Claim Missing Document
Check
Articles

Found 48 Documents
Search
Journal : KESMAS

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WALANTAKAN KECAMATAN LANGOWAN. Maradesa, Eirene; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Makanan sehari-hari perlu mengandung cukup energi dan zat yang esensial untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh dan mengatur proses tubuh. Ketiga jenis zat makro berupa karbohidrat, lemak, dan protein menghasilkan energi bagi tubuh melalui proses metabolisme (pembakaran). Sumber energi yang utama adalah karbohidrat dan lemak, sedangkan protein terutama digunakan sebagai zat pembangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional  yang dilaksanakan pada bulan September–November tahun 2014 di Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan dengan total responden sebesar 84 anak berumur 1-3 tahun. Penelitian ini menggunakan kuesioner Food Recall 2×24 Jam, alat timbangan berat badan, pengukuran tinggi badan/microtoice, program SPSS, dan program nutrisurvey sebagai instrument. Asupan energi yang kurang berjumlah 38.09% dan lebih berjumlah 26.19% selanjutnya asupan protein yang kurang berjumlah 10,71% dan lebih berjumlah 63,10% selanjutnya Status gizi menurut umur (TB/U), pendek berjumlah 31% dan normal berjumlah 53,6% selanjutnya status gizi menurut Indeks Massa Tubuh (IMT/U) gemuk berjumlah 3,6% dan normal 96,4%, hasil uji menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan energi dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,139) selanjutnya asupan protein dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan protein dengan status gizi pada anak usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Walantakan. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara asupan energi dan asupan protein dengan status gizi menurut TB/U, IMT/U di wilayah kerja Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan. Kata Kunci : Asupan Energi, Asupan Protein, Status Gizi ABSTRACT Daily food should caontain adeqnate energy and essential nutrition for  reputation types of substances are carbohydrates macro, fats and for the body through metabolic processes (combustion). The main energy source is carbohydrate and fat and protein is mainly used as a builder substance and maintain the cells and tissues of the body. This study was anobservational analytic with cross sectional approach conducted in September-November 2014 in PHC walantakan District Langowan with total subject 84 children aged 1-3 years. this researchuse the questionnaire, Food Recall 2×24 hours, the scale weight, height measurement/microtoice, SPSS and nutrisurvey programas a research instrument. Data processing with Spearman Rank test with α=0,05, CI=95%. Less energy intake amounted to 38,09% and amounted to 26,19%, intake of protein is less amounted to 10,71% and amounted to 63,10% subsequent nutritional status according to age (TB/U), amounting to 31% shorter and amounted to 53,6% next normal nutritional status according to the nutritional status of the index according to the Body Mass Index (IMT/U) amounted to 3,6% fat and 96,4% of normal, test results shows that there is correspondence between energy intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p =0,139) protein intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) address that is notnot related between. There’s no relationship between energy intake and protein intake with nutritional status according to TB/U, IMT/U in the working area of community health center walantakan langowan. Keyword: Energy intake, Protein Intake, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANGTUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOULUAAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Kairupan, Calista A.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) yang diakibatkan karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak terlalu pendek untuk umurnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Populasi yaitu orang tua kandung yang mempunyai balita berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, sehingga di dapati 100 sampel. Variabel stunting diukur menggunakan microtoise dan timbangan digital, kemudian menghitung Z-Score. Hasil penelitian ini diperoleh, status gizi pada15 anak (15,0%) berstatus stunting. Distribusi prevalensi tinggi badan ayah, pada kategori pendek sebesar 3,0%, dan distribusi prevalensi tinggi badan ibu pada kategori pendek sebanyak 8,0% .Berdasarkan hasil uji Fisher’s Exact diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting tidak berdapat hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting dan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Disarankan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan lagi pola makan balitanya dan melakukan pengecekan kesehatan status gizi pada balita secara berkala di puskesmas.Kata Kunci : Orang tua, Stunting, Anak usia 24-59 bulanABSTRACT Toddlers are children aged 0-59 months, at this time marked by a very rapid process of growth and development. Stunting is a failure to grow in children under five (infants under five years) due to chronic malnutrition so that the child is too short for his age. This study aims to determine whether there is a relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency.This research is analytic observational with cross sectional study design. The population is biological parents who have children aged 24-59 months in the Touluaan Health Center work area. Sampling using purposive sampling technique, so that found 100 samples. Stunting variables are measured using microtoise and digital scales, then calculate the Z-Score. The results of this study were obtained, the nutritional status of 15 children (15.0%) was stunting. Distribution prevalence of father’s height, in the short category of 3.0%, and the distribution prevalence of mother’s height in the short category 0f 8.0%. Based on the Fisher's Exact results obtained that there was no relation between father's height with the incidence of stunting, there was no relation between mother’s height with incidence of stunting, and there was no relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of the Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency. It is recommended for parents to pay more attention to their toddlers diet and check the health of nutritional status regularly at the health center. Keywords: Parents, Stunting, Children aged 24-59 months
HUBUNGAN ANTARA USIA PERTAMA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) DENGAN STATUS GIZI BAYI 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TUMINTING Estrelita, Tudus Gabriella; Kawengian, Shirley; Kapantow, Nova
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuh dan kembang bayi sangat berperan penting terhadap makanan, karena bayi pada masa itu sedang dalam masa tumbuh sehingga segala kebutuhan bayi berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. Hal ini sejalan dengan anjuran WHO/UNICEF mengungkapkan antara lain pemberian makanan pendamping ASI yang tepat diberikan sejak bayi berusia 6-24 bulan . Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis adakah hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi bayi 6-12 bulan di Puskesmas Tuminting. Jenis penelitian ini bersifat survey analitik dengan jenis desain cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 82 bayi yang tinggal diwilayah kerja Puskesmas Tuminting dan sampel ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan menggunakan kuesioner tentang usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dan Status Gizi. Analisa data yang digunakan yaitu Uji Sperman dengan n α = 0,05. Berdasarkan hasil uji statistik yang diperoleh terdapat hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi BB/U dan PB/U dengan nilai p value secara berurut (0,043) dan (0,041). Dan tidak terdapat hubungan antara usia pertama pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi BB/PB dengan nilai p value (0,656).Kata Kunci : Usia Pertama,MP-ASI,Status GiziABSTRACTGrowing and developing baby plays an important role to the food, because the baby at that time is in the growing so that all the needs of the baby is different from the needs of adults. This is in line with the recommendations of WHO/UNICEF reveals, among other , the perovision of apporiate breastfeeding food given since aged 6-24 months. The purpose of this sudy is to analyze whether there is a relationship between the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of infants 6-12 months in Tuminting Public Health Center. This type of research is an analytic survey with cross sectional design type. Data from 82 babies in the work area of Tuminting Public Health Center were taken by using purposive sampling technique with questionnaire about first age of complementary feeding of mother’s milk (MP-ASI) and nutritional status based on the result of statistical test (sperman test), obtained there is relationship between the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of BB/U and PB/U (0,043 and 0,041). But there is no relationship between of the first age of complementary feeding of breast milk (MP-ASI) with nutritional status of BB/PB (0,656).Keyword : Age of First,MP-ASI, Nutritional Status.
HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA KEHAMILAN DENGAN BERAT LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ONDONG Jacobus, Cecilia R; Kapantow, Nova H.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi serta ketahanan hidup dari bayi dapat dilihat dari berat badan bayi pada saat lahir. Tiga kategori berat lahir bayi adalah <2500gram disebut BBLR, 2500-3999gram disebut normal, dan >4000gram disebut sebagai bayi besar. Menganalisa pertambahan berat badan ibu selama kehamilan terhadap berat lahir bayi di wilayah Kerja Puskesmas Ondong. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang memeriksakan diri dan melahirkan di Puskesmas Ondong pada bulan Januari 2015 sampai Agustus 2016 yaitu sebanyak 169 subjek. Subjek dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Dengan ini banyak pertimbangan-pertimbangan untuk kepentingan penelitian, pertimbangan yang dimaksud yaitu pertimbangan keterbatasan waktu, keterbatasan tenaga, dan jauhnya lokasi penelitian. Maka besar subjek ditetapkan dengan menggunakan rumus Slovin maka hasil yang didapat dibulatkan menjadi 119 subjek, tetapi karena dibatasi oleh kriteria inklusi dan kriteria eksklusi maka jumlah subjek menjadi 100. Pada uji ini nilai Spearman’s rho r sebesar 0,245 dengan sig. (2-tailed) 0,014 atau lebih kecil dari nilai α= 0,05. Hasil uji dengan nilai ρ value (0,014) kurang dari nilai α (0,05), artinya terdapat hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Ondong.Kata kunci:Berat Badan Ibu, Berat Lahir BayiABSTRACTThe growth and development of a baby and the survival of the baby can be seen from the baby's body weight at birth. Three categories of infant birth weight are <2500gram called LBW, 2500-3999gram is called normal, and> 4000gram is called a big baby. To analyze maternal weight gain during pregnancy for the baby's birth weight in the Ondong Community Health Center. This type of research is observational analytic with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women who examined themselves and gave birth at the Ondong Health Center from January 2015 to August 2016, which were 169 subjects. Subjects in this study using purposive sampling. With this many considerations for the sake of research, the consideration in question is the consideration of time constraints, limited personnel, and the location of the study. Then the subject size was determined by using the Slovin formula so the results obtained were rounded to 119 subjects, but because it was limited by the inclusion criteria and exclusion criteria, the number of subjects became 100. In this test the value of Spearman's rho r is 0.245 with sig. (2-tailed) 0.014 or less than the value of α = 0.05. The test results with a value of ρ value (0.014) is less than the value of α (0.05), meaning that there is a relationship between maternal weight gain during pregnancy and the baby's birth weight in the work area of Ondong Health Center.Keywords: maternal weight gain, baby’s birth weight
FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS ENEMAWIRA KECAMATAN TABUKAN UTARA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Pangalo, Risye Melinda; Asrifuddin, Afnal; Kapantow, Nova H.
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit menular Tuberkulosis Paru. Penyakit TB Paru dapat menular melalui percikan dahak seorang pasien yang menderita TB BTA (Bakteri Tahan Asam) positif (+). Puskesmas Enemawira merupakan puskesmas yang memiliki jumlah kasus Tuberkulosis paru BTA positif tertinggi dibandingkan dengan 16 puskesmas lain yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan jumlah 30 kasus pada tahun 2018. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti bertujuan  mengetahui besar risiko riwayat kontak dengan penderita dan kebiasaan merokok dengan kejadian Tuberkulosis Paru BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Enemawira. Metode penelitian yang digunakan yaitu Case Control Study dengan menggunakan pendekatan retrospective. Sampel yang diambil adalah pasien yang datang berobat ke Puskesmas Enemawira pada bulan Januari - Juli 2018 yang terbagi menjadi kelompok kasus (pasien TB Paru BTA+) berjumlah 30 orang dan kelompok kontrol (TB Paru BTA-) berjumlah 30 orang. Perhitungan Odds Rasio dan Confidence Interval diterapkan dalam penelitian ini. Kata Kunci : Tuberkulosis, Riwayat Kontak dengan Penderita, Kebiasaan Merokok. ABSTRACTMycobacterium tuberculosis is a bacterium that can cause infectious diseases of pulmonary tuberculosis. Pulmonary TB can be transmitted through sputum from a patient who has positive (+) BTA (Acid Resistant Bacteria). Enemawira Health Center is the highest health center with the highest number of positive smear pulmonary tuberculosis cases compared to 16 other health centers in the Sangihe Islands District with a total of 30 cases in 2018. Research conducted by researchers aimed to determine the risk of contact history with patients and smoking habits with events AFB positive pulmonary tuberculosis in the work area of Enemawira Health Center. The research method used is the Case Control Study using a retrospective approach. The samples taken were patients who came to the Enemawira Health Center in January - July 2018 which were divided into 30 cases of cases (pulmonary TB patients with AFB +) and 30 people in the control group (pulmonary tuberculosis TB). Calculation of Odds Ratio and Confidence Interval is applied in this study. Keywords: Tuberculosis, Contact with TB patient, Smoking habit.
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN TOMBATU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Aring, Enjelia S.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi stunting mengalami peningkatan pada tahun 2013 dengan prevalensi sebesar 37,2%. Tiggi badan orang tua menjadi faktor yang berpegaruh terhadap kejadian stunting. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah tinggi badan orang tua berhubungan dengan masalah stunting. Jenis penelitian ini yaitu penelitian observsional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahsa Tenggara, bulan Juli-Oktober tahun 2018. Populasi penelitian ini yaitu semua balita yang berumur 24-59 bulan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa dan jumlah sampel 75 responden. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dan alat ukur tinggi badan. Uji statistik dengan Fisher’s Exact pada a=0,05. Penelitian ini menunjukkan prevalensi ayah pendek dan ibu pendek sebesar 5,3% dan 30,7% dan stunting pada balita berjumlah 42,7%. hasil uji bivariate didapatkan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting. Uji statistik menggunakan Fisher’s Exact didapatkan antara tinggi badan ayah, ibu, orang tua dihubungkan dengan kejadian stunting berturut-turut yaitu p value=0,307, p value=0,451, p value=1,000. Tidak ada hubungan antara tinggi badan ayah, tinggi badan ibu dan tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara.Kata Kunci : Stunting, Tinggi badan ayah, Tinggi badan ibu, AnakABSTRACTStunting prevalence experienced an increase in 2013 with a prevalence of 37.2%. Parental body disease is a factor that influences the incidence of stunting. This study was conducted to see whether parental height was associated with stunting problems. This type of research is analytic observational research with cross sectional approach. This research was carried out in Tombatu District, Southeast Minahsa District, July-October 2018. The population of this study were all toddlers aged 24-59 months in Tombatu District, Minahasa Regency and a total sample of 75 respondents. The sampling technique was purposive sampling with the research instruments used, namely questionnaires and height measuring instruments. Statistical test with Fisher’s Exact at a = 0.05. This study shows the short prevalence of short fathers and mothers by 5.3% and 30.7% and stunting in infants amounted to 42.7%. The results of the bivariate test showed that there was no correlation between father's height and maternal height with the incidence of stunting. Statistical tests using Fisher's Exact were obtained between father's, mother's, parents' height and were associated with consecutive stunting, p value = 0.307, p value = 0.451, p value = 1,000. There was no correlation between father's height, maternal height and parental height with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Tombatu District, Southeast Minahasa RegencyKeyword : Stunting, Father’s height, Mother’s height, Children
HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN PASAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Tumbelaka, Christian; Kapantow, Nova H.; Purba, Rudolf B.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi sebagai indikator yang menentukan apakah anak memiliki status gizi yang baik. Status Sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap pemenuhan gizi, jika pemenuhan gizi keluarga tidak terpenuhi dapat berakibat pada terjadinya penyakit dalam keluarga. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi keluarga dengan status gizi pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Pasan, Kabupaten Minahasa Tenggara. Menggunakan jenis penelitian cross sectional study, populasi penelitian ini yaitu anak usian 25-59 bulan dan sampel yaitu 100 sampel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Ayah yang berpendidikan tinngi sebesar 80%, ibu yang berpedidikan tinngi 76%. Pekerjaan orang tua, ayah semua memiliki pekerjaan sedangkan ibu yang tidak memiliki pekerjaan sebesar 74% dan keluarga yang berpendapatan rendah sebesar 73%. Status gizi pada balita kurang sebesar 7%, balita pendek 19% dan balita kurus 15%. Dari hasil uji statistik didapatkan bahwa, Pendidikan orang tua memiliki hubungan dengan status gizi berdasarkan berat badan menurut umur sedangkan pada tinggi badan menurut umur dan berat badan menurut tinggi badan tidak terdapat hubungan. Pada pekerjaaan ibu dan pendapatan keluarga tidak terdapat hubungan antara status gizi berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan.Kata kunci : Sosial Ekonomi Keluarga, Status GiziABSTRACTNutrition status as indicator y ang determine does the child have good nutritional status . Social status economy family very take effect to fulfillment nutrition , if ent e n u han nutrition family not fulfilled could caused on ter anniversary disease in family . Aim research this is for knowing relationship between family socioeconomic status and nutritional status in children aged 24-59 months in Pasan District, Southeast Minahasa Regency . Using the type of cross sectional study, the research method is children aged 25-59 months and samples are 100 samples. The results of this study indicate that a father with a high education of 80%, a mother with a high education of 76%. Parental work, fathers all have jobs while mothers who do not have jobs are 74% and low income families are 73%. Nutritional status in children under five is less by 7%, short toddlers 19% and underweight toddlers 15%. From the results of statistical tests found that, parental education has a relationship with nutritional status based on body weight according to age while at height according to age and weight according to height no relationship. In my work and family income there was no relationship between nutritional status based on anthropometry index of body weight according to age, height according to age , and body weight according to height.Keywords : Family Socio-Economic, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BAYI 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TATELU KECAMATAN DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA Purba, Elisa A.; Kapantow, Nova H.; Momongan, Nita
KESMAS Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Capaian ASI eksklusif di Provinsi Sulawesi Utara sesuai hasil Riskesdas tahun 2013 untuk pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan adalah 38 %, lebih rendah dari rata-rata nasional (42%). Kematian bayi di Indonesia tiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak kelahirannya. Perbaikan gizi spesifik melalui pemberian ASI eksklusif dapat memperbaiki status gizi bayi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan Status gizi bayi 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Tatelu Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara. Jenis penelitian dengan disain cross sectional. Populasi dan sampel adalah bayi yang berusia 6-12 bulan yang berjumlah 68 orang. Data yang dikumpulkan data pemberian ASI eksklusif dan data antropometri untuk mengetahui status gizi.Analisis data bivariate menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian, yang memberikan ASI eksklusif sebesar 41,2%, dan yang bestatus gizi baik (BB/U) 88,2% dan status gizi kurang sebesar 11,8%. Bayi yang mengalami stunting (pendek)(PB/U) sebesar 22,1%, dan yang gemuk 2,9% (BB/PB). Kesimpulan, terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi (BB/U)(p<0,05). Tidak terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif (p>0,05) dengan status gizi bayi (PB/U dan BB/PB).Kata kunci : ASI eksklusif, Status GiziABSTRACTExclusive breastfeeding achievement in North Sulawesi Province according to Riskesdas 2013 for Exclusive Breastfeeding for infants 0 - 6 months was 38%, lower than the national average (42%). Infant deaths in Indonesia each year can be prevented through exclusive breastfeeding for six months since infant was birth. Specific nutritional improvement through exclusive breastfeeding can improve the nutritional status of infants. The purpose of this research was to find out the relationship of exclusive breastfeeding with infant 6-12 months nutrition status and the working area is Puskesmas Tatelu Dimembe Sub-district of North Minahasa Regency. Type of research is cross sectional design. Population and sample are infants aged 6-12 months, amounting to 68 people. The collected data is exclusive breastfeeding data and anthropometric data to determine nutritional status. Analysis of bivariate using data from Chi-Square test. The results of the research who gave exclusive breastfeeding is 41.2%, and the status of good nutrition (BB / U) is 88.2% and the nutritional status is less than 11.8%. Infants who had stunting (short) (PB / U) is 22.1%, and a fat 2.9% (BB / PB). In conclusion, there was a relationship between exclusive breastfeeding and infant nutritional status (BB / U) (p <0.05). There is no association of exclusive breastfeeding (p> 0.05) with infant nutritional status (PB / U and BB / PB).Keywords: Exclusive Breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6–12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WALANTAKAN KECAMATAN LANGOWAN UTARA KABUPATEN MINAHASA Irot, Rodela A.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekurangan gizi pada balita menempati urutan keempat masalah pada balita. Kasus gizi buruk di Sulawesi Utara tahun 2015 sebanyak 39 kasus, terjadi penurunan dibandingkan tahun 2014 sebanyak 47 kasus. Masalah gizi, khususnya stunting menghambat perkembangan dan berdampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Persentase balita pendek di Indonesia tahun 2013 sebesar 37,2%, tahun 2010 sebesar 35,6% dan tahun 2007 sebesar 36,8%. Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari 6 bulan sebesar 55,7% (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Cakupan ASI ekslusif pada Puskesmas Walantakan sebesar 81,13% dan terdapat 1 balita gizi kurang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki anak umur 6 ? 12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Walantakan berjumlah 51, pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji Fisher's Exact Tests diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak Usia 6 ? 12 bulan menurut indeks BB/U, nilai value yang diperoleh sebesar 0,094, tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak Usia 6 ? 12 bulan menurut indeks PB/U, nilai value yang diperoleh sebesar 1,000, terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak usia 6 ? 12 bulan, nilai value yang diperoleh sebesar 0,021.Kata Kunci: Pemberian ASI Eksklusif, Status GiziABSTRACTMalnutrition is ranked as fourth problem in infants. Malnutrition in North Sulawesi on 2015 was 39 cases, a decrease compared to 2014 was 47 cases. Nutritional problems, especially stunting inhibit the development and negative impact that will take place in the next life. The percentage of stunted toddlers in Indonesia in 2013 was 37.2%, in 2010 was 35.6% and in 2007 was 36.8%. Nationally, exclusive breastfeeding coverage for infants aged less than 6 months is 55.7%. Exclusive breastfeeding coverage at Walantakan Puskesmas is 81,13% and there was a toddler in low nutrition. This research used analytical-survey with cross-sectional approach. The population is all mothers with children 6-12 months who live in working area of Walantakan health center and using total sampling. The sample of this research is 51 samples. Result of this research based on Fisher's Exact statistical tests that there is no relationship between exclusive breastfeeding with nutritional status of children 6-12 months according to index BB/U (?-value=0,094), there is no relationship between exclusive breastfeeding with nutritional status children 6-12 months according to the index PB/U, (?-value=1,000), there is a relationship between exclusive breastfeeding with nutritional status of children 6-12 months, (?-value=0,021).Keywords: Exclusive Breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKSMAS PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Halik, Nabila; Malonda, Nancy S. H.; Kapantow, Nova H.
KESMAS Vol 7, No 3 (2018): Volume 7, Nomor 3, Mei 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan penggunaannya. Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan/panjang badan (TB/PB). Faktor ekonomi yang memengaruhi status gizi di awali dari tingkat pendidikan yang berpengaruh terhadap jenis pekerjaan. Kemudian jenis pekerjaan akan berpengaruh pada pendapatan. Pendapatan yang rendah merupakan kendala bagi keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi, baik segi kualitas maupun kuantitasnya bagi seluruh anggota keluarga. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat Hubungan Antara Faktor Sosial Ekonomi Keluarga (Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan) dengan Status Gizi pada Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pusomaen Kabupaten Minahasa Tenggara. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia 24-59 bulan dengan jumlah 424 balita. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling dengan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus slovin sehingga jumlah sampel yang diambil adalah 100 sampel. Berdasarkan hasil uji statistik Fisher?s Exact Test diperoleh pendidikan ayah (TB/U p = 1,000 , BB/U p = 0,294, BB/TB p = 0,065), pendidikan ibu (TB/U p = 0.141, BB/U p = 0,230, BB/TB p = 0,646), pekerjaan ibu (TB/U p = 0,181, BB/U p = 0,266, BB/TB p = 0,307), serta pendapatan keluarga (TB/U p = 1,000, BB/U p = 0,409, BB/TB p = 1,000). Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, pendidikan ibu, dengan status gizi balita berdasarkan indeks (TB/U, BB/U, BB/TB).Kata Kunci: Sosial Ekonomi Keluarga, Status GiziABSTRACTNutritional status is the state of the body which is the end result of the balance between the nutrients that enter the body and its use. Toddler nutrition status is measured by age, body weight (BW) and height/body length (BH/BL). Economic factors that affect nutritional status start from the level of education affecting the type of work. Then the type of work will affect the income. Low income is an obstacle for families to meet the nutritional needs, both in terms of quality and quantity for all family members. The general objective of this study is to find out whether there is a relationship between family socioeconomic factors (education, employment and income) with nutritional status in children aged 24-59 months in the working area of Pusomaen Pusomaen of Southeast Minahasa Regency. The research design used was observational analytic with cross sectional study design. The population in this study were children aged 24-59 months with the number of 424 children under five. Sampling was done by Purposive Sampling by determining the number of samples using Slovin formula so that the number of samples taken was 100 samples. Based on the results of Fisher's Exact Test statistic obtained by father education (H/A p = 1,000, W/A p = 0,294, W/H p = 0,065), mother education (H/A p = 0,141, W/A p = 0,230, W/H p = 0.646), maternal work (H/A p = 0.181, W/A p = 0.266, W/H p = 0.307), and family income (H/A p = 1,000, W/A p = 0.409, W/H p = 1,000). Conclusion there is no relation between father's job, mother's job, father's education, mother education, with nutritional status of children under the index (H/A, W/A, W/H).Keywords: Socioeconomic Family, Nutritional Status
Co-Authors Aaltje E. Manampiring Aaltje E. Manampiring Aaltje E. Manampiring abram, rani angraini Adisti A. Rumayar Adrian Umboh Agian, Grasila Alexander S. L. Bolang Alimuddin, Nuraini M N Amisi, Marsella D. Anastasia G.A. Kapahang Aring, Enjelia S. Axel Umboh Billy J. Kepel Bolang, Alexander Celeste, Jessica M. Dina Rombot Doda, Diana V.D. Eirene Maradesa, Eirene Elma P. Tonapa Enji Virginia Tampi Ester C. Musa Estrelita, Tudus Gabriella Fatimawali . Grace Korompis Gregoria S. S. Djarkasi Gunawan, Deni Halik, Nabila Hartina, Putri Rahayu Haryanti, Clarista M. Hendra A. Herlambang, Hendra A. Irot, Rodela A. Jacobus, Cecilia R Jeanette I. Ch. Manoppo Josri Mandiangan Kairupan, Calista A. Kairupan, Tara S. Kansil, Trily Ida Lurista Kapojos, Francess W. S. Kaunang, Timothy Abiel Salomo Kawatu, Paul A.T Kawengian, Shirley E.S Kawengian, Shirley ES. Kojongian, Cindy F. Korompis, Grace Esther Caroline Lamia, Filia Lucia C. Mande, Lucia C. Lumente, Kalista Mahardhika, Fajri Makalew, Megawati S. Malonda, Nancy S. H Malonda, Nancy S.H Margareth Sapulete Marsella D. Amisi Marsilia Laila Martha M. Kaseke Maulydia, Nur B. Maureen I. Punuh, Maureen I. Maya S. Putri, Maya S. Meiny O. Manumpil Mokodompit, Erza P. Momongan, Nita Momongan, Nita R, Mulalinda, Chendany W. Murty Ekawaty M, Murty Ekawaty Nancy S. H. Malonda Nancy S.H. Malonda, Nancy S.H. Nasaru, Umria Nelly Mayulu Ngenget, Cindy V. Niode, Nurdjannah Jane Nita R. Momongan, Nita R. Nora Poluan Novita Tombokan Nurdjannah J. Niode Panese, Janitha M. Pangalila, Yesenia Veronika Pangalo, Risye Melinda Pantungan, Mersy Junistia Patimbano, Brenda Lavenia Paul A. T. Kawatu, Paul A. T. Paul A.T Kawatu Paul A.T Kawatu Paul A.T. Kawatu Paul A.T. Kawatu Pratasis, Neni N. Pratiwi, Ageng Ingrit Pua, Tita L.C.A. Punuh, Maureen Irinne Purba, Elisa A. Pusida, Jesika Natalia Ramoh, Andrea Putra Ridzka Cristina, Ridzka Risa K. F. Sahalessy, Risa K. F. Rompas, Sefti S.J. Rondonuwu, Irene R. Rorimpandei, Cindy Ch. Roring, Deiby Olivia Rotty, Linda WA. Rudolf B. Purba, Rudolf B. Rudolf Boyke Purba Rumayar, Adisti Aldegonda Rumende, Mada Sahara, Sri G. Sanggelorang, Sweetly Shirley E. S. Kawengian Shirley Kawengian, Shirley Simangunsong, Nella P Sumakul, Angel Amelia Suryadi N. N. Tatura, Suryadi N. N. Tamalumu, Aprilia Tambajong, Claudia Angel Tampi, Meiny Ledya Tangel, Pricillia T. Thambas, Arthur Harris Tindangen, Brigita F. N. E Tira, Tita O.K. Tirajoh, Injilia P. Toliu, Siti Nurjanah K. Trina E. Tallei, Trina E. Tuda, Joseft Sem Berth Tumbelaka, Christian Tumiwa, Militia Christy Rebcca Turangan, Brenda D. Ughude, Rezka Utari Waani, Miracle B. Warbung, Yanti Yashinta Wariki, Windy M. V. Wungouw, Herlina Ineke Surjane Wungouw, Herlina IS. Yulianty Sanggelorang