Claim Missing Document
Check
Articles

Media Promosi Dramatari Tektekan Calonarang Di Puri Anyar Kerambitan Tabanan Nova Agung Rama, Wijaya; Santosa, Hendra; A.A. Gde Bagus, Udayana
Prabangkara : Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 23 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.778 KB)

Abstract

Penciptaan ini bertujuan untuk membuat media promosi bagi Dramatari Tektekan Calonarang di Puri Anyar Kerambitan. Saat ini Puri Anyar Kerambitan belum mempunyai media promosi yang baik untuk memperkenalkan Puri Anyar Kerambitan kepada masyarakat secara luas. Untuk itu solusi mengatasi masalah yang dihadapi Puri Anyar Desa Baturiti Kerambitan Tabanan adalah membuat media komunikasi visual yang bersifat informatif, komunikatif dan estetik. Peranan Desain Komunikasi Visual dalam kasus bertujuan untuk promosi pementasan dramatari Tektekan Calonarang di Puri Anyar Desa Baturiti Kerambitan Tabanan kepada masyarakat luas baik lokal, nasional maupun internasional. Untuk menciptakan karya Desain Komunikasi Visual Untuk Promosi Dramatarai Tektekan Calonarang Di Puri Anyar Kerambitan Tabanan, terdapat dua pokok rumusan ide penciptaan meliputi, (1) Bagaimana proses penciptaan Desain Komuniasi Visual Untuk Promosi Dramatari Tektekan Calonarang ?, (2) Bagaimana bentuk Desain Komuniasi Visual Untuk Promosi Dramatari Tektekan Calonarang ? Teori yang digunakan untuk medukung karya teori Desain Komunikasi Visual, Teori Estetika, dan Teori Semiotika. Metode penciptaan yang dilakukan adalah mengeksplorasi Tektekan Calonarang, menerapkan teori desain, estetika, dan semiotika serta unsur-unsur visual ke dalam proses penciptaan, serta melalui tahapan-tahapan penciptaan desain komunikasi visual. Membentuk wujud Desain Komunikasi Visual promosi berupa website, poster, billboard, t-shirt, katalog, instagram dan video promosi.
TRACES OF MUSICAL INSTRUMENTS IN KAKAWIN BHARATAYUDHA Santosa, Hendra; Kustiyanti, Dyah; Sudirga, I Komang
E-Journal of Cultural Studies Vol 9, No 2 (2016): May 2016
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is part of the research entitled "Melacak Jejakdari Karawitan dalam Naskah JawaKuno: Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna" based on 22 early Old Javanese literature manuscripts.This article is specifically talking about the form and function of musical instruments that are written in the Kakawin Bratayudha only to clarify the form and function of musical instruments during the reign of Jayabaya in Kediri, East Java. This study uses historical method, namely, through the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that at the stage of heuristics three kakawin are found including Bharatayudha by I WayanWarna in 1990, works of R.M. SutjiptoWirjosuparto 1968 entitled Kakawin BharataYudha, and a translation book Kakawin BharataYudha by I Gusti Bagus Sugriva, 2012. Criticism is done internally through translation and also by comparing the three works from the text, followed by interpretation of the translation of three Kakawin BharataYudha, and the last is the stage of historiography. The function of musical instruments in the kakawinof BharataYudhacan not be separated from the function of musical instruments at the time of the Ancient Javanese namely as a means of ceremonies and to accompany secular activities. Secular activity in question is entertainment, communication, respect, war, economy, dowry, and symbol (Fernandus, 2003: 381-415). Musical instruments contained in kakawin BharataYudha, is still found, but there also have been renamed as Mredangga (drum) and rawanahasta (a type of fiddle). Harps only thrive in Sundanese, and Rawanahasta grow and spread in different parts of the archipelago.
Critical Analysis on Historiography of Gamelan Bebonangan In Bali Santosa, Hendra
Paramita: Historical Studies Journal Vol 30, No 1 (2020): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v30i1.18480

Abstract

Historical sources on gamelan Bebonangan refer to the different shapes and forms of the ensemble. This inevitably results in perplexity on the origin, shapes, and forms of gamelan Bebenongan. The paper, therefore, aims to redress the confusion by rewriting it through critical history, a type of criticism on historical sources related to the term gamelan Bebonangan in Bali. The method used for the paper is historical approaches that include heuristics, criticism, interpretation, and historiography as the finale. The word bebonangan is not found in historical sources of Balinese karawitan in the form of Old Javanese literature, which is today preserved in Bali and the Balinese literature itself. The only literary work that mentions these pencon-ed instruments is the Book of Pararaton, calling the as reyong instruments. The Book of Prakempa refers to the instruments in names such as reyong barangan and reyong pangageng. By indicating that the reyong instrument becomes the main instrument, one may expect peculiarity in the claims. It may be pointed out that opinions have been led in the beginning by the foreign influence to impose the view to the Balinese to challenge their own identity and, at the same time to be applauded for their arts and culture.Sumber sejarah tentang gamelan Bebonangan yang menunjuk bentuk dan wujud yang berbeda. Hal ini tentu saja menyebabkan kesimpang siuran tentang asal-usul dan wujud gamelan Bebonangan itu sendiri. Oleh karenanya penulisan ini bertujuan untuk meluruskan kesimpangsiuran yang terjadi dengan menuliskannya melalui kritik terhadap sumber-sumber sejarah istilah gamelan Bebonangan di Bali. Metode yang dipergunakan yaitu metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi atau penafsiran, dan terakhir adalah historiografi. Kata bebonangan tidak ditemukan dalam sumber-sumber sejarah karawitan Bali yang berupa literatur kesusastraan Jawa Kuna yang sekarang diawetkan di Bali dan literatur kesusastraan Bali sendiri. Satu-satunya karya kesusastraan yang menyebutkan instrumen berpencon ini adalah kitab pararaton yang menyebutnya dengan instrumen reyong. Prakempa menyebutkan instrumen-instrumen gamelan Bebonangan antara lain reyong Barangan dan reyong Pangageng. Merujuk hal tersebut dimana instrumen reyong merupakan instrumen utama, maka tentulah hal ini menjadi sebuah keanehan. Sepertinya telah terjadi penggiringan sejak awal, adanya pengacauan asing telah memaksakan orang Bali untuk mempertanyakan dasar identitas mereka, pada saat yang sama mereka juga mendapat sanjungan untuk seni dan budayaannya.
THE USES OF GONG SULING IN NGEMBAN RARE COMPOSITION Prasad, Visvam Bhara; Sudirga, I Komang; Santosa, Hendra
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.062 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i2.866

Abstract

Komposisi Ngemban Rare yang menggunakan Gamelan Gong Suling ini menggambarkan kenangan masa kecil dengan berbagai sikap. Karya ini terinspirasi oleh seseorang yang merawat anak yang sedang menangis. Bahkan, saat ini sebagian besar orang tua mengajarkan hal-hal yang salah kepada anak-anak dengan memfasilitasi mereka sebelum mereka cukup dewasa sehingga membuat karakter anak menjadi tidak baik. Komposisi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu menggambarkan suasana fenomena mengasuh anak-anak, mengasuh anak-anak dengan menyanyikan lagu-lagu anak-anak tradisional, mengajar anak-anak dan memperkenalkan budaya sejak usia dini, dan menanamkan disiplin dan karakter yang baik, agar tidak menyesal kemudian. Pembentukan ciptaan karya ini mengacu pada proses penciptaan karya seni yang diklarifikasi menjadi tiga tahap, yaitu tahap eksplorasi, tahap improvisasi, dan tahap pembentukan
Proses Pembuatan Film Animasi 2D “Pedanda Baka” Sudi Anggara, I Gede Adi; Santosa, Hendra; Udayana, A.A Gde Bagus
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 8 No 1 (2020): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.266 KB) | DOI: 10.31091/sw.v8i1.923

Abstract

Dahulu, para orang tua sering bercerita tentang dongeng dan cerita rakyat daerah kepada anak-anaknya menjelang tidur. Namun kini, cerita rakyat yang merupakan salah satu seni tradisi lisan telah mengalami marginalisasi. Tak hanya dikarenakan dengan perubahan zaman dan hadirnya berbagai teknologi, tetapi juga karena tradisi mendongeng di lingkungan keluarga telah memudar. Sangat disayangkan bila kisah-kisah inspiratif dan penuh dengan pesan moral yang terkandung di dalamnya tidak tersampaikan ke masyarakat luas, terutama anak-anak. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan industri kreatif saat ini, film animasi 2D adalah salah satu media informatif yang efektif dalam menyajikan dan mentransfer kisah-kisah cerita rakyat kepada masyarakat luas, terutama anak-anak yang menyukai film kartun. Film animasi 2D “Pedanda Baka” merupakan film animasi yang sumber ceritanya berasal dari cerita rakyat daerah Bali. Dalam proses pembuatannya, film animasi 2D ini melalui beberapa tahapan yang terbilang kompleks. Pembuatan film animasi 2D “Pedanda Baka” ini menerapkan metode pembuatan film dengan melalui tiga tahapan yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan primer yaitu wawancara dengan Made Taro selaku budayawan dan pendongeng asal Bali, serta didukung dengan data sekunder yakni studi kepustakaan. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahap pra-produksi dilalui dengan beberapa proses dimulai dari menentukan ide cerita, membuat perencanaan, membuat naskah(script), membuat desain visual, serta membuat storyboard. Tahap produksi meliputi persiapan bidang kerja, modelling karakter, rigging karakter, perekaman dubbing, proses animasi, serta render animasi. Sedangkan tahap pasca-produksi meliputi proses compositing, editing, test render dan render final.
Konsep Catur Purusartha Dalam Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Buleleng, Bali I Made, Rianta; Santosa, Hendra; I Ketut, Sariada
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/kalangwan.v6i1.815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dari konsep gerak tarinya. Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong pada gerak tarinya berkonsepkan catur purusartha di dalamnya yang dapat dilihat dari empat gerakan pokok dalam tarian yang diulang dari awal hingga akhir tarian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsep catur purusartha dalam gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong. Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitattif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi terus terang, metode wawancara dan studi kepustakaan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa gerakan yang terdapat di dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong berbeda dengan Tari Rejang pada umumnya karena gerak-gerak yang terdapat dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong hanya terdiri dari empat gerakan yang selalu dipergunakan secara berulang-ulang dari awal tarian hingga akhir tarian, sehingga struktur gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong menggunakan struktur tunggal di dalamnya dan gerakan Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong memiliki konsep catur purusartha di dalam gerakannya. Konsep inilah yang membedakan gerak Tari Rejang Sakral Lanang dengan Tari Rejang pada umumnya. Penelitian gerak Tari Rejang Sakral Lanang menggunakan teori semiotika berdasarkan pendapat Ferdinand de Saussure yaitu penanda dan petanda. Adapun empat gerakan yang terdapat dalam tarian meliputi: agem, nengkleng, nindak dan nutup sebagai penanda dan petanda adalah bagian-bagian dari konsep catur purusartha yang terdiri dari dharma, artha, kama dan moksa.
The Concept of Balance at Sekati Ririg Gending in Tejakula, Buleleng Regency Aditya Putra, I Ketut; Santosa, Hendra; Sudirga, I Komang
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 20, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v20i2.25412

Abstract

This study aims to determine the concept of balance found in playing techniques, tempo, and dynamics (ngumbang-ngisep) at Sekati Ririg Cenik gending in Tejakula, Buleleng Regency. The research is focused on the presentation using the barungan of Gong Kebyar gamelan, because at the time of handling the beginning observation, it was presented to accompany religious ceremonies at Pura Maksan Tejakula. This research is a qualitative study using several data collection techniques; observation, interviews, documentation, and literature. The approach used is a musicological approach using aesthetic theory. The results obtained from this study are the concept of dualism balance in terms of some of the forming elements in it, such as playing techniques on instruments pemade, kantilan, trompong, reyong, and ceng-ceng kopyak. These are some of the instruments that use the polos-sangsih system in their playing. Playing Technigue usually play parallel to the tempo, while playing technique sangsih is still playing against the tempo. Furthermore, the concept of balance at tempo can be seen from the speed with which gending Sekati Ririg Cenik is presented. The presentation begins with a slow tempo, then after several repetitions of the gending the tempo slowly changes to faster until it reaches the end of the gending, and the tempo is again set to slow. Likewise with the concept of dynamic balance which can be viewed from the loudness of the musical presentation. Setting the tempo and dynamics is intended to achieve balance and will not cause boredom in the presentation. These three things can be implemented in the Gong Kebyar gamelan instrument which is used as a medium in presenting Sekati Ririg Cenik gending by the community in Tejakula Village.
Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Komang Sudirga; Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.148 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.218

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian dari “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi dan Makna”. Karena penelitian pada tahun pertama ini menyangkut pada 22 Naskah dan sangat sulit untuk ditemukan naskah-naskahnya, maka dalam penulisan artikel ini hanya akan menampilkan jejak-jejak karawitan yang tersurat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha saja, sehingga bahasan artikel ini lebih fokus dan dapat dikembangkan menjadi bahasan untuk tulisan yang lain dengan mengambil bahasan pada karya kesusastraan lainnya. Dengan demikian diharapkan pembahasan bentuk, fungsi, dan makna istilah karawitan pada tahun 1028 -1035 di Jawa Timur penguraiannya dapat lebih jelas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini, pada tahap heuristik ditemukan dua buah Kekawin Arjuna Wiwaha yaitu koleksi Perpustakaan Nasional dan Koleksi Gedong Kertya. Kritik dilakukan secara internal melalui penerjemahan, yang dilanjutkan dengan interpretasi terhadap terjemahan dari dua naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, dan terakhir adalah historiografi yaitu penulisan mengenai jejak karawitan dalam kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, fungsi dan makna. Perubahan bentuk atau perwujudan dan juga penyebutan nama dari instrumen karawitan yang tersurat dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada yang berubah dan ada pula yang tetap, seperti Mredangga yang sekarang dikenal dengan Istilah bedug. Perubahan nama juga terjadi dari berebet menjadi Cengceng. Hal ini bisa saja dikarenakan penyebutan nama instrumen didasarkan pada bunyi yang dihasilkannya seperti bedug karena bunyinya dug dug dug, dan cengceng karena karena ketika dibunyikan, bunyinya ceng ceng ceng. Ada istilah karawitan yang saat ini tidak ditemukan di belahan Nusantara seperti kata wina sejenis kecapi dan rawanahasta sejenis rebab. Wina kalau memang sejenis kecapi kemungkinan bentuknya lain dengan kecapi mungkin saja berkembang di belahan nusantara yang lain karena kecapi hanya berkembang di Sunda. Sama halnya dengan Rawanahasta yang diartikan sejenis rebab maka instrumen ini berkembang di belahan nusantara yang lain.This writing is a part of research entitled “Tracing Karawitan in Old Java Script: The Study of Form, Function and Meaning”. The first year research is that of 22 scripts and they are very difficult to find, hence in the writing of this article will merely put forward the traces of karawitan written in Kakawin Arjuna Wiwaha. Therefore, the discussion of this article is more focus and can be developed as a reference to another writing about different literature. Thereby, it hopes that the commentary about form, function and meaning of the term karawitan in 1028 -1035 in East Java can be clearer.This research uses historical method that is through heuristic, criticism, interpretation and historiography. Specifically for this article, in the stage of heuristic it was found two Kekawin Arjuna Wiwaha that are collection of National Library and Gedong Kertya. Criticism was done internally through translation then interpreting the translation of two Kekawin Arujna Wiwaha scripts. Finally, the historiography is writing about karawitan trace in kakawin Arjuna Wiwaha: Study about Form, Function and Meaning. Changes of form or materialization and mentioning the name of karawitan instrument written in kakawin Arjuna Wiwaha are present, but there is also the unchanged ones, such as Mredangga nowadays known as bedug. The changes of name also occur from berebet to cengceng. This can be happened because mentioning the instrument name is usually based on the sound produced such as bedug which sounds dug dug dug and cengceng produces the sounds ceng ceng ceng. There is karawitan term that can’t be found in Indonesian archipelago nowadays such as wina, a sort of kecapi, and rawanahasta, a sort of rebab. If Wina was a sort of kecapi, the form was probably different with kecapi. It was probably developing in another part of Indonesian archipelago because kecapi was only developing in Sunda. The same as Rawanahasta which is interpreted as a sort of rebab, therefore this instrument was developing in another part of Indonesian archipelago.
Prototipe Gamelan Sistem Sepuluh Nada Dalam Satu Gembyang Hendra Santosa; - Saptono; I Ketut Sudhana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.058 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.219

Abstract

Konsep sepuluh nada dalam satu gembyang pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu gembyang penelitiannya terapan dilakukan.Tujuan Jangka panjang penelitian ini adalah membuat sebuah model gamelan dengan sistem sepuluh nada dalam satu Gembyang. Jika penelitian dapat diwujudkan, akan memberikan kosntribusi yang sangat signifikan dalam menunjang kreativitas seniman karawitan. Penelitian ini diperkirakan akan memakan waktu antara tiga tahun dengan masing-masing capaian setiap tahunnya berupa sebuah model instrumen gamelan. Penelitian terapan ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapangan untuk mencari nada dasar. Metode observasi kepustakaan untuk menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan interval nada. Metode observasi laboratorium yang menggunakan sofware Nuendo H2O serta Plug in RMIV untuk mencari sampler nada dan interval. Hasil yang didapat, kemudian direalisasikan dalam bentuk instrumen yang terbuat dari kayu, dan selanjutnya diujicobakan dalam bentuk praktik berkarawitan. Setelah dinilai cocok kemudian dibuatkan prototipe yang selanjutnya diujicoba baik melalui gending yang sudah ada, maupun gending baru. Pengukuran nada-nada secara matematis tidaklah tepat dipergunakan dalam pembuatan prototipe gamelan sistem sepuluh nada ini. Hal ini terjadi ketika apa yang ditemukan dalam penelitian gamelan Nawa Swara ternyata dari sisi rasa terasa ada yang tidak pas walaupun secara rasa dalam laras selendro sudah benar namun ternyata nada sisipannya yang menggunakan hitungan matematis terasa tidak enak didengar.The concept of ten tones in one gembyang been formulated by two people musicologist Indonesia RadenAnggaMahyarKusumadinata and R. HardjoSubroto. In the Balinese gamelan it is implied in the Prakempa manuscript. The real interesting musical concepts, have not been investigated and conducted in-depth assessment. In this context, the gamelan tuning system using nine tones in one gembyang applied research carried out. The long term goal of this research is to create a model of the system gamelan with ten tones in one Gembyang. If research can be realized, will give contributions significant in supporting the creativity of musical artists. This study is expected to take between three years with each achievement annually in the form of a gamelan instrument models. Applied research was conducted using the method of observation to find the basic tone. Observation methods literature to examine the results of previous studies related to tone intervals. Laboratory observation method which uses H2O Nuendo software and plug-in RMIV to find sampler tones and intervals. The results obtained, then realized in the form of instruments made of wood, and subsequently tested in the form music practice. Having considered suitable then created a prototype which further tested through gending existing or new gending. Measurement tones mathematically it is not appropriate used in the manufacture of the gamelan prototype this ten tone system. This happens when what was found in the study gamelan NawaSwara turns of the flavor was there that do not fit in the barrel flavor although selendro are correct but in fact the tone of additions that use mathematical calculation was not pleasant to hear.
Proses Pembuatan Film Animasi 2D “Pedanda Baka” I Gede Adi Sudi Anggara; Hendra Santosa; A.A Gde Bagus Udayana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.266 KB) | DOI: 10.31091/sw.v8i1.923

Abstract

Dahulu, para orang tua sering bercerita tentang dongeng dan cerita rakyat daerah kepada anak-anaknya menjelang tidur. Namun kini, cerita rakyat yang merupakan salah satu seni tradisi lisan telah mengalami marginalisasi. Tak hanya dikarenakan dengan perubahan zaman dan hadirnya berbagai teknologi, tetapi juga karena tradisi mendongeng di lingkungan keluarga telah memudar. Sangat disayangkan bila kisah-kisah inspiratif dan penuh dengan pesan moral yang terkandung di dalamnya tidak tersampaikan ke masyarakat luas, terutama anak-anak. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan industri kreatif saat ini, film animasi 2D adalah salah satu media informatif yang efektif dalam menyajikan dan mentransfer kisah-kisah cerita rakyat kepada masyarakat luas, terutama anak-anak yang menyukai film kartun. Film animasi 2D “Pedanda Baka” merupakan film animasi yang sumber ceritanya berasal dari cerita rakyat daerah Bali. Dalam proses pembuatannya, film animasi 2D ini melalui beberapa tahapan yang terbilang kompleks. Pembuatan film animasi 2D “Pedanda Baka” ini menerapkan metode pembuatan film dengan melalui tiga tahapan yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan primer yaitu wawancara dengan Made Taro selaku budayawan dan pendongeng asal Bali, serta didukung dengan data sekunder yakni studi kepustakaan. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahap pra-produksi dilalui dengan beberapa proses dimulai dari menentukan ide cerita, membuat perencanaan, membuat naskah(script), membuat desain visual, serta membuat storyboard. Tahap produksi meliputi persiapan bidang kerja, modelling karakter, rigging karakter, perekaman dubbing, proses animasi, serta render animasi. Sedangkan tahap pasca-produksi meliputi proses compositing, editing, test render dan render final.
Co-Authors - Saptono - Saptono Ade Surya Firdaus Ade Surya Firdaus Aditya Putra, I Ketut Anak Agung Gde Bagus Udayana Antara, I Made Bayu Arba Wirawan, I Komang Ardi Gunawan Ardi Aryawaningrat, I Gusti Ayu Agung Darmawan, I Komang Werdi Firdaus, Ade Surya Hasbullah - Hasbullah Hasbullah I Dewa Ketut Wicaksana, I Dewa Ketut I Dewa Ketut Wicaksandita I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Mawan I Gede Yudarta, I Gede I Gusti Ayu Putu Pratiwi I Kadek Deo Sandiawan I Ketut Aditya Putra I Ketut Sariada, I Ketut I Ketut Sudhana I Komang Arba Wirawan I Komang Diki Putra Sentana I Komang Sudirga I Komang Werdi Darmawan I Made Bayu Puser, Bhumi I Made Rai Purna Yasa I Made Rianta I Made Rianta I Made, Rianta I Nengah Sama I Nyoman Kariasa, I Nyoman I Nyoman Wiradarma Yoga I Nyoman Yudha Putra Widiantara I Putu Angga Mahendra I Putu Danika Pryatna I Saptono I Wayan Swandi Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti ikadekagus adityaputra Kadek Suartaya Komang Lanang Adi Arimbawa Komang Wira Adhi Mahardika Kunto Sofianto Kustiyanti, Dyah Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta Maruta Gautama, Nyoman Ni Kadek Wina Ferninaindis Ni Made Ayu Dwi Sattvitri Ni Putu Hartini Ni Wayan Ardini, Ni Wayan Nina Herlina Lubis Nova Agung Rama, Wijaya Padmini, Tjok Istri Putra Prakasih Putu Paristha Pramana, I Putu Riangga Budi Prasad, Visvam Bhara Prayatna, I Wayan Dedy Putra Adnyana, Made R.M. Mulyadi Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono, Saptono Saptono, I Satyani, Ida Ayu Wayan Arya Sudhana, I Ketut Sujayanthi, Ni Wayan Masyuni Sutirtha, I Wayan Swandi, I Wayan Tudhy Putri Apyutea Kandiraras Udayana, A.A. Gde Bagus Visvam Bhara Prasad Wardizal, Wardizal Wardizal, Wardizal