p-Index From 2021 - 2026
5.613
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Filsafat Kewarisan dalam Hukum Islam NurLailatul Musyafa'ah
Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Vol 20 No 1 (2017): Al-Qanun Vol. 20, No. 1, Juni 2017
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.517 KB) | DOI: 10.15642/alqanun.2017.20.1.56-76

Abstract

One of the important events experienced by man is death, that is the final process of human life. Because it is a legal event, the death has legal consequences, namely the law of inheritance, is the event of the transfer of property left by the dead to the heirs. In Islamic law, inheritance law is a law that regulates all things concerning the transfer of rights and / or obligations on one's property after he dies to his heirs. In Islamic law there are six principles, are (1) the principle of ijbary, (2) the principle of waratha, (3) the principle of thuluthay al-mal, (4) bilateral principle, (5) the principle of equity or equilibrium, 6) individual principles. While in the Islamic heritage in Indonesia there are three principles adopted, as in the Compilation of Islamic Law (Kompilasi Hukum Islam/KHI), are: (1) the principle of ijbary, (2) the principle of waratsa, and (3) bilateral principle.
Pengucapan Salam Lintas Agama Menurut Ulama Jawa Timur Athifatul Wafirah; Miftakhul Nur Arista; M. Sholahuddin; M. Kosim; Nur Lailatul Musyafa’ah
Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Vol 23 No 2 (2020): Al-Qanun, Vol. 23, No. 2, Desember 2020
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alqanun.2020.23.2.238-272

Abstract

This article discusses the Interfaith Greeting Prayer according to East Javanese scholars. What is meant by the ulama of East Java in this article are the ulama of the MUI and Muhammadiyah of East Java. The fatwa of the East Java MUI explains that saying interfaith greetings is haram based on Surah al-Baqoroh verse 42 and Surat al-Kafirun verse 6. While one Muhammadiyah figure thinks that interfaith greetings are allowed, if they are meant only as a greeting in an activity or speech state and does not contain the aim of grazing the creed, because it is part of the min an-nas hablun. However, if the saying of greetings across religions is a lot of harm, then the law is haram.  
Rekonstruksi Fiqh Pendarahan Pervaginam dengan Pendekatan Medis Nur Lailatul Musyafaah
Islamica: Jurnal Studi Keislaman Vol. 8 No. 1 (2013): September
Publisher : Postgraduate Studies of Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.466 KB) | DOI: 10.15642/islamica.2013.8.1.168-196

Abstract

This article discusses the reconstruction of fiqh (Islamic jurisprudence) with regard to vaginal bleeding using a medical approach. The fiqh of vaginal bleeding discusses menstruation, postpartum, and isti???ah. The discussion of fiqh is normative in nature, as it is based on the Qur??n and Had?th. Technological developments in medical science affect the deconstruction of fiqh pertaining to vaginal bleeding. As a resut, the opinions of previous jurists become less relevant, and the fiqh of vaginal bleeding needs to be reconstructed accordingly. This reconstruction can be conducted by using the empirical-normative approach to the study of fiqh with regard tovaginal bleeding, redefining the fiqh of vaginal bleeding, reinterpreting the argument of fiqh concerning vaginal bleeding, and making medical experts as partners in determining vaginal bleeding.
PEMBERDAYAAN KELUARGA BERBASIS MASJID PADA MASYARAKAT SAMIN DI JEPANG MARGOMULYO BOJONEGORO nur lailatul musyafaah
Al-Qalam Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.891 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i1.435

Abstract

Abstract: Samin community is a group of people who embrace the teachings of Saminisme. Doctrine Society Samin community in Jepang hamlet, Margomulyo village, Bojonegoro district is one of the descendants of the followers of the teachings of Samin Surosentiko. Issues raised in devotion is less than optimal utilization of the potential for al-Huda mosque as a place of social activities. A Form of assistance is by pushing mosque staff along with administrator and PLKB technicians using the mosque as a place of formation and development of a cadre of family resilience. The strategy of  this assistance is by the using research methods with the community (CBR). The Steps of mentoring  are inculturation, mapping (both of geographical and social mapping), participatory community organizing, FGD, and action programs  in the form of BKB, BKR and BKL. Output in the empowerment of this mosque is to form BKB, BKR, and BKL group and to increase skills of propulsion of the tribina  groups as a counselor.Keywords: Samin community, family empowerment, potential mosques Abstrak: Masyarakat Samin adalah sekelompok masyarakat yang menganut ajaran Saminisme. Ajaran Masyarakat Masyarakat Samin di dusun Jepang, desa Margomulyo, kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu dari sekian keturunan pengikut ajaran Samin Surosentiko. Permasalahan yang diangkat dalam pengabdian adalah kurang optimalnya pemanfaatan potensi masjid al-Huda sebagai tempat kegiatan sosial kemasyarakatan. Bentuk pendampingan yang dilakukan adalah dengan mendorong takmir masjid beserta pengurusnya dan penyuluh PLKB menggunakan masjid sebagai tempat pembinaan dan pengembangan kader ketahanan keluarga. Strategi yang digunakan dalam  pendampingan ini menggunakan metode penelitian bersama masyarakat (CBR). Langkah-langkah pendampingan yang dilakukan dalam pengabdian ini melalui inkulturasi (pembauran kepada masyarakat secara langsung), mapping (baik mapping geografis dan sosial untuk memetakan kondisi fisik dan sosial masyarakat dampingan), pengorganisasian masyarakat secara partisipatif, FGD, dan melakukan aksi program dengan mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan partisipatoris bersama masyarakat Samin dengan membentuk kelompok untuk program kegiatan BKB, BKR dan BKL. Output dalam pemberdayaan masjid ini adalah membentuk kelompok BKB, BKR dan BKL serta meningkatnya keterampilan tenaga penggerak kelompok tribina sebagai konselor.Kata kunci: masyarakat Samin, pemberdayaan keluarga, potensi masjid
Pelayanan Publik Pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kabupaten Lamongan Dalam Perspektif Fikih Siyasah Nur Lailatul Musyafaah; Arif Wijaya
Al-Daulah: Jurnal Hukum dan Perundangan Islam Vol. 10 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : Prodi Siyasah (Hukum Tata Negara) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/ad.2020.10.2.251-274

Abstract

This article discusses public services at the Population and Civil Registration Service (Dispendukcapil) Lamongan according to Fiqh Siyasah. This research is field research and is qualitative in nature. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The collected data were analyzed by the deductive method. The result of the research shows that public services in the Dispendukcapil Lamongan are related to administrative services, which include population services (KTP, KK, Transfer Certificate) and civil registration services (birth certificates, death certificates, marriage certificates, divorce certificates, child validation certificates). Even though the Dispendukcapil Lamongan has made efforts to improve services, there are still complaints from the public in several services, both from service attitudes and facilities, including in the queuing system and waiting room facilities. In the fiqh siyasah perspective, the public services provided by the Dispendukcapil Lamongan are part of the fiqh siyasah idariyyah (administrative management fiqh). In serving the people, a state employee must be trustworthy, honest, and fair. The service must be based on benefit as the rule of tasharruf al-imam ala al-raiyyah manut bi al mashlahah (Public service must be based on maslahat). Based on this, it is hoped that the Dispendukcapil Lamongan will further improve the quality of services, facilities, and infrastructure. Abstrak: Artikel ini membahas tentang Pelayanan Publik pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Lamongan menurut Fikih Siyasah. Penelitian ini adalah Penelitian lapangan dan bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deduktif. Hasil penelitian adalah pelayanan publik di Dispendukcapil Lamongan adalah berkaitan dengan pelayanan administrasi yaitu meliputi pelayanan kependudukan (KTP, KK, Surat Keterangan Pindah) dan pelayanan pencatatan sipil (Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan, Akta Perceraian, Akta pengesahan anak). Meskipun Dispendukcapil Kabupaten Lamongan telah berusaha meningkatkan pelayanan, masih terdapat keluhan masyarakat dalam beberapa pelayanan baik dari sikap pelayanan maupun fasilitas, di antaranya dalam sistem antrian dan fasilitas ruang tunggu. Dalam perspektif fikih siyasah, pelayanan publik yang diberikan Dispendukcapil Kabupaten Lamongan merupakan bagian dari fikih siyasah idariyyah (fikih pengelolaan administrasi). Dalam melayani rakyat, seorang pegawai negara harus amanah, jujur dan adil. Pelayanan tersebut harus didasarkan pada kemaslahatan sebagaimana kaidah tasharruf al-imam ala al-raiyyah manut bi al mashlahah (Pelayanan publik harus didasarkan pada maslahat). Berdasarkan hal tersebut, diharapkan DIspendukcapil Lamongan semakin meningkatkan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana.
MAQASHID, MUSLIM DEVOTION AND RAMADHAN TRADITION IN PANDEMIC TIMES Nur Lailatul Musyafaah
Jurisprudensi : Jurnal Ilmu Syariah, Perundangan-Undangan dan Ekonomi Islam Vol 13 No 2 (2021): Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundang-Undangan Dan Ekonomi Islam
Publisher : State of Islamic Institute Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/jurisprudensi.v13i2.2362

Abstract

This article discusses the implementation of Ramadan worship during the Covid-19 pandemic which is then analyzed by maqashid shari’ah. Due to the Covid-19 pandemic, the government issued a policy of encouraging worship at home only so that it could minimize the transmission of covid-19. From the results of the study, it is known that there are still mosques that open for Ramadan worship, and there are still many respondents who perform worship at the mosque (obligatory prayers, tarawih, tadarrus, and Eid prayers). In the perspective of maqashid shari’ah, if the respondent chooses to worship outside the home by complying with the regulations according to health protocols, this is by the principles of hifz al-din and hifz al-nafs. But if they do not heed it, then it is against hifz al-din and hifz al-nafs in maqashid shari’ah.
Hukuman Bagi Pelaku Tindak Pidana Penadahan Dengan Sistem Gadai Arassy Wardani NurLailatul Musyafa’ah
Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam Vol. 1 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Prodi Hukum Pidana Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.815 KB) | DOI: 10.15642/aj.2015.1.2.336-341

Abstract

Abstract: This study aims to investigate crime of fencing by the lien system contained in decision No. 293/Pid.B/2013/PN. Mkt. In his decision, judge used Article 480 Paragraph 1 (one) about the aggravating factors, the mitigating circumstances, witnesses at the trial, and the evidences in the trial as a consideration in deciding the case of fencing. In this case, judge decided that the defendant or criminal fencing system is sentenced to prison for 6 (six) months, from the demand of 10 (ten) months. According to the review of Islamic criminal law, the Judge’s ruling has been in accordance with Islamic law, because the defendant’s act is categorized as jarîmah and is sentenced with ta’zîr. That is because the criminal act is an offense where its punishment is not regulated in al-Qur’an and al-Hadith.Keywords: Crime of fencing, pawn system, Islamic criminal law Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tindak pidana penadahan dengan sistem gadai yang terdapat dalam putusan No.293/Pid.B/2013/PN. Mkt. Dalam putusan tersebut, Majelis Hakim menggunakan Pasal 480 ayat 1, hal-hal yang memberatkan, hal-hal yang meringankan, saksi-saksi di persidangan, serta bukti-bukti dalam persidangan sebagai pertimbangan dalam memutus perkara tindak penadahan ini. Dalam kasus ini, Majelis Hakim memutus bahwa terdakwa atau pelaku tindak pidana penadahan dengan sistem gadai dijatuhi pidana penjara selama 6 (enam) bulan, dari tuntutan 10 (sepuluh) bulan. Menurut tinjauanf fiqh jinâyah putusan hakim telah sesuai dengan hukum Islam, karena perbuatan terdakwa termasuk dalam jarîmah yang hukumannya adalah ta’zîr. Hal tersebut dikarenakan tindak pidana tersebut merupakan sebuah pelanggaran yang hukumannya tidak diatur dalam Nash.Kata Kunci: Tindak pidana penadahan, sistem gadai, fiqh jinâyah
TA’LÎL AL-AHKÂM DARI MASA RASULULLAH HINGGA MASA ULAMA USHÛL Nur Lailatul Musyafaah
Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam Vol. 2 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Prodi Hukum Pidana Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5124.05 KB) | DOI: 10.15642/aj.2016.2.1.210-234

Abstract

Abstract: Ta’lîl al-ahkâm is explaining by finding the legal reason.  At the time of the Prophet, ta’lîl was contained in the Qur’an and hadith, among them: 1.’ Illat was embodied with the character of law, 2. Stating the legal position with its reason and historical background, 3. Explaining command accompanied by tafdhîl, 4. Explaining law with its reason marked with the letter of ta’lîl, 5. Explaining law and its explanation about the benefit or in otherwise. The methods of ta’lîl al-ahkâm at the time of companion: 1. Elimination of the penalty for refusing mafsadah, 2. Law is changed because its legal reason has  been lost. 3. Not carrying out the command of Allah and His Messenger for the reason of mafsadah if the work is still performed, 4. Assigning the unassigned law at the time of Prophet for the sake of refusing mafsadah, 5. Doing something which was not done at the time of the Prophet for the reason of gaining benefit, 6. Establishing  law based on the text without searching the illah. The methods of ta’lîl al-ahkâm at the period of tâbi’în and tâbi’ tâbi’în: 1. Advancing benefit, the law contained in the textis absolute or contrary to the public welfare, 2. Using the method of maslahah mursalah. 3. Leaving a permissible act by the reason of mafsadah. The methods of ta’lîl al-ahkâm in the period of Muslim scholars of ushûl: with text, ijmâ’, and al-sabr wa al-taqsîm.Keywords: Ta’lîl al-ahkâm, period of the Messenger, period of the Muslim scholars of ushûl. Abstrak: Ta’lîl al-ahkâm adalah menjelaskan dan cara menemukan ilat hukum. Pada masa Rasulullah, ta’lîl terdapat pada al-Qur’an dan hadis, di antaranya; 1. Ilat menyatu dengan sifat hukum, 2. Menyebutkan hukum beserta sebabnya. 3. Menjelaskan perintah diiringi dengan lafadz tafdhîl, 4. Menjelaskan hukum beserta ilatnya yang ditandai dengan huruf ta’lîl, 5. Menjelaskan hukum disertai dengan penjelasan maslahatnya, atau sebaliknya. Metode ta’lîl al-ahkâm pada masa Sahabat: 1. Meniadakan hukuman karena alasan menolak mafsadah, 2. Hukum menjadi berubah, karena ilatnya telah hilang, 3. Tidak melaksanakan perintah Allah dan RasulNya, karena adanya mafsadah apabila pekerjaan tersebut tetap dilaksanakan. 4. Menetapkan hukum yang belum ditetapkan Rasulullah demi menolak mafsadah, 5. Mengerjakan pekerjaan yang tidak dikerjakan pada masa Rasulullah, dengan alasan kebaikan, 6. Menetapkan hukum berdasarkan nas yang ada tanpa mencari ilat hukum.Metode ta’lîl al-ahkâm pada masa Tâbi’în dan Tâbi’ Tâbi’în: 1. Mendahuluan maslahat, jika hukum yang terkandung dalam nas bersifat mutlak atau umum bertentangan dengan kemaslahatan, 2. Menggunakan metode maslahah mursalah. 3. Meninggalkan pekerjaan yang mubah atau sunnah, karena jika dikerjakan akan mendatangkan mafsadah. Metode ta’lîl al-ahkâm pada Masa Ulama Ushûl: Dengan nash, ijma’, dan al-sabr wa al-taqsîm.Kata Kunci: Ta’lîl al-ahkâm, Masa Rasulullah, masa Ulama Ushûl. 
Tugas dan Wewenang Komisi Yudisial Jawa Timur dalam Pengawasan Hakim Tindak Pidana Korupsi Nur Lailatul Musyafaah
Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam Vol. 3 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Prodi Hukum Pidana Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.402 KB) | DOI: 10.15642/aj.2017.3.2.277-306

Abstract

Abstract: The duty of the East Java Regional Judicial Commission in the supervision of a corruption court judge is to receive community reports and court monitoring. The court monitoring was conducted on two matters, court monitoring based on community reports and on the initiative of the East Java Judicial Commission. The authority of the East Java Regional Judicial Commission in the supervision of a corruption judge is only authorized to receive reports, annotations, inspections and monitoring of the court session. The observation, examination, and proposal of sanction are done by Central Judicial Commission. In a juridical perspective, the duties and authorities of the East Java Judicial Commission on the judges of corruption crime have been in accordance with Article 20 of the Law of the Republic of Indonesia Number 18 in 2011 on Amendment to Law Number 22 in 2004 concerning Judicial Commission. Keywords: East Java Judicial Commission, Judges, Corruption. Abstrak: Tugas Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Jawa Timur dalam pengawasan hakim pengadilan tindak pidana korupsi adalah menerima laporan masyarakat dan pemantauan persidangan. Adapun wewenang Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Jawa Timur dalam pengawasan hakim tindak pidana korupsi adalah Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Jawa Timur hanya berwenang menerima laporan, anotasi, pemeriksaan dan melakukan pemantauan persidangan. Adapun pengamatan, pemeriksaan, pengusulan sanksi dilakukan oleh Komisi Yudisial Pusat. Dalam perspektif yuridis, pelaksanaan tugas dan wewenang Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Jawa Timur terhadap hakim pengadilan tindak pidana korupsi telah sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Kata Kunci: Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Jawa Timur, Hakim, Tindak Pidana Korupsi.
Pembiayaan Kredit Usaha Rakyat Di Bank BRI Syariah Kantor Cabang Sidoarjo Rahmi Eka Ratnani; Firman Pramudya; Lingga Parama Liofa; M. Irfan Izzuddin R.; Nur Lailatul Musyafaah
ISTIKHLAF: Jurnal Ekonomi, Perbankan dan Manajemen Syariah Vol 3 No 2 (2021): (September 2021)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/istikhlaf.v3i2.230

Abstract

Kredit Usaha Rakyat merupakan salah datu cara membantu pedagang saha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) mendapatkan modal usaha. Pembiayaan KUR bisa dilakukan di bank, termasuk Bank Syariah. Bank BRI Syariah juga menawarkan pembiayaan KUR. Artikel ini mengkaji secara mendalam tentang pembiayaan Kredit Usaha Menengah di Bank BRI Syariah Sidoarjo. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan konsep murābaḥah bil wakalah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nasabah bisa mengajukan pembiyaan KUR ke BRI Syariah dengan syarat yang telah ditetapkan bank. Akad dilakukan dengan murābaḥah bil wakalah. Maka nasabah mendapat uang dari bank, lalu bank mewakilkan nasabah untuk membelanjakan barang dengan uang tersebut. Bank memberi waktu 14 hari, agar nasabah memberikan laporan kepada bank dan menyerahkan struk belanja untuk diproses lebih lanjut. Konsep tersebut telah sesuai dengan unsur dan syarat murābaḥah bil wakalah. Adapun bagi nasabah yang melanggar dari batas waktu yang ditentukan, maka bank melakukan edukasi dan peneguran kepada nasabah. Hal tersebut merupakan bagian dari proses kerjasama, bahwa semua pihak harus saling amanah.
Co-Authors Abdul Rouf Abdulloh Faqih Putro Argo Achmad Safiudin R Ainindia Rofik Ana Ainul Yakin Akmal Maulana Al Farisi, Firman Ali, Mohammed Ramadhan Abraheem Alshaykh Aliffia, Deby Aura Alim, Syaiful Anas Bustomi Andi Alfarisi Aprilia Susanti Apriliyana, Daning Dwi Arif Wijaya Arsali, Imroatin Athifatul Wafirah Athifatul Wafirah Auliya, Zanuba Zahira Shofa Awaliyah, Dita Faradila Daning Dwi Apriliyana Dewi Khurin'In Dista Nada Luthfi F Elda Kusafara Elva Imeldatur Rohmah F., M. Zakky Tasywirul Faiza, Nabilatul Fajriyah, Intan Nur fathin masyhud Fauziyyah, Risma Firda Maknun Hasanah Firman Pramudya Gatralina Sekar Harum Ael Yanda Hammis Syafaq Hasanuddin, M. Iin Indriani Ilmiyah, Alif Safinatul Imron Mustofa Inggita Khusnul Qotimah Inggitta Khusnul Qotimah Istakhul Rochman Izza, Zakiya Khamada Wafi Fahdia Kharisma Aulia Rahman Khusnah, Rozinatul Lianal Khuluq Lingga Parama Liofa Liofa, Lingga Parama Luthfi F, Dista Nada M Harish M. Irfan Izzuddin R. M. Kosim M. Sholahuddin M. Syamsul Anam Masdar Hilmy Maulina, Yurike Miftachul Jannah Miftahul Alimin Miftakhul Nur Arista Moch. Luthfir Rahman Moh. Faizur Rohman Mokhammad Rizky Khoirul Amin Muh Fathoni Hasyim Muh Nurkholis Muhammad Azmi Fakhri Muhammad Ilham Mubin Muhammad Ilmi Andika Nabilla, Eva Nadhiroh, Jamilatun Najib, M. Ainun Nisa, Nabila Khoirun Ni’matus Zakiyah Nur Afrida Nur Ismi Febrianti Nurul Afifah Nurul Asiya Nadhifah Nurul Izzah Yan Bachtiar Pramudya, Firman QURROTA A’YUN R., M. Irfan Izzuddin Rahma Hanim Azzahra Rahman, Kharisma Aulia Rahmi Eka Ratnani Ratnani, Rahmi Eka Rhomandana, Rizal Dwi Rohmah, Maulidatur Safitri, Lely Dewi Sagita Destia Ramadhan Sari, Delia Atika Satrio Prayitno Sayyidah Alifah Sa’adah Siti Ummu Kulsum Sofyan, Alfin Sri Warjiyati Supaat, Dina Imam Supardi, Thaniya Elisa Putri Suqiyah Musafaah Syafa’, Nadhifa Salsabilla Tania Ayu Komala Sari Tri Leli Rahmawati Yeni Novitasari Yolanda, Yue Sevin Eva Zeti Nofita Sari