Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Keterampilan Guru Memberi Penguatan Dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar Bekata, Halena M.; Dony, Petrus Mau Tellu; Daik, Triznawasti Y.; Mata, Yessy; Saetban, Antonius A.; Fanpada, Nehemia; Wabang, Yermia Semuel
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 2.A (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the implementation of teacher skills to strengthen the learning process in elementary schools. The skill of holding variations and providing reinforcement are two important aspects in improving the quality of learning, which can affect students' motivation and learning outcomes. The method used in this study is a qualitative descriptive approach with observation and interviews as data collection techniques. The results of the study show that the application of the skill of holding variations, such as changes in learning methods, media, and resources, is able to create a more interesting and interactive learning atmosphere. In addition, the strengthening skills carried out by teachers, both in the form of positive and negative reinforcement, can increase students' enthusiasm for learning and strengthen their understanding of the material. This study shows that 71.7% of students rated the variation of the teacher's voice style very well, while 84.9% of students rated the variety of learning strategies as also very good. Verbal reinforcement was rated positive by 78.2% of students, and non-verbal reinforcement received a good rating with a percentage between 47.3% to 70.9%. These findings show the importance of teachers continuing to develop variations in teaching and reinforcement techniques to increase student motivation and engagement. Based on the results of this study, it can be concluded that the skill of strengthening teachers in the form of positive and negative values increases students' interest in learning in the learning process at school.
CERITA RAKYAT SETING PE-GAMA ANING DUKA KATWALA DI DESA MAUKURU KECAMATAN ALOR TIMUR KABUPATEN ALOR Orlando De Rois Lapuilana; Petrus Mau Tellu Dony
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 3 (2025): IN PRESS JUNI
Publisher : CV. ADIBA ASIHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to describe and study Folklore Seting Pe-Gama Aning Duka Katwala in Maukuru Village, East Alor District, Alor Regency. This research uses descriptive qualitative method with the research subjects are the elderly people in Maukuru Village. Data collection techniques through observation for eight meetings. Based on the purpose of this study to measure the level of knowledge about customs and culture, especially folklore in Maukuru Village. First, how is the level of knowledge in terms of customs, second so that we as Maukuru Village community members (generations) can know the existing folklore, and third how do we preserve existing culture and folklore. Data presentation is done by using words to take facts, variables and circumstances obtained during the research and explain the words obtained.
Faktor Penghambat Pelaksakan Program Literasi Membaca Di Sekolah Dasar Inpres Bungawaru Yermia S Wabang; Petrus Mau Tellu Dony; Alboin Selly; Yessy Mata; Halena Muna Bekata
BADA'A: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 7 No. 1 (2025): Badaa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/badaa.v7i1.2111

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada Faktor Penghambat Pelaksanakan Program Literasi Membaca Di Sekolah Dasar Inpres Bungawaru ini bertujuan untuk; a). Mendeskripsikan proses pelaksanaan program literasi membaca Disekolah; b). Mengetahui Dan Mendeskripsikan Faktor Penghambat Pelaksanakan. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Inpres Bungawaru. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendedekatan deskriptif. Metode penelitian yang digunakan yakni observasi wawancara dan dokumentasi dengan teknik analisis data yakni data reduction (reduksi data ), display data (penyajian data), clonclusion drawing/verivication. Hasil dari penelitian ini sebagai berikut; Program literasi membaca di Sekolah Dasar Inpres Bungawaru dilakukan dengan penyediaan perpustakaan, penyediaan buku-buku bacaan, pembuatan sudut baca, taman baca, membaca 15 menit sebelum pembelajaran, dan reading camp, perkunjungan perpustakaan keliling dan penjadwalan perkunjungan setiap kelas keperpustakaan kemudian dalam Penelitian ini juga ditemukan beberapa faktor penghambat yang menjadi penghambat program literasi membaca yaitu: 1). Peserta didik tidak serius dalam kegiatan literasi membaca; 2). Tingkat kemampuan membaca peserta didik yang masih rendah; 3). rendahnya minat baca peserta didik; 4). Perkunjungan kelas ke perpustakaan dan juga waktu yang ditetapkan tidak cukup dalam melaksanakan program lietrasi membaca di perpustakaan yang hanya satu minggu satu kali; 5). kondisi perpustakaan tidak luas untuk menampung peserta didik dalam satu kelas.
Sejarah Pembuatan Mesbah Atau (Dor) Di Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Silas Maniata; Jefri Moban; Petrus Mau Tellu Dony; Vebrianus Petrus Barai; Riflyisrianly Beri Ledang
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2075

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejarah pembuatan mesbah di kecamatan alor barat daya, kelurahan moru, kabupaten alor. awal mula pembuatan mesbah secara umum, tujuan adalah karena ada kesatuan. Dan supaya dikampung tersebut juga ada orang. Kampong moeng sudah ada sejak purba ke-3, dahulu masyarakat tersebut hidup mengembara mereka berpindah tempat ke tempat yang lain, tempat yang pertama berada di ton dam tempat yang ke dua berada di molmoi dan kembali lagi ke ton dan karena di tempat itu ada satu jenis tanaman tebu, karna sudah meluas di tempat itu maka mereka bergeser untuk mencari tempat lain yaitu di moeng. Karena di ton kampong pertama tersebut sudah menjadi tempat pemburuan.Karena terdapat hewan seperti babi dan rusa ditempat itu. Di kampong moeng terdapat 12 suku, ada 6 suku besar dan 6 suku besar itu melahirkan 5 suku kecil dan ada 1 suku pendatang. Dari ke-12 suku itu datang membawa satu batu alam yang ditaru diatas batu-batu lainnya, nantu setelah ditaru batu dari ke-12 suku itu. Maka istilahnya tuan atau datoh (moyang) membuat sebuah ritual artinya berdoa kepada tuhan atau dewa,setelah membaca ritual maka moyang menentukan suku apa yang ditunjuk untuk membacakan mantrah dan moyang akan memberikan masing-masing fungsi kepada ke-12 suku tersebut ada suku yang bertugas menjaga keamanan, keseimbangan, menggerakan pembacaan mantrah dan ada beberapa yang tdk disebutkan. Jadi tujuan mesbah ini dibuat adalah sebagai tanda bahwa ada kampong ditempat.
Asal Usul Terbentuknya Air Ate Dan Moko Puledang Lafaledang Di Kampung Lama Omtel Kabupaten Alor Feni Diana Djaha; Salomi Duka; Yesgelode Lauata; Sentike Melani Mauyaru; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2076

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Asal usul terbentuknya Air Ate di Kampung Lama Omtel adalah kejadian yang terjadi di gunung omtel pada zaman dahulu, ada dua orang suami istri yakni Ledang pot dari kampung Nihingn dan Bihaj dari kampung Pay. Mereka pergi ke kebun untuk membersihkan rumput dengan kedua anaknya. Ketika kedua orang tua sedang membersihkan rumput kedua anaknya bermain petak umpet hingga hari sore kedua orang tua itu memanggil anak mereka untuk pulang namun tidak ada respon dari kedua anak tersebut sehingga orang tua mereka mengira anak-anak tersebut telah pulang sehingg kedua orang tua tersebut pulang namun samapi di rumah kedua anak tersebut tidak ada di rumah mereka sehingga orang tua nya mencari mereka pada keesokan harinya, namun mereka tidak menemukan kedua anaknya.Lalu mereka pergi ke kebun untuk mencari mereka, namun tidak menemukan mereka tetapi kebun mereka yang dulunya tidak ada air sekarang telah dialiri oleh air yang mengalir sehingg mereka berdua mengetahui bawah kedua anak mereka telah di telan air(sehingga dinamakan air ate, yang sampai sekarang masih di gunakan). Dan dari dalam air tersebut muncul nyiru dan lesung, nyiru tesebut telah berubah menjadi batu karena dibuang oleh sang isteri dalam perjalanan ke rumah, sedangkan lesung tersebut dibawa oleh sang suami ke rumah dan berubah menjadi moko. Moko tersebut telah dibawa oleh orang pandai ke Pandai, sebagai ganti air pinang yang dijanjikan oleh Matebel Langgara (Orang-orang tua yang dihormati dan tidak bisa dilawan/bantah) dari O’mate kepada orang-orang pandai.
Sejarah Pemerintahan Desa Probur Kecamatan Alor Barat Daya Selfius Kolihar; Yosin Eyodia Djolelang; Safri Musa Malaka; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2078

Abstract

Desa Probur adalah salah satu desa di Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal dengan potensi budaya adat Klon. Desa ini resmi dibentuk pada tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur. Pembentukan Desa Probur merupakan hasil penggabungan beberapa kampung, yaitu Bural, Halerman, Hopter, Usakan, Alwor, Dulel, Mataraben, Habolat, dan Lola. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis untuk mendokumentasikan sejarah pembentukan desa, kondisi geografis, demografi, serta sosial budaya. Desa Probur memiliki luas wilayah 4.107 hektar dengan jumlah penduduk 2.453 jiwa. Potensi utama desa ini terletak pada sektor pertanian dan peternakan. Namun, tantangan seperti tingkat pendidikan yang rendah dan keterbatasan akses ekonomi masih menjadi perhatian. Program-program seperti Program Indonesia Pintar telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan visi terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, berbudaya, dan mandiri, Desa Probur memiliki peluang besar untuk berkembang lebih baik di masa depan.Kata Kunci: Desa Probur, Alor Barat Daya, sejarah desa, potensi budaya, pendidikan, pembangunan.
Sejarah Mula Ayam Tembaga Di Sibeybu Desa Langkuru Utara Kecamatan Pureman Kabupaten Alor Tabita Plaikari; Silpa Fanau; Serlin Mery Letding; Nurlaila B Arsyad; Umiyani Kona; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul dan peran Ayam Tembaga di Desa Langkuru Utara, Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, serta mengaitkannya dengan pandangan ilmiah. Ayam Tembaga, unggas lokal dengan bulu menyerupai logam tembaga, merupakan fenomena unik yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Menurut Anwar (2024), fenomena biomineralisasi—proses biologis di mana organisme menghasilkan struktur mineral anorganik—berpotensi terjadi pada unggas ini, meskipun sangat jarang. Dalam konteks budaya, Koentjaraningrat (1971) menjelaskan bahwa hewan peliharaan seperti Ayam Tembaga sering kali memiliki nilai spiritual atau simbolik dalam masyarakat tradisional Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat untuk menggali tradisi lisan dan kepercayaan lokal. Hasilnya menunjukkan bahwa Ayam Tembaga tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi simbol dalam penamaan wilayah seperti Sibeimang, Watmaney, dan Moybagul. Fenomena transformasi ayam menjadi tembaga pasca kebakaran di Sibeybu diinterpretasikan sebagai simbol sakral yang dihormati oleh masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan Ayam Tembaga mencerminkan pentingnya unggas lokal dalam melestarikan keragaman genetik (Basar) dan mendukung ekonomi pedesaan (Daryanto). Penelitian ini mengungkap hubungan erat antara tradisi lisan, budaya lokal, dan pendekatan ilmiah, sekaligus menegaskan peran Ayam Tembaga sebagai aset budaya dan genetik yang bernilai tinggi. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian unggas lokal Indonesia dan memperkuat identitas budaya masyarakat.
Legenda Pulau Kapas Di Kelurahan Welai Timur Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor Senti Atakari; Vani Maniyeni; Welmince Onbila; Yolanda Laumai; Yusup Laukamang; Serli Lahmau; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2080

Abstract

Penelitian ini mengkaji asal mula Songliki terbagi cerita ini berawal dari kampung songliki yang terpecah akibat bencana banjir.cerita ini terjadi antara dua orang anak yatim yang tidak dianggap. Terletak di Kelurahan Welai Barat RT 05 RW 02 Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor.Kampung Songliki pada zaman itu yang akhir ini sudah terpisah-pisah akibat banjir besar yang mengancurkan kampung Songliki.Legenda pulau kapas yang berasal dari kelurahan welai timur, kecamatan teluk mutiara,kecamatan teluk mutiara,kabupaten alor, menceritakan asal usul sebuah pulau kecil yang menjadi bagian penting dalam sejarah dan budaya masyarakat setempat.Dalam kisah ini, pulau kapas diyakini terbentuk akibat peristiwa magis yang melibatkan seorang tokoh bijaksana yang hidup sederhana. Tokoh tersebut menemukan kapas yang berubah menjadi pulau sebagia symbol keberkahan atas doa dan usaha keras masyarakat.Legenda ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi lisan,tetapi juga mengandung nilai-nilai moral seperti keikhlasan,kerja keras,dan hubungan harmonis antar manusia dan alam.Cerita inimemainkan peran penting dalam melestarikan identitas budaya masyarakat alor dan meningkatkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.
Legenda Ubi Langalese Batu Merah Yang Menyimpan Penyesalan Di Desa Pido Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor Sifra Eunike Lauring; Saptarika Mikidori; Siria Mei Kamutlaka; Silpa Maiko; Trivonia Ata; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2081

Abstract

Legenda Ubi Langalese adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Desa Pido, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor. Legenda Ubi Langalese ini sangat menarik untuk diteliti karena ceritanya diwariskan secara lisan oleh masyarakat setempat sehingga memiliki cerita yang bervariasi dan bersifat pralogis. Kisah ini mengandung nilai-nilai budaya, tradisi, dan moral yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat setempat. Cerita ini tidak hanya menceritakan kehidupan keluarga Ubi Langalese, seorang perempuan yang cerdas, pemberani, dan penuh kasih, tetapi juga menggambarkan konflik yang muncul akibat pengambilan keputusan tanpa komunikasi yang baik dalam keluarga. Batu Ubi Langalese, Batu Lagawa, dan Batu Longbuk, sebagai simbol-simbol yang berasal dari legenda ini, memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Pido. Legenda ini mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dengan alam sekaligus menjadi pengingat pentingnya menghormati adat dan tradisi leluhur. Selain itu, legenda ini menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan modern, seperti pentingnya komunikasi dalam keluarga, penghormatan terhadap pusaka adat, introspeksi atas kesalahan, dan pengendalian diri dalam menghadapi emosi. Melalui penelitian ini, legenda Ubi Langalese dikaji secara mendalam untuk mengungkap nilai-nilai budaya, moral, dan simbolis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, observasi lapangan di situs-situs bersejarah, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Ubi Langalese tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya lokal, tetapi juga memiliki potensi sebagai media edukasi dan refleksi moral bagi generasi mendatang. Dengan mendokumentasikan legenda ini, diharapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas kolektif masyarakat Desa Pido
Sejarah Perjalanan Wofa Dan Patung Batu Lonkili Atau Batu Elang Di Desa Waisika Kecamatan Alor Timur Laut Saron Lalangpuling; Vera Marta Kabey; Tabita Asmiyanti Serangkai; Tersia Lengmalu; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2082

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali cerita leluhur sejarah perjalanan Wofa dan patung batu lonkili atau batu elang , di kecamatan Alor timur laut, desa Waisika.Cerita rakyat ini mengisahkan kehidupan di Kampung Kamengmane, tempat nenek moyang suku Petinpu dan suku Lubuy tinggal. Kehidupan awalnya damai, namun berubah sejak kelahiran Wofa, seorang anak yang dikenal nakal dan pembangkang. Perilaku buruk Wofa membuat seluruh warga kampung, termasuk orang tuanya, kehilangan kesabaran hingga memutuskan meninggalkan Wofa sendirian. Dalam kesedihan, Wofa bertemu dengan seorang gadis bernama Lonkili, yang kemudian menjadi istrinya.Pasangan ini memulai kehidupan baru di kampung tersebut, mengikuti pesan nenek Wofa untuk memanfaatkan alam sekitar. Mereka dikaruniai empat anak, tetapi hubungan mereka menjadi tegang akibat kepercayaan yang rusak. Lonkili, merasa dikhianati oleh suaminya, akhirnya memutuskan meninggalkan keluarganya dengan kembali ke wujud aslinya sebagai burung elang. Transformasi Lonkili menjadi batu yang menyerupai burung menjadi simbol penghormatan bagi keturunannya hingga kini. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan wawancara kepada beberapa Narasumber di desa waisika.Cerita ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menghargai keluarga, mengendalikan emosi, serta menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan keluarga.
Co-Authors Acia Blegur La Adesti A. Kamba Adol Bria Adventia Korang Agnes Magdelina Kolly agnes, Agnes Magdelina Kolly Alboin Selly Alboin Selly5 Anastasia Laubela Antonius A. Saetban Asarina Alomalai Asarina Takalapeta Asrina Takalapeta Asriyanti Karim Ayu Maro Ayu Maubuthy Beci Oko Belandina Edelweis Atalo Bendelina Marta Malailo Benyamin Mailehi Benyamin Mailehi Benyamin Oulaana Benyamin Oulaana Botahala, Loth Boy Adrian Gerimu Clara D.S Sally Daik, Triznawasti Y. Defi Y. Lekai Defi Y. Lekai Delita Rosalina Mauweni Dematrius Prabila Dermolinda Maipan Desy D. Tay Kaat Devita T. Mabilehi Dewi S. Maleikari Dian Regina Tamara Plaimo Doni R. P. Beri Donna E. Landa Dorkas Penau Drasmi I. Kamata Eflin M. E Kelamau Elisabeth Labe Enjel Maryana Weni Ester Prity Claudia Biri Feni Diana Djaha Frits Donasius Kamengmau Gladys Itunde Halena M. Bekata Halena Makunbok Hapzi Ali Hatangnama Atakari Hedrawati Mauring Herianus Manimoy Heronike Mangmani Heru Subrata HERU SUBRATA INDARTI, TITIK Intan P. Lema Madde Intan Permatasari Lema Madde Isak Fantang Jefri Moban Jefri Suro Pati Jellian Padalani Jennie Hapliani Tunliu Jerosion E. Blegur Jon Abraham Lalang Yame Klara D. S. Sally Lala Moilegi Lambertus Lupuikoni Lisa Victoria Malimou Loni Sarlota Mau Klaping Lutgardis S. Maure Mani imelda blegur Margerita A. Mapada Maria Bainhana Maria Delia B. Tukan Maria Lily, Netry Mariam Atamai Marni S. Laure Marsalina Malaikari Marta Simey Famau Martha Ria Sengaji Martheda Maarang Marudin, Marudin Matheos E. Maure Matias Lau Mau Pating Mehelina R. Lebo Melki I. Puling Tang Melki I. Puling Tanga Melki Imamastari Puling Tang Miseri C. Lau Miseri K. Lau Mita Lodia Sing Nehemia Fanpada Norlianti Lusia Tabun Novi Greace Makena Novita Yuliana Wabang Nurlaila B Arsyad Orlando De Rois Lapuilana Paulus Ayub Animau Penina Maruli Puling Tang, Melki Imamastri Ria Bolang Riflyisrianly Beri Ledang Rumi Magdalena Tay Safri Musa Malaka Salmon Weni Gati Salmon Wenigati Salomi Duka Saptarika Mikidori Saron Lalangpuling Selfius Kolihar Senti Atakari Sentike Melani Mauyaru Serli Lahmau Serlin Meri Letding Serlin Mery Letding Sifra Eunike Lauring Silas Maniata Silpa Bilha Fanau Silpa Fanau Silpa Maiko Sintike Melani Mauyaru Siria Mei Kamutlaka Tabita Asmiyanti Serangkai Tabita Plaikari Tabun, Norlianti L Tersia Lengmalu Titik Indarti Trivonia Ata Tuaty, Desi Anceria Umiyani Kona Vani Maniyeni Vebrianus Petrus Barai Vera M. Kabey Vera Marta Kabey Wanda rosiana moulaa Welmince Onbila Yermia S Wabang Yermia S. Wabang Yesgelode Lauata Yohanis Duil Yolanda Laumai Yosin Eyodia Djolelang Yusup Laukamang