan, kepercayaan, dan tanggung jawab komunal, selaras dengan nilai-nilai dasar ekonomi Islam, terutama dalam membangun kejujuran, kerja sama, dan transaksi yang berkeadilan. Namun, sejumlah tantangan juga ditemukan, seperti pengaruh persaingan pasar modern, perubahan kepatuhan terhadap norma adat, belum adanya mekanisme formal yang menjaga konsistensi keadilan dalam praktik palapau, kompetisi dengan ritel modern, perubahan gaya hidup dan generasi, akses permodalan yang terbatas, manajemen usaha yang tradisional, serta adanya kendala dalam hal regulasi dan perizinan. Akan tetapi dari berbagai tantangan tersebut, palapau masih tetap berlanjut di Minagkabau. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku palapau memiliki potensi besar sebagai model budaya dalam penerapan nilai-nilai ekonomi Islam di tingkat komunitas. Penguatan potensi tersebut memerlukan peningkatan literasi ekonomi syariah, revitalisasi norma adat yang sejalan dengan syariah, serta integrasi praktik palapau ke dalam sistem ekonomi kontemporer guna mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan etis.
Rangkiang sebagai Instrumen Ketahanan Ekonomi Keluarga: Analisis dalam Perspektif Ekonomi Islam Bahreni, Fitri; Fahlefi, Rizal; Hidayati , Azifah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4800

Abstract

Ketahanan ekonomi keluarga merupakan elemen mendasar dalam menjaga stabilitas sosial dan pembangunan berkelanjutan, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Krisis seperti inflasi pangan, ketidakstabilan ekonomi, dan perubahan iklim menyoroti pentingnya mekanisme ekonomi berbasis masyarakat dan kearifan lokal dalam memperkuat ketahanan rumah tangga. Salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki makna strategis adalah rangkiang, lumbung padi tradisional masyarakat Minangkabau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran rangkiang sebagai instrumen ketahanan ekonomi keluarga dari perspektif ekonomi Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui penelitian perpustakaan, penelitian ini mengacu pada sumber-sumber primer termasuk Al-Qur'an dan Hadis, literatur ekonomi Islam kontemporer, dan karya ilmiah tentang kearifan lokal Minangkabau dan ketahanan ekonomi keluarga. Data dianalisis menggunakan analisis konten untuk mengidentifikasi nilai-nilai utama, prinsip, dan kerangka konseptual. Temuan ini menunjukkan bahwa rangkiang berfungsi tidak hanya sebagai fasilitas penyimpanan makanan tradisional tetapi juga sebagai sistem pengelolaan sumber daya berkelanjutan yang didasarkan pada kehati-hatian, perencanaan jangka panjang, dan solidaritas sosial. Dari perspektif ekonomi Islam, rangkiang sejalan dengan tujuan maqāṣid al-sharī'ah, khususnya perlindungan kehidupan (ḥifẓ al-nafs), kekayaan (ḥifẓ al-māl), dan keturunan (ḥifẓ al-nasl). Nilai-nilai etis ekonomi Islam—seperti kepercayaan (amanah), keseimbangan (tawāzun), keadilan ('adl), dan saling membantu (ta'āwun)—tertanam kuat dalam sistem rangkiang sebagai mekanisme pencegahan dan berkelanjutan untuk ketahanan ekonomi keluarga. Studi ini berkontribusi secara teoritis dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kerangka ekonomi Islam dan menawarkan implikasi praktis untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat melalui model ekonomi yang didasarkan
Analisis Manfaat Ekonomis Surau Dagang Bagi Saudagar Tradisional Minangkabau Dalam Perspektif Ekonomi Putri, Lara Aziza; Fahlefi, Rizal; Akmal, Reza; Zikri, Miftahul
Imara: Jurnal Riset Ekonomi Islam Vol. 9 No. 1 (2025): IMARA:JURNAL RISET EKONOMI ISLAM
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/imara.v9i1.14753

Abstract

Background. Surau dagang memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi saudagar tradisional Minangkabau. Selain berfungsi sebagai tempat persinggahan, surau dagang juga menjadi pusat pertukaran informasi, mediasi hubungan bisnis antar saudagar, serta wahana edukasi informal tentang strategi perdagangan. Peran multifungsi ini menjadikan surau dagang sebagai institusi sosial-budaya yang tidak hanya memperkuat kehidupan religius, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi lokal.Method. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Lokasi penelitian dipilih secara purposif di Surau Dagang Sungai Pua, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Informan penelitian terdiri dari pengelola surau dan tokoh adat setempat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan pendekatan analisis tematik, yang meliputi proses reduksi data, kategorisasi, dan penarikan kesimpulan secara induktif.Results. Penelitian ini menemukan bahwa surau dagang masih aktif berfungsi sebagai tempat singgah, terutama bagi saudagar yang berdagang ke Pasar Batusangkar dan wilayah sekitarnya. Surau ini tidak hanya menyediakan fasilitas tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk membangun jejaring dagang, berbagi informasi harga pasar, hingga membicarakan strategi distribusi barang antar daerah. Para saudagar menyebut keberadaan surau ini sebagai bagian penting dari "ekonomi silaturahmi" yang memperkuat kepercayaan dan loyalitas dalam jaringan perdagangan Minang.Conclusion. Temuan ini menunjukkan bahwa surau dagang berperan sebagai simpul terhadap teori ekonomi komunitas yang berbasis nilai-nilai budaya dan religius. Implikasi dari penelitian ini membuka peluang untuk mengembangkan kembali fungsi surau dagang sebagai model kelembagaan sosial dalam pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal. Penelitian lanjutan disarankan untuk menggali potensi replikasi model ini dalam konteks komunitas tradisional lain guna menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan.
PRAKTIK AKAD, BAGI HASIL, DAN RISIKO GHARAR DALAM TRADISI MAROSOK: SUATU STUDI KASUS PASAR TERNAK MINANGKABAU Darniati, Lili; Fahlefi, Rizal; Lutfi, Ahmad
JSE: Jurnal Sharia Economica Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/jse.v5i1.2897

Abstract

Marosok is a traditional bargaining practice using hand signals that characterizes livestock markets in Minangkabau. This study aims to analyze contract practices, profit-sharing mechanisms, and the potential risk of gharar within the marosok tradition through a case study approach, integrating interview data with findings from a Systematic Literature Review (SLR). The results reveal that marosok aligns with Islamic principles and local customary values (adat salingka nagari) as long as the process is followed by verbal confirmation and conducted with honesty. The role of the intermediary (joki) is permissible according to both adat and Islamic law through the concept of samsarah, yet it can generate gharar when information is manipulated or hidden margins are involved. The study concludes that marosok represents a form of ‘urf shahih custom validated by Islamic law provided that transparency, trustworthiness, and contractual clarity are upheld. The risk of gharar does not stem from the tradition itself but from individual deviations from ethical norms in adat and sharia.
UANG JAPUIK DALAM TRADISI PERNIKAHAN MASYARAKAT PARIAMAN: TELAAH FILOSOFIS, HISTORIS, SOSIAL, EKONOMI, DAN PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM Febri Yolanda, Dwi; Fahlefi, Rizal; Lutfi, Ahmad
JSE: Jurnal Sharia Economica Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/jse.v5i1.2901

Abstract

The tradition of uang japuik in the Pariaman community is often misunderstood as a form of “purchasing a groom” or as an economic burden imposed on women. In reality, this tradition carries profound philosophical meaning as a symbol of respect, honor, and social responsibility within the Minangkabau matrilineal system. This article seeks to correct these misconceptions through a descriptive qualitative approach that integrates field data, academic literature, official documentation from Indonesia’s Intangible Cultural Heritage (WBTB), and Islamic economic analysis. The findings reveal that uang japuik functions as both a social and spiritual mechanism that strengthens inter-clan relationships, regulates cultural economic redistribution, and maintains the balance of honor (marwah) between the male and female parties. From an Islamic perspective, this tradition qualifies as ‘urf shahih, as it is practiced based on mutual agreement, sincerity, and shared benefit. Thus, uang japuik is not a transactional economic practice, but rather a harmonious integration of custom and religious principles affirming the Minangkabau philosophy: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
From Tradition to Transformation: The Shift of the Mato System in Padang Restaurants from an Islamic Economic Perspective Jannah, Miftahul; Fahlefi, Rizal; Lutfi, Ahmad
ITQAN: Journal of Islamic Economics, Management, and Finance Vol. 5 No. 1 (2026): ITQAN: Journal of Islamic Economics, Management, and Finance
Publisher : Yayasan Mitra Peduli Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57053/itqan.v5i1.145

Abstract

This study examines the transformation of the traditional mato revenue-sharing system in Padang restaurants into a fixed-wage model within the framework of Islamic economics. Employing a qualitative intrinsic case study design, the research was conducted at a Padang restaurant in West Sumatra that has implemented a wage-based system since its establishment in 2011, despite the owner’s cultural familiarity with mato as a Minangkabau heritage practice. Data were collected through in-depth interviews with the business owner and were analysed thematically using the Miles and Huberman method. The findings indicate that abandoning the mato system does not reflect a rejection of Islamic economic principles, but rather an adaptation to microeconomic dynamics, income instability, and operational efficiency. Islamic ethical values such as ‘adl (justice), amānah (responsibility), riḍā (mutual consent), and ta‘āwun (cooperation) continue to shape wage management and employer–employee relationships. The shift from kinship-based labour to a formal professional structure has generated notable sociocultural implications. Familial values that traditionally functioned as moral safeguards have been reconstructed through transparent administration and structured supervision, without diminishing the spirit of ukhuwah and the ethical foundations of Islamic law. The study concludes that the implementation of Islamic economics should not be judged solely by the structural format of labor systems, but by the internalization of Islamic moral values in business practices. In this regard, Padang Restaurant X represents a model of “Islamic moral economy” rooted in Minangkabau local wisdom.