Indra Gumay Yudha
Program Studi Sumber Daya Akuatik, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No.1, Kota Bandar Lampung, Lampung 35141, Indonesia

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Status Keberlanjutan Ekowisata Mangrove Tanjung Beo Wanawisata, Desa Merak Belantung, Kalianda, Lampung Selatan Desma Fitriani; Indra Gumay Yudha; Darma Yuliana; Supar mono
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 7, No 1 (2023): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v7i1.15888

Abstract

Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan merupakan desa yang terletak di wilayah pesisir, memiliki salah satu objek wisata, yaitu Ekowisata Mangrove Tanjung Beo Wanawisata. Pengelolaan mangrove Tanjung Beo hingga saat ini dalam pengelolaan wisata mangrove belum optimum sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keberlanjutannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis status keberlanjutan ekowisata mangrove Tanjung Beo Wanawisata dari lima dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastruktur, serta hukum dan kelembagaan) dan mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi indeks keberlanjutan ekowisata mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan ekowisata mangrove Tanjung Beo Wanawisata dalam kategori tidak berkelanjutan dengan nilai indeks rata-rata sebesar 22,29 pada skala berkelanjutan 0-25,00. Dimensi ekologi termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan dengan nilai 50,11, dimensi ekonomi tidak berkelanjutan dengan nilai 13,34, dimensi sosial tidak berkelanjutan dengan nilai 15,49, dimensi teknologi dan infrastruktur tidak berkelanjutan dengan nilai 18,45, dan dimensi hukum dan kelembagaan tidak berkelanjutan dengan nilai 14,07. Atribut yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan ditinjau dari dimensi ekologi yaitu kerapatan mangrove, dimensi ekonomi yaitu kunjungan wisatawan, dimensi sosial yaitu kesadaran masyarakat pentingnya mangrove, dimensi infrastruktur yaitu trek mangrove dan dimensi hukum dan kelembagaan yaitu koordinasi antar lembaga atau stakeholder.
Surveilans WSSV Pada Carrier Dan Perairan Di Pesisir Anyer Dan Carita, Banten Yudha, Indra Gumay; Maulana, Zahri; Indriasih, Indriasih; Maharani, Henni Wijanti; Kusuma, Anma Hari
Journal of Tropical Marine Science Vol 7 No 1 (2024): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v7i1.5179

Abstract

Wilayah pesisir Anyer dan Carita lebih dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Banten, namun di kawasan tersebut juga terdapat panti benih (hatchery) dan tambak udang udang vaname. Keberadaan tambak udang tersebut dapat menurunkan kualitas air dan menjadi sumber penyebaran penyakit udang, seperti white spot syndrome virus (WSSV) yang dapat menularkan ke panti benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan white spot syndrome virus (WSSV) pada lingkungan perairan dan carrier yang terdapat di perairan sekitar tambak udang di wilayah pesisir Anyer dan Carita. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2022 yang berlokasi di perairan sekitar tambak udang wilayah pesisir Anyer dan Carita, Provinsi Banten dengan menggunakan metode deteksi real time-polymerase chain reaction (RT-PCR). Hasil penelitian menunjukkan 4 sampel terdeteksi WSSV dari 70 sampel yang terambil dengan nilai Ct 36,67(1), 35,99(2), 21,14(3) dan 35,61(4). Sampel yang terdeteksi WSSV berlokasi di stasiun 2 dan stasiun 5. Sampel positif ini terdeteksi pada perairan (air laut) dan carrier (teritip dan kelomang).
Status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang Rani, Sulis Tya; Yudha, Indra Gumay; Caesario, Rachmad; Mahardika, SM. A Hari
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 1 No. 1 (2022): Volume 1 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v1i1.8612

Abstract

Ekosistem mangrove di Pesisir Kabupaten Tangerang memiliki fungsi secara ekologi, ekonomi, serta sosial yang harus dikelola dengan tepat agar menjamin keberlanjutannya. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) Menganalisis aspek pendukung dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang dan (2) Mendeskripsikan status keberlanjutan dari berbagai aspek dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret 2021 berlokasi di 6 desa (Kronjo, Patra Manggala, Ketapang, Margamulya, Tanjung Burung dan Tanjung Pasir) di Pesisir Kabupaten Tangerang. Responden sebagai sumber informasi berasal dari pemerintah, masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat terkait penelolaan mangrove yang dipilih menggunakan purposive sampling. Analisa data penentuan status keberlanjutan dan atribut pengungkit menggunakan metode Rapfish dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ekosistem mangrove pada 4 dimensi termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Atribut penunjang yang digunakan untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove yaitu, rehabilitasi sebagai upaya pemulihan ekosistem mangrove, rerata penghasilan terhadap upah minimum masyarakat, anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove, konflik sosial, akses masyarakat lokal terhadap ekosistem mangrove, penegakan hukum dan keterlibatan lembaga masyarakat
Status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang Rani, Sulis Tya; Yudha, Indra Gumay; Caesario, Rachmad; Mahardika, SM. A Hari
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 1 No. 1 (2022): Volume 1 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v1i1.8612

Abstract

Ekosistem mangrove di Pesisir Kabupaten Tangerang memiliki fungsi secara ekologi, ekonomi, serta sosial yang harus dikelola dengan tepat agar menjamin keberlanjutannya. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) Menganalisis aspek pendukung dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang dan (2) Mendeskripsikan status keberlanjutan dari berbagai aspek dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret 2021 berlokasi di 6 desa (Kronjo, Patra Manggala, Ketapang, Margamulya, Tanjung Burung dan Tanjung Pasir) di Pesisir Kabupaten Tangerang. Responden sebagai sumber informasi berasal dari pemerintah, masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat terkait penelolaan mangrove yang dipilih menggunakan purposive sampling. Analisa data penentuan status keberlanjutan dan atribut pengungkit menggunakan metode Rapfish dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ekosistem mangrove pada 4 dimensi termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Atribut penunjang yang digunakan untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove yaitu, rehabilitasi sebagai upaya pemulihan ekosistem mangrove, rerata penghasilan terhadap upah minimum masyarakat, anggaran pemerintah untuk pengelolaan mangrove, konflik sosial, akses masyarakat lokal terhadap ekosistem mangrove, penegakan hukum dan keterlibatan lembaga masyarakat
IDENTIFIKASI CALON INDUK BELUT SAWAH Monopterus albus (Zuiew, 1793) JANTAN DAN BETINA UNTUK PEMBENIHAN DENGAN MORFOMETRIK TRUSS Theresia Santika Deska Nova; Indra Gumay Yudha; Yudha Trinoegraha Adiputra
Jurnal Perikanan Unram Vol 10 No 2 (2020): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v10i2.210

Abstract

Swamp eel Monopterus albus (Zuiew, 1793) breeding was not developed due to limitation of technology. Swamp eel hatchery development may start with male and female eel brood stock differentiation with develop practical method base on morphology. Research conducted to identify morphology differentiation between male and female swamp eel applied truss morphometrics. One hundred male and female swamp eel were used and 18 phenotype characters were measured within head, body and tail parts. Results showed there were 10 phenotype characters able to use as a marker to distinguished male and female swamp eel. Five phenotype characters showed male swamp eel were bigger in size than female swamp eel, included anterior nostril, long of upper jaws to posterior nostril, mouth deep, body and total length. Moreover, five phenotype characters also showed that male swamp eel smaller in compared to female, included length of mouth to posterior of operculum, upper jaws length, head length, vent body width and tail length. In practical, ventral -dorsal of head part able to use as a marker of male swamp eel, in specify characters deep mouth width and stronger jaws appearance. However, female swamp eel was distinguished from longer tail length that related to preparation of gonadal development while adult phase. Body part of male and female swamp eel not able to use as sex marker.
Status Konservasi Spesies Ikan Pari yang Tertangkap Oleh Nelayan di Indonesia (Studi Literatur) Putriani, Rizha Bery; Yudha, Indra Gumay; Diantari, Rara; Danalau, Hanggum Waka; Wibowo, Annisa; Aprillya, Dyah Puspita; Sheptiane, Ivena Putri; Ramdhani, Muhammad Rizal; Rodiyah, Rodiyah; Damaiati, Putri; Nilawati, Nindia Ciandra
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.3696

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak spesies ikan pari, namun hal ini mengancam keberlangsungan hidup spesies tersebut serta mengganggu habitat dan ekosistemnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman ikan pari di berbagai lokasi, menilai status konservasi spesies ikan pari, serta mengetahui jenis ikan pari yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan menganalisis data dari sepuluh artikel yang membahas status konservasi ikan pari di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pari yang paling sering tertangkap adalah Himantura uarnacoides dengan 531 individu dan Dasyatis zugei sebanyak 501 individu. Berdasarkan status konservasinya, sebagian besar ikan pari yang ditemukan tergolong dalam kategori rentan (VU), hampir terancam (NT), terancam punah (EN), dan kritis (CR), sementara beberapa spesies lainnya termasuk dalam kategori tidak dievaluasi (NE) atau data tidak cukup (DD).
Management of marine tourism park based on Community Based Management (CBM) Putriani, Rizha Bery; Hasani, Qadar; Yudha, Indra Gumay; Diantari, Rara; Yuliana, Darma; Caesario, Rachmad; Reza, Muhammad; Julian, David
JURNAL MINA SAINS Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Mina Sains
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jmss.v10i1.9986

Abstract

This research was conducted in Kiluan Village, Kelumbayan District, Tanggamus Regency. This study examines the essence of managing marine park tourism by focusing on the surrounding environment (Community-based Management) in Kiluan Negeri, Tanggamus Regency. The research was conducted by descriptive analysis of qualitative approaches through direct studies (primary data) and existing data (secondary data). Kilian Negeri has beautiful and unique marine resources. Problems in Kiluan Bay are related to economic inequality, limited resources, environmental damage due to garbage, and the threat of natural disasters. The general public still needs to learn how involved they are in managing marine park tourism appropriately and sustainably. The active participation of NGOs, namely the NGO Cikal, plays an important role in managing the Kiluan Bay conservation area. Some Community-Based Management (CBM) strategies that can be done are preparing tourism development plans, developing infrastructure, managing tourist destinations, holding promotions and marketing, developing tourism products, conducting HR training, collaborating with the private sector, and developing integrated tourist areas. Community-based management (CBM) of marine park tourism is based on recognizing the importance of local communities in maintaining the sustainability of the marine environment and obtaining economic and social benefits from the tourism sector.
Perikanan Skala Kecil dalam Mendukung Ekowisata di Teluk Kiluan Reza, Muhammad; Yudha, Indra Gumay; Diantari, Rara; Yuliana, Darma; Julian, David; Putriani, Rizha Bery; Caesario, Rachmad; Hasani, Qadar
Akuatiklestari Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i2.5530

Abstract

Teluk Kiluan memiliki keindahan alam dan sumberdaya alam yang beragam sehingga kawasan ini menjadi destinasi wisata. Selain terdapat kegiatan wisata di Teluk Kiluan juga terdapat aktivitas perikanan tangkap. Aktivitas wisata dan perikanan ini berada dalam satu zona pemanfaatan yang sama. Peningkatan aktivitas wisata dan perikanan tangkap di Teluk Kiluan akan berakibat terjadi degradasi sumberdaya yang ada di sekitar Teluk Kiluan apabila tidak dikelola dengan baik. Aktivitas perikanan tangkap yang ada di Teluk Kiluan yaitu menggunakan alat tangkap longline. Maka aktivitas penangkapan perlu diatur seperti mengetahui tingkat ramah lingkungan alat tangkap longline. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022 di Teluk Kiluan. Metode yang digunkan yaitu dengan snowball sampling dengan analisis data berdasarkan sembilan kriteria alat tangkap ramah lingkungan yang ditetapkan oleh FAO. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu alat tangkap longline tergolong alat tangkap yang sangat ramah lingkungan dengan total skor 30,4 sehingga dalam aktifitas penangkapan ikan menggunakan longline dapat mendukung pengembangan ekowisata di Teluk Kiluan.
FACTORS INFLUENCING THE WELFARE OF RAJUANGAN FISHERMEN IN THE EASTERN COASTAL WATERS OF LAMPUNG PROVINCE Nopendi, Gusti Putu; Yudha, Indra Gumay; Endaryanto, Teguh; Rochana, Erna; Abidin, Zainal
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 1 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i1.1384

Abstract

The objective of this study is to identify the factors influencing the welfare of blue swimming crab fishermen in the eastern coastal region of Lampung Province. The study was conducted in three regencies: East Lampung, Central Lampung, and Tulang Bawang, with a sample of 100 blue swimming crab fishermen. Daily fishermen use boats with a capacity of 1-2 GT, while babangan fishermen use boats with a capacity of more than 2 GT. The average catch for daily fishermen ranges from 1.99 to 3.18 kg per trip during the east season and from 9.08 to 10.33 kg per trip during the west season. Babangan fishermen catch an average of 74 kg per trip during the east season and 222 kg per trip during the west season. The factors influencing the welfare of fishermen during the east season are income level (X1), number of family dependents (X4), housing conditions (D1), ease of access to education (D3), and ease of access to transportation (D4). During the west season, the influencing factors are income level (X1), education level (X3), number of family dependents (X4), age of the head of the family (X5), ease of access to healthcare services (D2), and ease of access to education (D3).
Perubahan Luas Dan Kerapatan Mangrove Di Kawasan Pesisir Kota Serang, Banten Yudha, Indra Gumay; Rahayu, Risma Warni; Yuliana, Darma; Damai, Abdullah Aman
Journal of Tropical Marine Science Vol 8 No 1 (2025): Journal of Tropical Marine Science (on going)
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v8i1.4058

Abstract

Perubahan luas dan kerapatan mangrove memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan fungsi ekosistem di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan luas dan kerapatan mangrove di Kota Serang, Banten. Metode yang digunakan adalah penginderaan jauh melalui interpretasi citra Landsat 5 dan Landsat 8 dengan analisis terhadap perubahan luas dan kerapatan mangrove pada tahun 2011 dan 2021. Prosedur penelitian dilakukan dengan mengelompokkan nilai NDVI ke dalam 3 kelas vegetasi, yaitu jarang, sedang, dan rapat. Selanjutnya dilakukan ground check untuk menguji tingkat akurasi data terhadap tutupan kanopi mangrove dengan metode hemisperichal photography. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akurasi citra pada tahun 2021 sebesar 90%. Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa telah terjadi penurunan luas dan perubahan kerapatan mangrove di Kelurahan Sawah Luhur, sedangkan di Kelurahan Banten justru mengalami peningkatan. Secara umum, di wilayah pesisir Kota Serang terjadi penurunan luas mangrove antara 2011-2021 yang mencapai 13,95 ha dengan penurunan utama terjadi pada mangrove dengan kelas vegetasi jarang (33,14 ha). Sebaliknya, mangrove dengan kategori kerapatan sedang dan rapat justru meningkat hingga 19,19 ha. Penurunan luas mangrove tersebut akibat abrasi alih fungsi menjadi tambak, serta penebangan illegal. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa korelasi nilai NDVI dengan persentase tutupan kanopi memiliki nilai 0,696 yang masuk dalam kategori kuat.