Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT DALAM DARAH MAHASISWA SHIFT D 2016 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN IYAN RIFKY HIDAYAT; Alda Anjella Lady Carina Paska Agatha; Hazna Putri Salsabilla; Umi Azizah; Nicholas Sugianto; Rahadianti Khofii Suwanditya; Bunga Dacilia Harsanti; Afina Dwi Rahmawati; Hanny Latifa; Rano Karya Sinuraya; Dika Pramita Destiani; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.917 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22165

Abstract

Aktivitas fisik merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pergerakan otot rangka dan energi. Selain itu, aktivitas fisik ialah salah satu faktor yang berpengaruh pada sistem hematologi, terutama dalam kadar trombosit seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap jumlah trombosit dalam darah mahasiswa shift D 2016 Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional melibatkan 35 responden untuk pengisian lembar kuesioner Baecke dan pengambilan sampel darah. Hasil yang didapatkan nilai exact sig. (2-sided) sebesar 1.000 yang berarti tidak ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap jumlah trombosit responden.
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP NILAI MCV, MCH, DAN MCHC MELALUI PENDEKATAN INDEKS ERITEMA PADA MANUSIA DENGAN RENTANG UMUR 19-22 TAHUN Cecep Suhandi; Abib Latifu Fatah; Mamay Krisman; Nurfianti Silvia; Annisa Atusholihah; Randy Rassi Prayoga; Ersa Fadhilah; Ameilia Ameilia; Nadila Berliana; Dika Pramita Destiani; Rano Kurnia Sinuraya; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.28617

Abstract

Stres merupakan perasaan tertekan terhadap tuntutan yang sedang dihadapi. Stres juga diketahui mempengaruhi variabel erythron, sistem endokrin, hematopoietik, dan kekebalan tubuh. Status hematopoietik dapat ditentukan melalui pengukuran nilai indeks eritrosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC melalui pendekatan indeks eritema konjungtiva pada manusia normal. Subjek uji pada penelitian ini meliputi 150 mahasiswa farmasi Universitas Padjadjaran dimana 114 sukarelawan dengan data penelitian yang lengkap digunakan sebagai subjek uji akhir. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengecekan tingkat stres dilakukan menggunakan kuisioner stres pada instrumen DASS 42 serta aplikasi image analyzer (MATLAB) digunakan untuk mengukur indeks eritema. Tingkat stres dinyatakan sebagai nilai (skor) hasil pengisian kuisioner dan indeks eritema diketahui sebagai nilai perbedaan intensitas warna merah dan hijau pada konjungtiva mata. Berdasarkan uji Korelasi Pearson didapat nilai signifikansi >0,05 (0,847) yang menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan indeks eritema. Nilai korelasi Pearson -0,018 menandakan bahwa korelasi antara tingkat stres dan indeks eritema bersifat negatif (protective factor) dengan level korelasi sangat rendah. Dengan pendekatan bahwa indeks eritema berbanding lurus dengan nilai indeks eritrosit (MCH, MCV, dan MCHC), maka hasil uji statistik juga menyatakan secara tidak langsung hal yang sama mengenai hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC.Kata kunci: Stres, DASS 42, Indeks Eritema, MATLAB ABTRACTStress is feeling depressed about problem being faced. Stress is also known to affect the erythron, endocrine, hematopoietic, and immune variables. Hematopoietic status can be determined by measuring the erythrocyte index value. This study was conducted to determine the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC through the conjunctival erythema index approach in normal humans. Subjects in this study included 150 pharmacy students from Universitas Padjadjaran where 114 volunteers with complete research data were used as final subjects. The method in this study uses a Cross Sectional approach. Stress level measurement is performed using a stress questionnaire on the DASS 42 instrument and the application of an image analyzer (MATLAB) is used to measure the erythema index. The stress level is expressed as a value (score) from the filling out of the questionnaire and the erythema index is known as the value of the difference in the intensity of the red and green color in the eye conjunctiva. Pearson Correlation statistical test have showed a P-value> 0.05 (0.847) which indicates that there is no significant relationship between the level of stress with the erythema index. The Pearson correlation value of -0.018 indicates that the correlation between the stress level and the erythema index is negative (protective factor) with a very low level of correlation. With the approach that the erythema index is indirectly proportional to the erythrocyte index value (MCH, MCV, and MCHC), the statistical test results also imply the same conclusion about the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC.Keywords: Stress, DASS 42, Erythema Index, MATLAB
Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Rawat Jalan di Fasilitas Kesehatan Rawat Jalan pada Tahun 2015 dengan Metode ATC/DDD Dika Pramita Destiani; Rina Rhofianingrum
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.322 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9287

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang. Banyaknya penderita hipertensi menyebabkan berkembangnya pengobatan untuk penyakit tersebut dan penggunaannya yang sangat banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antihipertensi apa saja yang digunakan dan berapa penggunaannya pada pasien hipertensi rawat jalan di fasilitas kesehatan tahun 2015. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif, berupa data yang didapat dari resep pasien hipertensi. Pengolahan data dilakukan dengan menghitung kuantitas penggunaan antihipertensi menggunakan metode ATC/ DDD. Hasil penelitian menunjukkan jumlah penggunaan antihipertensi tiga terbanyak adalah Amlodipin (171,8 DDD), Irbesartan (47,38 DDD), dan Captopril (40,74 DDD). Kata kunci : antihipertensi, ATC/DDD, rawat jalan
HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KADAR LEUKOSIT, LIMFOSIT, MONOSIT DAN GRANULOSIT PADA MAHASISWA FARMASI UNPAD SHIFT B 2016 Dian Amalia Maharani; Irsarina Rahma; Utari Yulia Alfi; Nia Kurniasih; Syara Nur Fitri Balqist; Sifa Muhammad Yusuf; Hanifa Rifdah Aiman; Maura Syafa Islami; Kiara Puspa Dhirgantara; Rano Kurnia Sinuraya; Dika Pramita Destiani; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.21 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22048

Abstract

Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, dimana melibatkan beberapa faktor yang dapat dilihat melalui skor dari kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur terhadap kadar leukosit, limfosit, monosit, dan granulosit dalam darah. Metode penelitian ini menggunakan pengisian kuesioner PSQI dan pengukuran kadar leukosit, limfosit, monosit, dan granulosit menggunakan Haematology Analyzer. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan analisis menggunakan uji korelasi fisher’s exact adalah sig. 0,009 untuk leukosit, sig. 0,031 untuk limfosit, 0,000 untuk monosit, dan 0,012 untuk granulosit. Dapat disimpulkan hasil sig sebesar <0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kadar leukosit, limfosit, monosit dan granulosit.Kata Kunci: Kualitas Tidur, PSQI, Kadar Leukosit
ARTICLE REVIEW: EFEK TERAPETIK AKUPUNTUR PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS TIPE-2 Maretty Erwanta Roulina Manik; Asti Yunia Rindarwati; Dika Pramita Destiani
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.38800

Abstract

Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu isu kesehatan global. Dalam satu decade terakhir menunjukkan bahwa terapi DMT2 kurang memuaskan sehingga diperlukan adanya terapi alternatif. Salah satu terapi alternative yang dapat digunakan adalah akupunktur. Akupunktur merupakan salah satu pengobatan tradisonal Cina yang sudah luas digunakan dalam penanganan DMT2, namun belum banyak artikel membahas khasiat terapi akupunktur dibandingan dengan pengobatan antidiabetic pada pasien DMT2. Artikel ini bertujuan untuk memuat bukti-bukti uji klinis khasiat akupunktur dalam terapi pasien DMT2. Sebanyak 3 artikel yang memuat uji klinis dan uji acak terkontrol yang dieproleh secara elektronik melalu situs PubMed selama 10 tahun terakhir. Hasil studi ini menunjukkan bahwa akupunktur terbukti dapat memperbaiki kadar glukosa darah, berat badan, dan sensitivitas insulin pasien DMT2 melalui mekanisme antiinflamasinya. Berdasarkan hasil ini, disimpulkan bawa intervensi akupunktur dalam terapi pasien DMT2 dapat meningkatkan outcome pengobatan pasien DMT2 dan direkomendasikan untuk diimplementasikan sebagai pengobatan tambahan DMT2 di Indonesia.Kata kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2), Kadar gula darah, Sensitivitas insulin
ULASAN ARTIKEL: KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DARI BERBAGAI JENIS VAKSIN COVID-19 YANG BEREDAR DI INDONESIA : ARTICLE REVIEW: ADVERSE EVENT FOLLOWING IMMUNIZATION (AEFI) FROM VARIOUS TYPES OF COVID-19 VACCINES IN INDONESIA Syahrul Hidayat; Asti Yunia Rindarwati; Dika Pramita Destiani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.475

Abstract

Coronavirus Disease-19 (COVID-19) merupakan masalah kesehatan masyarakat serius yang telah menjadi pusat perhatian global sejak akhir 2019. COVID-19 merupakan pandemi yang menyebabkan komplikasi medis yang parah bahkan kematian di seluruh dunia pada beberapa kasus. Strategi penanggulangan yang paling efektif untuk mengatasi COVID-19 saat ini adalah pemberian vaksin COVID-19 yang efektivitasnya telah terbukti secara global. Beberapa vaksin COVID-19 di Indonesia yang telah beredar seperti Pfizer BioNTech®, Moderna, AstraZeneca, dan Coronavac telah memberikan perlindungan di masyarakat dengan merangsang respons kekebalan tubuh. Akan tetapi, pada beberapa kasus, vaksin-vaksin tersebut juga dapat menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan setelah pemberiannya yang dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Artikel ini mengulas KIPI yang didapat dari artikel pada database PMC dan ScienceDirect dengan kriteria inklusi berupa artikel uji klinis pada 1 tahun terakhir dan berbahasa inggris. Ulasan ini mengeksklusi artikel review. Didapat 404 artikel tentang KIPI vaksin COVID-19 dan hanya 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. KIPI akibat vaksin COVID-19 dapat terjadi secara lokal maupun sistemik. KIPI lokal yang umum terjadi di antaranya nyeri, kemerahan, dan bengkak di situs injeksi sedangkan KIPI sistemik yang umum terjadi adalah demam, nyeri otot dan sakit kepala. KIPI lain yang mungkin terjadi di antaranya diare, mual, dan muntah. selain itu, beberapa vaksin berpotensi mengakibatkan limfadenopati unilateral, bells palsy, serta trombosis vena serebral. Namun, perlu data yang lebih kuat untuk membuktikan bahwa reaksi sistemik tersebut terjadi akibat vaksin COVID-19. KIPI terjadi pada resipien dengan usia lebih muda. Frekuensi KIPI bertahan rata-rata pada 1-2 hari dengan tingkat keparahan ringan sampai sedang.
Pengetahuan dan Persepsi Apoteker Terhadap Penggunaan Obat Off-Label di Indonesia: Pharmacist's Knowledge and Perception of Off-Label Drugs Use in Indonesia Dwi Aulia Ramdini; Sarmoko; Ihsanti Dwi Rahayu; Muhammad Iqbal; Ramadhan Triyandi; Dika Pramita Destiani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 6 No. 01 (2023): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.807 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v6i01.2219

Abstract

Off-label drugs are generally used in clinical practice but require close monitoring by health workers, especially pharmacists. Pharmacists need knowledge regarding the potential benefits and dangers of off-label medications to ensure the safety of drug users. This study aims to determine pharmacists' knowledge and perceptions of using off-label drugs in Indonesia. The study design used in this study was a cross-sectional study with an analytic observational approach using off-label drug-related questionnaires conducted online. Results of this study a total of 174 pharmacist respondents filled out a complete questionnaire with the result that 86% of the respondents had good knowledge regarding off-label drugs, and the rest were classified as poor (14%). Pharmacist respondents said they focused on safety (96.55%), efficacy (86.55%), medication history (72.99%), cost efficiency (61.49%), and also the target population (32.76%) in the use of off-label drugs. Based on factor analysis, the experience of preparing off-label drugs was significantly related to respondents' knowledge (p=0.041). In contrast, the factors of gender (p=0.777), age (p=0.677), last education (p=0.801), and years of service (p=0.541) there is no significant relationship. Conclusions of this study is The majority of pharmacist respondents in this study had good knowledge regarding the use of off-label drugs and agreed that pharmacists play an important role in monitoring the side effects of off-label use. In addition, almost all pharmacist respondents perceived that drug safety was the dominant factor for the consideration of off-label drug use. ABSTRAK Obat off-label umumnya digunakan dalam praktik klinis, namun dalam penggunaannya diperlukan pemantauan yang ketat oleh tenaga kesehatan, khususnya oleh apoteker. Pengetahuan terkait manfaat dan bahaya obat off-label diperlukan apoteker dalam menjamin keamanan dan keselamatan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi apoteker terhadap penggunaan obat off-label di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik melalui penggunaan kuesioner terkait obat off-label yang dilakukan secara online. Hasil penelitian sebanyak 174 responden apoteker terdapat 86% responden memiliki pengetahuan yang baik terkait obat off-label, dan sebagian lainnya tergolong kurang baik (14%). Responden apoteker menyatakan memiliki fokus terhadap faktor keamanan (96,55%), kemanjuran (86,55%), riwayat pengobatan (72,99%), efisiensi biaya (61,49%), dan target populasi (32,76%) dalam penggunaan obat off-label. Berdasarkan analisis faktor, pengalaman menyiapkan obat off-label berhubungan signifikan terhadap pengetahuan responden (p=0,041), sedangkan faktor jenis kelamin (p=0,777), umur (p=0,677), pendidikan terakhir (p=0,801), dan masa kerja (p=0,541) tidak terdapat hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah mayoritas responden apoteker memiliki pengetahuan yang baik terkait penggunaan obat off-label dan menyetujui bahwa apoteker berperan penting dalam monitoring efek samping penggunaan off label. Selain itu, hampir keseluruhan responden apoteker memiliki persepsi dimana faktor pertimbangan penggunaan obat off-label yang dominan adalah faktor terkait keamanan obat.
REVIEW: MEDICINAL PLANTS WITH PHARMACOLOGICAL ACTIVITY AS ANTIPYRETIC Nurdiani Adiningsih; Dika Pramita Destiani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.847

Abstract

Fever is a medical condition characterized by an increased body temperature beyond the normal range of 36 – 37°C. If not managed appropriately, fever may lead to complications in therapy. The conventional treatment for fever involves using antipyretics such as paracetamol/acetaminophen, and ibuprofen. However, prolonged use of these synthetic medications may have adverse side effects. Consequently, more patients are turning to herbal medicine to manage fever. This review aims to identify medicinal plants with pharmacological activity as antipyretics. We conducted a systematic literature review using Google Scholar as the search engine database. Our search keywords were “tanaman herbal”, “antipiretik", “penurun demam", and "uji aktivitas antipiretik". In this review, a total of 18 articles were meticulously analyzed. The collective findings from these studies demonstrated that all tested medicinal plants exhibited antipyretic activity. Flavonoids, tannins, and terpenoids were the primary constituents responsible for the observed antipyretic activity. Medicinal plants with alkaloids and steroid content were also believed to exhibit antipyretic activity. Keywords: fever, antipyretics, medicinal plants
ULASAN ARTIKEL: KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DARI BERBAGAI JENIS VAKSIN COVID-19 YANG BEREDAR DI INDONESIA : ARTICLE REVIEW: ADVERSE EVENT FOLLOWING IMMUNIZATION (AEFI) FROM VARIOUS TYPES OF COVID-19 VACCINES IN INDONESIA Syahrul Hidayat; Asti Yunia Rindarwati; Dika Pramita Destiani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.475

Abstract

Coronavirus Disease-19 (COVID-19) merupakan masalah kesehatan masyarakat serius yang telah menjadi pusat perhatian global sejak akhir 2019. COVID-19 merupakan pandemi yang menyebabkan komplikasi medis yang parah bahkan kematian di seluruh dunia pada beberapa kasus. Strategi penanggulangan yang paling efektif untuk mengatasi COVID-19 saat ini adalah pemberian vaksin COVID-19 yang efektivitasnya telah terbukti secara global. Beberapa vaksin COVID-19 di Indonesia yang telah beredar seperti Pfizer BioNTech®, Moderna, AstraZeneca, dan Coronavac telah memberikan perlindungan di masyarakat dengan merangsang respons kekebalan tubuh. Akan tetapi, pada beberapa kasus, vaksin-vaksin tersebut juga dapat menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan setelah pemberiannya yang dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Artikel ini mengulas KIPI yang didapat dari artikel pada database PMC dan ScienceDirect dengan kriteria inklusi berupa artikel uji klinis pada 1 tahun terakhir dan berbahasa inggris. Ulasan ini mengeksklusi artikel review. Didapat 404 artikel tentang KIPI vaksin COVID-19 dan hanya 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. KIPI akibat vaksin COVID-19 dapat terjadi secara lokal maupun sistemik. KIPI lokal yang umum terjadi di antaranya nyeri, kemerahan, dan bengkak di situs injeksi sedangkan KIPI sistemik yang umum terjadi adalah demam, nyeri otot dan sakit kepala. KIPI lain yang mungkin terjadi di antaranya diare, mual, dan muntah. selain itu, beberapa vaksin berpotensi mengakibatkan limfadenopati unilateral, bells palsy, serta trombosis vena serebral. Namun, perlu data yang lebih kuat untuk membuktikan bahwa reaksi sistemik tersebut terjadi akibat vaksin COVID-19. KIPI terjadi pada resipien dengan usia lebih muda. Frekuensi KIPI bertahan rata-rata pada 1-2 hari dengan tingkat keparahan ringan sampai sedang.
REVIEW: MEDICINAL PLANTS WITH PHARMACOLOGICAL ACTIVITY AS ANTIPYRETIC Nurdiani Adiningsih; Dika Pramita Destiani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.847

Abstract

Fever is a medical condition characterized by an increased body temperature beyond the normal range of 36 – 37°C. If not managed appropriately, fever may lead to complications in therapy. The conventional treatment for fever involves using antipyretics such as paracetamol/acetaminophen, and ibuprofen. However, prolonged use of these synthetic medications may have adverse side effects. Consequently, more patients are turning to herbal medicine to manage fever. This review aims to identify medicinal plants with pharmacological activity as antipyretics. We conducted a systematic literature review using Google Scholar as the search engine database. Our search keywords were “tanaman herbal”, “antipiretik", “penurun demam", and "uji aktivitas antipiretik". In this review, a total of 18 articles were meticulously analyzed. The collective findings from these studies demonstrated that all tested medicinal plants exhibited antipyretic activity. Flavonoids, tannins, and terpenoids were the primary constituents responsible for the observed antipyretic activity. Medicinal plants with alkaloids and steroid content were also believed to exhibit antipyretic activity. Keywords: fever, antipyretics, medicinal plants
Co-Authors Abednego Kristande Abib Latifu Fatah Abib Latifu Fatah Adham Rizki Ananda Afifah Tri Ambarwati Afina Dwi Rahmawati AINI QOLBIYAH AFGANI Alda Anjella Lady Carina Paska Agatha ALIA RESTI AZURA Ameilia Ameilia Amelia, Nisa Ayu Anggi, Joseph Fide Annisa Atusholihah Arifa, Irbah Arista, Dwi Yuri Asti Yunia Rindarwati Asti Yunia Rindarwati Berliana, Nadila Billy Dwi Saputra Bunga Dacilia Harsanti Cecep Suhandi Dede Jihan Oktaviani Dewi Ria Oktarina DIAH SITI FATIMAH Dian Amalia Maharani Dinda Juliana Dinda Meviansyah Dwi Aulia Ramdini Dwi Yuri Arista El Yahya, Idzni Rusydina Elisabeth, Erlin Elisha Wianatalie Erica Willy Ersa Fadhilah Fatah, Abib Latifu Firda Riska Rahayu Firda Silvia Pramashela Gabriella Josephine Maranatha Gabriella Livia Amanda Hadad, Nur Diana Hanifa Rifdah Aiman Hanny Latifa Hazna Putri Salsabilla Ihsanti Dwi Rahayu Imam Adi Wicaksono Imam Adi Wicaksono Imam Adi Wicaksono IMAM ADI WICAKSONO, IMAM ADI INDRASWARI PITALOKA Irsarina Rahma Ivan Surya Pradipta IYAN RIFKY HIDAYAT Izzah Al Mukminah JACKIE KANG SING LUNG Jamaica, Putri Avanny Josephine, Gabriella KIARA DIRGANTARA Kiara Puspa Dhirgantara KURNIASARI, NADYA GALUH Listiani, Nita Maharani, Shafa Shaomi Mamay Krisman MARETTY ERWANTA ROULINA MANIK MAURA SYAFA ISLAMI MAYA, IRA Muhammad Iqbal Mukminah, Izzah Al Nadila Berliana Nadila Berliana Nadira Hasna Putri Natasha Salsabila Nia Kurniasih Nicholas Sugianto Nida Adlina Fadhilah Nurdiani Adiningsih Nurfadila, Firda Shafira Nurfianti Silvia NURHAYATI . Nurhayati Nurhayati Nyi Mekar Saptarini Pardosi, Yessica Pramashela, Firda S QUINZHEILLA PUTRI ARNANDA Rahadianti Khofii Suwanditya Rahmani, Syifa Luthfiyah Ramadhan Triyandi Randy Rassi Prayoga Rania Aisha Nuralisa Rano Karya Sinuraya RANO KURNIA SINURAYA Riana Kamer Rina Rhofianingrum Rindarwati, Asti Yunia Salsabila, Lyansaputri Saputra, Billy Dwi SAQILA ALIFA RAMADHAN Sarmoko Sarmoko SHAFIRA SHAFIRA SHELLA WIDIYASTUTI SHINTA LESTARI Sidharta, Kenny Dwi Sifa Muhammad Yusuf Soleh, Soleh Syahrul Hidayat Syara Nur Fitri Balqist Umi Azizah UTARI YULIA ALFI