Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

MULO : Unsur Serta Teks Yang Melekat Dalam Karya Tari Zulfikar Rizki Ananda; Susas Rita Loravianti
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 9: Agustus 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i9.2139

Abstract

Mulo merupakan karya tari kontemporer dengan sumber inspirasi filosofi buah kelapa yang menjadi properti pada tari Piriang di Ateh Karambia.  Tari Piriang di Ateh Karambia terdapat di Desa Payo kota Solok, dan merupakan tarian tradisional yang sarat akan makna dan nilai-nilai filosofi kehidupan yang terkandung dalam tariannya. Pengkarya terinspirasi menciptakan karya tari kontemporer dengan menginterpretasikan nilai dan makna filosofi buah kelapa yang digambarkan melalui karya tari. Proses pertumbuhan buah kelapa dalam nilai-nilai kehidupan memiliki kesamaan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan manusia yang dimulai di dalam janin seorang ibu, akan tetapi berdasarkan fenomena di era 5.0 ini, banyak manusia seakan tidak lagi memiliki rasa menghargai terhadap orang tua mereka. Fenomena tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab. Hal tersebut menjadi point dan pesan utama dalam penggambaran karya tari ini. Karya Mulo digarap melalui metode riset dasar dan lanjutan, dan analisis data. Selanjutnya proses penciptaan koreografi menggunakan metode kontemporer dan penemuan rasa dan suasana yang kemudian dilanjutkan penjajakan dan eksperimen gerak yang kemudian diatur dan ditentukan sebagai pijakan gerak dasar dalam penggarapan koreografi tari. Unsur teks serta media pertunjukan hadir dalam penyampai gagasan dan isian sebuah karya seni tari.
Karya Tari “Berpijak Diatas Puing” Interpretasi Cerita Yang Terdapat Dalam Tari Tradisi Sikambang Di Kabupaten Pesisir Selatan Fahrezi, Ingles; Loravianti, Susas Rita
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 5 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v2i5.6046

Abstract

The dance work Berpijak Diatas Puing (Standing Amid the Ruins) is inspired by Tari Sikambang, a traditional Minangkabau dance originating from Nagari Kambang Utara. It tells the story of a Datuak (a traditional leader) who is devastated by the loss of his only child. This piece portrays inner conflict and emotional resilience in the face of tragedy, carrying the message that one must continue moving forward even in the midst of destruction. Developed with a dramatic approach and a social theme, the choreography incorporates traditional Sikambang movements such as Sipotong Geleang, Baraba Mandi, and Ratok, blended with contemporary techniques learned during the choreographer’s studies at the Indonesian Institute of the Arts Padangpanjang, including jumps, leaps, rolls, and more. Performed by nine dancers and one monologue character, the piece features live music and symbolic props, including black and white cloths representing grief and acceptance. This work serves as both an effort to preserve cultural heritage and a reflection on themes of loss, acceptance, and inner strength.
KARYA TARI “IDENTITAS YANG TERKIKIS” INTERPRETASI DARI AKTIVITAS PEREMPUAN DALAM PROSESI MAANTAAN TANDO DI KOTA PARIAMAN Maidarlita, Serla Putri; Loravianti, Susas Rita; Sukri, Ali; Metro, Wardi
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.395

Abstract

Karya tari “Identitas Yang Terkikis” terinspirasi dari fenomena sosial budaya yang ada di Dusun Ps. Hilalang, Desa Taluk, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman yaitu Tradisi Maantaan Tando. Tradisi Maantaan Tando merupakan sebuah tradisi pernikahan yang merajuk pada simbol atau tanda pengikat yang diberikan dari pihak keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki sebagai bentuk pertunangan resmi. Tradisi ini bertujuan untuk menjaga silahturahmi antara kedua belah pihak., tradisi ini juga mengandung nilai kebersamaan, kegembiraan, gotong-royong dan saling tolong-menolong. Dari fenomena tersebut, pengkarya menerjemahkannya ke dalam bentuk koreografi berkelompok yang ditampilkan di Auditorium Boestanul Arifin Adam Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Karya yang terbagi dalam tiga bagian ini ditampilkan oleh tujuh orang penari perempuan. Rias busana yang digunakan yaitu rias cantik panggung dan busana baju kurung kreasi berwarna crem dengan bawahan kain sarung pada bagian satu, baju kurung kreasi berwarna warni dengan celana longgar berwarna putih pada bagian dua. Metode yang digunakan dalam penggarapan karya ini adalah riset, rancangan konsep, alat perwujudan karya, kerja studio, dan konsep pertunjukan.
“Langkah Tanpa Suara” Interpretasi Dari Kegigihan Seseorang Tunarungu Dalam Kehidupan Sari, Rohima; Rovylendes, Adjuoktoza; Loravianti, Susas Rita; Ilham, Kurniadi
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v1i6.6203

Abstract

The dance piece entitled Langkah Tanpa Suara is inspired by the lived experience of a deaf individual confronting limitations in verbal communication. This work serves as an artistic expression of the resilience and determination exhibited by this person in navigating life, despite often being underestimated by society. The creative process employed data collection and field observation to gain insight into the lives of the deaf community, followed by movement exploration and improvisation as foundational steps; the development of choreographic structure; and periodic evaluation. Technically, the work is performed by seven dancers and features a socially driven, dramatic theme. The narrative is enhanced through the incorporation of sequenced music that aligns with the movement progression, thereby enriching the emotional and dramatic expressiveness of the performance.
MENEMBUS KEHENINGAN REPRESENTASI TRAUMATIK AKIBAT BULLYING VERBAL DALAM KARYA TARI KONTEMPORER Firdayani; Loravianti , Susas Rita
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.451

Abstract

Karya tari yang berjudul "Menembus Keheningan" mengangkat tema bullying verbal, dengan fokus pada trauma psikologis yang dialami oleh korban. Karya ini menggambarkan perjalanan emosional korban, mulai dari rasa cemas, takut, tertekan, depresi, hingga usaha untuk keluar dari keadaan yang menyiksa diri korban. Penelitian ini mengkaji tentang representasi trauma akibat bully verbal melalui sebuah karya tari kontemporer. Metode yang digunakan adalah pendekatan artistik dengan eksplorasi media plastik. Melalui medium simbolik berupa koridor plastik sepanjang delapan meter, yang diinterpretasikan sebagai ruang sempit dan keterbatasan yang dirasakan oleh korban di dalam dirinya. Plastik ini juga diinterprestasikan sebagai medium untuk pembebasan dari trauma. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis proses kreatif dan simbolisme dalam karya tersebut, serta menghubungkannya dengan dampak bullying verbal dalam kehidupan nyata. Hasil analisis karya ini menunjukan transformasi dan isolasi menuju kebebasan emosional. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dampak dan pemulihan trauma melalui medium seni tari yang menunjukan bahwa seni tari dapat menjadi media reflektif dan representatif untuk menyampaikan pesan sosial serta mendukung proses penyembuhan trauma.
Umbua-Umbua : Penggarapan Fungsi Orang-Orangan Sawah Dalam Bentuk Tarian Kelompok Agnisya, Dila; Loravianti, Susas Rita; Ananda, Zulfikar Rizki
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 3: Februari 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i3.2947

Abstract

Karya tari yang diberi judul Umbua-Umbua ini terinspirasi dari kegiatan mengusir burung yang menitikberatkan pada fungsi wayang masyarakat padi dalam membantu melindungi padi dari serangan hama. Untuk menggarap konsep yang lahir dalam sebuah karya tari, seniman memaknai fungsi wayang masyarakat sawah. Kemudian para perajin memanfaatkan sifat-sifat topi, pagar jerami dan tali sobek. Eksplorasi gerak berkaitan dengan perkembangan gerak yang dihasilkan oleh efek gerak wayang dari ladang yang ditarik dengan tali kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan lahan pertanian. Metode yang digunakan dalam lahirnya karya ini meliputi observasi, pengolahan data, eksplorasi, improvisasi, pembentukan dan evaluasi. Karya tari ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan suasana sebelum melaksanakan kegiatan manggaro, bagian kedua menafsirkan respon hama terhadap gerak wayang orang di sawah, dan bagian ketiga mengolah suara-suara yang dihasilkan. oleh properti untuk menakut-nakuti hama. Kata Kunci: Umbua-Umbua, Manggaro , fungsi, menghalau, menakut-nakuti, karya tari
Performing Cosmology: Sound, Movement, and World-Making in the Turuk Lagai Ritual of Mentawai Loravianti, Susas Rita; Alfalah, Alfalah; Iswandi, Iswandi; Emri, Emri; Chaterji, Katia; Y, Eva
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i2.17136

Abstract

This research investigates Turuk Lagai, a central ritual of the Mentawai people in West Sumatra, Indonesia, as a performative act that enacts and sustains their cosmological worldview. The study's objective is to understand how this ritual reflects belief and constitutes reality through embodied and relational practices. Using a qualitative ethnographic approach, the study draws on long-term fieldwork, in-depth interviews, and thematic analysis assisted by QualCoder. Data were coded and interpreted through a theoretical framework combining Victor Turner's ritual process, Catherine Bell's ritualization theory, and Tim Ingold's concept of relational ontology. The analysis identified three overarching themes—Embodiment, Spiritual Correspondence, and Relational Ontology—that demonstrate how bodily movement, chants, offerings, and environmental elements co-produce a cosmological order. Rather than symbolizing cosmology, Turuk Lagai brings it into being, renewing social and spiritual relationships between humans, nature, and ancestral forces. The study concludes that Turuk Lagai is a dynamic system of knowledge production and cosmological maintenance. It recommends greater recognition of indigenous ritual not as static tradition but as an active and vital mode of world-making with implications for cultural preservation and ecological ethics.
INTERPRETASI TRADISI MAARAK BUNGO LAMANG DISOLOK SELATAN DALAM KARYA TARI KONTEMPORER SASURAMBI Dendi chairi; Susas Rita Loravianti
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.39434

Abstract

The Maarak Bungo Lamang tradition in South Solok Regency, the main focus of this study, is a cultural practice that blends religious and aesthetic elements in the celebration of the Prophet Muhammad’s Birthday (Maulid Nabi). This tradition features the making of lamang decorated with paper flowers, miniatures, and colorful ornaments, accompanied by the badikia chant performed with rebana drums. Its visual uniqueness and embedded spirituality serve as the foundation for the creation of a contemporary dance work titled “Sasurambi.” The purpose of this research is to interpret the symbolic meanings, social values, and religious messages within the Maarak Bungo Lamang tradition and to translate them into a contemporary dance composition. The study employs a Research and Development (R&D) method using a deconstructive approach, which dismantles the structure of the tradition to reveal layers of meaning behind its visual and musical elements. The theoretical framework includes Derrida’s theory of deconstruction as a basis for re-reading the tradition, aesthetic theory for analyzing its visual and artistic components, and cultural anthropology for examining its social functions in the South Solok community.The findings indicate that Maarak Bungo Lamang embodies religious values expressed as love for the Prophet Muhammad, aesthetic values through its vibrant colors and forms, and social values manifested in communal cooperation. These values are transformed into movement motifs, group dynamics, and dramaturgical structure in the dance work Sasurambi. In conclusion, interpreting the tradition through deconstruction enables the creation of a contemporary dance piece that not only re-presents the tradition but also serves as a medium for preserving local culture in a form adaptable to modern performing arts.
Choreography as Decolonial Practice: Aesthetics of Piety and Modernity in West Sumatra’s Musabaqah Tilawatil Qur’an Competitions Katia Chaterji; Susas Rita Loravianti
Lembaran Antropologi Vol 4 No 2 (2025): Anthropology and Decolonization in Performance Studies and Arts Critique
Publisher : Department of Anthropology, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/la.26217

Abstract

This article explores two dance choreographies, Menghimpun Cahaya (Gathering Light) and Ziarah Surau Kota Hujan (Pilgrimage to the City of Rain’s Prayer Hall), performed at the opening ceremonies of West Sumatra’s Qur’anic recitation competitions (Musabaqah Tilawatil Qur’an, or MTQ) in 2019 and in 2021. While the MTQ have been studied as sites of performing piety, nationalism, and/or “goodness”; this article explores the role of choreography in articulating performative claims about Islamic knowledge production, cultural authority, and locally rooted constructs of modernity. Focusing on the MTQ as religious and political event, this article considers how choreographic practice shapes the construction of tradition and asserts the performing arts as a critical arena in which Minangkabau artists define their relationships to the past, present, and future of Muslim cultural identity. This article is in conversation with debates to decolonize performing arts and choreography through consideration of collaboration and autoethnography.
Nan Tak Putuih: Transforming the Meaning of Kapan Salampih Custom into Contemporary Dramatic Dance Inda Fatika Sari; Susas Rita Loravianti; Wardi Metro; Ariefin Alham Jaya Putra
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 28, No 1 (2026): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v28i1.4988

Abstract

Kapan salampih merupakan praktik adat kematian di Nagari Koto Laweh yang menegaskan tanggung jawab moral pihak bako terhadap anak pisang. Artikel ini bertujuan menjelaskan transformasi makna kebersamaan, kepedulian, dan kesinambungan hubungan kekerabatan tersebut ke dalam karya tari Nan Tak Putuih. Metode penciptaan memadukan riset lapangan dan kerja studio. Data diperoleh melalui observasi di Jorong Kandang Diguguak, wawancara dengan tiga informan adat, studi pustaka, dan dokumentasi; sedangkan kerja studio meliputi eksplorasi, improvisasi, pembentukan, serta evaluasi. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa makna kapan salampih diterjemahkan melalui struktur dramatik tiga bagian: duka, tanggung jawab adat, dan keikhlasan. Kualitas gerak berat, tertahan, dan stakato pada bagian awal berkembang menjadi tarikan antartubuh pada bagian konflik, lalu berubah menjadi gerak mengalir dan terbuka pada bagian akhir. Kain putih sepanjang sembilan meter menjadi simbol utama tanggung jawab, beban emosional, dan ikatan yang tidak terputus; maknanya diperkuat oleh komposisi kelompok, musik langsung bernuansa Minangkabau, tata ruang berlevel, busana bernada gelap, dan perubahan tata cahaya. Karya ini tidak merekonstruksi prosesi adat secara literal, tetapi melakukan pemadatan simbolik agar nilai sosialnya dapat dialami melalui tubuh dan suasana pertunjukan. Nan Tak Putuih dengan demikian menawarkan model penciptaan tari kontemporer yang berakar pada pengetahuan lokal sekaligus reflektif terhadap keberlanjutan kekerabatan Minangkabau