Claim Missing Document
Check
Articles

Characteristics of Students' Metacognitive Ability in Solving Problems using Awareness, Regulation and Evaluation Components Anita Adinda; Heri Purnomo; Desi Rahmatina; Nur Choiro Siregar
Didaktik Matematika Vol 10, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v10i1.29041

Abstract

The process of solving absolute value problems is not only associated with the simplification of equations or inequalities. Students also need to pay close attention, ask the right questions, carry out the right strategies, and acquire adequate information. This step is essential to prevent students with good metacognitive ability from drawing wrong conclusions. The research discusses the metacognitive characteristics of mathematics education students in solving absolute value problems from the awareness, regulation and evaluation components. Participants consisted of 101 students from four state universities in the city of Malang. Data were obtained through written answers, transcripts of think aloud, and interviews. The data collected were analyzed to determine their metacognitive abilities in terms of awareness, regulation and evaluation components. The result showed that the metacognitive ability of low-skilled students only exists in the awareness component, which is thinking about what is being asked. Furthermore, those medium capable of the awareness component still lack adequate thinking ability. In the regulation and evaluation components, students do not realize that there are still inappropriate steps in solving problems and fail to check the correctness of their answers. However, high-ability students can solve problems in different ways and easily distinguish accurate information using effective strategies. Learn how the metacognitive characteristics of students in solving non-routine absolute value application questions, provides space for educators to be able to create appropriate learning models.
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Matematika Di SMP Negeri 1 Barumun Baru Kabupaten Padang Lawas Nasution, Kalihidir; Suparni, Suparni; Adinda, Anita
JURNAL JENDELA PENDIDIKAN Vol. 5 No. 04 (2025): Jurnal Jendela Pendidikan: Edisi November 2025
Publisher : CV. Jendela Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57008/jjp.v5i04.1873

Abstract

Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan pendidikan. Pembelajaran yang dibedakan adalah salah satu contoh fleksibilitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran yang dibedakan dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMP Negeri 1 Barumun Baru. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi masih terbatas pada aspek kesiapan belajar siswa atau tingkat akademik, tanpa mempertimbangkan gaya belajar dan latar belakang individu siswa. Hal ini menyebabkan penerapan pembelajaran berdiferensiasi belum optimal dalam mengakomodasi seluruh potensi siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran, sebagian besar guru belum memahami bahwa diferensiasi dimulai dari proses pengumpulan informasi tentang kebutuhan, minat, dan profil belajar siswa. Guru cenderung langsung menentukan metode mengajar tanpa dasar data yang memadai.
Studi Komparatif: Perbandingan Literasi Membaca dalam Sistem Pendidikan Dasar di Amerika Serikat dan Indonesia Siregar, Torang; Anita Adinda
DIALEKTIKA PUBLIK Vol. 10 No. 1 (2026): Dialektika Publik: Pelayanan Publik dan Kebijakan Publik
Publisher : Program Studi Administrasi Negara Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/dialektikapublik.v10i1.11123

Abstract

Studi ini menyajikan analisis komparatif sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Indonesia, dengan fokus pada pengembangan literasi membaca peserta didik. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan metode analisis komparatif, studi ini mengkaji dokumen kebijakan, laporan penelitian, dan publikasi ilmiah terkait sistem pendidikan serta program literasi di kedua negara. Temuan mengungkap kesenjangan signifikan dalam capaian literasi, sebagaimana dibuktikan oleh skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2021, yang menunjukkan selisih 141 poin (Amerika Serikat: 520, Indonesia: 379). Perbedaan mendasar teridentifikasi dalam pendekatan sistemik terhadap pendidikan, implementasi inisiatif literasi, serta infrastruktur pendukungnya. Amerika Serikat, dengan sistem federal yang lebih terdesentralisasi, menunjukkan efektivitas melalui program-program berbasis riset yang diakui secara nasional seperti Teachers College Reading and Writing Project (TCRWP). Inisiatif semacam itu telah terdokumentasikan menghasilkan peningkatan rata-rata 25% dalam kemahiran membaca siswa. Sebaliknya, Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan literasi melalui kerangka kebijakan nasional seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan program pelatihan guru yang inovatif, termasuk sertifikasi mikro-kredensial dalam pengajaran literasi, yang telah menjangkau lebih dari 70.000 pendidik. Namun, tantangan tetap ada dalam implementasi yang merata dan kualitas yang setara dari program-program ini di seluruh wilayah geografis kepulauan yang beragam dan luas. Faktor-faktor kunci yang teridentifikasi untuk meningkatkan capaian literasi antara lain kebutuhan akan pengembangan profesi guru yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi, penyediaan sumber daya dan infrastruktur pendidikan yang memadai—seperti akses terhadap bahan bacaan yang beragam—serta adaptasi kontekstual dari program literasi berbasis bukti untuk disesuaikan dengan lingkungan linguistik dan sosio-budaya setempat.