cover
Contact Name
Rina Saputri
Contact Email
apt.rinasaputri@gmail.com
Phone
+6282350203789
Journal Mail Official
sainsmedisina@wpcpublisher.com
Editorial Address
Komplek Kelapa Sawit No.13 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Sains Medisina
ISSN : -     EISSN : 29641853     DOI : -
Sains Medisina merupakan media publikasi penelitian orisinil dan review article tentang penemuan obat, sistem penghantaran obat, pengembangan obat, evaluasi sediaan kosmetik dan makanan. Jurnal ini mencakup bidang-bidang khusus seperti kimia obat, farmakologi, farmakognosi, fitokimia, farmakokinetik, farmakodinamik, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, bioteknologi farmasi, dan mikrobiologi.
Articles 203 Documents
Hubungan Lama Penggunaan Alat Kontrasepsi Implant Dengan Kejadian Gangguan Menstruasi Di Wilayah Kerja Puskesmas Tatah Makmur Julianda, Dea Shabrina; Kabuhung, Elvine Ivana; Hidayah, Nurul
Sains Medisina Vol 3 No 6 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i6.810

Abstract

Salah satu kontrasepsi jangka panjang (MKJP) adalah implant. Keuntungan dari kontrasepsi ini efektivitasnya tinggi, angka kegagalan implant, 1 per 100 wanita per tahun, kegagalan pengguna rendah, salah satu efek samping yang sering terjadi akibat penggunaan alat kontrasepsi ini adalah gangguan menstruasi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Tatah Makmur cakupan KB Aktif 3 tahun terakhir terjadi peningkatan sebanyak 70 akseptor serta terjadi peningkatan kunjungan akseptor KB Implant sebanyak 7 orang pada tahun 2022. Mengetahui Hubungan Lama Penggunaan Alat Kontrasepsi Implant dengan Kejadian Gangguan Menstruasi di Wilayah Kerja Puskesmas Tatah Makmur. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah akseptor alat kontrasepsi Implant pada tahun 2022 dengan jumlah sampel 42 orang. Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan uji chi square. Mayoritas responden tidak mengalami gangguan, yaitu sebanyak 29 orang (69%) sedangkan responden yang mengalami gangguan sebanyak 13 orang (31%). Serta lama penggunaan yang paling banyak 1-2 tahun terdapat 24 orang (57,1%). Hasil analisis Bivariat menunjukkan bahwa nilai p = 0,015 < α 0,05) maka Ho ditolak, atau terdapat Hubungan Lama Penggunaan Alat Kontrasepsi Implant dengan Kejadian Gangguan Menstruasi di Wilayah Kerja Puskesmas Tatah Makmur. Ada hubungan lama penggunaan alat kontrasepsi implant dengan kejadian gangguan menstruasi di wilayah kerja Puskesmas Tatah Makmur. Hal ini dikarenakan pengaruh hormonal yang berpengaruh kepada sistem reproduksi.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kematian Neonatal Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Pagatan Akhbar, Amaliya; Istiqamah; Haryono, Ika Avrilina
Sains Medisina Vol 3 No 6 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i6.811

Abstract

Pendahuluan: Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah salah satu indikator derajat kesehatan di dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dimana targetnya pada tahun 2030 diharapkan seluruh negara dapat menurunkan angka kematian neonatal hingga 12 per 1000 kelahiran hidup. Di Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2018 kematian bayi sebanyak 38 kasus, 2019 sebanyak 66 kasus, 2020 sebanyak 64 kasus dan tahun 2021 meningkat menjadi 70 kasus. Tujuan: mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kematian neonatal di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Pagatan di Kabupaten Tanah Bumbu. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Dengan teknik systematic random sampling sehingga didapatkan 100 responden sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan analisis chi-square dalam pengolahan data dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil: Penelitian ini menunjukan responden dengan usia berisiko memiliki risiko 3,750 kali lebih besar mengalami kematian neonatal, frekuensi ANC berisiko memiliki risiko 2,581 kali lebih besar mengalami kematian neonatal, BBLR memiliki risiko 13,556 kali lebih besar mengalami kematian neonatal, dan asfiksia memiliki risiko 25,464 kali lebih besar mengalami kematian neonatal. Simpulan: faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal diwilayah kerja Puskesmas Perawatan Pagatan adalah usia ibu, frekuensi ANC, BBLR, dan asfiksia.
Review Artikel : Pengaruh Suhu Terhadap Stabilitas Obat Tablet Dewi, Mifta; Musa’adah; Latifah, Nor
Sains Medisina Vol 3 No 6 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i6.812

Abstract

Kestabilan obat adalah faktor penting yang menentukan keamanan, efektivitas, serta kualitas sediaan farmasi selama penyimpanan. Tablet sebagai bentuk sediaan padat yang paling banyak digunakan sangat rentan terhadap perubahan suhu. Suhu tinggi dapat mempercepat kerusakan bahan aktif, yang menyebabkan penurunan kadar zat aktif dan efektivitas obat. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu terhadap stabilitas tablet melalui studi literatur. Hasil menunjukkan bahwa suhu tinggi secara signifikan menurunkan kestabilan tablet, khususnya pada suhu di atas suhu ruang. Oleh karena itu, pengawasan suhu selama penyimpanan dan distribusi sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk obat hingga akhir masa simpannya.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius) Sebagai Antidiare Pada Tikus Putih Yang Diinduksi Oleum Ricini Komaliya, Risyda; Aryzki, Saftia; Agustina, Ani; Saputri, Rina; Elisa, Audiya; Ramadhan, Novalina Rossa; Donaretsi, Olga Nathania; Laili, Rofiatul; Pratiwi, Sinta
Sains Medisina Vol 3 No 6 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i6.820

Abstract

Diare adalah kondisi Dimana seseorang mengalami buang air besar yang cair atau setengah padat yang dapat terjadi lebih dari tiga kali sehari. Tinja yang dikeluarkan tidak selalu memiliki lendir atau darah, dan jumlah volume tinja yang telah dikeluarkan dapat mencapai lebih dari 200 mL dalam sehari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antidiare Ekstrak Etanol Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius) sebagai anti diare pada tikus putih yang diinduksi Oleum Ricini. Daun Jeruju diketahui mengandung beragam senyawa bioaktif seperti alkaloid, saponin dan tanin yang berpotensi sebagai antidiare. Ekstrak Etanol Daun Jeruju diperoleh dari Teknik maserasi etanol 70% dan digunakan pada 15 ekor tikus putih yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 (negative) Na-CMC 0,5%, kelompok 2 (positif) Loperamide 2 mg, kelompok 3 EEDJ dosis 100mg/kgBB, kelompok 4 EEDJ dosis 200mg/kgBB, dan kelompok 5 EEDJ dosis 400mg/kgBB diberikan secara oral selama 5 jam, data dianalisis dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,254, karena p-value lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal frekuensi buang air besar. Meskipun hasil analisis statistik tidak ada perbedaan yang signifikan, secara deskriptif terdapat penurunan frekuensi BAB pada kelompok yang diberi ekstrak daun jeruju, terutama pada dosis 200 mg dan 400 mg. Hal ini menunjukkan adanya potensi efek dosis, di mana peningkatan dosis ekstrak daun jeruju mungkin berhubungan dengan penurunan frekuensi BAB.
Perbandingan Profil Disolusi Captopril, Metformin, Dan Kombinasnya Menggunakan Metode Disolusi Dalam Media Buffer Fosfat PH 6,8 Saputri, Rina; Komaliya, Risyda; Aryzki, Saftia; Agustina, Ani; Qibtiyah, Mariatul; Maharatini, Mei Eklesia; Henno, Mei; Zhafirah, Nurul
Sains Medisina Vol 4 No 1 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i1.807

Abstract

Obat generik seringkali dianggap memiliki mutu lebih rendah dibandingkan obat bermerek, padahal peranannya sangat penting dalam mendukung akses masyarakat terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan profil disolusi tablet captopril, metformin, serta kombinasinya dalam media buffer fosfat pH 6,8. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan enam jenis tablet, yaitu dua sampel captopril, dua sampel metformin, dan dua kombinasi keduanya. Uji disolusi dilakukan selama 450 menit, kemudian absorbansi larutan diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang masing-masing. Hasil menunjukkan bahwa captopril memiliki profil disolusi yang fluktuatif, metformin menunjukkan pelepasan zat aktif yang lebih stabil, sementara kombinasi captopril-metformin menampilkan profil disolusi kompleks dengan peningkatan cepat dan penurunan absorbansi pada waktu tertentu. Variasi ini disebabkan oleh perbedaan formulasi, sifat fisikokimia zat aktif, serta kemungkinan interaksi antar bahan aktif dalam kombinasi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan pentingnya evaluasi biofarmasetika dalam pengembangan obat kombinasi guna memastikan mutu farmasetik dan bioavailabilitas yang optimal.
Kajian Profil Senyawa Flavonoid, Fenolik, Alkaloid Dan Terpenoid Pada Genus Ceriops Wisdayanti; Sumardi, Rosnidar
Sains Medisina Vol 4 No 1 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i1.829

Abstract

Komunitas mangrove Indonesia tercatat sebagai yang terluas dan memiliki keanekaraman jenis yang tertinggi di dunia. Jenis pohon mangrove yang umum dijumpai, salah satunya yaitu Ceriops. Hal ini merupakan suatu tantangan untuk melibatkan diri dalam penelitian mengidentifikasi senyawa-senyawa yang terdapat dari tumbuh-tumbuhan tersebut. Senyawa yang paling banyak dilaporkan memiliki peran dan banyak dimanfaatkan untuk bidang obat-obatan adalah metabolit sekunder. Contoh dari metabolit sekunder yang paling sering dimanfaat dan dilaporkan memiliki berbagai aktivitas biologis yaitu fenolik, flavonoid, terpenoid dan alkaloid. Genus Ceriops dilaporkan memiliki senyawa metabolit sekunder dengan berbagai efek bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada genus Ceriops. Metode yang digunakan dalam bentuk studi literatur dengan rentang tahun publikasi mulai 2010 – 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa flavonol merupakan jenis flavonoid yang dominan, fenolik yang sering ditemukan adalah phenylpropenes dan antraquinon, alkaloid yang banyak dijumpai ialah alkaloid indol, sedangkan terpenoid yang mendominasi adalah golongan diterpen dan triterpen. Tujuan tulisan ini untuk meninjau jenis flavanoid, terpenoid dan alkaloid yang ada pada beberapa tanaman Genus Ceriops sehingga memberikan komprehensif pandangan dalam pengembangan dan penemuan obat baru.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Serum Gel Ekstrak Bunga Melati (Jasminum sambac L.) Hikmah, Fitria Noor; Malahayati, Siti; NUgraha, Dyan Fitri
Sains Medisina Vol 2 No 3 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i3.29

Abstract

Serum merupakan produk perawatan kulit yang memiliki konsentrasi bahan aktif yang tinggi namun dengan viskositas yang rendah. Serum wajah dikenal memiliki kemampuan penyerapan di kulit yang cukup baik, sehingga pelepasan zat aktifnya berlangsung optimal dan mudah diaplikasikan pada permukaan wajah. Bunga melati (Jasminum sambac L.) diketahui mengandung senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dan Shigella flexneri pada konsentrasi 12%, di mana kedua bakteri ini merupakan salah satu penyebab munculnya jerawat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang sesuai dari sediaan serum gel ekstrak bunga melati serta dampak variasi konsentrasi hydroxyethyl cellulose terhadap evaluasi fisik sediaan serum gel tersebut. Metode yang digunakan adalah quasi experimental dengan variasi konsentrasi hydroxyethyl cellulose masing-masing 1 gram, 2 gram, dan 2,5 gram. Evaluasi fisik serum gel meliputi pengujian secara organoleptis, homogenitas, daya sebar, waktu kering, daya lekat, pH, dan viskositas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada uji organoleptis diperoleh cairan kental, dan pada uji homogenitas didapatkan sediaan yang homogen. Formulasi 1 memberikan hasil paling optimal pada uji daya sebar, waktu kering, dan daya lekat, sedangkan hasil uji pH optimal ditemukan pada formula 2. Seluruh formula memenuhi kriteria optimal pada uji viskositas. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa serum gel ekstrak bunga melati yang paling optimal adalah formulasi 1 dengan konsentrasi hydroxyethyl cellulose sebesar 1 gram.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) Terhadap Bakteri Salmonella typhi Theana, Milka; Mahdiyah, Dede; Rahmadani
Sains Medisina Vol 2 No 3 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i3.75

Abstract

Demam tifoid  saat ini masih menjadi masalah serius di dunia dan kerap terjadi di berbagai negara. Terapi farmakologi yang digunakan untuk demam tifoid yaitu antibiotik kloramfenikol, tetapi pada saat ini masih sering terjadi resistensi kloramfenikol terhadap Salmonella typhi sehingga perlu penemuan obat alternatif antibakteri untuk demam tifoid. Terapi alternatif non farmakologi yang sering digunakan yaitu ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) yang mempunyai kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin yang diduga dapat sebagai antibakteri. Tujuan pada penelitian ini yaitu mengidentifkasi nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan nilai Minimum Bactericidal Concentration (MBC) terhadap bakteri Salmonella typhi. Pada skrining aktivitas antibakteri ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) terhadap Salmonella typhi menggunakan metode difusi sumuran. Penentuan MIC dan MBC ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) menggunakan metode dilusi. Zona hambat aktivitas antibakteri ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) terhadap Salmonella typhi adalah 19,22 mm dan memiliki nilai MIC pada konsentrasi 50% (0,5 g/ml). Ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) tidak mempunyai kemampuan daya bunuh bakteri Salmonella typhi. Ekstrak gambir (Uncaria gambir (hunter) Roxb) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi dengan nilai MIC 0,5g/ml.
Analisa Bakteri Coliform Dengan Metode Most Probable Number (MPN) Dalam Air Es Dawet Yang Dijual Di Kecamatan Samarinda Kota Putri, Jessika; Lamri; Suryani, Maria Eka
Sains Medisina Vol 2 No 3 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i3.91

Abstract

Pencemaran es dawet oleh mikroorganisme dapat terjadi pada semua tahapan terutama pada proses pengolahan dan bahan baku yang digunakan Es dawet dapat terkontaminasi bakteri patogen melalui air. Salah satu bakteri yang dapat mencemari ialah bakteri coliform yang merupakan flora normal pada saluran pencernaan manusia, mikroba ini muncul sejak masuknya makanan ke dalam saluran pencernaan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cemaran bakteri coliform pada air es dawet yang dijual di Kecamatan Samarinda Kota. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Teknologi Laboratorium Medis pada bulan Desember tahun 2021. Sampel yang digunakan adalah es dawet yang dijual oleh 15 pedagang es dawet di Kecamatan Samarinda Kota. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling total sampling dengan analisis data univariate. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil uji laboratorium dengan pemeriksaan metode Most Probable Number (MPN). Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini diketahui bahwa 15 sampel es dawet yang diperiksa terkontaminasi bakteri coliform dengan nilai rata-rata total coliform 1194,73 MPN/100 ml dan fecal coliform 739,2 MPN/100. Hal ini menunjukkan bahwa es dawet yang dijual di Kecamatan Samarinda Kota tidak memenuhi syarat Permenkes RI No.492/Menkes/Per/ IV/2010 tentang kandungan coliform dalam minuman yaitu 0 MPN/100 ml.
Formulasi Dan Evaluasi Fisik Sediaan Deodoran Gel Kombinasi Ekstrak Kulit Jeruk, Teh Hijau Dan Buah Pepaya Redho Nugraha, Zen Achmad; Budi, Setia; Yusri
Sains Medisina Vol 2 No 3 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i3.215

Abstract

ABSTRACT. Orange peel extract has antibacterial activity, green tea extract has antiperspirant activity and papaya extract has skin lightening activity so that the three extracts are combined and a deodorant gel preparation is made. The deodorant gel is expected to give a cool feeling and be fast in application. The basic carbomer concentration used in this study is 0.5% -2%. The purpose of this study was to obtain deodorant formulations with active plant substances and to obtain optimization of formulations and to see physical evaluations of deodorant gel preparations combined with extracts of orange peel, green tea and papaya fruit. The method used is a pre-experimental one case shot study. Deodorant gel combination of extracts of orange peel, green tea and papaya fruit was made into three formulations with different gelling agent variations, in formulation I used carbomer (0.5%), formulation II used carbomer (1.5%) and formulation III used carbomer (2%). Organoleptic test and homogeneity test have met the requirements. In the pH test, it was found that the three formulations were in accordance with the skin pH requirements. on the viscosity test, formulations II and III met the viscosity requirements. Spreadability test, formulation I was in accordance with the requirements of the gel. The adhesion test, the three formulations complied with the adhesive power requirements, the dry time test, the three formulations complied with the dry time test requirements. irritation test showed that the three formulations did not cause a reaction, which means that the three formulations were safe to use. The optimal formulation is formulation I as seen from the mean value of the evaluation test carried out.