cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 334 Documents
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Semarang Iktsiroh, Firna Fauzul; Keswara, Yane Dila; Laksmita, Meirisa Mona
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.841

Abstract

Antibiotik merupakan obat untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak efektif dapat menjadi penyebab resistensi antibiotik. Salah satu strategi untuk menanggulangi permasalahan resistensi antibiotik diperlukan evaluasi penggunaan antibiotik untuk menentukan penggunaan obat secara bijak. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini yaitu melakukan observasi dan analisis terhadap pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Semarang tahun 2022 dalam profil penggunaan antibiotik. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif dan metode pengumpulan data berupa retrospektif. Selanjutnya teknik untuk mengambil sampel mengimplementasikan purposive sampling dengan kriteria inklusi, yaitu pasien rawat inap yang didiagnosis penyakit infeksi bakteri, menjalani terapi antibiotik berkode Antibacterials for systemic use (J01), dan pasien rawat inap berusia 19-59 tahun. Sementara, kriteria ekslusi yaitu antibiotik yang digunakan tidak berkode ATC. Selanjutnya metode analisis data secara kuantitatif mengimplementasikan metode ATC/DDD (Anatomical Therapeutic Chemical/DefIned Daily Dose) dan DU 90% (Drug Utilizaton 90%). Temuan dalam penelitian ini merepresentasikan total penggunaan antibiotik sebesar 97,55 DDD/100 patien-days dengan total LOS (Lenght Of Stay) pasien yaitu 5456 hari. Antibiotik dengan nilai penggunaan tertinggi pada antibiotik spektrum luas golongan sefalosporin generasi 3 yaitu ceftriaxone sebesar 34,95 DDD/100 patien-days. Kemudian, untuk antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% diantaranya ceftriaxone (35,83%), levofloxacin parenteral (35,27%), ampicillin sulbactam (13,37%), dan levofloxacin oral (4,56%), sehingga perlu lebih ditekankan terkait evaluasi, perencanaan pengadaan obat, serta pengendalian penggunaannya.
Uji Aktivitas Hepatoprotektor Tablet Curcuma® terhadap Kadar SGPT dan SGOT pada Tikus yang Diinduksi Isoniazid Simanullang, Gayatri; Nabila, Novrilia Atika; Rahayyu, Annisa Maulidia; Wardani, Intan Kusuma; Hammami, Akmal
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.848

Abstract

Isoniazid (INH) merupakan obat anti tuberkulosis yang penggunaannya dapat menimbulkan efek samping berupa hepatotoksisitas. Kondisi ini dapat dipantau melalui peningkatan kadar enzim hati, yaitu serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT). Oleh karena itu, diperlukan suatu agen pelindung untuk meminimalisir efek samping hepatotoksik yang ditimbulkan. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dikenal memiliki aktivitas hepatoprotektor yang berpotensi melindungi hati dari kerusakan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sediaan tablet Curcuma® terhadap kadar SGPT dan SGOT pada tikus putih jantan yang diinduksi INH, serta menganalisis korelasi antara dosis Curcuma® dengan penurunan kadar kedua enzim hati tersebut. Metode pada penelitian ini yaitu menggunakan hewan uji berupa tikus putih jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok dengan pemberian dosis INH yang sama: kelompok 1 diberikan INH 5,4 mg/kgBB, kelompok 2 curcuma® 0,36 mg/kgBB + INH, dan kelompok 3 curcuma® 0,72 mg/kgBB + INH. Perlakuan diberikan selama 14 hari secara oral untuk diukur kadar SGPT dan SGOT, rasio berat hati, serta pengamatan makroskopis hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian curcuma® memberikan efek yang berbeda pada kelompok 2 dan 3. Pada kelompok 3, kadar SGPT dan SGOT mengalami penurunan. Sedangkan, pada kelompok 2 hanya kadar SGPT yang menurun, untuk kadar SGOT mengalami peningkatan. Meskipun demikian, perbedaan penurunan kadar SGPT dan SGOT antara kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Rasio hati pada kelompok 1 (3,16%), kelompok 2 (2,83%), dan kelompok 3 (2,71%). Rasio hati pada kelompok 3 menunjukkan persentase yang lebih rendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Secara makroskopis, hati pada kelompok 3 memiliki warna segar, licin, dan kenyal, mendekati kondisi hati normal. Pemberian sediaan tablet curcuma® mampu melindungi hati dari kerusakan karena memiliki potensi sebagai hepatoprotektor terhadap tikus putih jantan yang diinduksi isoniazid.
Review : Alirocumab dan Evolocumab sebagai Agen Penurun Lipid Baru Alfatihah, Humaira Izka; Yulistiani, Yulistiani
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.849

Abstract

Angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular di seluruh dunia masih relatif tinggi. Salah satu faktor risikonya adalah LDL-C (low density lipoprotein cholesterol), di mana memodifikasi faktor ini diharapkan dapat mencegah kejadian kardiovaskular. Penghambat PCSK9 (proprotein convertase subtilisin/kexin type 9) adalah agen penurun lipid baru dengan mekanisme yang mempertahankan reseptor LDL-C di dalam darah. Untuk meninjau penelitian terbaru mengenai efektivitas dan keamanan agen penghambat PCSK9, Alirocumab dan Evolocumab, serta potensinya dalam menurunkan kadar lipid. Pencarian literatur menggunakan database elektronik PubMed dengan kata kunci ‘Alirocumab’, ‘Evolocumab’, ‘LDL-C’, ‘Kardiovaskular’, ‘Dislipidemia’, dengan kriteria 5 tahun terakhir dan teks lengkap dalam bahasa Inggris. Dari 12 artikel yang telah disaring kemudian akan direview. Nilai LDL-C menurun secara signifikan rata-rata 53% (11%-72%) dengan efek samping yang ringan, seperti nasofaringitis, diare, dan reaksi tempat suntikan. Alirocumab dan Evolocumab disuntikkan secara subkutan setiap 2 minggu atau 4 minggu. Penghambat PCSK9 berbasis antibodi monoklonal dapat menjadi alternatif untuk pencegahan kardiovaskular berisiko tinggi bagi pasien yang memiliki riwayat dosis statin yang dapat ditoleransi atau pasien yang tidak toleran terhadap statin.
Efektivitas Krim Ekstrak Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar dan Pertumbuhan Staphylococcus aureus Adnan, .Jumasni; Rahman, Nurmala; Selviana, Selviana; Juanti, Putri; Syarif, Hardiyanti
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.855

Abstract

Senyawa aktif dalam daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.), seperti flavonoid, tanin, dan antosianin berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka dan berfungsi  sebagai antibakteri. Dalam bentuk sediaan krim topikal, ekstrak ubi jalar ungu (I. batatas L.) efektif menyembuhkan luka bakar serta menghambat bakteri seperti Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas krim ekstrak ubi jalar ungu (I. batatas L.) terhadap penyembuhan luka bakar dan pertumbuhan bakteri S. aureus. Krim dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 3%, 5%, dan 8%. Uji efektivitas terhadap penyembuhan luka bakar pada punggung kelinci dibuat menggunakan lempeng koin logam dengan diameter 2,7 cm dan dipanaskan dengan lilin selama ± 5 menit dan pengujian efektivitas pertumbuhan bakteri S. aureus dengan metode difusi agar. Rata rata diameter penyembuhan luka pada  Kontrol negatif (2,74 cm + 0,02708), formula 1 (2,70 cm + 0,04320), formula 2 (2,70 cm + 0.05099 cm) dan formula 3 (2,69 cm + 0,05477) dan kontrol positif (2,59 cm + 0,16062), adapun hasil dari uji efektivitas terhadap pertumbuhan S. aureus dengan rata-rata diameter zona hambat  yaitu Kontrol negatif (3,9 + 3,37787) F1 (9,16  mm + 2,36714), F2 (9,6 mm + 3,03150, F3 (9,77 mm + 2,88675) , dan kontrol positif  (11,7 mm + 1,83576 ). Hasil uji menunjukkan bahwa krim ekstrak daun ubi jalar ungu secara statistik tidak berbeda signifikan (p > 0,05) dengan kontrol positif dan negatif, namun secara farmakologis mampu memperkecil diameter luka bakar. Sementara itu, uji antibakteri terhadap S. aureus menunjukkan aktivitas yang berbeda signifikan (p < 0,05) dibandingkan kontrol negatif.
Evaluasi Variasi Konsentrasi Asam Sitrat dan Natrium Bikarbonat Pada Sifat Fisik Granul Effervescent Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Ulhusna, Nida; Endriyatno, Nur Cholis
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.857

Abstract

Ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) mengandung senyawa flavonoid yang diketahui dapat digunakan sebagai antipiretik. Formulasi ekstrak daun belimbing wuluh dibuat dalam bentuk granul effervescent menggunakan variasi kosentrasi asam sitrat dan natrium bikarbonat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan variasi konsentrasi asam sitrat dan natrium bikarbonat berturut-turut yaitu FI (21%:34%), FII (23%:32%), dan FIII (25%:30%) terhadap sifat fisik granul effervescent sebelum dan sesudah rekonstitusi. Formulasi granul effervescent ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan dengan metode granulasi basah. Hasil penelitian menunjukan granul effervescent yang dihasilkan memenuhi syarat uji indeks kompresibilitas (FI 5,35±0,56%); FII (7,68±0,61%); FIII (9,7±0,60%), kecepatan alir (FI 13,33±0,24g/s); (FII 11,50±0,30g/s); (FIII 10,02±0,07g/s), sudut diam (FI 26,11±0,44°); (FII 27,62±0,67°); (FIII 29,73±0,34°), kadar air (FI 0,66±0,05%); (FII 1,13±0,06%); (FIII 1,48±0,06%), waktu larut (FI 1,84±0,05 menit); (FII 2,64±0,03 menit); (FIII 3,21±0,25 menit), tinggi buih (FI 3,23±0,15 cm); (FII 4,13±0,15 cm); (FIII 4,86±0,15 cm), dan pH (FI 5,70±0,12); (FII 5,27±0,09); (FIII 4,9±0,19). Keseluruhan evaluasi memenuhi persyaratan kecuali pH pada FIII. Pemilihan Formula terbaik didasarkan pada hasil uji sifat fisik dan karakteristik fisik sebelum dan sesudah rekonstitusi. FI merupakan formula terbaik karena memenuhi semua uji sifat fisik dan menunjukkan hasil yang paling dominan dibandingkan dua formula lainnya berdasarkan tinjauan antar asam sitrat dan natrium bikarbonat yang digunakan.
Metabolite Profiling and Anti-Inflammatory Potential of East Kolaka Forest Honey: Targeting Protein Denaturation through GC-MS/MS Characterization Hariana, Hariana; Wahyuni, Wahyuni; Irnawati, Irnawati; Fitrawan, La Ode Muhammad; Munasari, Dian; Yodha, Agung Wibawa Mahatva; Purnama, La Ode Muhammad Julian; Fristiohady, Adryan
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.860

Abstract

Forest honey is a natural product produced by wild bees that gather nectar from various types of flowers, creating a unique chemical composition influenced by the biodiversity of the surrounding environment. This honey contains bioactive compounds such as phenolics, flavonoids, terpenoids, and volatile substances that contribute to its pharmacological properties, particularly as an anti-inflammatory agent. This study aimed to identify bioactive compounds in forest honey from East Kolaka using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) and to evaluate its anti-inflammatory activity through in vitro assays, including red blood cell (RBC) membrane stabilization, protein denaturation inhibition, and nitric oxide (NO) production inhibition. GC-MS analysis revealed several volatile compounds with antioxidant, antimicrobial, and anti-inflammatory properties. The RBC membrane stabilization assay showed increased membrane stability as honey concentration increased, reaching 92.55% at 100 mg/L compared to 97.00% for sodium diclofenac. In the protein denaturation assay, East Kolaka forest honey had an IC?? value of 12.70?±?0.02?mg/L, categorized as moderate, while the NO inhibition assay recorded an IC?? of 2.97?±?1.34?mg/L, indicating strong activity, approaching that of vitamin C (1.07?±?0.39?mg/L). Statistical tests showed significant differences (p < 0.05) in all tested parameters compared to positive controls. These results support the potential of East Kolaka forest honey as a natural anti-inflammatory agent through mechanisms involving membrane stabilization, protein protection, and nitric oxide suppression.
Pengaruh Suhu Penyimpanan Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) Terhadap Aktivitas Antioksidan Handayani, Wike Deni Setyo; Febrina, Dina; Nawangsari, Desy
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.862

Abstract

Pandanus amaryllifolius Roxb atau daun pandan wangi diketahui memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori yang sangat kuat. Faktor lingkungan seperti kondisi pH, oksigen, cahaya dan suhu pada penyimpanan ekstrak dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan. Salah satu faktor penting dalam ketidakstabilan senyawa antioksidan pada ekstrak yaitu adanya perbedaan dalam suhu penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan ekstrak etanol daun pandan wangi terhadap aktivitas antioksidan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode DPPH. Ekstrak etanol dari daun pandan wangi disimpan dalam tiga kondisi suhu yang berbeda yaitu pada suhu 27±2 ? (suhu ruang), suhu 5±2 oC (suhu dingin), dan suhu -10±2 ? (suhu beku) selama 14 hari (2 minggu). Selanjutnya, ekstrak etanol daun pandan wangi diuji aktivitas antioksidannya pada hari ke-0 dan ke-14. Hasil aktivitas antioksidan pada hari ke-0 sebesar 37,47 ppm dan hari ke-14 disuhu ruang sebesar 54,03 ppm, suhu dingin sebesar 42,52 ppm, dan suhu beku sebesar 59,55 ppm. Hasil analisis ANOVA dan uji lanjutan post hoc Tukey menunjukkan adanya perbedaan nilai IC50 pada seluruh suhu penyimpanan. Hal ini menunjukkan bahwa suhu penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai IC50.
Antibacterial Activity of Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) Methanol Extract in Roll-On Deodorant against Staphylococcus epidermidis Dwisari, Fath; Dermawan, Abdurraafi' Maududi; Rahma, Nur Atika; Tjoadri, Tessa Nathalia; Abidin, Khoirul Rista
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.865

Abstract

Body malodor results from the bacterial breakdown of apocrine gland secretions, with Staphylococcus epidermidis identified as a key contributor. Conventional deodorants often rely on synthetic compounds that may cause skin irritation or pose long-term health risks. This study aimed to formulate and assess an antibacterial roll-on deodorant containing methanolic extract of Spatholobus littoralis Hassk., a Kalimantan-native medicinal plant known for its antibacterial properties. The extract, prepared via maceration, was incorporated into a multiphase emulsion base comprising zinc ricinoleate, aluminum potassium sulfate, Carbopol 940, triethanolamine, Lexemul CS20, BHT, and phenoxyethanol. The formulations were evaluated for their physicochemical characteristics—pH, spreadability, adhesiveness, and homogeneity—as well as antibacterial activity against S. epidermidis using the disc diffusion assay. The extract-containing formulations (F1–F3) exhibited a beige color, herbal aroma, and uniform texture. The pH values (4.12–4.35) were within the dermally acceptable range. The spreadability varied from 4.59 to 4.81?cm, while the adhesiveness ranged from 0.34?s to 5.25?min, indicating favorable application and retention properties. Antibacterial testing showed inhibition zones of 10.40–12.37?mm, comparable to a commercial control (p?>?0.05). These findings suggest that S. littoralis extract is a potential natural, skin-compatible antibacterial agent for topical deodorant applications
Formulation Optimization and Antibacterial Activity of Citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) Topical Gel Spray Against Staphylococcus aureus Using a Simplex Lattice Design Rajab, Muhammad Andy; Putri, Chintiana Nindya; Suryani, Arman; Salamah, Nina
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.867

Abstract

Atopic dermatitis is skin inflammation in the form of dermatitis caused by Staphylococcus aureus bacterial infection. Citronella essential oil has the potential as an active ingredient in spray gel preparations to help overcome atopic dermatitis due to Staphylococcus aureus bacterial infection. The aim is to determine the optimal spray gel formula from citronella essential oil (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) and antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria. The methods material optimized are Na-CMC, Propylene glycol, and tween 20. Evaluation of the preparation in the form of organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, drying time, spraying patterns, yeast mold numbers using the spread plate method, and antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria using the good diffusion method. The results of the concentration of Na-CMC: Propylene glycol: Tween 20 (0.27: 4.72: 10) produced an optimal preparation formula. The spray gel is milky white, has a distinctive lemongrass odor, and is slightly thick. The spray gel is homogeneous with a pH of 4.94 ± 0.16, a viscosity of 76.73 ± 7.01 cPs, and a drying time of 3.60 ± 0.40 minutes. The mold/yeast count test showed that the spray gel was free from mold/yeast contamination and was stable at storage temperatures of 4?C and 40?C. The results of antibacterial activity were able to inhibit Staphylococcus aureus bacteria with an inhibition zone diameter of 6.85 mm ± 2.80. Conclusion: Na-CMC concentration of 0.27%, Propylene Glycol concentration of 4.72%, and Tween 20 concentration of 10% produced optimal spray gel and inhibited Staphylococcus aureus.
Hypoglycemic Effect of Ethanol Extract of Snake Fruits Skin (Salacca edulis R.) in Rats (Rattus novergicus) Wistar Induced By Alloxan Mahulauw, Muhammad Azril Hardiman; Mewar, Djulfikri; Ibrahim, Marisa Anggia; Lihi, Maryam; Tukiman, Suryanti; Fajri, Muh. Danial; Hadijah, Sitti
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i2.874

Abstract

Objective: This study was conducted to determine the effect of reducing blood sugar levels from ethanolic extract of snake fruit peel on male Wistar rats induced by alloxan with fasting blood glucose (FBS) parameters. Method: A total of 30 male Wistar rats were divided into 6 groups (N = 5). Group I (normal control) was not given any treatment. Group II (negative control) was only induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats i.p. Group III (positive control) was induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with glibenclamide 0.9 mg/200gBW. Groups IV; V; VI were induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with ethanolic extract of snake fruit peel 2.88 mg/200gBW and 5.76 mg/200gBW; and 11.52 mg/200gBW. Snake fruit peel extract was given from the 4th day to the 27th day. Fasting blood glucose levels were measured on day 0, day 4, day 11, and day 28. Results: The results of qualitative research showed that snake fruit skin contains flavonoid and terpenoid compounds. This study also showed that male Wistar rats experienced a decrease in blood glucose but had not reached normal levels after being given extract doses I, II, and III with each final fasting glucose level of 347.98 mg/dL, 364.68 mg/dL, and 308.18 mg/dL. The final results of the study showed that there was normal fasting blood glucose levels in the positive group while the other groups did not. Conclusion: The dose of 11.52 mg/200gBW when compared to the negative group, doses I and II provided a significant effect of lowering blood glucose but were not yet able to lower blood glucose levels to normal.