Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Menguatkan Upaya Promotif-Preventif Tuberkulosis melalui Edukasi dan Skrining Terpadu Florence Pribadi; Desak Nyoman Surya Suameitria Dewi; Antonius Edwin Sutikno; Erik Jaya Gunawan; Natalia Yuwono; Lidya Handayani
Jurnal Leverage, Engagement, Empowerment of Community (LeECOM) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Leverage, Engagement, Empowerment of Community (LeECOM)
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/leecom.v8i1.5921

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang menyebabkan angka kematian tinggi. Tuberkulosis banyak ditemukan di negara berkembang seperti Indonesia dengan lebih dari 800.000 kasus. Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten dengan kasus tuberkulosis yang tinggi dan wilayah dengan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan. Rendahnya pengetahuan mengenai penyebab, pencegahan, dan penularan, serta stigma negatif masyarakat terhadap tuberkulosis menjadi faktor peningkatan kasus. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dalam rangka pencegahan dan penemuan kasus baru sebagai salah satu upaya dalam pengendalian tuberkulosis di Sumenep. Metode pelaksanaan pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan Puskesmas Pamolokan dan Pandian dalam proses identifikasi masalah, perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Pengabdian masyarakat ini terdiri atas beberapa kegiatan, antara lain edukasi, skrining tuberkulosis dengan pemeriksaan rontgen toraks, pemeriksaan kesehatan dasar, dan konsultasi kesehatan. Terdapat 96% masyarakat dari keseluruhan yang hadir mengikuti kegiatan edukasi telah mengetahui dan memahami materi tuberkulosis dengan baik. Ditemukan satu orang dengan hasil pemeriksaan rontgen toraks abnormal yang diindikasikan positif tuberkulosis. Masyarakat mendapatkan layanan pemeriksaan, konsultasi, dan pengobatan gratis yang telah disediakan.
Prevalensi Kolonisasi Asimptomatik Staphylococcus aureus, Pola Resistensi Antibiotik dan Perilaku Higiene Petugas Medis Audy Tjandrawan; Lidya Handayani Tjan; Desak Nyoman Surya Suameitria Dewi; Yohanes Ary Prayoga; Natalia Yuwono; Achmad Thoriq Romadhon
Prominentia Medical Journal Vol 7 No 1 (2026): Prominentia Medical Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/pmj.v7i1.6326

Abstract

Staphylococcus aureus is an opportunistic pathogen that can colonize human skin and mucosa without causing symptoms, particularly among healthcare workers who are at risk of becoming asymptomatic carriers and contributing to nosocomial infections. This study aimed to determine the prevalence of S. aureus colonization and its antibiotic resistance patterns among healthcare workers. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted among healthcare workers in the ICU and Central Operating Theatre of RS Kristen Mojowarno using questionnaires and swab samples from the nasal, oropharyngeal, and axillary sites. Univariate analysis and Fisher’s Exact Test were applied for data analysis. Of 25 participants, 4 healthcare workers (16%) were colonized with S. aureus, with the nasal site being the most common (12%). Antibiotic susceptibility testing showed the highest resistance to penicillin (60%), while all isolates were 100% sensitive to erythromycin and cefoxitin. No significant association was found between handwashing frequency or nose-touching habits and S. aureus colonization (p = 1.000). This study concludes that there is no significant relationship between hand hygiene practices or nose-touching habits and S. aureus colonization among healthcare workers.
Effectiveness of Microteaching in Improving Basic Life Support Knowledge at SMK Pawiyatan Surabaya Lyndia Effendy; Natalia Yuwono; Maria Jessica Rachman; Arief Gunawan Darmanto
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/wjpmzh04

Abstract

Background: Basic Life Support (BLS) skills are vital competencies that are often under-trained among adolescents due to time constraints in education. As an active demographic group, teenagers are vulnerable to emergency situations, making efficient and effective training essential. Objective: To measure the effectiveness of a 10-15 minutes BLS microteaching intervention combined with hands-on practice in improving the knowledge and skills of vocational high school (SMK) students at SMK Pawiyatan Surabaya. Methods: This study used a pretest-posttest design. The intervention was conducted from February 2024 at SMK Pawiyatan Surabaya, involving 147 tenth-grade students from various majors. The session included a 10-15 minutes microteaching module, live demonstrations, and hands-on practice using QCPR manikins. Student knowledge was assessed through questionnaires before and after the intervention. Results: The average knowledge score increased from 58% (pretest) to 85% (posttest), showing a 27% improvement. 78% of participants achieved technical competency in chest compressions according to AHA standards. Conclusion: A 10-15 minutes BLS microteaching session proved effective in enhancing vocational students' knowledge and skills. This approach is recommended for integration into school curricula as an efficient emergency health education strategy.
Inisiasi Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia (Gerakan Anak Muda Lindungi reproduksi Indonesia): Gerakan Anak Muda Lindungi Reproduksi Indonesia Salmon Charles Siahaan; Natalia Yuwono; Rahajoe Imam Santosa; Etha Rambung; Ferdinand Aprianto Tannus; Catarina Lilian Christine
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan WHO 2020, permasalahan remaja seperti menstruasi masih dianggap tabu, sehingga remaja menjadi takut dan tertutup saat menstruasi. Selain itu masalah tersebut juga terjadi pada perilaku seks remaja yang mengarah ke tindakan aborsi, akibat kurangnya edukasi seks, karena seks dianggap juga sebagai hal yang tabu. Dilakukan kegiatan webinar nasional “GAUL RI” yang membahas masalah Kesehatan remaja, untuk mencegah ketidakseimbangan peningkatan jumlah penduduk dengan kualitas hidup remaja yang berdampak pada masalah kesehatan, sosial, dan hukum. Kegiatan yang dilakukan mengangkat tema “Masa Muda” melalui media Zoom dan Live Youtube. Peserta kegiatan sebanyak 220 di Zoom, dan 208 views pada Live Youtube. Penyampaian materi oleh pembicara dan dilengkapi oleh panelis. Dilakukan sesi tanya jawab dan diskusi untuk membahas materi dan solusi permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan awareness dan pengetahuan peserta yaitu remaja dan masyarakat umum terhadap kesehatan reproduksi. Kegiatan ini mengharapkan gerakan perubahan, sehingga terbentuk individu sehat dan sejahtera, sebagai upaya mencegah dampak negatif dalam pertumbuhan anak ke remaja hingga dewasa. Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Pubertas, Remaja
STATUS GIZI DAN LITERASI NUTRISI ORANG TUA SEBAGAI PREDIKTOR KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN PADA ANAK DI DAERAH PEDESAAN Maria Natalia Indawati; Areta Idarto; Lydia; Natalia Yuwono; Nathania Dwi Kencanawati
Berajah Journal Vol. 6 No. 3 (2026): Berajah Journal
Publisher : CV. Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/bj.v6i3.547

Abstract

Low parental nutrition literacy is a major risk factor contributing to growth disorders in children within rural areas. This study aims to evaluate the effectiveness of nutritional education and growth stimulation interventions in improving parental knowledge in Sajen Village, Mojokerto. The research method employed was a quantitative study with a pre-test and post-test design involving 50 participants. The intervention was conducted through structured counseling supported by educational media, including booklets and flashcards. Analysis results showed a significant increase in the mean knowledge score, where the pre-test score of 15.62 ± 3.25 rose to 19.12 ± 2.77 in the post-test. The mean score difference was 3.5 points, representing a 22.4% increase compared to the baseline. Distributively, 78% of participants experienced an increase in scores, with the highest improvement reaching 13 points. This study concludes that community-based nutritional education interventions are effective in significantly enhancing parental knowledge. These findings support the necessity of implementing similar sustainable educational programs as a preventive measure to improve children's health quality in rural communities.
Setetes Darah, Sejuta Harapan: Edukasi Donor Darah melalui Kolaborasi Lintas Institusi Desak Nyoman Surya Suameitria Dewi; Arief Gunawan Darmanto; Maria Jessica Rachman; Natalia Yuwono; Patricia Priscilla
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan aplikasi Teknologi Vol 05 No 02: Oktober 2026 (in progress)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.adipati.2026.v5i2.8793

Abstract

Donor darah merupakan kegiatan kemanusiaan yang berperan penting dalam menjaga ketersediaan stok darah, namun partisipasi masyarakat dirasa kurang maksimal dikarenakan masih dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, kecemasan akan efek dari donor darah, persepsi yang kurang tepat, dan kepercayaan diri calon pendonor. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai manfaat donor darah, keamanan prosedur, dampak sosial dari kegiatan donor darah serta kesiapan calon pendonor melalui intervensi edukasi berbasis audiovisual yang dikombinasikan dengan pelaksanaan donor darah kolaboratif. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pengerjaan pre-test dan post-test untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan peserta. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah intervensi diberikan (p = 0.0001) dengan sebagian besar responden mendapatkan skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan pre-test. Di samping itu, pendonor juga menunjukkan tingkat kepuasan yang baik serta keinginan untuk menjadi pendonor ulang di masa mendatang. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis audiovisual efektif dalam meningkatkan pemahaman pendonor dan berpotensi menjadi strategi dalam peningkatan partisipasi donor darah di masyarakat. Namun, penelitian lanjutan masih sangat diperlukan untuk membandingkan efektivitas metode audiovisual dengan metode edukasi lainnya secara langsung.
The Relationship Between Hospital Image and Patient Satisfaction at Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya Syalwa Khana Al Fahira; Minarni Wartiningsih; Jemima Lewi Santoso; Natalia Yuwono
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 1 (2025): JIKM Vol. 17, Issue 1, February 2025
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v17i1.748

Abstract

Abstract Background: A hospital with a good reputation will influence the thoughts and behavior of the public or patients toward it. In addition to providing a competitive advantage for the hospital, a good reputation can increase patient satisfaction, service quality, competitiveness, morale, patient loyalty, and willingness to return. The purpose of this study was to analyze the relationship between hospital image and patient satisfaction level of Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya. Method: This study used an observational quantitative methodology with the application of analytical observation. Cross-sectional design with a sample of 99 outpatients at Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya selected by simple random sampling in August to October 2024. The dependent variable was related to outpatients' satisfaction at Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya. The independent variable was associated with the hospital's image towards outpatients at Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya. Univariate and bivariate analysis using Spearman correlation. Results: The results of bivariate analysis with the Spearman correlation test show that hospital image variables have a significant relationship with patient satisfaction (p = 0.000, p < 0.050), hospital personality variables have a significant relationship with patient satisfaction (p = 0.000, p < 0.368), hospital association variables have a significant relationship with patient satisfaction (p = 0.000, p < 0.431), hospital attitudes-behaviors variables have a significant relationship with patient satisfaction (p = 0.000, p < 0.492), benefits and advantages of hospital variables have a significant relationship with patient satisfaction (p = 0.000, p < 0.577). Conclusion: There is a significant relationship between hospital image variables and patient satisfaction at Wiyung Sejahtera Hospital Surabaya.
Intervensi Edukasi Kesehatan tentang Tuberkulosis Meningkatkan Pengetahuan Siswa SMK di Surabaya Arief Gunawan Darmanto; Lyndia Effendy; Natalia Yuwono; Maria Jessica Rachman
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 9 No 3 (2025): Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v9i3.25804

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan semakin banyak menyerang kelompok remaja, yang termasuk kelompok rentan dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tentang TB melalui edukasi interaktif berbasis sekolah. Intervensi dilaksanakan pada bulan Februari 2025 kepada 144 siswa kelas X dari empat jurusan di SMK Pawiyatan Surabaya dalam bentuk ceramah interaktif berbasis audio-visual. Desain evaluasi menggunakan one-group pretest-posttest. Hasil menunjukkan peningkatan rerata skor pengetahuan dari 68,70 (pre-test) menjadi 85,42 (post-test), atau meningkat sebesar 25.15%. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi TB yang terstruktur dan ramah remaja efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan dapat menjadi strategi preventif dalam promosi kesehatan remaja.
Gambaran Durasi dan Jumlah Penggunaan Gawai terhadap Kesehatan Mata Tenaga Kependidikan dan Tenaga Pengajar di Surabaya Barat Natalia Yuwono; Lidya Handayani; Desak Nyoman Surya Suameitria Dewi; Nathania Dwi Kencanawati; Victor Setiawan Tandean
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 9 No 3 (2025): Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v9i3.25896

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam 20 tahun terakhir menyebabkan transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Rata-rata waktu yang dihabiskan oleh individu untuk menggunakan internet melalui perangkat digital mencapai lebih dari 6 jam per hari, yang sebagian besar didominasi oleh aktivitas menatap layar (screen time). Dalam program ini juga bertujuan untuk mengedukasi bagaimana cara meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan mata dan perawatan kesehatan mata secara umum di kalangan sivitas akademika, dengan melakukan skrining dan pemeriksaan mata pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencegah dan mendeteksi secara dini adanya gangguan pada mata. Cakupan peserta meliputi tenaga kependidikan dan tenaga pengajar di area Surabaya Barat, kegiatan dilaksanakan di Universitas Ciputra pada bulan Mei 2024. Metode pelaksanaan diawali dengan pemeriksaan umum, pemeriksaan mata dengan alat Auto Refracto Keratometer (ARK), dan Snellen Chart yang di diagnosis langsung oleh Dokter Spesialis Mata. Hasil dari pemeriksaan diolah dengan metode kuantitatif uji deskriptif berupa tabulasi data dengan membandingkan jumlah gawai dengan durasi penggunaan. Hasil dari pengabdian masyarakat, peserta yang memiliki gangguan mata terbanyak adalah penggunaan multidevice dan durasi lebih dari 2 jam, oleh karena itu perlu dilakukan melakukan skrining mata secara rutin, dan melakukan pembatasan jumlah perangkat digital yang digunakan secara bersamaan, dan menerapkan pencegahan kerusakan pada mata.