Claim Missing Document
Check
Articles

Penguatan Potensi Ekonomi melalui Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta; Raharjo, Santoso Tri; Humaedi, Sahadi
JE (Journal of Empowerment) Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/je.v5i2.4700

Abstract

Abstrak Potensi ekonomi suatu daerah perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan dan pengembangan ekonomi. Dusun Patenggeng, yang terletak di Desa Sukasari, memiliki berbagai potensi ekonomi, meliputi pertanian, peternakan, pengolahan sampah, dan perdagangan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menguatkan potensi ekonomi Dusun Patenggeng melalui program-program yang dirancang oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Metode yang digunakan adalah kaji tindak, menggabungkan penelitian dan tindakan. Hasil menunjukkan bahwa program penguatan potensi ekonomi berjalan dengan baik, mencakup Program Penguatan Unit Usaha SukaMart, Program Sosialisasi Pemilahan Sampah, Program Sosialisasi Pemanfaatan Sampah dan Praktik Daur Ulang Sampah Plastik, serta Program Penguatan Kelompok Produksi Paving Block. Program ini meningkatkan pengetahuan peserta: 10%-30% dalam pemilahan sampah, 30%-50% dalam pemanfaatan sampah, dan 20%-40% dalam produksi paving block, mendukung penguatan ekonomi Dusun Patenggeng. Abstract The economic potential of a region needs to be optimally utilised to support economic growth and development. Patenggeng Hamlet, located in Sukasari Village, has various economic potentials, including agriculture, animal husbandry, waste processing, and trade. This community service activity aims to strengthen the economic potential of Patenggeng Hamlet through programmes designed by the Community Service Team (PKM). The method used is action review, combining research and action. The results show that the programme strengthening economic potential went well, including the SukaMart Business Unit Strengthening Program, Waste Sorting Socialisation Program, Waste Utilisation Socialisation Program and Plastic Waste Recycling Practice, and Paving Block Production Group Strengthening Program. The programme increased participants' knowledge: 10%-30% in waste sorting, 30%-50% in waste utilisation, and 20%-40% in paving block production, supporting the economic strengthening of Patenggeng Hamlet.
PELAYANAN KESEJAHTERAAN BERBASIS FAITH-BASED ORGANIZATION: PELUANG DAN TANTANGAN BAGI PRAKTIK PEKERJAAN SOSIAL Santoso, Meilanny Budiarti; Rachim, Hadiyanto Abdul; Basar, Gigin Ginanjar Kamil
Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v14i2.59283

Abstract

Penelitian dengan mengusung topik pelayanan kesejahteraan berbasis faith-based organization sebagai peluang dan tantangan bagi praktik pekerjaan sosial telah memiliki jejak historis yang cukup panjang sekaligus menunjukkan dinamika kontributif serta determinan tersendiri dalam memberikan alternatif layanan kesejahteraan sosial bagi para penerima manfaat, yang faktanya tidak seluruhnya dapat dijangkau dan dipenuhi oleh organisasi-organisasi resmi pemberi pelayanan kesejahteraan sosial yang dikelola oleh pemerintah. Kajian ini melihat karakteristik layanan kesejahteraan sosial berbasis faith-based organization, pemangku kepentingan dalam faith-based organization, dan pekerjaan sosial dalam bidang faith-based organization dalam menjawab peluang dan tantangan global yang bersifat inklusif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan merujuk kepada berbagai sumber referensi seperti buku ataupun e-book, artikel, dan berbagai dokumen yang relevan dengan topik penelitian untuk melihat diskursus faith-based organization pada layanan kesejahteraan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik faith-based organization ditunjukkan dalam bentuk branding organisasi, struktur organisasi, tujuan, dan penyedia layanan melalui skema pasif-aktif dan persuasif-eksklusif; faith-based organization menjadi model dalam menjalankan layanan kesejahteraan sosial yang inklusif dalam upaya menghindari dikotomi layanan kesejahteraan sosial antara organisasi sekuler vis a vis organisasi keagamaan; dalam pengelolaan dan menjalankan aktivitas organisasinya para pemangku kepentingan faith-based organization dapat sejalan dengan nilai-nilai dan kode etik perofesi pekerjaan sosial profesional.
PERSEPSI PERNIKAHAN PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA SEBAGAI IMPLIKASI DARI FENOMENA FATHERLESS Aulia, Adis Prita; Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta
Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v14i2.60567

Abstract

Fatherless-ketiadaan ayah, merupakan sebuah fenomena ketidakhadiran sosok ayah yang berperan dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun secara psikologis. Perempuan dewasa muda adalah ia yang berada pada rentang usia 20 - 30 tahun yang dalam perkembangan psikososialnya memiliki kecenderungan untuk membangun intimacy, khususnya dengan lawan jenis. Ketidakhadiran peran ayah dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial dan emosional anak perempuan yang kemudian memengaruhi persepsi mereka terhadap hubungan romantis dengan lawan jenis saat dewasa, salah satunya pernikahan. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menggambarkan persepsi pernikahan pada perempuan dewasa muda sebagai implikasi dari fenomena fatherless. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam pada beberapa informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terkait pernikahan pada perempuan dewasa muda cenderung negatif sebagai akibat dari fenomena fatherless. Sebagian perempuan yang mengalami fatherless cenderung mengasosiasikan pernikahan dengan konflik, ketidakstabilan, dan ketidakharmonisan, yang akhirnya memengaruhi keputusan mereka untuk menunda pernikahan atau menghindarinya. Ketidakharmonisan dalam pernikahan orang tua informan mengakibatkan terciptanya pandangan yang sangat selektif dalam memilih pasangan, serta cenderung memilih untuk tidak menikah jika tidak menemukan pasangan yang dianggap sesuai dengan harapan.  Fatherlessness is a phenomenon of the absence of a father figure who plays a role in raising children, both physically and psychologically. Young adult women are those who are in the age range of 20 - 30 years who, in their psychosocial development, tend to build intimacy, especially with the opposite sex. The absence of a father's role can have a significant effect on girls' social and emotional development, which then affects their perception of romantic relationships with the opposite sex as adults, one of which is marriage. This article aims to describe the perception of marriage in young adult women as an implication of the fatherless phenomenon. This research used a descriptive qualitative method with in-depth interviews with several informants. The study results show that the perception related to marriage in young adult women tends to be negative due to the fatherless phenomenon. Some women who experience fatherlessness tend to associate marriage with conflict, instability, and disharmony, which ultimately influences their decision to postpone marriage or avoid it. Disharmony in the marriage of informants' parents results in a very selective view in choosing a partner and tends to choose not to get married if they do not find a partner who is considered to be under expectations. 
PENGARUH LINGKUNGAN BOARDING SCHOOL DALAM MEMBENTUK KEMANDIRIAN SISWA ASRAMA BINA SISWA SMA PLUS CISARUA KAB. BANDUNG BARAT Anjani, Dina; Apsari, Nurliana Cipta; Santoso, Meilanny Budiarti
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM) Vol 5, No 2 (2024): Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v5i2.61520

Abstract

Terdapat beberapa faktor yang dapat membentuk kemandirian, salah satunya yaitu lingkungan pendidikan yaitu sekolah berasrama. Sekolah berasrama merupakan sistem pendidikan yang menyediakan asrama untuk menjadi tempat tinggal siswa dengan melakukan berbagai kegiatan sehari-hari terpisah jauh dari keluarga. Tidak hanya aspek akademis, sekolah berasrama juga memberikan pemahaman dan melatih berbagai kemampuan yang bermanfaat untuk kehidupan siswa dengan aturan, sistem dan jadwal yang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek-aspek apa saja dari lingkungan asrama yang berkontribusi dalam pengembangan kemandirian siswa serta bagaimana siswa merespons dan beradaptasi dengan kehidupan asrama. Melalui metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada para alumni Asrama Bina Siswa SMA Plus Cisarua Kab. Bandung Barat mengenai bagaimana perubahan perilaku kemandirian pada siswa setelah masuk asrama, mengidentifikasi aspek lingkungan asrama dalam membentuk kemandirian siswa, penguat kemandirian pada siswa dan bagaimana siswa dalam beradaptasi terhadap kehidupan asrama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa lingkungan boarding school memiliki pengaruh akan perubahan perilaku terutama perilaku mandiri, baik kemandirian ekonomi, sosial, emosi dan intelektual. There are several factors that can form independence, one of which is the educational environment, namely boarding schools. Boarding schools are an educational system that provides dormitories to become a place for students to live by carrying out various daily activities away from their families. Not only the academic aspect, boarding schools also provide an understanding and practice of various skills that are beneficial for students' lives with rules, systems and tight schedules. This study aims to examine what aspects of the dormitory environment contribute to the development of student independence and how students respond and adapt to dormitory life. Through a descriptive method with a qualitative approach, data collection was carried out by in-depth interviews with alumni of the Bina Siswa Dormitory of SMA Plus Cisarua, West Bandung Regency regarding how independence behaviour changes in students after entering the dormitory, identifying aspects of the dormitory environment in shaping student independence, strengthening independence in students and how students adapt to dormitory life. The results of the study show that the boarding school environment influences behaviour changes, especially independent behaviour, both economic, social, emotional and intellectual independence.
PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP KECANDUAN GAME ONLINE PADA ANAK USIA SEKOLAH Bilantara, Naila Hisanah; Santoso, Meilanny Budiarti; Raharjo, Santoso Tri
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM) Vol 5, No 3 (2024): Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v5i3.61526

Abstract

Penelitian ini membahas pengaruh lingkungan sosial terhadap kecanduan game online pada anak usia sekolah, menunjukkan bahwa komponen-komponen dalam lingkungan sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk perilaku dan karakter anak yaitu sejalan dengan teori pembelajaran sosial dan teori ekologi, yang menjelaskan bahwa proses pembelajaran individu serta interaksi antara individu dengan berbagai lapisan dalam sistem lingkungannya dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosialnya. Fokus penelitian ini terletak pada peran orang tua, teman sebaya, dan pihak sekolah sebagai bagian dari lingkungan sosial yang memengaruhi perilaku kecanduan game online pada anak usia sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, serta menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, yaitu melalui penelusuran terhadap berbagai sumber referensi seperti jurnal, artikel, buku, dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap perilaku kecanduan game online. Selain itu, kurangnya komunikasi dari orang tua dapat memperburuk kecenderungan kecanduan. Meski demikian, orang tua tetap memiliki peran penting dalam mengontrol durasi penggunaan perangkat elektronik, membatasi waktu bermain game, serta menyediakan aktivitas alternatif untuk mendukung sosialisasi anak. Demikian pun dengan pihak sekolah yang memainkan peran dalam memberikan edukasi mengenai dampak negatif dari bermain game online secara berlebihan, terutama bagi anak-anak usia sekolah. This study discusses the influence of the social environment on online game addiction in school-age children, showing that components in the social environment have a significant role in shaping children's behaviour and character, which is in line with social learning theory and ecological theory, which explains that the individual learning process and interactions between individuals and various layers in their environmental system are influenced by social-ecological factors. The focus of this study lies in the role of parents, peers, and schools as part of the social environment that influences online game addiction behaviour in school-age children. This study uses a descriptive method and a qualitative approach, as well as data collection techniques in the form of literature studies, namely by tracing various reference sources such as journals, articles, books, and the results of previous studies. The results of the study show that peers have a major influence on online game addiction behaviour. In addition, a lack of communication from parents can worsen the tendency of addiction. However, parents still have an important role in controlling the duration of use of electronic devices, limiting game playing time, and providing alternative activities to support children's socialisation. Likewise, schools play a role in providing education about the negative impacts of playing online games excessively, especially for school-age children.
FENOMENA KECANDUAN GADGET PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH AKIBAT PERGESERAN NILAI BUDAYA DAN FAKTOR KOGNITIF SOSIAL Herdiana, Mochamad Fauzan Putra; Santoso, Meilanny Budiarti
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM) Vol 5, No 3 (2024): Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v5i3.61521

Abstract

Kecanduan gadget pada anak usia pra-sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam menjalankan peran pengasuhan di tengah maraknya penggunaan teknologi. Konsep pergeseran nilai dan teori kognitif sosial digunakan untuk menganalisis fenomena yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan fenomena kecanduan penggunaan gadget pada anak usia pra-sekolah. Untuk mendapatkan penjelasan secara mendalam, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa studi literatur berupa berbagai referensi yang relevan dengan topik penelitian. Validasi data dan analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi yang dilakukan melalui proses membaca berbagai literatur, mengkategorisasi dan mengklasifikasikan data serta menuliskan berbagai sumber referensi terpilih. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku kecanduan gadget pada anak usia pra-sekolah dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu berupa perilaku orang tua, teman sebaya, ataupun orang-orang yang berada di sekitar anak, seperti halnya yang dikemukakan dalam teori kognisi sosial di mana anak usia pra-sekolah melakukan modelling terhadap perilaku orang-orang di sekitarnya, dalam hal ini terkait dengan penggunaan gadget hingga anak menjadi kecanduan. Penggunaan gadget merupakan wujud dari terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat dari nilai-nilai tradisional dan manual menjadi nilai-nilai modern berteknologi canggih dan salah satu wujud dari teknologi tersebut adalah berupa gadget yang digunakan untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Gadget addiction among preschool-aged children presents a unique challenge for parents in fulfilling their parenting roles amidst the widespread use of technology. The concept of value shifts and social cognitive theory is used to analyze the phenomenon that becomes the focus of this research. A descriptive method is employed to illustrate the phenomenon of gadget addiction in preschool-aged children. To obtain an in-depth explanation, the researcher used a qualitative approach and data collection techniques in the form of a literature review from various references relevant to the research topic. Data validation and analysis were conducted using content analysis techniques through processes such as reading various literatures, categorizing and classifying data, and documenting selected references. The research findings indicate that gadget addiction behavior in preschool-aged children is influenced by external factors, including the behavior of parents, peers, or people in the child’s surroundings. This aligns with social cognitive theory, which suggests that preschool-aged children model the behavior of those around them, particularly regarding gadget use, leading to addiction. Gadget use reflects a shift in societal values from traditional and manual values to modern, technologically advanced values, with gadgets being one manifestation of this technology, aimed at facilitating the fulfillment of daily needs. 
PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA AKIBAT TEKANAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN FISIK Nurazizah, Siti; Apsari, Nurliana Cipta; Santoso, Meilanny Budiarti
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM) Vol 5, No 2 (2024): Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v5i2.61518

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan suatu kebiasaan atau kecenderungan yang dilakukan individu untuk menunda-nunda dalam mengerjakan tugas akademik dan lebih memilih hal lain yang menyenangkan sehingga tugas mereka menjadi terabaikan. Prokrastinasi akademik merupakan fenomena yang dapat terjadi kepada siapapun khususnya di kalangan mahasiswa akibat dari tuntutan akademik yang diterima oleh para mahasiswa. Aspek tekanan sosial seperti rendahnya motivasi atau dorongan yang diperoleh mahasiswa dan aspek dari distraksi lingkungan fisik yang menjadi sumber penyebab seseorang melakukan prokrastinasi merupakan faktor eksternal yang dapat memengaruhi individu menunda dalam menyelesaikan tugasnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana faktor eksternal tersebut dapat memengaruhi individu melakukan prokrastinasi serta bagaimana perilaku prokrastinasi akademik ini dapat terjadi di kalangan mahasiswa berdasarkan faktor eksternal individu tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan dengan metode kajian pustaka. Data penelitian akan dikumpulkan berdasarkan pertanyaan terbuka yang diajukan dalam wawancara yang dilakukan terhadap beberapa narasumber yang merupakan mahasiswa aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor eksternal yaitu faktor sosial seperti lingkungan pertemanan dan lingkungan fisik dapat memengaruhi seseorang untuk melakukan prokrastinasi. Academic procrastination is a habit or tendency by individuals to procrastinate in doing academic tasks and prefer other pleasant things so that their tasks become neglected. Academic procrastination is a phenomenon that can occur to anyone, especially among students, due to the academic demands received by students. Aspects of social pressure such as low motivation or encouragement obtained by students and aspects of physical environmental distraction which are the source of someone's procrastination are external factors that can influence individuals to delay completing their assignments. This study was conducted with the aim of knowing how these external factors can influence individuals to procrastinate and how this academic procrastination behavior can occur among students based on these individual external factors. The research method used descriptive qualitative and with a literature review method. The research data will be collected based on open-ended questions asked in interviews conducted with several resource persons who are active students. The results showed that external factors, namely social factors such as friendship environment and physical environment can influence a person to procrastinate.
PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN DESA TANGGUH BENCANA DI KABUPATEN GARUT (STUDI KASUS DI DESA PASAWAHAN KECAMATAN TAROGONG KALER) Buchari, Ahmad; Santoso, Meilanny Budiarti; Marlina, Nina
JAKPP (Jurnal Analisis Kebijakan & Pelayanan Publik) Volume 3 Number 1, June 2017
Publisher : Departemen Ilmu Administrasi FISIP UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/jakpp.v3i1.4729

Abstract

AbstrakDalam rangka mewujudkan desa tangguh bencana yang memiliki kapabilitas dalam manajemen bencana, diperlukan pengembangan kapasitas kelembagaan yang memadai. Kabupaten Garut sebagai salah satu “minimarket” bencana di Indonesia harus mampu membangun kapasitas kelembagaan Desa Tangguh Bencana agar masyarakat ditingkat desa mampu melakukan manajemen bencana dalam menghadapi potensi bencana serta mampu untuk meminimalisasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh bencana. Peningkatan kapasitas desa tangguh bencana mengandung pemahaman tentang berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan destana dalam mengelola bencana dari tahapan pra-tanggap darurat hingga tindakan pasca bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta menganalisis pengembangan kapasitas kelembagaan Desa Tangguh Bencana di Desa Pasawahan Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut serta faktor pendorong dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Fokus penelitian yakni pengembangan kapasitas kelembagaan desa tangguh bencana di Desa Pasawahan Kecamatan Tarorong Kaler Kabupaten Garut. Hasil penelitian ini adalah pengembangan kapasitas kelembagaan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Pasawahan Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut belum maksimal berdasarkan hambatannya yakni belum adanya kegiatan peningkatan pemberdayaan masyarakat lokal seperti pendidikan dan pelatihan kebencanaan, minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membangun kapasitas diri dalam menghadapi bencana serta belum adanya sarana pendukung.Adapun saran dari penelitian ini sebaiknya pemerintah daerah Kabupaten Garut memberikan dukungan yang lebih kepada desa Pasawahan baik dalam segi manajemen dan sarana guna mempercepat terciptanya desa Pasawahan yang dijadikan salah satu Desa Tangguh Bencana. Kemudian juga pihak desa harus mampu membangun kesadaran masyarakat terhadap   
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Pengolahan Kopi Di Dusun Banjaran, Desa Banyuresmi, Kelurahan Sukasari, Kabupaten Sumedang Humaedi, Sahadi; Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta; Raharjo, Santoso Tri
Humanism : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat memiliki berbagai potensi dan sumberdaya yang dapat dikembangkan. Seringkali, masyarakat belum sadar akan hal tersebut. Pengembangan masyarakat berbasis aset dapat menjadi pilihan untuk memperkuat aset komunitas dan membangun kapasitas dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa Banjaran, Dusun Banyuresmi memiliki potensi komoditas kopi yang melimpah. Namun, masih terdapat peluang pengembangan potensi kopi di wilayah tersebut. Petani kopi belum memiliki keterampilan dan pengetahuan terkait pengolahan kopi. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada pengembangan potensi kopi melalui pelatihan pengolahan kopi dan pengemasan bagi masyarakat khususnya para petani kopi di Dusun Banjaran, Desa Banyuresmi. Kelompok sasaran program adalah para petani yang berhimpun dalam kelompok tani Banjarsari 1 dan Banjarsari 2 di Dusun Banjaran, Desa Banyuresmi. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam mengolah hingga mengemas produk olahan kopi untuk meningkatkan nilai jual sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka. Narasumber kegiatan tersebut merupakan orang yang telah ahli dan berhasil dalam mengolah dan menjual produk olahan kopi. Kegiatan pengabdian dilakasanakan dengan metode kaji tindak melalui pelatihan pengolahan kopi. Hasilnya menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta pelatihan terkait pengolahan kopi hinggan pengemasan produk olahan kopi.
RUANG KERJA INKLUSIF BAGI TENAGA KERJA DENGAN DISABILITAS FISIK Widhawati, Monica Kristiani; Santoso, Meilanny Budiarti; Apsari, Nurliana Cipta
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i2.8258

Abstract

Abstract. To achieve a better condition in living, everyone has the rights to equal opportunity, one of which through providing rights to employment at formal work sector either government owened or private owned companies for people with physical disabilities. However, to fulfill the rights required long adaptation process, and involving various connecting factors on the process of social acceptance of the workforce with physical disabilities on the formal work sector. Using literature study, this article is describing the factors influencing the acceptance of the workforce with physical disabilities as well as the opportunities to gain employment at formal sector occupation. The study found that Indonesian government have attempt to fulfill the rights of people with physical disability through the issuance of several regulations ensuring the population of people with physical disabilities in equal opportunity to employment as well as protecting them from discrimination in the formal employment surrounding. In the process, there are various factors influencing the acceptance of workforce with physical disabilities which are internal and external factors. There is an acceptance quota of people with physical disabilities to be accepted that is serves as supporting factors, meanwhile, there is also preventing factors influencing the optimalization of workforce with physical disabilities in their workplace. This writing recommends the people with physical disabilities being facilitated in enhancing their skills and knowledge in order to be qualified with the requirements of the workplace.   Abstrak. Dalam pencapaian kehidupan yang lebih baik setiap orang berhak akan kesempatan yang sama, salah satunya melalui pemberian hak untuk mendapatkan kesempatan kerja yang sama pada sektor kerja formal milik pemerintah maupun perusahaan swasta termasuk bagi orang dengan disabilitas fisik. Namun, ternyata untuk dapat mewujudkan hal tersebut harus melalui proses adaptasi yang cukup panjang, serta melibatkan berbagai faktor yang berkaitan pada penerimaan sosial tenaga kerja dengan disabilitas fisik pada sektor kerja formal. Menggunakan metode kajian pustaka, tulisan ini berusaha menggambarkan situasi penyebab dan peluang orang dengan disabilitas fisik dalam mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Hasil penelitian menemukan bahwa pemerintah Indonesia telah berupaya untuk dapat memenuhi hak orang dengan disabilitas fisik dengan menerbitkan beberapa peraturan yang dapat menjamin populasi orang dengan disabilitas fisik dalam mendapatkan kesempatan kerja dan melindungi mereka dari diskriminasi di dunia kerja formal. Pada prosesnya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan tenaga kerja dengan disabilitas fisik yaitu terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Terdapat aturan kuota penerimaan orang dengan disabilitas fisik untuk bekerja yang menjadi faktor pendukung diterimanya orang dengan disabilitas fisik di tempat kerja formal, akan tetapi ada pula faktor penghambat orang dengan disabilitas fisik bekerja secara optimal di tempat kerja nya. Tulisan ini menyarankan agar orang dengan disabilitas fisik difasilitasi untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan agar mereka dapat memenuhi persyaratan untuk penerimaan lowongan pekerjaan. 
Co-Authors A. Rachim, Hadiyanto Abie Besman Agus Wahyudi Riana Ahmad Buchari AMANDA, MAUDY PRITHA Anjani, Dina Annisa Nabila, Annisa AR-RIDHO, ALI Arie Surya Gutama, Arie Surya Aritonang, Johan Immanuel assidiq, rizky adrian Aulia, Adis Prita Azizah, Zahra Qisthi Azlinda Azman, Azlinda B, Megawati Bilantara, Naila Hisanah Budhi Wibhawa, Budhi Budi Muhammad Taftazani, Budi Muhammad Camelia Kristika Pepe, Camelia Kristika Chenia Ilma Kirana, Chenia Ilma Damayanty, Siska Darwis, Rudi S. Dessy Hasanah Siti Asiah dwinata, mahda diva Enggarati, Lanita Eva Nuriyah Hidayat Fachruddin, Vanindya Fadhlillah, Annisa N. Firdaus, muhammad Riyandi Franzeska Venty, Franzeska Gigin Ginanjar Kamil Basar Gunawan, Budhi Hadiyanto A. Rachim, Hadiyanto A. Hadrasari, Ifani Herdiana, Mochamad Fauzan Putra Herlina Marta Hery Wibowo, Hery Hetty Krisnani, Hetty Idris, Haifa Dinda Shafiyyah Imas Siti Setiasih In-In Hanidah Ishartono Ishartono, Ishartono Isna Deraputri, Gevia Nur Mailani, Silvia Dwi Astuti Mardina, Mutiara Marlina, Nina Mia Uswatun Hasanah Mirajani, Inara Moch. Zainuddin, Moch. Muhammad Noor Muhammad, Cita Insaniah Nunung Nurwati Nurazizah, Siti Nurhadi, Aan Nurlaeli, Dede Rahmaida Nurliana Cipta Apsari Nurwari, R. Nunung Nurwati , R. Nunung Putri, Bimby Gita Rama Putri, Destin Putri, Nadila Auludya Rahma Rachim, Hadiyanto Abdul Rifai, Aldi Ahmad Rini Rizkiawati, Rini Risna Resnawaty, Risna Rizky, Julian Rudi Saprudin Darwis, Rudi Saprudin Runia Hanifa, Runia S, Dessy Hasanah Sahadi Humaedi Salsabila Wahyu Hadianti, Salsabila Wahyu Santoso Tri Raharjo, Santoso Tri Shabihah, Ulya Salwa Soni Akhmad Nulhaqim Sujalmi, Yuri Budi SUMARA, DADAN SUMARA Syalis, Elprida Ryanny Syauqina, Dinda Azzahra Taufik Arbain Widhawati, Monica Kristiani Widuri, Saraswati wubhawa, budhi Yessi Rachmasari, Yessi zaenuddin, moch Zainudiin, Moch Zainudin, Moch. ZAKIYAH, ELA ZAIN