cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
Tradisi Bubak Kawah dalam Perkawinan Masyarakat Adat Jawa Perspektif Islam Nusantara In’am, Salsabila; Muslimin, A.; Asnawi, Habib Shulthon; Nawawi, M. Anwar
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93341

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang pratik tradisi bubak kawah perspektif Islam Nusantara Desa Candra Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, yang melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji tradisi bubak kawah tersebut terdapat dalam pratiknya, seperti halnya memutari rumah 3 kali dan pembelian es cendol dengan menggunakan transaksi uang genting. Tradisi bubak kawah di Desa Candra Jaya harus dilakukan oleh anak pertama perempuan tidak boleh bungsu. Tradisi bubak kawah dalam pratiknya apakah menyimpang atau tidak dengan ajaran Islam, tetapi dilihat dari masyarakat Desa tersebut ada yang menyakini dan ada yang tidak karena dengan pratiknya dianggap seperti hal-hal yang menyimpang ajaran Islam namun tidak lain dengan masyarakat yang menyakini tradisi ini dengan alasan mengharap berkah dari Allah SWT dan rasa syukur orang tua karena sudah menikahkan anak pertamanya. Pratik tradisi bubak kawah menggambarkan adanya kultur antara Islam dan budaya. Artikel ini untuk mengkaji sinkretisme budaya dan agama, bagaimana Islam Nusantara menyikapi tradisi bubak kawah, serta relevansinya di masyarakat saat ini. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif, dengan pendekatan antropologi budaya dan menggunakan teknik pengumpulan data, observasi, dokumen dan wawancara. Sumber data diperoleh dari Tokoh Adat dan orang tua mempelai perempuan sebagai nara sumber data tradisi bubak kawah di Desa Candra Jaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi bubak kawah perspektif Islam Nusantara termasuk dalam Akulturasi antara Islam dan budaya, tidak menyimpang ajaran Islam, Akulturasi anatra Islam itulah yang dapat disebut kedalam Islam Nusantara. Tradisi bubak kawah ini perlu dilestarikan karena mengandung nilai Keislaman dalam budaya. Artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan, menginspirasi, dan menjaga budaya Islam Nusantara, dengan fatwa ulama sebagai refrensi bagi masyarakat dan peneliti. 
Eksistensi Keujreun Blang Dalam Hukum Adat Aceh: Antara Tradisi dan Modernisasi Iqbal, Muhammad; Ulya, Zaki; Natsir, Muhammad
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93525

Abstract

Keujreun Blang merupakan institusi adat yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan pertanian dan irigasi di Aceh. Keberadaannya sejak masa Kesultanan Aceh menempatkan Keujreun Blang sebagai bagian integral dari hukum adat yang mengatur pola tanam, distribusi air, dan penyelesaian sengketa agraria. Namun, modernisasi, intervensi kebijakan pemerintah, serta perubahan nilai sosial telah mendorong terjadinya pergeseran kewenangan yang memengaruhi eksistensinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran, kewenangan, serta tantangan Keujreun Blang dalam konteks modern, sekaligus mengaitkannya dengan teori teori hukum adat dan implikasinya terhadap pengembangan ilmu hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan hukum normatif yang dikombinasikan dengan analisis kualitatif. Data diperoleh melalui kajian literatur, regulasi adat, peraturan perundang-undangan, serta dilengkapi wawancara dengan informan kunci yang memahami praktik adat Keujreun Blang. Analisis dilakukan dengan menelaah hubungan antara norma hukum adat, praktik lapangan, dan teori hukum adat dalam konteks modernisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Keujreun Blang masih diakui sebagai otoritas lokal, terjadi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga formal seperti dinas pertanian dan pengairan. Keujreun Blang juga menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, modernisasi teknologi, serta menurunnya kepatuhan generasi muda terhadap hukum adat dan memperlihatkan bahwa perubahan kewenangan Keujreun Blang berimplikasi pada teori living law dan pluralisme hukum, di mana hukum adat tetap eksis sepanjang mendapat pengakuan sosial meskipun berada dalam tekanan hukum formal. Dengan demikian, eksistensi Keujreun Blang tidak hanya memiliki signifikansi praktis dalam pengelolaan pertanian, tetapi juga kontribusi teoritis dalam memperkaya kajian pluralisme hukum dan keberlanjutan lembaga adat di tengah modernisasi. 
Pelestarian Kesenian Wayang Kulit di Kampung Arang Limbung Kabupaten Kubu Raya Kamini, Tri; Firmansyah, Andang; Mirzachaerulsyah, Edwin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.93627

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pelestarian kesenian wayang kulit di Kampung Arang Limbung, Kabupaten Kubu Raya. Wayang kulit adalah salah satu budaya daerah yang mencerminkan jati diri bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa, pertama, wayang kulit telah ada di Kampung Arang Limbung selama kurang lebih 50 tahun, dibawa oleh seniman. Kedua, dalam upaya pelestarian kesenian wayang kulit, dibentuklah sanggar baru, yaitu Sanggar Hamiluhung yang berarti mulia atau agung. Sanggar ini didirikan pada tanggal 19 September 2019 dengan tujuan melestarikan kesenian Jawa, yaitu wayang kulit, di Kampung Arang Limbung. Hal ini sejalan dengan krisis identitas bangsa terhadap budaya daerah. Pelestarian dilakukan dengan memperkenalkan kesenian wayang kulit melalui media sosial, pelatihan bagi siswa SDN 15 Sungai Raya. Ketiga, hambatan yang dirasakan dalam pelestarian kesenian wayang kulit adalah penggunaan bahasa dan fakta bahwa dalam era globalisasi, budaya asing lebih dikenal daripada budaya daerah.
The Islam dan Kearifan Lokal: Pelestarian Tradisi Grebeg Besar Demak Sebagai Wujud Identitas Lokal Hidayat, Rafi; Fu'adah, Laily
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.95229

Abstract

Acara tradisi Grebeg Besar di Kabupaten Demak disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat Kabupaten Demak pada setiap penyelenggaraannya. Meskipun demikian, terdapat kurangnya minat dari masyarakat untuk dapat memahami secara mendalam seluruh prosesi acara tradisi ini, termasuk tahapan persiapan, pelaksanaan acara dengan ritual dan simbolisme di balik penyelenggaraan tradisi ini. Tujuannya ditulisnya artikel ini untuk mengumpulkan informasi berupa data yang diambil dari lokasi secara langsung, sekaligus memberikan wawasan kepada masyarakat agar mengenal dan memahami tentang tradisi Grebeg Besar Demak. Metode penelusuran dalam penelitian ini mengaplikasikan model kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Berdasarkan proses pengumpulan data lapangan, dihasilkan bahwa memang dari pihak masyarakat Kabupaten Demak hanya menonton acara Grebeg Besar saja. Akan tetapi, tidak mengetahui secara mendalam apa saja dan bagaimana prosesi Grebeg Besar dapat dilaksanakan. Dari kajian analisis mendalam didapatkan bahwa dalam tradisi Grebeg Besar Demak terdapat sarat akan makna spiritual, budaya, dan sosial. Dimulai dengan prosesi pisowanan sebagai bentuk penghormatan kepada kasepuhan Kadilangu, ziarah makam raja-raja Demak, pembukaan Grebeg Besar, serta berbagai ritual seperti Abon-Abon, arak-arak-arakan Tumpeng Songo, serta iring-iringan Prajurit Patangpuluhan.
Intertwined Spiritualities: Exploring the Acculturation of Sufism and Javanese Mysticism in the Keduk Beji Tradition, Ngawi, Indonesia Yasinatul, Puspa Arum
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.95260

Abstract

This research explores the acculturation of Sufi values and Javanes mysticism as manifested in the Keduk Beji tradition in Tawun, Ngawi, East Java. Indonesia. Beyond the aim of honoring ancestors by cleaning the sacred well, this tradition contains profound elements of self-cleansing, meditation and communal prayer, along with with mass chanting of dhikr and other sacred ritual processions. Whel many studies focus on religious syncretism. This research is crucial because it offers a unique insight into how a specific local tradition serves as dynamic vehicle for spiritual transformation and social cohesion amidst the pressures of modernization. The process of writing this article uses a qualitative approach with the type of anthropology. This research applies Peter L.’s social construction theory through the collection of primary and secondary data, aiming to construct a deeper understanding. Berger & Thomas Luckman. This theory consists of subjective reality, symbolic reality, objective reality, as well as extrenalization, objectification and internalization. Then in order to find the main values contained in the “Keduk Beji” tradition using explorative descriptive analysis. The result of the analysis of this article is that the symbolic use of water in these rituals becomes an important element, symbolizing purification and renewal, while reflecting a deep meaning about life and spiritually. The tradition emphasizes the transformative nature of these practices, which not only enhance individual spiritual experiences but also strengthen community bonds through shared beliefs and values. This research highlights the significance of sustaining the tradition in the context of modernization, showing that Keduk Beji continues to serve as a cultural anchor for the local community. By integrating Sufi principles with Javanese mystical practices, this tradition exemplifies the harmonious coexistence of diverse spiritual heritages. Ultimately, the Keduk Beji tradition is described as a vital expression of the rich cultural and religious identity of Javanese society, demonstrating the continued relevance of spirituality in contemporary society and encouraging a deeper understanding of the complexity of faith and culture.
Ruwat dalam Cerita Pendek Ruwat: “Pembersihan Negara” dan Konstruksi Sosial Masyarakat Jawa Riswari, Aninditya Ardhana; Sugiarto, Mellany Octa Salsabila
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.96008

Abstract

Tradisi ruwat dalam budaya Jawa bukan hanya berlaku bagi individu atau komunitas kecil, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya pembersihan secara kolektif, termasuk dalam konteks negara yang kemudian dikenal sebagai ruwatan massal. Sebuah karya bertajuk Ruwat ditulis oleh Katarina Retno di tahun 2024 memunculkan tradisi ruwat dalam kisah pergolakan sosial politik Indonesia di tahun 1998. Karya tersebut memberikan gambaran mengenai seruan untuk melakukan ruwatan pada negara, dengan harapan negara dapat kembali “suci”. Untuk itu penelitian ini disusun untuk menganalisis tradisi ruwatan yang dikonstruksikan dalam teks sastra dan menganalisis perkembangan makna mengenai tradisi tersebut dalam ranah kritik sosial. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Penelitian ini menelaah teks Ruwat dan relevansinya dengan struktur sosial masyarakat Jawa yang dipadu dengan penggunaan pendekatan konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, ruwatan dalam Ruwat tidak hanya merepresentasikan ritual adat, tetapi juga menjadi strategi simbolik yang menggugah kesadaran kolektif terhadap ketimpangan struktural. Kedua, ruwatan yang dalam budaya Jawa berfungsi sebagai ritual penyucian dari sukerta dan kesialan, dalam Ruwat justru mengalami pergeseran makna menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, khususnya dalam konteks tragedi 1998. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kebudayaan bersifat dinamis dan dapat digunakan sebagai alat untuk menyuarakan kritik serta mendorong transformasi sosial dalam masyarakat.
Ruwatan Sudamala: Pelestarian Tradisi oleh Perkumpulan Bawarasa Pametri Budaya Hadiyatullah, Syahrul; Fariziah, Tsaniah
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.96644

Abstract

Penelitian ini mengkaji upaya pelestarian ritual Ruwatan Sudamala oleh Bawarasa Pametri Budaya, sebuah komunitas budaya di Malang, Indonesia, sebagai respons terhadap menurunnya popularitasnya akibat pengaruh modernisasi. Berakar pada sastra klasik dan filosofi Hindu-Jawa, Ruwatan Sudamala menghadapi tantangan keberlanjutan akibat minimnya kesadaran publik serta semakin berkurangnya praktik ritual. Pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi strategi yang diterapkan untuk mempertahankan tradisi. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bawarasa Pametri Budaya melestarikan ritual ini melalui berbagai inisiatif sistematis, termasuk penggabungan teks sejarah, pertunjukan tradisional, dan keterlibatan komunitas. Pendekatan dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan, jaringan sosial, serta platform digital guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi, sehingga ritual tetap relevan. Ruwatan Sudamala oleh Bawarasa Pametri Budaya dilaksanakan setiap tahun dengan prosedur yang terjaga serta elemen simbolis yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan transformasi. Penelitian ini menekankan efektivitas upaya berbasis komunitas dalam menjaga praktik budaya yang terancam punah, sekaligus menunjukkan bahwa mobilisasi sumber daya dan integrasi dengan alat-alat modern dapat memastikan kelangsungan budaya. Kajian ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis terhadap pelestarian budaya, menyoroti perlunya strategi adaptif untuk mempertahankan tradisi di tengah dinamika modernisasi.
Kontribusi Tradisi Ogoh-Ogoh Terhadap Nilai Sosial Masyarakat di Desa Tolai Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong Wulandari, Tia; Hamid, Abdul; Hasan, Haslita Rahmawati; Nurvita, Nurvita
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.100318

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi tradisi ogoh-ogoh terhadap nilai sosial masyarakat di Desa Tolai Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong. Tradisi ogoh-ogoh yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu tidak hanya mengandung nilai religius, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap nilai sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, kemudian pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ogoh-ogoh melibatkan partisipasi lintas generasi, baik dari kalangan muda maupun tua yang bekerja sama dalam proses pembuatan ogoh-ogoh dan pelaksanaannya. Masyarakat non-Hindu juga menunjukkan dukungan dengan ikut menyaksikan pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh. Beberapa kepala dusun non-Hindu ikut terlibat dalam pelaksanaan tradisi tersebut dengan membantu menjaga keamanan. Tradisi ini memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, toleransi, serta kepedulian terhadap budaya. Pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh juga berdampak pada ekonomi pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan dan minuman, penyedia jasa penyewaan baju adat, pengusaha baju dan sablon. Tradisi ini juga meningkatkan daya tarik pariwisata lokal, karena menarik perhatian masyarakat dari luar daerah untuk datang menyaksikan tradisi tersebut. Dengan demikian, tradisi ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga wadah untuk mempererat hubungan sosial antarwarga, penggerak ekonomi dan penguat identitas budaya.
Tren Penelitian Potensi Tradisi Randai Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Wisti, Windri; Ruyadi, Yadi; Wilodati, Wilodati
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101031

Abstract

Pendidikan karakter saat ini seolah terlepas dari hakikat dunia pendidikan itu sendiri. Alih-alih membentuk manusia yang utuh, sistem pendidikan saat ini lebih menekankan aspek kognitif sementara pembinaan nilai-nilai luhur justru makin terabaikan. Berbagai upaya dilakukan oleh guru namun pengaruh perkembangan globalisasi yang semakin pesat mengubah peserta didik. Perlunya pemanfaatan potensi lokal untuk memberikan pesan moral dalam mengajarkan pendidikan karakter dalam pendidikan. Randai sebagai salah satu tradisi khas Sumatera Barat memiliki peran sebagai media informasi untuk pesan moral dalam bentuk perpaduan seni silek, musik, tari, dan cerita. Penelitian yang mengkaji mengenai tren randai sebagai penguatan pendidikan karakter masih sangat rendah sehingga perlunya penelitian yang mengungkapkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi tren penelitian randai sebagai penguatan pendidikan karakter yang menjadi pedoman untuk mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Metode yang digunakan yaitu systematic literature review dengan analisis PRISMA. Artikel yang digunakan sebanyak 11 artikel nasional dan internasional dengan kata kunci ‘randai’ dan ‘pendidikan karakter’. Hasil dari penelitian mencakup konsep randai dalam pembelajaran, Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi randai, Keterampilan yang dapat dilatihkan melalui randai, dan inovasi pembelajaran melalui randai. Dalam temuan bahwa randai mampu melatihkan keterampilan abad 21 peserta didik dan pengetahuan lokal. Hasil temuan juga mengungkapkan bahwa randai mampu diintegrasikan dalam pembelajaran sosiologi, biologi, dan matematika dengan inovasi pembelajaran. Tradisi randai memiliki potensi besar sebagai strategi pedagogi dalam penguaran pendidikan karakter pada peserta didik.
Proses Penciptaan Tari Arkana: Representasi Adat dan Kebudayaan Lokal Purbalingga Latifah, Ayundha Dwi; Pebrianti, Sestri Indah
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v7i2.101222

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai proses penciptaan Tari Arkana sebagai bentuk representasi adat dan dan kebudayaan lokal di Kabupaten Purbalingga. Tari Arkana merupakan tari kreasi baru yang ide dasarnya berasal dari pengalaman masa lalu koreografer mengenai padamnya energi listrik akibat digunakan secara tidak efisien. Teori yang digunakan yaitu menggunakan teori dari Sumandyo Hadi (2012) yang menjelaskan bahwa proses penciptaan karya tari melalui tiga tahapan yaitu tahap eksplorasi yang dilakukan dengan menggali ide dan mencari referensi gerak, tahap improvisasi yaitu pengembangan gerak menjadi ragam yang lebih ekspresif, yang terakhir tahap komposisi atau proses penyusunan dari awal hingga menjadi suatu karya tari yang utuh. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa dapat disimpulkan bahwa Tari Arkana ini tidak hanya menonjolkan keindahan estetika gerak saja, tetapi juga berhasil menyampaikan pesan moral mengenai pentingnya kesadaran dalam menghemat energi listrik secara bijak melalui konsep cerita dalam karya tari ini. Tari ini menonjolkan keunikan ragam gerak tari khas Banyumasan, serta properti yang menjadi simbol pergeseran budaya dari masa kini ke masa lalu, serta iringan musik gending Banyumasan dengan cletukan khas yang memperkuat identitas lokal.