Articles
GANGGUAN KEPRIBADIAN ANTISOSIAL PADA NARAPIDANA
Meilanny Budiarti Santoso;
Hetty Krisnani;
Gevia Nur Isna Deraputri
Share : Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (429.472 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i2.15681
ABSTRAKArtikel ini membahas mengenai gangguan psikopat atau antisosial yang terjadi pada narapidana. Psikopat merupakan perilaku psikologis yang terjadi pada manusia. Psikopat ini merupakan keadaan seseorang dimana seseorang tersebut tidak dapat merasakan empati dan cenderung untuk dapat melakukan kekerasan pada manusia lain tanpa diikuti dengan perasaan bersalah dan melakukan perilaku tersebut untuk kepuasan dirinya sendiri dan mereka cenderung untuk membenarkan dirinya sendiri atas perbuatan yang dilakukannya. Narapidana adalah seseorang yang hidup dalam tahanan atau sel penjara karena mereka telah melakukan tindakan-tindakan menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada pada masyarakat.Tidak sedikit dari narapidana yang ada didalam sel tahanan yang teridentifikasi mempunyai prilaku psikologis yang menyimpang yaitu psikopat. Mereka, narapidana penyandang psikopat, cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengenali dan belajar dari kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya. Beberapa mendefinisikan penyebab dari psikopat ini adalah karena gangguan pada sel otak dan juga pengaruh lingkungan dari orang tersebut yang terbentuk sejak mereka kecil.Pada artikel ini akan menjelaskan mengenai apa itu psikopat, bagaimana narapidana yang mempunyai gangguan psikopat, dan bagaimana seharusnya penanganan untuk narapidana yang tinggal dan menetap di sel penjara yang mengidap penyakit mental. Serta, bagaimana pekerja sosial dalam kasus ini berperan untuk dapat memanusiakan manusia. ABSTRACTThis article discusses the psychopathic or antisocial disorders that occur on inmates. Psychopaths is a psychological behavior that occurs in humans. Psychopaths disorder is a situation where one person is unable to feel empathy and tends to be violent to other humans without feeling guilty and perform these behaviors for themselves and their satisfaction justifies itself on the act of doing. Inmates are someone living in detention or prison cells because they have committed acts which do not deviate in accordance with the norms and values that exist in society.Some of the inmates that there were unidentified having antisocial personality disorder. inmates with psychopathic does not have the ability to recognize and learn from the mistakes they did before. but they also can behave either like a normal person and do not show that they have a personality disorder. Some define the cause of the psychopath is due to disturbances in brain cells and also environmental influence of the person who formed since they are small.This article will explain about what is a psychopath, how prisoners who have psychopathic disorders, and how should the handling of prisoners who live and stay in a prison cell with mental illness. As well, how social workers in this case contribute to humanize humans.
BANDUNG CREATIVE CITY FORUM (BCCF) SEBAGAI PENGGERAK GENERASI MILENIAL DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN DI KOTA BANDUNG
Romayana Sari Lumbantoruan;
Nandang Mulyana;
Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/share.v10i2.30637
Generasi milenial memiliki peranan yang penting dalam melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak dapat dipungkiri, kertelibatan generasi milenial dalam mengisi pembangunan dengan menciptakan peluang dan perubahan positif memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. Perubahan yang dicipatakan oleh generasi milenial sangat jelas dirasakan dan tampak dalam bidang ekonomi dan bisnis, di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian tidak hanya dalam bidang ekonomi dan bisnis saja, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya. BCCF merupakan komunitas mandiri yang fokus mendorong dan menggerakkan generasi milenial dalam menciptakan perubahan melalui upaya pengembangan industri kreatif di Kota Bandung. Ditinjau dengan menggunakan konsep strength prespective, generasi milenial dapat lebih memahami diri mereka, dan mampu menciptakan perubahan dengan memanfaatkan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki, sehingga melalui BCCF generasi milenial dapat lebih optimal berkontribusi menciptakan perubahan, terlebih generasi milenial memiliki peran penting dalam pengembangan industri kreatif, yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi khususnya di Kota Bandung. Dengan penguasaan keterampilan dalam teknologi digital, keberadaan generasi milenial menjadi sosok yang merepresentasikan dan mendukung terwujudnya masyarakat 5.0 yang memungkinkan manusia untuk memecahkan masalah sosial dengan bantuan teknologi. Dengan begitu, peran generasi milenial dalam mewujudkan masyarakat 5.0 sangatlah besar, khususnya dalam membuat inovasi dan melakukan perubahan di dalam masyarakat berbasis teknologi.
EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT (EBM): MENGGAGAS DESA WISATA DI KAWASAN GEOPARK CILETUH-SUKABUMI
Santoso Tri Raharjo;
Nurliana Cipta Apsari;
Meilanny Budiarti Santoso;
Budhi Wibhawa;
Sahadi Humaedi
Share : Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (426.943 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i2.19591
Pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat (EBM) atau community-based tourism (CBT) dapat menjamin kesinambungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kuncinya adalah kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal terhadap pentingnya konservasi dan pemeliharan kawasan Geopark Ciletuh. Kesadaran masyarakat lokal merupakan ruh dari partisipasi, oleh karenanya perlu ditumbuhkan dan dikembangkan secara secara sistematis dan terencana. Kemauan, kesempatan dan kemampuan sebagai prasyarat untuk berpartisipasi harus tumbuh dan berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Sebab, masyarakat lokal-lah yang seharusnya memperoleh manfaat pertama dan utama dari pengembangan Geopark Ciletuh untuk masuk dalam Global Geopark Network (GGN) UNESCO. Ironisnya, justru masyarakat luar yang seringkali mengetahui terlebih dahulu atas kekayaan dari keragaman bumi, keragaman biologi, dan keragaman budaya di kawasan Ciletuh Sukabumi Selatan. Upaya membangun dan mengembangkan kepariwisataan secara mandiri dan berkesinambungan, dengan tetap mengutamakan konservasi, maka partisipasi masyarakat lokal mutlak diperlukan. Partisipasi masyarakat secara ideal dapat dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Model EBM-CBT merupakan model pengembangan kepariwisataan yang berlandaskan pada partisipasi masyarakat yang kuat. Pengembangan dan pengelolaan desa-desa wisata di kawasan pengembangan Geopark Ciletuh, dapat merupakan ujud dari ekowisata berbasi masyatakat (EBM).
PENGUATAN SPIRITUALITAS ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH)
PHILIA ANINDITA GINTING;
Meilanny Budarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (702.286 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v9i1.21819
AbstrakAnak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) merupakan anak yang diduga telah melakukan tindakan kriminal yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan hukum karena telah melanggar undang-undang hukum pidana. Pada masa penahanan, anak atau remaja yang berkonflik dengan hukum berada pada usia 12 sampai 18 tahun. Tidak menutup kemungkinan, kondisi ini menciptakan pengaruh poisitf dari kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) maupun permasalahan pribadi dalam diri Andik (anak didik). Permasalahan ini dapat berupa stress yang dialami yakni kecemasan pada remaja.Adapun tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang pekerja sosial terhadap ABH adalah berupa bantuan relasi pertolongan. Praktikan memfokuskan bahasannya kepada pembentukan perilaku baru yang baik dan upaya mengatasi kecemasan pada klien. Model intervensi yang dilakukan adalah personal development dengan metode token economy dan cognitive restrucuturing form. Pembentukan perilaku baik ini dikatikan dengan penguatan spiritualitas klien yang juga mempengaruhi kemampuan kognitif klien.Hasil penelian menunjukkan bahwa klien berhasil membentuk perilaku baru dan mereduksi kecemasan yang dialaminya. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh peran spiritualitas yang dialam klien melalui pembentukan perilaku beribadah dan membaca Al-Quran dengan teratur. Praktikan tidak melakukan pemantauan secara intensif terhadap perubahan perilaku dan kecemasan klien karena adanya aturan yang diterapkan oleh pihak LPKA. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh dapat terverifikasi dan terukur dengan penyajian tabel dan gambar selama proses intervensi.Kata Kunci: Anak berhadapan dengan hukum, spiritualitas, behavioral therapy, stress management AbstractChildren who are in conflict with the law (ABH) are children who are suspected of having committed in a criminal act that must be responsible for their actions to law because they have violated the law of criminal. During the detention time, children or adolescents with the conflict with the law are at the age of 12 to 18 years. This does not impossible if this condition creates a positive impact from the coaching activities which carried out by LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) as well as personal problems in Andik (anak didik) self-care. This problem can be stress experienced in the form of anxiety in adolscents.The action that can be taken by the social worker towards ABH is giving assistance form a relief relationship. Practican focus discussion in on the building new good behaviors and action to overcome anxiety on client. The intervention model that is carried out is personal development with token economy method and cognitive restructuring form. The formation for this good behavior is associated with strengthening client spirituality which also influence the client’s cognitive abilites.The results of this research show that client has succeeded in forming his new behaviors and reducing the anxiety he experience. This is influenced by the role of spirituality experienced that client experienced through the forming of worship behavior and reading the Al-Quran regularly. Practican did not do intensive monitoring of this changes in behavior and anxiety that client experience because of the rules applied by the LPKA. Nevertheless, the results obtained can be verified and measured by presenting tables and images during the intervention processKeywords: Children who are in conflict with the law, spirituality, behavioral therapy, stress management
PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM PENANGANAN ANAK AUTIS
Dessy Hasanah S;
Meilanny Budiarti Santoso;
Yessi Rachmasari
Share : Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (335.952 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i2.15683
ABSTRAKAutisme adalah salah satu kelainan psikologis dan perkembangan yang dialami oleh anak. Perkembangan yang dimaksud bukan secara fisik namun lebih kepada kemampuan untuk berkomunikasi, bersosialisasi sekaligus perilaku. Gejala autis yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Penanganan yang intensif dan terpadu untuk anak autis disesuaikan dengan kebutuhan anak agar pelaksanaanya dapat memberikan hasil yang maksimal. Suatu layanan yang diberikan bagi anak autis harus disesuaikan dengan metode yang tepat sehingga dapat di terapkan secara langsung. Upaya untuk menyikapi permasalahan tersebut. Sehingga, dibutuhkan penanganan untuk anak autis yaitu peran dari professional yang terlibat. Dalam penanganan anak autis dibutuhkan profesi yang memiliki keterampilan dan pengetahuan di bidangnya. Salah satunya yaitu peran dari pekerja sosial dan profesi lainnya yang berkolaborasi dengan pekerja sosial, Pekerja sosial dalam upaya penanganan anak autis dapat melakukan assessment dan intervensi terhadap permasalahan anak autis tersebut dengan menggunakan pendekatan secara holistic dengan lingkungan sosialnya dan dengan pendekatan biopsikosial. Peran pekerja sosial juga bersama-sama dengan keluarga anak autis tersebut dapat memberikan dukungan sosial dan memotivasi anak dengan gangguan autis tersebut.ABSTRACTAutism is one of the psychological and developmental disorders experienced by children. The development is not physical, but rather the ability to communicate, socialize well as behavior. Symptoms of autism that really stood out was the attitude of children who tend not to care about the environment and the people around him, as if refusing to communicate and interact, as well as living in his own world. Handling intensive and integrated for children with autism tailored to the needs of children so that implementation can provide maximum results. A service provided for children with autism should be tailored to the exact method that can be applied directly. Efforts to address these problems. Thus, needed treatment for children with autism is the role of the professionals involved. In the treatment of autistic children who have the necessary professional skills and knowledge in the field. One of them is the role of social workers and other professionals who collaborate with social workers, social workers in handling children with autism can do an assessment and intervention for children with autism are problems with using a holistic approach with the social environment and the biopsikosial approach. The role of social workers also together with families of children with autism can provide social support and motivate the children with autistic disorder.
BELAJAR: PROSES MEMBANGUN KEMAMPUAN UNTUK MENGENDALIKAN MASA DEPAN DENGAN BAIK
Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (216.947 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v5i2.13141
Manusia memiliki pilihan hidup untuk menentukan jalan hidupnya, dalam rangka mencapai visi yang diperjuangkannya. Namun, ironisnya sebagian besar manusia menjalani hidupnya tanpa visi dan misi yang jelas. Hal tersebut berdampak pada konteks lingkunan kehidupan mereka di masing-masing lokus mereka, bahkan akan mempengaruhi lingkungan sosial mereka. Bahkan kehidupan dan keberhasilan organisasi seringkali sangat dipengaruhi oleh cara pandang dan tindakan para anggotanya. Seseorang haruslah mampu berjalan dengan baik pada jalan yang menuju pada arah yang benar. Itulah yang disebut dengan visi kehidupan. Hidup dengan visi, dan hidup untuk memperjuangkan visi. Begitulah cara jika orang mau panjang umur, dalam arti sehat, bugar, bersemangat, dan berprestasi; dengan catatan, visi tersebut harus menyangkut – dan untuk – kepentingan memberi manfaat bagi orang banyak (Wibhawa, 2016). Rasa kesalingtergantungan dalam relasi sosial membuat seseorang menaruh perhatian terhadap apa yang akan terjadi pada orang lain, suatu hal yang penting untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan saling mempercayai. Semua ini akan menolong seseorang untuk mengatasi keberagaman, membina kerjasama kreatif, dan menyelesaikan konflik dengan damai. Ini adalah ranah kecerdasan interpersonal
PENTINGNYA BUKU PANDUAN BAGI VOLUNTEER PADA ORGANISASI SOSIAL (STUDI KASUS PADA LEMBAGA REHABILITASI ODHA DAN KONSUMEN NAPZA RUMAH CEMARA KOTA BANDUNG)
Rini Rizkiawati;
Budhi Wibhawa;
Meilanny Budiarti Santoso;
Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (346.646 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v7i2.15723
Rumah Cemara merupakan organisasi sosial yang memiliki keterbatasan Sumber Daya Manusia yaitu 32 Orang. Pada dasarnya Human Resource Development (HRD) yang bertanggung jawab menangani pengelolaan Sumber Daya Manusia ataupun staff. Dalam suatu organisasi sosial ketika memiliki Sumber Daya Manusia yang terbatas, maka dibutuhkanlah volunteer untuk membantu dalam menjalankan suatu program atau kegiatan. Banyak sekali masyarakat yang ingin menjadi volunteer di Rumah Cemara. Namun, mengenai mekanisme perekrutan volunteer saat ini belum memiliki kualifikasi syarat secara khusus sesuai dengan kebutuhan dari Rumah Cemara. Hal tersebut membuat beberapa calon volunteer tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Melalui penulisan artikel ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pentingnya panduan untuk volunteer dalam suatu organisasi sosial Rumah Cemara is a social organization with limited human resources of 32 people. Basically, Human Resource Development (HRD) is responsible for managing Human Resources or staff. In a social organization when it has limited Human Resources, it is necessary volunteers to assist in running a program or activity. Lots of people who want to volunteer at Rumah Cemara. However, the current volunteer recruitment mechanism does not yet have qualification requirements specifically in accordance with the needs of Rumah Cemara. It makes some volunteer candidates not knowing what to do. Through the writing of this article, it is expected to provide an overview of the importance of guidance for volunteers in a social organization.
PERGESERAN PEKERJAAN MIGRAN DI WILAYAH PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT (BIJB)
Meilanny Budiarti Santoso;
Nunung Nurwati;
Nurliana Cipta Apsari
Share : Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (203.047 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v9i2.25553
Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) telah menjadi faktor pendorong terjadinya perubahan sosial dan perubahan ekonomi pada masyarakat sekitar, sehingga perhatian semua pihak tidak cukup hanya diberikan pada kondisi fisik kewilayahannya saja, dinamika demografi pada masyarakat sekitar pembangunan BIJB pun harus diperhatikan. Salah satu bentuknya adalah terjadinya pergeseran mata pencaharian warga masyarakat sekitar, namun faktanya sangat sulit bagi masyarakat untuk berpindah pola dari kultur masyarakat agraris ke bidang pekerjaan lainnya. Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan in-depth interview dan studi litelatur sebagai teknik pengumpulan data yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah pembangunan BIJB telah berupaya untuk melakukan berbagai bentuk usaha dalam menyikapi pergeseran mata pencaharian yang terjadi, salah satu pilihan pekerjaan baru yang banyak diminati dan dipandang sesuai dengan keadaan kapasitas masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah dan tidak memiliki keahlian khusus dalam bekerja adalah menjadi pekerja migran ke luar negeri pada sektor informal. Berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah, pengelola BIJB beserta berbagai pihak terkait lainnya dalam menyikapi dinamika pada masyarakat sekitar pembangunan BIJB tersebut adalah dengan: menciptakan peluang usaha, melakukan opportunity job dengan adanya bantuan modal dan pelatihan, serta melakukan upaya penyediaan lahan pertanian baru oleh pemerintah (tukar guling lahan), sehingga petani dapat membeli lahan tersebut dengan harga yang sesuai dengan kemampuan petani.
PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK DENGAN RETARDASI MENTAL
meilanny budiarti santoso;
budhi wibhawa;
Ishartono ishartono
Share : Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.999 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v8i1.16111
Sebagian orang tua ditakdirkan untuk memiliki anak dengan kondisi yang berbeda dan sering kali dinyatakan sebagai anak yang tidak normal. Dalam kondisi demikian, banyak orang tua yang tidak dapat menerima kenyataan jika anak yang dilahirkannya memiliki kekurangan atau kondisinya tidak sempurna seperti anak-anak lainnya. Hal tersebut pun terjadi pada orang tua yang memiliki anak dengan retardasi mental. Penerimaan orang tua terhadap anak dengan retardasi mental dapat dilihat dari beberapa poin berikut ini, yaitu: gambaran penerimaan orang tua terhadap anak dengan retardasi mental, faktor-faktor penerimaan orang tua, serta proses yang dijalani oleh orang tua hingga penerimaan terhadap anak dengan retardasi mental dapat terwujud. Hal ini dikarenakan bagi anak dengan retardasi mental, orang tua merupakan orang yang terpenting serta guru pertama baginya dan sebagai sosok untuk memberikan dorongan, pujian maupun umpan balik. Penerimaan orang tua terhadap anak dengan retardasi mental sangat dipengaruhi oleh tingkat kestabilan dan kematangan emosi dari orang tua, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dukungan anggota keluarga, struktur dalam keluarga, dan kultur yang melatarbelakangi keluarga.
COGNITIVE RESTRUCTURING DAN DEEP BREATHING UNTUK PENGENDALIAN KECEMASAN PADA PENDERITA FOBIA SOSIAL
Runia Hanifa;
Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (546.752 KB)
|
DOI: 10.24198/share.v6i2.13211
Fobia sosial adalah salah satu metal illness yang dihadapi oleh banyak orang dewasa dan terutama pada remaja yang masih mengalami perubahan baik pada fisiknya maupun perubahan secara psikologis. Fobia sosial terjadi karena individu mengalami kecemasan terhadap lingkungan sosialnya. Hal tersebut disebabkan adanya penyimpangan cara berfikir atau kognisi individu. Terapis dalam menangani klien individu dengan kecemasan, dapat menggunakan beberapa metode, salah satunya metode cognitive restructuring (CR) dan teknik deep breathing.Klien dengan fobia sosial diberikan treatment oleh terapis untuk mengatasi kecemasan dan pikiran negatif terhadap lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan metode cognitive restructuring (CR), klien dibantu untuk menstruktur ulang kognisinya yang terbiasa untuk berpikir dengan mindset negatif dan menyebabkan rasa cemas terhadap lingkungan sosialnya. Adapun teknik deep breathing, digunakan untuk melancarkan pernapasan klien ketika mengalami kecemasan. Ketika individu mengalami fobia sosial, kecemasan yang dialami klien dapat mengakibatkan kesulitan bernafas. Dengan melakukan teknik deep breathing, klien dapat merasa lebih rileks dan dapat berpikir dengan lebih jernih untuk dapat meghilangkan pikiran-pikiran negatinya.