Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

INTERNALISASI NILAI-NILAI ISLAM KOMUNITAS ABOGE KEPADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI DESA CIKAKAK KECAMATAN WANGON KABUPATEN BANYUMAS Yuni Suprapto; Dany Miftah M Nur; Desi Retno; Muh luqman
IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching Vol 4, No 1 (2020): IJTIMAIYA : Journal of Social Science Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v4i1.7218

Abstract

Desa Cikakak merupakan salah satu desa di Kabupaten Banyumas yang dikategorikan sebagai Desa Adat. Dikatakan Desa Adat karena unsur kebudayaan yang masih merekat erat pada masyarakatnya di tengah perkembangan zaman. Salah satu bentuk kebudayaan yang dapat dilihat adalah dengan adanya komunitas Islam Aboge yang memiliki tradisi maupun adat istiadat yang berbeda dari desa lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) Bagaimana internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia sekolah dasar. 2) Kendala yang dihadapi dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia Sekolah Dasar. Penelitian mengunakan pendekatan kualitatif, jenis studi kasus. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan datanya yaitu dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge kepada anak usia sekolah dasar dilakukan secara langsung dan tidak langsung pada saat pelaksanaan tradisi maupun peringatan hari besar keagamaan. Penanaman nilai-nilai Islam dilakukan melalui pemberian pengetahuan dan pemahaman, melalui teladan dan melalui pembiasaan. Nilai-nilai Islam yang ditanamkan di antaranya; Nilai Aqidah, Nilai Syariah, dan Nilai Akhlak. Kedua, terdapat dua faktor yang menjadi kendala dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam komunitas Aboge yaitu faktor lingkungan dan faktor teknologi.Kata kunci: ABOGE, Internalisasi, Nilai-Nilai Islam, Anak Usia Sekolah Dasar,CikakakCikakak Village is one of the villages in Banyumas Regency which is categorized as a Customary Village. It is said by the Customary Village because the cultural elements which are still closely adhered to the people in the midst of the times. One form of culture that can be seen is the existence of the Aboge Islamic community which has traditions and customs that are different from other villages. This study aims to describe: 1) How to internalize the Islamic values of the Aboge community to elementary school age children. 2) Constraints faced in the process of internalizing the Islamic values of the Abogek community to elementary school age children. Research uses a qualitative approach, a type of case study. The data collection is done by observation, interview, and documentation. The data analysis techniques are data reduction, data presentation and conclusion drawing. Checking the validity of the data is by triangulation of sources and triangulation of techniques. The results of the study show: First, the process of internalizing the Islamic values of the Aboge community to primary school-age children is carried out directly and indirectly during the implementation of traditions and commemoration of religious holidays. The inculcation of Islamic values is done through the provision of knowledge and understanding, by example and through habituation. Islamic values that are instilled include; Aqeedah values, Sharia values, and moral values. Second, there are two factors which become obstacles in the process of internalizing the Islamic values of the Aboge community, namely environmental factors and technological factors.key word: Internalisation, Islamic Values, Elementary School Age Children, Cikakak
UPAYA GURU DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA DI TPQ NGERANG TAMBAKROMO-PATI Abdul Qowim; Yuni Suprapto; Dany Miftah M. Nur
Tunas Nusantara Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.927 KB) | DOI: 10.34001/jtn.v2i2.1507

Abstract

Qur’an Learning Institution (TPQ) is an informal institution under of the ministry of religion, such as Ngerang’s TPQ. Ngerang’s TPQ have three educational staff whit 62 students, as for the Ngerang’s TPQ activities direct teaching and learning to various moderation values, namely the implementation of study hour, learning quashes, manners with teachers and study partners. The three activities reflect the moderating values of tolerance, fairness and balance. While the method used in this reaches is qualitative whit the intention of understanding what phenomena the subject is experiencing. So that researchers are able to see the object’s effort in engaging in it.
Konsep Pendidikan Karakter Pada Kegiatan Sinau Bareng Komunitas Maiyah Galuh Kinasih Bumiayu Yuni Suprapto; Eko Handoyo
WASIS : Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 2, No 2 (2021): WASIS: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : PGSD Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/wasis.v2i2.6283

Abstract

The purpose of the study was to determine the concept of character education in Sinau activities with the Maiyah Galuh Kinasih Bumiayu community.The method used is a qualitative research method. For key informants, researchers interviewed maiyah community activists and maiyah congregations of Galuh Kinasih Bumiyau, document studies were used by researchers to find research gaps and research novelties.Data analysis used source triangulation technique with data collection and data reduction. Interviews used in-depth and independent interviews, research questions were used to determine the concept of character education by the Maiyah Galuh Kinasih Bumiayu congregation during Sinau activities together. The results of the study found that there were five main character education in Sinau activities with the Maiyah Galuh Kinasih community including; religious values, the value of tolerance, the value of love for the homeland, discipline and the value of love of science.
EFISIENSI WATERGLASS MENGGUNAKAN ROLL SAVING PADA PEWARNAAN BATIK TULIS DI KELOMPOK PENGRAJIN BATIK KECAMATAN SALEM KABUPATEN BREBES Yuni Suprapto
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol. 2, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.483 KB) | DOI: 10.17977/um032v2i2p90-95

Abstract

Pemberdayaan pada pengrajin batik tulis salem Kabupaten Brebes berfokus pada permasalahan mitra yakni; 1) Penggunaan waterglass yang masih boros mengakibatkan besarnya ongkos produksi; 2) Belum konsistennya warna batik tulis salem, ketika di produksi secara besar, ada 100 batik tulis dengan warna yang sama tingkat kecerahanya akan berbeda; 3) Perlunya teknologi dan alat pengunci warna agar kelompok mitra mampu membuat warna yang konsisten meskipun memproduksi batik tulis dalam skala besar; 4) Perlu alih teknologi pewarnaan dan pelatihan penggunaan alat penguat warna dengan menggunakan waterglass kepada kelompok mitra; 5) Perlunya pelatihan dan pendampingan untuk memasarkan batik tulis salem secara nasional, akan memperluas jaringan dan pangsa pasar batik tulis salem; 6) Kelompok mitra belum mempunyai katalog batik tulis salem yang menarik, simple dan kece. ; 7) Belum adanya pembukuan yang baik, misalnya ketika banyak orderan mereka harus meminjam modal dahulu kepada Koperasi atau Bank. Berangkat dari hal ini kemudian tim PKM Universitas Peradaban melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan hasil; 1) Alat roll saving yang bisa dipakai oleh mitra batik tulis supaya proses pewarnaan batik tulis salem menjadi maksimal dan mampu melakukan penghematan penggunaan waterglass dan secara otomatis akan menekan biaya produksi; 2) 85 % Kariawan Kedua mitra mampu menggunakan alat roll saving untuk menghemat penggunaan waterglass; 3) 85 % Warna batik tulis salem mengalami peningkatan kualitas, baik dari kecerahan dan konsistensi warna; 4) Peningkatan 75 % pemasaran oleh kedua mitra batik tulis salem pada lingkup nasional baik pemasaran secara manual maupun digital; 5) 100 % kedua mitra mempunyai katalog batik tulis Salem; 6) Kedua mitra memiliki pembukuan yang secara sederhana; 7) Peningkatan omzet penjulan batik tulis salem sebesar 65 %. Metode dan tahapan dalam penerapan teknologi kepada masyarakat adapun metode dan tahapan yakni: Tahapan dalam penerapan PKM dimulai dari tahapan analisis situasi kondisi mitra batik tulis salem, kemudian dilakukan tahapan identifikasi permasalahan, permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah penggunaan waterglass yang belum efektif dan efisien, berdasarkan identifikasi tersebut kemudian tim pengusul mengupayakan teknologi berupa alat roll saving yang mampu mengunci warna batik tulis dan mampu menghemat penggunaan waterglass pada proses pewarnaan. Alat roll saving di desain dengan kondisi dan kebutuhan mitra, setalah roll saving jadi kemudian diujicobakan dan divalidasi oleh Pak Widodo selaku ahli batik dan pewarnaan alam Indigo untuk mengetahui keefektifan dan penghematan penggunaan waterglass. Setelah selesai validasi dan alat roll saving bisa digunakan kemudian diadakan pelatihan penggunaan roll saving tersebut, hal ini dimaksudkan bahwa kariawan mitra setelah pelatihan mampu mengoperasikan alat tersebut. Hasil PKM berupa alat roll saving diberikan kepada mitra batik tulis Salem, yang selanjutnya membantu memasarkan produk dengan membuatkan katalog batik tulis Salem (web dan social media).
Model Sinau Bareng pada Jamaah Maiyah dalam Konteks Demokrasi dan HAM Yuni Suprapto; Masrukhi Masrukhi
Jurnal Ilmiah KONTEKSTUAL Vol. 4 No. 01 (2022): Agustus
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/kontekstual.v4i01.749

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsiskan Model Sinau Bareng Jamaah Maiyah yang kemudian di bedah dalam perspektif Demokrasi dan HAM. Metode menggunakan kajian konseptual studi literasi. Hasil kajian konseptual, ada empat konsep yang asal oleh pendiri Maiyah yakni Cak Nun, empat konsep yakni; 1) Maiyah boleh dihadiri oleh semua manusia tanpa batasan identitas, keilmuan, profesi, maupun secara struktur; 2) semua jamaah bebas untuk bersuara, bebas bertanya dan bebas menjawab sesuai dengan kapasitas dan keilmuannya masing-masing; 3) setiap kegiatan sinau bareng bebas untuk memasukkan atau menyisipkan kesenian apapun, hal ini cukup berbeda dengan konsep-konsep pengajian mainstream; 4) tidak pernah disimpulkan sepihak, diskusi para jamaah yang hadir dituangkan dalan kegiatan sinaui bareng dalam konteks kehidupan. Kegiatan sinau bareng atau disebut Maiyahan selalu mengakomodir dan mewadahi keberagaman manusia, keragaman masyarakat, keberagaman budaya, bahkan keberagaman yang sifatnya luas yakni keberagaman universal.
The Value of Character Education in The Ramatambak Puppet Story as a Medium for Learning The Character of Students Yuni Suprapto; Ferani Mulianingsih; Andarweni Astuti; Dany Miftah M. Nur; Didik Tri Setiyoko
IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching Vol 6, No 2 (2022): IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v6i2.16101

Abstract

This paper uses a literature study approach, by dissecting the story of the Wayang Rama Tambak which is analyzed using the theory of character education according to Lickona and Character Education. Lickona's theory is; 1) Love of kindness; 2) Affection; 3) Dare; 4) The value of hard work; 5) Honest; 6) Justice; 7) Value of Responsibility; 8) Cooperation Value. As for the theory of character education values according to Ki Hajar Dewantara, there are also seven that can be imitated from the Rama Tambak puppet story, along with the analysis; 1) Exercise of the Heart (Ethics); 2) Thought (Literacy; 3) Leadership; 4) Gotong Royong; 5) Trust; 6) Nationalists; 7) Character. Wayang is an original Indonesian heritage which contains various character education values that can be used as role models for students, especially elementary school children. This character habituation can be accustomed by imitating the characters or puppet figures.
Konsep Neo-Sufisme pada Komunitas Maiyah Galuh Kinasih Bumiayu (Studi Kasus Sinau Bareng Edisi Maret 2023) Yuni Suprapto; Wasino Wasino; Trhiwaty Arsal; Sugeng P
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menjelaskan konsep sufistik yang dilakukan oleh komunitas keagamaan Maiyah Galuh Kinasih, konsep sufistik di dasarkan pada terminology segitiga cinta kasih antara Allah, Muhammad, dan Manusia. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif pendekatan kajian literature dan observasi partisipatif pada edisi Maret 2023, tujuan penelitian ini untuk menemukan konsep neosufistik Maiyah Galuh Kinasih. Hasil penelitian, Neo-sufisme di Maiyah Galuh Kinasih tercermin dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan seperti Sinau Bareng, diskusi dan pengajian modern yang memadukan religiusitas, akademik, seni, dan budaya. Akar dari neo sufisme Maiyah Galuh Kinasih adalah terminology segitiga cinta kasih yakni antara Allah, Rasulullah dan Manusia yang di sampaikan Cak Nun. Maiyah Galuh Kinasih konsep neo sufisme nya sesuai dengan yang disampaikan oleh Buya Hamka, Rahman dan Ibnu Tamimiyyah.
Sinau Bareng With Cak Nun And Kiai Kanjeng In Religious Diversity Perspective (Case Study Of Sinau Bareng Activities Implementation In Batu Malang City 41177 Edition) Yuni Suprapto; Wasino Wasino; Thiwaty Arsal; At. Sugeng P
International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 8 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinau Bareng with Cak Nun and Kiai Kanjeng (CNKK), an interesting phenomenon when Sinau Bareng activity with CNKK on 41177 editions in Batu Malang City, there was a Transgender attending the recitation, it was very rare, the authors are interested in dissecting it using a diversity perspective. Cak Nun responded to Mirel phenomenon that he has gave the congregations with attitude of a verse in Qur’an; ya ayyuhan naas inna kholaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alanakum syu’uban wa qabaaila lita’arafuu, that Allah created humans with male and female potential. As stated in the verse; zakarin (manlike), not mudzakkarin (male). According to the author, the value taken from the events of Sinau Bareng with Cak Nun and Kiai Kanjeng 4117 editions in Batu Malang, is that we should not consider and discriminate other people or humans by assuming that we are superior to others. The analysis of diversity and social studies is that the Sinau Bareng activity with Cak Nun and Kiai Kanjeng (CNKK) accommodates the substantive of diversity value; from a humanitarian point of view. The conclusions of quantitative and qualitative social analysis, that; Malang Community – Mirel (Transgender) = Negative (Does not accommodate Diversity) CNKK - Jamaah Maiyah (recitation) = Positive interaction (accommodates diversity) with members from various backgrounds and social statuses. Mirel – Environment = Positive Interaction (planting orchids and releasing shrimp in the river, able to preserve the environment). CNKK - Mirel = Positive Interaction (accept Mirel As a human being that the same as other).
MODEL PEMBERDAYAAN PENGRAJIN KAYU DALAM PEMBUATAN EDUCATION TOYS Yuni Suprapto, Eka Farida Fasha, Umi Chabibahtus Z &
Adi Widya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2017): ADIWIDYA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/awpm.v1i1.1935

Abstract

Kegiatan IbM yang diusulkan bertujuan membentuk dan mengembangkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan limbah kayu menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis tinggi. Permasalahan prioritas yang akan ditangani dalam kegiatan IbM ini adalah: bagaimana membentuk system pemberdayaan pengrajin kayu sehingga dapat mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Target khusus dari kegiatan IbM ini adalah : 1) Kesadaran dan motivasi mitra, akan dampak limbah kayu yang mengganggu masyarakat, sebenarnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, 2) pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan kreativitas mitra untuk dapat membuat produk mainan edukasi dari limbah kayu yang berkualitas, bernilai seni dengan desain unik dan beragam dapat meningkat, 3) kemampuan mitra untuk melakukan kegiatan promosi untuk mengenalkan produk mainan edukasi dari limbah kayu kepada konsumen potensial dengan menggunakan berbagai media dapat meningkat. Metode pendekatan yang digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra adalah dengan metode pelatihan, pendampingan, penyuluhan. Hasil kegiatan dalam program IbM yang diusulkan berupa model pemberdayaan yaitu, 1) pengolahan limbah kayu dan peningkatan kualitas produk olahan kayu. 2) peningkatan pengetahuan desain olahan limbah kayu dan penerapan teknologi berupa alat produksi. 3) keberlanjutan pendampingan dalam pembutan dan pemasaran produk education toys.Keywords: pengrajin kayu, limbah kayu, Education Toys.
Implementasi Interaksi Sosial dan Kearifan Lokal dalam Konservasi Lingkungan Kampung Sasirangan Banjarmasin Melly Agustina Permatasari; Yuni Suprapto; Deka Setiawan; Dewi Liesnoor Setyowati
Jurnal Kawistara Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.v11i2.62946

Abstract

Local wisdom has been associated with environmental conservation. How local wisdom and social practice shape determine environmental conservation is apparent in the the communities living along the rivers in Banjarmasin Sasirangan. Based on a qualitative approach with case studies of Sasirangan craftsmen. In Sasirangan Village, Banjarmasin City, this study aims to analyses the correlation between social interaction, local wisdom, and environmental conservation Sasirangan. The informants are craftsmen and Sasirangan traders. The data was collected through observation, interviews with craftsmen and Sasirangan traders, as well as documents study. This study concludes that the social interactions occur between craftsmen and craftsmen, craftsmen and groups of craftsmen, and between groups of craftsmen by collaborating in making Sasirangan products and competition in determining the color, motif and Sasirangan marketing. In this process, local culture plays a key role in the form of Sasirangan cloth which has various colors and motifs with certain meanings which are continuously produced, preserved and passed down from generation to generation This creates a mechanis of social interaction and local wisdom that promotes environmental conservation through the cooperation between craftsmen in the manufacture of Sasirangan products using natural colors from nature that are environmentally friendly. By not using chemical coloring, the practice reduces the pollution of river environment in Sasirangan Village, Banjarmasin.