cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 5 (2026)" : 10 Documents clear
Determinan Faktor Risiko pada Ibu Terhadap Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Andriyani, Dia; Dimiati, Herlina; Maharani, Cut Rika; Sovira, Nora; Dewi, Teungku Puspa
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.290-8

Abstract

Latar belakang. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan <2500 gr. Kondisi BBLR merupakan salah satu indikator penting yang berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas bayi.Tujuan. Mengetahui determinan faktor risiko pada ibu terhadap kejadian bayi BBLR di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA).Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case control. Sampel terdiri dari ibu yang melahirkan bayi BBLR cukup bulan sebagai kelompok kasus dan ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lahir normal cukup bulan sebagai kelompok kontrol. Penelitian dilakukan pada Oktober–November 2025 menggunakan data sekunder rekam medis ibu dan bayi periode 2023–2025 yang dikumpulkan secara retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Faktor risiko yang diteliti meliputi kualitas dan frekuensi ANC, usia ibu, paritas, preeklamsia, status gizi, riwayat asma, serta paparan asap rokok ibu selama kehamilan. Analisis data menggunakan regresi logistik biner dan berganda.Hasil. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat pengaruh antara kualitas ANC ibu (p=0,035; OR=2,3), frekuensi ANC ibu (p=0,015; OR=2,9), paritas ibu (p=0,036; OR=2,29), preeklamsia ibu (p=0,031; OR=4,35), status gizi ibu (p=0,044; OR=2,64) dan status paparan asap rokok pada ibu (p=0,043; OR=2,34) terhadap kejadian bayi BBLR. Hasil analisis mutivariat menunjukkan status paparan asap rokok pada ibu merupakan faktor risiko determinan terhadap kejadian bayi BBLR (p=0,041; OR=2,664) Kesimpulan. Terdapat pengaruh antara kualitas ANC, frekuensi ANC, paritas, preeklamsia, status gizi, dan status paparan asap rokok pada ibu terhadap kejadian bayi BBLR di RSUDZA. Determinan faktor risiko pada ibu terhadap kejadian bayi BBLR di RSUDZA adalah paparan asap rokok pada ibu selama kehamilan.
Status Gizi Anak Usia 0 Bulan – 5 Tahun dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik dan Asianotik di Rumah Sakit Hermina Bogor Weningtyas, Ahadiani; Faranita, Tri; Chairani, Aulia; Nugrohowati, Nunuk; Satriani, Liku
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.283-9

Abstract

Latar belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah jenis penyakit bawaan paling sering terjadi dengan prevalensi 1% dari seluruh kelahiran hidup. Angka kelahiran anak di Kota Bogor cukup tinggi, tetapi belum terdapat data PJB yang terpublikasi. Malnutrisi lebih umum terjadi pada pasien PJB, yang dapat memengaruhi morbiditas dan mortalitas.Tujuan. Menilai hubungan penyakit jantung bawaan sianotik dan asianotik dengan status gizi anak pada usia 0 bulan – 5 tahun di Rumah Sakit Hermina BogorMetode. Subjek penelitian ini berupa anak usia 0 bulan – 5 tahun, bersifat analitik observasional dengan teknik potong-lintang yang dilakukan di Rumah Sakit Hermina Bogor pada Juni-November 2023. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil. Dari 245 pasien yang mendertita PJB, terdapat 62 pasien yang kriteria penelitian terdiri dari 31 pasien PJB sianotik dan 31 pasien PJB asianotik. Terdapat 8 pasien (25,8%) dari PJB Sianotik dan 20 pasien (64,5%) dari PJB Asianotik mengalami malnutrisi. Terdapat hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan status gizi (p=0.009) dengan OR 2,5 dan IK 95%.Kesimpulan. Penyakit jantung bawaan sianotik dan asianotik sangat terkait dengan status gizi pada anak usia 0 bulan – 5 tahun di Rumah Sakit Hermina Bogor.
Faktor yang Berhubungan dengan Sulit Makan pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukawati I Gianyar: Studi Cross-Sectional Savitri, Kadek Amanda; Budiapsari, Putu Indah; Riandra, Ni Putu Indah Kusumadewi; Winianti, Ni Wayan; Trisnia, Putu Ayunda
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.323-8

Abstract

Latar belakang. Sulit makan merupakan masalah tingkah laku yang relatif umum yang sering dialami oleh balita. Anak yang sulit makan mempunyai peluang besar mengalami penurunan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh hingga menderita kurang gizi (underweight). Sulit makan pada anak bersifat kompleks dan perlu dicermati faktor yang menjadi penyebab perilaku tersebut. Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan sulit makan pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukawati I. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024 di wilayah kerja Puskesmas Sukawati I dengan teknik pengumpulan sampel yaitu consecutive sampling sebanyak 53 orang tua balita. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Semua data yang didapatkan dari kuesioner ditabulasi dalam tabel excel kemudian diindahkan ke program SPSS yang selanjutnya dianalisis menggunakan uji chi-square apabila expected count memenuhi kriteria uji chi-square. Apabila tidak memenuhi uji chi- square maka digunakan uji fisher’s exact. Faktor-faktor dikatakan berhubungan dengan perilaku sulit makan apabila nilai p<0,05. Hasil. Mayoritas ibu berada pada rentang usia produktif (20-35 tahun), yaitu sebanyak 90,6% dan sebagian besar balita yang mengalami sulit makan berada pada kelompok usia 2-5 tahun (84,9%) dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 49,1% dan perempuan sebanyak 50,9%. Kesimpulan. Faktor yang berhubungan dengan sulit makan pada balita adalah status pekerjaan ibu, pendapatan orang tua, pola asuh, dan variasi makanan.
Tinjauan Sistematik: Perbandingan Luaran Jangka Panjang Penutupan Ventricular Septal Defect antara Teknik Transkateter dan Bedah pada Pasien Anak Rahmadhany, Anisa; Adani, Gabrielle
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.354-60

Abstract

Latar belakang. Ventricular septal defect (VSD) adalah penyakit jantung bawaan tersering pada anak yang sering memerlukan intervensi. Namun, bukti perbandingan luaran jangka panjang, khususnya terkait gangguan irama jantung dan fungsi ventrikel, antara penutupan transkateter dan bedah masih terbatas.Metode. Tinjauan sistematis ini mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan OpenAlex untuk studi akses terbuka berbahasa Inggris (2015-2025). Studi diinklusi jika melibatkan pasien pediatrik dengan VSD kongenital yang menjalani penutupan transkateter atau bedah dan melaporkan luaran jangka panjang terkait aritmia atau fungsi ventrikel. Data disintesis secara naratif.Hasil. Dua studi (total 140 pasien) memenuhi kriteria. Studi Singab dkk melaporkan gangguan irama (terutama complete atrioventricular block transien) lebih banyak pada periode perioperatif–awal pascaprosedur, dengan lama rawat ICU dan inap yang lebih singkat pada kelompok transkateter. Studi Yosy dkk menemukan incomplete right bundle branch block sebagai aritmia tersering pada tindak lanjut jangka menengah–panjang, tanpa perbedaan signifikan antar kelompok. Fungsi ventrikel kiri tetap stabil pada kedua teknik.Kesimpulan. Baik penutupan VSD transkateter maupun bedah pada anak menunjukkan luaran jangka panjang yang setara terkait gangguan irama dan fungsi ventrikel. Teknik transkateter memberikan keunggulan dalam pemulihan awal, sementara gangguan konduksi jangka panjang pada kedua teknik umumnya bersifat ringan dan tidak progresif.
Hubungan Kecemasan Orang Tua dengan Kualitas Hidup Anak dengan Epilepsi: Studi Potong Lintang Azis Halid, A Annisa Ashliyatul Aziza; Salimo, Harsono; Nur, Fadhilah Tia
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.338-44

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan gangguan neurologis kronis pada anak yang berdampak pada fungsi fisik, emosional, sosial, dan kognitif. Kualitas hidup anak dengan epilepsi dipengaruhi oleh faktor klinis dan psikologis, termasuk kecemasan orang tua sebagai pengasuh utama.Tujuan. Menilai hubungan kecemasan orang tua dengan kualitas hidup pada anak dengan epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 57 anak berusia 1-18 tahun dengan epilepsi yang menjalani pengobatan di Poliklinik Anak RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Oktober 2024–Januari 2025. Kecemasan orang tua dinilai menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), sedangkan kualitas hidup anak dinilai menggunakan Quality of Life in Childhood Epilepsy (QOLCE). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square dan dilanjutkan dengan regresi logistik metode backward.Hasil. Sebanyak 43,9% orang tua mengalami kecemasan dan 42,1% anak memiliki kualitas hidup yang tidak baik. Kecemasan orang tua berhubungan signifikan dengan kualitas hidup anak (OR 3,833; p=0,030). Faktor lain yang berhubungan bermakna meliputi penggunaan politerapi obat antiepilepsi (p=0,006), lama pengobatan ?5 tahun (p=0,035), dan tingkat pendidikan orang tua (p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan pendidikan orang tua (OR 17,1; p=0,001) dan lama pengobatan (OR 6,33; p=0,032) sebagai faktor paling berpengaruh terhadap kualitas hidup anak.Kesimpulan. Kecemasan orang tua berkontribusi penting terhadap kualitas hidup anak dengan epilepsi. Dukungan psikososial dan manajemen klinis yang komprehensif diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup anak secara berkelanjutan.
Hubungan Jumlah Trombosit dan Kadar Hematokrit dengan Severitas Infeksi Dengue Prasetyo, Okky; Hartoyo, Edi; Sanyoto, Didik Dwi; Marhaeni, Wulandewi; Muljanto, Selli
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.329-37

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue masih menjadi masalah kesehatan utama dengan angka kejadian yang terus meningkat, terutama pada -anak. Pemeriksaan hematologi sederhana seperti kadar hematokrit dan jumlah trombosit berpotensi digunakan sebagai indikator awal severitas dengue. Tujuan. Menilai hubungan kadar hematokrit dan jumlah trombosit dengan severitas infeksi dengue, serta membandingkan sensitivitas dan spesifisitas keduanya sebagai prediktor dini severe dengue. Metode. Penelitian observasional analitik retrospektif dilakukan pada 119 pasien anak dengan infeksi dengue di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2023–Desember 2024. Analisis data menggunakan uji Chi-square, Spearman, serta kurva ROC. Hasil: Hemokonsentrasi ditemukan pada 33,6% pasien dan menunjukkan hubungan signifikan dengan severitas dengue (p=0,009; r=0,233). Hematokrit memiliki sensitivitas 100%, spesifisitas 69%, dan area di bawah kurva/AUC 0,762. Trombositopenia ditemukan pada 77,3% pasien dan juga berhubungan signifikan (p=0,019; r=0,227), dengan sensitivitas 100%, spesifisitas 12,2%, dan AUC 0,799. Hemokonsentrasi terbukti sebagai indikator dini kebocoran plasma, sedangkan trombositopenia efektif sebagai parameter eksklusi severe dengue, tetapi tidak cukup spesifik bila digunakan secara tunggal. Kesimpulan. Hematokrit dan trombosit berhubungan dengan tingkat keparahan infeksi dengue pada anak. Pemeriksaan hematologi sederhana ini dapat menjadi alat skrining dini untuk mengidentifikasi risiko severe dengue, sehingga membantu klinisi dalam menentukan tatalaksana lebih cepat dan tepat.
Gangguan Pendengaran Pasca Parotitis Epidemica Pratama, Aditya Agung; Muyassaroh, Muyassaroh; Orviyanti, Gerin
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.345-53

Abstract

Latar belakang. Parotitis merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan pada fasilitas layanan primer. Penanganan parotitis yang tidak dilakukan dengan baik dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti gangguan pendengaran. Pemeriksaan audiometri pada pasien dengan riwayat parotitis ditemukan adanya gangguan dengar derajat sangat berat sehingga penatalaksanaan dan pencegahan terhadap parotitis sebaiknya dapat dilakukan dengan baik untuk mencegah komplikasi tersebut.Tujuan. Mempelajari bagaimana kasus parotitis menyebabkan gangguan pendengaran.Metode. Pencarian tinjauan sistematis berdasarkan diagram alur PRISMA dilakukan pada tiga basis data (PubMed, Cochrane Library, ScienceDirect) dengan kata kunci (“mumps” OR “parotitis” ) AND (“hearing loss” or “hearing impairment”) didapatkan 229 jurnal. Hasil skrining didapatkan tiga jurnal yang dianalisis.Hasil. Komplikasi parotitis menyebabkan gangguan pendengaran yang ditandai dengan hasil audiogram kurang dengar derajat sangat berat. Adanya keterlibatan kerusakan sistem vestibulokoklear diduga menjadi penyebab adanya gangguan pendengaran. Kesimpulan. Parotitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Pencegahan seperti vaksinasi parotitis perlu dilakukan pada individu agar komplikasi ini dapat dicegah.
Hubungan Penggunaan Alat Medis Invasif dengan Kejadian Infeksi Organisme Resisten Multidrug pada Pasien Anak Setyawan, Hanif Hary; Umma, Husnia Auliyatul; Widjaja, Sri Lilijanti
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.309-15

Abstract

Latar belakang. Peningkatan prevalensi organisme resisten multidrug (MDRO) menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan anak, terutama di unit perawatan intensif. Penggunaan alat medis invasif, seperti ventilator, kateter vena sentral (CVC), dan kateter urin, diduga sebagai faktor risiko infeksi MDRO.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara penggunaan alat medis invasif dan kejadian infeksi MDRO pada pasien anak.Metode. Penelitian kasus–kontrol dilakukan di ruang perawatan intensif anak RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, periode Juli 2022 hingga Juni 2023. Data diperoleh dari rekam medis pasien anak usia 1 bulan hingga 18 tahun yang menjalani kultur dan uji kepekaan antibiotik. Sebanyak 80 pasien diikutsertakan, terdiri atas 40 kasus dengan infeksi MDRO dan 40 kontrol tanpa infeksi MDRO. Variabel yang dianalisis meliputi penggunaan ventilasi mekanik invasif, CVC, kateter urin, dan klinis.Hasil. Analisis multivariat menunjukkan bahwa penggunaan ventilasi mekanik invasif berhubungan signifikan dengan infeksi MDRO (aOR=4,27; IK95%:1,21-15,03; p=0,024). Meskipun pada analisis bivariat kateter urin menunjukkan hubungan signifikan (p=0,044), namun pada model akhir multivariat tidak ditemukan hubungan bermakna baik pada kateter urin (p=0,828) maupun CVC (p=0,937). MDRO yang paling sering ditemukan adalah organisme penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) (42,5%), Acinetobacter baumannii resisten karbapenem (CRAB) (22,5%), dan Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA) (22,5%).Kesimpulan. Penggunaan ventilasi mekanik invasif merupakan faktor risiko signifikan terjadinya infeksi MDRO pada pasien anak. Strategi untuk meminimalkan penggunaan alat invasif serta kepatuhan ketat terhadap protokol pencegahan infeksi sangat penting guna menekan kejadian infeksi MDRO di ruang perawatan intensif anak.
Perbandingan Efikasi dan Keamanan Parasetamol serta Ibuprofen dengan Dosis Berdasarkan Berat Badan dalam Penanganan Demam Anak: Uji Klinis Acak Terbuka Prawira, Yogi; Agustina, Agustina; Hamik, Welli; Santi, Theresia; Garniasih, Dina; Tandra, Irene Mutiara; Lukman, Leni; Sugiharto, Jessica; Ardini, Ni Putu
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.299-308

Abstract

Latar belakang. Demam adalah keluhan tersering di praktik pediatri Indonesia. Parasetamol dan ibuprofen menjadi antipiretik utama, baik dengan pengawasan medis maupun swamedikasi. Namun, sebagian besar produk di Indonesia masih menggunakan panduan dosis berbasis usia, padahal variasi berat badan anak yang lebar berisiko menyebabkan dosis kurang atau berlebih.Tujuan. Menilai efikasi dan keamanan pemberian tunggal parasetamol dan ibuprofen berbasis berat badan dalam menurunkan demam pada anak usia 2-15 tahun di Indonesia.Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis fase III, acak terbuka, dua lengan paralel, non-inferioritas, dan multisenter. Subjek diacak menerima parasetamol sirup 250 mg/5 mL (10-15 mg/kg) atau ibuprofen suspensi 100 mg/5 mL (5-10 mg/kg). Suhu timpani diukur pada menit ke-15, 30, 60, 120, 180, dan 240 setelah pemberian pertama. Keamanan dievaluasi melalui efek samping serta pemeriksaan hematologi, fungsi hati dan ginjal, dan CRP dalam 48-72 jam setelah dosis terakhir.Hasil. Sebanyak 93 anak dibagi menjadi dua kelompok: parasetamol (45 anak) dan ibuprofen (48 anak). Penurunan suhu mulai terlihat pada 15 menit pertama (rata-rata 0,55°C). Pada menit ke-60, penurunan suhu kedua obat sebanding (parasetamol 1,13°C; ibuprofen 1,06°C). Pada menit ke-240, ibuprofen unggul 0,20°C, tetapi masih dalam batas non-inferioritas (0,65°C). Efek samping ringan dan sementara, tanpa kejadian serius. Laboratorium menunjukkan peningkatan ringan enzim hati (?7 U/L) dan penurunan CRP ±17 mg/L, sesuai proses penyembuhan alami.Kesimpulan. Dosis parasetamol dan ibuprofen berbasis berat badan terbukti cepat, aman, dan setara dalam menurunkan demam anak Indonesia. Keduanya dapat menjadi terapi lini pertama yang fleksibel. Temuan ini mendukung penerapan panduan dosis berbasis berat badan (mg/kg) menggantikan panduan berbasis usia.
Biomarker Inflamasi (IL1?, IL6, TNF?, CRP) dan Mikronutrien (Zat Besi, Seng) pada Anak dengan Stunting Usia 6-59 Bulan: Sub Analisis SEANUTS II Ranto, Huminsa; Yuliarti, Klara; Munasir, Zakiuddin; Gunardi, Hartono; Wahidiyat, Pustika Amalia; Satari, Hindra Irawan; Sekartini, Rini
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.316-22

Abstract

Latar belakang. Stunting memengaruhi 19,8% anak Indonesia usia di bawah lima tahun, menurut Survei Status Gizi Nasional tahun 2024. Sitokin proinflamasi (IL-1?, IL-6, TNF-?) dan defisiensi mikronutrien (zat besi, seng) diduga berperan dalam terjadinya stunting, terutama di negara berpendapatan menegah ke bawah, karena perannya dalam penghambat pertumbuhan tulang dan fungsi imun.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar sitokin proinflamasi, C-reactive protein (CRP), zat besi, dan seng dengan status stunting pada anak Indonesia usia 6-59 bulan.Metode. Data dikumpulkan dari sampel darah 100 anak Indonesia usia 6–59 bulan, dengan analisis statistik menggunakan uji chi-square, uji t, atau uji Mann-Whitney (p<0,05 dianggap bermakna).Hasil. Dari 100 subjek, 49 mengalami stunting dan 51 memiliki status gizi normal. Tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua lebih rendah pada kelompok stunting (masing-masing p=0,019 dan p<0,001). Kadar median sitokin (IL-1?: p=0,344; IL-6: p=0,121; TNF-?: p=0,213), CRP (p=0,320), serta kadar mikronutrien (feritin: p=0,087; seng: p=1,000) tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara sitokin proinflamasi dan defisiensi mikronutrien yang diteliti dengan kejadian stunting, kemungkinan karena ukuran sampel yang terbatas dan bias perkotaan. Faktor sosial ekonomi berpengaruh signifikan terhadap stunting. Diperlukan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar untuk memperjelas hubungan tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2026 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 5 (2026) Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue