cover
Contact Name
Fauzan
Contact Email
jurnal.madania@gmail.com
Phone
+6281331852714
Journal Mail Official
jurnal.madania@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211 Bengkulu, Sumatra, Indonesia
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Madania: Jurnal Kajian Keislaman
ISSN : 14108143     EISSN : 25021826     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/madania
Madania: Jurnal Kajian Keislaman is a peer-reviewed international journal focusing on Islamic studies. The journal provides a platform for disseminating the latest research and scholarly discussions on Islam and Muslim culture in a broad sense, encompassing theoretical and empirical investigations of themes relevant to Muslim societies globally and beyond. Madania publishes articles under six main topics: Islamic Law – Discussions on fiqh, legal theory, and contemporary issues in Islamic jurisprudence. Islamic Education – Research on pedagogical theories, practices, and innovations in Islamic education. Islamic Economy – Analyses of Islamic financial systems, economic theories, and practices. Islamic Theology, Philosophy, and Psychology – Studies exploring theological debates, philosophical perspectives, and psychological dimensions of Islamic thought. Islamic Communication – Research on communication ethics, media studies, and the role of communication in Islamic contexts. Study of the Qur’an and Hadith – Investigations of textual analysis, interpretations, and the application of Islamic scriptures. Madania accepts two types of articles: Research Articles: Scholarly reports presenting the results of quantitative or qualitative studies that contribute to the advancement of knowledge in Islamic studies across the six themes. Conceptual Articles: Papers offering theoretical perspectives, models, or philosophical analyses relevant to Islamic studies, engaging with contemporary theories and frameworks. All submissions to Madania undergo a rigorous double-blind peer-review process to ensure high standards of quality and academic integrity. The journal is committed to publishing original, innovative, and impactful research that addresses contemporary challenges in the Islamic world.
Articles 204 Documents
Examination of Sexual Violence in Islamic Boarding Schools in Lombok: An Islamic Legal Perspective and Formulation of Preventive Strategies Fikri, M. Ali; Fahrurrozi, Fahrurrozi
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 28, No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v28i2.6388

Abstract

This study aims to explore the problem of sexual violence in Islamic boarding schools in Lombok, by examining the perspective of Islamic law and formulating prevention strategies. Sexual violence in religious educational environments such as Islamic boarding schools is often invisible and overlooked, even though it has serious impacts on victims and the reputation of the institution. Using a qualitative approach, this study collected data through interviews with Islamic boarding school administrators, teachers, and other relevant parties, and examined applicable policies and practices. This study evaluates how Islamic legal principles, including protection of individual honor and rights, can form the basis for formulating prevention strategies. From an Islamic legal perspective, sexual violence is considered a serious violation of the principles of justice, honor, and protection of human rights. The Quran and hadith teach that forced sexual intercourse without consent is a major sin, which can be punished both in this worldly and the hereafter, in accordance with the principles of qisas and ta'zir. The research findings indicate the importance of counselling and training for Islamic boarding school administrators, as well as the need to strengthen internal regulations and cooperation with the authorities. This research is expected to contribute to formulating concrete steps that are effective in preventing sexual violence in Islamic boarding schools, while maintaining the integrity of Islamic-based education. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri permasalahan kekerasan seksual di pesantren di Lombok, dengan mengkaji perspektif hukum Islam dan merumuskan strategi pencegahannya. Kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama seperti pesantren seringkali tidak terlihat dan terabaikan, meskipun memiliki dampak serius terhadap korban dan reputasi institusi. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara dengan pengasuh pesantren, guru, serta pihak terkait lainnya, dan meneliti kebijakan serta praktik yang berlaku. Kajian ini mengevaluasi bagaimana prinsip-prinsip hukum Islam, termasuk perlindungan terhadap kehormatan dan hak individu, dapat menjadi landasan dalam menyusun strategi pencegahan. Dalam perspektif hukum Islam, kekerasan seksual dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip keadilan, kehormatan, dan perlindungan hak asasi manusia. Al-Qur'an dan hadis mengajarkan bahwa tindakan pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan adalah dosa besar, yang dapat dikenakan hukuman baik secara duniawi maupun ukhrawi, sesuai dengan prinsip qisas dan ta'zir. Temuan penelitian menunjukkan pentingnya penyuluhan dan pelatihan bagi pengelola pesantren, serta perlunya penguatan regulasi internal dan kerja sama dengan pihak berwenang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan langkah-langkah konkret yang efektif dalam mencegah kekerasan seksual di pesantren, sekaligus menjaga integritas pendidikan berbasis Islam.
Turun Ranjang Marriage in Interdisciplinary Perspective: A Study on the Community of West Java and Lampung Ja’far, A. Kumedi; Indra, Gandhi Liyorba; Firdawaty, Linda; Rohmadi, Rohmadi
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 24, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v24i2.5227

Abstract

Turun ranjang marriage is a tradition that shows a widower or widow who married their brother or sister-in-law. This tradition of turun ranjang marriage only occurs when one married couple passes away. However, the existence of turun ranjang marriage is still understood as only part of the implementation of local culture. This paper took the object of West Java and Lampung’s society by focusing on how the position and practice of turun ranjang marriage, as well as several perspectives within it, including: Islamic law, psychological, sociological, and economic perspectives. This research is a field research using the observation method, the interview method, and the documentation method. The results showed that the tradition of turun ranjang marriage is valid as long as the terms and conditions of marriage are fulfilled, both in Islamic law and national legal system. When viewed from the wedding procession, the two regions have something in common, namely that it is carried out more simply, in contrast to the usual wedding procession. However, if seen from the motive for turun ranjang marriage, the Lampung area aims to maintain traditional honor and to continue the lineage, while in West Java it aims to maintain family inheritance. The results of this study also indicate that economic, psychological, and social perspectives are factors that influence people's understanding of practicing turun ranjang marriage in having a happy and lasting family. Perkawinan turun ranjang merupakan sebuah tradisi yang menunjukkan seorang duda atau janda yang mengawini adik atau kakak iparnya. Tradisi perkawinan turun ranjang ini hanya terjadi apabila salah satu pasangan suami istri meninggal dunia. Namun demikian, keberadaan perkawinan turun ranjang masih dipahami hanya sebatas bagian  dari implementasi budaya lokal setempat. Tulisan ini mengambil objek di daerah  Jawa Barat dan Lampung dengan menfokuskan kepada bagaimana kedudukan  dan praktek perkawinan turun ranjang, serta beberapa pandangan dibalik perkawinan turun ranjang, antara lain: pandangan hukum Islam, psikologis, sosiologis, dan ekonomi. Penelitian ini  merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode observasi, metode interview, dan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi  perkawinan turun ranjang adalah sah selama syarat dan rukun perkawinan terpenuhi, baik secara hukum Islam maupun perundang-undangan. Jika dilihat dari prosesi perkawinan, kedua daerah tersebut memiliki kesamaan yaitu dilakukan dengan lebih sederhana, berbeda dengan prosesi perkawinan biasa. Namun, jika dilihat dari motif dalam melangsungkan perkawinan turun ranjang, maka daerah Lampung bertujuan untuk menjaga kehormatan adat dan untuk meneruskan garis keturunan, sementara di Jawa barat bertujuan untuk mempertahankan harta warisan keluarga. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pandangan ekonomi, psikologi, dan sosial merupakan faktor yang mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam melangsungkan pernikahan turun ranjang dalam membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
Dynamics of Dayah Ulama's Thoughts on the Langsa City Qanun Regarding Entertainment Management Faisal, Faisal; Asmuni, Asmuni; Zainul F, Phil.; Anshori, Ahmad Afnan
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 28, No 1 (2024): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v28i1.3499

Abstract

The aim of this study is to discuss the dynamics of the understanding of dayah scholars towards Qanun Number 3 of 2016 concerning the Implementation of Entertainment in Langsa City. Qonun was born as a response to public anxiety about the phenomenon of mushrooming entertainment venues and sources of violence among the people of Langsa city. However, what particulary interesting is whether this qanun is accepted by all segments of society, especially by dayah or Acehnese ulama. This study is empirical juridical research. The data collection techniques used in this study were interviews and documentation. Meanwhile, the analysis technique employed is descriptive. This research is conducted in Langsa City, where the Islamization movement is strongly embedded in public spaces and governance. The informants of this research included dayah scholars, chairpersons or members of the Ulema Consultative Assembly (MPU) Langsa city, as well as residents of Langsa city. An important finding of this study is the differing views among dayah scholars on the qanun issued by the Langsa City government, particularly Qanun Number 3 of 2016 regarding the implementation of entertainment in Langsa City. Some scholars approve and support the qanun, while others do not support or see a need for it. The influence of dayah ulama on Qanun Number 3 of 2016 is significant and has support from the people of Langsa city, Consequently, the opinions or fatwas expressed by dayah ulama in the community are considered authoritative and must be followed. Studi ini bertujuan membahas tentang dinamika pemahaman ulama dayah terhadap Qanun Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Hiburan di Kota Langsa. Qonun ini lahir sebagai respon dari kegelisahan masyarakat terhadap fenomena menjamurnya tempat tempat hiburan dan sumber kemaksiatan ditengah tengah masyarakat kota Langsa. Namun yang menarik, apakah qonun ini diterima oleh semua kalangan masyarakat terutama oleh para dayah atau ulama Aceh. Studi ini adalah penelitian yuridis empiris. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa yang digunakan adalah teknik deskriptif analisis. Penelitian ini berlokasi di kota Langsa karena di kota langsa ini gerakan Islamisasi tumbuh kuat dalam ruang publik dan juga dalam tata pemerintahan. Informan penelitian ini berasal dari ulama-ulama dayah, ketua atau anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) kota Langsa, serta warga masyarakat kota Langsa. Temuan penting dalam penelitian ini adalah telah terjadinya perbedaan pandangan ulama dayah terhadap qanun yang dikeluarkan oleh pemerintah kota Langsa khususnya Qanun Nomor 3 Kota Langsa Tahun 2016 tentang penyelenggaraan hiburan di Kota Langsa yaitu ada yang menyetujui dan mendukung, ada yang tidak mendukung dan tidak perlu adanya qanun tersebut. Pengaruh ulama dayah terhadap Qanun Nomor 3 tahun 2016 sangat besar dan mendapat dukungan dari dari masyarakat Kota Langsa sehingga apa yang dikatakan ulama dayah dalam masyarakat merupakan sebuah fatwa atau pendapat yang harus diikuti.
Power-Based Political Economy in Persatuan Islam (Persis) Sects in Sapeken, Sumenep-Madura Dodi, Limas
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 25, No 1 (2021): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v25i1.4422

Abstract

This research describes the phenomenon of contestation between the religious sects of Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah and Islamic Unity/ Persatuan Islam (Persis) in Sapeken, Sumenep-Madura and economy strategy played by Persis as the majority in the midst of NU's domination. This research is unique because of several reasons, 1) Sumenep-Madura is the basis of NU and Muhammadiyah, 2) Persis is able to shift those two religious organizations. In several studies, the Madurese community is more highlighted with nuances of nahdliyin, but the depiction of conditions in Sapeken is different and inversely proportional. Therefore the current researcher offers a synthesis by raising the idea that Persis's power lies in the politic-economy strategy. In order to be more systematic, this research used qualitative with a descriptive analysis approach. The data taken was only primary sources by involving directly to the field through interview techniques and non-participatory observation. The data were later analyzed. A number of essential results were found, first, the strategy used to shift the traditionalist religious sects was perusing the parts of the people-base economy unempowered by NU and Muhammadiyah. Second, the religious-based politic-economy played by Persis controled the micro-macro economic development. Third, the structures controlled as a form of religious-political economy were economic and educational aspects.  Penelitian ini mendeskripsikan fenomena kontestasi aliran keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) di Sapeken, Sumenep-Madura dan strategi ekonomi yang dimainkan oleh Persis sebagai mayoritas di tengah dominasi NU. Penelitian ini unik karena beberapa alasan, 1) Sumenep-Madura adalah basis NU dan Muhammadiyah, 2) Persis mampu menggeser kedua organisasi keagamaan tersebut. Dalam beberapa penelitian, masyarakat Madura lebih ditonjolkan dengan nuansa nahdliyin, namun penggambaran kondisi di Sapeken berbeda bahkan berbanding terbalik. Untuk itu peneliti saat ini menawarkan sintesa dengan mengangkat gagasan bahwa kekuatan Persis terletak pada strategi ekonomi politik yang dimainkan. Agar lebih sistematis, penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Data yang diambil hanya sumber primer dengan terjun langsung ke lapangan melalui teknik wawancara dan observasi non partisipatif. Setelah itu, langkah-langkah menganalisis data, ditemukan beberapa hasil penting, yaitu pertama strategi yang digunakan untuk menggeser aliran keagamaan tradisionalis dengan menyisir bagian-bagian ekonomi kerakyatan yang belum tersentuh oleh NU dan Muhammadiyah. Kedua, politik ekonomi berbasis agama yang dimainkan Persis mengontrol sisi pembangunan mikro-makro ekonomi. Ketiga, struktur yang dikuasai sebagai bentuk ekonomi politik keagamaan adalah aspek ekonomi dan aspek pendidikan.
Ibn Nujaym’s Thoughts on Legal Maxims (Qawâ`id al-Fiqhiyyah): An Analysis of Their Application to Juridical Issues Jalili, Ismail
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 27, No 1 (2023): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v27i1.3387

Abstract

Legal maxims possess a unique place in jurisprudence, and jurists of all schools recognize it as a basis for forming sharia opinions, particularly if they are based on the holy Quran and prophetic traditions. Ibn Nujaym al-Hanafi was a prominent jurist from the Hanafi school who paid special attention to legal maxims (qawâ`id  al-fiqhiyyah) and compiled them in his books al-Ashbah wa al-Nazhâ’ir and al-Fawâ’id al-Zainiyyah, etc. He also wrote commentaries on various subjects in his other books. He became one of the most distinguished jurists in this discipline and the Hanafi school. The purpose of this article was to examine the accuracy of Ibn Nujaym's perspectives on the Islamic legal maxim, the explanation of the most significant five maxims, and how they can be applied to some juridical issues. This study employed a qualitative method and a content analysis approach. The data was obtained through a search of books, journals, and other sources of information. The collected data were analyzed qualitatively and deliberated. The findings of study show that Ibn Nujaym al-Hanafi's masterpiece al-Ashbah wa al-Nazhâ’ir became the leading work on legal maxims and was acknowledged as authoritative by Hanafi jurists. Qawâ`id al-fiqhiyyah memiliki kedudukan yang istimewa dalam eksistensi hukum Islam, dan para ulama dari berbagai mazhab fikih pun mengakui keistimewaan tersebut, sebab ia dapat digunakan untuk menghasilkan fatwa (pandangan hukum syariah), terutama jika ia dibentuk berdasarkan Alquran dan Hadis. Ibn Nujaym al-Hanafi adalah seorang ahli hukum terkemuka dari kalangan mazhab Hanafi yang telah mencurahkan perhatian dan pemikirannya terhadap eksistensi qawâ`id  al-fiqhiyyah. Pemikiran beliau tentang tema ini tertuang dalam buku beliau yang berjudul al-Ashbah wa al-Nazhâ’ir, al-Fawa’id al-Zainiyyah, dan lain-lain. Bahkan, buku al-Ashbah wa al-Nazhâ’ir, menjadi salah satu rujukan terkemuka dalam kajian tema qawâ`id al-fiqhiyyah, mewakili pandangan ulama mazhab Hanafi. Tujuan artikel ini adalah untuk mengkaji pemikiran Ibnu Nujaym tentang qawâ`id al-fiqhiyyah, dan penjelasan tentang lima macam qawa’id al-fiqhiyyah yang utama, serta bagaimana qawâ`id al-fiqhiyyah dapat digunakan untuk menjawab beberapa permasalahan fikih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Data diperoleh melalui pencarian buku, jurnal, dan sumber informasi lainnya. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan ditampilkan secara menyeluruh. Penelitian ini mendapatkan bahwa karya agung Ibnu Nujaym, yaitu al-Ashbah wa al-Nazhâ’ir, menjadi karya terkemuka yang membahas tentang qawâ`id al-fiqhiyyah dan telah diakui sebagai pandangan ilmiah yang terpercaya dalam mazhab Hanafi. Dan qawâ`id al-fiqhiyyah dapat digunakan untuk menjawab beberapa permasalahan fikih (qadhiyah fiqih).   
Abdul Hamid Hakim: An Important Figure in the Transmission of the Ushul Fiqh in Indonesia Yahya, Yahya; SA, Romli; Muhajirin, Muhajirin; Kirin, Arwansyah bin
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 28, No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v28i2.5166

Abstract

This study explores the pivotal role of Abdul Hamid Hakim in the transmission and development of ushul fiqh in Indonesia during the first half of the 20th century. As a prominent scholar, Abdul Hamid Hakim made significant contributions through his works, such as Mabadi Awwaliyyah, As Sullam, and Al Bayan, which introduced a systematic and structured methodology in ushul fiqh and enriched the discourse with innovative legal principles. The research aims to analyze Abdul Hamid Hakim’s intellectual contributions and their impact within the socio-cultural context of Indonesia. Using a qualitative approach with historical-biographical methods and content analysis, the study examines his works and their role in shaping Islamic legal education and scholarship. The findings reveal that Abdul Hamid Hakim’s works remain foundational references in academic and religious institutions, bridging classical Islamic scholarship with contemporary needs. This research highlights his enduring influence in developing Islamic law in Indonesia. Penelitian ini mengeksplorasi peran penting Abdul Hamid Hakim dalam transmisi dan pengembangan ushul fiqh di Indonesia selama paruh pertama abad ke-20. Sebagai seorang ulama terkemuka, Abdul Hamid Hakim memberikan kontribusi signifikan melalui karya-karyanya, seperti Mabadi Awwaliyyah, As Sullam, dan Al Bayan, yang memperkenalkan metodologi sistematis dan terstruktur dalam ushul fiqh dan memperkaya wacana dengan prinsip-prinsip hukum yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi intelektual Abdul Hamid Hakim dan dampaknya dalam konteks sosial budaya Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis-biografis dan analisis konten, penelitian ini mengkaji karya-karyanya dan perannya dalam membentuk pendidikan dan beasiswa hukum Islam. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa karya-karya Abdul Hamid Hakim tetap menjadi referensi mendasar dalam lembaga akademik dan keagamaan, menjembatani beasiswa Islam klasik dengan kebutuhan kontemporer. Penelitian ini menyoroti pengaruhnya yang abadi dalam pengembangan hukum Islam di Indonesia.
Messages of Religious Moderation Education in Sambas Islamic Manuscripts Mahrus, Erwin; Prasojo, Zaenuddin Hudi; Busro, Busro
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 24, No 1 (2020): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v24i1.5233

Abstract

In the beginning of the 20th century, West Kalimantan had a number of social issues, especially in the context of religious moderation. Both individuals and groups claim one another as being the most proper ones. Fom that condition, a negative impact occurred on social order in society. Observing to this situation, Muhammad Basiuni Imran, the Maharaja Imam to the Kingdom of Sambas, initiated a meeting of Islamic religious leaders and priests for the Western part of Borneo. This work is based on research conducted on manuscripts that recorded the speeches of West Kalimantan religious leaders and priests (ʻâlim ulamâ) in the meeting. Considering that this study is aimed at exploring the manuscripts, to approach the issue the authors employ philology that includes the inventory of manuscripts, identification of origins, compiling descriptions, making text summaries, and finally presenting messages of religious moderation education in the related texts. This study successfully concludes that those Islamic manuscripts of Sambas in West Kalimantan, including the manuscript by Maharaja Imam Sambas are on the end of extinction due to ages of century. The text is full of messages of religious moderation education as seen in the principle of flexibility and renewal (tajdîd), the principle of ease (taysîr), and the principle of tolerance (tasâmuh). Finally, the madrasa founded by Maharaja Imam Sambas is as among the oldest Islamic education institution that promotes religious moderation in West Kalimantan. Di awal abad ke-20, Kalimantan Barat mengalami berbagai isu sosial, khususnya yang berkaitan dengan masalah moderasi beragama. Setiap kelompok dan bahkan individu cenderung mengklaim kebenaran masing-masing dalam menyikapi kondisi soail yang ada dalam rangka parktik keberagamaan di Sambas. Kondisi tersebut telah berdampak negative pada keberlangsungan kehidupan sosial keagamaan dalam masyarakat. Menyikapi kondisi tersbut, Muhammad Basiuni Imron, Maharaja Imam Sambas, menginisiasi pertemuan yang mengundang para ulama dan tokoh agama Islam yang ada di wilayah Borneo bagian Barat kala itu. Artikel ini mengexplorasi hasil pertemuan tersebut yang terekam dalam kumpulan manuskrip Islam yang ditulis oleh Maharaja Imam Sambas tersebut. Oleh karena itu penulis menggunakan pendekatan filologi yang meliputi inventarisir manuskrip, identifikasi asal manuskrip, penyajian deskripsi isi manuskrip, membuat kesimpulan isi teks, dan penyajian pesan-pesan tentag Pendidikan moderasi beragama yang dikandungi oleh teks. Paper ini menyajikan kesimpulan bahwa kumpulan manuskrip Islam di Sambas tersebut yang juga termasuk yang ditulis oleh Maharaja Iman Sambas ialah tergolong manuskrip langka dan berada pada kondisi yang meprihatinkan. Kompulan manuskrip tersebut mengandung banyak pesan tentang pentingnya Pendidikan moderasi beragama yang terkandung pada beberapa prinsip seperti tajdîd, tasyîr, dan tasâmuh. Akhirnya, madrasah sebagai institusi pendidikan Islam yang didirikan oleh Maharaja Imam Sambas merupakan salah dari beberapa institusi pendidikan Islam yang menjadi bukti gerakan mempromosikan moderasi beragama Kalimantan Barat.
Retracing the Position of Sharia Science in the Formulation of Laws and Regulations Anwar, Syahrul; Rosadi, Aden; Fauzan, Fauzan
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 24, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v24i2.5223

Abstract

This study tries to explain the efforts to retrace the position of Islamic science in the formulation of laws and regulations in Indonesia. As part of the implementation of Islamic law and the national legal sub-system, the position of sharia is particularly  strategic and significant. The existence and position of sharia science lie not only in theoretical development through academic studies but also in practical terms which can provide its own colour in the formulation of laws and regulations in Indonesia. The implementation of sharia in life is not only an individual normative obligation, but also a collective responsibility that involves academics, legal practitioners, and the government. The position of sharia in forming laws and regulations theoretically and practically can be seen from three aspects, including substance, structure, and culture.   Penelitian ini mencoba menjelaskan tentang upaya pelacakan kembali posisi ilmu syariah dalam pembentukan peraturan perundangan-undangan di Indonesia. Sebagai bagian dari implementasi hukum Islam dan sub-sistem hukum nasional, posisi ilmu syari’ah sangat strategis dan signifikan. Keberadaan dan posisi ilmu syariah bukan hanya terletak pada pengembangan teoritis melalui kajian akademik, tetapi juga secara praktis dapat memberikan warna tersendiri dalam pembentukan peraturan perundangan-undangan di Indonesia.  Implementasi ilmu syariah dalam kehidupan, bukan hanya kewajiban individual yang bersifat normative saja, tetapi juga menjadi kewajiban kolektif yang melibatkan akademisi, praktisi hukum, maupun pemerintah. Dengan menggunakan metode deskiptif tekstual-interpretatif, penelitian ini menunjukkan bahwa secara teoritis dan praktis, posisi ilmu syariah dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dilihat dari tiga aspek, antara lain: substansi, struktur, dan kultur
Contextualizing the Philosophy of Women's Empowerment through the Role of the National Board of Zakat in Indonesia Suryani, Suryani; Nurdin, Zurifah; Marhayati, Nelly; Muhammad, Adamu Abubakar
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 28, No 1 (2024): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v28i1.4597

Abstract

The aim of this study was to analyze the role of the National Board of Zakat (Badan Amil Zakat Nasional/ Baznas) in empowering women in Indonesia, using a contextualization approach to the philosophy of empowerment. Women's empowerment is a crucial strategic issue for sustainable development because women are essential in various social, economic, and cultural aspects. This study used a qualitative approach with a case study method, which involves data analysis from Baznas annual reports, policy documents, and in-depth interviews with managers of Central Baznas, West Java Baznas, and Bengkulu Baznas. The findings have indicated that the women's empowerment program carried out by Baznas focuses on increasing women's economic capacity through entrepreneurship training, business capital assistance, and business assistance. Apart from that, Baznas also pays attention to women's education and health as an integral part of the empowerment program. This study has concluded that the women's empowerment philosophy implemented by Baznas reflects the values of social justice, active participation, and desire. The implementation of Baznas programs has had a positive impact on improving the quality of life of women, especially among the poor and elderly. However, there are still challenges that must be overcome, such as limited resources and program accessibility. Therefore, collaboration with various stakeholders and more innovative and inclusive development strategies are needed to increase the effectiveness of women’s empowerment programs in the future. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, dengan pendekatan kontekstualisasi filosofi pemberdayaan. Pemberdayaan perempuan merupakan isu strategis yang krusial bagi pembangunan berkelanjutan karena mereka memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang melibatkan analisis data dari laporan tahunan Baznas, dokumen kebijakan, serta wawancara mendalam dengan pengelola Baznas Pusat, Baznas Jawa Barat, dan Baznas Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Baznas berfokus pada peningkatan kapasitas ekonomi perempuan melalui pelatihan kewirausahaan, bantuan modal usaha, dan pendampingan bisnis. Selain itu, Baznas juga memperhatikan aspek pendidikan dan kesehatan perempuan sebagai bagian integral dari program pemberdayaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filosofi pemberdayaan perempuan yang diterapkan oleh Baznas mencerminkan nilai-nilai keadilan sosial, partisipasi aktif, dan keberlanjutan. Implementasi program-program Baznas telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup perempuan, terutama di kalangan masyarakat miskin dan lanjut usia. Namun demikian, masih terdapat tantangan yang harus diatasi, seperti keterbatasan sumber daya dan aksesibilitas program. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta pengembangan strategi yang lebih inovatif dan inklusif diperlukan untuk meningkatkan efektivitas program pemberdayaan perempuan di masa depan.
Formalizing Fiqh Al-Aqalliyyat for Muslim Minorities Perspectives of Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn 'Atiyyah Mahendra, Bayu Arif; Abdillah, Masykuri; Al-Dawoody, Ahmed; Abduh, Muhamad
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 28, No 2 (2024): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v28i2.6472

Abstract

Minority jurisprudence is an innovation in jurisprudence regarding various problems faced by Muslims living in the midst of a non-Muslim majority. This research focuses on the methodology used by the conceptors of fiqh al-aqalliyyat, namely Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn 'Atiyyah in building the structure of the ijtihad framework of fiqh al-aqalliyyat in countries with Muslim minorities. This research is a qualitative literature study with several legal research approaches. More specifically, in the study of Islamic law this research belongs to the category of philosophical-normative-empirical research, by examining three main ideas initiated by the conceptors of fiqh al-aqalliyyat namely Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn 'Atiyyah. This research concludes that the thought of fiqh al-aqalliyyat Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn 'Atiyyah is considered to be able to accommodate the problems of Muslim minorities, by covering all the principles, methodologies, concepts of ijtihad from each mujtahid who focuses on fiqh al-aqalliyyat, so that these methods that have become legal products can be used for Muslim minorities to be able to carry out the principles of Islamic teachings substantially and coexist with non-Muslim majorities. Fikih minoritas merupakan inovasi dalam berijtihad tentang berbagai problematika yang dihadapi muslim yang hidup di tengah mayoritas non-Muslim. Dalam penelitian ini berfokus pada metodologis yang dipakai oleh konseptor fiqh al-aqalliyyat yakni Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn ‘Atiyyah dalam membangun struktur kerangka ijtihad fiqh al-aqalliyyat pada negara dengan minoritas muslim. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan yang bersifat kualitatif dengan beberapa pendekatan penelitian hukum. Lebih spesifik lagi, dalam kajian hukum Islam penelitian ini termasuk kategori penelitian filosofis-normatif-empiris, dengan mengkaji tiga pokok pikiran yang digagas oleh konseptor fiqh al-aqalliyyat yakni Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn ‘Atiyyah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran fiqh al-aqalliyyat Abdallah bin Bayyah, Taha Jabir Al-Alwani & Jamāl al-Dīn ‘Atiyyah dinilai dapat mengakomodir permasalahan muslim minoritas, dengan mencakup seluruh prinsip-prinsip, metodologi, konsep ijtihad dari masing-masing mujtahid yang berfokus pada fiqh al-aqalliyyat, sehingga metode-metode tersebut yang sudah menjadi produk hukum dapat digunakan bagi muslim minoritas untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip ajaran Islam secara substansial dan hidup berdampingan dengan mayoriats non muslim.