cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,372 Documents
Analisis Asuhan Keperawatan melalui Intervensi Penggunaan Silver Calsium Alginate sebagai Primery Dressing pada Fase Poliferasi Pada Ny. N dan Tn. D Dengan Diagnosamedisulkusdiabetikum di Wocare Center Kota Bogor Kusumawati, Dewi Fatimah; Naziyah, Naziyah; Bahri, Khairul
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i5.13680

Abstract

ABSTRAK Ulkus diabetikum merujuk pada luka yang timbul sebagai komplikasi mikroangiopati dan makroangiopati pada seseorang dengan diabetes mellitus (DM). Saat dilakukan pengkajian terhadap Ny. N dan Tn. D, permasalahan keperawatan utama yang teridentifikasi adalah gangguan integritas kulit dan jaringan, yang termanifestasi melalui gejala serta tanda utama yakni ulkus diabetikum pada kaki pasien. Kedua pasien menggunakan balutan serupa, yaitu silver calcium alginate, yang merupakan balutan utama untuk mendukung fase proliferasi penyembuhan luka. Calcium Alginate adalah polisakarida alami yang umumnya ditemukan dalam dinding sel alga coklat, digunakan untuk regenerasi kulit dan mempercepat proses penyembuhan luka. Penggunaan alginate sebagai secondary dressing bertujuan melindungi dan menutupi luka, dengan harapan dapat mempercepat proses penyembuhan. Analisis asuhan keperawatan melalui intervensi penggunaan Silver Calcium Alginate pada fase proliferasi Ny. N dan Tn. D dengan diagnosa ulkus diabetikum di Wocare Center Bogor menunjukkan bahwa balutan Silver Calcium Alginate yang diterapkan sebagai balutan utama setiap tiga hari sekali efektif dalam mendukung proses penyembuhan ulkus diabetikum. Pada Ny. N, proses penyembuhan luka sesuai dengan estimasi waktu yang ditentukan, yaitu 5,7 minggu (dibulatkan menjadi 6 minggu). Sementara itu, pada Tn. D, penyembuhan luka sesuai dengan estimasi waktu yang ditetapkan, yaitu 6 minggu. Perawatan akan terus dilanjutkan, dan sudah terlihat kemajuan dalam proses penyembuhan luka dengan menggunakan balutan Silver Calcium Alginate, termanifestasi melalui penurunan luas luka, penurunan jumlah eksudat, dan kemajuan jaringan epitelisasi. Dari studi kasus ini, dapat disimpulkan bahwa calcium alginate dapat efektif membantu proses penyembuhan luka pada fase proliferasi, dengan penurunan jumlah eksudat yang lebih cepat. Penting untuk mencatat bahwa penyembuhan luka juga memerlukan kontrol gula darah yang baik dan asupan nutrisi yang memadai agar proses penyembuhan berjalan maksimal. Kata Kunci: Ulkus Diabetikum, Silver Calsium Alginate, Fase Poliferasi    ABSTRACT Diabetic ulcers refer to wounds that arise as a complication of microangiopathy and macroangiopathy in individuals with diabetes mellitus (DM). When an investigation was carried out on Mrs. N and Mr. D, the main nursing problem identified is impaired skin and tissue integrity, which is manifested through the main symptoms and signs in the form of diabetic ulcers on the patient's feet. Both patients used a similar dressing, namely silver calcium alginate, as the main dressing to support the proliferative phase of wound healing. Calcium Alginate is a natural polysaccharide generally found in the cell walls of brown algae, used to regenerate skin and speed up the wound healing process. The use of alginate as a secondary dressing aims to protect and cover wounds, in the hope of speeding up the healing process. Analysis of nursing care through intervention using Silver Calcium Alginate in the proliferation phase of Mrs. N and Mr. D with a diagnosis of diabetic ulcers at the Wocare Center Bogor shows that the Silver Calcium Alginate dressing applied as the main dressing once every three days is effective in supporting the healing process of diabetic ulcers. To Mrs. N, the wound healing process corresponds to the estimated time specified, namely 5.7 weeks (rounded to 6 weeks). Meanwhile, Mr. D, wound healing according to the estimated time specified, namely 6 weeks. Treatment will continue, and progress has been seen in the wound healing process using the Silver Calcium Alginate dressing, manifested by a decrease in wound area, a decrease in the amount of exudate, and progress in tissue epithelization. From this case study, it can be concluded that calcium alginate can effectively help the wound healing process in the proliferation phase, by reducing the amount of exudate more quickly. It is important to note that wound healing also requires good blood sugar control and adequate nutritional intake so that the healing process runs optimally. Keywords: Diabetic Ulcer, Silver Calcium Alginate, Proliferation Phase
Edukasi Menu Dashyat (Dapur Sehat Atasi Stunting) dan Keterlibatan Mahasiswa Penting (Peduli Stunting) di Desa Dimpong Simon, Maria Getrida; Hepilita, Yohana; Eka, Angelina Roida; Danal, Paskaliana N; Krowa, Yuliana R.R
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i8.14967

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi utama yang sering terjadi dengan angka kejadian global sekitar 22,9%. Provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah 269.658 (42,7%) anak stunting dari 633.000 total anak di bawah 5 tahun. Angka stunting di Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan dari 50,2% pada tahun 2013. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menberikan penyuluhan tentang makanan sehat untuk atasi stunting serta keterlibatan mahasiswa dalam mencegah stunting  Kegiatan pengabdian ini dilakukan di desa Dimpong, Kegiatan ini dibagi dalam beberapa bagian, yang pertama akan dilakukan Fokus Group Discusion (FGD) Bersama Masyarakat dan perangkat desa serta melibatkan pihak puskesmas, mengajarkan memasak makanan menu DASHYAT, monitoring evaluasi Bersama masyarakat. Adapun hasil dari kegiatan ini serta masyarakat dan mendapatkan hasil, Jumlah anak stunting berkurang 9 dari total 20 menjadi 11 orang. 80 % catin, ibu hamil dan ibu balita mengerti tentang gizi seimbang dalam 1000 hari kehidupan, 100% anak stunting berhasil dilakukan pengukuran ulang, 80% ibu dengan anak stunting serta kader antusias mengikuti kegiatan demo menu dasyat. Semua anak stunting menyukai menu dasyat yang disiapkan oleh mahasiswa. Kegiatan ini mendapatkan antusias dari perangkat Desa, serta masyarakat dan mendapatkan hasil, Jumlah anak stunting berkurang 9 dari total 20 menjadi 11 orang. Kata Kunci: Stunting, Penting, Dashyat  ABSTRACT Stunting is a major nutritional problem that often occurs with a global incidence rate of around 22.9%. The province with the highest stunting rate in Indonesia is East Nusa Tenggara, with a total of 269,658 (42.7%) stunted children out of a total of 633,000 children under 5 years old. The stunting rate in East Nusa Tenggara has decreased from 50.2% in 2013. The purpose of this activity is to provide counseling on healthy food to overcome stunting and student involvement in preventing stunting. This service activity is carried out in Dimpong village, This activity is divided into several parts, the first will be carried out a Focus Group Discussion (FGD) with the community and village officials and involving the health center, teaching cooking DASHYAT menu food,  monitoring the evaluation with the community. As for the results of this activity as well as the community and getting the results, the number of stunted children decreased by 9 from a total of 20 to 11 people. 80% of pregnant women and mothers of toddlers understood about balanced nutrition in 1000 days of life, 100% of stunted children were successfully re-measured, 80% of mothers with stunted children and cadres were enthusiastic about participating in the Dasyat menu demonstration activity. All stunted children love the great menu prepared by students. This activity received enthusiasm from the village apparatus, as well as the community and obtained results, the number of stunted children decreased by 9 from a total of 20 to 11 people. Keywords: Stunting, Penting, Dashyat
Edukasi dan Pelatihan Keluarga dan Kader Kesehatan tentang Pencegahan dan Perawatan Anak dengan Tuberkulosis Paru di rumah Desa Sidodadi Kecamatan Pardasuka Kabupaten Pringsewu Anita, Anita; Aprina, Aprina; Astuti, Titi; Hasan, Amrul; Kadarusman, Haris; Siregar, Maria Tuntun; Fauziah, Raden Roro Nur
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.15071

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita Tuberkulosis (TBC) tertinggi ketiga di dunia dengan perkiraan jumlah orang penderita akibat TBC mencapai 845.000 dengan angka kematian 98.000 orang atau setara dengan 11 kematian/jam. Faktor risiko TBC pada anak diantaranya adalah status gizi, ASI eksklusif, riwayat kontak TBC, usia imunisasi BCG, keberadaan perokok dan sanitasi lingkungan. TBC pada anak dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan & nutrisi yang baik, memutus rantai penularan TBC dengan  PHBS, mengubah perilaku anak, keluarga dan lingkungan secara terus menerus. Pengabdian bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dan Kader Kesehatan tentang pencegahan dan perawatan  TBC. Pelaksanaan kegiatan secara kelompok di Desa Sidodadi Kecamatan Pardasuka Kabupaten Pringsewu, pada bulan Agustus 2024. Sasaran kegiatan adalah 20 keluarga yang memiliki balita resiko TBC. Kegiatan diawali dengan pelatihan dan edukasi, keberhasilan pelatihan diukur dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test. Hasil Pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan baik pada kelompok usia dewasa maupun kelompok keluarga dengan anak penderita TBC terkait perawatan balita/anak dengan TBC di rumah setelah dilakukan pelatihan keluarga dan kader kesehatan. Kata kunci: Anak, Pencegahan, Perawatan, TBC  ABSTRACT Indonesia is one of the countries with the third highest TB burden in the world with an estimated number of people falling ill due to TB reaching 845,000 with a death rate of 98,000 or equivalent to 11 deaths/hour. Risk factors for tuberculosis in children include nutritional status, exclusive breastfeeding, history of contact with tuberculosis, age of BCG immunization, the presence of smokers and environmental sanitation. Tuberculosis in children can be prevented by improving good health & nutrition status, breaking the chain of TB transmission with PHBS, changing the behavior of children, families and the environment continuously. The service aims to improve the knowledge and skills of families and Health Cadres about TB prevention and treatment. The implementation of group activities in Sidodadi Village, Pardasuka District, Pringsewu Regency, in August 2024. The target of the activity is 20 families with toddlers at risk of TB. The activity began with training and education, the success of the training was measured by comparing the results of the pretest and posttest. The results of this service show an increase in understanding and knowledge in both adult and child age groups related to the care of toddlers and children with tuberculosis at home after training families and health cadres. Keywords: Children, Prevention, Treatment, TB
Pelatihan dan Penyegaran Kader Malaria Melalui Petugas Kesehatan tentang Skrining Pemeriksaan Malaria melalui Pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Slide Malaria Bahrah, Bahrah; Erawati, Deasy
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.15163

Abstract

ABSTRAK Pada beberapa Puskesmas di daerah endemis dengan jumlah penderita malaria yang tinggi, seringkali dilakukan skrening malaria pada masyarakat yang melibatkan kader dari masyarakat setempat untuk pemeriksaan RDT dan membuat sediaan apusan darah. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh pengabdi Puskesmas Amban pada Tahun 2024 Puskesmas Amban belum memiliki kader Malaria dan studi wawancara pada petugas penangung jawab program malaria, sebagian besar mengatakan bahwa belum pernah mendapatkan pelatihan tentang cara pembuatan hapusan darah. Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam melakukan diagnosis malaria menggunakan RDT dan pembuatan hapusan darah tepi. Metode dalam pengabdian ini adalah dengan melakukan pelatihan dan penyegaran kader malaria melalui  petugas kesehatan dengan kegiatan penyuluhan dan pendampingan pemeriksaan RDT dan pembuatan slide malaria atau hapusan darah menggunakan media bantu media audiovisual yang dilakukan selama 3 hari. Setelah dilakukan pelatihan dan penyegaran akan dievaluasi hasil pelatihan yang telah diberikan dengan menggunakan lembar observasi atau lembar cheklist cara melakukan pemeriksaan RDT dan pembuatan hapusan darah. Hasil nilai rata-rata skor keterampilan petugas kesehatan tentang pemeriksaan RDT sebelum diberikan pelatihan yaitu 85,3 dan meningkat menjadi 97,2 sedangkan skor keterampilan petugas kesehatan tentang pengambilan hapusan darah tepi sebelum pelatihan yaitu 75 dan setelah pelatihan meningkat menjadi 93,7 setelah diberikan pelatihan. Kesimpulan penyegaran dan pelatihan petugas kesehatan efektif menggunakan media bantu video dan demonstrasi dapat meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan RDT dan pembuatan hapusan darah tepi. Kata Kunci:  Kader Malaria, Petugas Kesehatan, Skrining Pemeriksaan Malaria, Rapid Diagnostic Test (RDT) dan Slide Malaria  ABSTRACT In several Community Health Centers in endemic areas with a high number of malaria sufferers, malaria screening is often carried out in the community involving cadres from the local community for RDT examinations and making blood smear preparations. Based on a preliminary study conducted by Amban Community Health Center staff in 2024, Amban Community Health Center does not yet have Malaria cadres and interview studies of officers in charge of the malaria program, the majority said that they had never received training on how to make blood smears. The aim of this training is to increase the knowledge and skills of health workers in diagnosing malaria using RDT and making peripheral blood smears. The method of this service is to carry out training and refreshment of malaria cadres through health workers with outreach activities and assistance with RDT examinations and making malaria slides or blood smears using audiovisual media which is carried out for 3 days. After training and refreshment, the results of the training provided will be evaluated using an observation sheet or checklist on how to carry out RDT examinations and make blood smears. The average value of the skill score of health workers regarding RDT examination before being given training was 85.3 and increased to 97.2, while the skill score of health workers regarding taking peripheral blood smears before training was 75 and after training increased to 93.7 after being given training . Conclusion: Refreshing and training health workers effectively using video media and demonstrations can improve the skills of health workers in carrying out RDT examinations and making peripheral blood smears. Keywords: Malaria Cadres, Health Workers, Malaria Screening, Rapid Diagnostic Test (RDT) and Malaria Slides
Pemberdayaan Kader dalam Pemantauan Tumbuh Kembang Anak melalui Buku Kia di Kelurahan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo Jeniawaty, Sherly; Utami, Sri; Rekawati, Rekawati; Sukesi, Sukesi; Sujati, Ni Ketut
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i10.16185

Abstract

ABSTRAK Salah satu daerah yang masih perlu untuk diberikan pemahaman pentingnya pemantauan tumbuh kembang adalah keluarahan Wonoayu yang berada di Kabupaten Sidoarjo. Jumlah bayi balita dan anak pra sekolah ada 261. Dari jumlah tersebut ada 1,5 %  yang mengalami BGM dan 6% mengalami stunting. Untuk pemantauan tumbuh kembang, 92% rutin melakukan di posyandu. Pemantauan tumbuh kembang yang dimaksudkan lebih pada penimbangan BB, sedangkan untuk perkembangannnya belum secara khusus dilaksanakan. Hal ini dapat diketahui dari buku KIA. Bagian cek list pemantauan perkembangaan dalam buku KIA seringkali masih kosong. Jika orang tua telah melakukan deteksi, seharusnya ada tanda centang (Ѵ) pada cek list yang dimaksud. Peran kader sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan dan motivasi ibu dalam pemantauan tumbuh kembang anaknya dengan menggunakan buku KIA.  Pada umumnya kader kesehatan sudah dilatih dalam menjalankan tugasnya seperti cara menimbang berat badan yang benar, mengisi KMS, mengisi buku KIA, sedangkan untuk memantau perkembangan belum dilakukan karena lebih banyak disibukan untuk melakukan pencatatan yang harus dilaporkan ke puskesmas.  Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan bagi kader tentang pemantauan tumbuh kembang anak dengan menggunakan buku KIA. Jika kader sudah paham bagaimana mudahnya cara memantau perkembangan anak dengan menggunakan buku KIA, mereka bisa mengajarkan pada orang tua cara memantau perkembangan, sehingga lebih meringankan tugas kader. Adanya pelatihan kader merupakan upaya menumbuhkan komitmen keluarga untuk melakukan pemantauan tumbuh kembang anak secara berkelanjutan sesuai usianya. Pelatihan dalam upaya Pemberdayan kader, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan system yaitu merujuk konsep Input, Proses dan Output.  Dengan mengikuti kegiatan pelatihan, diharapkan orang tua lebih memahami isi buku KIA dan dapat menentukan tindakan yang harus dilakukan jika ada masalah kesehatan, khususnya tentang tumbuh kembang anaknya. Kata Kunci: Kader, Pemantauan Tumbuh Kembang, Buku KIA,  ABSTRACT One area that still needs to be given an understanding of the importance of monitoring growth and development is the Wonoayu sub-district in Sidoarjo Regency. The number of toddlers and pre-school children is 261. Of that number, 1.5% experience BGM and 6% experience stunting. For growth and development monitoring, 92% routinely do it at the integrated health post. The growth and development monitoring in question is more about weighing, while for development it has not been specifically implemented. This can be seen from the KIA book. The development monitoring checklist section in the KIA book is often still empty. If parents have carried out detection, there should be a check mark (Ѵ) on the checklist in question. The role of cadres is very much needed to foster the willingness and motivation of mothers in monitoring their children's growth and development using the KIA book. In general, health cadres have been trained in carrying out their duties such as how to weigh properly, fill out the KMS, fill out the KIA book, while monitoring development has not been done because they are more busy making records that must be reported to the health center. Therefore, there needs to be training for cadres on monitoring child growth and development using the KIA book. If cadres already understand how easy it is to monitor child development using the KIA book, they can teach parents how to monitor development, thus lightening the cadres' tasks. The existence of cadre training is an effort to foster family commitment to continuously monitor child growth and development according to their age. Training in an effort to empower cadres is carried out using a system approach, namely referring to the concepts of Input, Process and Output. By participating in training activities, it is hoped that parents will better understand the contents of the KIA book and can determine the actions to be taken if there are health problems, especially regarding their child's growth and development. Keywords: Kader, Growth and Development Monitoring, KIA Book
Peningkatan Kapasitas Masyarakat untuk Mewujudkan Desa Meat sebagai Desa Wisata Sehat Jiwa Berbasis Kearifan Lokal di Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Purba, Jenny Marlindawani; Tuapattinaja, Josetta Maria; Siregar, Cholina Trisa; Siregar, Ronald Leonardo
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i12.17382

Abstract

ABSTRAK Desa Meat merupakan salah satu desa yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Toba sebagai desa wisata. Namun, angka kunjungan wisatawan baik lokal, nasional maupun internasional sangat minimal ditambah lagi dengan kondisi lapangan, kesiapan dan komitmen masyarakat yang masih kurang sebagai bagian dari desa wisata. Oleh karena itu, perlu dibentuk suatu desa wisata sehat jiwa yang dibangun melalui kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat yang meliputi sehat jiwa dan fisik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masayarakat dalam mewujudkan desa Meat seagai desa wisata sehat jiwa berbasis kearifan lokal. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, simulasi, mengaktifkan sanggar tari tradisional Batak dan kunjungan rumah. Peserta kegiatan ini adalah Masyarakat desa Meat yang punya komitmen mensukseskan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjumlah 60 orang. Terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang desa wisata sehat jiwa sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan. Selain itu, sikap masyarakat juga meningkat terhadap perlunya deteksi dini Kesehatan jiwa sehingga terwujud kesehatan jiwa masyarakat yang optimal dengan menggunakan pendekatan budaya Batak Toba khususnya dalam menyambut para wisatawan yang datang berkunjung ke desa Meat. Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat dan perangkat desa serta pihak luar untuk berkomitmen mewujudkan desa Meat sebagai desa wisata berbasis budaya Batak Toba. Kata Kunci: Kapasitas Masyarakat, Desa Wisata, Sehat Jiwa, Kearifan Lokal  ABSTRACT Meat Village is one of the villages that has been designated by the Toba Regency Government as a tourist village. However, the number of local, national and international tourist visits is very minimal, coupled with field conditions, community readiness and commitment that are still lacking as part of a tourist village. Therefore, it is necessary to form a healthy soul tourism village that is built through community awareness of the importance of mental health and the implementation of clean and healthy living behaviors. Clean and healthy living behaviors that include mental and physical health. This community service activity aims to increase community capacity in realizing Meat Village as a healthy soul tourism village based on local wisdom. The implementation of this activity uses lecture methods, discussions, questions and answers, simulations, activating traditional Batak dance studios and home visits. Participants in this activity are the Meat Village community who have a commitment to making community service activities a success, totaling 70 partipants. There was an increase in community knowledge about mental health tourism villages before and after participating in the activity. In addition, community attitudes also increased towards the need for early detection of mental health so that optimal community mental health is realized by using the Toba Batak cultural approach, especially in welcoming tourists who come to visit Meat Village. This activity received appreciation from the community and village officials as well as external parties to commit to realizing Meat Village as a tourist village based on Batak Toba culture. Keywords: Community Capacity, Tourist Village, Mental Health, Local Wisdom
Edukasi Mandiri dalam Upaya Peningkatan Kepatuhan Berobat Penderita Hipertensi di Kota Jambi Masnah, Cek; Daryono, Daryono; Subakir, Subakir
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.17431

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 2023 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, secara Nasional prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran sebesar 30,8% dan di Provinsi Jambi sebesar 23,6%. Meskipun selama 5 tahun terakhir terdapat penurunan, namun angka ini masih sangat tinggi. Pada sisi lain, kepatuhan penderita dalam konsumsi obat antihipertensi masih rendah. Secara nasional, hanya 54,40% pasien yang meminum obat secara teratur  pada tahun 2018, di Provinsi Jambi 44,35% dan di Kota Jambi keteraturan minum obat 54,20%. Pada tahun 2023 penderita hipertensi di Provinsi Jambi, yang mendapat edukasi pengobatan sebesar 71,9% dan yang teratur minum obat hanya 44,0%. Keadaan ini memerlukan upaya inovatif untuk meningkatkan kepatuhan pada pasien hipertensi. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam mengikuti proses pengobatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dalam bentuk edukasi mandiri dengan menggunakan media booklet dan video. Sebelum intervensi, dilakukan pengukuran awal melalui survei untuk mengetahui karakteristik masyarakat sasaran, tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, dan kepatuhannya. Intervensi dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan pemberian booket dan video untuk dibaca/dilihat pada hari-hari selanjutnya sebagai bahan edukasi mandiri. Setelah lebih kurang 1,5 bulan dilakukan evaluasi dengan cara survei menggunakan kuesioner yang sama dengan survei awal. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, dukungan keluarga, dan kepatuhannya. Setelah dilakukan edukasi mandiri terdapat peningkatan pengetahuan dengan kategori baik dari 11,29% menjadi 29,03%, terdapat peningkatan dukungan keluarga kategori baik dari 18,18% menjadi 45,45%, dan peningkatan kepatuhan kategori sedang dan tinggi dari 40,91% menjadi 68,19%.  Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa edukasi mandiri dapat meningkatkan pengetahuan, dukungan keluarga dan kepatuhan pasien hipertensi dalam mengikuti proses pengobatan. Agar perubahan ini dapat berkelanjutan diharapkan Puskesmas harus terus memantau tren kepatuhan pasien hipertensi, dan direkomendasikan untuk membentuk kelompok peduli hipertensi. Kata Kunci: Edukasi, Mandiri, Kepatuhan, HipertensiABSTRACT In 2023 based on the Indonesian Health Survey, nationally the prevalence of hypertension based on measurement results was 30.8% and in Jambi Province it was 23.6%. Although there has been a decline over the past 5 years, this figure is still very high. On the other hand, patient compliance in consuming antihypertensive drugs is still low. Nationally, only 54.40% of patients took medication regularly in 2018, in Jambi Province 44.35% and in Jambi City the regularity of taking medication was 54.20%. In 2023, hypertension sufferers in Jambi Province, who received treatment education were 71.9% and those who took medication regularly were only 44.0%. This situation requires innovative efforts to increase compliance in hypertension patients. This community service aims to increase compliance of hypertension patients in following the treatment process. Community service activities are carried out in the form of independent education using booklets and videos. Before the intervention, initial measurements were carried out through a survey to determine the characteristics of the target community, level of knowledge, family support, and compliance. The intervention was carried out in the form of counseling and providing booklets and videos to be read/watched in the following days as independent education materials. After approximately 1.5 months, an evaluation was carried out by means of a survey using the same questionnaire as the initial survey. The results of the community service showed an increase in knowledge, family support, and compliance. After independent education was carried out, there was an increase in knowledge with a good category from 11.29% to 29.03%, there was an increase in family support in the good category from 18.18% to 45.45%, and an increase in compliance in the medium and high categories from 40.91% to 68.19%. From these results, it can be concluded that independent education can increase knowledge, family support and compliance of hypertension patients in following the treatment process. In order for this change to be sustainable, it is hoped that the Health Center must continue to monitor the trend of compliance of hypertension patients, and it is recommended to form a hypertension care group. Keywords: Education, Independent, Compliance, Hypertension
Pemberdayaan Keluarga melalui Pendekatan Komunikasi Terapeutik di Desa Temajuk Kabupaten Sambas Priyatnanto, Hendra; Yousriatin, Fajar; Anggreini, Yunita Dwi; Nurannisa, Nurannisa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.15631

Abstract

ABSTRAK Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan. Melalui komunikasi yang baik, diharapkan segala informasi dan kebutuhan pasien dapat terpenuhi sehingga membantu dalam proses penyembuhan. Keluarga tentunya memiliki peran penting dalam merawat atau mendampingi anggota keluarga yang sakit, namun dilapangan menggambarkan banyak diantaranya keluarga dengan anggota keluarga yang sakit kurang mengetahui proses pengobatan dan perawatan yang dibutuhkan. Tujuan: pemberdayaan keluarga yaitu meningkatkan pengetahuan dan kemandirian keluarga dalam melakukan pencegahan maupun perawatan dengan cara optimalkan kemampuan komunikasi terapeutik antar anggota keluarga sebagai pilar kesehatan dalam keluarga. Metode: Pelaksanaan Kegiatan PKM dilakukan dengan metode edukasi selama 45 menit yang diikuti oleh 30 peserta. Untuk mengukur tingkat pengetahuan maka dilakukan pre dan post test. Hasil: hasil pengukuran sebelum edukasi dilakukan, pengetahuan peserta sebagian besar rendah (53,33%), kemudian diberikan edukasi tentang komunikasi terapeutik dan melakukan praktik cara melakukan komunikasi terapeutik, didapatkan hasil pengukuran pengetahuan sebagian besar tinggi yaitu 73,33%. Kesimpulan: Pemberian edukasi yang disertai dengan praktik atau simulasi dapat meningkatkan pengetahuan yang signifikan pada peserta. Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik, Keluarga, Pemberdayaan  ABSTRACT Therapeutic communication is communication that aims to speed up the healing process. Through good communication, it is hoped that all information and patient needs can be met, thereby helping in the healing process. The family certainly has an important role in caring for or accompanying sick family members, but in field it is clear that many families with sick family members do not know the treatment and care process needed. Family empowerment, namely increasing family knowledge and independence in carrying out prevention and treatment by optimizing therapeutic communication skills between family members as a pillar of health in the family. Implementation of community service activities was carried out using an educational method for 45 minutes, attended by 30 participants. To measure the level of knowledge, pre and post tests were carried out. The results of the measurements before the education was carried out, the knowledge of the participants was mostly low (53.33%), then they were given education about therapeutic communication and practicing how to carry out therapeutic communication, the knowledge measurement results were mostly high, namely 73.33%. Providing education accompanied by practice or simulation can significantly increase participants' knowledge.  Keywords: Therapeutic Communication, Family, Empowerment
Edukasi Pencegahan Anemia pada Masa Kehamilan sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Ibu Hamil R, Maria Magdalena Saragi; Doloksaribu, Tiurlan Mariasima; Yusniar, Yusniar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i10.16937

Abstract

ABSTRAK Anemia memberikan dampak negatif terutama bagi bayi dalam kandungan, seperti mengakibatkan keguguran, bayi lahir tidak cukup bulan, bayi tidak berkembang sempurna. Anemia dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama pada lebih dari 80% negara di dunia, prevalensi anemia pada kehamilan >20%. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk  edukasi pada ibu hamil berjumlah 30 orang. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk mewujudkan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi, meningkatkan pengetahuan Ibu hamil tentang anemia sebagai upaya pencegahan anemia.  Dari hasil evaluasi diperoleh pengetahuan ibu hamil sebelum diberikan edukasi mayoritas cukup sebanyak 63,3% dan setelah dilakukan edukasi mayoritas baik  sebanyak 95.7%. Dengan adanya kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diharapakan kepada Ibu hamil dapat meningkatkan pengetahuan mengenai anemia sebagai upaya pencegahan anemia pada ibu hamil. Kata Kunci: Edukasi, Pengetahuan, Ibu Hamil  ABSTRACT Anemia has a negative impact, especially on babies in the womb, such as resulting in miscarriage, babies born not at term, babies not developing fully. Anemia is considered a major public health problem in more than 80% of countries in the world, the prevalence of anemia in pregnancy is >20%. Community service was carried out in the form of education for 30 pregnant women. The aim of this Community Service is to realize community service as one of the Tri Darma activities of higher education, increasing pregnant women's knowledge about anemia as an effort to prevent anemia.  From the evaluation results, it was found that the majority of pregnant women's knowledge before being given education was adequate at 63.3% and after education the majority was good at 95.7%. With this Community Service activity, it is hoped that pregnant women can increase their knowledge about anemia as an effort to prevent anemia in pregnant women. Keywords: Education, Knowledge, Pregnant 
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada Kelompok Nelayan melalui Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader PTM Usman, Reni Devianti; Syanti Rahayu, Dian Yuniar; Saranani, Muhaimin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.14090

Abstract

ABSTRAK Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dari seorang ke orang lain, dan terjadi dalam rentang waktu yang lama (kronis). Beberapa penyakit yang tergolong PTM diantaranya adalah hipertensi, diabetes melitus (DM), stroke, penyakit jantung, asma, kanker dan penyakit gagal ginjal. Data kejadian PTM menunjukkan jumlah yang meningkat tiap tahunnya. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan masyarakat penting untuk dilakukan dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian PTM. Desa Ulu Sawa merupakan salah satu desa yang yang terletak dikawasan pesisir serta merupakan salah satu desa binaan Poltekkes Kemenkes Kendari. Salah satu mata pencaharian penduduk desa ini adalah sebagai nelayan. Pola konsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi natrium pada nelayan dan keluarganya merupakan faktor risiko terjadinya PTM. Keterlibatan kader dalam mendukung pencegahan dan pengendalian PTM merupakan aspek yang penting sehingga peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader perlu ditingkatkan. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pencegahan dan pengendalian PTM pada nelayan. Sasaran kegiatan ini adalah kader PTM sebanyak 20 orang. Hasil kegiatan ini  menunjukkan peningkatan pengetahuan kader dengan kategori baik yaitu dari 45% menjadi 95%. Keterampilan kader juga meningkat pada ketergori baik dari 35% menjadi 90%. Kesimpulan kegiatan penyuluhan dan demonstrasi ini berperan dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pencegahan dan pengendalian PTM. Kata Kunci: Pengetahuan, Keterampilan, Kader, Penyakit Tidak Menular  ABSTRACT Non-communicable diseases (NCDs) are diseases that cannot be transmitted from one person to another, and occur over a long period of time (chronic). Some diseases that are classified as NCDs include hypertension, diabetes mellitus (DM), stroke, heart disease, asthma, cancer and kidney failure. Data on the incidence of PTM shows that the number is increasing every year. Increasing community knowledge and skills is important to support efforts to prevent and control NCDs. Ulu Sawa Village is one of the villages located in the coastal area and is one of the villages assisted by the Kendari Ministry of Health's Health Polytechnic. One of the livelihoods of the residents of this village is as fishermen. The consumption pattern of food that is low in fiber and high in sodium among fishermen and their families is a risk factor for NCDs. The involvement of cadres in supporting the prevention and control of NCDs is an important aspect so that cadres' knowledge and skills need to be increased. The aim of this activity is to increase the knowledge and skills of cadres in preventing and controlling NCDs in fishermen. The target of this activity is 20 PTM cadres. The results of this activity show an increase in cadre knowledge in the good category, namely from 45% to 95%. Cadre skills also increased in the good category from 35% to 90%. In conclusion, this outreach and improvement activity plays a role in increasing cadres' knowledge and skills in preventing and controlling NCDs. Keywords :Knowledge, Skills, Cadres, Non-Communicable Disease

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue