Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Usahatani Jagung di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut Ervina Feronika; Hamdani Hamdani; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 8, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i4.14591

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan produktivitas antara usahatani jagung skala luas dan sempit, menganalisis pengaruh faktor-faktor (skala usaha, benih, tenaga kerja, pupuk, pestisida) terhadap produktivitas usahatani jagung dan mengetahui permasalahan yang dihadapi para petani berkaitan dengan produktivitas usahatani jagung di Kecamatan Batu Ampar. Sampel dipilih dengan metode Proportionate stratified random sampling. Digunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 27. Hasil penelitian menunjukkan skala usahatani luas dan sempit memiliki perbedaan rata-rata produktivitas sebesar 17 kw/ha atau 24,9%. Model ini menunjukkan bahwa skala usaha, benih, tenaga kerja, pupuk dan pestisida secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas jagung. Sedangkan secara parsial hanya skala usaha dan benih yang berpengaruh signifikan, sisanya yaitu tenaga kerja, pupuk dan pestisida tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas jagung. Permasalahan yang dihadapi para petani yaitu kekurangan tenaga kerja dengan diikuti upah yang tinggi, serangan hama dan penyakit yang sulit dikendalikan, ketersediaan pupuk subsidi yang terbatas dan harga insektisida yang cenderung mahal. Hal-hal ini berdampak besar pada usahatani jagung serta produktivitasnya.
Analisis Struktur Biaya Usaha Pengolahan Tahu di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru (Studi Kasus pada Usaha Bakti) Eldyanto Eldyanto; Nuri Dewi Yanti; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7864

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur biaya, menganalisis penerimaan dan pendapatan serta menganalisis besar nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kedelai menjadi tahu pada usaha pengolahan tahu Bakti. Lokasi penelitian ini berada di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder dengan analisis data menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif. Berdasarkan dari hasil penelitian biaya total pengeluaran usaha pengolahan tahu Bakti selama bulan Agutus 2022 yaitu sebesar Rp 257.663.861 dengan pengeluaran biaya tetap sebesar Rp 4.903.611 atau 1,9 % dan biaya variabel sebesar Rp 257.663.861 atau 98,1 %. Penerimaan yang diperoleh usaha pengolahan tahu Bakti pada bulan Agustus 2022 yaitu sebesar Rp 332.291.000 dengan pendapatan bersih sebesar Rp 74.627.139. Nilai tambah yang didapatkan oleh usaha pengolahan tahu Bakti yaitu sebesar Rp 7.625/kg dengan rasio 35,8 % yang termasuk dalam kategori sedang.
ANALISIS DAMPAK RELOKASI PASAR TERHADAP PEDAGANG SAYUR (PASAR BAUNTUNG BANJARBARU) Aldi Ahmad Romadon; Ahmad Yousuf Kurniawan; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12256

Abstract

Relokasi Pasar Banjarbaru memberikan dampak positif dan negative pada seluruh pedagang sayur. Penelitian ini bertujua nuntuk menganalisis perbedaan pendapatan pedagang sayur sebelum dan sesudah di relokasi ke pasar Bauntung Banjarbaru, dan persepsi pedagang sayur terhadap relokasi dan kondisi pasar relokasi. Penelitian ini dilakukan di lokasi Pasar Bauntung Banjarbaru yang beralamatkan Jl. RO Ulin, Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilakukan kepada para pedagang sayur sebagai subyek penelitian. Pedagang yang hanya berjualan sayur saja di Pasar Bauntung Banjarbaru berjumlah 30 pedagang yang semuanya telah mengalami relokasi dari pasar Bauntung Banjarbaru lama. Dampak negatif dari relokasi Pasar Banjarbaru adalah menurunnya pendapatan pedagang sayur akibat dari relokasi pasar. Juga letak pasar yang baru kurang strategis karena agak jauh dari tengah kota. Rata-rata pendapatan per bulan para pedagang sayur turun sebesar 9%. Uji statistic menunjukan penurunan tersebut signifikan. Dampak positif dari relokasi Pasar Banjarbaru adalah tertatanya ruko-ruko yang sebelumnya terlihat kumuh dan kotor, sekarang lebih rapi dan jauh lebih bersih. Persepsi para pedagang sayur di pasar Bauntung Banjarbaru mengenai proses relokasi pasar banyak yang merasa tidak puas, karena tidak adanya bantuan untuk proses relokasi dankurangnya transparansi oleh pihak pemerintah. Namun di sisilain para pedagang sayur berpersepsi merasa cukup puas terhadap pengelolaan Pasar Bauntung yang baru, karena banyak fasilitas yag disediakan oleh pemerintah untuk membantu para pedagang sayur untuk beraktifitas di Pasar Bauntung yang baru tersebut.
Motivasi Petani Menanam Padi Unggul di Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan Kabupaten Balangan Raudatul Madina; Hairi Firmansyah; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i2.15610

Abstract

Motivasi merupakan faktor kunci dalam menentukan tingkat usaha dan keberhasilan petani dalam kegiatan pertanian, termasuk dalam budidaya padi unggul. Petani yang termotivasi akan menunjukkan ketekunan yang tinggi, mulai dari pemilihan benih hingga panen, demi mencapai hasil yang lebih produktif dan berkualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total rata-rata motivasi intrinsik dengan motivasi ekstrinsik sebesar 77% termasuk dalam kategori tinggi. Motivasi yang mendorong petani dalam menanam padi unggul yaitu motivasi ekstrinsik (78%) lebih besar dibandingkan dengan motivasi intrinsik (75%). Rata-rata biaya total usahatani padi unggul yang dikeluarkan petani sebesar Rp3.015.743 per musim tanam, dengan rata-rata biaya eksplisit sebesar Rp2.098.100 per musim tanam dan rata-rata biaya implisit sebesar Rp450.000 per musim tanam. Sedangkan rata-rata luas lahan usahatani padi unggul di Desa Panggung adalah 9 borong , dengan penerimaan usahatani padi unggul di Desa Panggung rata-rata produksi sebesar 864 kg dengan harga gabah Rp6.500 per kg, maka rata-rata total penerimaan sebesar Rp5.616.000. Sehingga rata-rata pendapatan yang diperoleh petani dalam menanam padi unggul sebesar Rp2.600.257 per musim tanam.
Analisis Usaha Ternak Ayam Ras Pedaging Pola Mandiri di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar Dedi Setiawan; Abdurrahman Abdurrahman; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7857

Abstract

Peternakan merupakan salah satu dari lima subsektor pertanian, dimana sektor tersebut bertindak untuk memelihara hewan ternak guna dibudidayakan, agar memperoleh suatu keuntungan. Usaha peternakan sekarang ini sudah menjadi usaha yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga ataupun sebagai usaha yang dapat dikelola secara komersil. Berdasarkan Dinas Peternakan Kabupaten Banjar, populasi total peternak ayam ras pedaging berjumlah 21.000 ekor. Kecamatan Sungai Tabuk populasi ayam ras pedaging berjumlah 3000 ekor, Kecamatan Mataraman populasi ayam ras pedaging berjumlah 13.000 ekor, Kecamatan Gambut populasi ayam ras pedaging berjumlah 5000 ekor. Berdasarkan data tersebut, Kecamatan Mataraman memiliki populasi ayam ras pedaging paling tinggi, oleh karena itu maka perlu dilakukannya penelitian untuk mengetahui apakah usaha ayam ras pedaging menguntungkan bagi peternak ayam ras pedaging. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Biaya total yang harus dikeluarkan dalam suatu usaha ternak rata-rata sebesar Rp 142.123.424. Pendapatan yang didapat dari usaha ternak ayam ras pedaging pola mandiri yang oleh para peternak di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar rata-rata sebesar Rp 164.283.333. Keuntungan bersih yang didapat dalam usaha ternak ayam ras pedaging pola mandiri di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar rata-rata sebesar Rp 23.623.040. Permasalahan yang dialami oleh para peternak ayam ras pola mandiri di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar berupa: Sulitnya mendapatkan bibit DOC, harga pakan yang terus naik, harga ayam ras pedaging tidak stabil, serangan penyakit dan kurang rajinnya para peternak ayam ras pedaging.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) di Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala Muhamad Nor Taufan; Hamdani Hamdani; Mira Yulianti
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7875

Abstract

Untuk memperoleh produksi cabai rawit yang maksimal ialah petani harus menggunakan faktor produksi secara tepat dan mengkombinasikannya secara optimal. Namun kenyataannya masih banyak petani yang belum memahami bagaimana faktor produksi tersebut digunakan secara efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi cabai rawit, biaya, pendapatan dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi petani dalam usahatani cabai rawit di Kecamatan Wanaraya. Metode analisis yang digunakan analisis regresi linier berganda tipe fungsi Cobb-Douglas, analisis pendapatan dan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, Faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap produksi cabai rawit adalah luas panen, bibit, pupuk obat-obatan dan tenaga kerja. Biaya total usahatani cabai rawit Rp 22.991.958/usahatani atau Rp 107.774.803/ha dengan pendapatan yang diperoleh petani Rp 15.592.101/usahatani atau Rp 73.087.974/ha. Permasalahan yang dihadapi petani dalam usahatani cabai rawit adalah serangan hama dan penyakit patek, layu bakteri, daun menguning dan keriting, busuk pada tanaman, serta rontok.
STRUKTUR BIAYA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN PADA USAHA KELAPA SAWIT PETANI SWADAYA DI KECAMATAN BATU ENGAU KABUPATEN PASER Nurul Azizzah Maulidina Purnamasari; Hamdani Hamdani; Karimal Arum Shafriani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12258

Abstract

Kelapa sawit dengan kualitas baik dapat memproduksi hingga mencapai usia tanaman 25 tahun. Dukungan untuk hal ini terletak pada praktik perawatan, termasuk pemilihan benih unggul yang bersertifikat dan faktor-faktor lain seperti penggunaan pupuk dan obat-obatan. Dalam melakukan usaha terdapat sejumlah biaya yang harus dibayarkan seperti biaya penanaman awal, perawatan awal. Hal ini membutuhkan biaya yang cukup besar karena kelapa sawit memiliki usia produktif kurang lebih 3-4 tahun setelah tanam. Penelitian ini memiliki tujuan menganalisis jenis biaya, besarnya biaya serta struktur biaya dari usaha kelapa sawit petani swadaya, khususnya biaya pada saat tanaman belum menghasilkan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan observasi yang dilakukan kepada petani kelapa sawit swadaya dengan jumlah 58 responden di Kecamatan Batu Engau Kabupaten Paser. Hasil penelitian menunjukkan jenis biaya dan besar biaya yang dikeluarkan tanaman belum menghasilkan pada tahun 2023 adalah berupa biaya investasi yang mencakup lahan Rp17.120.124/Ha, pembelian bibit Rp4.471.830Ha, peralatan Rp5.548.867/Ha, tenaga kerja pembukaan lahan, pengolahan lahan dan penanaman Rp13.160.000/Haserta biaya pupuk awal Rp1.375.000/Ha. Kemudian, untuk biaya operasional mencakup biaya peralatan tambahan Rp3.459.808/Ha, biaya pembelian pupuk Rp9.612.793/Ha, biaya obat-obatan Rp1.947.588/Ha dan biaya tenaga kerja Rp9.119.492/Ha. Persentase perbandingan struktur biaya berdasarkan biaya investasi, biaya yang paling besar ialah pembelian lahan 41.08% dan yang terkecil ialah pupuk awal 3.30%, sedangkan biaya operasional terbesar berada pada pembelian pupuk 39.82% dan yang terkecil adalah obat-obatan 8.07%. Struktur biaya berdasarkan keseluruhan komponen bia-ya pada TBM untuk persentase biaya yang paling besar adalah lahan yakni 26% sedangkan untuk biaya terkecil adalah pupuk awal yakni 2%.
Struktur Biaya dan Penerimaan Usahatani Nanas Madu (Ananas sativus) di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Noorlatifah Noorlatifah; Hamdani Hamdani
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i1.20380

Abstract

The purposes of this study are to determine the costs, revenue, net income and feasibility of honey pineapple farming in the Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Central Kalimantan. Proportionate random sampling was used to determine the sample, which 15% of population was taken. The results showed that the average cost was Rp. 33,958,066 per hectare including the land rent, or Rp 24,958,066 without land rent. The average revenue was Rp. 102,000,000 per hectare. Furthermore, the average profit / net income obtained was Rp. 68,041,934 per hectare for 28 months (2 years and four months). The feasibility criteria were determined by using investment criteria, that were: NPV, BCR and profit rate. The NPV, BCR and profit rate was Rp 53,658,538; 2.8; and 200%, respectively. Thus, the overall indicators indicated that honey pineapple farming was financially feasible. The increasing in production cost and the decreasing in benefit were not change the feasibility rate.
Analisis Finansial Usahatani Padi Varietas Unggul di Desa Guntung Ujung Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Adi Syafruwardi; Hairin Fajerin; Hamdani Hamdani
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i3.20705

Abstract

The purposes of study are to determine the financial condition on high yield varieties (HYV) rice farming, to know how its feasibility, and find out the farmer problems in the study area. Guntung Ujung Village was selected purposively and the samples were selected by proportioned random sampling based on the rice varieties grown by farmers. Those consist of: 18 farmers of Ciherang, 7 farmers of Siam Saba and 5 farmers of IR-66. The result showed that profit rate for Siam Saba variety was 100.3%, followed by Ciherang and IR-66 with 98% and 47%, respectively. Compared with inflation rate 0.28%, all HYVs were financially feasible since profit rates were higher than inflation rate.