Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Formulasi dan Stabilitas Fisik Sediaan Tablet Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Sanctum L) Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Escherchia Coli dan Staphylococcus Aureus Ardiyanto, Ari Rizki; Saptawati, Tunik; Girsang, Valentina
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4666

Abstract

Kemangi (Ocimum sanctum L.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang banyak dimanfaatkan karena mengandung senyawa aktif, terutama eugenol, yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Eugenol bekerja dengan cara menghambat enzim-enzim penting yang berperan dalam sintesis protein, metabolisme energi, serta biosintesis dinding sel bakteri sehingga pertumbuhan bakteri dapat ditekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun kemangi terhadap uji fisik sediaan tablet serta aktivitas antibakterinya terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sediaan tablet ekstrak daun kemangi diformulasikan menggunakan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 20%, 30%, dan 40%. Evaluasi fisik tablet meliputi pemeriksaan organoleptik, waktu hancur, kekerasan, kerapuhan, keseragaman bobot, serta uji stabilitas sebelum dan sesudah penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tablet memiliki karakteristik bentuk bulat pipih, berwarna hijau, dan berbau khas kemangi. Waktu hancur tablet secara berturut-turut adalah 1,28 detik, 1,14 detik, dan 1,40 detik. Nilai kekerasan tablet berturut-turut sebesar 4,66 kg, 5,10 kg, dan 4,83 kg, sedangkan kerapuhan tablet masing-masing sebesar 0,92%, 0,83%, dan 0,85%, yang seluruhnya memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Uji stabilitas menggunakan uji t-test menunjukkan nilai p>0,05 pada parameter kekerasan, waktu hancur, kerapuhan, dan keseragaman bobot, yang menandakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penyimpanan. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa tablet dengan konsentrasi ekstrak 40% memberikan aktivitas terbaik dengan diameter zona hambat sebesar 22,11 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 21,04 mm terhadap Escherichia coli (p<0,05).
Penetapan Kadar Total Fenolik dan Flavonoid Ekstrak dan Fraksi Ekstrak Kulit Buah Pepaya Muda (Carica papaya L.) Tunik Saptawati; Annisa Dea Ardani; Firstca Aulia Rachma; Sri Suwarni
Jurnal Farmasi & Sains Indonesia Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52216/jfsi.vol8no2p136-143

Abstract

Papaya peel (Carica Papaya L.) is a plant that has several pharmacological activities because it contains secondary metabolites in the form of phenolics and flavonoids. This study aims to determine the total phenolic and flavonoid levels in the extract and fraction of papaya peel using the colorimetric method. The research method for determining total phenolic content with the Folin-Ciocalteu method, using gallic acid as a comparator, and the determination of total flavonoid content using the AlCl3 complex formation method with quercetin as a comparator, both using UV-Visible spectrophotometry. The results of the total phenolic content of the ethanol extract of papaya peel, the water fraction of papaya peel, the ethyl fraction of papaya peel, and the n-hexane fraction of papaya peel were 79.6393%, 65.5173%, 84.5257%, and 48.0085%, respectively. The results of the total flavonoid content of the ethanol extract of papaya fruit peel, the water fraction of papaya fruit peel, the ethyl acetate fraction of papaya fruit peel, and the n-hexane fraction of papaya fruit peel were 55.1744%, 33.2677%, 87.2572%, and 21.1696%, respectively. Based on these results, it can be concluded that the greatest total phenolic and total flavonoid content was in the ethyl acetate fraction of unripe papaya fruit peel extract.
Antibiotic Utilization and Patient with Sepsis Characteristics: A Multicenter Retrospective Study in Semarang Gilang Rizki Al Farizi; Tunik Saptawati; Yovita Dwi Arini; Rizky Budi Santoso; Suci Arsita Sari; Lutfi Defita Sari
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Vol. 23 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinis (JIFFK)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/jiffk.v23i1.14468

Abstract

Sepsis remains a critical global health challenge requiring prompt and appropriate antimicrobial intervention to reduce mortality. Despite established guidelines recommending early broad-spectrum antibiotic administration, empirical prescribing patterns and their alignment with clinical recommendations remain insufficiently documented in Indonesian multicenter settings, particularly in Central Java. This study addresses the knowledge gap by evaluating antibiotic utilization profiles and patient characteristics among hospitalized sepsis cases in Semarang, with emphasis on empirical therapy practices and stewardship implications. A multicenter retrospective observational study was conducted involving 200 sepsis patients meeting predefined inclusion criteria from two hospitals in Semarang during 2019–2023. Data were extracted from medical records and analyzed descriptively, considering inter-hospital variability in prescribing practices. Results demonstrated male predominance (51.5%), elderly population representation (42.5% aged >60 years), multiple comorbidity burden (50.5% with two comorbidities), and moderate hospitalization duration (36% for 3–7 days). Broad-spectrum agents active against both Gram-positive and Gram-negative organisms dominated prescribing patterns (89.4%), while time-dependent antibiotics represented 10.5% of prescriptions. Meropenem emerged as the most frequently prescribed agent (33.3%), administered exclusively via the intravenous route (100%). These findings underscore the importance of structured antimicrobial management and robust de-escalation strategies in local hospital settings to effectively balance necessary empirical coverage with the prevention of antimicrobial resistance
Karakterisasi Kandungan Kalium dan Flavonoid Total Seledri (Apium graveolens L.) Berdasarkan Metode Preparasi Tunik Saptawati; Ayu Aulia; Anifatus Sa'adah; Novita Dwi Dahliyanti; Sri Suwarni
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 5 No 01 (2026): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v5i01.8001

Abstract

Pendahuluan: Seledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman yang mengandung metabolit sekunder polifenol dengan berbagai aktivitas biologis. Selain itu, seledri juga kaya akan kalium yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan berpotensi membantu mencegah hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan kalium serta membandingkan kadar flavonoid total pada ekstrak etanol tanaman seledri (EETS), infusa tanaman seledri segar (ITSS), infusa tanaman seledri kering (ITSK), dan sari tanaman seledri segar (STSS). Metode: Identifikasi kalium dilakukan menggunakan uji warna dan uji nyala. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan secara spektrofotometri UV-Vis dengan metode kolorimetri dan dinyatakan sebagai ekuivalen kuersetin (QE). Hasil: Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tanaman seledri dengan berbagai preparasi, yaitu EETS, ITSS, TSK dan STSS, positif mengandung kalium yang ditunjukkan dengan terbentuknya kristal berbentuk roset pada uji warna dan nyala berwarna ungu pada uji nyala. Kadar flavonoid total yang diperoleh secara berturut-turut adalah 16,7240±0,1898; 0,2662±0,0015; 3,6000±0,0090; dan 0,0019±0,00 mg QE/g. Kesimpulan: EETS, ITSS, TSK dan STSS terbukti mengandung kalium. EETS memiliki kadar flavonoid total tertinggi, sehingga berpotensi menjadi bahan aktif dalam bentuk sediaan yang lebih efektif untuk memperoleh senyawa flavonoid dari seledri.