Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pengembangan Bahan Ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa (Development Of Speaking Teaching Materials Based On Language Politeness) Akhyaruddin Akhyaruddin; Priyanto Priyanto; Ade Bayu Saputra; Arum Gati Ningsih; Andiopenta Purba; Nurfadilah Nurfadilah; Lusia Oktri Wini
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7781

Abstract

This research implements Leech and Grice's language politeness maxims in the development of Speaking teaching materials. The goal is to produce a product of Speaking Teaching Materials Based on Language Politeness. The method used to achieve this goal is Research and Development with the procedure of Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. The method used to determine the feasibility of teaching material products developed is the questionnaire method of validation of language politeness material experts, teaching material readability experts, teaching material book graphics experts and teaching material user practitioners. The overall data obtained through the questionnaire is processed with descriptive statistics. Using Likert scale criteria, the results of expert validation show that the aspect of the material aspect of language politeness has a percentage of 88.66% with a very valid category, the graphical aspect of the teaching material book gets a percentage of 93.33% with a very valid category. The user practitioner test obtained the feasibility of teaching material products of 94.98% with a very feasible category. The results of the expert validation test and practitioner test show a percentage far above 61%. Thus, the product of Speaking Based on Language Politeness teaching materials produced is feasible to be implemented in the lecture process. AbstrakPenelitian ini mengimplementasikan maksim-maksim kesantunan berbahasa Leech dan Grice dalam pengembangan bahan ajar Berbicara. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk bahan ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Research and Development dengan prosedur Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation. Metode untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar yang dikembangkan adalah metode angket validasi ahli materi kesantunan berbahasa, ahli keterbacaan bahan ajar, ahli grafika buku bahan ajar, dan praktisi pengguna bahan ajar. Keseluruhan data yang diperoleh melalui angket diolah dengan statistik deskriptif. Dengan menggunakan kriteria skala likert, hasil validasi ahli menunjukkan bahwa aspek materi kesantunan berbabahasa memilki persentase 88,66% dengan kategori sangat valid; aspek keterbacaan bahan ajar memeroleh persentase 97,33% dengan kategori sangat valid; aspek grafika buku bahan ajar memeroleh persentase 93,33% dengan kategori sangat valid.  Uji prktisi pengguna diperoleh kelayakan produk buku bahan ajar sebesar 94,98% dengan kategori sangat layak. Hasil uji validasi ahli dan uji praktisi tersebut menunjukkan persentase jauh di atas 61%. Dengan demikian, produk bahan ajar Berbicara Berbasis Kesantunan Berbahasa yang dihasilkan layak diimplementasikan dalam proses perkuliahan.
Makna Simbolisme Dalam Kumpulan Lirik Lagu Sarolangun Widia Gustiani; Nazurty; Ade Bayu Saputra
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10683

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pelestarian lagu daerah sebagai warisan budaya yang mengandung berbagai simbol dan nilai kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolisme dalam kumpulan lagu daerah Sarolangun yang terdiri atas lagu Jembatan Beatrix, Dagang Manumpang, Sarolangun, Sarolangun Dusun Batuah, dan Balumbo Biduk. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos. Data penelitian berupa kata, frasa, dan bait yang mengandung simbolisme dalam lirik lagu daerah Sarolangun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan studi pustaka, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam lagu daerah Sarolangun merepresentasikan nilai sejarah, budaya, sosial, dan pandangan hidup masyarakat. Simbol-simbol tersebut mengandung makna tentang perjuangan, identitas daerah, hubungan manusia dengan alam, pelestarian adat istiadat, serta kebanggaan terhadap daerah Sarolangun. Selain berfungsi sebagai hiburan, lagu daerah Sarolangun juga berperan sebagai media pelestarian budaya dan penyampaian nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.
Pelatihan Menulis Puisi Berbasis Lesson Study bagi Guru SMP Tanjung Jabung TimurSebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik dan Literasi Sastra Ade Bayu Saputra; Hary Soedarto Harjono; Nurfadilah Nurfadilah; Lusia Oktri Wini; Rahmawati Rahmawati
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): November 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v5i6.920

Abstract

Pelatihan menulis puisi berbasis Lesson Study bagi guru SMP di Kabupaten Tanjung Jabung Timur bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menulis dan mengajarkan puisi secara kreatif serta mendorong kolaborasi reflektif antar guru. Kegiatan ini melibatkan 29 guru Bahasa Indonesia dan dilaksanakan melalui pendampingan menulis puisi, praktik langsung, evaluasi pre-test dan post-test, serta forum diskusi kelompok terarah (FGD) untuk menerapkan prinsip Lesson Study. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pada semua aspek penilaian, dengan rata-rata skor post-test meningkat dari 59,5% menjadi 91,37%. Karya puisi peserta juga menunjukkan peningkatan kualitas dari segi orisinalitas, diksi, kesesuaian tema, dan kekuatan imajinasi serta ekspresi. Pelatihan ini membangun budaya kolaboratif di kalangan guru, mengatasi permasalahan rendahnya kompetensi menulis dan minimnya refleksi antar guru, serta memperkuat budaya literasi sastra di sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi praktik menulis puisi dan refleksi kolektif melalui Lesson Study dapat menjadi model efektif untuk pengembangan profesional guru dalam pembelajaran puisi
NILAI-NILAI MORAL DALAM FILM BUDI PEKERTI DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMP Ratna Wulandari; Nazurty; Ade Bayu Saputra
Jurnal Tunas Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): JURNAL TUNAS PENDIDIKAN
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/pgsd.v8.i2.2886

Abstract

This study aims to identify and analyze the moral values contained in Budi Pekerti film by Wregas Bhanuteja and explore its relevance in literature learning at junior high school level. This research uses a qualitative approach with the method of literary sociology, which views literary works as a reflection of social reality. The data used are transcripts of dialogue in the Budi Pekerti film obtained through listening techniques and analyzed using the Miles and Huberman model which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that Budi Pekerti movie contains ten main moral values, namely respect, responsibility, honesty, wisdom, self-discipline, helping, caring for others, cooperation, courage, and democracy. These values are not only moral messages for the audience, but also have relevance to literature learning in junior high schools, especially in the Learning Objective Path (ATP) of phase D of the Indonesian Language Merdeka Curriculum which emphasizes listening, reading, and viewing. Thus, movies can be used as an effective learning medium in instilling moral values and shaping student character.
EKSISTENSI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PEREMPUAN YANG MENANGIS KEPADA BULAN HITAM KARYA DIAN PURNOMO Annisa; Yundi Fitrah; Ade Bayu Saputra
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2063

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi tokoh utama dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo melalui perspektif feminisme eksistensialis. Kajian ini berfokus pada bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama serta strategi perlawanan yang dilakukan untuk menegaskan eksistensinya sebagai subjek. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir dan teori ketidakadilan gender Mansour Fakih. Data berupa kutipan naratif dan dialog dalam novel yang mengandung representasi marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, serta tindakan resistensi tokoh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan pembacaan kritis, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakadilan gender dengan dominasi kekerasan, serta bentuk perlawanan yang mencakup penolakan budaya patriarki, pengembangan intelektual, sikap pantang menyerah, keberanian, dan kemandirian melalui kerja. Temuan ini menegaskan bahwa tokoh Magi Diela tidak hanya direpresentasikan sebagai korban budaya patriarki, tetapi sebagai agen yang secara aktif membangun eksistensi diri melalui kesadaran, tindakan, dan pilihan hidup yang otonom. Penelitian ini berkontribusi dalam penguatan kajian sastra feminis eksistensialis serta memperluas pemahaman mengenai representasi perjuangan perempuan dalam konteks budaya patriarki.
REPRESENTASI TOKOH IBU DALAM CERITA ANAK DIGITAL SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA ANAK KRITIS Salsabillah Sahda Daffa Ananta; Delita Sartika; Ade Bayu Saputra
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2702

Abstract

Cerita anak digital berperan penting dalam membentuk pemahaman anak tentang peran sosial, termasuk peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Namun, penelitian yang mengkaji representasi tokoh ibu dalam satu cerita anak digital secara mendalam sekaligus mengaitkannya dengan implikasi pembelajaran masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi tokoh ibu dalam cerita Ingin Seperti Ibu (Let’s Read Asia) serta merumuskan implikasinya bagi pembelajaran sastra anak kritis di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk, difokuskan pada dimensi teks (makrostruktur, superstruktur, mikrostruktur diksi dan visual) dan dimensi konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh ibu direpresentasikan secara hibrid, yaitu aktif di ranah publik sebagai nelayan sekaligus tetap menjalankan fungsi pengasuhan domestik. Representasi ini menunjukkan adanya beban ganda perempuan yang bersifat akomodatif dalam perspektif ideologi Ibuisme Negara. Temuan penelitian ini memiliki nilai pedagogis, yaitu cerita Ingin Seperti Ibu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran sastra anak kritis yang mendorong diskusi gender, analisis karakter, dan pembacaan ilustrasi secara kritis.
Makna Simbolisme dalam Lima Cerpen Kumpulan Jreng Karya Putu Wijaya: Kajian Semiotika Roland Barthes : The Meaning of Symbolism in Five Short Stories from the Collection Jreng by Putu Wijaya: A Semiotic Study of Roland Barthes Enggel Angraini; Maizar Karim; Ade Bayu Saputra
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2762

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol-simbol dalam kumpulan cerpen Jreng karya Putu Wijaya, mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos dari simbol-simbol tersebut, serta mendeskripsikan klasifikasi simbolisme yang terkandung berdasarkan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika model Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui teknik hermeneutik dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Teori klasifikasi simbolisme yang digunakan dalam analisis ini bersumber dari tipologi simbolisme Parsons yang mencakup aspek konstitutif, kognitif, evaluatif, dan ekspresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam kumpulan cerpen Jreng membentuk pola tematik yang mendalam: (1) dalam cerpen Cermin, simbol cermin merepresentasikan krisis identitas; (2) dalam cerpen Kepala, simbol kepala merepresentasikan hilangnya kesadaran kritis; (3) dalam cerpen Dede, sosok Dede merepresentasikan marginalisasi nilai kemanusiaan; (4) dalam cerpen Hak, simbol hak merepresentasikan perjuangan keadilan sosial; dan (5) dalam cerpen Suara, simbol suara merepresentasikan kebebasan berekspresi yang terbungkam. Keseluruhan simbol tersebut beroperasi pada tataran denotasi, konotasi, hingga terbentuknya mitos yang berfungsi sebagai media kritik sosial, refleksi psikologis, dan pengungkapan persoalan eksistensial manusia.  
Efektivitas Penggunaan Media Digital Interaktif terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa di SD Negeri 81 Kota Bengkulu Rozi Yahya; Debi Rahmat Ilahi; Maryam; Masrifah Hidayani; Ade Bayu Saputra
JURNAL ARMADA PENDIDIKAN Vol 4 No 2 (2026): JURNAL ARMADA PENDIDIKAN
Publisher : Kilau Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60041/jap.v4i2.467

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of the use of interactive digital media on student interest and learning outcomes at SD Negeri 81 Bengkulu City. This study uses a quantitative approach with a quasi-experimental type through a nonequivalent control group design. The research subjects consisted of fifth-grade students divided into an experimental class and a control class. Data collection techniques were carried out through questionnaires to measure learning interest, tests to measure learning outcomes, and documentation as supporting data. Data analysis used normality tests, homogeneity tests, and t-tests (independent sample t-tests). The results showed that the average learning interest of students in the experimental class was higher than the control class, namely 82.5 in the high category, while the control class was 70.3 in the medium category. In addition, student learning outcomes in the experimental class experienced a significant increase with a difference of 20.4, higher than the control class of 9.3. The results of the hypothesis test showed a significance value <0.05, which means there was a significant difference between the two groups. Thus, the use of interactive digital media has proven effective in improving student interest and learning outcomes. This research provides implications that technology integration in learning can be an innovative strategy to improve the quality of education in elementary schools.
Utilisation of Jambi Malay Prologue in Local Content Curriculum Development at Jambi University Andiopenta Andiopenta; Ade Bayu Saputra; Deri Rachma
Journal of Social Science Utilizing Technology Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jssut.v2i2.809

Abstract

Background. Jambi Malay is rich in expressions that can be utilised as teaching materials in the development of local content curriculum in the field of culture. Purpose. The purpose of this study is to provide information on how the use of various propologue expressions in the Jambi Mekayu language can be used as local content teaching materials characterised by Jambi Malay regionalism. Method. This research uses a qualitative descriptive method. The data comes from documentation and data from informants. The data were collected using documentation and simak libat cakap. Data analysis used Hubermans’ flow technique; data presentation, data reduction, and conclusion drawing. The data validity technique used triangulation of theory and method. Results. The development of the local content curriculum must be based on the identification of regional needs and conditions, and pay attention to the principles of effectiveness, efficiency, community, and flexibility. The function of local content in Jambi Province includes cultural preservation, skills enhancement, and entrepreneurial motivation. The determination of study materials and local content subjects must be in accordance with the development of students, the ability of teachers, and available facilities, and not conflict with religious norms and social values. The development of syllabi, competency standards, and basic competencies needs to involve various parties and refer to national content standards. The use of Jambi Malay prologue expressions as teaching materials can enrich the culture-based local content curriculum. Conclusion. Expressions in Jambi Malay are very diverse, can take the form of phrases, clauses, and sentences. The meaning of expressions in Jambi Malay contains a very diverse meaning, both denotative, connotative, and meaning that is born structurally and grammatically.
Sociopragmatic Analysis of Multilingual Background Speech Acts of Indonesian Language and Literature Education Students FKIP Jambi University Andiopenta Andiopenta; Deri Rachmad Pratama; Hilman Yusra; Ade Bayu Saputra
Journal of Social Science Utilizing Technology Vol. 2 No. 4 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jssut.v2i4.1421

Abstract

Background. Indonesian Language and Literature Education Students, the Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) at Jambi University annually accepts students who are very diverse in culture. However, in general, from year to year, it can be seen that the dominant students are students from Jambi, Kerinci, Javanese, Toba Batak, Minang, Bugis and Palembang Malay backgrounds. Purpose. This research aims to describe the types, functions and politeness of speech acts developed by students of Indonesian Language and Literature education at the Faculty of Teacher Training and Education, Jambi University whose mother tongue is from a multilingual background. Method. This research is qualitative descriptive research. Data was collected from 28 informants. Data was collected using free listening techniques in various settings on campus, as well as recordings and field notes. Data were analyzed using the flow technique from Miles and Huberman through data reduction steps, data presentation, and drawing conclusions. Data validity techniques used triangulation techniques of theory and methods. Results. The research results can be seen from the types of illocutionary speech acts formed in multilingual student speech events, including speech acts; (1) commissive, (2) assertive, (3) declarative, (4) expressive, and (5) directive. Likewise, the function of expressed speech acts is a function; (1) competitive, (2) fun, (3) cooperative, and (4) conflicting.  Meanwhile, the politeness that is adhered to is; (1) Maxim of wisdom, (2) maxim of generosity, (3) maxim of praise, (4) maxim of humility, (5) maxim of agreement, and (6) maxim of sympathy. In terms of interference, speakers who are often interfered with are Minang, Jambi Malay, Palembang and Kerinci speakers, namely phonological interference. Conclusion. In terms of language use, those on campus are dominated by the use of Indonesian, because the average use of Indonesian is above average. However, the highest are speakers of Batak and Bugis languages.