Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Model Sinau Bareng pada Jamaah Maiyah dalam Konteks Demokrasi dan HAM Yuni Suprapto; Masrukhi Masrukhi
Jurnal Ilmiah KONTEKSTUAL Vol. 4 No. 01 (2022): Agustus
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/kontekstual.v4i01.749

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsiskan Model Sinau Bareng Jamaah Maiyah yang kemudian di bedah dalam perspektif Demokrasi dan HAM. Metode menggunakan kajian konseptual studi literasi. Hasil kajian konseptual, ada empat konsep yang asal oleh pendiri Maiyah yakni Cak Nun, empat konsep yakni; 1) Maiyah boleh dihadiri oleh semua manusia tanpa batasan identitas, keilmuan, profesi, maupun secara struktur; 2) semua jamaah bebas untuk bersuara, bebas bertanya dan bebas menjawab sesuai dengan kapasitas dan keilmuannya masing-masing; 3) setiap kegiatan sinau bareng bebas untuk memasukkan atau menyisipkan kesenian apapun, hal ini cukup berbeda dengan konsep-konsep pengajian mainstream; 4) tidak pernah disimpulkan sepihak, diskusi para jamaah yang hadir dituangkan dalan kegiatan sinaui bareng dalam konteks kehidupan. Kegiatan sinau bareng atau disebut Maiyahan selalu mengakomodir dan mewadahi keberagaman manusia, keragaman masyarakat, keberagaman budaya, bahkan keberagaman yang sifatnya luas yakni keberagaman universal.
Konsep Neo-Sufisme pada Komunitas Maiyah Galuh Kinasih Bumiayu (Studi Kasus Sinau Bareng Edisi Maret 2023) Yuni Suprapto; Wasino Wasino; Trhiwaty Arsal; Sugeng P
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menjelaskan konsep sufistik yang dilakukan oleh komunitas keagamaan Maiyah Galuh Kinasih, konsep sufistik di dasarkan pada terminology segitiga cinta kasih antara Allah, Muhammad, dan Manusia. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif pendekatan kajian literature dan observasi partisipatif pada edisi Maret 2023, tujuan penelitian ini untuk menemukan konsep neosufistik Maiyah Galuh Kinasih. Hasil penelitian, Neo-sufisme di Maiyah Galuh Kinasih tercermin dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan seperti Sinau Bareng, diskusi dan pengajian modern yang memadukan religiusitas, akademik, seni, dan budaya. Akar dari neo sufisme Maiyah Galuh Kinasih adalah terminology segitiga cinta kasih yakni antara Allah, Rasulullah dan Manusia yang di sampaikan Cak Nun. Maiyah Galuh Kinasih konsep neo sufisme nya sesuai dengan yang disampaikan oleh Buya Hamka, Rahman dan Ibnu Tamimiyyah.
Sinau Bareng With Cak Nun And Kiai Kanjeng In Religious Diversity Perspective (Case Study Of Sinau Bareng Activities Implementation In Batu Malang City 41177 Edition) Yuni Suprapto; Wasino Wasino; Thiwaty Arsal; At. Sugeng P
International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 8 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinau Bareng with Cak Nun and Kiai Kanjeng (CNKK), an interesting phenomenon when Sinau Bareng activity with CNKK on 41177 editions in Batu Malang City, there was a Transgender attending the recitation, it was very rare, the authors are interested in dissecting it using a diversity perspective. Cak Nun responded to Mirel phenomenon that he has gave the congregations with attitude of a verse in Qur’an; ya ayyuhan naas inna kholaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alanakum syu’uban wa qabaaila lita’arafuu, that Allah created humans with male and female potential. As stated in the verse; zakarin (manlike), not mudzakkarin (male). According to the author, the value taken from the events of Sinau Bareng with Cak Nun and Kiai Kanjeng 4117 editions in Batu Malang, is that we should not consider and discriminate other people or humans by assuming that we are superior to others. The analysis of diversity and social studies is that the Sinau Bareng activity with Cak Nun and Kiai Kanjeng (CNKK) accommodates the substantive of diversity value; from a humanitarian point of view. The conclusions of quantitative and qualitative social analysis, that; Malang Community – Mirel (Transgender) = Negative (Does not accommodate Diversity) CNKK - Jamaah Maiyah (recitation) = Positive interaction (accommodates diversity) with members from various backgrounds and social statuses. Mirel – Environment = Positive Interaction (planting orchids and releasing shrimp in the river, able to preserve the environment). CNKK - Mirel = Positive Interaction (accept Mirel As a human being that the same as other).
MODEL PEMBERDAYAAN PENGRAJIN KAYU DALAM PEMBUATAN EDUCATION TOYS Yuni Suprapto, Eka Farida Fasha, Umi Chabibahtus Z &
Adi Widya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2017): ADIWIDYA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/awpm.v1i1.1935

Abstract

Kegiatan IbM yang diusulkan bertujuan membentuk dan mengembangkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan limbah kayu menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis tinggi. Permasalahan prioritas yang akan ditangani dalam kegiatan IbM ini adalah: bagaimana membentuk system pemberdayaan pengrajin kayu sehingga dapat mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Target khusus dari kegiatan IbM ini adalah : 1) Kesadaran dan motivasi mitra, akan dampak limbah kayu yang mengganggu masyarakat, sebenarnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, 2) pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan kreativitas mitra untuk dapat membuat produk mainan edukasi dari limbah kayu yang berkualitas, bernilai seni dengan desain unik dan beragam dapat meningkat, 3) kemampuan mitra untuk melakukan kegiatan promosi untuk mengenalkan produk mainan edukasi dari limbah kayu kepada konsumen potensial dengan menggunakan berbagai media dapat meningkat. Metode pendekatan yang digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra adalah dengan metode pelatihan, pendampingan, penyuluhan. Hasil kegiatan dalam program IbM yang diusulkan berupa model pemberdayaan yaitu, 1) pengolahan limbah kayu dan peningkatan kualitas produk olahan kayu. 2) peningkatan pengetahuan desain olahan limbah kayu dan penerapan teknologi berupa alat produksi. 3) keberlanjutan pendampingan dalam pembutan dan pemasaran produk education toys.Keywords: pengrajin kayu, limbah kayu, Education Toys.
Implementasi Interaksi Sosial dan Kearifan Lokal dalam Konservasi Lingkungan Kampung Sasirangan Banjarmasin Melly Agustina Permatasari; Yuni Suprapto; Deka Setiawan; Dewi Liesnoor Setyowati
Jurnal Kawistara Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.v11i2.62946

Abstract

Local wisdom has been associated with environmental conservation. How local wisdom and social practice shape determine environmental conservation is apparent in the the communities living along the rivers in Banjarmasin Sasirangan. Based on a qualitative approach with case studies of Sasirangan craftsmen. In Sasirangan Village, Banjarmasin City, this study aims to analyses the correlation between social interaction, local wisdom, and environmental conservation Sasirangan. The informants are craftsmen and Sasirangan traders. The data was collected through observation, interviews with craftsmen and Sasirangan traders, as well as documents study. This study concludes that the social interactions occur between craftsmen and craftsmen, craftsmen and groups of craftsmen, and between groups of craftsmen by collaborating in making Sasirangan products and competition in determining the color, motif and Sasirangan marketing. In this process, local culture plays a key role in the form of Sasirangan cloth which has various colors and motifs with certain meanings which are continuously produced, preserved and passed down from generation to generation This creates a mechanis of social interaction and local wisdom that promotes environmental conservation through the cooperation between craftsmen in the manufacture of Sasirangan products using natural colors from nature that are environmentally friendly. By not using chemical coloring, the practice reduces the pollution of river environment in Sasirangan Village, Banjarmasin.
The Value of Character Education in The Ramatambak Puppet Story as a Medium for Learning The Character of Students Suprapto, Yuni; Mulianingsih, Ferani; Astuti, Andarweni; M. Nur, Dany Miftah; Setiyoko, Didik Tri
IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching Vol 6, No 2 (2022): IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v6i2.16101

Abstract

This paper uses a literature study approach, by dissecting the story of the Wayang Rama Tambak which is analyzed using the theory of character education according to Lickona and Character Education. Lickona's theory is; 1) Love of kindness; 2) Affection; 3) Dare; 4) The value of hard work; 5) Honest; 6) Justice; 7) Value of Responsibility; 8) Cooperation Value. As for the theory of character education values according to Ki Hajar Dewantara, there are also seven that can be imitated from the Rama Tambak puppet story, along with the analysis; 1) Exercise of the Heart (Ethics); 2) Thought (Literacy; 3) Leadership; 4) Gotong Royong; 5) Trust; 6) Nationalists; 7) Character. Wayang is an original Indonesian heritage which contains various character education values that can be used as role models for students, especially elementary school children. This character habituation can be accustomed by imitating the characters or puppet figures.
INTERNALISASI NILAI-NILAI ISLAM KOMUNITAS ABOGE KEPADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI DESA CIKAKAK KECAMATAN WANGON KABUPATEN BANYUMAS Suprapto, Yuni; Nur, Dany Miftah M; Retno, Desi; luqman, Muh
IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching Vol 4, No 1 (2020): IJTIMAIYA : Journal of Social Science and Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v4i1.7218

Abstract

Desa Cikakak merupakan salah satu desa di Kabupaten Banyumas yang dikategorikan sebagai Desa Adat. Dikatakan Desa Adat karena unsur kebudayaan yang masih merekat erat pada masyarakatnya di tengah perkembangan zaman. Salah satu bentuk kebudayaan yang dapat dilihat adalah dengan adanya komunitas Islam Aboge yang memiliki tradisi maupun adat istiadat yang berbeda dari desa lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) Bagaimana internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia sekolah dasar. 2) Kendala yang dihadapi dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia Sekolah Dasar. Penelitian mengunakan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan datanya yaitu dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia sekolah dasar dilakukan secara langsung dan tidak langsung pada saat pelaksanaan tradisi maupun peringatan hari besar keagamaan. Penanaman nilai-nilai Islam dilakukan melalui pemberian pengetahuan dan pemahaman, melalui teladan dan melalui pembiasaan. Nilai-nilai Islam yang ditanamkan di antaranya; Nilai Aqidah, Nilai Syariah, dan Nilai Akhlak. Kedua, terdapat dua faktor yang menjadi kendala dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge yaitu faktor lingkungan dan faktor teknologi.Kata kunci: ABOGE, Internalisasi, Nilai-Nilai Islam, Anak Usia Sekolah Dasar,CikakakCikakak Village is one of the villages in Banyumas Regency which is categorized as a Customary Village. It is said by the Customary Village because the cultural elements which are still closely adhered to the people in the midst of the times. One form of culture that can be seen is the existence of the Aboge Islamic community which has traditions and customs that are different from other villages. This study aims to describe: 1) How to internalize the Islamic values of the Aboge community to elementary school age children. 2) Constraints faced in the process of internalizing the Islamic values of the Abogek community to elementary school age children. Research uses a qualitative approach, a type of case study. The data collection is done by observation, interview, and documentation. The data analysis techniques are data reduction, data presentation and conclusion drawing. Checking the validity of the data is by triangulation of sources and triangulation of techniques. The results of the study show: First, the process of internalizing the Islamic values of the Aboge community to primary school-age children is carried out directly and indirectly during the implementation of traditions and commemoration of religious holidays. The inculcation of Islamic values is done through the provision of knowledge and understanding, by example and through habituation. Islamic values that are instilled include; Aqeedah values, Sharia values, and moral values. Second, there are two factors which become obstacles in the process of internalizing the Islamic values of the Aboge community, namely environmental factors and technological factors.key word: Internalisation, Islamic Values, Elementary School Age Children, Cikakak
Study on Disaster Mitigation in the Tambak Lorok Fisherman Village Community Mulianingsih, Ferani; Astuti, Andarweni; Pujiati, Amin; Suprapto, Yuni
Journal of Management and Business Environment (JMBE) Vol 6, No 2: January 2025
Publisher : Soegijapranata Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/jmbe.v6i2.11099

Abstract

There are many SMEs in the area of Tambak Lorok Semarang City that produce processed seafood products. Most of them have been using simple processing and packaging methods. This study aims to analyze the use of lamicro in the community of Tambak Lorok Fisherman's Village, Semarang City.
Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Untuk Membangun Kognisi Sosial Dan Sikap Sosial Siswa SMP Sugiantoro; Yuni Suprapto; Ali Imron
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan Vol 12 No 1 (2025): JURNAL SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jsnbl.v12i1.12118

Abstract

Education in the 21st century necessitates the cultivation of capabilities that integrate cognitive abilities, social skills, and character development. In the context of accelerating globalisation, local wisdom values are progressively marginalised, despite their crucial influence on the formation of students' identity, social empathy, and tolerance. This project seeks to create and evaluate the efficacy of a Social Studies (IPS) learning model grounded in local knowledge, referred to as the Social Cognition Construction Model Based on Local knowledge. The study utilised a Research and Development (R&D) methodology, adhering to the phases of the Borg & Gall development model, which include needs analysis, model design, expert validation, limited trials, and extensive implementation. Data were gathered by observation, questionnaires, and tests, then analysed employing both descriptive quantitative and qualitative methodologies. The findings demonstrate that the Social Cognition Construction Model Based on Local Wisdom is both valid and practicable, as per evaluations from experts and practitioners. Both the limited and extended trials evidenced the model’s efficacy in improving five critical dimensions of learning: cognitive abilities (from 54.64 to 77.16), learning observation / observation of student engagement (from 89.25 to 96.00), learning motivation (from 79.06 to 94.12), social attitudes (from 64.64 to 92.02), and nurturant effect (from 81.20 to 92.65). In conclusion, the Social Cognition Construction Model Based on Local Wisdom significantly enhances Social Studies learning outcomes and promotes the development of student character that values local traditions, cultivates social empathy, and encourages harmonious social interactions.
Peran Program Adiwiyata dalam Pembentukan Karakter Peduli Lingkungan untuk Mendukung Mitigasi Bencana di Sekolah Menengah Pertama Kota Semarang Mulianingsih, Ferani; Kintoko, Kintoko; Permana, Septian Aji; Astuti, Andarweni; Suprapto, Yuni
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 6 No. 4 (2025): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v6i4.3675

Abstract

This research aims to examine the integration of the Adiwiyata Program in the formation of an environmentally caring character as a disaster mitigation effort based on educational units. The research was conducted with a participatory approach at SMP Negeri 4 and SMP Negeri 29 Semarang through three main stages: planning, implementation, and evaluation. The results indicate an increase in student awareness and involvement in sustainable environmental management, active participation in green school programs, and a real role in building a culture of disaster preparedness. Character strengthening is carried out through habituation, exemplification, and integration of environmental materials into the curriculum. This strategy has proven effective in enhancing students' adaptability to disaster threats related to environmental damage, such as floods and landslides. These findings emphasize the importance of collaboration between character education and the implementation of the Adiwiyata Program to shape a school ecosystem