Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ANALISIS BIAYA COST-EFFECTIVINESS ANTARA OBAT OMEPRAZOL DAN RANITIDIN PADA PASIEN GASTRITIS RAWAT INAP DI RS AISYIYAH KUDUS TAHUN 2024 Fairus, Mustika; Muslim, Ahmad Suriyadi; Rosnarita, Intan Adevia
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49313

Abstract

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang bersifat akut, kronis, difus, atau lokal, ditandai dengan anoreksia, kembung, mual, muntah, dan rasa tidak nyaman pada ulu hati atau perut bagian atas. Peradangan pada dinding lambung merupakan penyebab terjadinya gastritis. Pemilihan terapi yang tepat dan efektivitas biayanya sangat penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya berdasarkan efektivitas biaya omeprazol dan ranitidin pada pasien gastritis yang dirawat inap di Rumah Sakit Aisyiyah Kudus tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode analisis efektivitas biaya untuk membandingkan biaya dan efektivitas kedua obat tersebut. Hasil penelitian diperoleh data karakteristik pasien gastritis sebagian besar merupakan lansia akhir dengan rentang usia 56-65 tahun yaitu berjumlah 15 pasien dengan persentase 36,6%. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan lebih banyak menderita gastritis yaitu sebanyak 22 pasien (53,7%), sedangkan pasien laki-laki menderita gastritis sebanyak 19 pasien (46,3%). Berdasarkan penelitian, hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi pengobatan yang paling umum digunakan adalah omeprazol sebanyak 23 pasien (56,1%), sedangkan ranitidin sebanyak 18 pasien (43,9%). Rata-rata lama pengobatan pasien yang menggunakan omeprazol adalah 3,3 hari, sedangkan pasien yang menggunakan ranitidin selama 3,1 hari. Nilai ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) untuk terapi omeprazol adalah Rp. 1.045.399, sedangkan nilai ACER untuk terapi ranitidin adalah Rp. 1.016.255. Berdasarkan analisis efektivitas biaya (CEA) antara omeprazol dan ranitidin, dapat disimpulkan bahwa ranitidin lebih efektif biaya dibandingkan terapi omeprazol.
Evaluasi Kesesuaian Resep Pasien Umum Rawat Jalan Terhadap Formularium di RS Umi Barokah Boyolali Melandaria, Melandaria; Muslim, Ahmad Suriyadi; Mundriyastutik, Yayuk
Jurnal Indonesia Sehat Vol. 3 No. 1 (2024): JURINSE, April 2024
Publisher : SAMODRA ILMU: Lembaga Penelitian, Penerbitan, dan Jurnal Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58353/jurinse.v3i1.202

Abstract

Background: Formularies are an excellent tool to improve the quality and efficiency of hospital treatment costs and can demonstrate the level of effectiveness in achieving therapeutic, economic and/or goals, administration. This study aims to find out the description of the suitability of writing outpatient general prescriptions with the formulary of Umi Barokah Boyolali Hospital for the September-November 2020 period. Method:  This study used an observational research type. Data were collected retrospectively, namely by observing and evaluating prescription sheets taken from the general outpatient prescription sheet population for 3 months, namely September-November 2020. Sampling was carried out using systematic random sampling. The collection of data used is using secondary data. Secondary data is data obtained from all prescriptions that enter the Umi Barokah Boyolali Hospital Pharmacy Installation in the form of prescription archives, the number of prescriptions issued by each doctor and the drug list according to the formulary from September 2020 to November 2020. Result:  It shows that in the September-November 2020 period the percentage of conformity of prescriptions based on prescription sheets was 99.42%, based on polyclinics 98.87%, based on drug items 99.72%. Conclusion: This study shows that the management of drugs installed in the Umi Barokah Boyolali hospital pharmacy is quite good because the majority of prescribed drugs are available, but when vieBackground: Formularies are an excellent tool to improve the quality and efficiency of hospital treatment costs and can demonstrate the level of effectiveness in achieving therapeutic, economic and/or goals, administration. This study aims to find out the description of the suitability of writing outpatient general prescriptions with the formulary of Umi Barokah Boyolali Hospital for the September-November 2020 period. Method:  This study used an observational research type. Data were collected retrospectively, namely by observing and evaluating prescription sheets taken from the general outpatient prescription sheet population for 3 months, namely September-November 2020. Sampling was carried out using systematic random sampling. The collection of data used is using secondary data. Secondary data is data obtained from all prescriptions that enter the Umi Barokah Boyolali Hospital Pharmacy Installation in the form of prescription archives, the number of prescriptions issued by each doctor and the drug list according to the formulary from September 2020 to November 2020. Result:  It shows that in the September-November 2020 period the percentage of conformity of prescriptions based on prescription sheets was 99.42%, based on polyclinics 98.87%, based on drug items 99.72%. Conclusion: This study shows that the management of drugs installed in the Umi Barokah Boyolali hospital pharmacy is quite good because the majority of prescribed drugs are available, but when viewed from the percentage of non-conformity of prescriptions to the formulary, it does not meet the minimum prescription service standard according to the formulary, namely 100%.wed from the percentage of non-conformity of prescriptions to the formulary, it does not meet the minimum prescription service standard according to the formulary, namely 100%.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Swamedikasi dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Scabies (Sarcoptes Scabiei) Pada Santri di Pondok Pesantren Nurul Falah Pati Tarista, Nanum Salsa Nova; Muslim, Ahmad Suriyadi; Kurniawan, Galih
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.31523

Abstract

Pondok pesantren adalah lingkungan dengan risiko tinggi penularan scabies. Salah satu faktor yang memengaruhi kejadian scabies di pesantren adalah perilaku pencegahan santri tentang penyakit tersebut. Pengetahuan merupakan bagian penting dalam memengaruhi perilaku kesehatan termasuk pengetahuan swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan swamedikasi dengan perilaku pencegahan penyakit scabies (sarcoptes scabiei) pada santri di Pondok Pesantren Nurul Falah Pati. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan menggunakan desain pendekatan cross sectional. Sampel penelitian diambil dengan metode total sampling. Pengumpulan data diambil dengan melakukan pengisian kuesioner tentang pengetahuan swamedikasi scabies dan kuesioner perilaku pencegahan penyakit scabies. Analisis data menggunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian menyatakan sebagian besar santri di Pondok Pesantren Nurul Falah Pati memiliki tingkat pengetahuan swamedikasi pada kategori baik yaitu sebanyak 54,2% dan sebagian besar santri di Pondok Pesantren Nurul Falah Pati memiliki perilaku pencegahan penyakit scabies pada kategori baik yaitu sebanyak 62,5%. Hasil analisis rank spearman didapatkan taraf signifikansi 0,040 ≤ 0,05. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan swamedikasi dengan perilaku pencegahan penyakit scabies di Pondok Pesantren Nurul Falah Pati.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA LAMA MENDERITA DIABETES MELITUS DAN STATUS PEMBIAYAAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA NGAWI Rosyidah, Kharisma Aprilita; Kurniawan, Galih; Dahbul, Nura Ali; Muslim, Ahmad Suriyadi; Fitriani, Ervina Rizki
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 1 (2023): Indonesia Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i1.2038

Abstract

Berdasarkan data tahun 2020, prevalensi diabetes mellitus (DM) di Indonesia adalah sebesar 8,2% sedangkan prevalensi rata-rata di negara dengan pendapatan menengah ke bawah adalah 7,5%, sehingga prevalensi DM di Indonesia sedikit di atas rata-rata. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2005, tercatat bahwa 70% angka kematian dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular dimana 2% diantaranya penyebabnya adalah DM. Salah satu yang memiliki dampak signifikan terhadap outcome terapi adalah kepatuhan pasien. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa outcome terapi, yaitu pencegahan komplikasi pada penderita DM, dapat tercapai secara maksimal salah satunya dengan adanya peningkatan kepatuhan. Lama menderita DM juga memiliki hubungan terhadap self care management DM tipe 2. Selain itu kepatuhan terapi pasien rawat jalan juga merupakan tujuan utama untuk menghindari efek samping sehingga beberapa studi difokuskan pada prediktor seperti demografis pasien diantaranya adalah usia pasien dan status asuransi. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama menderita DM dan status asuransi terhadap kepatuhan minum obat pada pasien. Metode penelitian observasional kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di 5 puskesmas yang ada di kota Ngawi pada bulan Mei-Oktober 2022. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 502 pasien. Analisis data dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan odd ratio (OR). Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu biodata responden dan kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherance Scale-8) untuk mengukur kepatuhan pasien minum obat. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara lama menderita DM dan status pembiayaan terhadap kepatuhan pasien minum obat DM dengan nilai p-value berturut-turut 0,006 dan 0,000 (p-value 0,05). Hasil uji OR juga menunjukkan lama menderita DM lebih berpengaruh terhadap kepatuhan dengan estimasi 4x lipat dibandingkan dengan status pembiayaan yang memiliki estimasi 0,022x lipat. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa status pembiayaan dan lama menderita DM memiliki hubungan terhadap kepatuhan pasien dalam meminum obat DM, namun lama menderita DM lebih berpengaruh terhadap kepatuhan pasien minum obat DM dibandingkan status pembiayaan.
HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL DENGAN PENGETAHUAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA MASYARAKAT DESA JATISARONO KULON PROGO Sari, Julia Wanda; Muslim, Ahmad Suriyadi; Akhyasin, Akhyasin; Sholihah, Sitta Hasanatin; Ridwan, Ridwan
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 2 (2023): INDONESIA JURNAL FARMASI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i2.2227

Abstract

AbstrakPenggunaan antibiotik mulai mengalami pergeseran dari tahun ke tahun, tidak jarang masyarakat menggunakan antibiotik dengan tidak tepat. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat pengetahuan pada kalangan masyarakat antara lain adalah faktor sosial. Karakter sosial menggambarkan tentang perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan tingkat pendidikan. Gambaran sosial dapat mempengaruhi perilaku dari masyarakat dan outcome dari kesehatan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan faktor sosial usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan masyarakat dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotika di masyarakat Desa Jatisarono Kulon Progo. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Peneliti menggunakan purposive sampling dengan mengambil jumlah sampel di Desa Jatisarono sebanyak 98 orang. Analisis bivariat menggunakan uji chi square dan kendall tau serta instrument yang digunakan adalah kuisioner dalam bentuk google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat dengan P Value 0,317 (p0,05). Ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat dengan P Value 0,042 (p0,05). Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat dengan P Value 0,000 (p0,05). Tidak ada hubungan antara usia dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat Desa Jatisarono Kulon Progo. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat Desa Jatisarono Kulon Progo. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat Desa Jatisarono Kulon Progo. AbstractThe use of antibiotics has begun to shift from year to year, it is not uncommon for people to use antibiotics inappropriately. Various factors influence the level of knowledge in society, including social factors. Social characteristics describe differences in age, gender, occupation and level of education. Social images can influence people's behavior and public health outcomes. The aim of this research is to find out how the social factors of age, gender, level of community education relate to knowledge of antibiotic use in the Jatisarono Kulon Progo Village community. This type of research is an analytical survey with a cross sectional approach. Researchers used purposive sampling by taking a total of 98 samples from Jatisarono Village. Bivariate analysis used chi square and Kendall Tau tests and the instrument used was a questionnaire in the form of Google Form. The results of the study showed that there was no relationship between age and knowledge in the use of antibiotics in the community with a P value of 0.317 (p0.05). There is a relationship between gender and knowledge of antibiotic use in the community with a P value of 0.042 (p0.05). There is a relationship between education level and knowledge in the use of antibiotics in the community with a P value of 0.000 (p0.05). There is no relationship between age and knowledge in the use of antibiotics in the community of Jatisarono Village, Kulon Progo. There is a relationship between gender and knowledge of antibiotic use in the Jatisarono Kulon Progo Village community. There is a relationship between the level of education and knowledge in the use of antibiotics in the Jatisarono Kulon Progo Village community. 
Development of Wonosoco Village as a Fair, Healthy, and Productive Tourism Village in Kudus Regency Jauhar, Muhamad; Fanani, Zaenal; Etikasari, Ria; Maulana, Bonnix Hedy; Novitasari, Arina; Putra, M. Adib Jaharii Dwi; Pusparatri, Edita; Sukoharjanti, Bintari Tri; Nasriyah, Nasriyah; Ariyanto, Andhika; Muslim, Ahmad Suriyadi
DIKDIMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): DIKDIMAS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT  VOL 3 NO 1 APRIL 2024
Publisher : Asosiasi Profesi Multimedia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/dikdimas.v3i1.257

Abstract

The development of Wonosoco Village as a fair, healthy, and productive tourist village in Kudus Regency has the potential to provide benefits for the community and enrich the tourism industry in the area. This activity aims to understand policies, clean and healthy living behavior, and marketing strategies, and empowerment of community businesses in tourist villages. This activity was carried out in November 2023 in Wonosoco Village, Undaan District, Kudus Regency. This activity was attended by 16 people consisting of village government, health cadres, youth groups, tourism awareness groups, and religious leaders. Delivery of material uses interactive lecture and focus group discussions in 3 sessions of 30 minutes/session. The material provided includes tourism village development policies, clean and healthy living behavior in public places, marketing strategies, and empowerment of community businesses in tourist villages. Service providers carry out assessments and evaluations using questionnaires on knowledge of clean and healthy living behavior in public places and perceptions of community participation in developing tourist villages. Data analysis is interpreted descriptively. The majority of the community has good knowledge about clean and healthy living behavior in public places (87%) and a perception of community participation in developing Wonosoco Village as a Tourism Village (50%). This activity is the first step in developing a just, healthy, and productive tourist village so it requires follow-up from local stakeholders. This follow-up takes the form of assisting in the development of tourist villages, monitoring and evaluating the success of developing tourist villages that are just, healthy, and productive.
PENINGKATAN PENGETAHUAN OBAT PADA ANAK USIA DINI MELALUI DAGUSIBU (DAPATKAN, GUNAKAN, SIMPAN, BUANG) OBAT KELAS A3 TK NEGERI PEMBINA BANTUL Ahmad Suriyadi Muslim; Zakiyyah Qurratul 'Aini
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 5, No 2 (2023): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v5i2.2241

Abstract

AbstrakSwamedikasi atau pengobatan sendiri secara mandiri merupakan salah satu cara masyarakat dalam mengatasi permasalahan kesehatan secara mandiri. Beberapa contoh permasalahan kesehatan pada anak yang dapat dilakukan swamedikasi oleh para orang tua yaitu batuk, pilek serta demam. Hal tersebut juga sering dilakukan oleh orang tua peserta didik di lingkungan Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri Pembina Bantul. Pengabdian masyarakat berupa penyuluhan tentang DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang) obat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan anak terhadap obat. Pengabdian dilakukan pada tanggal 24 Agustus 2023 dengan diikuti peserta yang terdiri dari 20 siswa TK, 2 guru serta 4 orang tua siswa yang bertindak sebagai among kelas. Materi DAGUSIBU obat disampaikan dengan alat bantu PPT dan booklet yang dibuat semenarik mungkin serta dilakukan penjelasan kepada peserta.   Evaluasi kegiatan dilakukan dengan cara membagikan soal pre-test serta post-test yang dibantu oleh guru dan among kelas. Hasil evaluasi menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta tentang obat terkait DAGUSIBU dari sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan dengan hasil pre-test 55% jawaban benar dan hasil post-test 90% jawaban benar. Kata Kunci: DAGUSIBU, swamedikasi, TK Negeri Pembina Bantul AbstractSelf-medication or self-medication is one way for people to deal with health problems independently. Some examples of health problems in children that can be self-medicated by parents are coughs, colds and fever. This is also often done by parents of students in the Pembina Bantul Kindergarten (TK). Community service in the form of education about DAGUSIBU (Get, Use, Store and Dispose) of drugs is expected to increase children's knowledge of drugs. The service was carried out on August 24 2023 with participants consisting of 20 kindergarten students, 2 teachers and 4 parents who acted as members of the class. The DAGUSIBU medicine material was delivered using PPT tools and booklets which were made as attractive as possible and explained to the participants. Evaluation of activities is carried out by distributing pre-test and post-test questions assisted by the teacher and among the class. The evaluation results showed that there was an increase in drug knowledge related participants’ knowledge of releated medications to DAGUSIBU before and after the counseling with pretest results of 55% correct answer and posttest results of 90% correct answers.Keywords: DAGUSIBU, self-medication, Pembina Bantul Kindergarten
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pediatri Dengan Diare Di Rs Tipe B Kabupaten Kudus Tahun 2024 Nor Halimah; Ahmad Suriyadi Muslim; Emma Jayanti Besan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3195

Abstract

Diare merupakan penyakit infeksi yang sering menyeranganak-anak dan menjadi penyebab utama morbiditas sertamortalitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapatmemicu resistensi, menurunkan efektivitas terapi, dan meningkatkan risiko efek samping. Penelitian ini bertujuanmengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasienpediatri dengan diare di RS Tipe B Kabupaten Kudus tahun2024. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif pada 100 rekammedis pasien usia 1–12 tahun yang dirawat inap dan menerimaantibiotik. Evaluasi dilakukan berdasarkan tiga indikatorrasionalitas: tepat diagnosis, tepat indikasi, dan tepat dosis. Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah laki-laki (61%), usia 1–6 tahun (90%), berat badan 4–15 kg (88%), dengangejala terbanyak diare disertai demam (26%). Antibiotik yang paling sering digunakan adalah metronidazole infus (29%), bactesyn injeksi (24%), dan ceftriaxone injeksi (22%). Seluruhpasien terdiagnosis diare akut (≤14 hari), pemberian antibiotiksesuai indikasi klinis, dan dosis disesuaikan dengan berat badan tanpa adanya kontraindikasi atau alergi. Disimpulkan bahwapenggunaan antibiotik di RS ini tergolong rasional (100% tepatdiagnosis, tepat indikasi, tepat dosis), namun pemantauanberkala tetap diperlukan untuk mencegah resistensi.
Efektivitas Penggunaan Obat Antibiotik Sebagai Terapi Demam Typhoid Di Instalasi Rawat Inap Rsud R.A. Kartini Jepara Meita Sa’idah; Ahmad Suriyadi Muslim; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3571

Abstract

Demam typhoid merupakan infeksi sistemik yang terjadi karena adanya bakteri Salmonella typhi yang masuk kedalam tubuh melalui makanan yang kurang hygienis makanan tersebut tidak sengaja dikonsumsi oleh penderita. Insiden rate demam typhoid mencapai 11 sampai 20 juta kasus dan 128.000 hingga 161.000 kematian akibat typhoid terjadi setiap tahun diseluruh dunia. Penelitin ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan obat antibiotik sebagai terapi demam typhoid di Instalasi Rawat Inap RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain kohort retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien demam typhoid di Instalasi Rawat Inap RSUD R.A. Kartini Jepara tahun 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon, Kruskall-Wallis H, dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone (65,6%), diikuti oleh cefotaxime (19,8%), dan ampicillin (14,6%). Penurunan suhu tubuh tertinggi tercatat pada kelompok ampicillin, namun tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan suhu tubuh (p = 0,329) maupun penurunan jumlah leukosit (p = 0,444) antar ketiga antibiotik. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang signifikan dalam LOS (p = 0,000) dan LOSAR (p = 0,002), di mana ceftriaxone menunjukkan hasil yang paling efisien dalam mempercepat proses penyembuhan. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pola penggunaan antibiotik paling tinggi adalah ceftriaxone, dan secara umum, penggunaan antibiotik efektif dalam menangani pasien demam typhoid rawat inap, meskipun efektivitas antar antibiotik tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik pada beberapa parameter klinis.
ANALISIS COST-EFFECTIVENESS CEFAZOLIN VS AMPICILLIN-SULBACTAM PADA SECTIO CAESAREA PRIMIPARA DI RS HERMINA BANYUMANIK Ilma Hanifa; Ahmad Suriyadi Muslim; Muhammad Khudzaifi
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/7mw30d88

Abstract

Persalinan dengan sectio caesarea terus meningkat dan berpotensi meningkatkan risiko infeksi luka operasi (ILO). Pemberian antibiotik profilaksis merupakan strategi utama untuk mencegah infeksi, namun pemilihannya harus mempertimbangkan efektivitas klinis dan efisiensi biaya. Evaluasi farmakoekonomi diperlukan untuk menentukan alternatif terapi yang paling efisien. Penelitian ini merupakan studi farmakoekonomi observasional analitik dengan pendekatan retrospektif menggunakan metode cost effectiveness analysis (CEA). Penelitian dilakukan di RS Hermina Banyumanik periode Januari–Desember 2024 menggunakan data rekam medis dan biaya medis langsung. Sampel sebanyak 64 pasien sectio caesarea primipara dipilih dengan teknik total sampling, terdiri dari kelompok cefazolin (n=17) dan ampicillin sulbactam (n=47). Parameter efektivitas meliputi kejadian infeksi luka operasi, lama rawat inap (LOS), dan penggunaan antibiotik oral tambahan. Analisis efektivitas biaya dihitung menggunakan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER). Tidak ditemukan kejadian infeksi luka operasi pada kedua kelompok (100% efektif). Rata-rata biaya medis langsung kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam (Rp 1.617.055 vs Rp 1.629.094). Lama rawat inap kelompok cefazolin lebih singkat (3,35 vs 3,60 hari). Proporsi pasien tanpa antibiotik oral tambahan lebih tinggi pada kelompok cefazolin (23,53% vs 6,38%). Nilai ACER kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam. Cefazolin memiliki efektivitas klinis yang setara dengan biaya lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam, sehingga merupakan alternatif antibiotik profilaksis yang lebih cost-effective pada pasien sectio caesarea primipara dari perspektif rumah sakit.