Claim Missing Document
Check
Articles

REVIEW ARTIKEL: METODE DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TRANSFERSOM SEBAGAI PEMBAWA RUTE PENGHANTARAN TRANSDERMAL ALIFIA SYIFA PEBRIANTI; Eli Halimah
Farmaka Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i2.27726

Abstract

Transfersom merupakan salah satu vesikel pembawa yang pada komponennya ditambahkan surfaktan sehingga memiliki sifat yang ultra-fleksibel dan elastis. Dengan menggunakan transfersom, obat  dapat berpenetrasi lebih baik ke dalam kulit meskipun terdapat penghalang dari lapisan kulit stratum korneum. Tujuan dari review ini adalah untuk menjelaskan metode apa saja yang dapat digunakan dalam pembuatan transfersom. Dalam membuat review artikel ini digunakan jurnal dan artikel hasil penelusuran di internet melalui website NCBI (dengan kategori yang dipilih adalah PubMed), science direct, dan google scholar yang telah dipublikasi dalam 10 tahun terakhir. Dari hasil pencarian, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat transfersom, yaitu: thin film hydration/rotary evaporation-sonication, vortexing-sonication, reverse phase evaporation, injeksi etanol, protransfersome-transfersome, dan microfluids. Dari metode-metode tersebut, masing-masing metode memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing dalam pembuatan transfersom sehingga pemilihan metode untuk pembuatan transfersom yang dapat digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Metode thin film hydration sejauh ini paling banyak digunakan untuk mengembangkan transfersom dalam skala laboratorium.
IDENTIFIKASI PERSENTASE KELENGKAPAN RESEP DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG ALFIA NURSETIANI; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.26204

Abstract

ABSTRAKSemakin meningkatnya angka kesakitan dan penggunaan obat di rumah sakit, maka semakin bertambah pula angka permasalahan terkait obat jika penggunaannya tidak tepat. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya permasalahan terkait obat adalah dengan melakukan pengkajian resep. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pada aspek manakah yang memiliki persentase ketidaklengkapan atau kesalahan peresepan yang paling besar. Identifikasi kelengkapan resep tersebut dilakukan menggunakan metode observasi dengan aspek administrasi, aspek farmasetik, dan aspek klinis pada 60 resep yang terdiri dari 30 resep rawat jalan dan 30 resep rawat inap di salah satu rumah sakit di kota Bandung. Dari hasil penelitian didapatkan hasil persentase kesalahan peresepan pada aspek administrasi sebesar 19.44%, aspek farmasetik sebesar 20%, dan aspek klinis sebesar 16% pada 30 resep rawat jalan, sedangkan pada 30 resep rawat inap persentase kesalahan peresepan pada aspek administrasi sebesar 16.39%, aspek farmasetik sebesar 23.33%, dan aspek klinis sebesar 14.67%. Persentase ketidaklengkapan atau kesalahan peresepan terbesar terdapat pada aspek farmasetik, yaitu stabilitas obat dengan persentase sebesar 100%.Kata Kunci : Standar pelayanan kefarmasian, pengkajian resep, kelengkapan resep ABSTRACTThe increasing number of morbidity and drug use in hospitals, make the number of problems related to drugs has been increasing too. One way to prevent drug-related problems is to do a prescription screening. This research was conducted to find out which aspects had the greatest percentage of incompleteness or prescribing errors. Identification of the completeness of the prescription was carried out using observational methods with administrative aspects, pharmaceutical aspects, and clinical aspects in 60 prescriptions consisting of 30 outpatient prescriptions and 30 inpatient prescriptions at one of hospital in Bandung city. From the research results obtained the percentage of prescribing errors in administrative aspects of 19.44%, pharmaceutical aspects of 20%, and clinical aspects of 16% in 30 outpatient prescriptions, while in 30 prescriptions for prescription errors in administrative aspects was 16.39%, aspects pharmacetics at 23.33%, and clinical aspects at 14.67%. The biggest percentage of incompleteness or prescription errors is found in the pharmaceutical aspect, namely the stability of the drug with a percentage of 100%.Keywords : Pharmaceutical service standards, prescription screening, completeness of the prescription
Penggunaan Monomer Asam Itakonat pada Molecularly Imprinted Polymer (MIP) TRAJU NINGTIAS DWI UTARI; Eli Halimah
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1895.689 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17447

Abstract

Molecularly Imprinted Polymer(MIP) merupakan polimer yang dapat mengenali sisi pengenalmolekul targetnya. Aplikasi MIP telah banyak digunakan, antara lain untuk identifikasi antibiotik, pemurnian obat, analisis lingkungan dan makanan. Parameter yang menentukan sifat MIP salah satunya adalah jenis monomer yang digunakan sehingga pemilihannya harus dilakukan dengan hati-hati. Metode yang dapat digunakan dalam penentuan monomer yaitu metode komputasi. Studi ini bertujuan untuk melihat nilai binding energymonomer asam itakonat terhadap berbagai templateyang digunakan pada pembuatan MIP. Berdasarkan hasil review, monomer asam itakonat dapat digunakan untuk templateglibenklamid, andrografolid, deoxynivanelol, MC-LR, dan endotoksin. Kata kunci:Molecularly Imprinted Polymer(MIP), Asam itakonat
Tinjauan Pustaka Mengenai Karakteristik Radioisotop yang Digunakan pada Pembuatan Radiofarmaka RISDA RAHMI ISLAMIATY; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.756 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17452

Abstract

Radiofarmaka merupakan suatu obat yang biasa digunakan untuk diagnosis ataupun terapi. Perbedaan antara radiofarmaka dengan obat biasa adalah terkandungnya radioisotop. Radioisotop merupakan isot­op yang bersifat tidak stabil sehingga akan memancarkan suatu energi radioaktif untuk mencapai bentuk yang stabilnya. Pancaran radioaktif yang ditimbulkan pada setiap jenis radioisotop yang digunakan pada radiofarmaka memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan pada pancaran radioaktif mempengaruhi tujuan pengaplikasian radiofarmaka. Radioisotop yang memiliki sifat pemancar sinar gamma umum  digunakan untuk diagnosis sedangkan yang memancarkan sinar beta umum digunakan untuk terapi. Karakteristik lain yang dilihat, antara lain sifat metal dan non metal radioisotop yang menyebabkan perbedaan metode pembuatan radiofarmaka.Kata Kunci : Radiofarmaka, Radioisotop, sinar gamma, sinar beta.
Characterization And Acute Toxicity Test Of Black Garlic Ethanol Exctract Based On OECD Ellen Stephanie Rumaseuw; Yoppi Iskandar; Eli Halimah; Ade Zuhrotun
Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan INTEREST: Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 10 Number 2 Year 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/interest.v0i0.379

Abstract

Background: Garlic (Allium sativum, L) was used empirically by the ancestors as a useful plant for hypercholesterolemia. The processed garlic product, namely black garlic, has gone through an optimal heating process at a temperature of 70oC for 21 days. Black garlic can become a standardized herb if it has been through characterization and toxicity tests. Methods: The characterization test is known by measuring several general standard parameters of Indonesian extracts. Acute toxicity test was carried out by dividing 5 treatment groups namely negative control, group I (5 mg/kg BW), group II (50 mg/kg BW), group III (300 mg/kg BW), group IV (2000 mg/kg BW). Results: The results showed that the standardization of black garlic extract has a drying shrinkage content of 7.24%, a water content of 8.8%, a total ash content of 4.79%, an acid insoluble ash content of 1.52%, a water soluble extract content of 7.47% and an ethanol soluble extract content of 9.3% which is still into the Indonesian herbal pharmacopoeia standard and the administration of black garlic ethanol extract caused mild toxic symptoms during the acute toxicity test and obtained LD50 values > 2000 mg/kg BW. Conclusion: Characterization of black garlic extract according to standardization parameters of Indonesian plant extracts and administration of ethanolic extract of black garlic has an LD50 value > 2000 mg/kg BW which is included in category 5 in the OECD.
SOSIALISASI PROTOKOL ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI MASYARAKAT DESA SAYANG MELALUI MEDIA SOSIAL DAN TEMU MAYA Muchtaridi Muchtaridi; Cecep Suhendi; Nasrul Wathoni; Sandra Megantara; Eli Halimah
Dharmakarya Vol 10, No 3 (2021): September, 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v10i2.31147

Abstract

Pandemi coronavirus yang diakibatkan oleh SARS-CoV-2 (Covid-19) telah menyebabkan berbagai permasalahan, meliputi kesehatan, ekonomi, dan sosial. Penyesuaian dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masa pandemi penting untuk dilakukan demi mencegah penularan dan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat Desa Sayang, Kabupate Sumedang, dilakukan survey mengenai pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) dan ditindaklanjuti dengan pemberian materi berupa “Sosialisasi Protokol Adaptasi Kebiasan Baru pada Masyarakat Kabupaten Sumedang” dalam bentuk webinar. Hasil survey menunjukkan bahwa 95,2% masyarakat sudah mengetahui adanya penerapan protokol kesehatan di masa AKB. Namun demikian, hanya 64% masyarakat saja yang mengetahui tata cara pelaksanaan protokol kesehatan di masa AKB. Dengan demikian, diharapkan bahwa melalui sosialisasi protokol kesehatan di masa AKB dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menjalankan hidup sehat di masa AKB
Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro Taofik Rusdiana; Sriwidodo Sriwidodo; Jajan Solahudin; Eli Halimah; Aep W Irwan; Suseno Amin; Sri A Sumiwi; Marline Abdassah
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.042 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7812

Abstract

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37 oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%, Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5% dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal. Kata kunci: Antikalkuli, Apium graveolens L., batu ginjal, seledri
Pola Peresepan Rawat Jalan: Studi Observasional Menggunakan Kriteria Prescribing Indicator WHO di Salah Satu Fasilitas Kesehatan Bandung Dika P. Destiani; Syahrul Naja; Aminah Nurhadiyah; Eli Halimah; Ellin Febrina
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7961.675 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.225

Abstract

Penelitian ini dilakukan sebagai tahap awal evaluasi peresepan obat di salah satu fasilitas kesehatan yang akan dilakukan berkala untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline World Health Organization (WHO) yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, obat injeksi, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan diambil secara retrospektif pada periode April 2015–Maret 2016 di salah satu fasilitas kesehatan di Bandung. Sebanyak 1.814 lembar resep dengan 3.886 obat yang termasuk kriteria inklusi, diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu 2,13 obat. Penggunaan obat generik sebesar 57,47% dari 3.886 obat. Persentase penggunaan antibiotik sebesar 15,52% dan sediaan injeksi 0,41% dari 1.814 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 39,49% dari 3.886 obat yang diresepkan. Berdasarkan hasil tersebut penggunaan obat generik dan esensial masih sangat jauh dari standar WHO (100%) sedangkan penggunaan antibiotik dan obat injeksi memiliki nilai rendah dibandingkan dengan nilai rujukan World Health Organization. Kata kunci: Indikator peresepan, obat, WHO Prescribing of Outpatient: Observational Study Using WHO Prescribing Indicator in One of Health Care Facilities in Bandung This study was held to evaluate drug pattern in one of the health facilities in Bandung using five World Health Organization guideline for prescribing indicators, which include average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotic, injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescriptions were collected retrospectively from April 2015–March 2016. Average number of drugs per encounter 2.13 was gained by dividing 3,886 drugs with 1,814 prescriptions. Percentage of using generic drugs were 57.47%, antibiotics were 15.52 % and 0.41% for injections per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 39.49%. The result showed that usage of generic and essential drugs were still far from WHO standard (100%) while the usage of antibiotics and injections were lower than World Health Organization recommendation.Keywords: Drug, prescribing indicators, WHO
Perbandingan Efektivitas Ampisilin dengan Ampisilin-Gentamisin pada Pasien Balita dengan Pneumonia Salma H. California; Rano K. Sinuraya; Eli Halimah; Anas Subarnas
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.09 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.1.52

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak usia di bawah lima tahun (balita) di dunia. Terapi antibiotik untuk pneumonia biasanya dipilih secara empirik karena mikroorganisme penyebab pneumonia belum dapat diketahui saat diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas terapi antibiotik empirik pneumonia dengan menggunakan ampisilin tunggal maupun dikombinasikan dengan gentamisin pada balita yang dirawat dengan pneumonia di salah satu rumah sakit di kota Bandung pada tahun 2013–2015. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan pengambilan data sekunder secara retrospektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square, uji Fisher, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektivitas antara pasien yang diterapi menggunakan ampisilin maupun ampisilin-gentamisin dari parameter perbaikan batuk (p=0,381), sesak (p=0,294), demam (p=0,405), maupun laju pernapasan (p=0,306), namun terdapat perbedaan pada lama hari rawat (p<0,001). Tidak adanya perbedaan efektivitas pada parameter perbaikan gejala (sesak dan batuk) dan tanda (suhu tubuh dan laju pernapasan) tersebut dapat menjadi dasar untuk rekomendasi penggunaan ampisilin tunggal sebagai pilihan terapi utama pada pasien pneumonia balita. Selain pertimbangan efektivitas terapi, pemberian terapi antibiotik harus memperhatikan aspek lain seperti pola kepekaan bakteri, risiko efek samping pada pasien, serta efektivitas biaya.Kata kunci: Anak, antibiotik, efektivitas, pneumonia, terapi empirik Effectiveness of Ampicillin and Ampicillin-Gentamicin for Children under Five Years Old with PneumoniaPneumonia was one of the main causes of mortality in children aged under five years old. Empirical antibiotic therapy was usually selected in pneumonia because the microorganisms have not been known at diagnosis. The purpose of this study was to compare the effectiveness of empirical antibiotic therapy using ampicillin or ampicillin-gentamicin for children aged under five years old with pneumonia at one hospital in Bandung in period of 2013–2015. The method used in this study was cross-sectional method with retrospective data collection. Collected data were analyzed using Chi-Square, Fisher, and Mann-Whitney methods. The results showed that there was no difference in effectiveness between patients treated with ampicillin and ampicillin-gentamicin from improvement of cough (p=0.381), shortness of breath (p=0.294), fever (p=0.405), and respiratory rate (p=0.306) parameters but there was a difference in length of stay (p<0.001). Therefore, it might be the basis for the use of a single ampicillin as a primary treatment option in pneumonia for children aged under five years old. In addition, antibiotic therapy should consider other aspects such as bacterial susceptibility patterns, the risk of side effects in patients, as well as cost effectiveness.Keywords: Antibiotic, children, effectiveness, empirical therapy, pneumonia
Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) sebagai Penanda Biokimiawi untuk Membedakan Stroke Iskemik dan Hemoragik Eli Halimah; Evy Liswati; Erwin Sasmita
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6927.71 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.1.55

Abstract

Strok merupakan sindrom neurologis yang bersifat akut yang terjadi karena adanya penurunan aliran darah yang disebabkan oleh terhambat atau pecahnya pembuluh darah otak (cerebrovaskular) yang menyebabkan kerusakan jaringan otak. Berdasarkan patogenesisnya, terdapat dua jenis strok, yaitu strok iskemik dan hemoragik. Penanganan pengobatan pada kedua jenis strok tersebut sangat berbeda sehingga diperlukan diagnosis diferensial untuk membedakan kedua jenis strok tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan apakah Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) dapat dijadikan sebagai parameter penanda biokimiawi untuk membedakan strok iskemik dan hemoragik. Penetapan kadar H-FABP dilakukan dengan menggunakan serum darah dan dianalisis dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) sandwich masing-masing menggunakan H-FABP test kit. Serum darah diambil dari 20 orang pasien strok iskemik dan 18 orang pasien strok hemoragik dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), Unit Strok dan Instalasi Rawat Inap di salah satu Rumah Sakit Umum di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata H-FABP pada pasien strok iskemik sebesar 9,07 ng/mL sedangkan pasien strok hemoragik sebesar 18,54 ng/mL; secara statistik terdapat perbedaan kadar H-FABP yang signifikan antara pasien strok iskemik dan hemoragik (α=0,05). Dengan demikian, Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) dapat dijadikan sebagai salah satu parameter penanda biokimiawi untuk membedakan strok iskemik dan hemoragik.Kata kunci: Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP), strok hemoragik, strok iskemik Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) as a Biochemical Marker to Differentiate Ischemic and Hemorrhagic StrokeAbstractStroke is an acute neurological syndrome that occurs due to a decrease in blood flow caused by blocked or rupture of blood vessels of the brain (cerebrovascular) that causes damage to brain tissue. Based on the pathogenesis, there are two types of stroke, the ischemic and hemorrhagic stroke, in which the handling of treatment in both types of stroke are very different, so the differential diagnosis is required to distinguish the two types of stroke. The purpose of this study is to determine whether Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) can be used as a parameter of biochemical marker to distinguish between ischemic and hemorrhagic stroke. H-FABP assay is performed using blood serum and analyzed by Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) sandwich method, each using H-FABP test kit. Blood serum taken from 20 patients with ischemic strokes and 18 hemorrhagic stroke patients from one of a hospital in Jakarta. The results showed that the average H-FABP concentration in ischemic stroke‑patients is 9,07 ng/mL and hemorrhagic stroke‑patients is 18,54 ng/mL; statistically there are significant difference between H-FABP concentration in ischemic stroke‑patients and hemorrhagic stroke-patients (α=0.05). Thus Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) can be used as one of the parameters of biochemical markers to distinguish between ischemic and hemorrhagic stroke.Keywords: Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP), hemorrhagic stroke, ischemic stroke
Co-Authors Abdul Kholik Tasib Abdul Mutalib Abdul Mutalib Ade Zuhrotun Aep W Irwan Aep W Irwan, Aep W Ahmad Muhtadi Ahmad Muhtadi ALFIA NURSETIANI ALIFIA SYIFA PEBRIANTI Ami Tjitraresmi, Ami Aminah Nurhadiyah Anas Subarnas Andi Wijaya Anna Meiliana Arifah, Gina As&#039;ari Nawawi Aulia, Gina Barliana, Melisa I. Barliana, Melisa I. Budhi Prihartanto California, Salma H. Chaeriadi, Venice Chintami Nurkholbiah Desianti Khoiriyah, Shahnaz Destiani, Dika P. Dika P. Destiani DONI DERMAWAN Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Ellin Febrina Erwin Sasmita Evy Liswati Evy Liswati, Evy Faizatun Maulida Gatera, Vesara A. Gina Arifah Gina Aulia Herawati, Irma E. Irma M. Puspitasari, Irma M. Irma Melyani Puspitasari Irma Pratiwi Ivan S. Pradipta Jajan Solahudin Jajan Solahudin, Jajan Julisiana Sanggelorang Jutti Levita Keri Lestari Lina Nafisah Lutfi Sulaiman Mally G. Sholih Mardhiani, Yanni Dhiani Marline Abdassah Marline Abdassah, Marline MEGANTARA, SANDRA Melisa I. Barliana Melisa I. Barliana Miski A. Khairinisa Muchtaridi Muchtaridi Mutakin Mutakin Naja, Syahrul Nasrul Wathoni Nawawi, Asari Ni Made Susilawati Nia Kurniasih Noviani, Tatat NUR AZIZAH ALI Nurhadiyah, Aminah Nurul Annisa NURUL ANNISA Nyi M. Saptarini Oktarina, Dewi Ria Pani, Sarini Pani, Sarini Peppi Z. Yuzaqi Pradipta, Ivan S. Pratiwi, Irma Puspitadewi, Nurhanifah Putri, Aulia Nur Assyifa Rano K. Sinuraya Rano K. Sinuraya Ratnawati, Rani Rena Choerunisa Rina Triana Rini Hendriani RISDA RAHMI ISLAMIATY Riyadi Adrizain Rizkita Nur Ainun Rizky Abdulah Rumaseuw, Ellen Stephanie Rusdianto, Aziiz M. Ruterlin, Valen Sadli, Nurul Kamilah Salma H. California Saptarini, Nyi M. Sarini Pani Sarini Pani Sasmita, Erwin Sholih, Mally G. Sinuraya, Rano K. Sinuraya, Rano K. SITI SAIDAH Slamet Ibrahim - Sri A Sumiwi Sri A Sumiwi, Sri A Sri A. Sumiwi Sri Adi Sumiwi Sri Hartini Sri Hartini Sriwidodo B, Sriwidodo Sriwidodo Sriwidodo Suhendi, Cece Sumiwi, Sri A. Sumiwi, Sri A. Suseno Amin Suseno Amin, Suseno Syahrul Naja Tania R. Amalia Taofik Rusdiana Tatat Noviani TRAJU NINGTIAS DWI UTARI Valen Ruterlin Venice Chaeriadi Vesara A. Gatera Wahyuni, Indah S. Widyatmoko, Leonardus Winarni, Rina Wiwik Rositawati Wiwik Rositawati, Wiwik Yasmiwar Susilawati Yoppi Iskandar Yuzaqi, Peppi Z. Zahra, Citra Aulia