cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 156 Documents
Identifikasi Cacing Hati (Fasciola spp.) Pada Hati Dan Cairan Empedu Kambing Di Warung Sate Ghofur, Abdul; Nathania, Neysa Ega
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1841

Abstract

Infeksi cacing hati (Fasciola spp.) yang menyerang hewan ternak seperti kambing, sapi, domba, dan kerbau perlu diwaspadai, karena hewan ternak banyak dijadikan olahan makanan. Hewan ternak dijadikan olahan makanan karena rasanya lezat dan memiliki kandungan protein hewani yang tinggi. Terutama pada kambing yang dijadikan bahan baku di warung sate, sate kambing sering kali disajikan dalam keadaan setengah matang karena terksturnya yang empuk sehingga banyak diminati masyarakat. Namun adanya hati kambing dalam olahan sate setengah matang menjadi risiko infeksi cacing hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi Fasciola spp. pada hati dan cairan empedu kambing di warung sate. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jumlah 16 sampel yang memenuhi kriteria ekslusi dan inklusi. Sampel penelitian diperiksa secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil dari pemeriksaan diperoleh 2 sampel hati (25%) positif mengandung cacing Fasciola spp. dan 1 sampel cairan empedu (12,5%) positif mengandung telur cacing Fasciola spp.  Dari hasil tersebut dapat disimpulkan adanya infeksi Fasciola spp. pada sate.
GAMBARAN KADAR UREUM DAN KREATININ PENDERITA GANGGUAN JIWA YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIPSIKOTIK DI RSKD DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR Prasetyorini, Tri; Salbiah, Salbiah; Purwanti, Angki; Pani, Silvia Septi
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1861

Abstract

Gangguan jiwa masih menjadi masalah sosial dan kesehatan yang jumlahnya masih banyak di Indonesia khususnya di Jakarta. Banyak dari penderita gangguan jiwa belum memiliki akses terhadap perawatan efektif dan juga banyak yang mengalami stigma dan diskriminasi. Gangguan jiwa umumnya ditandai dengan kerusakan emosi, pikiran dan perilaku, oleh karena itu penderita gangguan jiwa akan mendapatkan terapi obat antipsikotik untuk mengurangi gejala kekambuhan, namun konsumsi obat dengan dosis besar dan jangka waktu yang lama dapat berpengaruh terhadap penurunan sistem fungsi ginjal yang ditandai dengan kenaikan kadar ureum dan kreatinin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum dan kreatinin penderita gangguan jiwa yang mendapat terapi obat antipsikotik di RSKD Duren Sawit. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan mengambil 110 data sekunder dari catatan rekam medik di RSKD Duren Sawit periode Januari 2023 – April 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa adalah laki-laki (73%) dengan rentang usia 21-40 tahun (51%), penderita gangguan jiwa sebagian besar sudah mengkonsumsi obat lebih dari 6 tahun (52%), penderita gangguan jiwa sebagian besar mengkonsumsi jenis obat antipsikotik atipikal (92%). Hasil penelitian dapat disimpulkan dari 110 penderita gangguan jiwa kadar ureum sebagian besar masih normal (77%) dan hasil penelitian kadar kreatinin sebagian besar juga kadarnya masih normal (82%).Gangguan jiwa masih menjadi masalah sosial dan kesehatan yang jumlahnya masih banyak di Indonesia khususnya di Jakarta. Banyak dari penderita gangguan jiwa belum memiliki akses terhadap perawatan efektif dan juga banyak yang mengalami stigma dan diskriminasi. Gangguan jiwa umumnya ditandai dengan kerusakan emosi, pikiran dan perilaku, oleh karena itu penderita gangguan jiwa akan mendapatkan terapi obat antipsikotik untuk mengurangi gejala kekambuhan, namun konsumsi obat dengan dosis besar dan jangka waktu yang lama dapat berpengaruh terhadap penurunan sistem fungsi ginjal yang ditandai dengan kenaikan kadar ureum dan kreatinin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar ureum dan kreatinin penderita gangguan jiwa yang mendapat terapi obat antipsikotik di RSKD Duren Sawit. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan mengambil 110 data sekunder dari catatan rekam medik di RSKD Duren Sawit periode Januari 2023 – April 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa adalah laki-laki (73%) dengan rentang usia 21-40 tahun (51%), penderita gangguan jiwa sebagian besar sudah mengkonsumsi obat lebih dari 6 tahun (52%), penderita gangguan jiwa sebagian besar mengkonsumsi jenis obat antipsikotik atipikal (92%). Hasil penelitian dapat disimpulkan dari 110 penderita gangguan jiwa kadar ureum sebagian besar masih normal (77%) dan hasil penelitian kadar kreatinin sebagian besar juga kadarnya masih normal (82%).
ANALISIS SEDIAAN FOOT SPRAY EKSTRAK ETANOL DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Fatayati, Imma; Farwa, Syalsabilla; Tumpuk, Sri; Wahdaniah, Wahdaniah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1821

Abstract

The appearance of foot odor is due to the emergence of sweat in the apocrine glands which contain organic ingredients such as the amino acid leucine. Bacteria on the feet have the degrading enzyme leucine dehydrogenase which will degrade the amino acid leucine in sweat into isovaleric acid which is an odorous compound. Foot spray is a foot odor removal product that dries faster and is easier to use. Starfruit leaves contain alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids as antibacterials. This research aims to explain the size of the inhibition zone formed in five formulas to inhibit Staphylococcus aureus bacteria. This research uses a Quasi Experiment design. The sample used was foot spray of starfruit leaf extract with five treatments, namely formula I (concentration 10%), formula II (concentration 20%), formula III (concentration 30%), formula IV (concentration 40%) and formula V (concentration 50%) with 5 replications so that the number of samples used was 25 samples which were tested for strength against Staphylococcus aureus using the diffusion method. Based on the results of the inhibition test, the inhibition zone formed in formula I was an average of 9.2 mm (moderat), formula II was 10.6 mm (moderat), formula III was 11.4 mm (stronge), formula IV was 12 mm (stronge) and formula V was 12.6 mm (stronge). From the results Friedman test, it was found that p value = 0.002 < α 0.05 so that there were differences in foot spray preparations of ethanol extract of starfruit leaves formulas I, II, III, IV and V against Staphylococcus aureus.
Hubungan Nilai Kreatinin dan Ureum Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Bogor Margono, Bambang
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1806

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) di Indonesia meningkat seiring bertambahnya usia dan tertinggi pada usia ≥ 75 tahun dimana prevalensi pada laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan nilai kreatinin dan ureum terhadap kadar hemoglobin pada penderita penyakit ginjal kronis di RS PMI Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian observasi melalui hasil pemeriksaan laboratorium untuk melihat adanya hubungan antar masing-masing variabel. Sampel yang digunakan sebanyak 50 pasien laki-laki dan perempuan berusia 44-65 tahun. Metode analisis yang digunakan adalah menggunakan SPSS 20. Hasil pengujian didapat 39 orang (78 %) nilai hemoglobin 4,2-8,0 g/dL dan 11 orang (22 %) nilai hemoglobin 8,1-12,0 g/dL. Hasil pemeriksaan kreatinin paling banyak 26 orang (52 %) pada nilai kreatinin 7,1-10,0 mg/dL dan 24 orang (48 %) pada nilai kreatinin 2,0-7,0 mg/dL. Hasil pemeriksaan ureum diperoleh 25 orang (50 %) nilai ureum 71-100 mg/dL dan sebanyak 25 orang (50 %) nilai ureum 101-150 mg/dL. Terdapat hubungan yang signifikan nilai kreatinin terhadap kadar hemoglobin (r = 0,414 dan p value 0,003) dan ada hubungan yang signifikan nilai ureum terhadap hemoglobin (r = 0,435 dan p value 0,002). Disarankan melakukan penelitian lanjutan dengan parameter pemeriksaan lainnya untuk mendiagnosa penyakit ginjal kronik dan ditingkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal.
HUBUNGAN MENGKONSUMSI TABLET BESI TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL TRIMESTER DUA DI PUSKESMAS SIANTAN TENGAH KELURAHAN SIANTAN TENGAH Sutriswanto, Sutriswanto; Slamet, Slamet; Djohan, Herlinda; Febrianti, Aprilia
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1854

Abstract

Anemia adalah penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen karena jumlah sel darah merah yang kurang dari normal bisa disebabkan kehilangan banyak darah (Parulian et al., 2016). Anemia kehamilan disebut potensi membahayakan ibu dan anak, karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan (Pratiwi & Fatimah, 2019). Beberapa penelitian melaporkan bahwa pemberian tablet Fe dapat meningkatkan kadar hemoglobin serta mengurangi kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar hemoglobin ibu hamil trimester dua sebelum dan sesudah mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Siantan Tengah Kelurahan Siantan Tengah. Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode Automatic Hematology Analyzer. Sampel yang diencerkann dengan larutan elektrolit dialirkan melalui micro-apertura yang telah terkalibrasi. Hasil penelitian hasil uji normalitas bahwa nilai p-value bernilai 0,108 dan 0,200 dimana lebih besar bila dibandingkan taraf signifikansi 0,05, sehingga data berdistribusi normal. Hasil pengujian homogenitas nilai signifikansi bernilai 0,983 dimana lebih besar dibandingkan 0,05, data tersebut memiliki varians yang sama (homogen). Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan terdapat perbedaan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester dua sebelum dan sesudah mengkonsumsi tablet Fe di Puskesmas Siantan Tengah Kelurahan Siantan Tengah dengan hasil uji diketahui nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,0, maka Ho diterima. Bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil pemeriksaan pertama dan persamaan kedua.
The Effect of Antihypertensive Drugs (Diuretic, Non-Diuretic Types) on Serum Electrolyte Levels (Na+, K+, Cl-) in Hypertensive Patients Irmawati, Irmawati; Nidianti, Ersalina; Anggraini, Rahayu; Kartika Sari, Nathalya Dwi
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1550

Abstract

Hypertension is one of the most common cardiovascular diseases and is still a major problem in the world. The prevalence of hypertension continues to increase every year, especially increasing most rapidly in developing countries (80% in the world). Treatment of hypertension is adjusted to the results of the examination, the cause and the patient's health condition. Antihypertensive drugs are divided into diuretic and non-diuretic types. This study aims to evaluate the effect of antihypertensive drugs on serum electrolyte levels in hypertensive patients. This type of study is observational analytic with a cross-sectional approach, on the effect of diuretic and non-diuretic antihypertensive drugs on hypertensive patients with a sample population of 30 samples. The method of examining the levels of electrolytes Na +, K +, Cl- is Ion selective electrolyte (ISE) with the provisions of normal sodium values of 135-145 mmol / L, potassium 3.5-5.5 mmol / L, chloride 94-110 mmol / L. The results of statistical tests showed that the average value of those consuming diuretic antihypertensive drugs was 141.06 mmol/L sodium, 4.27 mmol/L potassium, 106.55 mmol/L chloride and those consuming non-diuretic antihypertensive drugs were 137.89 mmol/L potassium, 4.08 mmol/L chloride 102.29 mmol/L. From the results of the Kruskal Wallis test, the p-value for sodium levels was 0.164, potassium 0.221, chloride 0.046, which means that there is no effect on hypertensive patients consuming diuretic and non-diuretic antihypertensive drugs on serum electrolyte levels of sodium, potassium, but there is a significant effect on chloride levels. 
Aktivitas Hepatoprotektor Ekstrak Akar Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis) Terhadap Mencit Terinduksi Paracetamol Putri, Rr. Erni Kusuma; Yuswar, Muhammad Akib; Widiyantoro, Ari
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1894

Abstract

Tanaman pecut kuda (Stachytarpheta jamaicensis) merupakan salah satu gulma yang banyak digunakan oleh masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat untuk pengobatan malaria, demam dan hepatitis. Masyarakat selalu menggunakan rebusan akar untuk pengobatan tradisional. Penelitian ini akan mengungkapkan aktivitas hepatoprotektor ekstrak etanol akar pecut kuda dengan variasi pengeringan dan maserasi. Sampel akar pecut kuda dilakukan pengeringan secara kering angin dan oven pada suhu 35oC. Proses ekstraksi dilakukan secara maserasi, sokletasi dan perkolasi. Semua ekstrak etanol dilakukan pengujian fitokimia serta kadar total fenolik dan flavonoid. Ekstrak etanol dengan kadar total fenolik dan flavonoid terbaik dilakukan uji aktivitas hepatoprotektor terhadap mencit yang diinduksi parasetamol 500 mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol akar pecut kuda yang dilakukan pengeringan kering angin dan ekstraksi secara maserasi menunjukkan aktivitas hepatoprotektor terbaik yaitu pada dosis 100 mg/100 g BB menunjukkan SGPT 112,3±2,11 (U/L) dan SGOT 90,4±1,31 (U/L) dengan pembanding curliv 50 mg/100 g BB yang menunjukkan SGPT 109,2±1,91 (U/L) dan SGOT 72,8±1,62 (U/L). Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol akar pecut kuda potensial sebagai hepatoprotektor. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa metabolit sekunder golongan fenolik dan flavonoid berperan penting dalam aktivitas hepatoprotektor tersebut.
Gambaran Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Lanjut Usia (Lansia) di Puskesmas Kota Pontianak Agustriana, Fadhila; Nurhayati, Etiek; Salim, Maulidiyah; Djohan, Herlinda
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1890

Abstract

Lanjut usia (lansia) merupakan kelompok usia ≥60 tahun yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah gangguan metabolisme glukosa yang dapat berujung pada diabetes melitus. Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi kronis dan memperburuk kualitas hidup lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kadar glukosa darah puasa (GDP) pada lansia yang berkunjung ke Puskesmas Perumnas II Sungai Beliung, Kota Pontianak periode Januari-Desember 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 561 orang lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi lansia yang melakukan pemeriksaan GDP di Puskesmas Perumnas II, sedangkan kriteria ekslusinya adalah lansia yang melakukan pemeriksaan glukosa darah sewaktu di Puskesmas Perumnas II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 561 lansia yang melakukan pemeriksaan GDP terdapat 379 (67,56%) lansia yang memiliki kadar GDP ≥126 dan hanya ada 182 (32,44%) lansia yang memiliki kadar GDP <126. Kurangnya aktivitas fisik, usia lanjut dan pola makan tinggi karbohidrat adalah faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kadar glukosa darah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya edukasi berkelanjutan dan pemantauan rutin kadar glukosa darah puasa pada lansia di tingkat pelayanan primer guna mencegah komplikasi yang lebih lanjut.
The Effect of Kratom Leaf Alkaloid Extract on Blood Glucose Levels Using an In Vivo Method Dewi, Bastiana; Kamilla, Laila; Sutriswanto, Sutriswanto; Tumpuk, Sri; Triana, Linda
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1851

Abstract

Kratom contains alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins, which have traditionally been used to boost energy and treat various health conditions, including diabetes. This study aims to analyze the effect of kratom leaf alkaloid extract on blood glucose levels in vivo using a quasi-experimental design. The subjects were 27 male Swiss Webster mice (Mus musculus), divided into three treatment groups receiving kratom leaf alkaloid extract at doses of 0.147 mg/20gBW, 0.294 mg/20gBW, and 0.588 mg/20gBW. The alkaloid extract was obtained through fractionation. Each treatment group was replicated nine times using purposive sampling. An oral glucose tolerance test was conducted to measure blood glucose levels. The Simple Linear Regression test results showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant effect of kratom leaf alkaloid extract on blood glucose levels in vivo.
Kontak Serumah dan Kejadian Penularan Tuberkulosis di Pontianak Barat Nurhayati, Etiek; Rahmawati, Eri; Sutriswanto, Sutriswanto; Tumpuk, Sri; Triana, Linda
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i2.1859

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit menular disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit Tuberkolosis paru ditularkan melalui udara (droplet nuclei), saat penderita batuk, bersin atau berbicara, kuman TB paru yang berbentuk droplet akan bertebaran di udara. Kontak serumah dengan penderita tuberkulosis aktif berisiko tertular dibandingkan dengan yang tidak kontak dengan penderita tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko penularan TB paru pada orang yang kontak serumah meliputi lama kontak dan tidur sekamar dengan penderita di wilayah kerja Puskesmas Perumnas II Kecamatan Pontianak Barat. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling.  Jumlah sampel sebanyak 77 responden yang tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis paru yang masih aktif berobat di wilayah kerja Puskesmas Perumnas II Kecamatan Pontianak Barat, 2024. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, kunjungan rumah dan pemeriksaan laboratorium BTA secara mikroskopis. Hasil analisis menunjukkan dari 77 responden yang memiliki kontak dengan penderita ≥ 8 jam sebanyak 37 responden (48,1%) dan didapatkan 4 responden yang hasil BTA (+). Lama kontak dengan prevalensi sebanyak (10,8%) dan tidur sekamar dengan prevalensi sebanyak (36,3%). Maka disimpulkan bahwa terdapat  penularan TB Paru pada orang yang kontak serumah dengan penderita di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas II Kecamatan Pontianak Barat.