cover
Contact Name
Moh. Ashif Fuadi
Contact Email
moh.ashiffuadi@staff.uinsaid.ac.id
Phone
+6285645920566
Journal Mail Official
prodi.spi@uinsaid.ac.id
Editorial Address
Published by Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia Jln. Pandawa No. 1, Pucangan, Kartasura, Central Java, Indonesia, 57168 Website: https://uinsaid.ac.id/
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
ISSN : 2798186X     EISSN : 27983110     DOI : https://doi.org/10.22515/isnad.v3i1
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities aims to serve research report of various topic relating to Islamic Civilization History and Humanities. The articles published would refer not only directly to the Islamic Civilization History itself, but also to the various perspectives, in terms of social sciences and humanities. Embodies research articles including: History of Islamic Civilization and its development Humanities studies and its development Teaching of the Islamic Civilization History
Articles 91 Documents
Tragedi Gerbong Maut Bondowoso 1947: Rekonstruksi Sejarah dan Makna Perjuangan Bangsa Akhiyat; Ridho, Akhsin
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12578

Abstract

Peristiwa tragis yang dikenal sebagai "Death Carriage" atau insiden gerbong Maut di Bondowoso pada tahun 1947 ini berfungsi sebagai refleksi pedih tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan bergema jauh dalam narasi sejarah identitas nasional dan memori kolektif. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi konteks sejarah tragedi, meneliti bagaimana implikasinya telah membentuk nasionalisme Indonesia kontemporer dan pelajaran moral yang dipetik dari perjuangan. Memanfaatkan metodologi kualitatif yang berakar pada analisis sejarah, penelitian ini meneliti sumber primer dan sekunder, termasuk literatur tentang nasionalisme dan penggambaran sejarah perjuangan Indonesia, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang peristiwa tersebut. Kerangka teoritis seputar nasionalisme dan memori kolektif merupakan bagian integral dari penyelidikan "Death Carriage" sebagai situs memori yang merangkum tema pengorbanan, ketahanan, dan kerinduan kolektif akan kebebasan, seperti yang dibahas. Selanjutnya, peran wacana pendidikan dalam menanamkan narasi ini ke dalam kesadaran nasional ditekankan, menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dalam menumbuhkan rasa identitas dan solidaritas di antara masyarakat Indonesia, seperti yang disebutkan. Temuan ini mengungkapkan bahwa tragedi tersebut melambangkan harga kemerdekaan, tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah tetapi juga sebagai katalis untuk refleksi berkelanjutan tentang nilai-nilai dan identitas nasional dalam menghadapi tantangan kontemporer. Rekonstruksi ini memberikan wawasan penting tentang warisan abadi "Carriage of Death" dan perannya dalam membentuk identitas nasional dan kerangka pendidikan Indonesia. Kata Kunci: gerbong maut; nasionalisme; rekonstruksi sejarah; Kemerdekaan Indonesia
Dari Hadramaut ke Yogyakarta: Transformasi Identitas Arab dalam Lanskap Budaya Jawa Abad ke-20 Fatiyah
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12618

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi identitas komunitas Arab Hadrami di Yogyakarta pada awal abad ke-20, dalam kaitannya dengan proses akulturasi budaya dan perubahan sosial-politik kolonial. Dengan menempatkan Kampung Sayidan sebagai studi kasus, tulisan ini menelusuri bagaimana kelompok Arab yang pada awalnya mempertahankan eksklusivisme kultural dan religius, secara perlahan mengalami pergeseran identitas melalui interaksi intensif dengan budaya Jawa, kebijakan kolonial, serta dinamika keislaman lokal. Melalui pendekatan historis-kritis dan kerangka teori identitas budaya hibrida (Bhabha) serta konsep “Islam Jawa” (Geertz), artikel ini menunjukkan bahwa identitas Arab di Yogyakarta tidak bersifat statis, melainkan terbentuk dalam ruang negosiasi yang kompleks antara asal-usul Hadrami, realitas lokal, dan tekanan modernisasi. Transformasi ini tampak dalam beberapa aspek: penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, partisipasi dalam tradisi sosial-keagamaan lokal seperti slametan, hingga peran dalam pendidikan dan gerakan keislaman modern seperti Muhammadiyah. Di sisi lain, muncul pula ketegangan antar generasi, terutama ketika identitas Arab diasosiasikan dengan keunggulan nasab dan eksklusivitas sosial. Hasil kajian ini mengungkap bahwa identitas kultural Arab tidak lenyap, tetapi direkonfigurasi dalam bentuk identitas ganda; menjadi “Arab-Jawa” yang justru memperkuat kapasitas adaptif mereka dalam masyarakat multikultural. Dengan demikian, artikel ini menempatkan proses transformasi identitas ini sebagai salah satu model ketahanan budaya yang relevan dalam menghadapi krisis identitas dan tantangan integrasi sosial di Indonesia kontemporer. Kata Kunci: Arab Hadrami; Identitas Hibrida; Budaya Jawa; Akulturasi; Islam Lokal.
Jejak Intelektual Kiai Sholeh Darat: Pemikiran dan Warisan Intelektual dalam Sejarah Islam Nusantara Abad ke-19 Rahmantika, Dini; Moh. Ashif Fuadi; Retno Sundary
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.13155

Abstract

Kiai Muhammad Soleh bin Umar al-Samarani (Kiai Soleh Darat) merupakan salah satu ulama Nusantara paling berpengaruh pada abad ke-19 yang berperan penting dalam transmisi dan popularisasi keilmuan Islam di Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran, kontribusi, dan warisan intelektual Kiai Soleh Darat, khususnya dalam konteks dialektika Islam dan budaya Jawa. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan sejarah, penelitian ini menunjukkan bahwa Kiai Soleh Darat tidak hanya berfungsi sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai pengarang produktif yang menghadirkan karya-karya orisinal dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Karyanya meliputi bidang tafsir, fikih, tasawuf, dan akidah, dengan corak pemikiran yang menekankan harmonisasi antara syariat dan hakikat. Penggunaan aksara Pegon menjadi strategi efektif dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat awam, sekaligus menjadi upaya pelestarian budaya literasi lokal di tengah tekanan politik dan budaya kolonial Belanda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Kiai Soleh Darat menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan tradisi keilmuan pesantren dan turut membentuk wajah Islam Jawa yang moderat, kontekstual, dan membumi. Kata Kunci: Kiai Soleh Darat; Islam Nusantara; Aksara Pegon; Karya Pegon; Abad ke-19
Dinamika Peradaban Pendidikan Islam pada Masa Orde Baru (1966-1998 M) Mutiara Estu Amalannira, Adinda; Zulfi Mubaraq; Ahmad Kholil; Wardatul Asfiya
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13922

Abstract

Abstrak: Kajian tentang Dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M) sangat penting untuk dikaji lebih mendalam. Hal ini karena kajian tersebut tidak pernah berhenti untuk selalu diperdebatkan. Tujuan tulisan ini ingin memahami 3 hal: Pertama, paradigma Dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M). Kedua, faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dinamika tersebut. Ketiga, implikasi positif dan negatif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam. Metode yang digunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan Tinjauan Artikel/Paper Review berlandaskan teori Harold Lasswell, adapun pengumpulan data dengan cara pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian dan dianalisis dengan teknik review (membaca, memahami, dan menyimpulkan atau mengomentari) atas suatu karya tulis ilmiah/ artikel yang telah dipublikasi di suatu penerbit jurnal/publisher. Hasil yang ditemukan 3 hal: Pertama, paradigma dinamika peradaban pendidikan islam pada Masa Masa Orde Baru-Reformasi (1966-1998 M) ada 3 bentuk: (1) pendidikan islam kurang diperhatikan (2) mendapat dukungan dari pemerintah (3) pendidikan islam masih dibatasi. Kedua, secara internal yang mempengaruhi Dinamika Peradaban Pendidikan Islam ada 3 faktor : (1) kualitas sumber daya manusia (2) keterbatasan sarana prasarana (3) kebutuhan masyarakat. Adapun secara eksternal yang mempengaruhi dinamika peradaban pendidikan islam ada 3 faktor: (1) tekanan ideologis (2) adanya sistem dualistik (3) kebijakan pemerintah. Ketiga, implikasi positif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam ada 3 hal: (1) modifikasi madrasah (2) penyetaraan sistem pendidikan islam (3) meningkatkan mutu pendidikan islam. Sedangkan, implikasi negatif dinamika tersebut terhadap pendidikan islam ada 3 hal: (1) mutu pendidikan lebih rendah (2) penyempitan fokus (3) keterlambatan adaptasi. Kata Kunci: Dinamika, Pendidikan Islam, Masa Orde Baru Abstract: A study of the dynamics of Islamic education during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD) is very important to examine in greater depth. This is because this study has never ceased to be debated. The purpose of this paper is to understand three things: First, the paradigm of the dynamics of Islamic education during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD). Second, the internal and external factors that influence these dynamics. Third, the positive and negative implications of these dynamics on Islamic education. The method used is library research with an article/paper review approach based on Harold Lasswell's theory. while data collection was carried out by collecting library data, reading and taking notes, as well as processing research materials and analyzing them using review techniques (reading, understanding, and concluding or commenting) on scientific papers/articles that have been published in a journal/publisher. Three findings were discovered: First, there were three forms of the paradigm of Islamic education civilization dynamics during the New Order-Reformation period (1966-1998 AD): (1) Islamic education was neglected, (2) it received support from the government, and (3) Islamic education was still restricted. Second, internally, there were three factors that influenced the dynamics of Islamic educational civilization: (1) the quality of human resources, (2) limited infrastructure, and (3) community needs. Externally, there were also three factors that influenced the dynamics of Islamic educational civilization: (1) ideological pressure, (2) the existence of a dualistic system, and (3) government policy. Third, there are three positive implications of these dynamics on Islamic education: (1) modification of madrasahs (2) equalization of the Islamic education system (3) improvement of the quality of Islamic education. Meanwhile, there are three negative implications of these dynamics on Islamic education: (1) lower quality of education (2) narrowing of focus (3) delayed adaptation. Keywords: Succession; Pura Mangkunegaran; Mangkunegara IX.
Systematic Literature Review: Analisis Komparatif Paradigma Studi Islam dan Sejarah Peradaban Islam Fajrian Aminuddin
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.14110

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan serta hubungan antara paradigma Studi Islam dan Sejarah Peradaban Islam dalam kerangka kajian keilmuan kontemporer. Dalam praktik akademik, keduanya kerap digunakan tanpa batas epistemologis dan metodologis yang jelas sehingga memunculkan tumpang tindih metodologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Mengikuti pedoman PRISMA, kajian ini menganalisis 11 artikel peer-reviewed periode 2016–2026 yang diperoleh dari Scopus, SINTA, DOAJ, dan Google Scholar. Hasil analisis menunjukkan dua temuan utama: pertama, Studi Islam secara dominan menggunakan pendekatan normatif-teologis yang menekankan teks, ajaran, dan nilai-nilai keislaman; kedua, Sejarah Peradaban Islam menekankan pendekatan historis-empiris yang mengkaji perkembangan sosial, budaya, politik, dan intelektual umat Islam dalam lintasan sejarah. Novelty penelitian ini terletak pada pemetaan integratif yang menegaskan bahwa perbedaan keduanya terlihat dapat dihubungkan melalui pendekatan interdisipliner dan memiliki relevansi yang kuat di zaman ini. Integrasi kedua paradigma tersebut saling melengkapi dalam memahami Islam sebagai ajaran normatif ataupun sebagai realitas peradaban. Kata Kunci: Paradigma Keilmuan; Pendekatan Interdisipliner; Sejarah Peradaban Islam; Studi Islam.
Relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura Masyarakat Desa Loram Kulon, Kabupaten Kudus di Era Society 5.0 Retno Tyas Hapsari; Isna Maylani; Lintang Nurlissya Putri
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.14211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi Tradisi Manten Mubeng Gapura di Desa Loram Kulon, Jati, Kudus pada era Society 5.0 dengan menggunakan pendekatan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang diinisiasi oleh Sultan Hadirin pada abad ke-15 Masehi sebagai media dakwah Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, menyeluruh, dan kontekstual terhadap fenomena sosial di masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan juru pelihara masjid, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Manten Mubeng Gapura masih memiliki fungsi sosial, budaya, dan religius yang relevan di tengah masyarakat modern. Keberlanjutan tradisi ini didukung oleh kelompok masyarakat, khususnya generasi lanjut usia, yang mempertahankan nilai-nilai tradisional sebagai bagian dari identitas budaya. Selain itu, keterbatasan dalam mengadopsi teknologi modern turut memperkuat eksistensi tradisi ini. Di sisi lain, perkembangan teknologi justru memberikan kontribusi positif melalui publikasi digital yang memperluas jangkauan informasi tentang tradisi tersebut. Dengan demikian, Tradisi Manten Mubeng Gapura tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi dan semakin dikenal luas di era Society 5.0. Kata Kunci: Tradisi; Manten; Mubeng Gapura; Era 5.0
Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Batik Pamiluto Ceplokan Gresik Sebagai Pilar Pembangunan Karakter Bangsa Mahdiana, Nabillah; Warto; Leo Agung Sutimin; Purwanta, Hieronymus
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.14297

Abstract

Di tengah arus globalisasi yang memicu degradasi moral dan krisis identitas, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi kebutuhan mendesak untuk membangun jati diri peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna simbolik dan filosofis yang terkandung dalam motif Batik Pamiluto Ceplokan Gresik sebagai sebagai strategi pedagogis penguatan karakter. Dengan metode studi pustaka, kajian ini menganalisis simbolisme batik melalui ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Batik Pamiluto merupakan instrumen pendidikan holistik. Secara kognitif, struktur matematis motif Ceplokan melatih keteraturan berpikir dan penalaran logis. Secara afektif, makna "Pamiluto" (perekat) membangun ikatan emosional dan identitas sosiokultural yang religius. Secara psikomotorik, proses apresiasi dan praktik motif ini menginternalisasi nilai integritas, ketelitian, dan etos kerja. Penelitian ini juga merumuskan lima langkah strategis implementasi di sekolah yang di mulai dari integrasi kurikulum hingga evaluasi berbasis habituasi nilai. Temuan ini menegaskan bahwa Batik Pamiluto Ceplokan Gresik memiliki landasan yuridis dan filosofis yang kuat untuk dijadikan media penguatan nilai budaya dalam pendidikan karakter, sekaligus panduan praktis bagi pendidik dalam merespons tantangan moral kontemporer. Kata Kunci: Batik Pamiluto; Ceplokan Gresik; Kearifan Lokal; Pendidikan Karakter; Pembangunan Bangsa
Propaganda Sarekat Islam Merah Melawan Kaum Kolonial di Surakarta Tahun 1918-1926 Abror, Slamet Miftahul; Abdurrakhman
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.14328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana Sarekat Islam yang dulunya sebagai perkumpulan Rekso Roemekso berubah menjadi organisasi yang besar di bawah komando Misbach dan kawan-kawannya dalam melakukan propaganda di Surakarta kepada pemerintah kolonial. Tentu hal ini perlu kita perhatikan secara seksama, gerakan perlawanan yang besar pada saat itu dilakukan oleh seorang Haji Merah yang memadukan ajaran keislaman dengan kerangka komunisme yang menurutnya itu sesuai dengan kaidah-kaidah keislaman yang benar. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan Sejarah Lokal yang dituangkan oleh Kuntowijoyo, penelitian ini melihat aspek lokalitas yang ada di Surakarta tentu dengan narasi propaganda yang dilakukan oleh umat Islam dalam melawan kaum kolonial. Misbach dengan kerangka lokalitasnya berhasil menyulap ajaran Islam dengan komunisme sebagai media dakwah dan propaganda dalam melawan kaum kolonial dan umat Islam yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan dirinya sendiri. Melalui surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, Misbach mencurahkan pikiran dan gagasannya untuk mengajak umat Islam bersatu melawan kezaliman. Tidak segan-segan apa yang dilakukan oleh Misbach membuat pemerintah kolonial kewalahan dalam membendung aksi massa yang besar pada saat itu, terutama pemogokan-pemogokan mereka terhadap pekerjaan mereka kepada pemerintah kolonial. itu sebabnya, pemerintah kolonial melarang Misbach dan kawan-kawannya melakukan propaganda melalui surat kabar dan penangkapan dan pengasingan yang membuat mereka tidak bisa melawan di kemudian hari. Kata Kunci: Propaganda; Sarekat Islam; Medan Moeslimin; Misbach
Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri Perspektif Filsafat Cinta Erich Fromm Mubarok, Mahdi; Lulu’ul Khadiroh; Hanaya Sabila Anjani; Himmatul Aliyah; Wahib Irsadul Bahtiar
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13099

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 4 elemen utama dalam konsep cinta yang digagas oleh Erich Fromm dapat dilihat dalam karya sastra klasik Nusantara dalam hal ini Serat Wulang Reh Putri. Latar belakang kajian ini didasari oleh meningkatnya angka perceraian di Indonesia yang mencerminkan krisis pemahaman terhadap hakikat cinta dan komitmen dalam kehidupan berumah tangga. Dalam situasi tersebut, Serat Wulang Reh Putri menjadi penting karena memuat ajaran moral, spiritual, serta etika keluarga yang menggambarkan kearifan budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan makna ajaran-ajaran pernikahan dalam teks dan menghubungkannya dengan empat unsur cinta menurut Fromm, yakni care (perhatian), responsibility (tanggung jawab), respect (rasa hormat), dan knowledge (pengetahuan). Hasil kajian memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Serat Wulang Reh Putri sejalan dengan gagasan cinta Fromm yang menekankan kesadaran, empati, tanggung jawab etis, dan kedewasaan spiritual dalam hubungan suami istri. Oleh karena itu, ajaran dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai tuntunan moral tradisional, melainkan juga memiliki makna filosofis dan humanistik yang relevan bagi masyarakat modern dalam membangun keluarga yang harmonis, penuh kasih, dan berlandaskan cinta yang sadar serta bertanggung jawab. Kata Kunci: Erich Fromm; Filsafat Cinta; Hermeneutika; Serat Wulang Reh Putri
Pendidikan Sebagai Sarana Emansipasi Sosial: Kajian terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran 1912–1944 Ahmad Dzaky Benson Irani; Nor Huda; Moh Ashif Fuadi; Aan Ratmanto; Adrian Perkasa
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13183

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang peran Studiefonds Mangkunegaran sebagai instrumen filantropi pendidikan dalam mendorong transformasi sosial masyarakat pada era kolonial. Sebagai inisiatif mandiri, lembaga ini hadir untuk mengatasi hambatan ekonomi masyarakat dalam mengakses pendidikan modern demi meningkatkan derajat sosial. Dengan menggunakan metode historis yang bersumber pada arsip primer Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, kajian ini mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pemicu utama modernitas di Praja Mangkunegaran. Studiefonds yang didirikan pada tahun 1912 berdasarkan Pranatan Pustaka Praja (Rijksblad) 15 Oktober 1913 ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi golongan sentono dan priyayi. Namun, kebijakan tahun 1915 menandai pergeseran signifikan melalui pemberian akses peringanan biaya pendidikan bagi masyarakat umum. Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan sekolah, tetapi juga membentuk mobilitas sosial baru melalui lahirnya kelompok terdidik pribumi yang kemudian berperan dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran Studiefonds menunjukkan adanya kesadaran elite Mangkunegaran terhadap pentingnya pendidikan sebagai sarana kemajuan dan emansipasi sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan model kemandirian finansial pribumi sebagai bentuk resistensi terhadap restriksi pendidikan kolonial, yang memberikan kontribusi penting bagi historiografi pendidikan serta kajian filantropi di Indonesia, khususnya dalam konteks modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Kata Kunci: Pendidikan; Pura Mangkunegaran; Studiefonds

Page 9 of 10 | Total Record : 91