cover
Contact Name
Neneng Siti Latifah
Contact Email
nenengmalahayati@gmail.com
Phone
+6281315863446
Journal Mail Official
neneng@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka NO 27 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati)
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 24768944     EISSN : 2579726X     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Jurnal Kebidanan Malahayati menyediakan platform untuk mempublikasikan bidang kebidanan dan jurnal juga berusaha untuk memajukan kualitas penelitian dengan memperkenalkan atau menguraikan metode baru di bidang kesehatan kebidanan untuk publikasi termasuk kebidanan dan ilmu kesehatan inti. Jurnal ini berisi naskah tentang Ilmu Kesehatan yang meliputi: asuhan Kebidanan, Gizi, Psikologi, kebidanan komunitas, kesehatan Reproduksi, Kesehatan Lansia, Kesehatan Masyarakat
Articles 971 Documents
Effectiveness Of Ice Massage On Labor Pain Intensity During The First Stage Anggraini, Sandra; Lathifah, Neneng Siti; Nurliyani, Nurliyani; Susilawati, Susilawati
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i10.22557

Abstract

Menurut data Dunia dalam World Health Organization (WHO, 2023) kasus ibu dengan persalinan nyeri menyatakan bahwa hanya 10-15% persalinan yang berlangsung tanpa rasa nyeri, dengan demikian bahwa data tersebut paling banyak ditemukan ibu dengan persalinan nyeri yaitu prevalensi sebesar 85-90% persalinan berlangsung dengan nyeri. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui pengaruh efektifitas pijat es terhadap intensitas nyeri persalinan Kala I Di Wilayah Kerja Puskesmas Pasir Sakti Lampung TimurMetode penelitian dengan jenis penelitian kuantitatif, Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Pasir Sakti Lampung Timur dan rencananya dilakukan pada bulan Mei-Juni tahun 2025. Rancangan Quasi Eksperimental dengan posttest only with control group design. Populasi seluruh ibu memasuki kehamilan trimester III dengan HPL bulan Mei dan Juni berdasarkan kantong persalinan sejumlah 42 responden, sampel 32 responden, teknik purposive sampling. Hasil rata-rata intensitas nyeri sebelum intervensi mean 0,632, hasil sesudah mean 4,69. Rata-rata intensitas nyeri sebelum pada kelompok kontrol mean 0,629, sesudah mean 5,56. Hasil nilai p value 0,000 α (0,05) yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh teknik pijat es terhadap intensitas nyeri persalinan Kala I. Hasil p value 0,005 α (0,05). Nilai p value 0,006 α (0,05) artinya ada perbedaan yang brmakna antara kedua variabel penelitian Kata kunci : nyeri persalinan, pijat es, titik akupresure   ABSTRACT According to World data in the World Health Organization (WHO, 2023) the case of mothers with painful labor states that only 10-15% of labor takes place without pain, thus that the data is most commonly found mothers with painful labor, namely a prevalence of 85-90% of labor takes place with pain . The purpose of this paper is to determine the effect of the effectiveness of ice massage on the intensity of labor pain in the first stage in the Working Area of Puskesmas Pasir Sakti East Lampung.The study employed a quantitative research method and was conducted in the working area of Puskesmas Pasir Sakti, East Lampung, during May–June 2025. A quasi-experimental design with a posttest-only control group was used. The study population consisted of all mothers in their third trimester of pregnancy with an expected delivery date (EDD) in May and June, based on the maternity register, totaling 42 individuals. A purposive sampling technique was applied to obtain a sample of 32 respondents.The average result of pain intensity before intervention mean 0.632, the result after mean 4.69. Average pain intensity before the control group mean 0.629, after mean 5.56. The result of the p value of 0.000 α (0.05) which means H0 is rejected and Ha is accepted, which means there is an effect of ice massage techniques on the intensity of labor pain in Stage I. The p value result is 0.005 α (0.05). The p value of 0.006 α (0.05) means that there is a significant difference between the two research variables. Keywords : labor pain, ice massage, acupressure points
Nurturing, Caring, And Parenting Patterns For Early Childhood In Sekar Melati Playgroup Setyaningsih, Pujiati; Jumiatun, Jumiatun; Nani, Shinta Ayu
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i10.23505

Abstract

Masa usia dini merupakan masa golden age (masa keemasan) dimana pada masa ini anak sudah mulai peka dan sensitif dengan lingkungan sekitarnya sehingga akan dengan mudah menyerap apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Usia ini merupakan pribadi unik dengan pola tumbuh kembang pada komponen fisik, kognitif, social, emosional, kreatif, linguistic dan komunikasi yang khas pada tahapan yang dilalui anak. Oleh karena itu pemberian stimulus yang tepat pada anak sangat dibutuhkan apabila menginginkan setiap aspek perkembangan tercapai secara optimal. Peran dari ibu, bapak, keluarga dan masyarakat serta lingkungan menjadi penting, mengingat pada masa ini adalah ”masa keemasan” sangat tergantung bagaimana kita memenuhi hak dasar anak akan pola asih, asah dan asuh, agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal dan akan berpengaruh terhadap kehidupan selanjutnya. Penelitian ini bersifat deskriptif bertujuan menggambarkan pola asah asih serta asuh yang diberikan orang tua kepada anak nya pada usia dini. Hasil penelitian kepada 35 responden diperoleh (68,6%) pola asahnya baik menunjukkan bahwa orang tua dalam memberikan stimulasi untuk mengembangkan kemampuan intelektual, keterampilan, kreatifitas serta sosial anak sebagian sudah baik. Pola asih orang tua pada anak yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan emosional melalui kasih saying perhatian (88,6%) sudah baik, serta (62,9%) pola asuh yang berkaitan dengan cara merawat, membimbing serta mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari juga sudah baik. Pola asah asih dan asuh saling berkaitan sehingga diharapkan ketiganya berjalan seimbang agar tumbuh kembang anak akan lebih optimal baik secara fisik, mental, emosional serta social. Kata Kunci: Asah, Asih, Asuh, Usia, Dini ABSTRACT Early childhood is a golden age when children begin to be sensitive to their surroundings and easily absorb what they see, hear, and feel. This age is a unique period of personal growth and development in terms of physical, cognitive, social, emotional, creative, linguistic, and communication skills that are characteristics of the stage children go through. Therefore, providing appropriate stimuli to children is essential if we want every aspect of their development to be achieved optimally. The role of mothers, fathers, families, communities, and the environment is important, considering that this period is a “golden age” that depends heavily on how we fulfill children's basic rights to love, guidance, and care so that they can grow and develop optimally, which will affect their future lives. This descriptive study aims to describe the patterns of nurturing, caring, and parenting that parents provide to their children in early childhood. The results of the study of 35 respondents show that (68.6%) of the nurturing patterns are good, indicating that parents are already good at providing stimulation to develop their children's intellectual abilities, skills, creativity, and social skills. The caring pattern of parents towards children in relation to fulfilling emotional needs through affection and attention (88.6%) was good, and (62.9%) of the parenting patterns related to caring for, guiding, and educating children in daily life were also good. Nurturing, caring, and parenting are interrelated, so it is hoped that all three will be balanced so that children's growth and development will be more optimal physically, mentally, emotionally, and socially. Keywords: Nurturing, Caring, Parenting, Age, Early 
The Correlation Between Mental Health And Social Aspects With Adolescent Sexual Behaviour Harja, Evelyn Nafisa Putri; Nurjanah, Nunung; Hidayah, Fika Nurul; Widayanti, Wiwin
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i10.23105

Abstract

 Latar Belakang: Masa remaja yang merupakan periode transisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental dan aspek sosial yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan termasuk perilaku seksual. Tingginya angka perilaku seks pranikah pada remaja menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kesehatan mental dan aspek sosial dengan perilaku seksual pada remaja di SMKN X Gunung Jati Kabupaten Cirebon tahun 2025.Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan teknik proportional random sampling dengan jumlah responden 216 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner DASS-21, kuesioner peran teman sebaya dan kuesioner perilaku seksual. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation.Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif berkekuatan lemah antara kesehatan mental dengan perilaku seksual remaja (p-value 0,000   0,05, ρ 0,236 ; 0,255 ; 0,236) dan korelasi negatif dengan kekuatan lemah antara aspek sosial (peran teman sebaya) dengan perilaku seksual remaja (p-value 0,004  0,05, ρ -0,196).Kesimpulan: Kesehatan mental dan Aspek sosial memiliki peran penting dalam membentuk perilaku seksual remaja.Saran: Upaya preventif melalui edukasi kesehatan mental, pembentukan peer support group dan konseling remaja perlu dilakukan di lingkungan sekolah. Kata Kunci : Kesehatan Mental, Aspek Sosial, Perilaku Seksual Remaja ABSTRACT Background: Adolescence is a transitional period vulnerable to mental health disorders and social aspects that can influence decision-making, including sexual behavior. The high rate of premarital sex among adolescents is a serious concern for the world of education and healthPurpose: The purpose of this study was to determine the relationship between mental health and social aspects and sexual behavior in adolescents at State Vocational Highschool X Gunung Jati, Cirebon Regency, 2025.Methods: This research used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample was selected using proportional random sampling, with 216 respondents. The instruments used were the DASS-21 questionnaire, the peer role questionnaire, and the sexual behavior questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank Correlation test.Results: The results show a weak positive correlation between mental health and adolescent sexual behavior (p-value 0.05, ρ 0.236; 0.255; 0.236), and a weak negative correlation between social aspects (peer relationships) and adolescent sexual behavior (p-value 0.05, ρ -0.196).Conclusion: Mental health and social aspects play a significant role in shaping adolescent sexual behavior.Suggestions: Preventive efforts through mental health education, the formation of peer support groups, and adolescent counseling are necessary in the school environment Keywords:    Mental Health, Social Aspects, Adolescent Sexual Behaviour
Family Based Knowledge Identification Of Balanced Nutrition During Pregnancy Hardaniyati, Hardaniyati; Riezqy Ariendha, Dian Soekmawaty; Setyawati, Irni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i10.23417

Abstract

Latar Belakang: Status gizi ibu hamil berperan krusial dalam menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang. Kondisi seperti Kurang Energi Kronis (KEK), anemia, dan ketidakseimbangan asupan zat gizi masih banyak ditemukan di Indonesia, dengan dampak serius seperti berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, hingga stunting dan kematian ibu maupun bayi.Tujuan: Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang selama kehamilan berbasis keluarga Metode: Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester, I, II, III yang berjumlah  43 orang.Hasil: hasil penelitian menunjukan 43 responden (50,0%) memiliki pengetahuan kurang, sebagian besar katagori kurang sebanyak 24 (55,8%), dan yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 7 (16,2%), dukungan keluarga terhadap gizi seimbang pada ibu hamil, sebagian besar keluarga tidak mendukung 27 (62,7%) responden, dan sebagain kecil tidak mendukung sebesar 16 (37,2%) responden.Kesimpulan: sebagian besar ibu hamil memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang gizi seimbang dan keluarga terutama suami belum memberikan dukungan optimal terhadap gizi seimbang ibu hamil. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan penyuluhan gizi tidak hanya kepada ibu hamil, tetapi juga kepada suami, agar tercipta lingkungan keluarga yang lebih peduli terhadap pemenuhan gizi selama kehamilanSaran: Diharapkan ibu hamil dapat meningkatkan pengetahuan tentang gizi seimbang melalui berbagai sumber, seperti mengikuti kelas ibu hamil, konseling gizi di Puskesmas, atau mencari informasi dari tenaga kesehatan. Ibu hamil juga perlu lebih aktif dalam menanyakan dan mempraktikkan pola makan gizi seimbang agar kebutuhan nutrisi selama kehamilan dapat terpenuhi dengan baik. Kata Kunci: Tingkat pengetahuan, gizi, ibu hamil, keluarga ABSTRACT Background: The nutritional status of pregnant women plays a crucial role in determining the health of future generations. Conditions such as Chronic Energy Deficiency (CED), anemia, and imbalanced nutrient intake are still prevalent in Indonesia, with serious consequences such as low birth weight, premature birth, stunting, and maternal and infant mortality.Objective: To identify the level of knowledge about balanced nutrition during pregnancy based on family.Method: This research uses descriptive research. The sample in this study was 43 pregnant women in their first, second, and third trimesters.Results: The results of the study showed that 43 respondents (50.0%) had insufficient knowledge, the majority of which were in the insufficient category, 24 (55.8%), and those who had good knowledge were 7 (16.2%), family support for balanced nutrition for pregnant women, the majority of families did not support 27 (62.7%) respondents, and a small portion did not support 16 (37.2%) respondents.Conclusion: Most pregnant women have insufficient knowledge about balanced nutrition, and their families, especially husbands, do not provide optimal support for balanced nutrition for pregnant women. Therefore, nutrition education and counseling are needed not only for pregnant women but also for husbands, to create a family environment that is more concerned with nutritional needs during pregnancy.Suggestion: Pregnant women are expected to increase their knowledge about balanced nutrition through various sources, such as attending prenatal classes, nutrition counseling at community health centers, or seeking information from health professionals. Pregnant women also need to be more active in asking about and practicing a balanced diet to ensure their nutritional needs are met during pregnancy. Keywords: Level of knowledge, nutrition, pregnant women, family
The Influence Of Prenatal Yoga On The Health Anxiety Level Of Pregnant Women Erlina, Erlina; Marduati, Marduati; Fitriani, Aida Fitriani
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23641

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan dan stres maternal yang berlebihan tidak hanya merupakan masalah emosional subjektif, melainkan juga memiliki dasar biologis yang kuat dengan implikasi patofisiologis yang signifikan terhadap kesehatan ibu dan janin. Kecemasan kesehatan pada ibu hamil bukanlah masalah teoretis, melainkan realitas klinis yang signifikan di Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian intervensi prenatal yoga terhadap penurunan tingkat kecemasan kesehatan ibu hamil.Metode:  Metode penelitian menggunakan desain Quasi-Experiment dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil Trimester III yang rutin melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) dan terdaftar di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Salabiah. Jumlah sampel adalah 20 orang, yang dibagi dua, menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Tingkat kecemasan diukur dengan menggunakan kuesioner DASS-21.Hasil: Berdasarkan analisis statistic didapatkan pada kelompok intervensi (senam yoga prenatal), rata-rata penurunan skor kecemasan adalah 6,7 (SD = 0,82), sedangkan pada kelompok kontrol (tanpa intervensi) rata-rata penurunan hanya 0,3 (SD = 0,82). Secara rata-rata peserta dalam kelompok yoga prenatal mengalami penurunan skor kecemasan yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok tanpa latihan.  Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian intervensi prenatal yoga terhadap penurunan tingkat kecemasan kesehatan ibu hamil.Saran: Diharapkan dapat diteliti lebih lanjut tentang minat dan intensitas yoga pada ibu hamil. Kata Kunci : Ibu Hamil, Kecemasan, Prenatal Yoga. ABSTRACT Background: Excessive maternal anxiety and stress are not only subjective emotional issues, but also have a strong biological basis with significant pathophysiological implications for the health of both mother and fetus. Health anxiety in pregnant women is not a theoretical issue, but a significant clinical reality in Indonesia, including in Aceh Province.Purpose:  Analyzing the effect of providing prenatal yoga intervention on reducing anxiety levels in pregnant women.Methods:  The research method uses a Quasi-Experimental design with a Pretest-Posttest Control Group Design approach. The population of this study is all third-trimester pregnant women who regularly attend Antenatal Care (ANC) visits and are registered at Salabiah Midwife Independent Practice (PMB). The sample size is 20 people, divided into two groups: control and intervention. Anxiety levels are measured using the DASS-21 questionnaire.Results: Based on statistical analysis, in the intervention group (prenatal yoga exercises), the average decrease in anxiety scores was 6.7 (SD = 0.82), whereas in the control group (no intervention) the average decrease was only 0.3 (SD = 0.82). On average, participants in the prenatal yoga group experienced a much greater reduction in anxiety scores compared to the group without exercise.Conclusion: There is an effect of providing prenatal yoga interventions on reducing anxiety levels in pregnant women's health.Suggestions: It is expected that further research can be conducted on the interest in and intensity of yoga among pregnant women. Keywords: Pregnant Mother, Anxiety, Prenatal Yoga.
Adolescent Knowledge Of Local Food Diversity To Improve Reproductive Health Stefanicia, Stefanicia; Hertati, Dessy; Wulandari, Meyta; Friscila, Ika
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23884

Abstract

 Latar Belakang: Pangan  lokal adalah beragam makanan  yang  biasa  diolah  dan  disajikan  oleh  masyarakat di  suatu  wilayah tertentu  berdasarkan  potensi  dan  kearifan  lokal yang ada pada wilayah tersebut. Pengolahan  pangan  lokal  erat  kaitannya  dengan preferensi konsumsi lokal, pengetahuan dan bahan baku lokal. Adanya keberagaman pangan lokal tersebut, tidak menutup kemungkinan memiliki nilai gizi untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada remaja yang tinggal di Daerah Aliran Sungai.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengetahuan Remaja Tentang Keberagaman Pangan Lokal untuk Meningkatkan Kesehatan Reproduksi di Daerah Aliran Sungai Kelurahan Pahandut Seberang Palangka Raya. Metode Penelitian : Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan data primer, dengan jumlah sampel sebanyak 65 responden, pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, data yang telah terkumpul dianalisa, kemudian hasil disajikan dalam bentuk diagram dan persentase. Hasil Penelitian : Berdasarkan analisis dan pembahasan didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang keberagaman pangan lokal untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dari 35 responden kategori kurang 24 responden (65%), kategori cukup 11 responden (35%) dan tidak ditemukan remaja  yang memiliki pengetahuan baik tentang keberagaman pangan lokal untuk meningkatkan kesehatan reproduksi Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pengetahuan tingkat pengetahuan remaja tentang keberagaman pangan lokal untuk meningkatkan kesehatan reproduksi secara umum masih kurang. Diharapkan kepada responden agar dapat menambah pengetahuan dan petugas kesehatan pada wilayah tersebut  dapat memberikan penyuluhan secara berkesinambungan kepada remaja- remaja  agar dapat meningkatkan pengetahuan atau informasi yang benar mengenai keberagaman pangan lokal untuk meningkatkan kesehatan reproduksi untuk mencegah timbulnya masalah dan risiko kesehatan berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Kata Kunci : Remaja, Pangan Lokal, Kesehatan Reproduksi, Daerah Aliran Sungai ABSTRACT Background: Local food is a diverse range of foods commonly processed and served by people in a specific region, based on the potential and local wisdom present in that region. Processing local food is closely related to local consumption preferences, knowledge, and local raw materials. The presence of such local food diversity does not rule out its nutritional value for improving reproductive health in adolescents living in river basins. The purpose of this study is to determine adolescents' knowledge of local food diversity to improve reproductive health in the Kelurahan Pahandut Seberang Palangka Raya watershed area. Research Methods: This research design uses a descriptive research design. The data collection technique used was primary data, with a sample size of 65 respondents. The sampling method employed was total sampling. Data was collected using questionnaires, the collected data was analyzed, and the results were presented in the form of diagrams and percentages. Research Findings: Based on analysis and discussion, the results showed that the level of knowledge among adolescents regarding local food diversity to improve reproductive health was as follows: 24 respondents (65%) were in the poor category, 11 respondents (35%) were in the sufficient category, and no adolescents were found to have good knowledge about local food diversity to improve reproductive health. Conclusion: Based on the results of this study, it was found that the overall level of knowledge among adolescents regarding local food diversity to improve reproductive health was still lacking. It is hoped that respondents can increase their knowledge, and health workers in the area can provide continuous education to adolescents to improve their knowledge or correct information regarding food diversity to enhance reproductive health and prevent health problems and risks related to their reproductive health. Keyword : Adolescents, Local Food, Reproductive Health, River Basin
The Relationship Between Nutritional Status And Perineal Wound Healing Pratiwi, Yopi Suryatim; Zulfiana, Yesvi; Maya Herlina, Siskha; Handayani, Sri
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23857

Abstract

Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi secara global dan nasional, termasuk di Indonesia. Infeksi masa nifas, terutama akibat luka perineum yang tidak sembuh optimal, merupakan salah satu penyebabnya. Penyembuhan luka sangat dipengaruhi status gizi karena berperan dalam regenerasi jaringan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan penyembuhan luka perineum.Tujuan: Mengetahui hubungan status gizi dengan penyembuhan luka perineum pada ibu nifasMetode: Penelitian analitik dengan desain cross sectional pada 41 ibu nifas di wilayah Kota Mataram dan Lombok Barat. Sampel dipilih dengan purposive sampling pada ibu hari ke-7 postpartum dengan luka perineum derajat I–II. Status gizi diukur menggunakan IMT, dan penyembuhan luka dinilai dengan skala REEDA. Analisis menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05).Hasil: Sebagian besar responden memiliki status gizi normal (51,2%). Penyembuhan luka terbanyak berada pada kategori kurang (48,8%). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan penyembuhan luka perineum (p = 0,018). Ibu dengan gizi kurang dan berlebih lebih banyak mengalami penyembuhan buruk dibandingkan ibu bergizi normal.Simpulan: Status gizi berpengaruh signifikan terhadap penyembuhan luka perineum; gizi normal mendukung pemulihan lebih optimal.Saran: Peneliti selanjutnya disarankan dapat melakukan penelitian tentang faktor-faktor lain yang memengaruhi lama penyembuhan luka perineum. Kata Kunci: Nifas, REEDA, Status Gizi ABSTRACT Background: Maternal Mortality Rate (MMR) remains high both globally and nationally, including in Indonesia. Puerperal infections, particularly those resulting from poorly healed perineal wounds, are among the contributing causes. Wound healing is strongly influenced by nutritional status because it plays a key role in tissue regeneration. This study was conducted to determine the relationship between nutritional status and perineal wound healing.Objective: To determine the relationship between nutritional status and perineal wound healing in postpartum mothers.Methods: This analytical study used a cross-sectional design involving 41 postpartum mothers in the Mataram City and West Lombok areas. Samples were selected using purposive sampling among mothers on the 7th day postpartum with first- or second-degree perineal wounds. Nutritional status was measured using BMI, and wound healing was assessed using the REEDA scale. Data were analyzed using the Chi-Square test (α = 0.05).Results: Most respondents had normal nutritional status (51.2%). Perineal wound healing was predominantly in the “poor” category (48.8%). A significant relationship was found between nutritional status and perineal wound healing (p = 0.018). Mothers with underweight or overweight status experienced poorer healing compared to those with normal nutrition status.Conclusion: Nutritional status significantly affects perineal wound healing; normal nutritional status supports more optimal recovery.Suggestion: Future studies are recommended to explore other factors influencing the duration of perineal wound healing. Keywords: Postpartum, REEDA, Nutritional Status
Identification Of Factors Causing Anxiety In Pregnant Women As An Effort In Preparation For Delivery Maya Herlina, Siskha; Yunika, Regina Pricilia; Ulya, Yadul
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23792

Abstract

Latar Belakang: Tingkat  kecemasan  sangat berpengaruh  terhadap  kesejahteraan  ibu hamil  maupun  janin yang  ada  di  dalam kandungan.  Tingkat  kecemasan  yang rendah pada  ibu hamil  dapat mengurangi komplikasi  yang  ditimbulkan  sehingga secara  tidak  langsung  dapat  mengurangi angka  kematian  ibu  dan  bayi,  sedangkan tingkat  kecemasan  yang  tinggi  dapat memperberat  komplikasi angka  kematian ibu  dan  bayi.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi factor penyebab kecemasan ibu hamil trimester III sebagai upaya dalam persiapan menjelang persalinan. Metode: Metode penelitian ini adalah desktiptif. Penelitian akan dilaksanakan di Puskesmas Mujur Kabupaten Lombok Tengah. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 ibu hamil Trimester III. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, diolah secara univariat, dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.Hasil: hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar umur responden pada ketegori tidak beresiko (56,7%), sebagian besar responden dalam kategori multipara (66,7%), sebagian besar responden berprofesi sebagai ibu rumah tangga (66,7%), sebagian responden memiliki pengetahuan yang baik (50%) tentang pencegahan anemia, sebagian besar ibu patuh mengonsumsi suplemen zat besi (56,7%), sebagian besar ibu rutin melakukan pemeriksaan hemoglobin (73,3%), dan hampir seluruh ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan antenatal care (90%). Kesimpulan: sebagian besar umur responden berada pada kategori tidak berisiko (60,0%), sebagian besar responden berada pada kategori primipara (56,7%), sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga (63,3%), sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan (56,7%), sebagian besar ibu patuh dalam mengonsumsi suplemen zat besi (56,7%), sebagian besar ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan antenatal care (83,4%). Saran: Menjanjikan kegiatan edukasi tentang kecemasan saat hamil serta sinkronisasi dan pemantauan kesejahteraan ibu hamil terus ditingkatkan melalui program Posyandu dan kelas ibu hamil, serta fasilitasi terkoordinasi kebutuhan persiapan persalinan untuk memudahkan persiapan mental ibu menjelang persalinan.. Kata Kunci : Ibu Hamil Trimester III, Kecemasan, dan Persiapan Persalinan ABSTRACT Background: Anxiety levels greatly affect the well-being of both pregnant mothers and the fetus in the womb. Low anxiety levels in pregnant women can reduce complications that arise, thereby indirectly reducing maternal and infant mortality rates, whereas high anxiety levels can worsen complications and increase maternal and infant mortality rates. Objective: This study aims to identify the factors causing anxiety in pregnant women in the third trimester as an effort to prepare for childbirth. Method: This research method is descriptive. The study will be conducted at the Puyung Community Health Center in Central Lombok Regency. The sample size for this study is 30 pregnant women in their third trimester. Data were collected using a questionnaire, processed univariately, and presented in a frequency distribution table.Results: Most of the respondents' ages were in the no-risk category (60.0%), most of the respondents were in the primipara category (56.7%), most of the respondents worked as housewives (63.3%), most of the respondents experienced mild anxiety (56.7%), most of the mothers were compliant in taking iron supplements (56.7%), most of the pregnant women routinely had antenatal care check-ups (83.4%). Conclusion: Most pregnant women experience mild anxiety during pregnancy leading up to delivery and their antenatal care visits are fairly routine. Suggestion: Promising educational activities about anxiety during pregnancy as well as synchronization and monitoring of the welfare of pregnant women continue to be improved through the Posyandu program and pregnancy classes, as well as coordinated facilitation of childbirth preparation needs to facilitate the mental preparation of mothers before childbirth. Keywords: Anxiety, Third Trimester Pregnant Women, and Childbirth Preparation
The Relationship Between Age And Mothers' Knowledge Of Post Immunization Adverse Events (AEFI) In Infants Aged 0-1 Years Safitri, Citra Adityarini; Hety, Dyah Siwi; Susanti, Ika Yuni; Kurniawati, Evi
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23725

Abstract

Latar Belakang: Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dan terbukti mampu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin (Preventable Diseases). Data prevalensi KIPI di berbagai negara dan di Indonesia menunjukkan bahwa reaksi lokal ringan adalah jenis KIPI yang paling sering dilaporkan. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat bahwa sekitar 33,4% anak mengalami KIPI. Gejala umum yang dilaporkan meliputi bengkak (20,2%), kemerahan (20,6%), dan demam tinggi (6,8%).Tujuan: Mengetahui hubungan usia dengan pengetahuan ibu dalam cara penanganan KIPI (kejadian ikutan pacsa imunisasi) pada  bayi usia 0-1 tahun.Metode:  Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah desain cross-sectional. Jumlah populasi yang menjadi target penelitian adalah 56 responden, yang kemudian diambil sampelnya sebanyak 40 responden. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik accidental sampling. Instrumen menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur variabel usia dan pengetahuan. Selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan uji chi square.Hasil: Data yang diperoleh menunjukkan bahwa proporsi responden dengan pengetahuan baik mencapai 42,5%, dan mayoritas responden (52,5%) degan usia reproduksi aktif (18-35 tahun). Hasil analisis inferensial dengan uji Chi Square memperkuat temuan ini, menunjukkan bahwa variabel usia dan pengetahuan ibu terkait secara signifikan dengan penanganan KIPI pada bayi usia 0-1 tahun, dengan nilai probabilitas sebesar p = 0.000.Kesimpulan: Usia dapat mempengaruhi pengetahuan ibu terhadap tata cara penanganan kejadian KIPI pada bayi usia 0-1 tahun di Klinik Kalimantan, Gresik.Saran: Melakukan sosialisasi dan KIE mengenai program imunisasi, termasuk pemaparan tentang reaksi samping yang mungkin muncul, akan mengurangi kekhawatiran dan ketakutan ibu. Kata Kunci : Usia, Pengetahuan, KIPI, Bayi ABSTRACT Background: Immunization is one of the most effective public health interventions and has been proven to reduce morbidity and mortality rates from vaccine-preventable diseases. Prevalence data on adverse events following immunization (AEFI) in various countries and in Indonesia show that mild local reactions are the most commonly reported type of AEFI. In Indonesia, data from the 2013 Basic Health Research (Riskesdas) recorded that approximately 33.4% of children experienced AEFI. Common symptoms reported included swelling (20.2%), redness (20.6%), and high fever (6.8%).Objective: To identify the relationship between age and maternal knowledge in handling post-immunization adverse events in infants aged 0-1 year.Method:  The methodology used in this study was a cross-sectional design. The target population was 56 respondents, from which a sample of 40 respondents was taken. Sampling was conducted using accidental sampling techniques. The instrument used was a structured questionnaire to measure the variables of age and knowledge. The data were then analyzed statistically using the chi-square test.Results: The data obtained showed that the proportion of respondents with good knowledge reached 42.5%, and the majority of respondents (52.5%) were of active reproductive age (18-35 years). The results of the inferential analysis using the chi-square test reinforced these findings, showing that the variables of age and maternal knowledge were significantly related to the management of AEFI in infants aged 0-1 year, with a probability value of p = 0.000.Conclusion: Age can influence mothers' knowledge of how to handle KIPI in infants aged 0-1 year at the Kalimantan Clinic, Gresik.Suggestion: Conducting socialization and KIE (information, education, and communication) about the immunization program, including explanations about possible side effects, will reduce mothers' concerns and fears. Keywords: Age, Knowledge, KIPI, Infants 
Analysis Of Factors Affecting Dental Caries In Stunted Toddlers Sumirat, Cahyati; Diana, Sulis; Anggreni, Dhonna; Mahmudah, Rifaatul Laila; Wari, Fitria Edni
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i12.23343

Abstract

Latar Belakang: Stunting dan karies gigi masih menjadi masalah kesehatan yang serius pada balita di Indonesia. Balita yang mengalami stunting berisiko lebih tinggi terkena karies gigi akibat gangguan pertumbuhan dan pola makan yang terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi karies gigi pada balita yang mengalami stunting di Pusat Kesehatan Masyarakat Sooko, Kabupaten Mojokerto.Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik sampling simple stratified random sampling pada 85 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dari balita yang mengalami stunting memiliki pengetahuan yang baik (43,5%), perilaku positif (30%), dan jumlah keluarga besar yang mengalami stunting (37,1%). Sebanyak 49,4% balita tidak memiliki riwayat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan 30% balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif tidak mengalami stunting. Sebagian besar ibu memiliki penghasilan di bawah upah minimum (52,4%), dan 52,4% balita dengan variasi pola makan tertentu mengalami karies. 25,9% balita yang tinggal di lingkungan miskin mengalami stunting. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa pengetahuan ibu (p=0,007), riwayat BBLR (p=0,043), dan asupan makanan (p=0,000) memiliki pengaruh yang signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan makanan (p=0,000), faktor ibu (p=0,002), dan insidensi stunting (p=0,000) memiliki pengaruh terhadap karies. Di sisi lain, perilaku ibu (p=0,641), jumlah anggota keluarga (p=0,052), ASI eksklusif (p=0,092), pola makan (p=0,998), pendapatan keluarga (p=0,465), dan sanitasi lingkungan (p=0,522) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap karies gigi.Kesimpulan: Pencegahan karies gigi dapat dilakukan melalui pendidikan, meningkatkan pengetahuan ibu, memperbaiki pola makan anak-anak, dan meningkatkan kebersihan lingkungan dan sanitasi. Kata Kunci: Karies Gigi, Stunting, Pengetahuan Ibu, Pola Makan, Sanitasi ABSTRACT Background: Stunting and dental caries are still high health problems in toddlers in Indonesia. Stunted toddlers are at greater risk of caries due to growth disorders and disturbed eating patterns. This study aims to analyze the factors that influence dental caries in stunted toddlers at Sooko Community Health Center Mojokerto Regency.Method: The research design used a cross-sectional approach with simple stratified random sampling technique on 85 respondents. Data were collected through interviews using a questionnaire, and analyzed univariately, bivariately, and multivariately.Results: The results showed that most mothers of stunted toddlers had good knowledge (43.5%), positive behavior (30%) and the number of large families experiencing stunting (37.1%). A total of 49.4% of toddlers did not have a history of LBW, and 30% of toddlers who did not get exclusive breastfeeding did not experience stunting. Most mothers had an income below the minimum wage (52.4%) and 52.4% of toddlers with certain dietary variations had caries. 25.9% of children under five who lived in poor neighborhoods were stunted. Logistic regression test showed that maternal knowledge (p=0.007), LBW history (p=0.043), and food intake (p=0.000) had a significant effect. Multivariate analysis showed that food intake (p=0.000), maternal factors (p=0.002), and the incidence of stunting (p=0.000) had an effect on caries. In contrast, maternal behavior (p=0.641), number of family members (p=0.052), exclusive breastfeeding (p=0.092), diet (p=0.998), family income (p=0.465), and environmental sanitation (p=0.522) had no significant effect on dental caries.Conclusion: Prevention of dental caries can be done through education, increasing maternal knowledge, improving children's diet, and improving environmental hygiene and sanitation. Keywords: Dental Caries, Stunting, Maternal Knowledge, Diet, Sanitation

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 12 (2025): Volume 11 No 12 Desember 2025 Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025 Vol 11, No 10 (2025): Volume 11 No 10 Oktober 2025 Vol 11, No 9 (2025): Volume 11 Nomor 9 September 2025 Vol 11, No 8 (2025): Volume 11 Nomor 8 Agustus 2025 Vol 11, No 7 (2025): Volume 11, Nomor 7 Juli 2025 Vol 11, No 6 (2025): Volume 11 No 6 Juni 2025 Vol 11, No 5 (2025): Volume 11 No 5 Mei 2025 Vol 11, No 4 (2025): Volume 11 No 4, April 2025 Vol 11, No 3 (2025): Volume 11 No 3 Maret 2025 Vol 11, No 2 (2025): Volume 11 No 2 Februari 2025 Vol 11, No 1 (2025): Volume 11 No 1 Januari 2025 Vol 10, No 12 (2024): Volume 10 No.12 Desember 2024 Vol 10, No 11 (2024): Volume 10 No.11 November 2024 Vol 10, No 10 (2024): Volume 10 No.10 Oktober 2024 Vol 10, No 9 (2024): Volume 10 No.9 September 2024 Vol 10, No 8 (2024): Volume 10,No.8 Agustus 2024 Vol 10, No 7 (2024): Volume 10,No.7 Juli 2024 Vol 10, No 6 (2024): Volume 10,No.6 Juni 2024 Vol 10, No 5 (2024): Volume 10,No.5 Mei 2024 Vol 10, No 4 (2024): Volume 10,No.4 April 2024 Vol 10, No 3 (2024): Volume 10,No.3 Maret 2024 Vol 10, No 2 (2024): Volume 10,No.2 Februari 2024 Vol 10, No 1 (2024): Volume 10, No 1 Januari 2024 Vol 9, No 4 (2023): Volume 9 No. 4 Oktober 2023 Vol 9, No 3 (2023): Volume 9 No. 3 Juli 2023 Vol 9, No 2 (2023): Volume 9 No.2 April 2023 Vol 9, No 1 (2023): Volume 9 No.1 Januari 2023 Vol 8, No 4 (2022): Volume 8 No.4 October 2022 Vol 8, No 3 (2022): Volume 8 No.3 July 2022 Vol 8, No 2 (2022): Vol 8.No.2.April 2022 Vol 8, No 1 (2022): Vol. 8 No. 1, Januari 2022 Vol 7, No 4 (2021): Vol.7 No.4 Oktober 2021 Vol 7, No 3 (2021): Vol.7 No.3 Juli 2021 Vol 7, No 2 (2021): Vol.7 No.2 April 2021 Vol 7, No 1 (2021): Volume 7,Nomor 1,Januari 2021 Vol 6, No 4 (2020): Volume 6 Nomor 4 Oktober 2020 Vol 6, No 3 (2020): Volume 6 Nomor 3 Juli 2020 Vol 6, No 2 (2020): Volume 6 Nomor 2 April 2020 Vol 6, No 1 (2020): Volume 6,Nomor 1,Januari 2020 Vol 5, No 4 (2019): volume 5 Nomor 4 Oktober 2019 Vol 5, No 3 (2019): Volume 5 Nomor 3, Juli 2019 Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 April 2019 Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 januari 2019 Vol 4, No 4 (2018): Volume 4 Nomor 4 Vol 4, No 3 (2018): Volume 4 Nomor 3 Vol 4, No 2 (2018): Volume 2 Nomor 2 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 Vol 3, No 4 (2017): Volume 3 Nomor 4 Vol 3, No 3 (2017): Volume 3 Nomor 3 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 Vol 2, No 4 (2016): Volume 2 Nomor 4 Vol 2, No 3 (2016): Volume 2 Nomor 3 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 Vol 1, No 3 (2015): Volume 1 Nomor 3 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 More Issue