Claim Missing Document
Check
Articles

ANEMIA PADA IBU HAMIL BERDASARKAN UMUR, PENGETAHUAN, DAN STATUS GIZI DIAN SOEKMAWATY RIEZQY ARIENDHA; IRNI SETYAWATI; KUSNIYATI UTAMI; HARDANIYATI HARDANIYATI
Journal Of Midwifery Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Anemia dan banyak masalah serius lainnya dapat diakibatkan oleh kekurangan zat besi, zat gizi mikro yang mutlak diperlukan untuk kesehatan manusia. Anemia defisiensi besi (IDA), yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, terutama ibu hamil, disebabkan oleh asupan zat besi yang tidak memadai atau malabsorpsi. Wanita hamil dianggap sebagai kelompok yang paling berisiko untuk IDA karena peningkatan kebutuhan zat besi yang mereka alami selama kehamilan. Health Organization (WHO) memperkirakan 38% ibu hamil mengalami anemi. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian observasional analitik atau survei analitik. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria adalah 93 ibu hamil Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan Ada hubungan yang signifikan antara usia kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil p-value = 0,001 (<0,05), ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil p-value = 0,004 (< 0,05 dan ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian anemia pada ibu hamil p-value = 0,018) (< 0,05). Kesimpulan: Sebagai upaya preventif terhadap anemia pada kehamilan, ibu hamil perlu meningkatkan pengetahuan tentang usia saat kehamilan, pengetahuan tentang anemia, dan meningkatkan status gizi pada ibu hamil.
PERNIKAHAN MENURUT REMAJA PEREMPUAN IRNI SETYAWATI; KUSNIYATI UTAMI; DIAN SOEKMAWATY RIEZQY ARIENDHA; SRI HANDAYANI; SUFIYANA SUFIYANA
Journal Of Midwifery Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal menurut Allah SWT. Masa remaja merupakan masa seorang individu yang mempunyai tugas untuk mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial seorang laki-laki atau perempuan, dan mulai muncul ketertarikan menjalin ikatan dengan lawan jenis. Pada masa ini diharapkan remaja dapat mengetahui kriteria calon pasangan suami atau istri sesuai syariat Islam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa aktif semester 2 dan 4 yang berjenis kelamin perempuan di program studi kebidanan program sarjana dan keperawatan jenjang diploma 3 tahun akademik 2021/2022. Tehnik sampling menggunakan total populasi sampling dengan jumlah 106 orang. Data dianalisis secara univariat. Hasil dan Pembahasan: Seluruh responden setuju dengan pengertian pernikahan, sebagian besar responden setuju dengan usia minimal 21 tahun dan setuju dengan larangan menikahi laki-laki yang mempunyai hubungan saudara karena nasab, musaharah dan rada’ah. Kesimpulan: Sebagian besar mahasiswi setuju pengertian menikah, usia minimal menikah, larangan menikahi laki-laki berdasarkan hubungan, namun masih ditemukan yang tidak setuju. Diharapkan adanya edukasi tentang larangan menikahi laki-laki karena hubungan nasab, musaharah dan rada’ah oleh dosen kepada mahasiswi.
SCREENING ANEMIA, STATUS GIZI DAN ASUPAN NUTRISI REMAJA PUTRI Kusniyati Utami; Henny Yolanda; Melati Inayati Albayani; Marthilda Suprayitna; Febrina Sulistiawati; Ika Nurfajri Mentari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 6 (2022): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v6i6.11017

Abstract

Abstrak: Anemia defisiensi besi diperkirakan menjadi satu-satunya penyebab terbesar kesakitan dan kematian pada remaja. Anemia yang terjadi dapat menyebabkan menurunnya kesehatan reproduksi, perkembangan motorik, mental, kecerdasan terhambat, menurunnya prestasi belajar, tingkat kebugaran menurun dan tidak tercapainya tinggi badan maksimal. Hasil wawancara dengan kepala puskesmas penimbung serta kader desa penimbung didapatkan data bahwa masalah yang dihadapi mitra saat ini adalah belum teridentifikasinya kasus anemia pada remaja putri karena belum pernah dilakukan pemeriksaan screening Hb yang diketahui efektif mengidentifikasi kejadian anemia remaja putri. Solusi permasalahan yang dilakukan adalah screening Hemoglobin untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang pentingnya anemia serta faktor yang mempengaruhinya. Kegiatan screening anemia dimulai dengan registrasi peserta screening sebanyak 50 remaja putri, dilanjutkan dengan pemeriksaan TB dan BB, Pemeriksaan Hb dan wawancara food recall 24 jam. Hasil kegiatan didapatkan bahwa semua remaja putri (100 %) di dusun penimbung timur mengikuti kegiatan screening, 11 diantaranya mengalami anemia dan sebanyak 44 remaja berstatus gizi kurus. Kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya berfokus pada pemberdayaan keluarga dengan anemia remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan diet remaja.Abstract: Iron deficiency anemia is thought to be the single biggest cause of morbidity and mortality in adolescents. Anemia that occurs can cause a decrease in reproductive health, motoric development, mental development, inhibited intelligence, decreased learning achievement, decreased fitness levels and not achieving maximum height. The results of interviews with the head of the penimbung health center and penimbung village cadres obtained data that the problem faced by partners at this time was that there had not been identified cases of anemia in young women, because there had never been an Hb screening examination that was known to be effective in identifying the incidence of anemia in young women. The solution to the problem is hemoglobin screening to increase adolescent awareness about the importance of anemia and the factors that affect it for young women in east penimbung hamlet. The anemia screening activity began with the registration of screening participants as many as 50 young women, the activity continued with height and weight examinations, Hb examinations and 24-hour food recall interviews. It was found that all young women (100%) in east penimbung hamlet participated in screening activities, 11 of them had anemia and as many as 44 adolescents had thin nutritional status. Further community service activities focus on empowering families with adolescent anemia to improve adolescent dietary knowledge and skills.
PENYULUHAN KEBERSIHAN DIRI SAAT MENSTRUASI PADA SISWI SMPN 3 KURIPAN LOMBOK BARAT Irni Setyawati; Kusniyati Utami; Dian Soekmawaty Riezqy Ariendha
Jurnal LENTERA Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.425 KB) | DOI: 10.57267/lentera.v1i2.108

Abstract

WHO said that adolescence is a period of rapid physical, cognitive, and psychosocial growth [2]. The physical growth of this teenager is marked by menstruation as the beginning of entering the puberty process [3]. Menstruation is regular bleeding from the uterus as a sign that the uterine organs are functioning properly. At this time the uterine blood vessels are very susceptible to infection and can cause diseases of the reproductive tract, urinary tract infections, and skin irritation, therefore cleanliness must be maintained [1,3]. Based on the results of research in 2019 at SMPN 3 Kuripan it was found that the level of knowledge of most of the VII and VIII grade students about personal hygiene during menstruation was still lacking [6]. Partners already have a UKS unit, but the students have never received information about personal hygiene during menstruation either from the local health service agency or the school. Based on the problems above, community service "Self-hygiene counseling during menstruation for students of SMPN 3 Kuripan" was carried out. This community service partner is the Principal of SMPN 3 Kuripan along with the student body and UKS officers. The distance between STIKes Yarsi Mataram and SMPN 3 Kuripan is 18.5 km. This community service uses the counseling method. Counseling begins with a pre-test and ends with a post-test. The measurement of students' knowledge level was done using a questionnaire. The counseling was carried out using a question and answer lecture method. Counseling on personal hygiene during menstruation to students of SMPN 3 Kuripan was able to increase students' knowledge about menstruation and personal hygiene during menstruation from 78% with sufficient knowledge to 60.3% with good knowledge. It is hoped that schools will continue to collaborate with health education institutions or health service agencies in an effort to apply personal hygiene behavior during menstruation at SMPN 3 Kuripan. Keywords: Personal hygiene, Menstruation, SMPN
EDUKASI KEBUTUHAN GIZI REMAJA PUTRI Irni Setyawati; Kusniyati Utami; Dian Soekmawaty Riezqy Ariendha; Hardaniyati Hardaniyati; Yesvi Zulfiana; Sarah Husniyati
Jurnal LENTERA Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.985 KB) | DOI: 10.57267/lentera.v2i1.165

Abstract

The quality of the nation's next generation is largely determined by young women who act as prospective mothers. Data from the Riskesdas report for the NTB province in 2018 reported that the city of Mataram had the second most thin women aged >18 years (14.02%) after North Lombok district, which was 15.99%. An initial survey conducted on 20 female students by accident at STIKes Yarsi Mataram in February 2021 found 30% of female students had Lila <23.5 cm and deliberately limited eating because they did not want to look fat. This situation shows that not all female students at STIKes Yarsi Mataram have good nutritional status and awareness of their nutritional needs. Based on the problems above, community service "Education on the nutritional needs of young women" was carried out. This community service partner is the Chair of STIKes Yarsi Mataram and the Head of the Midwifery Study Program for the Undergraduate Program. This community service uses the counseling method. Education begins with a pre-test and ends with a post-test. The measurement of female students' knowledge level was carried out using a questionnaire. Education is carried out using the question and answer lecture method. Education of the nutritional needs of adolescent girls at STIKes Yarsi Mataram female students was able to increase female students' knowledge about the understanding and principles of balanced nutrition guidelines and the recommended amount of energy and protein adequacy portions from 76.7% with sufficient knowledge to 76.7% with good knowledge. It is expected that female students can update information related to energy and protein needs in adolescent girls and apply a diet in accordance with the recommended amount of energy and protein adequacy that has been understood.
PENINGKATAN PEMAHAMAN IBU HAMIL TENTANG PENANGANAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DI DESA JEMPONG BARU WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKARBELA KOTA MATARAM Dian Soekmawaty Riezqy Ariendha; Irni Setyawati; Kusniyati Utami; Hardaniyati Hardaniyati; Yesvi Zulfiana
Jurnal LENTERA Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.483 KB) | DOI: 10.57267/lentera.v2i2.200

Abstract

Anemia has a very negative effect, especially for babies in the womb, including itcan cause miscarriage, babies born not quite months, babies are not fullydeveloped, bleeding during childbirth, irregular contractions, disruption during thedelivery process and susceptibility to infection can even result in a lack ofproduction of breast milk. Aim of community services is to improve knowledgeabout prevention of anemia. Methods: The implementation of community serviceactivities is carried. Results: pregnant women who attended were veryenthusiastic, after processing the questionnaire before and after the provision ofhealth education, there was an increase in knowledge. Conclusion:Implementation of providing health education to increase knowledge for thecommunity with risks that may occur with the condition of the community is verynecessary to be done Apart from being an enhancer and an increase inknowledge, it is also an action to reduce the risk of health problems for thecommunity
Pola Pemberian Asi pada Bayi Baru Lahir dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Winda Nurmayani M; Kusniyati Utami; Syamdarniati Syamdarniati
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 13 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Permas: jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v13i1.674

Abstract

Ikterus pada neonatus sebesar 25-50% bayi cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan.Gejala fisiologis  timbul pada hari kedua dan ketiga,.Peningkatan frekuensi ini tidak terkait dengan karakteristik ASI melainkan pola dalam menyusui.Tujuan penelitian mengetahui pola pemberian ASI pada bayi baru lahir dengan kejadian Ikterus neonatorium.Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Retrospektif, dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram. Populasi seluruh ibu yang mempunyai bayi yang menderita ikterus neonatorium dengan teknik pengambilan  adalah akcidental sampling. Instrumen yang digunakan chek list dan skala Kramer, bayi  dipantau dari baru lahir sampai dengan  uisa 5-7 hari.Analisis uji Chi Square. Pola pemberian ASI dengan full breastfeeding sebagian besar tidak mengalami ikterus sebanyak 31  ( 47, 7%), sebaliknya pemberian partial feeding sejumlah 11 ( 16, 9%), dengan nilai signifikan( p=0, 004, <0, 05). Ada hubungan yang signifikan antara variabel pola pemberian ASI pada bayi baru lahir dengan peristiwa ikterus neonatorum.Petugas kesehatan mengantisipasi kejadian icterus dengan  melakukan deteksi dini pada bayi baru lahir yang bermasalah dengan cara mengobservasi cara pemberian ASI dan pola pemberian ASI baik di rumah sakit atau di rumah.
Pelatihan Kader Tutor Sebaya Kerere’ Kusniyati Utami; Agus Supinganto; Melati Inayati Albayani; Haryani Haryani; Aswati Aswati; Irni Setyawati
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 7 No 3 (2022): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.359 KB) | DOI: 10.30653/002.202273.135

Abstract

KERERE' CADRE OF PEER TUTOR TRAINING. Pre-pregnancy health services are carried out since adolescence. Mambalan Village is one of the villages in the Penimbung sub-district which is in the working area of the Penimbung Health Center. Based on information, there were 12 cases of teenage pregnancy during 2019. The results of interviews with village cadres showed that youth posyandu activities had actually been carried out but few attended due to the irregular schedule of youth posyandu activities. The purpose of this service is to form a cadre of peer tutors through cadre training on adolescent reproductive health. Cadre training begins with data collection and problem information, identification of potential youth, coordination with groups of youth posyandu organizers, training, and inauguration. The partner of this service is the village head of Mambalan as the builder of the youth posyandu. The target of the training is as many as 20 teenagers. The results of this service show that adolescents' understanding and knowledge of reproductive health increases after training so that peer tutor cadres are able to provide knowledge to their peers about the dangers of early marriage. It is hoped that the government of Mambalan Village and Penimbung Health Center will increase awareness and awareness of adolescent reproductive health.
Perbedaan Kunjungan Pertama Ibu Hamil Berdasarkan Usia di Poskesdes Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Kusniyati Utami; Irni Setyawati
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 2 No. 2: September 2019
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.279 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v2i2.288

Abstract

Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (2017) menyebutkan jumlah kematian ibu dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 terus mengalami penurunan yaitu dari 95 kasus ke 92 kasus sampai 85 kasus. Kematian ibu saat hamil dapat dicegah dengan pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan sesuai dengan frekuensi kunjungan antenatal minimal empat kali. Kunjungan pertama dilakukan saat usia kehamilan ibu < 16 minggu (Kemenkes RI, 2013), namun masih dijumpai ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama antenatal pada trimester kedua dan bahkan trimester ketiga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kunjungan pertama ibu hamil berdasarkan usia di Poskesdes wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungsari.Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik secara potong lintang di delapan Poskesdes wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungsari kabupaten Lombok Barat pada bulan November 2018 sampai dengan Januari 2019. Sampel diambil menggunakan tehnik total sampling sebanyak 1042 orang. Data sekunder dikumpulkan dari buku register kohort ibu di delapan Poskesdes wilayah kerja UPTD Puskesmas Gunungsari berupa usia ibu saat kunjungan pertama dan usia kehamilan ibu saat kunjungan pertama. Data diolah secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Terdapat perbedaan bermakna kunjungan pertama ibu hamil antara ibu yang berusia <20 tahun, 20-35 tahun, dan >35 tahun yang ditunjukkan dengan nilai p 0,00001 (<0,05). Diharapkan bidan di Poskesdes lebih meningkatkan peran kader dalam menjaring ibu hamil trimester pertama khususnya yang berusia <20 tahun dan >35 tahun.
PEMANFAATAN MEDIA AUDIO VISUAL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KETEPATAN PERILAKU MAKAN PADA ANAK SEKOLAH Henny Yolanda; Melati Inayati Albayani; Haryani Haryani; Zurriyatun Thoyibah; Kusniyati Utami
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.15118

Abstract

Abstrak: Secara nasional, prevalensi masalah gizi kurang dan gizi buruk pada anak 0 – 59 bulan menurut indeks berat badan menurut umur tahun 2013 adalah 19,6%, dan pada tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 17,7%, namun masih di atas target RPJMN tahun 2019, yaitu 17%. Berdasarkan hasil diskusi terfokus berkelompok yang dilakukan penulis ditemukan bahwa perilaku anak dalam makan masih tidak tepat, kebiasaan anak makan snack, variasi makanan anak setiap kali makanan tidak mematuhi kaidah gizi seimbang. (1) Tujuan pengabdian: Tujuan dari pengabdian ini adalah memanfaatkan media audio visual dalam meningkatkan hard skill anak berupa ketepatan perilaku makan pada anak sekolah ; (2) Metode: Pengabdian ini merupakan pendampingan promosi kesehatan yang dilakukan mahasiswa dengan metode penyuluhan menggunakan audio visual kepada 38 anak SD usia 7-9 tahun; dan (3) Hasil yang ditemukan setelah dilakukan evaluasi dengan observasi setelah tindakan adalah terdapat peningkatan perilaku makan pada anak sekolah setelah diberikan edukasi melalui media audio visual yaitu sebesar 37%.Abstract: Nationally the prevalence of undernutrition and malnutrition in children 0-59 months according to the weight-for-age index in 2013 was 19.6%, and in 2018 it decreased by 17.7%, but it was still above the 2019 RPJMN target, i.e. 17%. Based on the results of the disturbed group discussion conducted by the author, it was found that the child's eating behavior was still inappropriate, the child's habit of eating snacks, the variety of children's food at each meal did not comply with the rules of balanced nutrition. (1) Purpose of service; The purpose of this service is to utilize audio-visual media to increase the satisfaction of eating behavior in school children; (2) Method: This service is health promotion assistance carried out by students using counseling methods using audio-visual to elementary school children aged 7-9 years; and (3) The results found were that there was an increase in eating behavior in school children after being given education through audio-visual media.