Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

The Potential of White Tea (Camellia sinensis) and Kelor (Moringa oleifera) in Improving Lipid Profile and Histopathological Features of Pancreas in Streptozotocin-Induced Rats Martini, Rina; Rahma, Amalia; Kusharto, Clara Meliyanti; Riyadi, Hadi; Sumantri, Cece; Rohdiana, Dadan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.248 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2019.14.1.23-30

Abstract

This study aimed to examine the potential of white tea and kelor in improving lipid profile and histopathological features of the pancreas in streptozotocin-induced Sprague-Dawley rats. The research design was an experimental study with post-test control group design. Catechin content were analysed using High-Performance Liquid Chromatography. Twenty Sprague-Dawley rats (out of 24 rats, 12-week old, 200-300 g) were induced with intraperitoneal injection of streptozotocin at a dose of 40 mg/kg BW. Four groups of rats received one of the green tea (GT), white tea (WT), kelor (K), or the mixture of white tea and kelor (WTK) with a dose of epigallocatechin-3-gallate (EGCG) at 100 mg/kg BW administered orally for 21 days. Measurements of the lipid profile and preparation of histopathological features of the pancreas were performed after the intervention was completed. The results showed that white tea had the highest concentrations of catechin (39.17%), gallic acid (1.09%), EGCG (4.46%), and epicatechin (9.61%) compared to the other tea groups. The TG levels of the WTK group (95±19.35 mg/dl) were significantly different (p<0.05) from the WT and K groups but not significantly different from the normal (105.8±23.89 mg/dl), DM and GT groups. Meanwhile, the HDL levels did not show significant differences in each intervention group (p>0.05). The mean diameter of the islets of Langerhans in the DM group (9.16± 2.56 μm) was significantly different (p<0.05) from the WT (20±8.94 μm), K (17.16±5.26 μm), WTK (18.66±4.17 μm), and N (21.07±8.49 μm) groups but not significantly different from the GT group (14.33±5.24 μm). The histopathological features of the pancreas showed an increase in the diameter of the islets of Langerhans in WT, K, and WTK groups. This study revealed that the mixture of white tea and kelor had the potential to ameliorate triglyceride levels and histopathological features of the pancreas in streptozotocin-induced Sprague-Dawley rat.
Uji Hedonik Kualitas Minuman Teh Fungsional dari Proporsi Daun Mint dan Daun Melinjo serta Lemon Kering Rosydah, Dina; Prayitno, Sutrisno Adi; Rahma, Amalia
Journal of Food Safety and Processing Technology (JFSPT) Vol. 1 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jfspt.v1i2.7449

Abstract

Minuman teh sebagai bahan penyegar akan memberikan dampak yang positif bagi tubuh karena memiliki potensi senyawa untuk kesehatan. Pengembangan produk teh yang bernilai untuk kesehatan haruslah terus dikembangkan. Penggunaan bahan alam yang aman dan berkualitas akan menjawab tantangan tersebut dalam membuat produk teh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas melinjo [Gnetum gnemon L.] dan daun mint sebagai minuman fungsional dengan penambahan lemon kering dalam kualitas sensori. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen untuk mendapatkan data dan menggunakan uji Kruskal Wallis sebagai uji analisis datanya. Sampel percobaan yang diuji ada tiga macam, T0 (40% daun melinjo: 40% daun mint: 20% lemon) T1 (50% daun melinjo: 30% daun mint: 20% lemon) T2: ( 30% daun melinjo: 50% daun mint: 20% lemon). Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi uji sensorik yang terdiri dari rasa, aroma, warna dan kejernihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah daun mint dan semakin sedikit jumlah daun melinjo dapat meningkatkan tingkat minat panelis terhadap nilai aroma, warna dan kejernihan. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah daun mint menyebabkan menurunnya minat panelis terhadap rasa teh sebagai minuman fungsional. Berdasarkan analisis Kruskall Wallis terhadap penilaian panelis terhadap daun melinjo dan daun mint sebagai minuman fungsional dengan penambahan lemon kering tidak memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap rasa, warna, aroma dan kejernihan. Formulasi terbaik sebagai pengobatan yang dihasilkan dari penelitian ini berdasarkan parameter sensorik adalah minum fungsional dengan perlakuan T2 (30% daun melinjo: 50% daun mint: 20% lemon kering.
Kualitas Sensorik Dan Kimia Minuman Fungsional Berbasis Daun Melinjo Dengan Penambahan Daun Mint Dan Lemon Rosyidah, Dina; Prayitno, Sutrisno Adi; Rahma, Amalia
Journal of Food Safety and Processing Technology (JFSPT) Vol. 2 No. 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jfspt.v2i1.8374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas sensorik dan kimia (kadar air dan aktivitas antioksidan) pada tiga formulasi minuman fungsional berbasis daun melinjo dengan penambahan daun mint dan lemon. Pada penelitian ini menggunakan tiga formulasi dengan bahan daun melinjo, daun mint dan lemon yaitu, F1: 50 g: 30 g: 20 g. F2: 40 g:40 g:20 g. F3: 30 g:50 g:20 g yang akan diuji hedonik oleh 36 panelis dan diuji kimia (kadar air dan aktivitas antioksidan). Uji hedonik dianalisis menggunakan uji kruskall wallis dan diuji lanjut menggunakan uji man whitney. Uji kimia (kadar air dan aktivitas antioksidan) dianalisis secara metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa uji kualitas sensori pada F2 dan F3 tidak memiliki perbedaan dari warna, aroma dan kejernihan dibanding dengan F1. Pada hasil aroma dan kejernihan didapatkan sig <0,05 sehingga perlu adanya uji coba lanjutan dengan menggunakan uji man whitney. Pada hasil uji kadar air, F2 (7,71%) dan F3(7,56%) memiliki kadar air yang sesuai SNI yaitu 8% dari pada F1(8,34%) dan pada hasil uji aktivitas antioksidan, pada F1(37.4 ppm) dan F2(45,34 ppm) memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dibanding F3(59,3 ppm). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa formulasi yang paling baik untuk dijadikan minuman herbal adalah F2 (40:40:20).
Pemilihan makanan sehat dan hubungannya dengan status gizi remaja karang taruna Desa Manyarejo berdasar besar uang saku Hamiyah, Salsabila; Rahma, Amalia; Supriatiningrum, Dwi Novri
Journal of Food Safety and Processing Technology (JFSPT) Vol. 2 No. 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jfspt.v2i1.8467

Abstract

Istilah uang saku merujuk pada uang yang diberikan pada pelajar dengan tujuan membeli sesuatu yang diinginkan atau kebutuhan harian. Pemberian uang saku dapat dilakukan dalam waktu harian, mingguan, maupun bulanan. Penelitian ini adalah menggunakan metode kuantitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif dengan desain penelitian cros-sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 57 responden dipilih menggunakan rumus Lameshow pengumpulan data menggunakan lembar kuisioner. Adapun rata – rata uang saku yang diberikan orang tua setiap hari nya berkisar Rp. 22.018 dari 57 responden. pemilihan makanan gol. Karbohidrat tertinggi nasi putih gol. Ptotein tertinggi daging ayam gol. Serat tertinggi pisang gol. Lemak tertinggi gorengan gol. Sayuran tertinggi wortel. sebagian responden memiliki status gizi baik / normal 48 Responden (84,2%), gizi kurang 5 Responden (8,8%), dan Gizi Lebih 4 Responden (7,0%). Terdapat korelasi secara signifikan antara status gizi dengan uang saku, tidak adanya hubungan pemanfaatan uang saku dan status gizi, serta adanya hubungan yang signifikan antara jumlah uang saku dan pemanfaatan nya.
ANALISIS KADAR KUERSETIN DAN MUTU SENSORI PADA FORMULASI MINUMAN SEDUHAN BERBAHAN DASAR DAUN KELOR DAN BUAH BELIMBING WULUH Aisyah, Putri Nur; Rahma, Amalia; Prayitno, Sutrisno Adi
Journal of Food Safety and Processing Technology (JFSPT) Vol. 2 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jfspt.v2i2.9402

Abstract

ABSTRAK Radikal bebas dapat dinetralisir oleh antioksidan seperti kuersetin, yang terkandung dalam kelor dan belimbing wuluh. Penelitian ini bertujuan mengembangkan minuman herbal dari keduanya untuk meningkatkan penerimaan masyarakat dan mempertahankan kuersetin sebagai antioksidan alami. Metode yang digunakan adalah teknik infusa dengan lima formulasi, F163 (100% daun kelor), F927 (100% buah belimbing wuluh), F385 (75% daun kelor + 25% belimbing wuluh), F749 (25% daun kelor + 75% belimbing wuluh), dan F501 (50% daun kelor + 50% belimbing wuluh). Kadar kuersetin dianalisis dengan HPLC, dan penerimaan masyarakat diuji melalui uji organoleptik menggunakan metode Kruskal Wallis. Hasil kadar kuersetin bervariasi menunjukkan antara 0,011 – 0,902 ppm. Untuk uji organoleptik menunjukkan warna tidak berpengaruh signifikan, sedangkan aroma dan rasa berpengaruh signifikan, sehingga dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Perlakuan terbaik ditemukan pada formulasi F495, yang menggabungkan 25% daun kelor dan 75% buah belimbing wuluh, dengan kadar kuersetin tertinggi yaitu 0,902 ppm dan penilaian rasa tertinggi dengan nilai hedonik rata-rata 2,60, yang masih tergolong kurang disukai. Dapat dilakukan ekstraksi cair (infusa) dengan penguapan menggunakan rotary vakum evaporator, serta penambahan aroma dan rasa lain pada minuman daun kelor dan belimbing wuluh, sambil tetap mempertahankan kadar kuersetin dan melakukan analisis ulang kadar kuersetin.
Pengaruh Suhu Penyeduhan Minuman Herbal Kombinasi Daun Kelor Dengan Buah Belimbing Wuluh Terhadap Kadar Total Fenol Safrila, Vidya Rahmatil; Rahma, Amalia; Prayitno, Sutrisno Adi
Journal of Food Safety and Processing Technology (JFSPT) Vol. 2 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jfspt.v2i2.9434

Abstract

Senyawa fenolik sebagai senyawa biologik aktif sangat penting bagi manusia. Senyawa ini berperan sebagai aktivitas antioksidan yang membantu melawan penyakit akibat radikal bebas, mencegah penumpukan lemak, mengatasi obesitas serta penyakit degeneratif yang lain. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh suhu penyeduhan dan variasi formulasi minuman herbal daun kelor dan buah belimbing wuluh terhadap kadar total fenol. Penelitian ini menggunakan design Acak Faktorial, data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA dan dilakukan uji lanjut Duncan apabila terdapat perbedaan dengan software SPSS. Berdasarkan hasil uji, pengaruh suhu penyeduhan padda setiap variasi formulasi memberikan hasil berbeda signifikan dengan Pvalue < 0,05. Akan tetapi pada rasio 25:75 menunjukkan hasil yang tidak berbeda signifikan dengan Pvalue>0,05. Begitu juga dengan pengaruh variasi formulasi pada setiap suhu penyeduhan yang juga menunjukkan hasil yang berbeda signifikan, akan tetapi pada suhu penyeduhan 700C mununjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Kadar fenol tertinggi terdapat pada formulasi (F190) 100% daun kelor (18,655 mg GAE/100g) dan kadar total fenol paling rendah terdapat pada formulasi (F570) 100% buah belimbing wuluh (6,265 mg GAE/100g). Untuk mengurangi rasa dan aroma langu dari daun kelor, dapat ditambahkan buah belimbing wuluh dengan kombinasi 25% dari berat total (0,5 gr/2 gr) dan diseduh dengan suhu 900C. Kesimpulannya, Terdapat pengaruh antara perbedaan suhu penyeduhan dan perbedaan variasi formulasi terhadap kadar total fenol.