cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsibc@unisba.ac.id
Phone
+6282118320445
Journal Mail Official
bcsibc@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Islamic Broadcast Communication
ISSN : -     EISSN : 28282485     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsibc.v2i2
Core Subject : Religion, Education,
Bandung Conference Series Islamic Broadcast Communication (BCSIBC) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Komunikasi Penyiaran Islam dengan ruang lingkup Akhlak Komunikasi Dakwah, Aqidah Komunikasi Dakwah, Beribadah Dakwah, Bulletin Dakwah, Dakwah Media Sosial, Dasar-dasar Islam, Keagamaan, Nilai Dakwah Islam, Nilai-nilai Tauhid, Pengajian, Perilaku Keagamaan, Pesan Dakwah, Pesantren Mahasiswa, Media dakwah, Program Radio dakwah, Sikap. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 187 Documents
Strategi Dakwah Digital An-Naml Media dalam Meningkatkan Partisipasi Kegiatan Keagamaan Pemuda PERSIS Ciapus Mochamad Nashrul Hidayat; Irfan Safrudin; Malki Ahmad Nasir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 141-146
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24326

Abstract

Abstract. This study examines the digital da’wah strategy of An-Naml Media in increasing the religious participation of youth of Pemuda Persatuan Islam of Jama’ah Ciapus amid the rapid advancement of digital technology. Prior to the presence of An-Naml Media, youth attendance and involvement in religious study sessions were relatively low. This research aims to analyze the da’wah strategy applied, the use of social media features, and the youth’s responses and forms of participation toward this digital da’wah. A qualitative approach with a descriptive case study design was employed, using observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques, which were then analyzed descriptively. The findings show that An-Naml Media’s da’wah strategy is adaptive, communicative, and contextual, combining idealistic and market-oriented content while utilizing carousel and reels formats along with an internal buzzer technique to expand its reach. This strategy has proven effective in encouraging hybrid participation, in which digital engagement evolves into real involvement in religious activities such as halaqah and communal study sessions. Despite facing limitations in production facilities, human resources, and the economic sustainability of a non-profit organization, An-Naml Media continues to strengthen youth empowerment and religious social transformation effectively. Abstrak. Penelitian ini mengkaji strategi dakwah digital An-Naml Media dalam meningkatkan partisipasi kegiatan keagamaan Pemuda Persatuan Islam Pimpinan Jama’ah Ciapus di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Sebelum kehadiran An-Naml Media, tingkat kehadiran dan keterlibatan pemuda dalam kajian dakwah tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi dakwah, pemanfaatan fitur media sosial, serta respons dan bentuk partisipasi pemuda terhadap dakwah digital tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif melalui desain studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah An-Naml Media bersifat adaptif, komunikatif, dan kontekstual, memadukan konten idealis dan konten pasar, serta memanfaatkan fitur carousel, reels, dan buzzer internal untuk memperluas jangkauan pesan. Strategi ini terbukti mendorong partisipasi hibrida, yaitu keterlibatan digital yang berkembang menjadi partisipasi nyata dalam kegiatan keagamaan seperti halaqah dan kajian jama’ah. Meski dihadapkan pada keterbatasan sarana, sumber daya manusia, dan keberlanjutan ekonomi organisasi nonprofit, An-Naml Media tetap mampu memperkuat pemberdayaan dan transformasi sosial keagamaan pemuda secara efektif.
Efektivitas Komunikasi Tabayyun dalam Menangani Miskomunikasi di Lingkungan Pengurus Pasuma Unisba Rizka Aziza; Bambang S. Ma’arif; Nia Kurniati
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 147-156
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24405

Abstract

Abstract. This study was motivated by the occurrence of miscommunication within the Student Choir Organization (Pasuma) of Universitas Islam Bandung, which affected coordination and relationships among members. This study aims to describe the organizational communication process, the implementation of tabayyun communication, and its effectiveness in addressing miscommunication based on Richard M. Steers' organizational effectiveness indicators. This research employed a qualitative approach using a descriptive method and a constructivist paradigm. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving the Top Management, administrators, and members of Pasuma Unisba. The data were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while source triangulation was applied to ensure data validity. The findings indicate that organizational communication is fairly active but still encounters obstacles in information delivery, coordination, and differences in interpretation. The implementation of tabayyun communication through clarification, verification, dialogue, deliberation, and evaluation effectively reduced miscommunication while improving openness, coordination, and mutual trust among members. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terjadinya miskomunikasi di lingkungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Mahasiswa (Pasuma) Universitas Islam Bandung yang memengaruhi koordinasi dan hubungan antaranggota. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses komunikasi organisasi, penerapan komunikasi tabayyun, serta efektivitasnya dalam menangani miskomunikasi berdasarkan indikator efektivitas organisasi Richard M. Steers. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap Top Management, pengurus, dan anggota Pasuma Unisba, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi berlangsung cukup aktif, namun masih menghadapi kendala penyampaian informasi, koordinasi, dan perbedaan penafsiran. Penerapan komunikasi tabayyun melalui klarifikasi, verifikasi, dialog, musyawarah, dan evaluasi terbukti efektif mengurangi miskomunikasi serta meningkatkan keterbukaan, koordinasi, dan kepercayaan antaranggota.
Nilai Dakwah dalam Novel Bumi Cinta: Kajian Semiotika Roland Barthes Lupita Dewi; Ida Afidah; N Sausan Muhammad Sholeh
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 157-164
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24484

Abstract

Abstract. This study analyzes the da’wah (Islamic propagation) values contained in the novel Bumi Cinta by Habiburrahman El Shirazy using Roland Barthes’ semiotic analysis. The background of this research is the phenomenon of promiscuity, pornography, and cultural liberalization in the era of globalization, which challenges the faith of young Muslims, while literary works are considered an effective medium of da'wah bil-qalam (propagation through writing) that has not been widely examined through the lens of semiotics beyond a general classification of values. This research employs a qualitative approach with a descriptive-content analysis method. The object of research is the novel Bumi Cinta, and the data sources consist of the novel's text, dialogues, narratives, and the author's statements in the prologue and a book discussion session. Data were collected through observation, indirect interview, and documentation, then analyzed through the stages of identifying signifiers and signified, followed by denotative, connotative, and mythical meanings. The results show that of 51 semiotic signs identified, 12 were analyzed in depth, yielding four values of aqidah (belief in Allah's compassion, guidance, tawakal, and greatness), three values of syariah (performing acts of worship and preserving lineage through marriage), and five values of akhlak (self-control, compassion, open-heartedness, self-reflection, and chastity). This research concludes that literary works can serve as an effective medium of da'wah in conveying Islamic teachings to readers across generations. Abstrak. Penelitian ini menganalisis nilai dakwah dalam novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena pergaulan bebas, pornografi, dan liberalisasi budaya di era globalisasi yang menjadi tantangan bagi keimanan generasi muda Muslim, sementara karya sastra dipandang sebagai media dakwah bil-qalam yang efektif namun belum banyak dikaji melalui pendekatan semiotika secara mendalam, sebatas pengelompokan nilai secara umum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analisis isi. Objek penelitian adalah novel Bumi Cinta, dengan sumber data berupa teks novel, dialog, narasi, serta pernyataan penulis dalam prolog dan acara bedah buku. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara tidak langsung, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan identifikasi penanda dan petanda, dilanjutkan dengan makna denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 51 tanda semiotik yang ditemukan, 12 tanda dianalisis secara mendalam dan menghasilkan empat nilai akidah (keyakinan terhadap kasih sayang, hidayah, tawakal, dan kebesaran Allah), tiga nilai syariah (pelaksanaan ibadah dan menjaga keturunan melalui pernikahan), serta lima nilai akhlak (pengendalian diri, kasih sayang, keterbukaan hati, muhasabah, dan menjaga kesucian diri). Penelitian ini menyimpulkan bahwa karya sastra dapat menjadi media dakwah yang efektif dalam menyampaikan ajaran Islam kepada pembaca lintas generasi.
Konsep Kebajikan dalam Buku Filosofi Teras: Perspektif Dakwah Muhammad Fajar Dzikrillah
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 165-172
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24507

Abstract

Abstract. Modern life presents individuals with various psychological and moral challenges, including emotional pressure, uncertainty, and difficulties in managing personal responses. These conditions have increased interest in philosophical perspectives that offer practical guidance for developing resilience and self-control. One such perspective is Stoicism, which has gained wider attention through popular literature, including Henry Manampiring’s Filosofi Teras. The book introduces Stoic principles through everyday issues and emphasizes rational thinking, emotional regulation, acceptance of circumstances beyond human control, and character development. Several of these values are similar to Islamic moral teachings, particularly patience, self-control, justice, responsibility, and moral awareness. Nevertheless, these similarities do not indicate an identical theological foundation. Therefore, Stoic values need to be examined critically within the framework of Islamic principles. Previous studies have discussed Stoicism and Filosofi Teras in relation to ethics, mental health, character development, and Islamic values. However, limited attention has been given to examining the book specifically from the perspective of Islamic dakwah. This study therefore analyzes virtue in Filosofi Teras and examines its relevance to Islamic preaching. This qualitative study employs library research and content analysis. The primary source is Filosofi Teras, supported by literature on Stoicism, Islamic ethics, dakwah, Qur’anic interpretation, and Hadith. The study aims to identify Stoic virtues and critically examine their relevance as material for reflective Islamic preaching while maintaining Islam's theological foundations.  Abstrak. Kehidupan modern menghadirkan berbagai tantangan psikologis dan moral yang mendorong manusia untuk mencari nilai yang dapat membantu menghadapi tekanan kehidupan secara lebih bijaksana. Salah satu pemikiran yang memperoleh perhatian melalui literasi populer adalah Stoisisme, termasuk melalui buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku tersebut memperkenalkan prinsip Stoik mengenai pengendalian diri, pengelolaan emosi, penggunaan rasio, dan pembentukan karakter dalam menghadapi berbagai keadaan. Sejumlah nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan nilai moral dalam Islam, meskipun keduanya memiliki landasan teologis yang berbeda. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep kebajikan dalam Filosofi Teras serta mengkaji relevansinya dengan nilai-nilai Islam dalam perspektif dakwah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan metode analisis isi. Sumber primer penelitian adalah buku Filosofi Teras, sedangkan sumber pendukung meliputi literatur Stoisisme, dakwah Islam, etika Islam, tafsir Al-Qur’an, dan hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebajikan Stoik mencakup kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut memiliki titik temu dengan ajaran Islam dalam aspek pembinaan akhlak dan pengembangan karakter. Dengan demikian, nilai kebajikan dalam Filosofi Teras memiliki potensi untuk dikaji sebagai bahan dakwah reflektif dengan tetap menempatkan prinsip tauhid dan akhlak Islam sebagai landasan utama.  
Metode Dakwah Ghinan Rhinda melalui Pendekatan Hypnotherapy dalam Meningkatkan Spritual Peserta Seminar Rizal Ihza Muhaimin; Ida Afidah; N Sausan Muhammad Sholeh
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 173-180
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24547

Abstract

Abstract. The increasing prevalence of psychological problems, emotional distress, and spiritual crises in modern society has created the need for da'wah methods that address both emotional and spiritual needs. This study aims to analyze the da'wah methods employed by Ghinan Rhinda through a hypnotherapy approach and explain their role in enhancing participants' spiritual awareness. This qualitative descriptive study collected data through observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis was based on the da'wah methods in Qur'an Surah An-Nahl verse 125, namely bil hikmah, mau'izhah hasanah, and al-mujadalah, together with Imam Al-Ghazali's concept of tazkiyatun nafs. The findings show that Ghinan Rhinda integrates these methods with hypnotherapy as a medium for relaxation and self-reflection, enabling participants to internalize Islamic values. The process involves takhalli and tahalli, contributing to greater inner peace, stronger religious awareness, better emotional control, and increased motivation to practice Islamic teachings. Hypnotherapy can effectively support contemporary da'wah while remaining grounded in the Qur'an and Sunnah. Abstrak. Meningkatnya persoalan psikologis, tekanan emosional, dan krisis spiritual di masyarakat modern mendorong perlunya metode dakwah yang mampu menjawab kebutuhan emosional dan spiritual secara seimbang. Penelitian ini bertujuan menganalisis metode dakwah Ghinan Rhinda melalui pendekatan hypnotherapy serta menjelaskan penerapannya dalam meningkatkan kesadaran spiritual peserta seminar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori metode dakwah berdasarkan QS. An-Nahl ayat 125 yang meliputi bil hikmah, mau'izhah hasanah, dan al-mujadalah, serta konsep tazkiyatun nafs Imam Al-Ghazali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ghinan Rhinda mengintegrasikan ketiga metode tersebut dengan hypnotherapy sebagai media relaksasi dan refleksi diri untuk membantu peserta menginternalisasi nilai-nilai Islam. Proses ini berkontribusi terhadap peningkatan ketenangan batin, kesadaran beribadah, pengendalian emosi, serta motivasi menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hypnotherapy dapat menjadi media pendukung dakwah kontemporer yang tetap berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Komunikasi Interpersonal Kyai dan Santri dalam Meningkatkan Pemahaman Keagamaan di Pondok Pesantren Al Barkah Rancakeyeup Tanggeung Cianjur Muhammad Yasni Ishak Syahid Al Fazri; Irfan Safrudin; Hendi Suhendi
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 181-188
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24585

Abstract

Abstract. This article examines interpersonal communication between the kyai (Islamic teacher) and santri (students) at Pondok Pesantren Al-Barkah, Rancakeuyeup, Tanggeung, Cianjur, prompted by uneven comprehension among students, their reluctance to ask questions, and the hierarchical distance that can limit religious understanding. Using a qualitative descriptive approach, data were gathered through observation, in-depth interviews with the kyai and three santri, and documentation, then analyzed with Joseph A. DeVito's five indicators of interpersonal communication: openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality. The findings show that the kyai consistently applies all five indicators, for instance by removing bureaucratic barriers to dialogue, correcting mistakes gently, giving continuous motivation, and treating every santri equally regardless of socio-economic background, while santri openness still varies due to feelings of reluctance (sungkan) toward senior religious authority. Interpersonal communication is thus shown to play a fairly significant role in improving santri's religious understanding, appreciation, and practice, although obstacles remain in the form of differences in administrative status and limited interaction time. This study suggests that pesantren management strengthen more equitable communication channels between kyai and santri across all levels of seniority. Abstrak. Artikel ini mengkaji komunikasi interpersonal antara kyai dan santri di Pondok Pesantren Al-Barkah, Rancakeuyeup, Tanggeung, Cianjur, yang dilatari oleh perbedaan pemahaman antarsantri, keengganan santri untuk bertanya, serta jarak hierarkis yang berpotensi membatasi pemahaman keagamaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kyai dan tiga orang santri, serta dokumentasi kegiatan pesantren, kemudian dianalisis menggunakan lima indikator komunikasi interpersonal Joseph A. DeVito, yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai menerapkan kelima indikator tersebut secara konsisten, misalnya dengan memangkas birokrasi komunikasi, meluruskan kesalahan santri dengan bahasa yang halus, memberikan motivasi berkelanjutan, serta memperlakukan seluruh santri secara setara tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi, sementara keterbukaan santri masih bervariasi karena rasa sungkan terhadap otoritas keagamaan senior. Dengan demikian, komunikasi interpersonal terbukti berperan cukup berarti dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan penerapan ajaran keagamaan santri, meskipun masih ditemukan hambatan berupa perbedaan status kepengurusan dan keterbatasan waktu interaksi. Penelitian ini menyarankan agar pengelola pesantren memperkuat mekanisme komunikasi yang lebih merata antara kyai dan santri di seluruh tingkatan.
Analisis Semiotika Nilai Spiritual pada Lirik Lagu “Apa yang Tak Bisa” Karya Band Rumah Sakit (Analisis Roland Barthes) Imam Taufik; Chairiawaty; Bambang Saiful Ma'arif
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 189-198
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24636

Abstract

Abstract. This study is motivated by a phenomenon in which university students consume the song “Apa Yang Tak Bisa” by Rumahsakit as emotional relief without connecting it to spiritual reflection. YouTube comments confirm deep resonance: one listener reported renewed gratitude after fourteen childless years of marriage; another cited the song as a reason to keep living. This indicates the song functions as psychospiritual catharsis whose theological content has not been academically examined. Using qualitative descriptive research with Roland Barthes’s semiotic approach, this study analyzes the lyrics through three levels: denotation, connotation, and myth. Results show the song builds a coherent narrative from unfulfilled effort and prayer, through emotional release, to religious surrender. At the myth level, the lyrics dismantle two urban assumptions that sincere effort yields instant results, and that letting go equals defeat replacing them with a theological frame in which every unattained outcome conceals hidden wisdom. Three Islamic spiritual values emerge: tawakal (trust in God after maximal effort), qada (acceptance of present reality), and qadar (confidence in a divinely ordained future). The findings demonstrate that independent popular music can serve as an effective medium of cultural da’wah, conveying Islamic values inclusively without explicit religious jargon. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena konsumsi lagu “Apa Yang Tak Bisa” karya Rumahsakit di kalangan mahasiswa yang menggunakannya sebagai pelarian emosional, namun jarang menautkannya dengan kesadaran spiritual. Komentar pendengar di YouTube resmi band mengonfirmasi resonansi mendalam: seorang pendengar 14 tahun tanpa anak mengaku syukurnya makin kuat, pendengar lain menyebutnya alasan bertahan hidup. Fenomena ini menunjukkan lagu berfungsi sebagai medium katarsis psikospiritual yang belum dikaji secara akademis. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes, membedah lirik melalui tiga tataran: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil menunjukkan lagu membangun narasi runtut dari ikhtiar yang belum berbuah, pelepasan emosi, hingga penyerahan diri religius. Pada tataran mitos, lagu membongkar dua mitos urban bahwa usaha keras pasti berbuah instan dan melepaskan berarti kalah dan menggantinya dengan bingkai teologis bahwa setiap ketetapan yang tidak tercapai menyimpan hikmah. Tiga nilai spiritual Islam teridentifikasi: tawakal (berserah setelah ikhtiar maksimal), qada (penerimaan realitas), dan qadar (keyakinan pada skenario masa depan yang baik). Temuan membuktikan musik indie dapat menjadi medium dakwah kultural efektif yang menyampaikan nilai Islam secara inklusif tanpa jargon keagamaan.
Retorika Dakwah Digital Husain Basyaiban pada Konten TikTok Berbasis Game Roblox Dinda Syakirah Salsabila; Muhammad Fauzi Arif; Ahmad Mudakir
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 199-206
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24703

Abstract

Abstract. Social media platforms increasingly serve as new spaces for Islamic da'wah, particularly among younger audiences who engage more with virtual environments than conventional preaching settings. Ustadz Husain Basyaiban, known by his TikTok alias Kadam Sidik, delivers religious instruction through livestreamed sessions inside the online game Roblox; these livestreams are recorded and re-uploaded by viewers as short clips on TikTok. This raises an important question: how does da'wah remain persuasive when packaged within an entertainment-oriented digital format? This study analyzes three TikTok videos derived from Basyaiban's Roblox sessions using Aristotle's classical rhetorical framework of ethos, pathos, and logos, applying a descriptive-analytical qualitative method with documentation as the primary data-collection technique. The findings show that ethos is constructed not through physical appearance but through fluent recitation of religious texts, prompt spontaneous responses, and self-identification as a fellow player. Pathos operates bidirectionally: the speaker initiates emotional engagement through humor in one video, while audiences themselves initiate emotional disclosure in the other two, reinforced by real-time interactive features. Logos progresses from simple normative arguments toward complex epistemic reasoning that equips audiences with independent frameworks for religious judgment. These three elements interact to form a distinctive style of da'wah, casual in tone yet substantively profound. Abstrak. Media sosial kini menjadi ruang baru bagi praktik dakwah Islam, terutama bagi audiens muda yang lebih akrab dengan ruang virtual dibandingkan majelis konvensional. Ustadz Husain Basyaiban, dikenal dengan nama panggung Kadam Sidik, menyampaikan kajian keislaman melalui siaran langsung di dalam permainan daring Roblox, yang direkam dan diunggah ulang penonton menjadi potongan video pendek di TikTok. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana pesan dakwah tetap persuasif ketika dikemas dalam format yang identik dengan hiburan digital? Penelitian ini menganalisis tiga video TikTok hasil rekaman kajian Roblox tersebut menggunakan kerangka retorika klasik Aristoteles, yaitu ethos, pathos, dan logos, dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis serta teknik dokumentasi sebagai metode pengumpulan data utama. Hasil penelitian menunjukkan ethos dibangun bukan melalui penampilan fisik, melainkan melalui kefasihan melafalkan dalil, ketepatan merespons pertanyaan secara spontan, serta identifikasi diri sebagai sesama pemain. Pathos terbentuk secara timbal balik: pada satu video pembicara membangun suasana emosional melalui humor, sedangkan pada dua video lainnya audiens sendiri yang membuka diri secara emosional lebih dulu, diperkuat fitur interaksi langsung. Logos berkembang dari argumen normatif sederhana menuju penalaran epistemik lebih kompleks, yang membekali audiens dengan kerangka berpikir mandiri dalam menentukan hukum bagi dirinya sendiri. Ketiga unsur retorika saling menopang membentuk gaya dakwah santai namun tetap mendalam.
Nilai Ketauhidan dalam Lirik Lagu Sandaran Hati Karya Letto Fikry Maulana Yusuf; Parihat Kamil; Ahmad Muttaqin
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 207-216
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24832

Abstract

Abstract. This study examines the representation of tawhid (monotheism) values in the lyrics of the song “Sandaran Hati” by Letto through the perspective of dakwah bil hikmah (preaching with wisdom). The background of this research is the growing role of popular music as a medium of meaning production for young digital-native audiences, whose engagement with religious values increasingly occurs through cultural texts rather than formal religious instruction. Using a qualitative approach and Roland Barthes’s semiotic analysis, this study dissects the lyrics through a two-order system of signification (denotation and connotation) up to the level of myth or theological ideology. Data were collected through documentation of the song lyrics and literature study of relevant theoretical sources, then analyzed by identifying signs, interpreting their connotative meaning, and abstracting the underlying myth. The results show that at the denotative level, the lyrics depict human limitation, fragility, and existential alienation within the material world. At the connotative level, the metaphor “sandaran hati” (heart’s resting place) is deconstructed from its conventional romantic meaning into a symbol of an absolute and eternal source of dependence, namely Allah SWT. At the mythical level, the song represents the value of tawhid integratively, covering the dimensions of aqidah (awareness of God’s constant presence), syariat (commitment to primordial obedience), and akhlak (tawakal, khauf, and raja’). This study concludes that popular music can function as an effective medium of soft, contemporary dakwah that reaches broad audiences without provoking psychological resistance. Abstrak. Penelitian ini mengkaji representasi nilai ketauhidan dalam lirik lagu “Sandaran Hati” karya Letto melalui perspektif komunikasi dakwah bil hikmah. Latar belakang penelitian ini berangkat dari semakin besarnya peran musik populer sebagai ruang produksi makna bagi generasi muda digital, yang internalisasi nilai keagamaannya kini banyak berlangsung melalui teks budaya dan bukan semata melalui pengajaran agama yang formal. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian ini membedah lirik lagu melalui sistem signifikasi dua tahap, yaitu denotasi dan konotasi, hingga menyentuh tataran mitos atau ideologi teologis. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap teks lirik lagu dan studi kepustakaan terhadap sumber-sumber teoretis yang relevan, kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi tanda, menafsirkan makna konotatifnya, lalu mengabstraksi mitos yang melatarinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, lirik lagu ini menggambarkan keterbatasan, kerapuhan, dan alienasi eksistensial manusia di dunia materi. Pada tataran konotatif, metafora “sandaran hati” didekonstruksi dari makna romantis konvensional menjadi simbol tempat bergantung yang absolut dan abadi, yaitu Allah Swt. Pada tataran mitos, lagu ini merepresentasikan nilai ketauhidan secara integratif yang mencakup aspek akidah (kesadaran akan kemahahadiran Ilahi), syariat (komitmen ketaatan primordial), dan akhlak (tawakal, khauf, dan raja’). Penelitian ini menyimpulkan bahwa musik populer dapat menjadi medium dakwah kontemporer yang halus (soft-selling) dan mampu menjangkau khalayak luas tanpa memunculkan resistensi psikologis.
Dakwah Kreatif dalam Program IRAMA (Inspirasi Ramadan) oleh P3RI Salman ITB Latifa Khadma Nursyah Bania; Parihat Kamil; Ahmad Muttaqin
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 217-224
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24892

Abstract

Abstract. This study examines creative da’wah in the IRAMA (Ramadan Inspiration) program organized by P3RI at the Salman Mosque, ITB, as an effort to provide contextual da’wah to students and the younger generation through inspirational discussions and talk shows featuring speakers from various professions. The study aims to examine the implementation of the IRAMA program, analyze the dimensions of creative da’wah applied, and describe the opportunities and challenges in its implementation. The study utilizes qualitative data using a descriptive method through interviews, participatory observation, and document analysis. The data were analyzed using the theory of creative da’wah. The results of the study indicate that the IRAMA program is implemented in a way that reflects the five dimensions of creative da’wah in an integrated manner through five aspects: adaptive-contextual, communicative-dialogic, empathetic-humanistic, persuasive-reflective, and affective-rational. The program’s opportunities are based on the reputation and network of the Salman Mosque at ITB, while the challenges include coordinating cross-campus committees and limited technical resources. This study implies that creative da’wah can enhance the relevance, participation, and appeal of da’wah for the younger generation, while also establishing IRAMA as an inclusive and transformative model of contextual da’wah. Abstrak. Penelitian ini mengkaji dakwah kreatif dalam program IRAMA (Inspirasi Ramadan) yang diselenggarakan oleh P3RI Masjid Salman ITB sebagai upaya menghadirkan dakwah kontekstual bagi mahasiswa dan generasi muda melalui kajian inspiratif serta talkshow dengan narasumber lintas profesi. Penelitian bertujuan mengetahui pelaksanaan program IRAMA, menganalisis dimensi dakwah kreatif yang diterapkan, serta mendeskripsikan peluang dan kendala dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan data kualitatif dengan metode deskriptif melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, yang dianalisis menggunakan teori dakwah kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program IRAMA mencerminkan kelima dimensi dakwah kreatif secara terintegrasi, yaitu adaptif-kontekstual, komunikatif-dialogis, empatik-humanis, persuasif-reflektif, dan afektif-rasional. Peluang program bertumpu pada reputasi dan jejaring Masjid Salman ITB, sedangkan tantangan meliputi koordinasi kepanitiaan lintas kampus dan keterbatasan sumber daya teknis. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa dakwah kreatif mampu meningkatkan relevansi, partisipasi, dan daya tarik dakwah bagi generasi muda, sekaligus menjadikan IRAMA sebagai model dakwah kontekstual yang inklusif dan transformatif.