Claim Missing Document
Check
Articles

Performance Evaluation of Four Activated Partial Thromboplastin Time Reagents Yuzaqi, Peppi Z.; Halimah, Eli; Noviani, Tatat
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.634 KB)

Abstract

Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) is a hematological examination to identify hemostatic abnormalities. This study aimed to compare the performance evaluation of four APTT reagents, i.e., CK Prest, Pathromtin SL, Actin SL, and Cephascreen. The methods used were photo optical, percent detection, and viscosity-based detection system (VDS). The analysis was performed on blood specimen of 43 subjects. The results indicated that the accuracy and precision in normal plasma control using C. K. Prest reagent in Coag-A-Mate® MTX II were d% -0.605 and CV% 2.252%, Pathromtin SL reagent in CA 560® (Sysmex®) were d% 6.9345 and CV%1.687, Actin FSL reagent in CA 560® (Sysmex®) were d% -1.51 and CV% 1.74, and Cephascreeen reagent in STA Compact® were d% 10.81 and CV% 1.60. The accuracy and precision in pathological plasma control using Pathromtin SL reagent in CA 560® (Sysmex®) were d% -1,11 and CV% 8.82, Cephascreen reagent in STA Compact® were d% 4.64 and CV% 2.72. The coefficient of correlation between C. K. Prest reagent and Pathromtin SL reagent was 0.880 with the regresion equation y=2.31x–33.70. The coefficient of correlation between C. K. Prest reagent and Actin FSL reagent was 0.986 with the regretion equation y=0.78x+2.93. The coefficient of correlation between C. K. Prest reagent and Cephascreen reagent was 0.987 with the regretion equation y=1.70x–3.97. In conclusion, the best precision was obtained from Cephascreen reagents in STA compact®devices for both normal and pathologic control plasma, with eligible accuracy.Keywords : Activated Partial Thromboplastin Time (APTT), Photo-optical, Viscosity-based Detection System (VDS)
Comparison of Effectiveness between Combination of Beta-Lactam with Azyhtromycin or Levofloxacin for Adult Pneumonia Patients Arifah, Gina; Halimah, Eli; Abdulah, Rizky
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 3, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.673 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v3i1.16451

Abstract

Treatment for pneumonia has always been a challenge due to the difficulties in diagnosis and the growing incidence of antibiotic resistance. Beta-lactam antibiotics are the first line treatment for pneumonia. The combination of beta-lactam with other antibiotics are preferred than single antibiotic therapy. However, there was limited information regarding the effectiveness of combination between beta-lactam with either macrolides or fluoroquinolone for the treatment of pneumonia.The purpose of this study was to determine the most effective combination of antibiotics for hospitalized adults pneumonia patients. This was a cross-sectional study with prospective data collection. The data source was the medical record of the subjects. We included adult pneumonia patients hospitalized at Dr. Hasan Sadikin General Hospital during June-August 2015. We found that mean reduction of body temperature in group who received combination of a beta-lactam antibiotic and azithromycin was 1.53 0C, while in levofloxacin group, the reduction was 1.22 0C (p=0.210). Reduction in leukocytes and respiratory rate were 7800 and 2.29 times/minute, respectively, in the former group, while in the latter group the reduction of leukocytes and respiratory rate were 2600 and 5 times/minute. The differences were not statistically significant in both parameters (p=0.036 and 0.149, respectively). In conclusion, better clinical outcomes were observed in patients treated with combination of beta-lactam and azithromycin compared to combination of beta-lactam and levofloxacin, although the difference was not statistically significant.Keywords: pneumonia, pneumonia therapy, combination therapy for pneumonia
Potential Nephrotoxicity of Lisinopril and Valsartan on Patients with Congestive Heart Failure Pani, Sarini; Barliana, Melisa I.; Halimah, Eli; Chaeriadi, Venice; Sholih, Mally G.
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 2, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.357 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v2i1.16192

Abstract

Lisinopril (angiotensin converting enzyme inhibitor) and valsartan (angiotensin II receptorblocker) are the first-line treatment for patients with congestive heart failure (CHF). Thesetwo drugs potentially cause side effects on renal functions. However, limited informationwas available regarding the comparison of potential nephrotoxicity of these drugs in IndonesianCHF patients. This research was aimed to compare the potential nephrotoxicitybetween lisinopril and valsartan in outpatients with CHF at a hospital in Palu, Indonesia.This was an observational study conducted during April-May 2015. Potential nephrotoxicitywere assessed by measuring serum creatinin (SCr) and blood urea nitrogen (BUN). Datawere obtained from Cardiology Unit from a hospital in Palu, Indonesia. Statistical analysiswas conducted using T-test and Mann-Whitney test. The increasing trend of SCr and BUNwere observed in lisinopril-treated patients with the mean of increase were 21% and 59%,respectively. Relatively higher increase was observed in valsartan treatment group with 47%and 51% in SCr and BUN, respectively. The analysis showed that there were significant differencesin SCr level between lisinopril and valsartan groups (p=0.001), but the oppositeresults observed in BUN parameter (p=0.697). Therefore, valsartan was potentially morenephrotoxic than lisinopril based on the increase of SCr parameter. Thus, lisinopril is recommendedfor CHF patients who are particularly at high risks of having renal impairment.Keywords: lisinopril, valsartan, nephrotoxicity, congestive heart failure
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK MENGGUNAKAN METODE ATC/DDD DAN DU90% DI RAWAT JALAN POLI PENYAKIT DALAM RS AL-ISLAM BANDUNG Desianti Khoiriyah, Shahnaz; Ratnawati, Rani; Halimah, Eli
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.v0i0.81

Abstract

Resistensi antibiotik menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian lebih dari pemerintah Indonesia. Pada PMK No. 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit mewajibkan Rumah sakit untuk membentuk tim pelaksana Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Rumah Sakit. Tugas dari tim pelaksana PPRA diantaranya melakukan evaluasi penggunaan antibiotik. Metode ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical/Daily Defined Dose) digunakan untuk evaluasi kuantitatif penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik dalam satuan jumlah ATC/DDD dan mengetahui antibiotik yang termasuk kedalam DU90% (Drug Utilization 90%) pada pasien rawat jalan di poli penyakit dalam (Internis) di RS Al-Islam Bandung. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan secara retrospektif. Pengamatan dilakukan pada resepOktober-Desember 2019 sebanyak 990 resep. Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa 12% resep menggunakan antibiotik dan 88% resep tidakmenggunakan antibiotik. Isoniazid merupakan antibiotik dengan nilai ATC/DDD tertinggi yaitu 163750 dan amoxycillin merupakan antibiotik dengan nilai ATC/DDD terendah yaitu sebesar 750. Antibiotik yang termasuk kedalam DU90% adalah isoniazid, rifampisin, ethambutol dan pyrazinamide.
PROMOSI PREVENTIF SADARI (PERIKSA PAYUDARA SENDIRI) DI DESA SAYANG SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA Muchtaridi Muchtaridi; Eli Halimah; Sandra Megantara; Nasrul Wathoni
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v4i1.31966

Abstract

Menurut Data Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2018, kanker  payudara merupakan salah satu jenis kanker yang mempunyai prevalensi cukup tinggi dan penyebab  utama kedua mortalitas di seluruh dunia sebesar 11,6% atau 2.089 juta jiwa dan morbiditas menempati  urutan ke-5 sebesar 6,6% atau 627.000 juta jiwa. Di Indonesia, angka mortalitas kanker payudara  menempati peringkat pertama sebesar 16,7% atau 58.256 juta jiwa dan angka morbiditas sebesar 11%  atau 22.692 juta jiwa. Periksa Payudara Sendiri (Sadari) adalah pemeriksaan payudara yang dilakukan  kita sendiri dengan belajar mandiri yaitu melihat dan memeriksa perubahan payudaranya sendiri setiap  bulan. Pemeriksaan yang dilakukan secara berkala akan membantu mengetahui adanya benjolan atau  bahkan masalah lain dari sejak awal walaupun masih berukuran kecil sehingga lebih efektif untuk  diobati. Metode survei, pre-test, dan post test telah diterapkan sebagai upaya promosi Sadari ke ibu-ibu  PKK Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Masyarakat Desa Sayang dikatakan cukup tahu  mengenai kanker payudara (68%), namun kurangnya informasi tentang pencegahan dini mengakibatkan  kesadaran terhadap informasi kesehatan termasuk tentang pencegahan kanker payudara menjadi kurang  (58,82 %). Hasil post test menunjukkan bahwa program promosi preventif Sadari meningkatkan  pengetahuan dan kesadaran masyarakat sehingga disimpulkan bahwa masyarakat Desa Sayang perlu diberikan promosi secara berkala agar pengetahuan dan kesadaran meningkat dalam mencegah kanker  payudara.
REVIEW : BERBAGAI AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN JOMBANG (Taraxacum officinale Webb.) NUR AZIZAH ALI; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.127 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22316

Abstract

ABSTRAKJombang (Taraxacum officinale Webb.) yang dikenal dengan dandelion  merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai tanaman herbal. Tanaman ini tersebar di daerah subtropis dan tropis termasuk Indonesia.  Tanaman jombang sudah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai rempah maupun untuk pengobatan yang khasiatnya sebagai antioksidan, mengobati penyakit hati, gangguan pencernaan dan gatal-gatal yang sudah digunakan secara empirik. Khasiat tersebut dapat terjadi karena terdapat kandungan senyawa utama seperti asam fenolat dan asam sikorat yang memiliki aktivitas farmakalogi dalam tanaman  jombang. Review artikel ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang aktivitas farmakologi tanaman jombang. Dari sumber data yang ditelaah, tanaman jombang memiliki aktivitas antioksidan, antifibrosis, hepatoprotektif, antijamur, antibakteri, antiinflamasi, antiinfluenza, antidepresan, antiproliferatif, dan meningkatkan pengosongan lambung. Dari berbagai aktivitas farmakologi tersebut, aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiproliferasi dari tanaman jombang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.Kata Kunci: jombang, Taraxacum officinale, pengobatan, aktivitas, farmakologi ABSTRACTJombang (Taraxacum officinale Webb.) what is known as dandelion is a plant that is often used as an herbal plant. This plant is spread in subtropical and tropical regions including Indonesia. Jombang plants have been widely used by the community as a spice for the treatment of its efficacy as an antioxidant, treatment of liver disease, digestive disorders and rubbing that have been used by empiricists. This property can occur because there are main ingredients such as phenolic acid and cycoric acid which have pharmacalogical activity in jombang plants. The review of this article was made with the aim to provide information about the pharmacological activity of jombang plants. From the sources of the data studied, the jombang plant has antioxidant activity, antifibrosis, hepatoprotective, antifungal, antimicroba, anti-inflammatory, antiinfluenza, antidepressant, antiproliferative, and increases gastric emptying. Of the various pharmacological activities, antioxidant, antimicrobe and antiproliferation of the jombang plant need to be further developed.Keywords: jombang, Taraxacum officinale treatment, activity, pharmacology
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK BERBAGAI SPESIES TUMBUHAN MANGROVE NIA KURNIASIH; Eli Halimah
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2570.56 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22265

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang prevalensinya cukup tinggi. Indonesia memiliki lautan yang luas yang didalamnya terdapat keanekaragaman hayati yang bermacam-macam salah satunya adalah tanaman mangrove yang memiliki berbagai macam spesies. Tanaman mangrove atau bakau dikenal sebagai tanaman yang hidup di area pesisir pantai dan digunakan sebagai tanaman yang menjaga area pantai agar tidak terjadi proses abrasi akibat ombak dari laut. Tanaman ini memiliki banyak manfaat seperti pencegah dan penyaring alami, tempat sumber makanan bagi biota laut, kayunya sebagai bahan bakar, serta sudah banyak digunakan secara empirik sebagai tanaman obat tradisional dan salah satunya sebagai antibakteri. Review artikel ini dilakukan untuk pengumpulan informasi mengenai aktivitas antibakteri dari beberapa jenis tanaman mangrove. Aktivitas antibakteri ini dilihat dari nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan diameter zona hambat. Hasil pengujian antibakteri yang diperoleh berdasarkan parameter diameter zona hambat, spesies mangrove yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter zona hambat >20mm) yaitu ekstrak air eksokarp Bruguiera gymnorrhiza terhadap bakteri Delftia sp. menghasilkan zona hambat sebesar 23±0,55mm, ekstrak air batang Nypa fructicans terhadap bakteri Bacillus subtilis menghasilkan zona hambat 22,16±0,76mm, sedangkan ekstrak air daunnya terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia masing-masing menghasilkan zona hambat sebesar 20,33±0,95mm dan 20,03±1,08mm, serta ekstrak metanol daun Ricinus communis terhadap Staphylococcus aureus menghasilkan zona hambat sebesar 20,7mm. Tanaman mangrove mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri.Kata Kunci : Mangrove, infeksi, antibakteri
Teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (IPSC) Berbasis Metode 3D Hanging Drop Sebagai Terapi Genodermatosis Generasi Baru DONI DERMAWAN; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2430.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12908

Abstract

Genodermatosis merupakan penyakit kulit disebabkan oleh faktor genetik yang berkaitan langsung dengan defisiensi struktur dan fungsi kulit. Beberapa jenis genodermatosis diakibatkan oleh adanya keterlibatan multisistem patologis yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi penderitanya. Tingkat insidensi genodermatosis di seluruh dunia yakni antara 1:6000 sampai 1:500.000 dari penyakit kulit secara keseluruhan dan biasanya terjadi sejak lahir dan beberapa terjadi pada usia anak-anak. Keterbatasan akses terapi yang efektif, aman, dan terbukti secara klinis merupakan permasalahan utama dalam penanganan genodermatosis. Terapi gen merupakan fokus utama penelitian sebagai pilihan terapi genodermatosis namun juga memiliki keterbatasan meliputi risiko induksi tumor, pemilihan vektor, ekspresi gen dengan waktu yang singkat, adanya respons imun terhadap terapi gen yang diberikan, terbatas pada penyakit monogenik, dan risiko munculnya efek genotoksisitas. Tujuan dari literature review ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif mengenai teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (iPSC) berbasis metode kultur sel 3D Hanging Drop sebagai generasi baru terapi genodermatosis. Hasil studi menunjukkan Teknologi induced pluripotent stem cell (iPSC) yang dikombinasikan dengan metode kultur sel 3D hanging drop memiliki potensi yang sangat tinggi dalam penanganan penyakit genodermatosis ditinjau dari aspek keamanan berdasarkan profil keunggulan karakteristik koreksi secara genetik dengan mengganti jaringan yang mengalami mutasi dengan jaringan yang telah diprogram ulang. Kata Kunci : 3D hanging drop, Genodermatosis, iPSC (induced Pluripotent Stem Cell) 
Aktivitas Antikanker Prostat Beberapa Tumbuhan Di Indonesia Rena Choerunisa; Eli Halimah
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1842.155 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17459

Abstract

ABSTRAKKanker merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia dengan angka kejadian yang semakin signifikan. Salah satu jenis kanker yang dilaporkan sebagai penyebab kematian utama pada pria setelah kanker paru-paru, yaitu kanker prostat. Untuk mengobati penyakit ini, beberapa terapi telah digunakan, diantaranya kemoterapi, terapi hormon, pembedahan, atau terapi radiasi. Akan tetapi dalam penerapannya, terapi tersebut dinilai masih belum efektif akibat efek samping yang ditimbulkan serta biaya pengobatan yang mahal sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti telah banyak melakukan pengembangan terapi kanker, yaitu dengan memanfaatan herbal sebagai agen antikanker. Dari hasil penelusuran pustaka terhadap tumbuhan-tumbuhan yang memiliki aktivitas antikanker prostat, tumbuhan Sirsak, Jambu Air, Adas, Rosmeri dan Jahe memiliki IC50 masing-masing sebesar 18.2 ppm, 4.59 ppm, 12.5 ppm, 26.6 ppm, dan 88 ppm.Kata Kunci : Kanker prostat, antikanker, herbal, IC50
Terapi untuk Bell’s Palsy Berdasarkan Tingkat Keparahan Chintami Nurkholbiah; Eli Halimah
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.905 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10807

Abstract

Bell’s palsy adalah kelumpuhan akut yang terjadi pada bagian saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.  Tujuan dari penulisan review ini yaitu untuk mengetahui terapi pada kasus Bell’s  palsy berdasarkan Guideline dan tingkat keparahan. Metode yang digunakan yaitu dengan  mencari beberapa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan  topik yang akan dibahas dalam  tulisan ini. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi untuk Bell’s palsy dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berati lebih efektif ketika diberi terapi kombinasi yaitu obat kortikosteroid dengan obat antiviral dibandingkan dengan terapi tunggal yaitu pemberian obat kortikosteroid atau obat antiviral. Dan untuk terapi tunggal, pemberian obat kortikosteroid lebih baik dibandingkan dengan terapi obat antiviral saja.Kata kunci: Bell’s palsy, kortikosteroid, antiviral
Co-Authors Abdul Kholik Tasib Abdul Mutalib Abdul Mutalib Ade Zuhrotun Aep W Irwan Aep W Irwan, Aep W Ahmad Muhtadi Ahmad Muhtadi ALFIA NURSETIANI ALIFIA SYIFA PEBRIANTI Ami Tjitraresmi, Ami Aminah Nurhadiyah Anas Subarnas Andi Wijaya Anna Meiliana Arifah, Gina As'ari Nawawi Aulia, Gina Barliana, Melisa I. Barliana, Melisa I. Budhi Prihartanto California, Salma H. Chaeriadi, Venice Chintami Nurkholbiah Desianti Khoiriyah, Shahnaz Destiani, Dika P. Dika P. Destiani DONI DERMAWAN Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Ellin Febrina Erwin Sasmita Evy Liswati Evy Liswati, Evy Faizatun Maulida Gatera, Vesara A. Gina Arifah Gina Aulia Herawati, Irma E. Irma M. Puspitasari, Irma M. Irma Melyani Puspitasari Irma Pratiwi Ivan S. Pradipta Jajan Solahudin Jajan Solahudin, Jajan Julisiana Sanggelorang Jutti Levita Keri Lestari Lina Nafisah Lutfi Sulaiman Mally G. Sholih Mardhiani, Yanni Dhiani Marline Abdassah Marline Abdassah, Marline MEGANTARA, SANDRA Melisa I. Barliana Melisa I. Barliana Miski A. Khairinisa Muchtaridi Muchtaridi Mutakin Mutakin Naja, Syahrul Nasrul Wathoni Nawawi, Asari Ni Made Susilawati Nia Kurniasih Noviani, Tatat NUR AZIZAH ALI Nurhadiyah, Aminah NURUL ANNISA Nurul Annisa Nyi M. Saptarini Oktarina, Dewi Ria Pani, Sarini Pani, Sarini Peppi Z. Yuzaqi Pradipta, Ivan S. Pratiwi, Irma Puspitadewi, Nurhanifah Putri, Aulia Nur Assyifa Rano K. Sinuraya Rano K. Sinuraya Ratnawati, Rani Rena Choerunisa Rina Triana Rini Hendriani RISDA RAHMI ISLAMIATY Riyadi Adrizain Rizkita Nur Ainun Rizky Abdulah Rumaseuw, Ellen Stephanie Rusdianto, Aziiz M. Ruterlin, Valen Sadli, Nurul Kamilah Salma H. California Saptarini, Nyi M. Sarini Pani Sarini Pani Sasmita, Erwin Sholih, Mally G. Sinuraya, Rano K. Sinuraya, Rano K. SITI SAIDAH Slamet Ibrahim - Sri A Sumiwi Sri A Sumiwi, Sri A Sri A. Sumiwi Sri Adi Sumiwi Sri Hartini Sri Hartini Sriwidodo B, Sriwidodo Sriwidodo Sriwidodo Suhendi, Cece Sumiwi, Sri A. Sumiwi, Sri A. Suseno Amin Suseno Amin, Suseno Syahrul Naja Tania R. Amalia Taofik Rusdiana Tatat Noviani TRAJU NINGTIAS DWI UTARI Valen Ruterlin Venice Chaeriadi Vesara A. Gatera Wahyuni, Indah S. Widyatmoko, Leonardus Winarni, Rina Wiwik Rositawati Wiwik Rositawati, Wiwik Yasmiwar Susilawati Yoppi Iskandar Yuzaqi, Peppi Z. Zahra, Citra Aulia