Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

The Influence of Ship Engine Noise Levels on Work Stress Levels of Ship Technicians Nawawi, Cholis Imam; Widodo, Agus; Dewi, Astri Kustina; Amala, Riza Nur
ARRUS Journal of Engineering and Technology Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : PT ARRUS Intelektual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/jetech2724

Abstract

Unnoticed high-intensity noise causes serious impacts on people ABK. Measuring noise levels in engine rooms on ships. Provide a solution how reduce noise and impact noise. The research aims to determine the level noise in the engine room. Excessive noise can cause an impact on employee health. Formulation of the problem in. This research is the relationship between noise intensity and stress levels worked as a ship technician The research was carried out using a sound level meter, measurement tool carried out in the engine room and measurements work stress level
The Role of ODM (Oil Discharge Monitoring) in Preventing Oil Pollution Referring to MARPOL Rules 73/78 Annex I Akhmad Ndori; Astri Kustina Dewi; Riza Nur Amala; Sarlita Inka Saputri Yuliani
International Journal of Industrial Innovation and Mechanical Engineering Vol. 2 No. 3 (2025): August: International Journal of Industrial Innovation and Mechanical Engineeri
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/ijiime.v2i3.364

Abstract

An oil spill at sea is the release of oil, either directly or indirectly, into the marine environment originating from shipping activities, oil and gas business activities, or other activities. In order to handle and prevent pollution due to oil spills, the IMO (International Maritime Organization) has made regulations that must be implemented in the world of international shipping. MARPOL Regulation 73/78 Annex 1 is a regulation issued to overcome this. In implementing this regulation, ships are required to have equipment in the form of an Oil Discharger Monitor (ODM). This tool functions as a monitor of activities in the process of disposing of waste into the sea by ships. So in this study the researcher wants to discuss the role of ODM (oil discharger monitor) in preventing marine pollution in accordance with MARPOL 73/28 Annex I standards.
Kedisiplinan pengurusan sijil buku pelaut dalam implementasi peraturan MLC 2006 tentang hak cuti tahunan di KBRI Singapura Cholis Imam Nawawi; Pramudyasari Nur Bintari; Astri Kustina Dewi; Unique Marta Diva Lovenia
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.116

Abstract

Sebagai negara anggota International Labour Organization (ILO), Indonesia dan Singapura menerapkan standar ketenagakerjaan yang sejalan, termasuk ketentuan bagi pelaut sebagaimana diatur dalam Maritime Labour Convention (MLC) 2006. Penelitian ini bertujuan menelaah kedisiplinan pelaut Indonesia dalam pengurusan sijil di Atase Perhubungan Singapura. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan penekanan pada pemahaman kontekstual atas praktik pengurusan dokumen. Hasil menunjukkan bahwa kedisiplinan dipengaruhi oleh faktor internal (rasa tanggung jawab) dan faktor eksternal (dukungan serta norma lingkungan kerja). Implementasi prosedur pada dasarnya telah berjalan, namun belum optimal; masih dijumpai pelaut yang menunda pengurusan “sijil turun” lebih dari satu tahun, menandakan celah pemahaman terhadap ketentuan MLC 2006 mengenai hak repatriasi. Temuan ini mengimplikasikan perlunya sosialisasi terarah, penguatan pengawasan, serta penyederhanaan/penegakan prosedur agar kepatuhan meningkat dan hak-hak pelaut terpenuhi.   As member states of the International Labour Organization (ILO), Indonesia and Singapore apply broadly aligned labour standards, including provisions for seafarers under the Maritime Labour Convention (MLC) 2006. This study examines the discipline of Indonesian seafarers in processing the required certificates at the Indonesian Transport Attaché in Singapore. A qualitative descriptive approach is employed to capture contextual practices in document handling. Findings indicate that discipline is shaped by internal factors (sense of responsibility) and external factors (workplace environment and norms). While procedures are in place, implementation is not yet optimal; some seafarers delay processing the sign-off certificate (“sijil turun”) for more than one year, indicating limited understanding of MLC 2006 provisions on the right to repatriation. The results suggest the need for targeted outreach, stronger oversight, and simplified/enforced procedures to improve compliance and safeguard seafarers’ rights.
Analisis pengaruh angin dan arus terhadap olah gerak kapal pada saat melakukan sandar di pelabuhan Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Zikril Hakim
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.145

Abstract

Manuver sandar kapal merupakan salah satu fase paling kritis dalam operasi pelayaran karena dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, khususnya angin dan arus. Kondisi lingkungan yang tidak terkendali dapat memengaruhi olah gerak kapal dan meningkatkan risiko kecelakaan di pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angin dan arus terhadap olah gerak kapal saat melakukan manuver sandar di pelabuhan dengan studi kasus pada MV Sinar Bintan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung selama operasi sandar, wawancara dengan perwira kapal, serta studi dokumentasi. Data dianalisis dengan mengaitkan kondisi angin dan arus terhadap respons manuver kapal selama proses sandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angin dan arus memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas dan arah gerak kapal, terutama pada kecepatan rendah saat mendekati dermaga. Angin samping dan arus menyilang terbukti meningkatkan kesulitan pengendalian kapal dan membutuhkan koordinasi yang lebih baik antara nahkoda, perwira jaga, serta penggunaan bantuan tugboat. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam meningkatkan pemahaman tentang mitigasi risiko manuver sandar kapal di pelabuhan, khususnya dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Berthing maneuver is one of the most critical phases in ship operations, as it is strongly influenced by external environmental factors, particularly wind and current. Uncontrolled environmental conditions can affect ship maneuverability and increase the risk of accidents in port areas. This study aims to analyze the effects of wind and current on ship maneuverability during berthing operations, using MV Sinar Bintan as a case study. This research adopts a qualitative descriptive approach through a case study method. Data were collected through direct observation during berthing operations, interviews with ship officers, and documentation review. The analysis focuses on examining the relationship between wind and current conditions and the ship’s maneuvering response during the berthing process. The results indicate that wind and current significantly influence ship stability and directional control, particularly at low speeds when approaching the berth. Crosswinds and transverse currents were found to increase maneuvering difficulty and require enhanced coordination between the master, deck officers, and tugboat assistance. This study provides practical insights for improving risk mitigation strategies during ship berthing operations under challenging environmental conditions.
Evaluasi peran awak kapal dan sistem perawatan sekoci terhadap efektivitas latihan keadaan darurat (drill) di KMP Portlink III Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Zaki Rinaldy
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.147

Abstract

Keselamatan pelayaran menuntut kesiapan awak kapal serta keandalan peralatan keselamatan, khususnya sekoci sebagai sarana evakuasi utama dalam keadaan darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran awak kapal dan sistem perawatan sekoci terhadap efektivitas pelaksanaan latihan keadaan darurat (drill) di atas kapal KMP Portlink III. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara tidak terstruktur dengan awak kapal, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas drill belum optimal, yang ditandai oleh keterlambatan respons awak kapal terhadap alarm darurat, pemahaman tugas yang belum merata, serta lemahnya koordinasi saat proses evakuasi. Selain itu, sistem perawatan sekoci belum dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan standar keselamatan pelayaran, terlihat dari kondisi teknis sekoci dan peralatannya yang tidak sepenuhnya siap dioperasikan. Kondisi tersebut berdampak pada kegagalan pelaksanaan launching sekoci saat latihan. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas drill sangat dipengaruhi oleh kompetensi awak kapal dan penerapan sistem perawatan yang terencana dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan disiplin latihan, pembagian tugas yang jelas, serta penguatan sistem perawatan sekoci untuk mendukung kesiapsiagaan darurat di atas kapal. Maritime safety requires not only reliable safety equipment but also competent and well-prepared crew members, particularly regarding lifeboats as primary means of evacuation in emergency situations. This study aims to evaluate the role of crew members and the lifeboat maintenance system on the effectiveness of emergency drills conducted on board KMP Portlink III. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through direct observation, unstructured interviews with ship personnel, and documentation review. The findings indicate that the effectiveness of emergency drills has not been fully achieved, as reflected in delayed crew responses to emergency alarms, uneven understanding of assigned duties, and limited coordination during evacuation procedures. In addition, the lifeboat maintenance system has not been consistently implemented in accordance with maritime safety standards, as evidenced by technical deficiencies in lifeboat components and supporting equipment. These conditions contributed to the failure of lifeboat launching during drills. The study highlights that effective emergency drills are strongly influenced by crew competence and the implementation of a systematic and continuous maintenance system. Therefore, strengthening routine training, clarifying task allocation, and improving lifeboat maintenance practices are essential to enhance emergency preparedness on board.
Optimalisasi perawatan mesin jangkar berbasis praktik operasional untuk meningkatkan keandalan proses berlabuh pada Kapal MV. Trifosa Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Ryan Rezki Fahreza
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.152

Abstract

Mesin jangkar (anchor windlass) merupakan peralatan vital dalam mendukung keselamatan dan kelancaran proses berlabuh kapal. Kegagalan fungsi mesin jangkar dapat menimbulkan keterlambatan operasional dan meningkatkan risiko kecelakaan pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan perawatan mesin jangkar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keandalan operasional mesin jangkar pada kapal MV. Trifosa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung di atas kapal, wawancara dengan awak kapal, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan mesin jangkar belum dilaksanakan secara optimal, yang ditandai dengan kurangnya pelumasan berkala, keterbatasan suku cadang dan pelumas khusus, serta belum terstrukturnya sistem perawatan terencana. Selain itu, perbedaan tingkat kompetensi teknis awak kapal turut memengaruhi kualitas perawatan yang dilakukan. Kondisi tersebut menyebabkan perawatan bersifat reaktif dan berpotensi menurunkan keandalan mesin jangkar saat digunakan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan Planned Maintenance System (PMS) secara konsisten, peningkatan kompetensi awak kapal melalui pelatihan teknis berkelanjutan, serta penguatan koordinasi antara departemen dek dan mesin. Optimalisasi perawatan ini diharapkan mampu meningkatkan keandalan mesin jangkar, meminimalkan gangguan operasional, dan mendukung keselamatan pelayaran. The anchor windlass is a critical piece of ship machinery that plays a vital role in ensuring safe and efficient anchoring operations. Failure of this equipment may lead to operational delays and increased maritime safety risks. This study aims to evaluate the implementation of anchor windlass maintenance and to identify factors affecting its operational reliability on board MV. Trifosa. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through direct onboard observation, crew interviews, and documentation review. The findings indicate that anchor windlass maintenance has not been optimally implemented, as evidenced by insufficient routine lubrication, limited availability of spare parts and specialized lubricants, and the absence of a structured planned maintenance system. Variations in crew technical competence also contribute to inconsistent maintenance practices. These conditions result in reactive maintenance, which may reduce equipment reliability during anchoring operations. This study recommends the consistent implementation of a Planned Maintenance System (PMS), continuous technical training for crew members, and improved coordination between deck and engine departments. Such maintenance optimization is expected to enhance anchor windlass reliability, minimize operational disruptions, and improve overall maritime safety.
Bersih-bersih pantai dan penanaman pohon kopasus dalam rangka hari pelaut sedunia Soleh Uddin; Moejiono; Dapid Rikardo; Nursyamsu; Amirullah; Cholis Imam Nawawi; Hendi Prasetyo; Astri Kustina Dewi; Vidiana Anggeranika; Jusva Agus Muslim; Nurfadhlina
Journal Marine Services Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v1i1.240

Abstract

Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik di laut terbesar di dunia. Kondisi ini berdampak buruk pada keindahan pantai dan ekosistem mangrove di wilayah pesisir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan taruna-taruni Kementerian Perhubungan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir serta teknik pelestariannya melalui penanaman pohon. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi penyuluhan materi keilmuan, diskusi tanya jawab, serta praktik langsung pembersihan sampah plastik dan penanaman pohon kopasus. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Juni 2023 di Pesisir Laut Dermaga Prestasi Politeknik Pelayaran Banten dengan melibatkan 200 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kolektif peserta terhadap kebersihan lingkungan dan kelestarian ekosistem laut, yang menjadi langkah nyata dalam mewujudkan lingkungan maritim yang sehat dan berkelanjutan.   Indonesia ranks second globally in contributing plastic waste to the ocean. This condition negatively impacts the beauty of beaches and mangrove ecosystems in coastal areas. This community service activity aims to increase the awareness and knowledge of cadets from the Ministry of Transportation regarding the importance of maintaining coastal environmental cleanliness and preservation techniques through tree planting. The methods used include scientific counseling, Q&A discussions, and direct practice of plastic waste cleanup and Kopasus tree planting. The activity was held on June 20, 2023, at the coastal area of Dermaga Prestasi, Banten Merchant Marine Polytechnic, involving 200 participants. The results indicated an improvement in the participants' collective understanding of environmental cleanliness and marine ecosystem conservation, serving as a concrete step toward achieving a healthy and sustainable maritime environment.
Penyuluhan kebersihan terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan pada kawasan pesisir Kabupaten Tangerang Rahmat Santoso; Boedi Prihandono; Astri Kustina Dewi; Deny Adi Setyawan; Alvian Demaz Peramutya; Nurfadhlina; Ade Taopik Hidayatuloh; Rabbani Ischak; Weli Agus Setiawan
Journal Marine Services Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v2i1.251

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, dalam mengelola sampah secara berkelanjutan di kawasan pesisir. Kawasan pesisir sering kali menjadi tempat pembuangan sampah yang tidak terkelola, sehingga mengancam ekosistem laut dan kesehatan masyarakat. Masalah utama yang diidentifikasi meliputi rendahnya pemahaman mengenai dampak sampah plastik serta keterbatasan sarana pembuangan sampah yang memadai. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini mencakup penyuluhan teori mengenai klasifikasi sampah dan daur ulang, diskusi interaktif, serta implementasi praktis berupa pembagian 25 drum sampah dan aksi pembersihan pantai bersama warga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan warga mengenai pemilahan sampah organik dan non-organik serta terciptanya lingkungan pesisir yang lebih bersih. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa pesisir lainnya untuk mewujudkan lingkungan maritim yang asri dan berkelanjutan melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan komunitas lokal.   This community service activity aims to increase the awareness and active participation of the people in Kohod Village, Pakuhaji District, Tangerang Regency, in managing waste sustainably in coastal areas. Coastal regions often become unmanaged waste disposal sites, threatening marine ecosystems and public health. The main issues identified include low understanding of the impact of plastic waste and the limited availability of adequate waste disposal facilities. The methods used in this activity include theoretical counseling on waste classification and recycling, interactive discussions, and practical implementation through the distribution of 25 trash drums and a joint beach cleanup with residents. The results show a significant increase in residents' knowledge regarding organic and non-organic waste sorting and the creation of a cleaner coastal environment. This success is expected to serve as a model for other coastal villages to achieve a beautiful and sustainable maritime environment through collaboration between academics, village governments, and local communities.