Claim Missing Document
Check
Articles

Sejarah Perjalanan Wofa Dan Patung Batu Lonkili Atau Batu Elang Di Desa Waisika Kecamatan Alor Timur Laut Saron Lalangpuling; Vera Marta Kabey; Tabita Asmiyanti Serangkai; Tersia Lengmalu; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2082

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali cerita leluhur sejarah perjalanan Wofa dan patung batu lonkili atau batu elang , di kecamatan Alor timur laut, desa Waisika.Cerita rakyat ini mengisahkan kehidupan di Kampung Kamengmane, tempat nenek moyang suku Petinpu dan suku Lubuy tinggal. Kehidupan awalnya damai, namun berubah sejak kelahiran Wofa, seorang anak yang dikenal nakal dan pembangkang. Perilaku buruk Wofa membuat seluruh warga kampung, termasuk orang tuanya, kehilangan kesabaran hingga memutuskan meninggalkan Wofa sendirian. Dalam kesedihan, Wofa bertemu dengan seorang gadis bernama Lonkili, yang kemudian menjadi istrinya.Pasangan ini memulai kehidupan baru di kampung tersebut, mengikuti pesan nenek Wofa untuk memanfaatkan alam sekitar. Mereka dikaruniai empat anak, tetapi hubungan mereka menjadi tegang akibat kepercayaan yang rusak. Lonkili, merasa dikhianati oleh suaminya, akhirnya memutuskan meninggalkan keluarganya dengan kembali ke wujud aslinya sebagai burung elang. Transformasi Lonkili menjadi batu yang menyerupai burung menjadi simbol penghormatan bagi keturunannya hingga kini. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan wawancara kepada beberapa Narasumber di desa waisika.Cerita ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menghargai keluarga, mengendalikan emosi, serta menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan keluarga.
Adat Istiadat Perkawinan Suku Abui (Kampung Takpala) Marni S. Laure; Lutgardis S. Maure; Margerita A. Mapada; Mehelina R. Lebo; Isak Fantang; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2086

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui praktik pelaksanaan budaya belis, makna budaya belis dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam budaya belis. Peneliti menggunakan metode kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Suku Abui Kampung Takpala, Desa Lembur Barat, Kecamatan Tengah Utara. Informan dalam penelitian ini adalah kepala adat Suku Abui Kampung Takpala. Hasil penelitian menunjukan bahwa: proses pelaksanaan budaya belis dilakukan melalui beberapa tahap yaitu (1) Taru Daun: perkenalalan keluarga dari kedua belah pihak (2) Masuk Minta : meminta persetujuan dari keluarga perempuan untuk dipinang (3) Terang Kampung : pemberitahuan bahwa pasangan laki-laki dan perempuan tersebut telah diremiskan secara adat sebagai pasangan, (4) Hantaran Sirih Pinang : keluarga laki-laki akan membawa syarat yang telah ditentukan yang sesuai dengan nota, (5) Antar Perempuan : mengantar perempuan ke kediaman keluarga laki-laki . Hasil peneliti dapat disimpulkan bahwa proses pelaksaan budaya belis pada perkawinan adat Suku Abui Kampung Takpala merupakan budaya yang disempurnakan oleh ritual adat.
Eksplorasi Dan Klasifikasi Jenis Moko Di Museum 1000 Moko Kabupaten Alor Anastasia Laubela; Asarina Takalapeta; Miseri K. Lau; Bendelina Marta Malailo; Martha Ria Sengaji; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2087

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang klasifikasi jenis moko yang terdapat di Museum 1000 Moko, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, merupakan situs budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, budaya dan ekonomi bagi masyarakat Alor. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan jenis-jenis Moko yang terdapat di Museum 1000 Moko dan sejarah serta fungsi sosial,budaya dan ekonomi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan kajian literatur. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan jenis moko yang terdapat di Museum 1000 Moko yaitu Moko dari etnis Pantar disebut Moko Pung, Moko dari etnis Kabola dan etnis Abui memiliki nama dan nilai yang berbeda karena dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang digunakan setiap kecamatan di kabupaten Alor berbeda. Koleksi Moko yang terdapat di museum ini berasal dari bangsa Dongson yang didatangkan melalui jalur perdagangan oleh bangsa tersebut. Kemudian diadopsi oleh masyarakat Alor sebagai benda pusaka yang memiliki fungsi sosial, budaya dan ekonomi yang tinggi.
Keberagaman Kehidupan Masyarakat Desa Lakwati Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor Heronike Mangmani; Loni Sarlota Mau Klaping; Lambertus Lupuikoni; Marsalina Malaikari; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2088

Abstract

AbstrakTujuan dari peneliti ini yaitu untuk mengkajikan keberagaman kehidupan masyarakat Desa Lakwati Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor. Peneitian menggunakan metode kualitatif. Teknik analisis data di lakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian i ini di lakukan di Desa Lakwati Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor. Informasi dalam penelitian ini adalah pemerintah Desa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga aturan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Lakwati Yaitu: (1) Merokok, pemerintah Desa melarang keras kepala masyarakat Desa Lakwati Untuk tidak merokok. (2). Siri pinang Pemerintah Desa melarang keras kepada masyarakat Desa Lakwati untuk tidak makan siri pinang. (3) minuman keras, Pemerintah Desa melarang keras kepada masyarakat Desa untuk tidak minum minuman keras atau minuman yang beralkohol. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Desa Lakwati Tanpa merokok minuman keras, dan mamah sirih.
Kearifan Lokal Di Era Digital Dalam Pelestarian Pakaian Adat Suku Kui Kecamatan Alor Barat Daya Maria Delia B. Tukan; Intan P. Lema Madde; Clara D.S Sally; Lala Moilegi; Salmon Weni Gati; Jerosion E. Blegur; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Vol. 3 No. 1 (2025): AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2090

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mempertahankan kearifan lokal Pakaian adat, yang merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan ekonomi yang signifikan. Peneliti menggunakan metode kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Suku Kui, Kecamatan Alor Barat Daya. Informan dalam penelitian ini adalah kepala adat Suku Kui. Hasil penelitian menunjukan bahwa: ada beberapa alasan mengapa kearifan lokal yang ada di Suku Kui Perlu di pertahankan, yaitu: (1) Sejarah: kulit kayu menjadi tenunan kain sarung (2) Religius/Kepercayaan: kepercayaan terhadap leluhur atau arwah nenek moyang (3) Budaya: cerminan jati diri masyarakat Kui. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pakaian adat merupakan bagian integral dari identitas budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Meskipun menghadapi berbagai tantangan di era modern.
Sejarah Pembuatan Mesbah Atau (Dor) Di Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Silas Maniata; Jefri Moban; Petrus Mau Tellu Dony; Vebrianus Petrus Barai; Riflyisrianly Beri Ledang
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): : AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2075

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejarah pembuatan mesbah di kecamatan alor barat daya, kelurahan moru, kabupaten alor. awal mula pembuatan mesbah secara umum, tujuan adalah karena ada kesatuan. Dan supaya dikampung tersebut juga ada orang. Kampong moeng sudah ada sejak purba ke-3, dahulu masyarakat tersebut hidup mengembara mereka berpindah tempat ke tempat yang lain, tempat yang pertama berada di ton dam tempat yang ke dua berada di molmoi dan kembali lagi ke ton dan karena di tempat itu ada satu jenis tanaman tebu, karna sudah meluas di tempat itu maka mereka bergeser untuk mencari tempat lain yaitu di moeng. Karena di ton kampong pertama tersebut sudah menjadi tempat pemburuan.Karena terdapat hewan seperti babi dan rusa ditempat itu. Di kampong moeng terdapat 12 suku, ada 6 suku besar dan 6 suku besar itu melahirkan 5 suku kecil dan ada 1 suku pendatang. Dari ke-12 suku itu datang membawa satu batu alam yang ditaru diatas batu-batu lainnya, nantu setelah ditaru batu dari ke-12 suku itu. Maka istilahnya tuan atau datoh (moyang) membuat sebuah ritual artinya berdoa kepada tuhan atau dewa,setelah membaca ritual maka moyang menentukan suku apa yang ditunjuk untuk membacakan mantrah dan moyang akan memberikan masing-masing fungsi kepada ke-12 suku tersebut ada suku yang bertugas menjaga keamanan, keseimbangan, menggerakan pembacaan mantrah dan ada beberapa yang tdk disebutkan. Jadi tujuan mesbah ini dibuat adalah sebagai tanda bahwa ada kampong ditempat.
Asal Usul Terbentuknya Air Ate Dan Moko Puledang Lafaledang Di Kampung Lama Omtel Kabupaten Alor Feni Diana Djaha; Salomi Duka; Yesgelode Lauata; Sentike Melani Mauyaru; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): : AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2076

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Asal usul terbentuknya Air Ate di Kampung Lama Omtel adalah kejadian yang terjadi di gunung omtel pada zaman dahulu, ada dua orang suami istri yakni Ledang pot dari kampung Nihingn dan Bihaj dari kampung Pay. Mereka pergi ke kebun untuk membersihkan rumput dengan kedua anaknya. Ketika kedua orang tua sedang membersihkan rumput kedua anaknya bermain petak umpet hingga hari sore kedua orang tua itu memanggil anak mereka untuk pulang namun tidak ada respon dari kedua anak tersebut sehingga orang tua mereka mengira anak-anak tersebut telah pulang sehingg kedua orang tua tersebut pulang namun samapi di rumah kedua anak tersebut tidak ada di rumah mereka sehingga orang tua nya mencari mereka pada keesokan harinya, namun mereka tidak menemukan kedua anaknya.Lalu mereka pergi ke kebun untuk mencari mereka, namun tidak menemukan mereka tetapi kebun mereka yang dulunya tidak ada air sekarang telah dialiri oleh air yang mengalir sehingg mereka berdua mengetahui bawah kedua anak mereka telah di telan air(sehingga dinamakan air ate, yang sampai sekarang masih di gunakan). Dan dari dalam air tersebut muncul nyiru dan lesung, nyiru tesebut telah berubah menjadi batu karena dibuang oleh sang isteri dalam perjalanan ke rumah, sedangkan lesung tersebut dibawa oleh sang suami ke rumah dan berubah menjadi moko. Moko tersebut telah dibawa oleh orang pandai ke Pandai, sebagai ganti air pinang yang dijanjikan oleh Matebel Langgara (Orang-orang tua yang dihormati dan tidak bisa dilawan/bantah) dari O’mate kepada orang-orang pandai.
Analisis Layanan Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Masalah Kenakalan Peserta Didik Di SD GMIT 02 Kalabahi Mani Imelda Blegur; Frits Donasius Kamengmau; Boy Adrian Gerimu; Hedrawati Mauring; Jefri Suro Pati; Petrus Mau Tellu Dony; Melki Imamastri Puling Tang
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): : AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2077

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan layanan biimbingan konseling dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SD Gmit 02 Kalabahi .Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa pentingnya layanan bimbingan konseling dalam mengatasi masalah kenakalan peserta didik. Penelitian ini dilakukan pada 20 november 2024 dengan subjek guru bimbingan dan koseling dan guru kelas V SD Gmit 02 Kalabahi. Teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara dan dokumentasi.Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data mendapat kesimpulan bahwa masalah yang sering dilakukan peserta didik merupakan kenakalan wajar sesuai dengan tahap perkembangan anak sekolah dasar, contonya:saling menggangu ,saling mengejek,maki ,bullying .Kenakalan seperti ini merupakan hal yang wajar sesuai dengan tahap perkembangan anak.Layanan BK di Sekolah dasar dasar sangat penting dan bermanfaat bagi peserta didik untuk perubahan karakter peserta didik di kemudian hari dan daapt meningkatkan potensi diri SD Gmit 02 merupakan salah satu satuan pendidikan jenjang SD yang berlokasi di jalan Diponegoro NO.31 Kalabahi ,Nusa Tenggara Timur ,Kecamatan Teluk mutiara ,Kabupaten Alor ,Nusa Tenggra Timur merupakan sekolah swasta yang berdiri sejak 1981.SD Gmit 02 Kalabahi berada dinaungan kementrian dinas kebudayaan .pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah kenakalan peserta didik sangat baik walapun masih banyak keterbatasan sarana dan prasarana namun guru dapat menangani dengan baik .Jenis-jenis layanan bimbingan dan koseling yang sering dilakukan oleh guru yaitu:layanan mediasi,layanan pembelajaran,layanan informasi dan layanan konseling individual.
Sejarah Pemerintahan Desa Probur Kecamatan Alor Barat Daya Selfius Kolihar; Yosin Eyodia Djolelang; Safri Musa Malaka; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): : AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2078

Abstract

Desa Probur adalah salah satu desa di Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal dengan potensi budaya adat Klon. Desa ini resmi dibentuk pada tahun 1962 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur. Pembentukan Desa Probur merupakan hasil penggabungan beberapa kampung, yaitu Bural, Halerman, Hopter, Usakan, Alwor, Dulel, Mataraben, Habolat, dan Lola. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis untuk mendokumentasikan sejarah pembentukan desa, kondisi geografis, demografi, serta sosial budaya. Desa Probur memiliki luas wilayah 4.107 hektar dengan jumlah penduduk 2.453 jiwa. Potensi utama desa ini terletak pada sektor pertanian dan peternakan. Namun, tantangan seperti tingkat pendidikan yang rendah dan keterbatasan akses ekonomi masih menjadi perhatian. Program-program seperti Program Indonesia Pintar telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan visi terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, berbudaya, dan mandiri, Desa Probur memiliki peluang besar untuk berkembang lebih baik di masa depan.Kata Kunci: Desa Probur, Alor Barat Daya, sejarah desa, potensi budaya, pendidikan, pembangunan.
Sejarah Mula Ayam Tembaga Di Sibeybu Desa Langkuru Utara Kecamatan Pureman Kabupaten Alor Tabita Plaikari; Silpa Fanau; Serlin Mery Letding; Nurlaila B Arsyad; Umiyani Kona; Petrus Mau Tellu Dony
AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): : AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/afada.v3i1.2079

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul dan peran Ayam Tembaga di Desa Langkuru Utara, Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, serta mengaitkannya dengan pandangan ilmiah. Ayam Tembaga, unggas lokal dengan bulu menyerupai logam tembaga, merupakan fenomena unik yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Menurut Anwar (2024), fenomena biomineralisasi—proses biologis di mana organisme menghasilkan struktur mineral anorganik—berpotensi terjadi pada unggas ini, meskipun sangat jarang. Dalam konteks budaya, Koentjaraningrat (1971) menjelaskan bahwa hewan peliharaan seperti Ayam Tembaga sering kali memiliki nilai spiritual atau simbolik dalam masyarakat tradisional Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat untuk menggali tradisi lisan dan kepercayaan lokal. Hasilnya menunjukkan bahwa Ayam Tembaga tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi simbol dalam penamaan wilayah seperti Sibeimang, Watmaney, dan Moybagul. Fenomena transformasi ayam menjadi tembaga pasca kebakaran di Sibeybu diinterpretasikan sebagai simbol sakral yang dihormati oleh masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan Ayam Tembaga mencerminkan pentingnya unggas lokal dalam melestarikan keragaman genetik (Basar) dan mendukung ekonomi pedesaan (Daryanto). Penelitian ini mengungkap hubungan erat antara tradisi lisan, budaya lokal, dan pendekatan ilmiah, sekaligus menegaskan peran Ayam Tembaga sebagai aset budaya dan genetik yang bernilai tinggi. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian unggas lokal Indonesia dan memperkuat identitas budaya masyarakat.
Co-Authors Acia Blegur La Adesti A. Kamba Adol Bria Adventia Korang Adventia Korang Adventia Korang Agnes Magdelina Kolly Agnes Magdelina Kolly agnes, Agnes Magdelina Kolly Alboin Selly Alboin Selly Alboin Selly5 Amos Kalung Anastasia Laubela Anastasia Laubela Antonius A. Saetban Ariyance Maleipada Asarina Alomalai Asarina Takalapeta Asrina Takalapeta Asrina Takalapeta Asriyanti Karim Asriyanti Karim Ayu Maro Ayu Maro Ayu Maubuthy Ayu Maubuthy Ayu Y. Maro Beci Oko Belandina Edelweis Atalo Belandina Edelweis Atalo Bendelina Marta Malailo Bendelina Marta Malailo Benyamin Mailehi Benyamin Mailehi Benyamin Oulaana Benyamin Oulaana Botahala, Loth Boy Adrian Gerimu Cindy Sintikhe Dollu Cindy Sintikhe Dollu Clara D.S Sally Clara Desinta Sadu Sally Daik, Triznawasti Y. Daud Kafomai Davitzon Ill Olang Defi Y. Lekai Defi Y. Lekai Delita Rosalina Mauweni Delita Rosalina Mauweni Dematrius Prabila Dermolinda Maipan Desy D. Tay Kaat Devita T. Mabilehi Dewi S. Maleikari Dian Regina Tamara Plaimo Dian Regina Tamara Plaimo Doni R. P. Beri Doni Rian Putra Beri Donna E. Landa Dorkas Penau Drasmi I. Kamata Drasmi Inra Kamata Eflin M. E Kelamau Elisabeth Labe Elisabeth Labe Elisabeth Labe Endang Serang Enjel Maryana Weni Enjel Maryana Weni Ester Prity Claudia Biri Ester Prity Claudia Biri Ester Prity Claudia Biri Ester Prity Claudia Biri Eunike Molebila Feni Diana Djaha Feni Diana Djaha Fenti Kuang Frits Donasius Kamengmau Gabriel Malailak Gamelia Langkamang Gladys Itunde Gladys Itunde Halena M. Bekata Halena Makunbok Halena Makunbok Hana K. Lamma Koly Hapzi Ali Hatangnama Atakari Hedrawati Mauring Henderina Womakal Herianus Manimoy Herlofina Manikafola Herlofina Manikafola Heronike Mangmani Heronike Mangmani Heronike Mangmani Heru Subrata HERU SUBRATA Imanuel M. Laukamang Imanuel Y.H. Manapa Imanuel Yosafat Hadi Manapa Inang Naila Mustapa INDARTI, TITIK Inggrit E. Bayang Inggrit Elisabet Bayang Intan P. Lema Madde Intan Permatasari Lema Madde Intan Permatasari Lema Madde Intan Permatasari Lema Madde Isak Fantang Isak Fantang Jefri Moban Jefri Moban Jefri Suro Pati Jellian Padalani Jennie Hapliani Tunliu Jennie Hapliani Tunliu Jero Sion E. Blegur Jerosion E. Blegur Jesenia Loriance Alelang Jon Abraham Lalang Yame Jon Abraham Lalang Yame Jon Abraham Lalang Yame Juliana Albertina Mayopu Juliana Albertina Mayopu Klara D. S. Sally Lala Enggadina Moilegi Lala Moilegi Lambertus Lupuikoni Lambertus Lupuikoni Lea Priska Adangdjaha Lisa Victoria Malimou Lisa Victoria Malimou Lodia Mardina Kamengko Loni Sarlota Mau Klaping Loni Sarlota Mau Klaping Loriance Tonu Weni Lutgardis S. Maure Lutgardis Soi Maure Mahalita S. Moban Mani imelda blegur Margerita A. Mapada Maria Bainhana Maria Bainhana Maria Bainhana Maria Delia B. Tukan Maria Delia B. Tukan Maria Lily, Netry Mariam Atamai Mariam Atamai Markus Mauleti Marni S. Laure Marni S. Laure Marni S. Laure Marsalina Malaikari Marsalina Malaikari Marsia Alomau Marsia Alomau Marta Simey Famau Marta Simey Famau Martha Ria Sengaji Marthalin Lanmai Martheda Maarang Marudin, Marudin Matheos E. Maure Matheos E. Maure Matias Lau Mau Pating Matias Lau mau Pating Mehelina R. Lebo Mehelina R. Lebo Melki I. Puling Tang Melki I. Puling Tanga Melki Imamastari Puling Tang Miseri C. Lau Miseri K. Lau Miseri Kordia Lau Mita Felisdianti Laana Mita Lodia Sing Mita Lodia Sing Muhamad Songge Musa Famau Nampi Irayani Blorton Naomi Karpada Naomi Pulamau Naomi Pulamau Nehemia Fanpada Neziah Hinagay Norciana Well Norlianti Lusia Tabun Novi Greace Makena Novi Greace Makena Novita Yuliana Wabang Novita Yuliana Wabang Novita Yuliana Wabang Novriani Kristin Mautang Nurlaila B Arsyad Nurlaila B Arsyad Obetnego Kamalau Oktovianus Sandy, Indriyani Anastasia Lalang sir, Defi Kepa, Lia Veronika Koilbain, Ledi A. Koilmo, Kristy A. W. Bolang, Putri Susanti Songkai, Paulus Oupada, Orbanus Alokafani, Jupiter M. Bitang Onarita Lanoni Orlando De Rois Lapuilana Orlando De Rois Lapuilana Paulina Arokoil Paulus Ayub Animau Paulus Ayub Animau Paulus Malaimabi Penina Maruli Penina Maruli Penina Maruli Priska Lakatina Puling Tang, Melki Imamastri Reni Sriyanti Besi Ria Boalang Ria Bolang Riflyisrianly Beri Ledang Riflyisriany Beriledang Rumi Magdalena Tay Safri Musa Malaka Safry Musa Malaka Salmon Weni Gati Salmon Weni Gati Salmon Wenigati Salomi Duka Salomi Duka Saptarika Mikidori Saron Lalangpuling Saron Lalangpuling Saron Lalangpuling Selfius Kolihar Senti Atakari Senti Atakari Sentike Melani Mauyaru Serli Lahmau Serlin Meri Letding Serlin Meri Letding Serlin Mery Letding Sifra Eunike Lauring Sifra Eunike Lauring Silas Maniata Silas Maniata Silpa Bilha Fanau Silpa Bilha Fanau Silpa Fanau Silpa Maiko Silpa Maiko Sintike Melani Mauyaru Sintike Melany Mauyaru Siria Mei Kamutlaka Siria Mei Kamutlaka Tabita Asmiyanti Serangkai Tabita Asmiyanti Serangkai Tabita Plaikari Tabita Plaikari Tabita Plaikari Tabita Plaikari Tabun, Norlianti L Tersia Lengmalu Tersia Lengmalu Titik Indarti Trivonia Ata Trivonia Ata Triznawasti Yudita Daik Tuaty, Desi Anceria Umiyani Kona Umiyani Kona Uriana Mabileti Vani E. Maninyeni Vani Maniyeni Vebrianus Petrus Barai Vebrianus Petrus Barai Vera M. Kabey Vera M. Kabey Vera Marta Kabey Vera Marta Kabey Vera Marta Kabey Wanda rosiana moulaa Welmince Onbila Yermia S Wabang Yermia S. Wabang Yermia S. Wabang Yesgelode Lauata Yesgelode Lauata Yessy Mata Yohanis Duil Yolanda Laumai Yolanda Laumai Yona Teiko Yosin Eyodia Djolelang Yusup Laukamang Yusup Laukamang