Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Analisis Karakteristik Materi Pai Bidang Fikih Pada Jenjang Madrasah Tsanawiyah (Mts) Dan Madrasah Aliyah (MA) Qalbi, M. Dihyah; Muna, Zahratul; Barni, Mahyuddin
Action Research Literate Vol. 8 No. 2 (2024): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v8i2.256

Abstract

Dalam mendidik seorang pendidika melakukan usaha sadar dalam proses mengembangkan potensi, kecerdasan, akhlak baik peserta didik guna menghadapi kehidupan dunia dan akhirat dengan disengaja dan direncanakan sematang mungkin.  Maka sudah sepatutnya seorang pendidik mehamami jelas apa yang akan diajarkannya kepada peserta didik, tujuan dalam penulisan untuk menganalisis mata pelajaran fikih yang merupakan merupakan cabang dari Pendidikan Agama Islam pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Dalam artikel ini mendeskripsikan dan menguraikan tentang karakteristik mata pelajaran fikih pada jenjang MTs dan MA yang ditulis menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini adalah studi kepustakaan (library research) mengunakan analisis data kualitatif teridiri tiga tahapan, yaitu tahap reduksi data, display data, dan kesimpulan atau verifikasi.Manfaat dari tulisan ini adalah untuk menambah wawasan bagi pembaca mengenai karakteristik materi fikih pada jenjang MTs dan MA, dan karakteristik materi Fikih dari Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag RI tahun 2020 pada tingkat MTs dan MA masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari isi materi, bobot materi maupun pendalaman materi. Kesimpulan dari penulisan ini masing-masing dari materi fikih pada tingkat MTs dan MA memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari isi materi, bobot materi maupun pendalaman materi dari tingkat kelas VII, VIII, IX, X, XI, dan XII. Tidak ada materi yang terulang walau menggunakan tema yang sama bisa jadi bobot materinya berbeda dengan yang sebelumnya atau pendalaman materinya berbeda, dari segi aspek psikologis, filosofis, sosiologis materi fikih ini dirasa sudah cukup cocok dengan siswa pada tingkat MTs dan MA.
KONSEP FITRAH DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI ERA DISRUPSI DIGITAL (PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS) Wastuti, Wastuti; Barni, Mahyuddin; Abd. Majid, Abd. Majid; Iskandar, Iskandar
EDUPEDIA Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ed.v9i2.3518

Abstract

This study aims to analyze the concept of fitrah from the perspective of the Qur’an and Hadith and to examine its relevance for the development of Islamic education in the digital disruption era. The research employs a library research method, using primary sources such as Qur’anic verses, Prophetic traditions, and classical literature on fitrah, as well as secondary sources derived from contemporary studies on Islamic education and the challenges of the digital age. The analysis was conducted through thematic content analysis, encompassing etymological, conceptual, and pedagogical dimensions. The findings indicate that fitrah represents the fundamental theological potential of human beings—encompassing an innate inclination toward monotheism, truth, and morality—which may either develop or deviate depending on environmental influences. The Qur’anic perspective (Qur’an Ar-Rum:30; Al-A’raf:172) and Prophetic traditions (Bukhari and Muslim) affirm that all humans are born in a state of purity and are naturally predisposed to receive divine values. In the educational context, the digital disruption era presents challenges such as the rapid flow of information, moral relativism, digital hedonism, and the shifting of educational authority. The results further emphasize that the development of fitrah must be carried out integrally through the strengthening of faith, the habituation of noble character, value-based digital literacy, educator role-modeling, and the creation of an Islamic educational environment. Thus, Islamic education holds a strategic role in preserving the purity of fitrah and shaping learners with a strong Islamic identity, moral resilience, and the capacity to adapt to technological change.
Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Al-Qur'an Hidayah, Aulia Azizatul; Barni, Mahyuddin
QAZI: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 2 (2025): 2025
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qz.v2i2.446

Abstract

Pendidikan Islam idealnya membentuk manusia secara utuh melalui pengembangan aspek intelektual, spiritual, dan sosial yang saling melengkapi. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam beberapa surah Al-Qur’an yang memuat prinsip dasar pendidikan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan mengungkap dimensi pendidikan yang terdapat dalam tiga surah Al-Qur’an, yaitu QS. Al-Alaq: 1–5, QS. Al-Hujurat: 13, dan QS. Al-Ma’un, serta menjelaskan relevansinya dalam konteks pendidikan Islam masa kini. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Data diperoleh dari kajian literatur yang mencakup tafsir ulama klasik dan kontemporer, kemudian dianalisis secara kontekstual untuk menemukan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Al-Alaq menegaskan pentingnya literasi, penguasaan ilmu, serta orientasi tauhid sebagai fondasi intelektual pendidikan Islam. QS. Al-Hujurat menonjolkan nilai kesetaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan sosial sebagai basis pembentukan karakter masyarakat yang harmonis. Sementara QS. Al-Ma’un menekankan nilai moral dan sosial berupa empati, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan nyata. Ketiga surah ini secara integratif menggambarkan konsep pendidikan Islam yang seimbang antara aspek kognitif, afektif, dan sosial. Temuan ini menyiratkan bahwa kurikulum pendidikan Islam perlu diarahkan pada pembentukan akhlak, kecerdasan spiritual, dan kepedulian sosial untuk menghasilkan insan yang berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia
Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur’an; Tinjauan QS At-Tahrim Ayat 6 dan QS Luqman Ayat 12-19 Muflihah, Nisa; Barni, Mahyuddin
Arini: Jurnal Ilmiah dan Karya Inovasi Guru Vol. 2 No. 2 (2025): ARINI: Jurnal Ilmiah dan Karya Inovasi Guru
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/arini.v2i2.449

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an melalui kajian terhadap QS. At-Tahrim: 6 dan QS. Luqman: 12–19. Ayat-ayat tersebut secara eksplisit menegaskan peran orang tua sebagai pendidik utama yang bertanggung jawab atas pembinaan akidah, moral, dan perilaku anak. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif serta analisis tafsir tematik (maudhu‘i). Data primer diperoleh dari Al-Qur’an dan beberapa karya tafsir, seperti tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Misbah, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. At-Tahrim: 6 menekankan kewajiban spiritual orang tua untuk menjaga keluarga dari penyimpangan akidah dan perilaku melalui keteladanan, pengajaran, serta pembinaan moral secara berkelanjutan. Sementara itu, QS. Luqman: 12–19 memuat prinsip-prinsip pendidikan keluarga yang komprehensif, mencakup pendidikan tauhid, penghormatan kepada orang tua, disiplin ibadah, tanggung jawab sosial, serta pembentukan akhlak melalui sikap rendah hati dan pengendalian diri. Kedua rangkaian ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga dalam Islam berorientasi pada pembentukan karakter yang utuh dan seimbang, yang tidak hanya menekankan dimensi spiritual tetapi juga etika sosial. Dengan demikian, konsep pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an memberikan landasan yang kuat dan relevan bagi orang tua dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.
Pendidikan Pendidikan Akhlak Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hujurat: 10-13 & QS. Al-Qalam: 4) ., Khairunnida; Barni, Mahyuddin
Journal of Religion and Social Community | E-ISSN : 3064-0326 Vol. 2 No. 2 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to explore the moral education values contained in Surah Al-Hujurāt verses 10–13 and Surah Al-Qalam verse 4, as well as their relevance to character formation in the modern era. The research focuses on essential principles of social ethics such as brotherhood, the prohibition of mockery, the avoidance of suspicion and backbiting, the affirmation of human equality, and the exemplary character of Prophet Muhammad ﷺ as the central model of moral education. This study employs a library research method by examining various tafsir books, academic journals, and scholarly works related to Islamic moral education. The findings indicate that these Qur’anic verses provide a comprehensive foundation for building noble character within educational settings, families, and society. Furthermore, they highlight the Qur’an’s role as a timeless source of moral guidance that remains highly relevant for shaping future generations with strong ethical values.
Love and Compassion from the Perspective of the Qur’an and Hadith as Shapers of Effective Pedagogical Relationships in Islamic Education Azhari, Muhammad; Barni, Mahyuddin; Basir, Abdul; Muammar, Ali
AL GHAZALI: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2: Maret-April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69900/ag.v6i2.523

Abstract

This study aims to examine in depth the concepts of love and compassion in learning from the perspectives of the Qur’an and Hadith and their relevance to contemporary pedagogical practices at SMAN Banjarbaru. The research focuses on how the values of rahmah (compassion), mahabbah (constructive love), and rifq (gentleness) are internalized in the learning process and their implications for character formation, classroom climate, and teacher–student relationships. The methodology employed is a qualitative approach with a field study design, using participant observation, in-depth interviews with teachers and students, and analysis of learning documents. The data were analyzed through thematic analysis and source triangulation to ensure the validity and reliability of the findings. The findings indicate that the implementation of love and compassion values in learning significantly contributes to increased learning motivation, psychological safety, awareness-based discipline, and the strengthening of students’ social and religious character. However, the study also reveals structural and cultural challenges, such as the dominance of cognitively oriented learning paradigms, limited teacher training in humanistic pedagogy, and academic performance pressures that hinder the internalization of spiritual values in daily learning practices. This study concludes that love and compassion should be positioned as a core paradigm in education rather than merely a methodological approach, in order to develop a humanistic, transformative learning model oriented toward the development of a progressive, ethical, and civilized society
Fear in the Perspective of the Qur’an and Hadith: Semantic, Theological, and Spiritual Analysis of Khauf, Khasyyah, and Rahbah Rusdina, Rusdina; Barni, Mahyuddin; Basir, Abdul; Muammar, Ali
AL GHAZALI: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2: Maret-April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69900/ag.v6i2.524

Abstract

This study examines the concept of “fear” from the perspective of the Qur’an and Hadith through semantic, theological, and spiritual analysis, focusing on the terms khauf, khasyyah, and rahbah. The study reveals that fear in Islam is not merely an emotional reaction but a multidimensional spectrum with moral, spiritual, and social functions. Khauf represents basic fear of punishment and sin, rahbah reflects fear combined with spiritual longing, while khasyyah is a transcendental fear arising from knowledge and reverence of Allah. This hierarchy forms the structure of a servant’s spiritual journey from self-awareness to divine consciousness. The findings highlight that balanced fear promotes sincere obedience, self-discipline, and spiritual maturity, whereas misinterpretation can lead to extremism. Understanding the concept of fear correctly is essential for fostering moderate and harmonious Islamic spirituality.
Islamic Epistemology of Knowledge: Integrating Revelation, Nature, and Human Experience Kamilah, Siti; Iskandar, Iskandar; Barni, Mahyuddin; Majid, Abd.
International Journal of Islamic Education, Research and Multiculturalism (IJIERM) Vol 8 No 2 (2026)
Publisher : The Islamic Education and Multiculturalism Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/ijierm.v8i2.651

Abstract

Abstrak Ilmu pengetahuan dalam Islam dipandang sebagai amanah ilahiah yang tidak hanya bersumber dari akal dan pengalaman empiris, tetapi juga dari wahyu Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadis. Namun, dalam konteks modern, perkembangan ilmu pengetahuan cenderung mengalami fragmentasi epistemologis dengan memisahkan dimensi rasional, empiris, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif konsep ilmu dan sumber-sumbernya dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis, serta menjelaskan relevansinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan, melalui analisis terhadap teks Al-Qur’an, Hadis, serta karya-karya klasik dan kontemporer para ulama dan akademisi yang relevan dengan epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam memandang ilmu secara holistik dengan tiga sumber utama, yaitu ayat qauliyyah (wahyu), ayat kauniyyah (alam semesta), dan ayat insaniyyah (pengalaman manusia). Ketiga sumber ini bersifat saling melengkapi dan terintegrasi dalam kerangka epistemologi Islam. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam harus berlandaskan nilai-nilai etika, spiritual, dan kemanusiaan agar ilmu tidak hanya bermanfaat secara duniawi, tetapi juga bernilai transendental. Dengan demikian, epistemologi Islam menawarkan solusi atas krisis pengetahuan modern melalui pendekatan yang integratif dan berorientasi pada kemaslahatan manusia. Kata Kunci: Ilmu Pengetahuan; Sumber Ilmu; Epistemologi Islam; Al-Qur’an; Hadis Abstract In Islam, knowledge is understood as a divine trust that is not solely derived from human reason and empirical experience, but also from revelation as conveyed through the Qur’an and Hadith. However, contemporary scientific development often exhibits epistemological fragmentation by separating rational, empirical, and spiritual dimensions of knowledge. This study aims to comprehensively examine the concept of knowledge and its sources from the perspectives of the Qur’an and Hadith, as well as to analyze their relevance for contemporary knowledge development. This research employs a qualitative approach using a library-based method, analyzing Qur’anic verses, Hadith, and classical as well as contemporary scholarly works related to Islamic epistemology. The findings reveal that Islamic epistemology recognizes three primary and interconnected sources of knowledge: qauliyyah verses (revelation), kauniyyah verses (the universe), and insaniyyah verses (human experience). These sources form an integrated and holistic framework that guides the acquisition and application of knowledge. The study concludes that the development of knowledge in Islam must remain grounded in ethical, spiritual, and humanistic values to ensure that knowledge contributes not only to worldly progress but also to transcendental and moral objectives. Thus, Islamic epistemology offers an integrative solution to contemporary epistemological challenges. Keywords: Knowledge; Sources of Knowledge; Islamic Epistemology; Qur’an; Hadith