Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Kasus: Implementasi Edukasi dan Penggunaan Vaginal Hygiene Kits Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku Penanganan Keputihan pada Remaja Yunistyaningrum, Vina; Hapsari, Elsi Dwi; Parmawati, Ika
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i1.584

Abstract

Rendahnya pengetahuan dan kesadaran remaja dalam melakukan praktik kebersihan organ reproduksi dapat berisiko pada keparahan keputihan. Keputihan merupakan salah satu tanda adanya infeksi pada organ genitalia dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Tujuan Penelitian: Laporan studi kasus ini bertujuan untuk melaporkan pengaruh edukasi dan penggunaan vaginal hygiene kits terhadap pengetahuan dan praktik kebersihan organ reproduksi remaja wanita dalam menangani keputihan. Metode: Jumlah kasus yang dikelola pada studi ini sebanyak 1 kasus. Studi kasus diangkat dari masalah keputihan remaja perempuan yang mengarah pada ciri-ciri keputihan patologis dan tidak ditangani dengan baik. Keputihan terjadi hampir setiap hari selama 2 tahun terakhir, dengan karakteristik putih susu keruh, jumlah banyak, dan menimbulkan bau tidak sedap serta gatal di area vagina. Intervensi pertama yang diberikan berupa edukasi kebersihan organ reproduksi selama 1 jam dengan media animasi audiovisual. Intervensi kedua ialah praktik kebersihan genitalia dengan menggunakan vaginal hygiene kits yang dipantau perkembangannya dalam waktu 4 minggu. Pengetahuan dan praktik vaginal hygiene dievaluasi menggunakan kuesioner dan checklist. Hasil: Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan sebanyak 22% (pre = 65%, post = 87%) dan skor perilaku sebanyak 42,86% (pre = 42,85%. post = 85,71%). Kesimpulan: Penanganan masalah keputihan pada remaja lebih efektif apabila terdapat kombinasi edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan vaginal hygiene kits sebagai upaya peningkatan praktik kebersihan genitalia. Pada praktik klinisnya, pengkajian kebersihan genitalia perlu dilakukan secara komprehensif. Sehingga proses pencegahan dan penanganan keputihan dapat dilakukan secara maksimal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak kesehatan dari vaginal hygiene.Kata Kunci: keputihan, pengetahuan, perilaku, remaja, vaginal hygiene kits A Case Study: Implementation of Education and Use of Vaginal Hygiene Kits for Enhancing Knowledge and Management Practices of Vaginal Discharge Among Adolescents ABSTRACT Low knowledge and awareness among adolescents regarding reproductive hygiene practices can increase the severity of vaginal discharge. Vaginal discharge is often a sign of infection in the genital organs and can lead to various complications. Objective: This case study report aims to examine the impact of education and the use of vaginal hygiene kits on adolescent girls' knowledge and hygiene practices for managing vaginal discharge. Methods: This study involved a single case focusing on an adolescent girl with symptoms indicating pathological vaginal discharge that had not been properly managed. The discharge occurred almost daily over the past two years, characterized by a milky, cloudy appearance, strong odor, and itching in the vaginal area. The first intervention involved a 1-hour educational session on reproductive hygiene using audiovisual animation. The second intervention was a practical session on genital hygiene using vaginal hygiene kits, with progress monitored over four weeks. Knowledge and hygiene practices were evaluated using a questionnaire and checklist. Results: The intervention resulted in a 22% increase in knowledge scores (pre = 65%, post = 87%) and a 42.86% increase in behavior scores (pre = 42.85%, post = 85.71%). Conclusion: Addressing vaginal discharge in adolescents is more effective when combining educational sessions to improve knowledge with vaginal hygiene kits to enhance genital hygiene practices. In clinical practice, comprehensive assessment of genital hygiene is essential for effective prevention and management of vaginal discharge. Further research is recommended to evaluate the health impacts of vaginal hygiene practices.Keywords: Vaginal discharge, knowledge, behavior, adolescents, vaginal hygiene kits
PENERAPAN INTERVENSI PSIKOEDUKASI DAN KONSELING DALAM MENGHADAPI PUBERTAS PADA REMAJA AWAL: STUDI KASUS Sadewa, Deskantari Murti Ari; Hapsari, Elsi Dwi; Nisman, Wenny Artanty
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.583

Abstract

ABSTRAKPerubahan fisik, sosial, dan psikologis saat pubertas berisiko menyebabkan kecemasan pada remaja awal terutama apabila tidak diikuti dengan masukan pengetahuan yang cukup. Tujuan penelitian: studi kasus ini bertujuan untuk mengeksplorasi intervensi keperawatan mandiri yang sesuai untuk diterapkan pada remaja yang menghadapi pubertas. Keluhan utama pasien: Pendekatan studi kasus diterapkan untuk menangani masalah klien An. AR, 13 tahun, perempuan, dengan keluhan kecemasan ekstrem, kurang informasi, dismenorea, dan gatal pada saat menggunakan pembalut. Intervensi yang dilakukan berupa tiga kali psikoedukasi dan dua kali konseling yang dilaksanakan selama lima minggu dengan media edukasi yang beragam berupa handout materi, video edukasi, selebaran, poster, dan buklet. Kegiatan dilaksanakan secara daring dengan durasi 30–60 menit setiap sesi. Hasil: Pengukuran variabel pengetahuan dan kecemasan sebagai evaluasi diukur sebelum dan setelah intervensi dengan menggunakan instrumen pengetahuan (rata-rata pre = 48, rata-rata post = 88) dan instrumen kecemasan General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) (pre = 19 [ekstrem], post = 11[sedang]). Skor dismenorea diukur dengan menggunakan skala VAS (pre = 7 [berat], post = 4[sedang]). Kesimpulan: Berdasarkan hasil tindak lanjut intervensi keperawatan yang telah dilakukan pada klien, terdapat perkembangan yang baik sejalan dengan bukti ilmiah yang ada, yakni terjadi peningkatkan nilai skor pengetahuan, penurunan nilai skor kecemasan pada klien, penurunan skor dismenorea, dan penurunan keluhan gatal akibat penggunaan pembalut. Studi ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris perihal intervensi keperawatan yang dapat digunakan untuk memfasilitasi remaja dalam mengurangi kecemasan akibat pubertas dan meningkatkan pengetahuan terkait dengan kesehatan reproduksi. Kata Kunci: kecemasan, konseling, pengetahuan, psikoedukasi, pubertas Application of Psychoeducation and Counseling Interventions in Dealing with Puberty in Early Adolescents: A Case Study ABSTRACT               Physical, social and psychological changes during puberty could cause anxiety in early adolescents, especially if they are not equipped with sufficient knowledge input. Objective: This case study is needed to explore independent nursing interventions that are suitable for application to adolescents. Patient’s main complaint: A case study approach was carried out toward client's problem. AR, female, 13 years old, with complaints of extreme anxiety, lack of information, dysmenorrhoea, and itching when using sanitary napkins. The intervention carried out was three times psychoeducation and two times counseling which was carried out for five weeks using various educational media in the form of power points, educational videos, leaflets, posters and booklets. Activities are carried out online with a duration of 30–60 minutes per session. Results: Measurement of knowledge and anxiety variables as an evaluation was measured before and after the intervention using the knowledge instrument (average pre = 48, average post = 88) and the General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) anxiety instrument (pre = 19 [extreme], post = 11[medium]). Dysmenorrhoea score was measured using the VAS scale (pre = 7 [severe], post = 4 [moderate]). Conclusion: Based on the results of follow-up nursing interventions that have been carried out on client, it shows that there is good progress in line with existing scientific evidence, where there is an increase in knowledge scores, a decrease in anxiety scores in client, a decrease in dysmenorrhoea scores, and a decrease in complaints of itching due to the use of sanitary napkins. This study is expected to provide empirical evidence on nursing interventions that can be used to facilitate adolescents in reducing anxiety due to puberty and increasing knowledge related to reproductive health. Keywords: anxiety, counseling, knowledge, psychoeducation, puberty
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BAKSO IKAN SEBELAH (Psettodes erumei) KOMBINASI DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam): KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BAKSO IKAN SEBELAH (Psettodes erumei) KOMBINASI DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam) Witman, Steven; Devry, Devry Pramesti; Gultom, Nikodemus; Subangkit, Arsad Tirta; Kristanti, Dita; Setiaboma, Woro; Herminiati, Ainia; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Agroindustri Vol. 14 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : BPFP Faperta UNIB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jagroindustri.14.2.167-179

Abstract

Psettodes erumei yang dikenal di Indonesia sebagai ikan sebelah memiliki sumber protein yang tinggi, namun seratnya terbatas. Moringa oleifera Lam adalah tanaman yang kaya serat pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi potensi ikan sebelah dalam bakso dengan perlakuan dan tanpa perlakuan tambahan Moringa oleifera Lam serta korelasi fisikokimia dengan perlakuan bakso ikan. Perlakuan yang dilakukan yaitu bakso ikan tanpa tambahan daun kelor dan tambahan daun kelor kukus 10%. Hubungan korelasi antara parameter-parameter fisikokimia antar perlakuan bakso ikan dianalisa dengan menggunakan principal component analysis (PCA) dan hierarchical clustering analysis (HCA). Hasil penelitian menunjukkan ikan sebelah segar berbobot 737,32 ± 257,39 g dan memiliki kadar air 78,69 ± 0,13% bb, protein 83,95 ± 7,49 % bk, serta lemak 2,49 ± 0,13% bk. Kadar air bakso ikan (79,32 ± 0,24%) lebih tinggi dibandingkan bakso ikan daun kelor 10 % (78,72 ± 0,24%), meskipun kadar protein keduanya tidak berbeda nyata (tanpa daun kelor 54,96 ± 0,74% dan daun kelor 55,28 ± 1,62%). Lightness bakso ikan daun kelor 10% (43,42 ± 0,30) paling rendah dan cenderung kehijauan. Gumminess dan chewiness dari ikan sebelah turun setelah dibuat menjadi bakso ikan, dan bakso ikan daun kelor 10% memiliki nilai paling rendah (gumminess 1672,31 ± 21,72 dan chewiness 1427,67 ± 58,77). Panelis lebih menyukai bakso ikan tanpa tambahan daun kelor. PCA menunjukkan bahwa kadar air, abu, yellowness, dan kekenyalan berkorelasi positif dari dua perlakuan bakso, namun berkorelasi negatif dengan kadar protein. HCA mempresentasikan adanya korelasi positif antara perlakuan bakso pada tekstur, protein, dan lemak.
Building Community Resilience to COVID-19: An Interprofessional Collaborative Model Nursalam, Nursalam; Hapsari, Elsi Dwi; Setiawan, Setiawan; Priyantini, Diah; Pradipta, Rifky Octavia
Jurnal Ners Vol. 20 No. 1 (2025): VOLUME 20 ISSUE 1 FEBRUARY 2025
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jn.v20i1.57229

Abstract

Introduction: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a significant global health issue, requiring vigilance and adherence to health protocols to prevent transmission. This study aimed to develop an interprofessional collaborative model based on community sectoral coordination. Methods: A mixed-methods explanatory research design was employed, involving 934 respondents selected through convenience sampling. The research instrument was a modified version of a validated and reliable questionnaire covering interprofessional collaboration, community health nursing, alertness, compliance, and resilience. The data was analyzed using Partial Least Squares (PLS) to test the model's fit and predictive relevance. Results: The coefficient of determination (R²) was 0.772, indicating that 77.2% of the variance in interprofessional collaborative community sectoral coordination could be explained by individual, team, task, and work structure characteristics, as well as community leaders and cross-sectoral factors. The remaining 22.8% was attributed to other variables not included in this study. The Predictive Relevance (Q²) value was greater than 0, suggesting that the model was adequately predictive. Significance testing showed that the exogenous variables had a significant impact on endogenous variables with a total T-statistics value of 1.96 or P value <0.05. Conclusion: The developed interprofessional collaborative model based on community sectoral coordination significantly enhances community alertness, compliance, and resilience, contributing to the achievement of COVID-19 herd immunity.
Hubungan Pengetahuan Pola Asuh Berbasis Budaya dengan Efikasi Diri Ibu dalam Pencegahan Stunting pada Anak Usia 6-59 Bulan Kusumaningtyas, Khariza; Lusmilasari, Lely; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.104920

Abstract

Background: The first five years of life are critical for achieving optimal growth and development. The main risk factor for growth failure in children is stunting. One cause of stunting is parenting patterns, particularly that of mother, who is often the primary caregiver. Therefore, maternal self-efficacy is essential for positive parenting. Maternal self-efficacy in parenting begins with knowledge of stunting prevention.Objective: To determine the correlation between cultural-based parenting knowledge and maternal self-efficacy to prevent stunting among children aged 6-59 months.Method: This quantitative cross-sectional study involved 82 respondents, selected using consecutive sampling. Data were collected in November 2023 in Candibinangun Village, Sleman, Yogyakarta. Spearman’s rank correlation analysis was used for the analysis.Results: Fifty-seven percent of mothers had good knowledge and 50% had good self-efficacy, as indicated by scores equal to or greater than the median value for each variable. The p-value was 0,007 indicating a positive correlation between the two variables, with a correlation coefficient (r) of 0,298.Conclusion: There is a significant positive correlation between mothers’ knowledge of cultural-based parenting and self-efficacy in stunting prevention in children aged 6-5 months. Therefore, mothers are encouraged to continuously improve their knowledge and self-efficacy by seeking information related to stunting and practicing positive parenting to reduce the risk of stunting.INTISARILatar belakang: Lima tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi anak untuk dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Faktor risiko utama kegagalan tumbuh kembang anak disebabkan oleh stunting. Salah satu penyebab stunting adalah pola asuh yang diberikan, terutama oleh ibu yang kerap menjadi pengasuh utama. Oleh karena itu, efikasi diri ibu diperlukan untuk dapat memberikan pengasuhan yang positif. Efikasi diri ibu dalam memberikan pengasuhan dimulai dari proses kognitif terhadap pengetahuan dalam pencegahan stunting.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif cross-sectional yang melibatkan 82 responden dengan pemilihan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada November 2023 di Kalurahan Candibinangun, Sleman, Yogyakarta. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi Spearman’s Rank.Hasil: Sebanyak 57,3% ibu memiliki pengetahuan yang baik, serta 50% ibu memiliki efikasi diri baik ditandai dengan skor ≥ nilai tengah pada tiap variabel. Sementara itu, hasil nilai p-value adalah 0,007 yang menunjukkan dua variabel terdapat hubungan dengan arah positif dengan nilai r adalah 0,298. Simpulan: Terdapat hubungan positif signifikan antara pengetahuan pola asuh berbasis budaya dan efikasi diri ibu dalam pencegahan stunting pada anak usia 6-59 bulan. Oleh karena itu, ibu diharapkan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri sehingga dapat menurunkan risiko stunting dengan cara mencari tahu informasi terkait stunting serta mempraktikkan dalam pengasuhan positif. 
Merawat di Bawah Tekanan: Faktor Risiko Kejadian Burnout pada Perawat Maternitas dan Bidan: Scoping Review Puspitasari, Halfie Zaqiyah Gusti; Selwis Raistanti, Sihqina Ramadhani; Tsauroh, Salsabila Fiqrotu; Agustin, Agustin; Hutami, Nurfitria Anisa; Riyati, Riyati; Mokodompit, Hariansyah; Viegas, Bonifacio de Jesus; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.107591

Abstract

Background: Several factors such as high job demands, unsupportive health care environment, and low salary contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Untreated burnout can have a negative impact on the quality of care, the mental health of midwifery nurses and midwives, and therefore patient well-being.Objective: To identify risk factors for burnout among maternity nurses and midwives.Method: This study was a scoping review in accordance with Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews 2020. Articles were obtained from three electronic data sources, namely PubMed, ScienceDirect, and Wiley. Inclusion criteria included English-language article, published between 2020 and 2024, and original research articles on burnout among maternity nurses and midwives. Articles that did not meet the criterion, such as focusing on maternity nurses and midwives in education context, were excluded. Article selection followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) Guidelines 2020 and quality assessment used the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist 2020 and Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018.Results: A total of 32.803 articles were found in the search. After screening, eight articles that met the criteria were selected and analyzed further. Based on the analysis results, it was found that the identified risk factors causing burnout in maternity nurses and midwives included socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment.Conclusion: Socioeconomic status, work experience and duration, unpleasant experiences, job demands, and commitment contribute to burnout among maternity nurses and midwives. Therefore, further research is needed to develop burnout prevention strategies to improve the well-being of maternity nurses and midwives.INTISARILatar belakang: Tuntutan pekerjaan yang tinggi, lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang mendukung, hingga gaji yang rendah, menjadi beberapa faktor pemicu burnout pada perawat maternitas. Burnout yang tidak ditangani dapat berdampak negatif pada kualitas pelayanan, kesehatan mental perawat maternitas dan bidan, serta kesejahteraan pasien.Tujuan: Mengidentifikasi faktor risiko burnout pada perawat maternitas dan bidan.Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan cakupan sesuai dengan pedoman Updated Methodological Guidance for The Conduct of Scoping Reviews tahun 2020. Artikel diperoleh dari tiga sumber data elektronik, yaitu PubMed, ScienceDirect, dan Wiley. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2020–2024 dan merupakan artikel penelitian orisinal tentang burnout pada perawat maternitas. Artikel yang tidak memenuhi kriteria, yakni berfokus pada perawat atau bidan dalam konteks pendidikan, telah dikeluarkan. Seleksi artikel mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses for Scoping Review (PRISMA-ScR) tahun 2020 serta penilaian kualitas menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist tahun 2020 dan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) tahun 2018.Hasil: Sebanyak 32.803 artikel ditemukan dalam penelusuran. Setelah dilakukan skrining, didapatkan 8 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa faktor risiko yang teridentifikasi menyebabkan burnout pada perawat maternitas dan bidan di antaranya adalah status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen.Simpulan: Status sosial demografi, pengalaman dan waktu kerja, pengalaman tidak menyenangkan, tuntutan pekerjaan, dan komitmen, dapat berkontribusi menyebabkan burnout. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan strategi pencegahan burnout dalam rangka meningkatkan kesejahteraan kerja pada perawat maternitas dan bidan. 
Effect of using the SICARE Application on Knowledge about Chronic Energy Deficiency and the Dietary Patterns of Adolescent Girls Helieniastuti, Riris Chintya; Lismidiati, Wiwin; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 20 No 2 (2025): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2025.20.2.13736

Abstract

The high prevalence of chronic energy deficiency (CED) among adolescent girls may be due to a lack of knowledge and unhealthy dietary practices. This study aimed to evaluate the effect of the SICARE application in improving healthy dietary knowledge among adolescent girls. This study employed a quasi-experimental design with a non-equivalent control group comprising 59 participants in each group. The study was conducted at a high school. The researchers used a knowledge questionnaire and the Food Frequency Questionnaire (FFQ) as measurement tools. The results showed a significant improvement in CED knowledge in the intervention group after using the application, from 12.68 ± 2.35 to 20.85 ± 1.37 (p < 0.05). The participants’ eating habits also improved over the two weeks, with increased consumption of rice as a staple food, eggs as the primary source of animal protein, and tempeh and tofu as plant protein sources. Water spinach and papaya were the most frequently consumed vegetables and fruits. The findings suggest that the SICARE app is an effective educational tool for increasing knowledge about CED and promoting healthier eating habits among adolescent girls. Thus, the app can be used to address the high prevalence of CED in this population.
Manajeman Syok Hipovolemia pada Pasien Plasenta Akreta dengan Tindakan Caesarean Hysterectomy di Kamar Operasi Nurhasanah, Erna; Effendy, Christantie; Shodiq, Abror; Hapsari, Elsi Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.691

Abstract

Latar Belakang: Plasenta akreta merupakan komplikasi obstetrik yang jarang, tetapi sangat berisiko karena berpotensi menimbulkan perdarahan masif intraoperatif yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh sebab itu, penanganan syok hipovolemia sangat penting untuk mempertahankan kestabilan hemodinamik dan mendukung hasil pembedahan yang optimal. Laporan ini membahas penanganan syok hipovolemia pada pasien plasenta akreta yang menjalani operasi caesarean hysterectomy/histerektomi sesar. Keluhan Utama Pasien:  Pasien perempuan usia 27 tahun mengalami perdarahan 4.000 ml selama histerektomi sesar hingga mengalami syok hipovolemik. Tindakan keperawatan meliputi pemasangan tiga IV-line besar (16G, 14G, 18G), pemasangan kateter, resusitasi cairan, dan transfusi 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, pemberian norepinefrin dan asam traneksamat. Hasil: Setelah perdarahan masif berhasil diatasi, total cairan yang masuk dan keluar selama prosedur operasi dihitung untuk mengevaluasi efektivitas terapi cairan yang diberikan. Total cairan masuk 6.750 ml, cairan keluar 6.352 ml, dengan keseimbangan +398 ml. Monitoring hemodinamik dilakukan ketat, urine output 0,877 ml/kg/jam. Kesimpulan: Manajemen cairan terintegrasi dengan pemantauan intensif dan kolaborasi tim sangat penting untuk menghindari komplikasi syok dan disfungsi organ.Kata Kunci: cairan intraoperatif, perdarahan masif, plasenta akreta, syok hipovolemiaABSTRACTBackground: Placenta accreta is a rare but high-risk obstetric condition due to the potential for massive intraoperative hemorrhage, which can significantly increase maternal morbidity and mortality. Effective management of hypovolemic shock is essential to maintain hemodynamic stability and ensure optimal surgical outcomes. This case report discusses the management of hypovolemic shock in a patient with placenta accreta undergoing cesarean hysterectomy. Methods: This case report describes intraoperative fluid management in a patient with placenta accreta who experienced massive hemorrhage during surgery. The data include the type and volume of fluids administered—crystalloids, colloids, and blood components—as well as total fluid output during the procedure. Results: A 27-year-old female experienced 4,000 ml of blood loss during cesarean hysterectomy, resulting in hypovolemic shock. Nursing interventions included insertion of three large-bore IV lines (16G, 14G, 18G), urinary catheterization, fluid resuscitation, and administration of 7 PRC, 5 FFP, 5 TC, norepinephrine, and tranexamic acid. Total fluid intake was 6,750 ml (2,300 ml blood components, 3,200 ml crystalloids, 1,250 ml colloids), with an output of 6,352 ml and a positive balance of +398 ml. Hemodynamic parameters were closely monitored using invasive arterial pressure monitoring. Urine output reached 0.877 ml/kg/hr, indicating preserved renal function despite severe physiological stress. Conclusion: Intraoperative fluid management in placenta accreta requires a well-coordinated approach combining crystalloids, colloids, and blood components. Intensive monitoring and multidisciplinary collaboration are crucial to prevent complications such as hypovolemic shock and organ failure.Keywords: placenta accreta, hypovolemic shock management, massive hemorrhage, intraoperative fluid therapy
Tradisi dan Lingkungan Sosial Memengaruhi Dukungan Menyusui pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Malang Choiriyah, Muladefi; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Kesmas Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di dunia. World Health Organization tahun 2003 telah merekomendasikan menyusui sebagai salah satu penanganan BBLR. Namun, ibu yang memiliki bayi BBLR mengalami kesulitan di awal persalinan. Selain itu, menyusui di Indonesia juga dipengaruhi oleh sosial dan budaya yang dipercayai sehingga memengaruhi keputusan ibu untuk memilih tetap menyusui atau tidak sama sekali di periode awal postpartum. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi makna pengalaman ibu untuk tetap menyusui bayi dengan BBLR. Penelitian kualitatif ini dengan pendekatan fenomenologi. Tujuh orang partisipan adalah ibu yang pernah menyusui bayi BBLR. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semiterstruktur, observasi, dan data sekunder pada bulan Mei – Juni 2015. Analisis data menggunakan metode Colaizzi tahun 1978. Ditemukan empat tema, yaitu pengenalan menyusui sejak dini untuk bayi BBLR, pemberian makanan pendamping air susu ibu dini sebagai alternatif dalam mengatasi kesulitan menyusui, tradisi yang dipercayai, dan lingkungan sosial memengaruhi dukungan bagi ibu menyusui serta menerima menyusui sebagai bagian dari kodrat seorang perempuan. Menyusui bayi BBLR memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta adanya tradisi yang dipercayai keluarga dan pengaruh lingkungan sosial sangat memengaruhi dukungan yang diberikan kepada ibu dalam menyusui. Low birthweight (LBW) is one of main causes of infant mortality in the world. World Health Organization in 2003 had recommended breastfeeding for LBW handling. However, LBW mothers face many difficulties during early postpartum period. Moreover, breastfeeding in Indonesia is also influenced by social and cultural belief, so it may influence mothers’ decision whether remain breastfeeding or not in early postpartum period. This study aimed to explore the meaning of the experience of mothers to remain breastfeeding their LBW infants. This qualitative study was conducted using phenomenological approach. Seven participants were mothers ever breastfeeding their LBW infants. Data were collected through semi-structured in-depth interview, observation and secondary data on May – June 2015. Data analysis used Colaizzi method (1978). There were four themes found namely introduction of breastfeeding since early for LBW infants, granting of early complementary feeding as an alternative to overcome breastfeeding problem, cultural belief and social environment influencing support for breastfeeding mothers as well as accepting breastfeeding as the very nature of woman. Breastfeeding LBW infants has higher difficulty le-vel, also any tradition family believe and social environment really affect support given to mothers in breastfeeding.
Training Preschool Teachers in Early Detection of Emotional-Behavioral Problems and ADHD using Audiovisual and Booklet Media Khalida Ziah Sibualamu; Elsi Dwi Hapsari; Sri Hartini
Journal Of Nursing Practice Vol. 9 No. 1 (2025): October
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v9i1.925

Abstract

Background: Early identification of emotional and behavioral problems, including attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), is essential for optimizing preschool children’s development. In Indonesia, many preschool teachers lack sufficient competence due to limited structured training. Evidence comparing audiovisual and booklet-based instructional media is scarce. This study addresses this gap, providing insights to enhance teacher preparedness in early detection. Purpose: This study compared the effectiveness of audiovisual and booklet-based training programs in improving preschool teachers’ knowledge and skills in the early detection of emotional behavior problems and ADHD. Methods: A quasi-experimental study with a non-equivalent group design was conducted among 58 preschool teachers selected through purposive sampling. Preschools were assigned to two formats that delivered identical training content through either audiovisual or booklet-based media. Participants’ knowledge was assessed using a questionnaire, and practical skills were evaluated with a checklist, both of which were validated and reliable. Data were analyzed using independent t-tests and Mann–Whitney U tests. Results: Audiovisual training produced significantly greater improvements in participants’ knowledge (p < 0.001) and skills in early detection of emotional behavior problems (p < 0.001) and ADHD (p = 0.009) compared with booklet training. The audiovisual group achieved higher post-test scores and demonstrated better knowledge retention. Conclusion: Audiovisual-based training was more effective than booklet-based training in enhancing preschool teachers’ knowledge and skills for identifying early emotional and behavioral problems in children. These findings highlight the importance of integrating audiovisual learning into teacher development programs to strengthen early childhood mental health surveillance.
Co-Authors Agatha, Naysilla Gisha Agustin Agustin Ainia Herminiati, Ainia Ami Novianti Subagya Anis Rahmawati Anita Liliana Aulia Hanif Fathudin Budi Wahyuni Christantie Effendy Citrawati, Ni Ketut Daniswari, Handitya Devry, Devry Pramesti Dewi Kusumaningtyas Dewi, Tri Kesuma Diah Astutiningrum Diah Priyantini Dora Samaria Dwi Sri Handayani Erviana Dewi Muslikhah Fauziah H Wada Fitri Haryanti Gultom, Nikodemus Happy Indah Kusumawati Haryanti Fitri Helieniastuti, Riris Chintya Heny Suseani Pangastuti Hery Ernawati Hutami, Nurfitria Anisa Ibrahim Rahmat Ika Nur Pratiwi Imam Rahmawati, Natasya Putri Indah Wulaningsih Irawan, Dana Prayoga Irma Fidora Jelita Siska Herlina Hinonaung Junitasari, Rizky Khatijah Lim Lim Abdullah Kristanti, Dita Kusumaningtyas, Khariza Layuk, Yenny Tangke Lely Lusmilasari, Lely Machmudah Machmudah Machmudah, Machmudah Mae Sri Hartati Wahyuningsih Mardliyah, Ainun Saidatul Mar’atun Ulaa Maulida Rahmawati Emha Mokodompit, Hariansyah Muladefi Choiriyah Ni Luh Putu Inca Buntari Agustini Nikmatul Khayati Nugraha, Adikarya Nurhasanah, Erna Nuring Pangastuti Nuring Pangastuti Nuring Pangastuti Nursalam Nursalam Nuzulullail, Agung Subakti Parmawati, Ika Permatasari, Ana Primastika Supadmi Priyantini, Diah Purwanta Purwanta Purwanta Purwanta Purwanta Purwanto Puspitasari, Halfie Zaqiyah Gusti Rahayu, Anisa Rini Rahmawati, Nadia Ramadhani, Hanin Retno, Hersinta Rifky Octavia Pradipta Riyati, Riyati Rizki Handayani Fasimi Robert Priharjo S Sulastri Sadewa, Deskantari Murti Ari Sari, Apriani Susmita Selwis Raistanti, Sihqina Ramadhani Setiaboma, Woro Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan Shodiq, Abror Shofwal Widad Sibualamu, Khalida Ziah Sri Hartini Sri Widodo Sri Widodo Subangkit, Arsad Tirta Sulastri, S Totok Harjanto tri kusuma dewi Tsauroh, Salsabila Fiqrotu Ujang Sumarwan Viegas, Bonifacio de Jesus Wahyuni, Triska Septi Wasis Pujiati Wenny Artanti Nisman Wenny Artanti Nisman Wenny Artanty Wenny Artanty Nisman, Wenny Artanty Wibawa, Shinta Restu Widyandana Widyandana Widyandana Widyandana Widyawati Widyawati Widyawati Widyawati Widyawati Witman, Steven Wiwin Lismidiati Yanita Trisetiyaningsih Yayi Suryo Prabandari Yunistyaningrum, Vina