Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Konstruksi Makna Ilokusi dalam Wacana Komedi Publik: Studi Pragmatik pada Spesial “Mens Rea”: The Construction of Illocutionary Meaning in Public Comedy Discourse: A Pragmatic Study of the Special “Mens Rea” Angel Vionika Saharani; Diardana Prima Sintasari; Miftakhuddin
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 4 (2026): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i4.2572

Abstract

Penelitian ini mengkaji konstruksi makna ilokusi dalam wacana komedi publik melalui analisis pragmatik terhadap spesial komedi tunggal Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono. Kajian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan komedi tunggal sebagai ruang komunikasi publik yang menyampaikan kritik sosial dan hukum melalui tuturan tidak literal, reflektif, dan humoris. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis, fungsi, dan pola konstruksi makna ilokusi dalam pertunjukan tersebut. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan pragmatik. Data berupa tuturan terpilih dari transkripsi pertunjukan yang dikumpulkan melalui teknik simak, transkripsi, dan catat. Data dianalisis menggunakan taksonomi tindak ilokusi Searle dengan mengidentifikasi konteks, daya ilokusi, fungsi komunikatif, dan pola retoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna ilokusi dikonstruksi melalui pola informatif-edukatif, reflektif-persuasif, dan evaluatif-kritis. Implikasinya, komedi publik dapat berfungsi sebagai media literasi hukum, refleksi sosial, dan komunikasi kritis dalam budaya digital.
Pemanfaatan Budaya Lokal Sragen sebagai Sumber Pembelajaran Menulis Teks Deskripsi dan Teks Lainnya di SMP: Tawaran Model Kontekstual: The Use of Sragen Local Culture as a Learning Resource for Writing Descriptive Texts and Other Texts in Junior High Schools: A Contextual Model Proposal Eka Permadanik; Rifa’atussalwa Hayati; Diardana Prima Sintasari
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 4 (2026): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i4.2995

Abstract

Artikel ini membahas pemanfaatan budaya lokal Sragen sebagai sumber pembelajaran kontekstual untuk menulis teks deskripsi dan mengalihkannya ke berbagai genre di SMP. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kesulitan siswa dalam menulis, terutama keterbatasan ide, lemahnya pengalaman pengamatan, dan bahan ajar yang kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan menawarkan model kontekstual yang menempatkan budaya lokal sebagai sumber isi sekaligus metode pengembangan keterampilan menulis. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif konseptual melalui studi pustaka dan analisis dokumen budaya. Materi kajian meliputi tradisi, seni pertunjukan, kuliner, pasar lokal, ritual agraris, dan kerajinan khas Sragen. Hasil kajian menghasilkan pemetaan objek budaya, unsur yang dapat diamati, kemungkinan genre tulisan, serta Model Pengamatan Budaya–Alih Genre. Model tersebut mencakup orientasi, observasi, pencatatan, verifikasi, pengorganisasian, penulisan, alih genre, penyuntingan, publikasi, dan refleksi. Implikasinya, budaya lokal dapat memperkaya pembelajaran menulis sekaligus mendukung pelestarian budaya daerah.
Bermain Peran sebagai Strategi Penguatan Keterampilan Berbicara dalam Pembelajaran Drama: Studi Literatur Indra Rasyid Julianto; Ewin Sanjaya Gajah; Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Ina; Hasnah Setiani
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/q3a8dj64

Abstract

Keterampilan berbicara merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran bahasa dan seni karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik menyampaikan gagasan, mengekspresikan perasaan, dan berinteraksi secara lisan. Namun, pembelajaran berbicara masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya kepercayaan diri, keterbatasan kelancaran, ketepatan lafal, intonasi, ekspresi, dan kurangnya kesempatan praktik komunikasi secara langsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi metode bermain peran (role playing) dalam pembelajaran drama terhadap pengembangan keterampilan berbicara peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur. Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah yang relevan menggunakan kata kunci bermain peran, pembelajaran drama, keterampilan berbicara, dan studi literatur. Sebanyak 21 artikel dipilih berdasarkan kesesuaian topik dengan fokus penelitian, khususnya keterkaitan antara penerapan role playing, pembelajaran drama, dan pengembangan keterampilan berbicara pada berbagai jenjang pendidikan. Data kemudian dianalisis secara deskriptif melalui identifikasi, pengelompokan, perbandingan, dan sintesis temuan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa role playing secara umum memberikan kontribusi positif terhadap keterampilan berbicara, terutama pada aspek kelancaran, artikulasi, intonasi, volume suara, ekspresi, penghayatan karakter, keberanian tampil, dan kemampuan berinteraksi. Penerapan role playing juga memberikan pengalaman komunikasi yang aktif dan kontekstual serta mendukung keterlibatan, kerja sama, dan kepercayaan diri peserta didik. Berdasarkan sintesis tersebut, role playing dapat dipandang sebagai strategi pembelajaran integratif yang menghubungkan pengembangan kompetensi linguistik, performatif, sosial, dan afektif dalam pembelajaran drama.
Alih Wahana Cerpen ke Pementasan Drama: Proses Kreatif dan Strategi Adaptasi dalam Pembelajaran Diardana Prima Sintasari; Ina Ina; Pramisdi Winanto Saputro; Indra Rasyid Julianto; Hasnah Setiani
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/2hjjs504

Abstract

Alih wahana cerpen ke pementasan drama merupakan proses kreatif yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk karya, tetapi juga melibatkan interpretasi, transformasi, dan pengembangan unsur cerita sesuai dengan karakteristik seni pertunjukan. Dalam konteks pembelajaran, proses tersebut berpotensi menjadi ruang untuk mengintegrasikan apresiasi sastra, keterampilan berbahasa, kreativitas, dan pengalaman artistik murid. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses kreatif dan strategi adaptasi dalam alih wahana cerpen ke pementasan drama serta mengkaji potensi relevansinya dalam pembelajaran Seni dan Budaya dan Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Sumber kajian berupa berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan alih wahana, adaptasi karya sastra, proses kreatif, drama, dan pembelajaran. Analisis dilakukan melalui identifikasi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa alih wahana berlangsung melalui rangkaian proses membaca, menafsirkan, mentransformasikan, menulis, melatih, mempertunjukkan, dan merevisi. Strategi adaptasi meliputi penciutan, penambahan, dan perubahan untuk menyesuaikan unsur naratif menjadi dialog, tindakan, karakterisasi, dan adegan dramatik. Proses pementasan selanjutnya memperluas adaptasi melalui pemeranan, ekspresi, vokal, gerak, dan kolaborasi. Berdasarkan sintesis literatur tersebut, alih wahana cerpen ke pementasan drama berpotensi diposisikan sebagai alternatif pembelajaran berbasis proses kreatif yang mempertemukan literasi sastra, keterampilan berbahasa, kreativitas, kolaborasi, dan pengalaman seni pertunjukan. Temuan ini merupakan sintesis konseptual dan belum dimaksudkan sebagai bukti empiris mengenai efektivitas penerapannya dalam pembelajaran.
Monolog Sastra dalam Pembelajaran Seni: Pengembangan Kemampuan Berbicara, Ekspresi, dan Apresiasi Ina Ina; Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Hasnah Setiani; Indra Rasyid Julianto
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/g5t19p28

Abstract

Pembelajaran seni memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman belajar yang melibatkan komunikasi, ekspresi, kreativitas, dan apresiasi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang secara konseptual dapat mengintegrasikan aspek tersebut adalah monolog sastra karena melibatkan pemahaman teks, interpretasi karakter, kemampuan berbicara, serta ekspresi verbal dan nonverbal dalam sebuah performansi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara teoretis peran monolog sastra dalam pembelajaran seni, khususnya dalam kaitannya dengan potensi penguatan kemampuan berbicara, ekspresi, dan apresiasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi literatur. Data penelitian berupa sumber-sumber ilmiah yang relevan, terutama artikel jurnal, buku akademik, dan publikasi penelitian yang membahas pembelajaran seni, monolog, keterampilan berbicara, ekspresi, dan apresiasi sastra. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, kategorisasi tematik, dan sintesis antarsumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa monolog sastra memiliki potensi sebagai bentuk pembelajaran seni yang integratif karena menghubungkan pemahaman teks dengan praktik performatif. Berdasarkan sintesis literatur, aktivitas monolog berpotensi memberikan ruang bagi penguatan kemampuan berbicara melalui latihan artikulasi, intonasi, volume, tempo, dan kelancaran; mendukung pengembangan ekspresi melalui penggunaan vokal, mimik, gestur, dan penghayatan karakter; serta memperkaya apresiasi sastra melalui proses memahami, menafsirkan, menghayati, dan merespons karya. Secara konseptual, ketiga aspek tersebut menunjukkan keterkaitan antara pemahaman teks, interpretasi, penghayatan, performansi, dan komunikasi. Dengan demikian, kajian ini menempatkan monolog sastra sebagai alternatif pembelajaran yang secara teoretis berpotensi mempertemukan dimensi bahasa, seni, dan sastra secara terpadu.  
Integrasi Seni Musik dan Sastra dalam Pembelajaran Musikalisasi Puisi Pramisdi Winanto Saputro; Diardana Prima Sintasari; Ina Ina; Hasnah Setiani; Indra Rasyid Julianto
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya) Edisi Agustus-Desember 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/04m8b694

Abstract

Integrasi seni musik dan sastra dalam pembelajaran dapat menjadi strategi untuk menciptakan pengalaman belajar yang kreatif, estetis, dan interdisipliner. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan integrasi unsur musik dan sastra dalam pembelajaran musikalisasi puisi serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap pengembangan kemampuan apresiasi, kreativitas, ekspresi, dan kolaborasi peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh melalui penelusuran, pemilihan, pembacaan, dan analisis berbagai sumber ilmiah yang relevan dengan seni musik, sastra, puisi, musikalisasi puisi, dan pembelajaran seni serta bahasa. Analisis dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan mengidentifikasi keterkaitan antara unsur sastra dan unsur musikal dalam proses pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa musikalisasi puisi merupakan bentuk integrasi seni yang menempatkan puisi sebagai sumber interpretasi yang kemudian diterjemahkan ke dalam melodi, ritme, tempo, dinamika, vokal, dan instrumen. Proses tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman terhadap makna dan suasana puisi, tetapi juga mengembangkan kreativitas, apresiasi sastra, kemampuan musikal, ekspresi, komunikasi, dan kerja sama peserta didik. Dengan demikian, musikalisasi puisi dapat dikembangkan sebagai pembelajaran multimodal yang mempertemukan literasi sastra dan literasi musikal melalui pengalaman kreatif dan estetik.