cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 500 Documents
Intervensi Edukasi Klinis Berbasis Pharmaceutical Care Guna Meminimalkan Risiko Medication Error Pascadispensing Terkait Beyond Use Date (BUD) Di Apotek Karanggayam Tahun 2026: Pharmaceutical Care-Based Clinical Educational Intervention to Minimize Post-Dispensing Medication Error Risks Related to Beyond-Use Date (BUD) at Karanggayam Pharmacy in 2026 Annisah Mahanani; Rr. Erni Kusuma Putri; Puput Eka Suryani; Irma Nurhidayah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1628

Abstract

Latar Belakang: Kesalahan penggunaan obat tidak hanya dapat terjadi pada tahap peresepan, penyiapan, dan penyerahan obat, tetapi juga setelah obat diterima oleh pasien. Salah satu masalah yang berpotensi terjadi adalah penggunaan obat yang telah melewati Beyond Use Date (BUD), khususnya pada obat yang telah dibuka, dikemas ulang, atau diracik. Pemahaman pasien mengenai BUD menjadi bagian penting dalam pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi klinis berbasis pharmaceutical care terhadap pengetahuan pasien dan risiko medication error pascadispensing terkait Beyond Use Date. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif quasi-experimental dengan desain one-group pretest-posttest. Penelitian melibatkan 72 pasien yang menerima obat di Apotek Karanggayam. Responden diberikan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi klinis mengenai BUD, penyimpanan obat, pelabelan, serta pembuangan obat yang tidak digunakan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 21 responden (29,2%) memiliki pengetahuan baik, 32 responden (44,4%) memiliki pengetahuan cukup, dan 19 responden (26,4%) memiliki pengetahuan kurang. Setelah intervensi, sebanyak 57 responden (79,2%) memiliki pengetahuan baik, 13 responden (18,1%) memiliki pengetahuan cukup, dan 2 responden (2,7%) memiliki pengetahuan kurang. Nilai median pengetahuan meningkat dari 65 menjadi 88. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah intervensi (p<0,001). Kesimpulan: Edukasi klinis berbasis pharmaceutical care berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan pasien mengenai BUD dan berpotensi meminimalkan risiko medication error pascadispensing. Konseling mengenai BUD perlu diintegrasikan dalam pelayanan kefarmasian rutin.
Analisis Kesenjangan Kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) Dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Di Puskesmas Ampana Barat Kabupaten Tojo Una Una: Gap Analysis of the Primary Service Integration (ILP) Policy in the Implementation of Health Programs at the West Ampana Community Health Center (Puskesmas), Tojo Una-Una Regency Asriani Asriani; Muh. Ilyas Nur; Diana Mirja Togubu; Sitti Nurfaizah; Rahmawati Rahmawati
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1630

Abstract

Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan kebijakan transformasi pelayanan kesehatan primer yang bertujuan mengintegrasikan pelayanan berdasarkan siklus hidup. Dalam pelaksanaannya di Puskesmas Ampana Barat masih ditemukan kesenjangan antara kebijakan dan kondisi di lapangan, terutama terkait sumber daya, komunikasi dan koordinasi, serta dukungan sistem organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan implementasi kebijakan ILP dalam pelaksanaan program kesehatan berdasarkan aspek ketersediaan sumber daya, komunikasi dan koordinasi, disposisi, serta struktur birokrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data yang digunakan bersifat induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan paling dominan terdapat pada ketersediaan sumber daya. Komunikasi dan koordinasi antarklaster cukup baik, tetapi sosialisasi kepada staf dan masyarakat belum merata serta integrasi sistem informasi belum optimal. Pada aspek disposisi, tidak ditemukan kesenjangan berarti karena pimpinan dan tenaga kesehatan mendukung dan berkomitmen terhadap penerapan ILP. Struktur birokrasi telah tersedia, namun masih terdapat kendala dalam pendokumentasian SOP dan integrasi aplikasi pelaporan. Dapat disimpulkan bahwa implementasi ILP di Puskesmas Ampana Barat telah berjalan dan meningkatkan koordinasi serta kemudahan pelayanan, tetapi belum sepenuhnya sesuai kebijakan. Kesenjangan terutama disebabkan keterbatasan sumber daya, komunikasi dan sistem informasi yang belum optimal, serta kendala administratif. Disposisi pelaksana menjadi faktor pendukung dalam penerapan ILP.
Analisis Perencanaan, Pengadaan, Dan Pendistribusian Sumber Daya Manusia Kesehatan Di Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai: Analysis of the Planning, Procurement, and Distribution of Health Human Resources at the Sinjai Regency Health Office Andi Rasmah; Muh. Ilyas Nur; Sukirno Kasau
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sumber daya manusia kesehatan (SDMK) menentukan kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menyediakan layanan yang bermutu dan merata. Penelitian ini bertujuan menganalisis perencanaan, pengadaan, dan pendistribusian SDMK, mengidentifikasi kendala pelaksanaannya, serta mengkaji upaya perbaikan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Sebanyak 13 informan dipilih secara purposif, terdiri atas dua informan kunci, enam informan utama, dan lima informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, pengodean, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan temuan diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan SDMK telah dilakukan setiap tahun secara berjenjang dari fasilitas pelayanan kesehatan ke Dinas Kesehatan dengan memanfaatkan Analisis Beban Kerja dan dokumen Rencana Kebutuhan. Namun, realisasi pengadaan melalui ASN, PPPK, dan penugasan khusus belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan karena keterbatasan formasi, kemampuan fiskal, dan ketergantungan pada kebijakan pemerintah. Pendistribusian telah mempertimbangkan kebutuhan pelayanan, kompetensi, beban kerja, dan kondisi geografis, tetapi pemerataan belum tercapai; beberapa fasilitas masih kekurangan profesi tertentu dan menerapkan tugas rangkap. Upaya yang dilakukan meliputi pembaruan data, koordinasi lintas sektor, redistribusi, optimalisasi tenaga yang tersedia, serta pelatihan. Temuan ini bermanfaat sebagai dasar penguatan kebijakan ketenagaan kesehatan daerah. Disimpulkan bahwa pengelolaan SDMK telah berjalan sesuai tahapan, tetapi efektivitasnya memerlukan integrasi perencanaan berbasis data dengan dukungan formasi, anggaran, dan kebijakan distribusi yang lebih responsif terhadap kebutuhan wilayah.
Analisis Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji Terhadap Kadar Hormon Estrogen Dan Progesteron Pada Wanita Usia Subur Di Desa Mojoagung: Analysis of Fast Food Consumption Patterns and Their Relationship to Estrogen and Progesterone Levels in Women of Reproductive Age in Mojoagung Village Sri Wahyuni
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1642

Abstract

Latar Belakang: Konsumsi makanan cepat saji semakin menjadi bagian dari pola makan wanita usia subur. Makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan energi, lemak, gula, dan natrium yang relatif tinggi serta rendah serat. Pola konsumsi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan status metabolik yang berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi, termasuk estrogen dan progesteron. Estrogen dan progesteron memiliki peran penting dalam pengaturan siklus menstruasi dan fungsi reproduksi wanita. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola konsumsi makanan cepat saji dengan kadar hormon estrogen dan progesteron pada wanita usia subur di Desa Mojoagung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Desa Mojoagung pada Juni–Agustus 2026. Sampel penelitian terdiri dari 50 wanita usia subur yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pola konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan menggunakan kuesioner frekuensi konsumsi makanan, sedangkan kadar hormon estrogen dan progesteron diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki pola konsumsi makanan cepat saji dalam kategori sedang dan tinggi. Responden dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji yang lebih tinggi cenderung menunjukkan kadar hormon estrogen dan progesteron yang kurang optimal dibandingkan responden dengan konsumsi yang lebih rendah. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pola konsumsi makanan cepat saji dengan kadar estrogen (p=0,021) dan progesteron (p=0,034). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara pola konsumsi makanan cepat saji dengan kadar hormon estrogen dan progesteron pada wanita usia subur di Desa Mojoagung. Pengurangan konsumsi makanan cepat saji dan penerapan pola makan yang beragam serta seimbang diperlukan untuk mendukung kesehatan reproduksi wanita.
Analisis Pengaruh Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Dan Sarana Prasarana Terhadap Implementasi Pengelolaan Limbah Medis Padat Di UPTD Puskesmas Andeo Kabupaten Konawe Utara: Analysis of the Influence of Knowledge, Attitudes, Practices, and Facilities on the Implementation of Solid Medical Waste Management at the Andeo Community Health Center, North Konawe Regency Misnayati Misnayati; Muhammad Rifai; Muh. Ilyas Nur
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1644

Abstract

Pengelolaan limbah medis padat penting untuk mencegah penularan infeksi, pencemaran lingkungan, dan pajanan kerja di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh simultan pengetahuan, sikap, perilaku, serta sarana dan prasarana terhadap implementasi pengelolaan limbah medis padat di UPTD Puskesmas Andeo Kabupaten Konawe Utara. Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang dilaksanakan pada Mei–Juni 2026 dan melibatkan seluruh 31 tenaga kesehatan melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara univariat serta regresi linier berganda. Hasil multivariat menunjukkan pengetahuan (β=0,253; p=0,037), sikap (β=0,318; p=0,006), serta sarana dan prasarana (β=0,503; p<0,001) berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan perilaku tidak signifikan setelah dikontrol bersama (β=0,084; p=0,487). Model signifikan (F=23,545; p<0,001) dan mampu menjelaskan 78,4% variasi pengelolaan limbah medis (R²=0,784). Sarana dan prasarana merupakan faktor paling dominan. Pemenuhan fasilitas, peningkatan kompetensi berkelanjutan, dan penguatan penerapan prosedur operasional standar perlu menjadi prioritas.
The Impact of Short-Form Video Addiction on Attention Control and Cognitive Regulation in Young Adults: A Systematic Review and Evidence Synthesis Alif Nurfattah Hakim; Alven Syahfi Yandi; Andreas Tuani Panahatan Irene Putera Siahaan
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1645

Abstract

Background: Short-form video addiction (SVA) among young adults raises significant concerns regarding executive dysfunction, yet its neurocognitive profile remains fragmented.  Methods: Guided by PRISMA 2020 and SWiM frameworks, five databases were searched for empirical studies assessing SVA alongside attentional control or reward/decision-making outcomes in youth aged 10–35.  Results: Six empirical studies (N = 3959) were synthesized. Higher SVA severity consistently correlated with poorer attentional and self regulatory control (r = -0,09 to -0,64). Go/No-go event-related potentials revealed attenuated No-go N2 amplitudes in addicted individuals, demonstrating impaired early response conflict monitoring. Concurrently, behavioral tasks and fNIRS neuroimaging indicated heightened risk-taking, shortened decision latencies, diminished loss aversion, and hyperactivation in the orbitofrontal cortex and frontopolar area during video-cue exposure and loss feedback.  Conclusion: SVA impairs top-down attentional control and distorts reward processing through prefrontal dysregulation. Interventions must emphasize proactive self regulation and curb algorithmic cue reactivity.
Analisis Faktor Determinan Ketidakpatuhan Konsumsi Tablet Fe Pada Ibu Hamil Setelah Pemberian Edukasi Kesehatan Tira Zhagira; Ayu Syah Putri; Murni Murni; Tri Lestari
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1646

Abstract

Latar Belakang: Tablet Fe merupakan salah satu intervensi penting dalam pencegahan anemia pada ibu hamil. Meskipun edukasi kesehatan telah diberikan, sebagian ibu hamil masih belum mengonsumsi tablet Fe secara teratur. Ketidakpatuhan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan, sikap, efek samping, dukungan keluarga, dan keteraturan kunjungan antenatal care (ANC). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan ketidakpatuhan konsumsi tablet Fe pada ibu hamil setelah pemberian edukasi kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juli 2026 dengan melibatkan 72 ibu hamil sebagai responden. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, efek samping, dukungan keluarga, kunjungan ANC, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 43 responden (59,7%) termasuk kategori tidak patuh mengonsumsi tablet Fe dan 29 responden (40,3%) patuh. Ketidakpatuhan lebih banyak ditemukan pada responden dengan pengetahuan kurang, sikap negatif, mengalami efek samping, dukungan keluarga kurang, dan kunjungan ANC yang tidak teratur. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan (p=0,018), sikap (p=0,009), efek samping (p=0,021), dukungan keluarga (p=0,013), dan keteraturan kunjungan ANC (p=0,031) dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe. Kesimpulan: Pengetahuan, sikap, efek samping, dukungan keluarga, dan keteraturan kunjungan ANC merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe setelah pemberian edukasi kesehatan
Hubungan Tipe-Tipe Kepribadian Perawat dengan Pengambilan Keputusan Klinis pada Kejadian Pneumonia: The Relationship Between Nurses’ Personality Types and Clinical Decision-Making in Cases of Pneumonia Dina Fitrianingsih; Baitus Sholehah; S Tauriana
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1647

Abstract

Pengambilan keputusan klinis merupakan kompetensi penting dalam praktik keperawatan karena berkaitan dengan ketepatan tindakan, kualitas asuhan, dan keselamatan pasien. Pada kasus pneumonia, perawat dituntut mampu mengenali kondisi pasien dan menentukan tindakan secara tepat dan cepat. Kemampuan tersebut tidak hanya dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga karakteristik individu, termasuk kepribadian. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tipe-tipe kepribadian perawat dengan pengambilan keputusan klinis pada kejadian pneumonia di RSIA Fatimah Kraksaan Probolinggo. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 40 perawat yang ditentukan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Big Five Personality Traits dan kuesioner pengambilan keputusan klinis. Analisis data menggunakan Uji Korelasi Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tipe-tipe kepribadian perawat dengan pengambilan keputusan klinis, dengan nilai Sig. (2-tailed) = 0,006 (p < 0,05) dan koefisien korelasi 0,430 yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang. Hasil ini dapat menjadi pertimbangan dalam pembinaan dan pengembangan kompetensi perawat dengan memperhatikan karakteristik kepribadian untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis secara konsisten dan profesional
Analisis Determinan Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Messa Kabupaten Halmahera Tengah: Analysis of Household Environmental Sanitation Determinants of Stunting Among Children Under Five in the Working Area of ​​Messa Community Health Center, Central Halmahera Regency Chalid Abd Halek; Muh. Ilyas Nur; Muhammad Khadafi S
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1648

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang berkaitan erat dengan kecukupan gizi, penyakit infeksi, dan sanitasi lingkungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah rumah tangga, dan kondisi saluran pembuangan air limbah (SPAL) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Messa Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian observasional analitik menggunakan desain cross-sectional dengan 77 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi sanitasi rumah tangga, dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil univariat menunjukkan 12 balita (15,6%) mengalami stunting dan 65 balita (84,4%) tidak stunting; 87,0% rumah tangga memiliki akses air bersih baik, 81,8% memiliki jamban layak, 76,6% mengelola sampah dengan baik, dan 76,6% memiliki kondisi SPAL baik. Analisis bivariat menunjukkan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah, dan kondisi SPAL masing-masing berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,000). Proporsi stunting lebih tinggi pada akses air bersih kurang baik (80,0%), jamban kurang layak (57,1%), pengelolaan sampah kurang baik (50,0%), dan SPAL kurang baik (55,6%). Sanitasi lingkungan rumah tangga merupakan komponen penting dalam pencegahan stunting sehingga perbaikan air bersih, jamban sehat, pengelolaan sampah, dan SPAL perlu diintegrasikan dengan intervensi gizi dan kesehatan balita.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesadaran Perlindungan Terhadap Kekerasan Berbasis Gender Dalam Kesehatan Reproduksi: Analysis of Factors Associated with Awareness of Protection Against Gender-Based Violence in Reproductive Health Astin Nur Hanifah; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1653

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan berbasis gender merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat memberikan dampak luas terhadap kesehatan fisik, psikologis, seksual, dan reproduksi. Rendahnya kesadaran mengenai bentuk kekerasan, hak kesehatan reproduksi, mekanisme perlindungan, serta akses terhadap layanan dapat meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kekerasan. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran perlindungan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender dalam kesehatan reproduksi pada perempuan usia reproduksi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian melibatkan 60 perempuan usia reproduksi yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel independen meliputi pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender, sikap terhadap kesetaraan gender, akses informasi kesehatan reproduksi, dukungan sosial, dan paparan edukasi kesehatan reproduksi. Variabel dependen adalah kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 38 responden (63,3%) memiliki kesadaran perlindungan yang baik dan 22 responden (36,7%) memiliki kesadaran kurang baik. Kesadaran perlindungan berhubungan dengan pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender (p=0,003), sikap terhadap kesetaraan gender (p=0,008), akses informasi kesehatan reproduksi (p=0,017), dukungan sosial (p=0,026), dan paparan edukasi kesehatan reproduksi (p=0,011). Kesimpulan: Pengetahuan, sikap terhadap kesetaraan gender, akses informasi, dukungan sosial, dan paparan edukasi berhubungan dengan kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender dalam kesehatan reproduksi. Penguatan edukasi kesehatan reproduksi yang sensitif gender dan peningkatan akses terhadap informasi serta layanan perlindungan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam mengenali dan mencegah kekerasan.