Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Garden-Mind: A Community Based Non-Formal Education Model through Hydroponic Therapeutic Gardening for Student Development at LPKA Bandung Hendriano Meggy; Nita Nitiya Intan Tanbrin; Selfiyani Lestari; Kholifatul Novita Ningsih; Kayla Athaya Kaerunnisa; Intan Nurul Azkiy Azkiya; Widya Annisa Sari; Khairunnisa Kamilah
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2026 (3)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v6i3.4665

Abstract

Student affairs services in non-formal education, particularly in Indonesian juvenile correctional institutions (Lembaga Pembinaan Khusus Anak, LPKA), have yet to fully integrate a community-based education approach, leading to fragmented and reactive service delivery. This study aimed to design, implement, and evaluate the Garden-Mind program as a community-based management model of student affairs that integrates hydroponic-based therapeutic gardening with group guidance and counseling at the Class II Juvenile Correctional Institution of Bandung. Employing a participatory action research approach with a pre–post intervention design, the program ran for eight weeks (16 ninety-minute sessions) involving 15 purposively selected juvenile residents. Data were collected through the Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZUNG-SAS), the Perceived Stress Scale (PSS-10), learner journals, structured observation, and focus group discussions, and were analysed using the Wilcoxon signed-rank test (with effect-size r) and six-phase thematic analysis. Findings indicate a significant reduction in anxiety scores (28.4%; r = 0.87, large effect) and stress scores (31.7%; r = 0.89, large effect), with p < 0.001. Qualitative analysis identified four themes of transformation: learner ownership, cohesive learning community, contextual life skills, and positive future orientation. The study theoretically contributes the Model of Community-Based Student Affairs Service Development (MPLSBC) as an integrative managerial framework and practically recommends repositioning LPKA student affairs services from a reactive stance toward a measurable, replicable, and equitable community-based framework that may be standardized across juvenile correctional institutions in Indonesia.
Educational service quality in Juvenile Detention Centers: inclusivity and national standards Hendriano Meggy; Yoga Budhi Santoso; Ana Fatimatuzzahra; Kholifatul Novita Ningsih; Anira Zakiyyah Febrianti; Naila Cynthia Fajrin; Wafda Arafah Khairunnisa
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 1 (2026): Inovasi Kurikulum, February 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i1.270

Abstract

Education in the Juvenile Detention Center (JDC) plays a strategic role in fulfilling children’s fundamental rights while also serving as a means of rehabilitation and social reintegration. This study aims to analyze the quality of educational service provision across three JDCs, drawing on the National Education Standards and principles of inclusivity. The study employs a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews with teachers and educational program administrators and were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that the fulfillment of educational standards, particularly in terms of curriculum, assessment, and facilities, remains partial. Major gaps were identified in responsive instructional practices, the use of learning media, and the evaluation of educational programs. Although educational access has been provided to all juveniles in care, adaptation to individual learning needs remains limited, and most educators lack specific competencies in inclusive education. These findings suggest that the implementation of inclusivity principles in LPKA remains largely formalistic, resulting in an educational provision that has not yet fully functioned as an effective rehabilitation mechanism due to systemic and institutional constraints. Therefore, more targeted policies, enhanced educator competencies, and stronger inter-agency collaboration are required.   Abstrak Pendidikan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) memiliki peran strategis sebagai pemenuhan hak dasar anak sekaligus sebagai sarana rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas penyelenggaraan layanan pendidikan di tiga LPKA dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan dan prinsip inklusivitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru dan pengelola program pendidikan, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan standar pendidikan, khususnya pada aspek kurikulum, asesmen, dan sarana prasarana, masih bersifat parsial. Kesenjangan utama ditemukan pada praktik pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan peserta didik, pemanfaatan media pembelajaran, serta evaluasi program pendidikan. Meskipun akses pendidikan telah diberikan kepada seluruh anak binaan, penyesuaian terhadap kebutuhan individual masih terbatas dan sebagian besar pendidik belum memiliki kompetensi khusus dalam pendidikan inklusif. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip inklusivitas di LPKA masih bersifat formalistik, sehingga penyediaan pendidikan belum sepenuhnya berfungsi sebagai mekanisme rehabilitasi yang efektif akibat keterbatasan sistemik dan kelembagaan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih terarah, peningkatan kompetensi pendidik, serta penguatan kolaborasi antar lembaga. Kata Kunci: inklusivitas; Lembaga Pembinaan Khusus Anak; LPKA; standar nasional pendidikan
Pengembangan Inclusive Resource Center Berbasis Program SAPA (Skrining Awal dan Pendampingan ABK) di Kelurahan Jatinegara Kaum Septiyani Endang Yunitasari; Asep Supena; Indina Tarjiah; Muhammad Takdir; Neddyana Pahalawaty; Kholifatul Novita Ningsih; Nur Zahra Aqilla Purwanti; Nusaibah Ghoida Ismatulloh
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i3.5313

Abstract

Pendidikan inklusif membutuhkan sistem layanan yang mampu mendukung identifikasi kebutuhan peserta didik secara dini, pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), serta kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Di Kelurahan Jatinegara Kaum, layanan pendidikan inklusif masih menghadapi keterbatasan dalam pelaksanaan skrining awal, kompetensi guru dalam identifikasi dan pendampingan, dokumentasi perkembangan peserta didik, serta komunikasi dengan keluarga. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengembangkan Inclusive Resource Center berbasis Program SAPA (Skrining Awal dan Pendampingan ABK) sebagai pusat layanan pendidikan inklusif di SDN Jatinegara Kaum 14 Pagi. Kegiatan menggunakan pendekatan participatory action melalui tahapan analisis kebutuhan, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, implementasi program, dan evaluasi. Sasaran kegiatan adalah 23 guru kelas dan guru mata pelajaran. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan angket yang mengukur pengetahuan mengenai ABK dan skrining awal, kesiapan melakukan identifikasi dan pendampingan, serta pemahaman pemanfaatan Inclusive Resource Center. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek yang diukur. Pemahaman guru mengenai skrining awal meningkat dari 21,74 persen menjadi 91,30 persen, sedangkan pemahaman mengenai fungsi Inclusive Resource Center meningkat dari 56,52 persen menjadi 91,30 persen. Selain itu, terbentuk Inclusive Resource Center yang dilengkapi instrumen skrining, media pembelajaran adaptif, sistem dokumentasi perkembangan peserta didik, dan fasilitas konsultasi guru dan orang tua. Program SAPA berbasis Inclusive Resource Center dapat memperkuat kapasitas guru dan membangun sistem layanan pendidikan inklusif yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Urban Areas' Readiness in Providing Learning Accommodations for Students with Disabilities Post-COVID-19 Pandemic Lintang Al mar&#039;atus Sholihah; Kholifatul Novita Ningsih; Wahyu Hardiani; Nur Hanifah Insani; Azizah Nurul Husnaini
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 10, No 3 (2025): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (September)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v10i3.9379

Abstract

The shift in learning models following the COVID-19 pandemic, which occurred without adequate preparation, has added new challenges for students with special needs. As an educational institution in an urban area, Jakarta State University should be an ideal example of an inclusive campus. Although opportunities for students with special needs to enroll have expanded, this has not been matched by specific preparations for learning accommodations. This study aims to identify the challenges faced by students with special needs in obtaining appropriate learning accommodations. Additionally, this study seeks to explore the shift in learning accommodation needs of students with special needs post-pandemic COVID-19. A mixed-method research approach was selected, with quantitative data as the primary focus. Data collection was conducted through questionnaires and interviews, while quantitative data analysis utilized descriptive statistical analysis. The research subjects consisted of 34 students with special needs from eight faculties, enrolled between 2018 and 2024. The students with special needs involved in this study had visual impairments, hearing impairments, physical impairments, low vision, ADHD, learning difficulties, and autism. The results of the study showed diversity in learning accommodation needs for each type of special need. However, these differences could be predicted based on the type and level of special needs. The five aspects studied—course materials, teaching methods, facilities and equipment, peer support, and the need for self-regulation skills—highlight the importance of further attention from the university. These aspects of learning accommodations reflect a shift in learning modes influenced by the COVID-19 pandemic. This shift adds challenges for students with special needs in preparing themselves for the workforce.
Pelatihan dan Pendampingan Parent Empowerment melalui Program SERASI untuk Penguatan Kolaborasi Rumah-Sekolah bagi Anak Berkebutuhan Khusus Kholifatul Novita Ningsih; Irah Kasirah; Endah Widiastuti; Septiyani Endang Yunitasari; Hendriano Meggy; Diffa Syahidah Izzah Aulia; Muhamad Haikal Mursid
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i3.5284

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan Program SERASI (Structured Environment for Inclusive Education), sebuah model kolaborasi rumah-sekolah berbasis parent empowerment, untuk mengatasi kesenjangan penerapan structured environment antara sekolah dan rumah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SDN 14 Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis komunitas dengan desain evaluasi pra-pasca satu kelompok (one-group pretest-posttest design), meliputi FGD kebutuhan mitra, penyusunan panduan dan modul, sosialisasi dan pelatihan, serta evaluasi. Data dikumpulkan melalui instrumen pemahaman 15 item dan angket kepuasan 10 aspek dari 55 peserta (33 orang tua, 15 guru, 7 kepala sekolah). Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman dari 76,1% menjadi 98,2% (naik 22,1 poin), dengan kenaikan tertinggi pada klaster pengelolaan perilaku positif (+24,7 poin), serta tingkat kepuasan peserta yang tinggi (rata-rata 4,36 dari skala 5). Program SERASI terbukti efektif meningkatkan pemahaman awal orang tua dan guru dalam menerapkan structured environment secara konsisten di rumah dan sekolah, meski dampak pada perubahan perilaku ABK secara nyata masih memerlukan pendampingan dan evaluasi lanjutan.
Strengthening Vocational Skills Teaching for Special Needs Students at SLBN 9 Jakarta Irah Kasirah; Trisna Mulyeni; Mayasari Manar; Kholifatul Novita Ningsih
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.8799

Abstract

Mitral SLBN 9 Tanjung Priok sedang menghadapi tantangan dalam pengajaran keterampilan vokasional yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PJK), terutama dalam hal keseimbangan aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Metode pengajaran yang diterapkan oleh pengajar cenderung tidak terpadu, di mana sebagian besar fokus hanya pada satu aspek ekonomi atau sosial tanpa pendekatan berkelanjutan yang menyeluruh yang sesuai dengan karakter siswa berkebutuhan khusus. Inisiatif pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran keterampilan vokasional yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan yang dikemukakan mencakup pelatihan yang berfokus pada kebutuhan, diskusi terarah, serta lokakarya praktik langsung tentang pengembangan keterampilan vokasional dengan pendekatan daur ulang yang mengaitkan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program ini dijalankan dalam tiga tahap yakni identifikasi kebutuhan guru, pelatihan serta pendampingan, dan kemudian praktik produksi karya vokasional. Para guru diikutsertakan secara aktif dalam merancang metode pembelajaran serta menciptakan produk berbasis lingkungan seperti tas menggunakan bahan daur ulang. Hasil dari evaluasi menunjukkan ada peningkatan pengetahuan guru sebesar 35% dari perbandingan pre-test dan post-test, serta kemajuan dalam keterampilan merancang pembelajaran vokasional yang berkelanjutan. Selain itu, telah dihasilkan modul pembelajaran dan produk konkret berupa tas daur ulang sebagai contoh nyata implementasi. Program ini menunjukkan bahwa metode pelatihan dengan pendekatan praktis sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran vokasional yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.