Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN AMPLANG (STUDI KASUS AMPLANG “KUNCI MAS KU”) di DESA HILIR KECAMATAN PULAU LAUT UTARA KABUPATEN KOTABARU Widiyas Astuti; Nina Budiwati; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i3.642

Abstract

Indonesia adalah negara kaya akan budaya, hasil hutan, dan lautnya. Negara Indonesia sebagai negara agraris dan negara maritim. Indonesia adalah negara maritim terbesar didunia, bahkan negara kita 2/3 wilayahnya adalah lautan sehingga tidak heran jika Indonesia memiliki banyak spesies ikan yang tidak dipunyai dinegara lain. Amplang adalah khas panganan yang terbuat dari ikan tenggiri. Salah satu wilayahnya pengolahan amplang adalah Kotabaru. Industri amplang Kunci Mas Ku pengolahan industri skala kecil yang bergerak dalam pengolahan amplang. Home industry ini terdapat di Jalan Batu Selira Gg. Kunci Mas No.42 Desa Perumnas Hilir Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru. Usaha berlangsung selama Usaha ini sudah berlangsung selama ± 16 tahun dimulai pada tahun 2000 hingga sekarang tahun 2017. Usaha Amplang Kunci Mas Ku mampu bertahan dengan maraknya usaha yang sama dan meningkat karena kualitas produk yang dihasilkan memiliki rasa yang gurih. Ibu Mariana menggunakan bahan baku yaitu ikan tenggiri saja tanpa adanya campuran dari ikan–ikan lainnya. Pemasaran amplang Kunci Mas Ku dipasarkan di Kotabaru, dikirim ke Batulicin, serta Sungai Danau. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran umum pengolahan amplang, besar biaya, penerimaan, keuntungan, pendapatan, BEP (Break Event Point), serta permasalahan yang terjadi selama usaha amplang Kunci Mas Ku berajalan selama tiga bulan terakhir yaitu bulan Desember, Januari, dan Februari. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dimana metode ini merupakan metode yang hanya meneliti pada satu kasus, penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian di home industry amplang Kunci Mas Ku adalah Pembuatan amplang merk Kunci Mas Ku menggunakan bahan baku berupa daging ikan tenggiri segar, dicampur dengan bahan pembantu lainnya yaitu: tepung tapioka, telur ayam, garam, gula, penyedap rasa, bawang merah, bawang. Usaha ini sangat menguntungkan namun pemasaran yang dilakukan oleh produsen selama ini tidak memanfaatkan social media untuk menjual hasil dagangannya sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luas.Kata kunci: analisis finansial, amplang, biaya.
ANALISIS RISIKO PRODUKSI TANAMAN CABAI RAWIT DI DESA MALILINGIN KECAMATAN PADANG BATUNG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Alfianor Alfianor; Yudi Ferrianta; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.663

Abstract

Tanaman hortikultura yang banyak diusahakan di Kalimantan Selatan adalah cabai besar, cabai rawit, terung, semangka, ketimun, dan lain-lain. Produksi tanaman hortikultura mengalami perubahan dalam berproduksi yang fluktuatif meskipun banyak yang mengalami peningkatan produksi dari tahun ke tahun. serangan hama, penyakit,kurangnya keahlian pengelolaan usahatani,kondisi cuaca dan iklim yang berubah-rubah serta sulit diperkirakan dapat menjadi salah satu penyebab naik-turunnya tingkat produksi tanaman hortikultura. Hal ini menunjukan tanaman hortikultura tetap berpotensi mengalami risiko produksi yang akan mempengaruhi jumlah produktivitas. Salah satu kabupaten yang mengusahakan usaha tani yang bergerak dibidang hortikultura adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan salah satunya Kecamatan Padang Batung. Kecamatan Padang Batung ini cukup banyak masyarakatnya bergerak dalam usahatani cabai rawit karena memiliki prospek yang cerah dan sebagai penghasilan tambahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sumber-sumber risiko apa saja yang dihadapi berkaitan dengan kegiatan produksi atau budidaya tanaman cabai rawit dan menganalisis besarnya risiko pada usaha budidaya tanaman cabai rawit di Desa Malilingin Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Jumlah sampel responden diambil sebanyak 30 orang petani dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara proportionated random sampling pada semua kelompok tani yang ada. Berdasarkan hasil perhitungan nilai expected return yang diperoleh adalah sebesar 1,512, yang artinya petani cabai rawit di Desa Malilingin mengharapkan perolehan hasil sebanyak 1,512 ton/ha disaat kondisi risiko produksi 43%. Sumber-sumber yang menjadi penyebab terjadinya risiko produksi adalah serangan hama, penyakit, cuaca, dan iklim sulit diprediksi serta kurangnya keahlian manajemen usahatani. Berdasarkan hasil analisis risiko produksi diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,431, artinya pada setiap satu kilogram cabai rawit yang dihasilkan akan mengalami risiko 43% pada saat terjadi risiko produksi. Risiko produksi terjadi pada saat serangan hama, penyakit, cuaca dan iklim sulit diprediksi serta kurangnya keahlian manajemen usahatani.Kata kunci: sumber-sumber risiko, analisis risiko
ANALISIS KOMPARATIF PENGGUNAAN HAND TRACTOR DALAM USAHA TANI PADI KECAMATAN TEWEH SELATAN DI KABUPATEN BARITO UTARA Koko Windarko; Muhammad Husaini; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2613

Abstract

Hand Tractor (HT) merupakan salah satu alat mesin pertanian yang digunakan untuk meringankan kerja seperti mencangkul lahan yang sangat luas dengan tenaga manusia. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui besar produktivitas, biaya total, penerimaan, keuntungan dan kelayakan usahatani padi dalam menggunakan (HT) dan yang tidak menggunakan (HT) serta mengetahui prospek penggunaan (HT) dalam usahatani padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Trahean dan Butong Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara yang dimulai dari bulan Januari 2019 sampai dengan April 2019. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsional random sampling, yaitu sebanyak 30 petani. Hasil penelitian menunjukan bahwa Produktivitas petani pengguna (HT) signifikan lebih besar (13,45%) jika dibandingkan dengan petani  (NHT). Besar biaya petani pengguna (HT) signifikan lebih kecil (34,84%) jika dibandingkan dengan petani (NHT). Besar penerimaan petani pengguna (HT) signifikan lebih besar (19,94%) jika dibandingkan dengan petani (NHT). Besar keuntungan petani pengguna (HT) signifikan lebih besar (73,18 %) jika dibandingkan petani pengguna (NHT). Kelayakan petani pengguna (HT) lebih layak jika dibandingkan dengan petani (NHT). Prospek penggunaan (HT)  kedepan lebih baik karena lebih mudah digunakan dan praktis, tidak membutuhkan waktu lama dalam pengolahan lahan, dan lebih menghemat upah tenaga kerja. Kata kunci: analisis komparatif, penggunaan alat, hand tractor.  
Analisis Usahatani Melon di Kota Banjarbaru Budi Setiawan; Hamdani Hamdani; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10306

Abstract

Kota Banjarbaru merupakan Kabupaten atau Kota yang memiliki produksi tanaman buah melon terbesar di Kalimantan Selatan pada tahun 2019 jumlah produksi melon sebesar 1.807,00 ton dan untuk tahun 2020 yaitu 991,00 ton dimana pada tahun 2019 merupakan hasil terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani melon, biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan usahatani, dan kelayakan usahatani melon di Banjarbaru. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Banjarbaru dengan total populasi 89 petani usahatani melon, sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada sebanyak 30 responden petani usahatani melon dari yang diambil menggunakan teknik acak bertingkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani melon di Kota Banjarbaru diselenggarakan selama 4 bulan (1 periode tanam) dari pengolahan tanah, penyemaian benih, penanaman bibit melon, perawatan hingga panen. Pada umumnya petani menggunakan air sumur untuk sistem pengairannya. Biaya usahatani melon yang dikeluarkan dalam satu periode tanam yaitu 4 bulan adalah Rp Rp 12.115.796,39/usahatani dan untuk penerimaan yang didapatkan petani melon rata-rata sebesar Rp23.651.653,85 per usahatani. Adapun rata-rata pendapatan dari usahatani melon setiap usahatani memperoleh Rp 14.586.042, kemudian keuntungan rata-rata dari usahatani melon ini mencapai Rp 11.535.857,46 per usahatani. Keuntungan rata-rata yang diperoleh oleh petani melon sangat menguntungkan dengan perbandingan biaya yang dikeluarkan. Nilai RCR yang diperoleh senilai 1,95 yang artinya nilai tersebut lebih besar dari 1, maka dapat dikatakan usahatani melon tersebut layak untuk diusahakan dengan baik.
Peran Penyuluh Pertanian dalam Perubahan Perilaku Petani Padi di Desa Banyu Hirang Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Desninawati Desninawati; Mariani Mariani; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i3.5939

Abstract

Dalam proses pembangunan pertanian di Indonesia, perlu mendorong petani untuk meningkatkan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, mengubah sikap petani, menciptakan kesejahteraan, meningkatkan pendapatan, sehingga menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk meninjau peran penyuluh pertanian pada perubahan perilaku petani Desa Banyu Hirang Kecamatan Gambut, Banjar, mengetahui perubahan perilaku petani padi dan keterkaitan pada peran penyuluh pertanian terhadap perilaku petani desa Banyu Hirang Kecamatan Gambut, Banjar. Berdasarkan sumber data dari kelompok tani yang terdapat di BPP Kecamatan Gambut terdapat 7 kelompok tani dengan 274 anggota. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik acak sederhana dan untuk menentukan jumlah sampel dengan menggunakan teknik acak berimbang. Untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama yakni dengan menggunakan rumus peran penyuluh pertanian dan untuk menjawab tujuan penelitian kedua dengan menggunakan rumus perubahan perilaku petani, dan untuk menjawab tujuan ketiga dengan uji metode analisis Korelasi Rank Sperman(rs). Berdasarkan pada hasil tersebut didapatkan peran dari penyuluh pertanian pada perubahan perilaku petani Desa Banyu Hirang secara keseluruhan tergolong dalam kategori tinggi yakni dengan skor rata-rata 78,33%. Perubahan perilaku petani di Desa Banyu Hirang secara keseluruhan tergolong pada kategori sedang yakni perolehan skor 74,96%. Kemudian hasil Korelasi Rank Sperrman menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara peran penyuluh pertanian dengan perubahan perilaku petani padi di Desa Banyu Hirang Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar.
Analisis Usahatani Tumpang Sari Jagung dan Padi Unggul di Desa Anjir Kalampan Kecamatan Kapuas Barat Kabupaten Kapuas (Studi Kasus “Eduwisata Agroforestri”) Ikhsannoor Alhaviz; Hamdani Hamdani; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6018

Abstract

Terbatasnya lahan pertanian yang ada di Indonesia, tentunya mendorong kita untuk tetap mengoptimalkan lahan tersebut dengan mencoba menumbuhkan banyak tanaman di lahan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani tumpang sari jagung dan padi unggul di Desa Anjir Kalampan (Studi kasus “Eduwisata Agroforestri”) dan menganalisis pendapatan dan kelayakan usahatani tumpang sari jagung dan padi unggul serta apa yang menjadi masalah-masalah dalam usahatani pola tumpang sari jagung dan padi unggul. Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan, yaitu penyelenggaraan usahatani tumpang sari jagung dan padi unggul yaitu dari penyemaian sampai ke panen, serta dilihat pada struktur biaya total sebagian besar pengeluaran untuk usahatani tumpang sari ini terbanyak dibagian tenaga kerja dengan persentase 33,88%. Hal ini disebabkan karena pemeliharaan untuk usahatani ini termasuk intens karena dua komoditi dalam satu lahan pengeluaran untuk pupuk, benih, penyusutan, dan pestisida sebesar Rp. 6.128.934,00. Pendapatan usahatani tumpang sari jagung dan padi ungul yaitu sebesar Rp. 17.428.018,00. Untuk satu musim tanam dengan luas lahan 0,5 hektar, kelayakan usahatani dengan nilai 2,16 sehingga usahatani tersebut dikatakan layak. Permasalahan usahatani tumpang sari yaitu pada iklim dan cuaca dimana pada padi unggul pada umur akan berbuah tidak mau berbuah kalau terkena angin atau disentuh yang membuat buah padi itu menjadi hampa atau kosong.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Bawang Daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Frendi Kurniawan; Hamdani Hamdani; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh luas lahan, bibit, tenaga kerja, pupuk dan pestisida terhadap produksi bawang daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan dari Bulan Juli 2022 sampai selesai. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sample acak sederhana (Simple Random Sampling). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cobb-Douglas dan menggunakan metode kuadrat terkecil (OLS = Ordinary Least Squares) pada pendugaan parameter dari fungsi produksi. Hasil penelitian menggunakan faktor variabel luas lahan, bibit, tenaga kerja, pupuk dan pestisida, secara bersama-sama signifikan mempengaruhi produksi bawang daun. Peningkatan faktor variabel luas lahan, bibit, tenaga kerja, pupuk dan pestisida, secara bersama-sama signifikan mempengaruhi produksi bawang daun sedangkan secara parsial peningkatan variabel benih dengan nilai t hitung sebesar 2.156 dan pupuk nilai t hitung sebesar 3.201 berpengaruh secara nyata (signifikan), sedangkan variable luas lahan, tenaga kerja dan pestisida tidak berpengaruh secara nyata (signifikan). Adapun permasalahan yang dihadapi petani bawang daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara yaitu hama penyakit dan ketersedian pupuk subsidi., adapun permasalahan yang dihadapi petani bawang daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara yaitu hama penyakit dan ketersedian pupuk subsidi.
Analisis Komparatif Usaha Agroindustri Tahu Skala Kecil dan Skala Rumah Tangga di Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Muhammad Sayyid; Hamdani Hamdani; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8264

Abstract

Agroindustri merupakan salah satu sektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja sehingga dikatakan sektor ini memiliki kontribusi yang sangat penting. Walaupun demikian, seringkala agroindustri memiliki beberapa tantangan antara lain penyediaan bahan baku yang berkualitas dalam mendukung kontinuitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan usaha agroindustri tahu skala kecil dan rumah tangga, menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, BEP, nilai efisensi usaha agroindustri tahu skala kecil dan rumah tangga dan menganalisis perbedaan secara nyata. Nilai efisiensi usaha agroindustri tahu skala kecil dan skala rumah tangga di Kecamatam Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada responden sedangkan data sekunder diambil dari dinas atau intansi yang terkait dengan penelitian ini. Sampel penelitian ini diambil sebanyak 10 orang pengusaha tahu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skala kecil total biaya per 100 papan tahu skala kecil Rp 3.421.709 sedangkan skala rumah tangga Rp 2.586.814. Penerimaan per 100 papan tahu pada skala kecil adalah Rp 4.816.700 sedangkan skala rumah tangga Rp 3.650.000. Keuntungan per 100 papan tahu skala kecil Rp 1.394.958 sedangkan skala rumah tangga Rp 992.353. BEP skala kecil per 100 papan tahu adalah 100 papan dan Rp 34.217/papan atau 71 papan dan Rp.48.167 sedangkan BEP skala rumah tangga adalah 100 papan dan Rp 26.576 atau 73 papan dan Rp 36.500. Nilai efisiensi per 100 papan tahu skala kecil sebesar 1,40 sedangkan skala rumah tangga sebesar 1,36. Uji beda rata-rata menunjukkan terdapat perbedaan nyata nilai efisiensi usaha agroindustri tahu skala kecil dan skala rumah tangga.
Analisis Pangsa Pengeluaran Pangan Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu Marleni Marleni; Hamdani Hamdani; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i3.7812

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani kelapa sawit, tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani kelapa sawit dengan pendekatan pangsa pengeluaran pangan dan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu, dengan jumlah populasi sebanyak 287 rumahtangga. Dari jumlah tersebut diambil sebanyak 48 rumah tangga dengan teknik acak sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata pangsa pengeluaran pangan rumah tangga petani kelapa sawit di Kecamatan Satui yaitu sebesar 38,05% terhadap pengeluaran total dan pangsa pengeluaran non pangan sebesar 61,95%. Berdasarkan kriteria pangsa pengeluaran pangan, maka sebesar 97,92% dari total rumah tangga petani kelapa sawit di Kecamatan Satui tahan pangan dan sebesar 2,08% rumahtangga rawan pangan. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pangsa pengeluaran pangan adalah pendapatan rumah tangga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu rumah tangga, sementara pendidikan kepala keluarga tidak berpengaruh signifikan.
Analisis Usahatani Ubi Alabio dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Total Petani di Kecamatan Sungai Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara Asmawati Asmawati; Hamdani Hamdani; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7829

Abstract

Ubi jalar adalah salah satu sumber pangan lokal yang berpotensi dalam mendukung program diversifikasi dan ketahanan pangan. Ubi jalar mengandung karbohidrat, vitamin, pati, protein dan gula. Hulu Sungai Utara merupakan salah satu sentra produksi ubi jalar di Kalimantan Selatan yang dikenal dengan nama ubi alabio. Tahun 2018 sampai 2020 produksi mengalami penurunan sebab adanya serangan hama. Akibatnya, kontribusi ubi alabio terhadap pendapatan petani relatif rendah sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan petani. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis usahatani ubi alabio dan kontribusinya terhadap pendapatan total petani. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder dengan metode pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan biaya total sebesar Rp 4.078.996/usahatani atau Rp 86.787.100/Ha. Penerimaan yang diperoleh petani sebesar Rp 6.906.667/usahatani atau Rp 146.950.355/Ha dan pendapatan sebesar Rp 3.581.413/usahatani atau Rp 76.200.291/Ha sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 2.827.671/usahatani atau Rp 60.163.255/Ha. Sedangkan tingkat kontribusi usahatani ubi alabio terhadap pendapatan total petani sebesar 31,71% (sedang). Tingkat kontribusi yang relatif sedang ini karena usahatani ubi alabio hanya sebagai usaha sampingan. Pendapatan usahatani ubi alabio membantu petani dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Permasalahan yang dihadapi responden yaitu serangan hama ulat, kumbang dan kutu daun serta masih dibudidayakan secara tradisional. Solusi permasalahan tersebut yaitu membentuk atau mengaktifkan kembali kelompok usahatani ubi alabio.