Claim Missing Document
Check
Articles

BUDAYA TERTIB BERLALU-LINTAS: Kajian Fenomenologis atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung Soni Sadono
LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 3 No. 3 (2015): LONTAR JURNAL ILMU KOMUNIKASI
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.588 KB) | DOI: 10.30656/lontar.v3i3.536

Abstract

The weak of public awareness of traffic regulation seen from low level of the discipline in driving, that produce undisciplined culture to the society. Lacking awareness from people in traffic rules can be seen in behavior like an increased by offense traffic motorists. This was found in many offense of the traffic signs in Bandung in 2014 by the number of 39.205 offense (Source : Polwiltabes Bandung, 2015). Undisciplined behaviour of people in traffic as driving exceeds the speed limit determined, passing traffic lights, passing marka roadblock, no complete safety equipment as well not use helmet, informer to, vehicles lights, incompleteness motor vehicles letter, disobedient pay taxes, and could not be used vehicles. A traffic violation often happens also involved in “a rider breaking the traffic congestion, driving zigzag at high speed, and even had breaking the traffic lights, and breaking the banned curvy” (Hendratno, 2009 :499). This journal trying to elaborate on literature and field research of the problems of culture orderly traffic, with a qualitative approach.                                                                                                   Keywords : culture, traffics, discipline attitude, phenomenologyThe weak of public awareness of traffic regulation seen from low level of the discipline indriving, that produce undisciplined culture to the society. Lacking awareness from people intraffic rules can be seen in behavior like an increased by offense traffic motorists. This wasfound in many offense of the traffic signs in Bandung in 2014 by the number of 39.205 offense(Source : Polwiltabes Bandung, 2015). Undisciplined behaviour of people in traffic as drivingexceeds the speed limit determined, passing traffic lights, passing marka roadblock, no completesafety equipment as well not use helmet, informer to, vehicles lights, incompleteness motorvehicles letter, disobedient pay taxes, and could not be used vehicles. A traffic violation oftenhappens also involved in “a rider breaking the traffic congestion, driving zigzag at high speed,and even had breaking the traffic lights, and breaking the banned curvy” (Hendratno, 2009 :499). This journal trying to elaborate on literature and field research of the problems of cultureorderly traffic, with a qualitative approach.Keywords : culture, traffics, discipline attitude, phenomenology
Token Non-Fungible (NFT) sebagai Instrumen Investasi Seni Berbasis Blockchain Donny Trihanondo; Soni Sadono
Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Budaya Vol 9 No 2 (2023): Ideas: Pendidikan, Sosial, dan Budaya (Mei)
Publisher : Ideas Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32884/ideas.v9i2.1250

Abstract

Recently, conventional art assets and those in the form of NFTs have experienced significant price increases. The purpose of this research is to raise the NFT phenomenon in art activities in Indonesia. Researchers used qualitative methods with an emphasis on observation and literature studies to obtain data. The research results show that the NFT market has the potential to be a place of various scams. Then, as NFT creators, artists are only given tantalizing images, especially those related to the metaverse. Meanwhile, NFT in the near future cannot replace conventional works of art. In conclusion, NFT is beneficial for artists, but the challenge is that metaverse developers must provide a creative medium that is safer from fraudulent acts.
PENGAJARAN BAHASA SUNDA DI PRIANGAN AWAL ABAD KE-20 Soni Sadono; Brilindra Pandanwangi; Hening Laksani
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i1p1-18

Abstract

Teaching Sundanese in the Priangan area began to develop since the 19th century and reached its peak during the early 20th century. The rapid development of teaching Sundanese is inseparable from two main factors, namely the rapid growth of schools built by the Dutch since the 19th century. where Sundanese is the language of instruction there or at least becomes one of the languages taught. The second factor is the rapid publication of prints in Sundanese, both in the form of books and newspapers. Similarly, the first factor that the roots of this publication comes from the 19th century. The purpose of this research is to find out how the teaching of Sundanese took place rapidly in Priangan during the early 20th century. The data sources in this research are Sundanese language textbook during 20th century, Sundanese school textbook, books catalogs published in the Dutch East Indies, and literature about the history of Java. The development of teaching Sundanese at the beginning of the 20th century developed very rapidly. First, Sundanese has become the language of instruction in lower education, such as schools established by the Dutch, especially at Handap Schools or commonly known as Sundanese schools. At the advanced level, Sundanese has been present as one of the subjects at MULO. Likewise, at the school, OSVIA civil service candidates also apply Sundanese as one of their subjects. In the realm of printed culture, reading books and newspapers dominate the teaching of Sundanese. In terms of publishing books, Balai Poestaka played a very big role and had a dominant role in popularizing the use of Sundanese. These books include Gandasari, Roesdi djeung Misnem, Panjoengsi Basa, etc. Meanwhile, in the case of newspapers, the organs belonging to the Pasoendan Association such as Sipatahoenan played an important role in popularizing the use of Basa Sunda. Pengajaran bahasa Sunda di kawasan Priangan mulai berkembang sejak abad ke-19 dan mencapai puncaknya selama kurun waktu awal abad- 20. Perkembangan pesat dari pengajaran bahasa Sunda ini tak lepas dua faktor utama yakni pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang dibangun Belanda sejak abad ke-19. Bahasa Sunda menjadi bahasa pengantar atau setidaknya menjadi salah satu bahasa yang diajarkan. Faktor kedua ialah pesatnya penerbitan cetak dalam bahasa Sunda baik berbentuk buku maupun surat kabar. Sama halnya dengan faktor yang pertama, akar dari penerbitan ini berasal dari abad ke-19. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pangajaran bahasa Sunda berlangsung secara pesat di Priangan selama kurun waktu awal abad ke-20. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku pelajaran bahasa Sunda yang terbit pada awal abad ke-20, buku-buku pengajaran sekolah yang menggunakan Bahasa Sunda, buku katalog tentang buku-buku yang terbit di Hindia Belanda, dan literatur terkait dengan sejarah Jawa. Perkembangan pengajaran bahasa Sunda di awal abad ke-20 sangat berkembangan sangat pesat. Pertama, bahasa Sunda telah menjadi bahasa pengantar di pendidikan rendah seperti sekolah-sekolah yang didirikan Belanda terutama di Sekolah Handap atau biasa dikenal sebagai sekolah Sunda. Di jenjang lanjutan bahasa Sunda telah hadir sebagai salah satu mata pelajaran di MULO. Begitu juga di sekolah calon pamong praja OSVIA ikut menerapkan bahasa Sunda sebagai salah satu mata pelajaran mereka. Di ranah kebudayaan cetak buku-buku bacaan dan surat kabar mendominasi pengajaran bahasa sunda. Dalam hal penerbitan buku-buku Balai Poestaka sangat berperan besar dan memiliki peranan dominan dalam mempopuler penggunaan bahasa Sunda. Buku-buku itu seperti buku Gandasari, Roesdi djeung Misnem, Panjoengsi Basa, dan lain-lain. Sementara dalam hal surat kabar organ-organ milik Paguyuban Pasoendan seperti Sipatahoenan berperan penting dalam mempopulerkan penggunaan bahasa Sunda.  
KOMPLEKS PERCANDIAN BATUJAYA: POTENSI WISATA PASCA PANDEMI DI KARAWANG Soni Sadono; Catur Nugroho; Topik Mulyana
Naditira Widya Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v17i1.496

Abstract

Tulisan ini dibuat dengan dasar keunikan yang terdapat pada candi yang ada di Karawang, Jawa Barat. Kawasan candi yang saat ini menjadi destinasi wisata memiliki daya tarik yang unggul di wilayah Karawang. Meskipun demikian, selama pandemi seluruh aktivitas dibatasi begitu pula dalam ranah pariwisata. Hal ini juga mempengaruhi jumlah kunjungan ke Kompleks Percandian Batujaya, Karawang. Sementara candi peninggalan masa Kerajaan Tarumanegara ini berpotensi untuk memajukan pariwisata di Karawang karena keunikan bangunannya yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan bangunan candi yang berada di wilayah Jawa lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji potensi wisata pada Kompleks Percandian Batujaya sehingga dapat meningkatkan kembali minat pengunjung pada objek candi ini. Metode menggunakan pendekatan sejarah dan arkeologis dengan metode kualitatif. Aspek yang dibahas mengenai sejarah singkat dari Kompleks Percandian Batujaya, tempat wisata Kompleks Percandian Batujaya selama masa pandemi dan pascapandemi, dan bagaimana potensi yang dapat dikembangkan di area kompleks percandian agar dapat menarik minat pengunjung. Hasil dari penelitian menjelaskan adanya dampak yang terjadi selama pandemi menuju pasca-pandemi dalam pariwisata yang ada di Kompleks Percandian Batujaya, baik dari segi fasilitas, infrastruktur maupun peraturan saat mengunjungi area percandian bagi para wisatawan. The uniqueness of the Batujaya Temples has the potential to increase the attractiveness of the Karawang area as an excellent tourist destination. However, the impact of the pandemic which has caused restrictions on activities, including tourism, has affected the number of visits to the Batujaya Temples. This research aimed an in-depth understanding of the tourism potential of the Batujaya Temples to increase the number of visitors. A historical and archaeological approach was used and discussion was focused on the brief history of the Batujaya Temples, the condition of the Batujaya Temple during the pandemic and post-pandemic period, as well as the cultural potential that can be developed further. The results of the research show that the impact of the pandemic and post-pandemic conditions at the tourist location of the Batujaya Temples was the improvement of public facilities and infrastructure, as well as adjusting tourist visit regulations to post-pandemic conditions.
CITRA PENARI TOPENG BANJET GRUP SINAR PUSAKA WARNA KARAWANG Soni Sadono; Paramitha Pebrianti2; Teddy Ageng Maulana
PANGGUNG Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i1.1986

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui citra,  gambaran, dan kesan penari dalam kelompok seni Topeng Banjet. Penelitian ini dilakukan dengan berfokus pada kelompok seni Sinar Pusaka Warna Kabupaten Karawang pimpinan Bah Pendul yang merupakan kelompok Topeng Banjet tertua di Karawang. Melalui pemaparan data secara deskriptif  dan analitik, dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan memberikan gambaran masyarakat di Kabupaten Karawang, maka dapat diketahui bahwa kesan-kesan erotis yang disuguhkan oleh penari pada pertunjukan Topeng Banjet dipengaruhi oleh latar belakang pola hidup masyarakat Karawang. Sampai lahirkah sebuah istilah Goyang Karawang yang menjadi sebutan untuk perantau dari Karawang sebagai identitas orang dari Karawang. Minatnya masyarakat terhadap tarian tersebut kemudian melahirkan penari dan kelompok-kelompok seni di Karawang. Kata kunci : Penari Topeng Banjet, Bah Pendul, Goyang Karawang
PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN MODEL PEMASARAN PRODUK-PRODUK HASIL UMKM DI PESANTREN AL-KHOLILI Leni Cahyani; Asep Sufyan Muhakik; Didit Endriawan; Tri Haryotedjo; Harrie Lutfie; Rahmat Hidayat; Sampurno Wibowo; Donny Trihanondo; Soni Sadono
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol. 6 No. 5 (2021)
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi menjadi semakin penting karena melalui suatu aplikasi/platform, pesantren dapat memasarkan produk ataupun menyampaikan pesan dakwah ke masyarakat luas tanpa harus melakukan tatap muka. Pengabdiaan kepada masyarakat ini pelaksanaannya membantu dalam membimbing pelaku UMKM di pesantren, dan juga bisa menjadi e-commerce (perdagangan elektronik) yang bisa memasarkan ke luar pesantren baik secara offline dan online. Dan produk-produk masyarakat yang dibina oleh pesantren menjadi jembatan, sehingga kehadiran pesantren sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan menciptakan sistem agar seseorang dapat bertranskaksi dengan mudah hanya dengan menggunakan handphone, memasarkan produknya juga dapat dilakukan secara online. Ternyata di pesantren Al-Kholili saat ini sudah memiliki produk UMKM-nya sendiri, dan juga sudah digerakkan melalui gerakan OPOP (one pesantren one product). Namun dalam memasarkan produk UMKM yang dihasilkan di pondok pesantren tersebut tentu ada kendala yang dihadapi. Maka dibutuhkan adopsi teknologi digital yang tepat, yang sekiranya dapat mendukung penuh model pemasaran digital untuk memudahkan dan memperluas pemasaran produk hasil UMKM di pesantren tersebut, terlebih pada masa pemulihan pademi COVID-19 seperti saat ini.
Beragam Seni Pertujukkan di Era Jawa Kuno Sadono, Soni; Pandanwangi, Brilindra; Kasputra, Danil
Jurnal Sejarah Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Sejarah Indonesia
Publisher : Perkumpulan Program Studi Sejarah Se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62924/jsi.v8i1.33057

Abstract

This study reviews various forms of performing arts that developed in Java during the classical period or the Hindu-Buddhist period. This study uses historical methods through the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography to explore and reveal the various performing arts that existed in the Ancient Javanese era. One of the most striking forms of performing arts is Wayang Art, which is divided into Wayang Beber and Wayang Purwa. Wayang Beber is a performance that depicts an epic story by spinning rolls of cloth filled with images, while Wayang Purwa is a performance of wooden or leather puppets that reflect mythological and epic stories. Dance is also an integral part of Ancient Javanese performing culture, with various types of dances reflecting the beauty of movement and expression of Javanese culture. Musical arts, including instruments such as gamelan and other traditional musical instruments, play an important role in accompanying dance and puppet performances. In addition, the art of comedy (classical Javanese) is also an inseparable part of the Ancient Javanese performing arts. This is a form of entertainment that combines comedy, social criticism, and moral messages. Through these various forms of performing arts, Ancient Javanese culture expresses its intellectual wealth and artistic expression, which remain a valuable heritage in Javanese culture to this day. This performing art is not only entertaining but also teaches deep values ​​and history to the next generation, making it an irreplaceable part of Javanese cultural identity.
BENTUK VISUAL TOXIC MASCULINITY PRIA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA FOTOGRAFI Fahrez, Arsyi Muhammad; Sadono, Soni; Rohadiat, Vega Giri
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maskulinitas adalah konsep yang didefinisikan secara sosial dan dapat hadir pada laki-laki maupun perempuan. Ekspresi emosional terkait maskulinitas ini akan diungkapkan melalui karya fotografi yang menggambarkan kekerasan verbal, sebuah aspek penting dari maskulinitas Karya fotografi ini bertujuan untuk menyoroti masalah maskulinitas, menjelaskan konsep maskulinitas, serta memperlihatkan bagaimana fenomena ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dampak negatifnya. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya mendefinisikan ulang maskulinitas agar lebih inklusif dan sehat. Melalui karya ini akan diajak untuk mengeksplorasi berbagai bentuk ekspresi maskulinitas yang tidak terbatas pada stereotip tradisional. Mereka akan belajar bahwa menjadi maskulin tidak berarti harus menunjukkan kekuatan fisik atau dominasi, melainkan dapat melibatkan kemampuan untuk menunjukkan kelembutan, empati, dan kerentanan. Selain itu, diskusi ini juga akan mencakup bagaimana maskulinitas dapat merugikan laki-laki maupun perempuan, menciptakan lingkungan yang tidak sehat, dan membatasi potensi individu. Dengan menggali lebih dalam topik ini dengan mengembangkan pandangan yang lebih kritis dan reflektif mengenai peran gender dalam masyarakat. Mereka akan diajak untuk mempertanyakan norma-norma yang ada dan berkontribusi pada pembentukan budaya yang lebih terbuka dan mendukung bagi semua individu, tanpa terkecuali. Karya fotografi ini bukan hanya sebagai bentuk ekspresi seni, tetapi juga sebagai alat edukasi yang efektif untuk mempromosikan perubahan sosial yang positif. Kata kunci: maskulinitas, laki-laki, kekerasan verbal.
MENGABADIKAN KISAH CINTA DIRI SENDIRI DALAM METODE VIDEO ART: PATAH BACINTO Alfath, Muhammad; Sadono, Soni; Rohadiat, Vega Giri
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ini menggambarkan minat penulis terhadap fenomena cinta sebagai emosi yang kompleks. Meskipun defenisi cinta sulit ditetapkan secara pasti, beberapa aspek penting sering dikaitkan, seperti kasih sayang, ketertarikan emosional, hubungan yang berkelanjutan, penerimaan, keintiman, kesetiaan emosional, hubungan yang berkelanjutan, penerimaan, keintiman, kesetiaan, kebahagiaan, kepedulian, dan empati. Karya ini fokus pada pengalaman cinta diri penulis sendiri yang mendalam terhadap seseorang wanita, meski tanpa adanya hubungan resmi, yang berujung pada patah hati. Penulis juga menyoroti bahwa peran gender dalam masyarakat bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari perkembangan budaya dan sosial. Karya ini dibuat untuk mengekspresikan perasaan kecewa penulis melalui video art, dengan harapan bahwa ekspresi tersebut dapat membantu mengatasi rasa sakit tanpa harus merusak diri sendiri. Kata kunci: cinta, Patah Bacinto, wanita, video art
REPRESENTASI KAIN TENUN JANGGAWARI SUKU BADUY DALAM MEDIUM INSTALASI: HITAM PUTIH JANGGAWARI Miftahussurur, Giat Agus; Sadono, Soni Sadono; Sintowoko , Dyah Ayu Wiwid
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengkaryaan ini bertujuan untuk mengabadikan dan melestarikan kebudayaan Kain Tenun Suku Baduy, khususnya Kain Janggawari, melalui medium instalasi seni. Kain Janggawari dipilih karena memiliki nilai sakral dan filosofi mendalam yang mencerminkan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Baduy. Seni instalasi dipilih sebagai medium karena mampu menampilkan detail visual dan tekstur kain dengan lebih baik, sehingga nilai estetika dan keindahannya dapat lebih diapresiasi oleh masyarakat luas. Latar belakang dari pengkaryaan ini adalah ancaman modernisasi dan perubahan sosial yang mengikis praktik tradisional Suku Baduy, termasuk dalam pembuatan Kain Tenun. Tujuannya yaitu Menggali filosofi yang mengalir di dalamnya. Melalui medium Instalasi, upaya ini bertujuan tidak hanya untuk menyimpan dan mengamankan warisan budaya ini bagi generasi mendatang, tetapi juga untuk menghidupkan kembali kisah-kisah yang tersembunyi di balik setiap motif dan warna yang digunakan dalam Kain Tenun tersebut. Kata kunci: Kain Tenun Baduy, Kain Janggawari, Seni Instalasi, pelestarian budaya, seni tradisional, modernisasi, visualisasi estetika