cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
Pengaruh Bioenhancer Lidah Buaya terhadap Stabilitas Sediaan Emulgel Ekstrak Moringa oleifera L Adlina, Salsabila; Vikandari, Sonya Nurizki; Nofriyaldi, Ali; Putri, Desara Eka
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.960

Abstract

Di daerah tropis, paparan sinar ultraviolet (UV) yang intens menjadi salah satu faktor utama pemicu penuaan dini kulit melalui aktivasi pembentukan radikal bebas. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh bioenhancer lidah buaya (Aloe vera L) terhadap stabilitas fisik dan kimia sediaan emulgel berbasis ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam.). Ekstrak daun kelor diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70?%, kemudian diformulasikan ke dalam emulgel dengan variasi konsentrasi ekstrak 0?%, 1?%, 2?%, dan 3?% serta penambahan lidah buaya pada konsentrasi 3,5?%. Sediaan diuji kestabilan fisik-kimianya meliputi konsistensi, nilai pH, dan viskositasmenggunakan metode cycling test pada suhu 4?°C dan 40?°C. Hasil menunjukkan bahwa semua formulasi stabil, dengan pH tetap pada 5,8?±?0,2 tanpa fluktuasi signifikan dan viskositas yang relatif stabil pada rentang 21.000 – 23.000 cPs. Tidak terjadi perubahan warna, endapan, atau pemisahan fase, menandakan kestabilan fisik yang baik. Semua formulasi memiliki tekstur homogen dan mudah diaplikasikan, namun formulasi dengan konsentrasi 3?% ekstrak daun kelor dan 3,5?% lidah buaya menunjukkan kinerja terbaik dalam hal stabilitas dan kesesuaian penggunaan topikal. Dengan demikian, penambahan lidah buaya sebagai bioenhancer secara signifikan meningkatkan kinerja emulgel ekstrak daun kelor, menjadikannya kandidat potensial sebagai sediaan kosmetik atau dermatologis alami untuk perlindungan kulit dari dampak UV di lingkungan tropis.
Potensi Antibakteri Madu Multiflora dan Bee Pollen dari Lebah Madu Eropa (Apis mellifera) dalam Menghambat Pertumbuhan Cutibacterium acnes Jannah, Vita Wardah Nur; Rini, Chylen Setiyo
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.964

Abstract

Jerawat adalah kondisi kulit di mana pori-pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, serta aktivitas bakteri C. acnes. Madu multiflora dan bee pollen merupakan produk lebah yang mengandung senyawa bioaktif dan memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini menggunakan teknik difusi cakram dengan pengulangan sebanyak tiga kali (n=3) dengan konsentrasi 25% b/v, 50% b/v, 75% b/v, dan 100% b/v untuk madu dan bee pollen, serta kombinasi dengan perbandingan 1MM:3BP, 1MM:1BP, 3MM:1BP, tetrasiklin 50 mg/ml sebagai kontrol positif dan aquades steril sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan bahwa madu, bee pollen, dan kombinasinya memiliki potensi antibakteri terhadap pertumbuhan C. acnes. Madu multiflora dan bee pollen memiliki penghambatan terkuat pada konsentrasi 100%, yaitu 27,71 mm (kategori kuat) untuk madu multiflora dan 18,26 mm (kategori sedang) untuk bee pollen. Kombinasi 3MM:1BP memberikan zona hambat tertinggi sebesar 29,81 mm (kategori kuat) dan menunjukkan hasil yang lebih efektif dibanding madu, bee pollen, dan kombinasi lainnya.
Flavonoid Identification and Antioxidant Activity of Graded Extracts from Kesambi (Schleichera oleosa) Leaves Hanifah, Vika; Febrina, Dina; Rahmawati, Nur
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.971

Abstract

Flavonoids are secondary metabolites widely distributed in plants and are recognized for their antioxidant potential, which plays a vital role in neutralizing free radicals and protecting against oxidative stress. Schleichera oleosa (kesambi) leaves are known to contain bioactive compounds, yet comprehensive studies on their flavonoid composition and antioxidant activity remain limited. This study aimed to identify flavonoid groups present in graded extracts of kesambi leaves and to evaluate their antioxidant activity. Graded maceration was performed sequentially with solvents of increasing polarity (n-hexane, ethyl acetate, and methanol). Flavonoids were identified through colorimetric reactions using specific reagents, while antioxidant activity was determined using the DPPH radical scavenging assay, with IC?? values calculated by linear regression. The results showed that n-hexane extract contained flavanones, ethyl acetate extract contained flavones, isoflavones, and flavonols, while methanol extract contained chalcones and aurones. Antioxidant testing revealed that methanol extract exhibited the strongest activity (IC?? = 9.65 ± 0.81 ppm), categorized as very strong, whereas ethyl acetate (IC?? = 102.46 ± 6.82 ppm) and n-hexane (IC?? = 141.67 ± 15.74 ppm) showed moderate activity. These findings confirm that solvent polarity greatly influences both flavonoid composition and antioxidant potency, with methanol extract emerging as the most promising natural antioxidant source. The study provides scientific support for the traditional use of kesambi leaves and highlights their potential for pharmaceutical and nutraceutical applications.
Pengaruh Konsentrasi, Suhu dan Waktu Fermentasi Kombucha Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Escherichia coli Triyani, Triyani; Rahmawati, Ismi; Indrayati, Ana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.978

Abstract

Kombucha menggunakan kultur simbiotik (SCOBY) memiliki aktivitas antibakteri. Fermentasi kombucha dipengaruhi konsentrasi, suhu dan waktu untuk mendapatkan produk metabolit. Bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu, waktu dan konsentrasi fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri E. coli. Fermentasi kombucha rosella dilakukan dengan variasi konsentrasi 30, 40, dan 50%, suhu fermentasi 25, 4, dan 37°C, dan lama fermentasi 7, 14, dan 21 hari. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Pengamatan kebocoran ion dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap ketebalan SCOBY. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal SCOBY, hasil konsentrasi 50%, suhu 37°C dan waktu 21 hari menghasilkan ketebalan SCOBY 1,3 cm. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap pH dan % total asam. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal asam dan jumlah total asam makin meningkat. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri E. coli menunjukkan semua hasil fermentasi berbeda secara signifikan dengan kontrol negatif. Kombucha yang difermentasi dengan konsentrasi 50% pada suhu 37°C selama 21 hari memiliki perbedaan signifikan dibanding kelompok lain dalam menghambat E. coli dengan nilai Sig. (p-value) < 0,05. Hasil uji aktivitas antibakteri kombucha uji teraktif pada fermentasi dengan konsentrasi 50%, suhu 37C, hari ke-21 zona hambat sebesar 16,7 ± 0,10 mm. Konsentrasi Bunuh Minimal kombucha rosella pada konsentrasi 25%. Hasil AAS membuktikan adanya kebocoran membran sel dengan peningkatan ion K? dan Ca²? dibandingkan tanpa perlakuan.
Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Emulgel Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Tabir Surya Nurjanah, Mirda Kharisma; Mirawati, Mirawati; Najib, Ahmad
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.988

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kulit, termasuk penuaan dini hingga resiko kanker kulit. Penggunaan tabir surya menjadi salah satu langkah protektif yang penting. Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) diketahui memiliki senyawa aktif, seperti xanton, yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan pelindung UV alami. Xanton yang berkhasiat sebagai antioksidan mempunyai potensi sebagai tabir surya yang mampu menyerap sinar UV-A maupun UV-B sehingga mengurangi intensitas pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi sifat fisik sediaan emulgel tabir surya ekstrak etanol kulit buah manggis. Metode penelitian meliputi proses ekstraksi kulit buah manggis secara maserasi dengan etanol 96%, dilanjutkan dengan optimasi formulasi emulgel menggunakan gelling agent Carbopol 940 dengan variasi konsentrasi 0,5%; 0,75%; 0,85% dan 1%. Selanjutnya, dilakukan formulasi sediaan emulgel hasil optimasi yang optimal (paling baik) yaitu dengan penambahan Carbopol 940 0,75%; 0,85% dan 1% dan penambahan ekstrak kulit buah manggis sebagai zat aktif tabir surya. Evaluasi dilakukan terhadap beberapa parameter fisik sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan (cycling test) dengan jumlah sampel triplo untuk masing-masing formula yang meliputi uji : organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan tipe emulsi serta uji nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis.  Hasil menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan emulgel yang stabil secara fisik dan memenuhi persyaratan sediaan topikal. Nilai SPF sediaan mengalami penurunan jika dibandingkan ekstrak (nilai SPF ekstrak = 45,17), tetapi nilai SPF sediaan (nilai SPF sediaan [F1= 25,03], [F2= 25,67], [F3= 25,75]) lebih tinggi dibanding dengan nilai SPF kontrol negatif / sediaan tanpa ekstrak (nilai SPF = 16,90). Dari nilai SPF tersebut, dapat diketahui bahwa emulgel yang dihasilkan memiliki aktivitas sebagai tabir surya dengan kategori proteksi ultra.
Efektivitas Pemberian Krim Ekstrak Daun Teh-Tehan (Acalypha siamensis) Sebagai Penyembuhan Luka Bakar Pada Kelinci Jantan Windayani, Wulan Tri; Nofita, Nofita; Lestari, Yovita Endah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.998

Abstract

Teh-Tehan (Acalypha siamensis) merupakan tumbuhan yang memiliki efektivitas sebagai penyembuhan luka dengan dibuat dalam bentuk sediaan krim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan konsentrasi ekstrak yang efektif dalam efektivitas penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand putih jantan menggunakan ekstrak daun teh-tehan. Metode ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 70%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam formula sediaan krim ekstrak daun teh-tehan yaitu F1 (3%), F2 (5%), F3 (10%). Kontrol positif (K+) krim asam hialuronat, kontrol negatif (K-) sediaan krim tanpa ekstrak dan kontrol normal K(n). Hasil pengujian luka bakar yaitu K(+), F2 dan F3 sama efektivitasnya dalam penyembuhan luka dapat dilihat dari hasil makroskopis nagaoka dengan skor 7. Namun, berdasarkan waktu penyembuhan F3 lebih baik dalam penyembuhan luka dibandingkan dengan F2. F1, K(-) dan K(n) menunjukkan penyembuhan yang paling lambat berdasarkan waktu penyembuhan. Konsentrasi ekstrak sebesar 10% memberikan efektivitas penyembuhan yang lebih efektif dalam penyembuhan luka bakar. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka memberikan hasil yang maksimal.
Kulit Batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb) Miq.): Flavonoid dan Fenolik Total serta Uji Aktivitas Antifungi Bakri, Nur Fadilah; Tobi, Claudius Hendraman B.; Muayyidah, Nurita A. S.; Rusnaeni, Rusnaeni; Appa, Felycitae Ekalaya; Dewi, Krisna; Pratiwi, Rani Dewi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.1003

Abstract

Pemanfaatan tanaman alam sebagai antifungi alami telah menjadi fokus perhatian dalam bidang kesehatan dan pengobatan karena keunggulan mereka dalam memberikan alternatif terhadap antifungi sintetis yang sudah ada yang semakin rentan terhadap resistensi mikroorganisme khususnya fungi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antifungi dari ekstrak kulit batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb) Miq.) dan menentukan kadar flavonoid dan fenoliknya. Metode spektrofotometri digunakan untuk menentukan kadar flavonoid dan fenolik total sedangkan untuk pengujian aktivitas antifungi menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid total sebesar 59.457 mgQE/g ± 0.577 dan kadar fenolik total sebesar 102.931 mgGAE/g ± 1.034, hasil ini menunjukkan kadar fenolik total lebih tinggi dibandingkan dengan kadar flavonoid total. Adapun uji aktivitas antifungi menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit batang Jabon tidak menunjukkan daya hambat pada fungi Candida albicans dan Aspergillus brasiliensis baik pada uji difusi maupun dilusi cair. Sedangkan kontrol positif (Ketoconazole) memiliki aktivitas antifungi yaitu memiliki diameter daya hambat 30.39 mm terhadap Candida albicans dan 18.46 terhadap Aspergillus brasiliensis. Pada uji dilusi cair kontrol positif menunjukkan tidak adanya pertumbuhan fungi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi positif antara kadar flavonoid dan fenolik dengan aktivitas sebagai antifungi dalam penelitian ini.
Aktivitas Antiinflamasi Nanoemulsi Ekstrak Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L.) pada Mencit Jantan yang Di induksi Karagenan Widiantara, Komang Rian; Leticia, Dewa Ayu Putu Maylani; Wardani, Ni Nyoman Putri; Artawan, Dewa Gede Wira Putra; Dewi, Putu Claudia Sekar Sariyanti; Yadnya-Putra, Anak Agung Gede Rai
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.1004

Abstract

Inflamasi merupakan respon fisiologis tubuh terhadap cedera jaringan akibat trauma fisik, kimia, atau mikrobiologik. Terapi menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan steroid sering menimbulkan efek samping serius, sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Kunyit (Curcuma longa L.) diketahui mengandung senyawa kurkuminoid, terutama kurkumin, yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Namun, bioavailabilitas kurkumin yang rendah membatasi efektivitasnya, sehingga dikembangkan dalam bentuk nanoemulsi untuk meningkatkan kelarutan dan penetrasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antiinflamasi nanoemulsi ekstrak kunyit serta menentukan dosis optimum terhadap mencit jantan yang diinduksi karagenan 1%. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode Ultrasound Assisted Extraction dengan pelarut etanol 96%, diikuti pembuatan nanoemulsi melalui metode emulsifikasi energi rendah menggunakan VCO, PEG 40, dan PEG 400. Nanoemulsi dievaluasi secara fisik (organoleptik, pH, viskositas, stabilitas, ukuran partikel). Rata-rata ukuran partikel sebesar 67,72 ± 1,21 nm yang berada dalam rentang ukuran nanoemulsi (20-200 nm). Uji aktivitas antiinflamasi menggunakan metode induksi karagenan menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit menurunkan volume peradangan relatif secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (Kruskal-Wallis, p = 0,009). Nilai Area Under Curve (AUC) menurun seiring peningkatan dosis, dengan hasil terbaik pada dosis 200 mg/kgBB, mendekati efektivitas kontrol positif (kalium diklofenak 6,5 mg/kgBB). Begitu pula dengan persentase hambatan peradangan yang cukup tinggi pada menit ke-300 sebesar 83,07% (200 mg/kgBB). Hasil ini menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit berpotensi sebagai kandidat sediaan antiinflamasi alami yang efektif, uji lanjutan diperlukan uji toksisitas, stabilitas jangka panjang, serta uji klinis lebih lanjut guna menjamin mutu dan keamanan sediaan.
Potensi Bioaktif Ekstrak Bunga Kangkung Pagar (Ipomoea carnea Jacq.) Menghambat Alfa-Amilase dan Alfa-Glukosidase: In Vivo–In Silico Usman, Fityatun; Zulkifli, Zulkifli; Nurfadilah, Nurfadilah; Rasyid, Andi Ulfah Magefirah; Hardiyanti, Widya; Prasetya, Andi Utari; Fadilah, Nurul Amalia; Khairuddin, Khairuddin; Ilham, Ilham; Aldina, Putri Awaliah; Hamzah, Muhammad Ilham
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.1006

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Penghambatan enzim ?-amilase dan ?-glukosidase menjadi strategi terapi efektif dalam mengendalikan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi antidiabetik ekstrak bunga kangkung pagar (Ipomoea carnea Jacq.) melalui pendekatan in vivo dan in silico. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) dengan etanol 96%. Skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, saponin, dan fenol. Studi molecular docking dilakukan terhadap enzim ?-amilase (1B2Y) dan ?-glukosidase (5NN8) menggunakan senyawa aktif n-hexadecanoic acid, caryophyllene, germacrene D, dan docosane. Hasil menunjukkan germacrene D memiliki afinitas pengikatan terkuat terhadap ?-glukosidase (-7,5 kcal/mol), melebihi acarbose (-7,1 kcal/mol). Caryophyllene menunjukkan afinitas tertinggi terhadap ?-amilase (-6,8 kcal/mol). Uji in vivo menggunakan 25 ekor tikus putih jantan yang diinduksi streptozotocin menunjukkan pemberian ekstrak dosis 100 dan 150 mg/kg BB selama 14-21 hari mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p < 0,01). Dosis 150 mg/kg BB memberikan efek optimal yang sebanding dengan acarbose. Mekanisme hipoglikemik diduga melalui aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan perbaikan sensitivitas insulin. Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak bunga kangkung pagar berpotensi sebagai agen antidiabetik alami yang efektif dan dapat dikembangkan sebagai alternatif fitoterapi untuk pengelolaan diabetes melitus. Kata Kunci : Ipomoea carnea Jacq., antidiabetik, ?-amilase, ?-glukosidase, , molecular docking, streptozotocin, hipoglikemia ABSTRAK Type 2 diabetes mellitus is a global health problem with macrovascular and microvascular complications. Inhibition of ?-amylase and ?-glucosidase enzymes is an effective therapeutic strategy for controlling hyperglycemia. This study aims to evaluate the antidiabetic potential of water spinach flower extract (Ipomoea carnea Jacq.) through in vivo and in silico approaches. Extraction was performed using the Microwave-Assisted Extraction (MAE) method with 96% ethanol. Phytochemical screening showed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, and phenols. Molecular docking studies were conducted on ?-amylase (1B2Y) and ?-glucosidase (5NN8) enzymes using the active compounds n-hexadecanoic acid, caryophyllene, germacrene D, and docosane. The results showed that germacrene D had the strongest binding affinity to ?-glucosidase (-7.5 kcal/mol), exceeding that of acarbose (-7.1 kcal/mol). Caryophyllene showed the highest affinity to ?-amylase (-6.8 kcal/mol). In vivo testing using 25 male white rats induced with streptozotocin showed that concentration of 100 and 150 mg/kg BW doses of the extract for 14-21 days significantly reduced blood glucose levels (p <0.01). The 150 mg/kg BW dose provided an optimal effect comparable to acarbose. The hypoglycemic mechanism is thought to be through anti-inflammatory, antioxidant, and insulin sensitivity improvement activities. This study proves that water spinach flower extract has the potential to be an effective natural antidiabetic agent and can be developed as a phytotherapy alternative for diabetes mellitus management. Keywords : Ipomoea carnea Jacq., antidiabetic, ?-amilase, ?-glukosidase, , molecular docking, streptozotocin, hipoglycemia
Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 96% Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Berdasarkan Variasi Ukuran Partikel Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Husna, Hafizatul; Rohama, Rohma; Hastika, Febby Yulia; Hakim, Ali Rakhman
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.1010

Abstract

Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional adalah daun sembung (Blumea balsamifera L.). Secara empiris, daun sembung dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat penurun demam. Metabolit sekunder yang terdapat pada daun sembung salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid berfungsi sebagai penurun demam (antipiretik), antioksidan, dan antiinflamasi. Dalam proses ekstraksi, ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, diketahui ukuran partikel yang lebih kecil menghasilkan kadar flavonoid yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode penelitian ini yaitu deskriptif observasional hanya mendeskripsi penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel mesh 40/60 dan mesh 60/80. Hasil penelitian pada analisis kualitatif senyawa flavonoid menunjukkan hasil positif, ditandai dengan perubahan warna menjadi hijau kehitaman. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 40/60 mengandung flavonoid sebesar 108,3 ± 0,10 mg QE/g (10,83%) sedangkan ukuran partikel mesh 60/80 sebesar 121 ± 0,14 mg QE/g (12,1%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kadar flavonoid total dalam ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 60/80 menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran mesh 40/60.